cover
Contact Name
Cucuk Evi Lusiani
Contact Email
lusiani1891@polinema.ac.id
Phone
+6282140565353
Journal Mail Official
lusiani1891@polinema.ac.id
Editorial Address
Jl. Soekarno Hatta No. 9, Jatimulyo, Kecamatan Lowokwaru, Kota Malang 65141
Location
Kota malang,
Jawa timur
INDONESIA
Distilat: Jurnal Teknologi Separasi
ISSN : 19788789     EISSN : 27147649     DOI : http://dx.doi.org/10.33795/distilat
Core Subject : Engineering,
Distilat: Jurnal Teknologi Separasi is an Open Access Journal with manuscripts in the form of research articles, literature review, or case reports that have not been accepted for publication or even published in other scientific journals.
Articles 879 Documents
PENGARUH PENURUNAN SUHU GAS ALAM DI DALAM COOLER TERHADAP KEMAMPUAN PENYERAPAN GAS H2S PADA UNIT ACID GAS REMOVAL Afifah, Imroatul; Ariani, Ariani
DISTILAT: Jurnal Teknologi Separasi Vol. 10 No. 3 (2024): September 2024
Publisher : Politeknik Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33795/distilat.v10i3.5057

Abstract

Gas alam adalah salah satu sumber daya alam Indonesia yang ketersediaannya melimpah sehingga dilakukan proses pengolahan menjadi gas siap pakai. Salah satu parameter yang menentuka kualitas produk gas yaitu terbebas dari gas asam. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana pengaruh penurunan suhu terhadap kemampuan penyerapan gas asam berupa H2S. Proses penyerapan gas asam pada industri ini terjadi di absorber dengan absorbent berupa a-MDEA. Absorber merupakan alat yang digunakan untuk proses penyerapan fluida gas oleh absorbent. Proses absorpsi gas asam oleh a-MDEA di absorber ini memerlukan suhu yang rendah agar lebih maksimal. Oleh karena itu  sebelum masuk ke dalam absorber, gas akan didinginkan terlebih dahulu pada unit pendingin. Pengambilan data dilakukan pada saat pergantian shift selama 4 hari. Data menunjukkan  bahwa nilai penurunan suhu gas di alat pendingin tidak di pengaruhi oleh jumlah gas alam yang masuk untuk  diolah namun dipengaruhi oleh suhu lingkungan sekitar. Nilai penurunan suhu gas terendah per hari umumnya  terjadi pada pengambilan data pukul 07.00 WIB yaitu mencapai 16,33 °F dan penurunan suhu gas tertinggi  umumnya terjadi pada pengambilan data pukul 23.00 WIB yaitu mencapai 20,06 °F. Sedangkan keberadaan gas  H2S terbesar 0,63 ppm dan terkecil 0,02 ppm Berdasarkan hasil pengolahan data dapat disimpulkan bahwa semakin tinggi nilai penurunan suhu gas di alat pendingin, maka kualitas gas yang di hasilkan akan semakin rendah kadar impuritis.
ANALISIS EKONOMI PRA RANCANGAN PABRIK KIMIA PEMBUATAN KARBON AKTIF DARI TEMPURUNG KELAPA DENGAN KAPASITAS 40.000 TON/TAHUN Arviana, Felicia; Hendrawati , Nanik; Irfin, Zakijah
DISTILAT: Jurnal Teknologi Separasi Vol. 10 No. 2 (2024): June 2024
Publisher : Politeknik Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33795/distilat.v10i2.5058

Abstract

Pendirian pabrik karbon aktif ini menjadi solusi dari banyaknya tempurung kelapa yang terbuang sia-sia karena masih menghadapi beragam kendala sehingga tempurung kelapa belum dapat termanfaatkan dengan baik. Dengan adanya pabrik ini maka akan memaksimalkan manfaat tempurung kelapa yang dimana dalam satu buah kelapa memiliki komposisi tempurung sebesar 13,5%. Pabrik karbon aktif ini menggunakan bahan baku dari tempurung kelapa yang berkapasitas 40.000 ton/tahun. Pabrik ini berbentuk Perseroan Terbatas (PT) yang beroperasi selama 330 hari dalam setahun dan 24 jam per hari. Tujuan dari analisis ekonomi ini yaitu untuk mendapatkan perkiraan mengenai kelayakan investasi modal dalam kegiatan produksi karbon aktif. Hasil analisa ekonomi yang didapatkan, Total Capital Investment (TCI) sebesar Rp 148.650.837.009. Sedangkan Total Production Cost (TPC) sebesar Rp 598.719.936.716,88. Analisa perhitungan yang telah dilakukan yaitu laba kotor yang didapatkan sebesar Rp 41.280.063.283 dan laba bersih sebesar Rp 28.951.044.298,19. Laju pengembalian modal (ROI) sebelum pajak sebesar 33% dan setelah pajak sebesar 23%. Lama pengembalian modal (POT) sebelum pajak 2,64 tahun dan setelah pajak 2,1 tahun. Break even point (BEP) sebesar 79%. Laju pengembalian modal lebih besar dibandingkan dengan bunga bank, sehingga pabrik karbon aktif ini layak untuk didirikan. IRR sebesar 19% lebih besar daripada bunga bank yaitu sebesar 15%. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa pabrik karbon aktif dari tempurung kelapa layak untuk didirikan.
PENENTUAN KAPASITAS DAN SELEKSI PROSES PABRIK KIMIA PEMBUATAN KARBON AKTIF DARI AMPAS TEBU Rudiyanto, Bintang Ramadhan Putra Perdana; Hendrawati, Nanik; Sudarminto, Hadi Priya
DISTILAT: Jurnal Teknologi Separasi Vol. 10 No. 2 (2024): June 2024
Publisher : Politeknik Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33795/distilat.v10i2.5060

Abstract

Ketersediaan karbon aktif dalam industri secara intensif merupakan hal yang penting. Hal ini dikarenakan kegunaannya sebagai media pemurnian atau adsorben. Proses pembuatan karbon aktif melalui 3 tahap yaitu dehidrasi, karbonisasi, dan aktivasi. Studi literatur dan analisis perhitungan ini bertujuan untuk menyeleksi beberapa proses dan komposisi bahan pada pembuatan karbon aktif dan menentukan kapasitas produksi pabrik yang akan berdiri pada tahun 2024 di kabupaten Malang. Pada Perancangan Pabrik Kimia Karbon Aktif dari Ampas Tebu melakukan pemilihan proses atau seleksi proses dengan menggunakan metode grading yang sudah dinilai secara subjektif. Hasil dari penelitian ini diperoleh berdasarkan data prediksi perhitungan karbon aktif dari ampas tebu tahun 2024 pertumbuhan rata –rata ekspor karbon aktif sebesar 8,25 % dan impor karbon aktif sebesar 9,38 %. Berdasarkan perhitungan peluang kapasitas produksi pabrik karbon aktif pada tahun 2024 sebesar 64.890 ton/tahun. Karena di dalam negeri (Indonesia) sudah terdapat pabrik karbon aktif maka kapasitas produksi karbon aktif pada 2024 sebesar 40.000 ton/tahun. Dilihat dari data nilai/skor dan beberapa alasan yang sudah ditentukan dapat disimpulkan bahwa pabrik kimia karbon aktif dari ampas tebu dengan kapasitas 40.000 ton/tahun menggunakan proses batch dengan metode pirolisis dan aktivasi kimia. Namun, pemilihan bahan baku perlu diperhatikan agar mendapatkan produk dan keuntungan ekonomi yang lebih optimal.
EVALUASI PERFORMA HEAT EXCHANGER 11E-25 CDU I (CRUDE DISTILATION UNIT I) PADA FOC I (FUEL OIL COMPLEX I) PT PERTAMINA (PERSERO) REFINERY UNIT IV CILACAP JAWA TENGAH Gusniawan, Prayoga Vicky; Aldillah, Ahmad Zaky; Rulianah, Sri
DISTILAT: Jurnal Teknologi Separasi Vol. 10 No. 2 (2024): June 2024
Publisher : Politeknik Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33795/distilat.v10i2.5065

Abstract

PT Pertamina RU IV Cilacap mengandalkan Heat Exchanger (HE) dalam perpindahan panas dan efisiensi energi dalam memenuhi kebutuhan produksi. Salah satu heat exchanger yang digunakan ialah HE 11E-25 dengan tipe alat Shell and Tube Heat Exchanger (STHE). HE 11E-25 digunakan untuk memanaskan Arabian Light Crude (ALC) didalam tube side sebagai fluida dingin dengan Long residu di dalam shell side sebagai fluida panas. Long residu dari HE 11E-25 akan dimanfaatkan kembali untuk memanaskan crude kembali pada HE 11E-7 di dalam shell side. Hal ini terjadi terus menerus sehingga menurunkan performa HE sehingga perlu dilakukan evaluasi. Tujuan pada penelitian ini adalah untuk mengevaluasi kinerja dari HE 11E-25 dengan menggunakan metode Kern. Adapun prosedur percobaan meliputi pengumpulan data primer dan data sekunder kemudian dilakukan perhitungan dengan metode Kern untuk dapat menyimpulkan kinerja HE 11E-25 tersebut. Dari hasil evaluasi nilai Fouling Factor (Rd) pada data design sebesar 0,007 ft2 hr F/Btu pada shell dan 0,0065 ft2 hr F/Btu pada tube sedangkan nilai Fouling Factor (Rd) pada data aktual menunjukkan hasil 0,0507 ft2 hr F/Btu pada shell dan 0,2722 ft2 hr F/Btu pada Tube dimana meningkatnya nilai Rd menunjukkan terdapat akumulasi endapan, scale, dan fouling pada Heat Exchanger sehingga perlu maintenance.
SELEKSI PROSES DAN PENENTUAN KAPASITAS PRODUKSI PABRIK HIGH FRUCTOSE CORN SYRUP Nurfadila, Annisa Rahma; Moentamaria, Dwina
DISTILAT: Jurnal Teknologi Separasi Vol. 10 No. 3 (2024): September 2024
Publisher : Politeknik Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33795/distilat.v10i3.5067

Abstract

Gula merupakan salah satu kebutuhan pokok masyarakat Indonesia terutama perannya sebagai pemanis, naik untuk dikonsumsi langsung ataupun untuk kebutuhan industri makanan dan minuman. Kebutuhan gula nasional Indonesia secara umum mencapai 7,3 juta ton dengan produksi gula nasional sebesar 2,35 juta ton tidak bisa menutupi kebutuhan konsumsi. Produksi dalam negeri perlu terus ditingkatkan untuk memenuhi kebutuhan gula nasional. Solusi lain yang dapat dilakukan adalah mencari alternatif bahan pemanis lain yang mampu mensubstitusi gula. Salah satu gula alternatif yang digunakan yaitu sirup jagung fruktosa tinggi. Gula dari pati jagung dinilai memiliki rasa serta kemanisan yang hampir sama dengan sukrosa. Pati jagung dipilih sebagai bahan baku utama pembuatan sirup fruktosa dikarenakan salah satu komoditas terjamin di Indonesia. Berdasarkan data dari Kementerian Pertanian, provinsi Jawa Timur memperoleh peringkat pertama dalam produksi jagung dengan luas panen 1,19 juta hektar menghasilkan 5,37 juta ton. Tujuan studi literatur ini adalah untuk menentukan seleksi proses dan besar kapasitas produksi High Fructose Corn Syrup (HFCS). Penentuan seleksi proses ditentukan dengan metode studi literatur dari berbagai macam proses produksi High Fructose Corn Syrup (HFCS) diantaranya hidrolisis asam-asam, asam-enzim, dan enzim-enzim. Perhitungan kapasitas produksi dilakukan dengan metode perhitungan pertumbuhan rata-rata pertahun pada proses produksi High Fructose Corn Syrup (HFCS) dari penggunaan data ekspor dan impor pada tahun 2012-2021. Hasil studi literatur ini menunjukkan bahwa kapasitas produksi High Fructose Corn Syrup (HFCS) yang akan didirikan pada tahun 2025 di Tuban, Jawa Timur adalah sebesar 15.000 ton/tahun dengan seleksi proses yang dipilih enzim-enzim.
PENGARUH ULTRASONIK PADA SINTESIS PERISA ALAMI DENGAN METODE TRANSESTERIFIKASI MINYAK KELAPA, MINYAK SEREH, DAN PAPPERMINT Azzahra, Medyna Mutiara; Moentamaria, Dwina
DISTILAT: Jurnal Teknologi Separasi Vol. 10 No. 2 (2024): June 2024
Publisher : Politeknik Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33795/distilat.v10i2.5068

Abstract

Perisa alami alami digunakan sebagai alternatif dari perisa buatan yang dijual dipasaran. Perisa alami disintesis melalui reaksi transesterifikasi trigliserida dan alkohol secara enzimatik. Reaksi enzimatik bekerja secara spesifik tanpa memerlukan energi yang tinggi dan membutuhkan waktu reaksi yang sangat lama hingga 20 jam. Penelitian ini,menggunakan penambahan bahan yang memiliki aroma serta rasa yang kuat yaitu peppermint. Tujuan penelitian ini untuk memanfaatkan teknologi dalam mengoptimalisasi waktu reaksi dan menganalisis pengaruh daya, waktu, dan suhu pemaparan gelombang ultrasonik pada pembuatan perisa alami melalui metode transesterifikasi minyak kelapa, minyak sereh, dan peppermint. Tahapan penelitian yaitu immobilisasi lipase pada PUF(polyurethane foam), kemudian melakukan reaksi transesterifikasi untuk menghasilkan produk perisa alami, dan analisis hasil meliputi %konversi, bilangan asam. Pada tahap transesterifikasi minyak kelapa, minyak sereh, dan peppermint direaksikan dengan immobillized lipase lalu dimasukkan dalam ultrasonic bath. Percobaan menggunakan variabel daya 60 W, 80 W, 100 W. Dengan waktu reaksi 30 menit, 60 menit, 120 menit, 150 menit pada suhu 40°C. Pada setiap variasi, dilakukan analisis terhadap karakteristik perisa yang dihasilkan termasuk aroma, kekuatan, dan kesegaran. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada waktu reaksi 150 menit diperoleh hasil perisa alami dengan karakteristik aroma yang optimal. Kondisi ini menghasilkan kombinasi yang harmonis antara komponen utama dari minyak sereh dan minyak peppermint, serta mengoptimalkan efek dari penggunaan ultrasonik pada proses pembuatan perisa alami. Hasil analisis bilangan asam yang memiliki nilai paling rendah yaitu pada penggunaan daya 100 Watt dengan waktu 150 menit, sedangkan pada hasil konversi mengalami kenaikan.Hasil nilai aktivitas enzim tertinggi yaitu pada penggunaan daya 100W dengan nilai sebesar 75.833 U/g PUF.
OPTIMASI PENGGUNAAN SODA KAUSTIK PADA PROSES TREATING PERTASOL CA UNIT CDU PPSDM MIGAS CEPU Prayitno , Prayitno; Hapsari, Adenia Aulia; Rochim, Mochamad
DISTILAT: Jurnal Teknologi Separasi Vol. 10 No. 2 (2024): June 2024
Publisher : Politeknik Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33795/distilat.v10i2.5070

Abstract

Hasil olahan minyak mentah berupa pertasol CA di PPSDM MIGAS Cepu diproduksi untuk memenuhi kebutuhan konsumen. Sebelum didistribusikan kepada konsumen, pertasol CA harus memenuhi spesifikasi yang telah ditetapkan Pertamina. Pertasol CA yang didak memenuhi spesifikasi ditandai dengan kandungan sulfur yang tinggi, dimana sulfur merupakan impurities. Kandungan sulfur yang mengkontaminasi pertasol CA berada dalam bentuk hidrogen sulfida (H2S) dan merkaptan (RHS) dalam fase gas terlarut. Untuk menghilangkan senyawa sulfur perlu dilakukan treating. Treating merupakan proses pemurnian untuk mengurangi impurities seperti belerang dan senyawa organik lain yang terkandung dalam produk. Proses treating dilakukan dengan menggunakan soda kaustik sebagai agen pengikat impurities. Kandungan sulfur berlebih dapat menyebabkan penurunan mutu produk, menimbulkan korosi dan menurunkan stabilitas pada penyimpanan, sehingga proses treating perlu dioptimalkan. Tujuan penelitian adalah untuk menganalisis pengaruh konsentrasi soda kaustik, rasio volume pertasol CA: soda kaustik, dan lama waktu penggunaan kembali soda kaustik pada proses treating terhadap kualitas pertasol CA. Proses treating pada percobaan ini menggunakan konsentrasi soda kaustik (7,5; 10; 12,5 M), rasio volume pertasol CA: soda kaustik (4 : 1 ; 3 : 1 ; 2 : 1). Parameter yang dianalisis, antara lain: analisis sulphur content ASTM D 2622, color saybolt ASTM D 156, copper corrosion ASTM D 130 dan doctor test. Hasil penelitian menunjukkan pertasol CA on spec diperoleh pada kondisi operasi optimum yaitu pada konsentrasi 12,5 M, dan rasio volume pertasol CA : soda kaustik 2 : 1, dengan efisiensi desulfurisasi sebesar 50,24 %. Penggunaan kembali soda kaustik menunjukkan keberadaan sulfur relatif tinggi pada penggunaan ke-13.
PENGERINGAN SAMPAH PADAT ORGANIK MENGGUNAKAN METODE BIO-DRYING DI SALAH SATU PASAR KOTA MALANG Handayani, Melly; Mahendra, Ananda Rizky; Naryono, Eko
DISTILAT: Jurnal Teknologi Separasi Vol. 10 No. 2 (2024): June 2024
Publisher : Politeknik Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33795/distilat.v10i2.5071

Abstract

Manusia dalam melakukan aktivitas sehari-hari, akan menghasilkan sampah baik jenis organik maupun anorganik. Pengelolaan sampah khususnya daerah perkotaan perlu diklakukan sebagai upaya dalam mengurangi timbunan sampah pada Tempat Pembuangan Akhir (TPA). Salah satu metode pengelolaan sampah yang efektif digunakan dan ramah lingkungan adalah metode bio-drying. Pengeringan biologis (bio-drying) merupakan salah satu alternatif biokonversi mekanis-biologis pada pengolahan sampah organik. Penerapan  hasil rancangan ini diharapkan dapat mengurangi dampak negatif yang ditimbulkan ke lingkungan terutama timbulnya bau tidak sedap yang ditimbulkan oleh tumpukan sampah di TPS salah satu Pasar Kota Malang. Penelitian ini dilakukan menggunakan reaktor tray bio-drying dengan massa sampah padat organik 5 kg pada setiap tray dengan laju alir aerasi 0,04167 m3/menit pada masing-masing tray. Hasil penelitian menunjukan bahwa dengan metode tray bio-drying mampu menurunkan kadar air awal sebesar 62.69% hingga menjadi 9.49%. Hasil rancangan pada kapasitas 4 m3 sampah per hari, untuk digunakan mengolah sampah di salah satu Pasar Kota Malang dengan bentuk reaktor empat persegi panjang dengan ukuran Panjang 8 m, lebar 3,3 m, dan tinggi 2,5 m. Pada sisi bawah dasar reactor dipasang kawat ram. Blower yang digunakan 2 buah dengan kapasitas masing masing 20 m3 /menit. Tujuan dari rancangan reaktor ini dapat bekerja secara kontinyu yang bertujuan untuk mengeringkan sampah sebesar 4m³ per hari, dengan produk sampah kering yang dihasilkan sekitar 250kg per hari sehingga dapat mengurangi dampak negatif yang ditimbulkan ke lingkungan terutama meminimalkan timbulnya bau yang tidak sedap.
EFEKTIFITAS DARI PERANCANGAN ULANG TATA LETAK LABORATORIUM IC (INTERMEDIATE CONTROL) TERHADAP PROSES PRODUKSI H2O2 DI INDUSTRI PEROKSIDA Nurhaliza, Siti; Maryanty, Yanty
DISTILAT: Jurnal Teknologi Separasi Vol. 10 No. 3 (2024): September 2024
Publisher : Politeknik Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33795/distilat.v10i3.5073

Abstract

Laboratorium IC (Intermediate Control) merupakan tempat pengujian spesifikasi produk akhir dan pemantauan efisiensi proses, sehingga laboratorium ini sangat dibutuhkan di Industri Peroksida. Laboratorium IC berperan penting dalam pengendalian standar dan mutu produk, sehingga kelayakan bangunan, luas dan penempatan di laboratorium IC harus sesuai dengan SNI (Standar Nasional Indonesia). Penelitian dilakukan untuk menganalisis tata letak ruang dan fasilitas pada laboratorium IC dan disesuaikan dengan persyaratan sistem mutu laboratorium SNI ISO/IEC 17025: 2008. Dilakukan analisis penempatan fasilitas laboratorium terkini, dilakukan perhitungan luas laboratorium yang diperlukan, analisis kedekatan fasilitas dengan membuat ARC dan ARD sehingga didapatkan hasil akhir berupa layout laboratorium IC yang sesuai dengan SNI. Berdasarkan penelitian ini didapatkan bahwa tata letak area kerja dan fasilitas pada laboratorium IC pada Industri Peroksida tidak sesuai dengan sistem mutu laboratorium sehingga perlu dilakukan pembaruan berdasarkan layout baru yang dihasilkan berdasarkan penelitian yang telah dilakukan. Parameter yang digunakan adalah tata letak laboratorium IC yang disesuaikan dengan persyaratan sistem manajemen mutu laboratorium SNI/IEC 17025:2008 untuk membuat gedung laboratorium yang lebih tertib, layak dan sesuai dengan standar yang digunakan. Sehingga diharapkan analis laboratorium IC menghasilkan data yang valid untuk membantu pihak production control dalam menjaga efisiensi proses produksi H2O2 berdasarkan data analis yang dihasilkan.
EVALUASI EFISIENSI KINERJA RAW MILL INDARUNG VI PT SEMEN PADANG Putri, Febby Anisa; Sa’diyah, Khalimatus; Wibowo, Feri
DISTILAT: Jurnal Teknologi Separasi Vol. 10 No. 2 (2024): June 2024
Publisher : Politeknik Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33795/distilat.v10i2.5076

Abstract

Salah satu unit utama yang sangat penting dalam proses produksi semen yaitu pada unit raw mill. Pada unit raw mill terdapat beberapa alat proses produksi semen meliputi vertikall raw mill, Multicyclone, Gas Conditioning Tower  (GCT), dan Bag House Filter (BHF). Pada raw mill terjadi proses pencampuran, penggiling, pengeringan, dan transportasi pada bahan baku seperti limestone, pozzolan, iron sand, dan clay menjadi bubuk halus yang disebut raw mix dengan standar kehalusan diatas 90µ (14-20%). Penggilingan bahan baku menjadi raw mix membutuhkan energi yang signifikan. Maka dari itu perlu dilakukan peningkatan kinerja alat pada unit raw mill untuk meningkatkan efisiensi kinerja alat dengan mengevaluasi perhitungan neraca massa, neraca energi, dan efisiensi kinerja alat di unit produksi raw mill pada salah satu proses produksi semen Indarung VI PT Semen Padang. Hasil evaluasi neraca massa, neraca energi, dan efisiensi unit raw mill dihitung dengan prinsip kekekalan massa energi sehingga diperoleh kapasitas overall sebesar 1.260.549,3012 kg/jam, kebutuhan panas 400.930.630,84kJ/jam dengan total heat loss 152.152.976,79 kJ/jam dan efisiensi VRM 55,34% serta GCT 83,06%. Nilai tersebut masih memenuhi batas minimal perusahaan sebesar 50%. Dari hasil perhitungan dapat disimpulkan bahwa proses pengeringan material untuk mencapai kadar air yang ditentukan masih berlangsung secara optimal.