cover
Contact Name
Lira Mufti Azzahri Isnaeni
Contact Email
liramuftiazzahri.isnaeni@gmail.com
Phone
+6285271651482
Journal Mail Official
prepotifjurnalkesmas.up@gmail.com
Editorial Address
Jl. Tuanku Tambusai 23 Bangkinang, Kampar, Riau
Location
Kab. kampar,
Riau
INDONESIA
PREPOTIF : Jurnal Kesehatan Masyarakat
ISSN : 26231573     EISSN : 26231581     DOI : https://doi.org/10.31004/prepotif
Core Subject : Health,
PREPOTIF Jurnal Kesehatan Masyarakat adalah bidang kesehatan yang luas seperti kesehatan masyarakat, Keselamatan dan Kesehatan Kerja, Epidemiologi, keperawatan, kebidanan, kedokteran, farmasi, psikologi kesehatan, nutrisi, teknologi kesehatan, analisis kesehatan, sistem informasi kesehatan, hukum kesehatan, rumah sakit manajemen, Ekonomi Kesehatan, Kebijakan Kesehatan, kesehatan lingkungan dan sebagainya.
Articles 2,155 Documents
GAMBARAN PERILAKU KESELAMATAN KERJA PADA PEKERJA TEKSTIL BAGIAN PRODUKSI DI PT.X SEMARANG Nurriwanti, Nabylla Sharfina Sekar
PREPOTIF : JURNAL KESEHATAN MASYARAKAT Vol. 9 No. 2 (2025): AGUSTUS 2025
Publisher : Universitas Pahlawan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/prepotif.v9i2.49063

Abstract

Perilaku kerja aman merupakan salah satu komponen penting dalam kinerja keselamatan kerja yang berperan signifikan dalam meminimalisir terjadinya kecelakaan kerja. PT. X Semarang merupakan perusahaan yang bergerak di industri tekstil dengan tingkat risiko keselamatan kerja yang cukup tinggi, terutama pada bagian produksi yang memiliki paparan bahaya fisik, kimia, dan ergonomi. Berdasarkan hasil observasi awal, ditemukan perilaku kerja tidak aman yang dilakukan oleh sebagian pekerja, yaitu belum menggunakan APD ketika bekerja. Tujuan dari penelitian ini yaitu untuk memberikan gambaran perilaku keselamatan kerja pekerja tekstil bagian produksi di PT.X Semarang. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kuantitatif dengan menggunakan pendekatan waktu penelitian cross sectional. Populasi pada penelitian ini yaitu 47 pekerja tekstil bagian produksi di PT.X Semarang. Teknik sampel yang digunakan pada penelitian ini yaitu total populasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pekerja dengan perilaku keselamatan kerja dalam kategori tidak aman sebanyak 23 pekerja (48,9%) dan kategori aman 24 pekerja (51,1%). Hasil tersebut menunjukkan bahwa selisih jumlah pekerja dengan perilaku keselamatan kerja tidak aman dan aman hanya berbeda satu pekerja. Hal tersebut dapat terjadi karena PT.X Semarang masih kurang dalam merancang dan mengimplementasikan program K3. Oleh karena itu, PT.X Semarang dapat merancang  dan mengimplementasikan program K3 untuk meningkatkan perilaku keselamatan kerja yang aman seperti melakukan pelatihan, meningkatkan pengawasan, dan melakukan pendekatan behavior based safety.
HUBUNGAN KUALITAS FISIK UDARA DALAM RUANG DENGAN KEJADIAN SICK BUILDING SYNDROME (SBS) DI UNIT KERJA X Riansyah, Rici; Hamdhani, Rahmat
PREPOTIF : JURNAL KESEHATAN MASYARAKAT Vol. 9 No. 2 (2025): AGUSTUS 2025
Publisher : Universitas Pahlawan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/prepotif.v9i2.49067

Abstract

Sick Building Syndrome (SBS) adalah suatu gejala keluhan kesehatan yang dapat dirasakan oleh seseorang pada saat berada didalam gedung dan akan hilang ketika sudah keluar dari gedung tesrsebut yang dipengaruhi oleh beberapa hal seperti kualitas udara didalam ruangan, pencemaran udara dan ventilasi suatu bangunan. Adapun gejala yang dapat dirasakan oleh seseorang berupa sakit kepala, bersin-bersin, pilek, hidung tersumbat, iritasi pada mata, tenggorokan, batuk, gatal, dan bitnik merah pada kulit serta rasa mual. Oleh karena itu, tujuan dari penelitian ini untuk dapat mengetahui kualitas fisik udara yang berpotensi menjadi penyebab kejadian SBS pada anggota di unit kerja X. Penelitian ini dilakukan secara analitik dengan pendekatan cross sectional yang diikuti oleh 33 responden unit kerja X. Ruang lingkup penelitian ini adalah pengukuran kualitas fisik udara berupa suhu, kelembapan, laju ventilasi, partikulat dan pencahayaan dan juga memberikan kuesioner terkait keluhan SBS yang dirasakan oleh responden. Berdasarkan hasil penelitian dengan menggunakan uji Chi Square didapatkan hasil mengenai hubungan kualitas fisik udara dengan kejadian SBS yaitu suhu (p-value 0,874), kelembapan (p-value 0,024), laju ventilasi (p-value 0,818), dan partikulat (p-value 0,024). Adapun untuk pencahayaan ruangan tidak dapat diuji statistik bivariat.dari hasil diatas dapat isimpulkan bahwa kualitas fisik udara kelembapan dan partikulat memiliki hubungan dengan kejadian SBS pada pegawai di unit kerja X dengan p-value < 0,05.
ANALISIS HUBUNGAN BEBAN KERJA DAN DUKUNGAN SOSIAL TERHADAP DISTRES PADA PERAWAT DI RS X TEMBILAHAN Yussy Rha, Warda; Dewi, Siti Nurmala
PREPOTIF : JURNAL KESEHATAN MASYARAKAT Vol. 9 No. 2 (2025): AGUSTUS 2025
Publisher : Universitas Pahlawan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/prepotif.v9i2.49069

Abstract

Perawat merupakan profesi yang rentan mengalami distres akibat tingginya beban kerja dan tekanan emosional dalam menjalankan tugas. Distres yang dialami perawat dapat berdampak negatif terhadap kualitas hidup serta mutu pelayanan kesehatan yang diberikan kepada pasien. Beban kerja yang tinggi dan rendahnya dukungan sosial merupakan faktor yang berkontribusi terhadap meningkatnya tingkat distres. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara beban kerja dan dukungan sosial dengan tingkat distres pada perawat di RS X Tembilahan. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain cross-sectional. Sampel penelitian berjumlah 135 perawat. Instrumen yang digunakan berupa kuesioner untuk mengukur beban kerja, dukungan sosial, dan tingkat distres. Analisis data dilakukan menggunakan uji chi-square untuk melihat hubungan antar variabel. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar perawat mengalami beban kerja yang tinggi (85,9%) dan menerima dukungan sosial yang baik dari supervisor (93,3%) maupun rekan kerja (98,5%). Analisis statistik menunjukkan bahwa terdapat hubungan antara beban kerja dengan tingkat distres (p < 0,05), sedangkan dukungan sosial dari supervisor maupun rekan kerja tidak menunjukkan hubungan yang signifikan dengan distres (p > 0,05). Beban kerja yang tinggi berhubungan dengan peningkatan tingkat distres pada perawat, sementara dukungan sosial belum menunjukkan hubungan yang signifikan. Oleh karena itu, diperlukan intervensi organisasi untuk mengelola beban kerja secara efektif guna menurunkan tingkat distres pada tenaga keperawatan
HUBUNGAN STATUS GIZI DAN MASA KERJA DENGAN GANGGUAN KAPASITAS PARU PADA PEKERJA TEKSTIL DI PT X SRAGEN Harjono, Afrian Eskartya; Qadrijat, Isna; Wardani, Tyas Lilia; Fauzi, Rachmawati Prihantina; Wijayanti, Reni; Faradisha, Jihan; Sari, Rizqy Kartika; Riansyah, Rici
PREPOTIF : JURNAL KESEHATAN MASYARAKAT Vol. 9 No. 2 (2025): AGUSTUS 2025
Publisher : Universitas Pahlawan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/prepotif.v9i2.49070

Abstract

Industri tekstil merupakan sektor vital yang berpotensi menimbulkan risiko kesehatan kerja, khususnya gangguan pernapasan, akibat paparan debu dan serat. Selain paparan lingkungan, faktor individu seperti status gizi dan masa kerja juga diduga berperan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara status gizi (IMT) dan masa kerja dengan gangguan fungsi paru pada pekerja tekstil. Penelitian ini merupakan penelitian observasional dengan pendekatan cross-sectional, melibatkan 51 pekerja tekstil di PT. X Sragen yang diambil secara purposive sampling. Data status gizi (IMT) diperoleh melalui pengukuran antropometri, sedangkan gangguan fungsi paru diukur dengan spirometry. Analisis data dilakukan dengan uji korelasi Spearman menggunakan SPSS. Penelitian ini telah disetujui secara etik. Analisis statistik menunjukkan adanya hubungan yang signifikan antara status gizi dengan gangguan fungsi paru (p-value= 0,000). Nilai korelasi positif moderat (r=0,602) menunjukkan bahwa semakin buruk status gizi (baik obesitas maupun malnutrisi), semakin besar kemungkinan terjadinya gangguan fungsi paru. Sebaliknya, tidak ditemukan hubungan yang signifikan antara masa kerja dengan gangguan fungsi paru (p-value = 0,168), meskipun sebagian besar pekerja dengan masa kerja lebih singkat menunjukkan gangguan paru sedang. Temuan ini mengindikasikan bahwa status gizi menjadi faktor risiko dominan dibandingkan masa kerja dalam memengaruhi fungsi paru pada populasi ini.
PENGARUH REBUSAN DAUN SIRSAK TERHADAP PENURUNAN KADAR ASAM URAT PADA LANSIA DI PANTI JOMPO BHAKTI LUHUR KECAMATAN WARU KABUPATEN SIDOARJO RONI, FAISHOL; Febriyanti, Putri Lusiana
PREPOTIF : JURNAL KESEHATAN MASYARAKAT Vol. 9 No. 2 (2025): AGUSTUS 2025
Publisher : Universitas Pahlawan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/prepotif.v9i2.49296

Abstract

Penyakit asam urat (gout) adalah penyakit yang terjadi karna penumpukan kristal pada jaringan sendi akibat gangguan metabolisme purin dalam tubuh. Salah satu tanda lansia mengalami asam urat yaitu hasil pengukuran kadar asam urat dalam darah lebih tinggi dari rentan normal. Upaya pencegahan terjadinya peningkatan kadar asam urat dapat dilakukan dengan pengobatan non-farmakologi memanfaatkan tanaman daun sirsak. Tujuan penelitian untuk mengetahui pengaruh rebusan daun sirsak terhadap penurunan kadar asam urat pada lansia. Desain penelitian yang digunakan dalam penelitian ini pra eksperimental menggunakan pendekatan One Group Pre-Post test Design. Populasi semua lansia yang menderita asam urat yang berjumlah 35 orang. Penelitian ini menggunakan teknik non- probability sampling dengan jenis purposive sampling, dengan sampel 30 responden. Diketahui bahwa sebelum diberikan terapi rebusan daun sirsak mayoritas responden memiliki kadar asam urat tinggi sebanyak 30 lansia (100%). Setelah diberikan terapi rebusan daun sirsak sebagian besar responden dengan kadar asam urat normal sebanyak 25 lansia (83,3%) dan kadar asam urat tinggi sebanyak 5 lansia (16,7%). Hasil uji Wilcoxon signed ranks test, diketahui nilai Asymp. Sig. (2-tailed) adalah sebesar 0,003<0,05 maka H0 ditolak dan H1 diterima. Kesimpulan penelitian menunjukkan ada pengaruh pemberian rebusan daun sirsak terhadap penurunan kadar asam urat pada lansia. Diharapkan untuk peneliti selanjutnya dapat memodifikasi dengan metode yang lain. Kata Kunci : Asam Urat, Daun Sirsak, Lanjut Usia
IMPLEMENTASI KEBIJAKAN AKREDITASI PUSKESMAS DALAM PELAYANAN BIDANG UPAYA KESEHATAN MASYARAKAT (UKM) DI PUSKESMAS HURAGI KABUPATEN PADANG LAWAS Sari, Anggi Novita; Susilawati, Susilawati
PREPOTIF : JURNAL KESEHATAN MASYARAKAT Vol. 9 No. 2 (2025): AGUSTUS 2025
Publisher : Universitas Pahlawan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/prepotif.v9i2.48062

Abstract

Mutu pelayanan kesehatan di Puskesmas menjadi indikator penting dalam pemenuhan kebutuhan dan harapan masyarakat. Akreditasi Puskesmas merupakan upaya sistematis untuk meningkatkan kualitas layanan melalui penilaian terhadap standar yang telah ditetapkan pemerintah. Puskesmas Huragi yang telah meraih status akreditasi paripurna tetap menghadapi tantangan dalam pelaksanaan Upaya Kesehatan Masyarakat (UKM), seperti keterbatasan tenaga kesehatan sesuai kompetensi, distribusi tugas yang belum optimal, dan rendahnya partisipasi masyarakat. Penelitian ini bertujuan mengevaluasi implementasi kebijakan akreditasi Puskesmas dalam pelayanan UKM di Puskesmas Huragi. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain fenomenologis. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam, observasi, dan studi dokumentasi terhadap enam informan kunci, utama, dan tambahan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perencanaan pelayanan UKM dilaksanakan secara terpadu melalui kolaborasi lintas sektor dan lintas program, dengan forum partisipatif seperti mini lokakarya dan musyawarah desa. Akses masyarakat terhadap layanan difasilitasi melalui komunikasi langsung, media cetak, digital, serta kunjungan rumah. Pelaksanaan kegiatan UKM berjalan cukup efektif dengan dukungan dana BOK, APBD, JKN, dana desa, dan CSR. Pengawasan dan evaluasi dilakukan rutin melalui rapat bulanan dan audit internal-eksternal, meskipun belum ada tim khusus pengawasan. Kesimpulannya, implementasi kebijakan akreditasi di Puskesmas Huragi telah berjalan baik pada aspek perencanaan dan pelaksanaan, namun memerlukan penguatan SDM, koordinasi birokrasi, optimalisasi teknologi informasi, dan peningkatan partisipasi masyarakat untuk mencapai tujuan akreditasi secara menyeluruh.
Faktor-Faktor Risiko Yang Berhubungan Dengan Kejadian Tuberkulosis Pada Kontak TBC Positif Berdasarkan Data Investigasi Kontak Di kota Mataram Siregar, Siti Jahraeni; Fahlevi, Muhammad Iqbal; Lutfi, Fakhrurradhi; Sriwahyuni, Susy; Yulizar, Yulizar; Rafsanjani, T.M.
PREPOTIF : JURNAL KESEHATAN MASYARAKAT Vol. 9 No. 2 (2025): AGUSTUS 2025
Publisher : Universitas Pahlawan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/prepotif.v9i2.48071

Abstract

Penyakit infeksi masih menjadi beban kesehatan global, dan tuberkulosis (TBC) merupakan jenis infeksi yang paling mematikan di dunia. Di Indonesia, TBC menjadi ancaman serius bagi kesehatan masyarakat. Penyakit ini menular melalui udara, terutama di lingkungan dengan paparan langsung terhadap penderita, seperti dalam rumah tangga. Individu yang sering berinteraksi dengan pasien TBC memiliki risiko tinggi untuk tertular. Penelitian ini dilakukan untuk mengevaluasi faktor-faktor yang berkontribusi terhadap timbulnya kasus tuberkulosis kontak TBC positif di Kota Mataram. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain cross-sectional. Populasi ialah masyarakat di Kecamatan Mataram, Kecamatan Sandubaya, dan Kecamatan selaparang yang di Investigasi kontak dan terduga Positif TBC. Sampel penelitian berjumlah 88 Responden ditentukan melalui metode purposive sampling, sementara data diperoleh dengan melakukan wawancara berbasis kuesioner serta data sekunder dari Sistem Informasi TBC Komunitas (SITK). Analisis data dilakukan dengan metode uji chi-square. Hasil studi menunjukkan bahwa tidak ada keterkaitan yang signifikan signifikan antara usia (p = 0,344) dengan kejadian TBC. Terdapat hubungan signifikan antara merokok (p = 0,000) dan riwayat kontak serumah (p = 0,006) dengan kejadian TBC. Kebiasaan merokok merupakan salah satu faktor yang terbukti berhubungan secara signifikan dengan kasus tuberkulosis dan riwayat kontak serumah dengan pasien TBC, Oleh karena itu, upaya pencegahan perlu difokuskan pada edukasi terkait bahaya merokok dan pentingnya deteksi dini melalui investigasi kontak yang lebih intensif, guna menekan angka kejadian TBC di Kota Mataram.
HUBUNGAN FUNGSI PARU DAN SEKUELE RADIOGRAFI TORAKS TERHADAP KUALITAS HIDUP PASIEN PASCA INFEKSI COVID-19 DI RUMAH SAKIT BATIN MANGUNANG KABUPATEN TANGGAMUS, LAMPUNG Silaen, David Tongon; Ekawati, Diyan; Messah, Anse Diana Valentiene; Soemarwoto, Retno Ariza S.; Infianto, Andreas; Sinaga, Fransisca TY; Ajipurnomo, Adhari; Gozali, Achmad; Kusumajati, Pusparini
PREPOTIF : JURNAL KESEHATAN MASYARAKAT Vol. 9 No. 2 (2025): AGUSTUS 2025
Publisher : Universitas Pahlawan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/prepotif.v9i2.48150

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara fungsi paru dan sekuele radiografi toraks terhadap kualitas hidup pasien pasca infeksi COVID-19 di Rumah Sakit Batin Mangunang, Kabupaten Tanggamus, Lampung. Penelitian ini menggunakan desain potong lintang. Penelitian dilakukan pada Juni 2022 hingga Desember 2023 dengan total sampel 59 orang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa mayoritas responden berusia 25–45 tahun, berjenis kelamin laki-laki, dengan gejala sisa terbanyak berupa kelelahan, serta sebagian besar tidak memiliki komorbiditas, tidak merokok, dan memiliki indeks massa tubuh berlebih. Gangguan fungsi paru ditemukan pada 45,8% pasien, terdiri dari gangguan restriktif (30,5%), obstruktif (10,2%), dan tipe campuran (5,1%). Sebanyak 66,1% pasien menunjukkan sekuele radiografi toraks, terutama berupa fibrosis. Penurunan kualitas hidup ditemukan pada 27,1% pasien. Dari analisis bivariat didapatkan hasil bahwa tidak terdapat hubungan antara sekuele radiografi toraks dan kualitas hidup pasien. (p value=0,793) dan terdapat hubungan antara penurunan kualitas hidup dengan gangguan fungsi paru baik dari gangguan obstruksi (p value < 0,001) atau restriksi (p value = 0,043).
DETERMINAN KELENGKAPAN IMUNISASI DASAR PADA BAYI DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS MAUBESI Tas'au, Andreas Haki; Dodo, Dominirsep O.; Sinaga, Masrida; Syamruth, Yendris K.
PREPOTIF : JURNAL KESEHATAN MASYARAKAT Vol. 9 No. 2 (2025): AGUSTUS 2025
Publisher : Universitas Pahlawan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/prepotif.v9i2.48283

Abstract

Imunisasi merupakan upaya untuk meningkatkan kekebalan terhadap suatu penyakit. Pemberian imunisasi dasar secara lengkap penting dalam menjaga generasi penerus bangsa yang sehat sebagai perlindungan alami terhadap penyakit. Indonesia merupakan salah satu negara yang memiliki angka kematian bayi tertinggi di Asia Tenggara. Puskesmas Maubesi di Kabupaten Timor Tengah Utara belum mencapai target cakupan imunisasi yang maksimal, dari total 182 bayi, tercatat sebanyak 161 bayi telah menerima imunisasi dasar lengkap. Rendahnya cakupan imunisasi dasar lengkap disebabkan oleh beberapa faktor yaitu jarak kelahiran anak, jumlah anak, motivasi ibu dan peran petugas kesehatan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui determinan kelengkapan imunisasi dasar pada bayi di wilayah kerja Puskesmas Maubesi, Kabupaten Timor Tengah Utara tahun 2024. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan desain penelitian adalah case control. Analisis data menggunakan uji regresi logistik dengan nilai signifikansi p<0,05. Hasil penelitian membuktikan bahwa faktor jarak kelahiran anak (p=0,049), faktor jumlah anak (p=0,027), faktor motivasi ibu (p=0,003), secara signifikan berpengaruh terhadap kelengkapan imunisasi dasar di Puskesmas Maubesi. Faktor peran petugas kesehatan (p=0,081) menjadi faktor yang tidak berpengaruh terhadap kelengkapan imunisasi dasar di Puskesmas Maubesi. Petugas kesehatan diharapkan untuk dapat lebih aktif dalam memberikan informasi terkait imunisasi melalui penyuluhan kepada masyarakat, khususnya keluarga yang mempunyai bayi tentang pentingnya menjaga jarak kelahiran yang ideal, jumlah anak dan memotivasi ibu dalam mengimunisasikan anak.
POLA MAKAN TIDAK TERATUR DENGAN KEJADIAN DISPEPSIA PADA IBU RUMAH TANGGA DI WILAYAH PERKOTAAN Wijaya, Wilson Gani; Setyawan, Yuswanto
PREPOTIF : JURNAL KESEHATAN MASYARAKAT Vol. 9 No. 2 (2025): AGUSTUS 2025
Publisher : Universitas Pahlawan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/prepotif.v9i2.48322

Abstract

Dispepsia merupakan gangguan pencernaan fungsional yang prevalensinya tinggi di wilayah perkotaan, terutama pada kelompok ibu rumah tangga. Kondisi ini ditandai dengan gejala seperti kembung, nyeri ulu hati, dan mual, yang dapat menurunkan kualitas hidup. Penelitian ini bertujuan menganalisis hubungan antara pola makan tidak teratur dan kejadian dispepsia pada ibu rumah tangga di daerah perkotaan. Jenis penelitian yang digunakan adalah kuantitatif analitik dengan desain potong lintang (cross-sectional). Sampel berjumlah 120 ibu rumah tangga yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Instrumen pengumpulan data berupa kuesioner terstruktur yang memuat informasi frekuensi dan keteraturan makan, serta riwayat gejala dispepsia. Analisis data dilakukan menggunakan uji chi-square dengan tingkat signifikansi 5%. Hasil penelitian menunjukkan mayoritas responden memiliki pola makan tidak teratur, seperti melewatkan waktu makan atau makan pada jam yang berbeda setiap hari, dan mengalami gejala dispepsia. Terdapat hubungan yang signifikan antara pola makan tidak teratur dengan kejadian dispepsia (p<0,05). Ketidakteraturan waktu makan berpotensi menyebabkan gangguan motilitas lambung, peningkatan sekresi asam, serta ketidakseimbangan hormon gastrointestinal. Disimpulkan bahwa pola makan tidak teratur merupakan faktor risiko penting terjadinya dispepsia pada ibu rumah tangga di wilayah perkotaan. Upaya pencegahan dapat dilakukan melalui edukasi gizi, peningkatan kesadaran akan pentingnya jadwal makan teratur, serta pengelolaan stres.