cover
Contact Name
Arif Rahman Hikam
Contact Email
bioeksakta@gmail.com
Phone
+6285741954045
Journal Mail Official
bioeksakta@gmail.com
Editorial Address
Fakultas Biologi Universitas Jenderal Soedirman Jl. dr. Soeparno No. 63 Purwokerto, Kabupaten Banyumas Kode Pos 53122
Location
Kab. banyumas,
Jawa tengah
INDONESIA
BioEksakta : Jurnal Ilmiah Biologi Unsoed
ISSN : -     EISSN : 27148564     DOI : -
Jurnal BioEksakta menerbitkan artikel ilmiah hasil penelitian dalam bidang biologi umum termasuk Ekologi dan konservasi, Taksonomi dan Struktur, Biogeografi, Evolusi, Biodeversitas, Fisiologi dan Reproduksi, Biologi sel, Biologi Molekuler dan Genetika.
Articles 396 Documents
Keanekaragaman dan Identifikasi Terumbu Karang di Lokasi Snorkeling Pulau Pahawang, Lampung Saputri, Dwijowati Asih; Ulmillah, Aulia; Permatasari, Diah
BioEksakta : Jurnal Ilmiah Biologi Unsoed Vol 7 No 4 (2025): BioEksakta
Publisher : Fakultas Biologi Universitas Jenderal Soedirman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20884/1.bioe.2025.7.4.16759

Abstract

Ekosistem terumbu karang sangat penting di perairan laut tropik, termasuk Indonesia. Terumbu karang di Indonesia sangat beragam. Baik perubahan lingkungan maupun aktivitas manusia, seperti pariwisata, dapat mengubah ekosistem terumbu karang dengan cepat. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menemukan spesies terumbu karang di dua lokasi snorkeling yang berbeda di Pulau Pahawang, Lampung. Penelitian dilakukan melalui metode survei eksploratif dengan pengamatan langsung tanpa sampel yang merusak. Hasil penelitian menunjukkan bahwa di Resort Andreas ditemukan 9 famili, 13 genus, dan 17 spesies terumbu karang di spot snorkeling cukuh bedil Pelangi dan Embun. Acropporidae, Famili Poritidae, Faviidae, dan Fungiidae memiliki dua spesies masing-masing. Callyspongiidae, Caryophyllidae, Discosomidae, Faviidae, Millesporidae, dan Pectinidae adalah famili yang hanya memiliki satu spesies. Nilai indeks keanekaragaman Shannon–Wiener (H’) sebesar 2,83 mengindikasikan tingkat keanekaragaman sedang dengan struktur komunitas yang relatif seimbang, meskipun jumlah spesies yang ditemukan tergolong terbatas. Hasil ini menegaskan bahwa ekosistem terumbu karang di lokasi penelitian masih memiliki variasi spesies yang cukup, namun memerlukan pengelolaan wisata bahari yang berkelanjutan untuk menjaga stabilitas dan mencegah penurunan keanekaragaman di masa mendatang. Kata kunci: Identifikasi, Keanekaragaman, Lokasi Snorkeling, Pulau Pahawang, Terumbu Karang.
Keragaman Jenis Jamur Makroskopis di Kawasan Bendung Amandit Kabupaten Hulu Sungai Selatan Ambarwati, Upik; Mahrudin, Mahrudin; Utami, Nurul Hidayati
BioEksakta : Jurnal Ilmiah Biologi Unsoed Vol 7 No 4 (2025): BioEksakta
Publisher : Fakultas Biologi Universitas Jenderal Soedirman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20884/1.bioe.2025.7.4.17007

Abstract

Jamur makroskopis merupakan organisme multiseluler yang tumbuh pada daerah yang lembab. Kawasan Bendung Amandit merupakan daerah yang memiliki kondisi lingkungan yang sesuai bagi pertumbuhan jamur. Kawasan ini merupakan kawasan yang berada di sepanjang aliran Sungai Amandit. Area yang digunakan sebagai lokasi pengambilan sampel jamur makroskopis adalah area hutan sekunder berada yang di sekitaran bendung Amandit. Kondisi lingkungan di lokasi ini sangat mendukung bagi pertumbuhan jamur dengan kelembaban tinggi, ketersediaan bahan organik melimpah, serta naungan alami yang berasal dari tutupan pohon. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan keragaman jenis jamur makroskopis yang ditemukan di Kawasan Bendung Amandit. Pengumpulan data keragaman jenis jamur makroskopis menggunakan metode line transek. Hasil penelitian ditemukan 20 spesies jamur makroskopis yang terdiri dari 12 famili yaitu Pycnoporus sanguineus, Lentinus sp., Earliella scabrosa, Cookeina tricholoma, Clavulinopsis sp., Schizophyllum commune, Trametes gibbosa, Cookeina sulcipes, Podoscypha petalodes, Marasmius sp., Fomitopsis sp., Marasmiellus candidus, Pycnoporellus sp., Lignosus rhinocerus, Marasmius elegans, Phallus indusiatus, Microporus xanthopus, Thelephora sp., Lycoperdon pyriforme dan Coltricia cinnamomea. Penelitian ini memberikan informasi terkait keragaman jenis jamur makroskopis yang berada di kawasan Bendung Amandit, dokumentasi keanekaragaman hayati dan dapat dijadikan sebagai dasar untuk penelitian lanjutan. Kata kunci : Jamur Makroskopis, Kawasan Bendung Amandit, Keragaman, Transek garis.
Identifikasi Bryophyta Di Kawasan Air Terjun Kedung Kayang Permadani, Karunia Galih; Alifia, Anis Nur; Alamsyah, Muhammad Radian Nur
BioEksakta : Jurnal Ilmiah Biologi Unsoed Vol 7 No 4 (2025): BioEksakta
Publisher : Fakultas Biologi Universitas Jenderal Soedirman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20884/1.bioe.2025.7.4.17114

Abstract

Bryophyta merupakan tumbuhan tingkat rendah yang berperan penting dalam menjaga keseimbangan ekosistem, khususnya pada lingkungan lembab seperti Kawasan air terjun. Meskipun keanekaragaman Bryophyta di Indinesia tergolong tinggi, data spesies di Kawasan Air Terjun Kedung Kayang, Magelang masih terbatas. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi jenis-jenis tumbuhan Bryophyta di Kawasan Air Terjun Kedung Kayang, Magelang, serta menganalisis kondisi abiotik yang mendukung pertumbuhannya. Pengambilan data dilakukan pada April 2025 menggunakan metode purposive sampling dengan model line transect sepanjang 10 m pada empat stasiun, masing-masing terdiri dari empat plot berukuran 1×1 meter. Data dikumpulkan melalui observasi langsung, pengukuran faktor abiotik (suhu udara, suhu tanah, pH tanah, intensitas cahaya, dan kelembapan), serta identifikasi morfologi menggunakan mikroskop stereo dengan mengacu pada buku Tumbuhan Lumut di Kampus UGM serta didukung oleh aplikasi digital. Hasil penelitian menunjukkan terdapat 14 spesies Bryophyta yang tergolong dalam 5 kelas, 7 ordo, 11 famili, dan 13 genus. Kelas Bryopsida merupakan kelas yang paling mendominasi, dengan struktur morfologi yang adaptif terhadap berbagai substrat. Faktor abiotik lokasi penelitian berada pada kisaran optimal untuk pertumbuhan Bryophyta, yakni suhu udara 25℃, suhu tanah 21℃, pH tanah 5,9, intensitas cahaya 718 LUX, dan kelembapan udara 69,2%. Meskipun demikian, tingkat keanekaragaman spesies tergolong relatif terbatas, yang diduga disebabkan oleh keterbatasan luas area pengambilan sampel dan variasi substrat. Penelitian ini menegaskan pentingnya konservasi habitat alami sebagai tempat tumbuhnya tumbuhan Bryophyta. Kata kunci: Bryophyta, Kedung Kayang, keanekaragaman hayati, faktor abiotik
Identifikasi Keanekaragaman Jenis Mangrove di Kawasan Konservasi Lembupurwo Kabupaten Kebumen Alamsyah, Muhammad Radian Nur; Khairiyah, Davina; Permadani, Karunia Galih
BioEksakta : Jurnal Ilmiah Biologi Unsoed Vol 7 No 4 (2025): BioEksakta
Publisher : Fakultas Biologi Universitas Jenderal Soedirman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20884/1.bioe.2025.7.4.17205

Abstract

Kawasan Konservasi Lembupurwo sebagai salah satu kawasan pesisir di Kabupaten Kebumen Jawa Tengah, merupakan kawasan konservasi yang mendukung tumbuhnya keanekaragaman jenis mangrove dan masih memerlukan perhatian dalam pengelolaannya. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi keanekaragaman jenis mangrove dan menganalisis kondisi vegetasi kawasan mangrove untuk mendukung upaya pelestarian yang ada. Fokus penelitian ini adalah pada klasifikasi taksonomi, morfologi, dan faktor abiotik sebagai pendukung tumbuhnya keanekaragaman mangrove di kawasan pesisir. Metode penelitian yang digunakan adalah penelitian eksploratif menggunakan metode line transek untuk mengidentifikasi jenis mangrove di enam stasiun pengamatan yang kemudian dilakukan tahap analisis data menggunakan rumus indeks keanekaragaman jenis dengan teori Shannon-Wiener (H’) untuk menganalisis tingkat keanekaragaman dan struktur vegetasi. Hasil penelitian menunjukkan terdapat 6 jenis mangrove sejati dan 16 jenis mangrove asosiasi yang berhasil diidentifikasi. Spesies yang mendominasi adalah Rhizophora mucronata Poir. (INP = 0,348). Indeks keanekaragaman vegetasi sebesar 2,519 dengan kategori sedang, hasil tersebut didukung oleh faktor abiotik seperti salinitas, pH, suhu, oksigen terlarut, intensitas cahaya, kelembaban, dan substrat sebagai media tumbuh. Penelitian ini berkontribusi terhadap pengelolaan Kawasan Konservasi Lembupurwo dengan menyediakan data baseline keanekaragaman mangrove dan rekomendasi pengendalian faktor abiotik untuk meningkatkan upaya pelestarian ekosistem pesisir secara berkelanjutan. Kata kunci : Identifikasi, Mangrove, Lembupurwo
Potensi Ekstrak Cyperus rotundus Linn. sebagai Agen Antijamur Alami pada Kandidiasis Yanti, Sharfina Maulida; Ishafani, Ishafani; Situmorang, Ing Mayfa Br; Octary, Neike
BioEksakta : Jurnal Ilmiah Biologi Unsoed Vol 7 No 4 (2025): BioEksakta
Publisher : Fakultas Biologi Universitas Jenderal Soedirman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20884/1.bioe.2025.7.4.17339

Abstract

Kandidiasis merupakan infeksi yang dapat bersifat primer maupun sekunder, disebabkan oleh Candida albicans, salah satu penyebab umum keputihan (fluor albus). Indonesia dengan iklim tropis memiliki keanekaragaman tanaman yang berpotensi sebagai obat alami, termasuk rumput teki (Cyperus rotundus Linn.) yang sering dianggap gulma. Umbi rumput teki mengandung senyawa kimia yang berpotensi sebagai antifungi alami. Penelitian ini bertujuan menguji potensi ekstrak umbi rumput teki terhadap C. albicans dengan berbagai konsentrasi. Penelitian bersifat deskriptif eksperimental menggunakan umbi rumput teki sebagai populasi. Ekstraksi dilakukan dengan metode maserasi menggunakan pelarut etanol 96% pada empat konsentrasi: 25%, 50%, 75%, dan 100%. Flukonazol digunakan sebagai kontrol positif dan CMC 1% sebagai kontrol negatif. Uji daya antifungi dilakukan menggunakan metode difusi cakram dan dilusi untuk menentukan Konsentrasi Hambat Minimum (KHM), dengan media Sabouraud Dextrose Agar (SDA) dan Sabouraud Dextrose Broth (SDB). Hasil penelitian menunjukkan diameter rata-rata zona hambat: konsentrasi 25% sebesar 6,75 mm; 50% sebesar 7 mm; 75% sebesar 12,75 mm; 100% sebesar 16 mm. Zona hambat kontrol positif (flukonazol) sebesar 22 mm, sedangkan kontrol negatif (CMC 1%) sebesar 0 mm. Standar deviasi rata-rata zona hambat adalah 7,79. KHM ekstrak umbi rumput teki terhadap C. albicans diperoleh pada konsentrasi 100%. Kesimpulannya, ekstrak umbi rumput teki memiliki aktivitas antifungi terhadap Candida albicans, dengan efektivitas meningkat seiring kenaikan konsentrasi, meskipun masih di bawah efektivitas flukonazol. Kata kunci : Antifungi, Candida albicans, Konsentrasi, KHM Rumput Teki,
Kualitas Preparat Awetan Daun & Batang Citrus sp. dengan Variasi Ketebalan Irisan Kharisma, Gemma Galgani; Crisdiati, Wida Hening Sukma
BioEksakta : Jurnal Ilmiah Biologi Unsoed Vol 7 No 4 (2025): BioEksakta
Publisher : Fakultas Biologi Universitas Jenderal Soedirman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20884/1.bioe.2025.7.4.17389

Abstract

Preparat awetan merupakan objek yang diamati di bawah mikroskop dan menjadi media pembelajaran pada kegiatan praktikum. Salah satu tahap pada pembuatan preparat yaitu tahap pemotongan (sectioning) dengan mikrotom yang memperhatikan ukuran ketebalan irisan untuk menghasilkan preparat yang baik. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh variasi ketebalan irisan kualitas 6 µm, 8 µm, 10 µm, dan 12 µm terhadap kualitas dan kelayakan hasil preparat awetan daun & batang Citrus sp. Penelitian dilakukan secara eksperimen dan pembuatan preparat melalui tahapan sesuai prinsip mikroteknik. Data dianalisis secara deskriptif kualitatif terhadap kualitas dan kelayakan preparat serta hipotesis diuji secara statistik dengan Kruskal-Wallis dan dilanjutkan uji post hoc. Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan bahwa variasi ketebalan irisan berpengaruh terhadap kualitas dan kelayakan hasil preparat awetan daun & batang Citrus sp. yang ditunjukkan dengan hasil gambaran mikroskopis dan skor rerata penilaian kualitas preparat yang berbeda pada setiap perlakuan. Hasil rata-rata persentase kualitas dan kelayakan preparat batang Citrus sp. yaitu : 94.00% (6 µm); 92.00% (8 µm); 89.67% (10 & 12 µm) sedangkan preparat daun Citrus sp. : 93.67% (6 µm); 94.34% (8 µm); 86.00% (10 µm); 79.67% (12 µm). Hasil tersebut menunjukkan kriteria sangat layak sehingga preparat awetan dapat digunakan untuk pengamatan jaringan tumbuhan pada praktikum struktur perkembangan tumbuhan. Ketebalan irisan 6 & 8 µm sangat layak digunakan untuk pembuatan preparat awetan batang dan daun Citrus sp. berdasarkan indikator penilaian kontras warna dan kejelasan preparat. Kata kunci : ketebalan irisan, kualitas preparat, Citrus sp.
Pengaruh Konsentrasi Rootone-F Terhadap Pertumbuhan Stek Dombeya Wallichii (Lindl.) Benth Ex. Baill Proklamasiningsih, Elly; Budisantoso, Iman; Maharani, Azhara Restuaji
BioEksakta : Jurnal Ilmiah Biologi Unsoed Vol 7 No 4 (2025): BioEksakta
Publisher : Fakultas Biologi Universitas Jenderal Soedirman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20884/1.bioe.2025.7.4.17746

Abstract

Dombeya wallichii (Lindl.) Benth ex. Baill. is a flowering plant that is widely used as an ornamental plant and to support honey bee cultivation because of its abundant flowers with attractive shapes and colours. Plant propagation through cuttings is often done to maintain the superior traits of the parent plant. Rootone-F, which contains growth regulators, is known to be effective in stimulating root growth in cuttings of various plants. The objectives of this study were to examine the effect of Rootone-F on the growth of D. wallichii stem cuttings and to determine the most effective concentration of Rootone-F in stimulating the growth of D. wallichii stem cuttings. The study was conducted at Cilengko Farm Pabuaran, Purwokerto, from May to August using a split-plot randomised design. The main plots consisted of the third, fourth, and fifth branches. The subplots consisted of Rootone-F concentrations of 0 mg/l (control), 50 mg/l, 100 mg/l, and 150 ppm. The blocks or replicates consisted of the base, middle, and tip. The data obtained were analysed using ANOVA at 5% and 1% levels and DMRT test at 5% level. The results showed that the application of Rootone-F had a very significant effect on the number of roots and a significant effect on root length at 12 weeks after planting. The best Rootone-F concentration was 100 ppm for root number and root length growth. The best cutting position was taken from the top section.
Skrining Jamur dari Sonneratia caseolaris di Mangrove Mandeh: Sumber Potensial Kandidat Antioksidan Agustien, Anthoni; Rafique, Mohsin; Mildawati, Mildawati; Maliza, Rita; Jannah, Mifthahul
BioEksakta : Jurnal Ilmiah Biologi Unsoed Vol 7 No 4 (2025): BioEksakta
Publisher : Fakultas Biologi Universitas Jenderal Soedirman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20884/1.bioe.2025.7.4.17933

Abstract

Jamur endofitik yang berasosiasi dengan mangrove Sonneratia sp. diketahui menghasilkan metabolit sekunder yang berpotensi sebagai antioksidan. Kawasan pesisir Mandeh merupakan habitat alami yang kaya akan Sonneratia sp., sehingga menjadi lokasi strategis untuk eksplorasi jamur endofitik.Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengeksplorasi jamur endofitik yang berasosiasi dengan mangrove Sonneratia sp., melakukan skrining aktivitas antioksidan secara in vitro, serta mengidentifikasi isolat potensial berdasarkan karakteristik makroskopis dan mikroskopis.Penelitian ini menggunakan metode eksperimen dengan tahapan sebagai berikut: isolasi jamur dilakukan melalui teknik direct planting, skrining aktivitas antioksidan dilakukan secara in vitro menggunakan metode DPPH, dan identifikasi isolat dilakukan berdasarkan karakteristik morfologi makroskopis dan mikroskopis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebanyak 20 isolat jamur endofitik berhasil diperoleh. Berdasarkan hasil skrining aktivitas antioksidan, ditemukan empat isolat yang menunjukkan aktivitas antioksidan dengan kategori kuat, sedang, dan lemah. Isolat dengan kode T4L1C4 dan T3L2C3 menunjukkan aktivitas antioksidan kuat, sedangkan T3L2C2 menunjukkan aktivitas sedang. Berdasarkan karakteristik mikroskopis, ketiga isolat tersebut teridentifikasi sebagai anggota genus Fusarium sp. Kata kunci: Antioksidan; Endofitik; Jamur; Mandeh; Skrining
Pengaruh Panjang Entres Pada Teknik Sambung Pucuk (grafting) dan Lama Penyungkupan Terhadap Keberhasilan Bibit Tanaman Durian (Durio zibenthinus Murr) Ariani, Nur Syahfitri; Rahmadina, Rahmadina; Selvia, Irda Nila
BioEksakta : Jurnal Ilmiah Biologi Unsoed Vol 7 No 4 (2025): BioEksakta
Publisher : Fakultas Biologi Universitas Jenderal Soedirman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20884/1.bioe.2025.7.4.18045

Abstract

Sebagian besar buah durian di Indonesia berasal dari pohon-pohon yang sudah tua sehingga tingkat produksinya relative rendah. Oleh karena itu, perlu adanya regenerasi tanaman baru melalui bibit yang berkualitas dan produksi tinggi. Tanaman durian (Durio zibenthinus) produksinya tidak merata sepanjang tahun. Sehingga untuk mempertahankan dan memproduksi buah durian yang berkualitas dan bermutu baik yaitu dengan metode perbanyakan vegetatif sambung pucuk (Grafting) yang mampu menghasilkan benih yang bermutu. Sambung pucuk adalah teknik perbanyakan vegetatif dengan menyatukan entres dengan batang bawah dari tumbuhan yang sejenisnya. Peneltiian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh panjang entres dan lama penyungkupan serta kombinasi perlakuan panjang entres dan lama penyungkupan terhadap keberhasilan bibit tanaman durian dengan teknik sambung pucuk (grafting). Penelitian ini menggunakan metode Rancangan Acak Kelompok (RAK) pola faktorial yang terdiri dari dua perlakuan. Faktor pertama yaitu panjang entres (P) dengan taraf P1 = entres 7 cm, P2 = entres 14 cm, P3 = entres 21 cm. Faktor kedua yaitu lama penyungkupan W1 = sungkup 4 minggu, W2 = sungkup 6 minggu, W3 = sungkup 8 minggu. Sehingga diperoleh 9 kombinasi dengan 3 kali pengulangan. Hasil dari penelitian perlakuan panjang entres menunjukkan berpengaruh nyata terhadap parameter jumlah daun 7 MSP dan 8 MSP, jumlah daun terbanyak pada panjang entres 14 cm (P2) serta berpengaruh nyata terhadap keberhasilan sambung hidup tertinggi pada panjang entres 7 cm (P1). Perlakuan lama penyungkupan menunjukkan berpengaruh nyata terhadap semua parameter, lama penyungkupan terbaik pada lama penyungkupan 4 minggu (W1). Kombinasi perlakuan panjang entres dan lama penyungkupan menunjukkan berpengaruh nyata terhadap semua parameter, kombinasi perlakuan terbaik pada kombinasi panjang entres 14 cm dan lama penyungkupan 4 minggu (P1W1). Hasil pengamatan dari penampang melintang batang perlakuan panjang entres 14 cm dan lama penyungkupan 8 minggu (P2W3) secara kualitatif terlihat sempurna antara pertautan batang atas dan batang bawah, tidak tampak adanya bekas sambungan. Kata kunci : Durian, Sambung Pucuk (grafting), Panjang Entres, Lama Penyungkupan.
Penurunan Kadar Tembaga (Cu) dengan Biostimulasi Glukosa pada Bakteri Indigenous dari Sungai Bedera Kecamatan Medan Marelan, Kota Medan, Sumatera Utara Lubis, Resti Ayunda; Nasution, Rizki Amelia; Widiarti, Leni
BioEksakta : Jurnal Ilmiah Biologi Unsoed Vol 7 No 4 (2025): BioEksakta
Publisher : Fakultas Biologi Universitas Jenderal Soedirman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20884/1.bioe.2025.7.4.18072

Abstract

Sungai Bedera adalah sungai yang tergolong tercemar logam berat akibat pembuangan limbah rumah tangga dan industri yang memiliki kadar logam berat tembaga (Cu) yang tinggi yaitu 0,6518 mg/L. Cara yang dilakukan untuk menurunkan kadar logam berat tembaga (Cu) adalah dengan memanfaatkan bakteri Indigenous. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi bakteri indigenous dari Sungai Bedera dan menguji kemampuannya dalam menurunkan kadar Cu. Bakteri Indigenous diberi perlakuan dengan nutrisi tambahan yaitu biostimulan glukosa. Metode yang dilakukan yaitu isolasi bakteri indigenous, uji resistensi bakteri dengan menghitung nilai Optical Density (OD) menggunakan spektrofotometer Uv-Vis dan proses penurunan kadar logam berat (Cu) dilakukan dengan metode SSA (Spektrofotometer Serapan Atom). Hasil uji menggunakan One Way ANOVA menunjukkan adanya perbedaan nyata antarperlakuan (Sig. < 0,05). Empat genus bakteri indigenous yang berhasil diidentifikasi memiliki kemampuan menurunkan kadar logam berat tembaga (Cu) yaitu Enterococcus, Bacillus, Corynebacterium, dan Staphylococcus. Persentase penurunan Cu tanpa biostimulan glukosa pada masing-masing bakteri Enterococcus, Bacillus, Corynebacterium dan Staphylococcus adalah 51,49%, 40,65%, 29,39%, dan 20,70%. Persentase penurunan Cu dengan penambahan biostimulan glukosa pada masing-masing bakteri Bacillus, Enterococcus, Staphylococcus dan Corynebacterium adalah (77,60%), (72,28%), (66,66%), dan (60,63%). Bakteri indigenous yang paling tinggi dalam menurunkan kadar tembaga (Cu) dengan penambahan biostimulan glukosa adalah Bacillus dengan persentase penurunan 77,60% dan bakteri indigenous yang paling rendah dalam menurunkan kadar tembaga (Cu) tanpa penambahan biostimulan glukosa adalah Staphylococcus dengan persentase penurunan 20,70%. Kata kunci : Bakteri Indigenous, Biostimulan, Logam Berat Tembaga (Cu), dan Sungai Bedera