cover
Contact Name
I Gde Dharma Atmaja
Contact Email
sangkareangmataram@gmail.com
Phone
+62818361014
Journal Mail Official
sangkareangmataram@gmail.com
Editorial Address
Jl Pemuda No. 59A, Dasan Agung Baru, Mataram
Location
Unknown,
Unknown
INDONESIA
Jurnal Ilmiah Sangkareang Mataram
Published by Sangkareang Mataram
ISSN : 23559292     EISSN : 27752127     DOI : -
Jurnal Ilmiah Sangkareang Mataram merupakan jurnal resmi yang memuat artikel ilmiah dari berbagai disiplin keilmuan (bunga rampai) seperti Kesehatan, Kedokteran Hewan, Seni, Teknologi, Teknik, Ekonomi, Kehutanan, Kependidikan dan lain sebagainya
Arjuna Subject : Umum - Umum
Articles 11 Documents
Search results for , issue "Vol. 12 No. 2 (2025): DESEMBER" : 11 Documents clear
PENGARUH KETINGGGIAN LOKASI DAN KONDISI LINGKUNGAN TERHADAP FISIK SAPI BALI (BOS SONDAICUS) (Studi Pada Peternakan Skala Kecil Di Daerah Pegunungan Sembalun) Yusri Ghinand Marzuki; Sucika Armiani; Ni Luh Lasmi Purwanti
JURNAL SANGKAREANG MATARAM Vol. 12 No. 2 (2025): DESEMBER
Publisher : SANGKAREANG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak. Penelitian ini bertujuan mengevaluasi pengaruh ketinggian lokasi dan kondisi lingkungan terhadap fisik Sapi Bali (Bos sondaicus) pada peternakan skala kecil di Pegunungan Sembalun. Penelitian dilakukan menggunakan pendekatan kuantitatif pada 56 ekor Sapi Bali yang dipelihara di tiga lokasi berbeda: Bukit Pergasingan (1.720 mdpl), Bukit Savana Dandaun (1.429 mdpl), dan Bukit Savana Bentotok (1.319 mdpl). Body Condition Score (BCS) digunakan sebagai indikator fisik sapi, sementara kondisi lingkungan diukur berdasarkan parameter suhu, kelembaban, dan tekanan udara. Analisis data menggunakan uji Kruskal-Wallis menunjukkan bahwa ketinggian lokasi berpengaruh signifikan terhadap BCS sapi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sapi yang dipelihara di lokasi dengan ketinggian lebih rendah, seperti Bukit Savana Bentotok, memiliki rata-rata BCS lebih baik dibandingkan lokasi dengan ketinggian lebih tinggi, seperti Bukit Pergasingan. Selain itu, suhu dan kelembaban juga memengaruhi kondisi fisik sapi, di mana lokasi dengan suhu yang lebih stabil mendukung kondisi fisik ternak yang lebih optimal. Penelitian ini menyimpulkan bahwa ketinggian lokasi dan kondisi lingkungan merupakan faktor penting dalam menentukan kondisi fisik Sapi Bali. Oleh karena itu, pemilihan lokasi peternakan yang strategis serta penerapan manajemen lingkungan yang baik diperlukan untuk mendukung produktivitas dan kesejahteraan ternak di daerah pegunungan. Kata kunci : Sapi Bali, ketinggian lokasi, kondisi lingkungan, Body Condition Score, Pegunungan Sembalun
DETEKSI DAN PREVALENSI TELUR CACING NEMATODA PADA AYAM PETELUR (HY-LINE BROWN) DI DESA BAGIK POLAK KECAMATAN LABUAPI Septiana Wurru; Ni Luh Lasmi Purwanti; I Gede Bagas Upaditha Adresya Kaler; Maratun Janah; Kholik
JURNAL SANGKAREANG MATARAM Vol. 12 No. 2 (2025): DESEMBER
Publisher : SANGKAREANG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak : Ayam petelur merupakan salah satu jenis unggas yang sangat populer di Indonesia, dikarenakan kualitas telurnya yang tinggi dan harga yang relatif terjangkau. Namun, dalam proses budidaya ayam petelur, masih sering terjadi kendala, salah satunya disebabkan oleh infeksi parasit yang menyebabkan gangguan pada sistem pencernaan dan dapat mengurangi produktivitas ayam. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui deteksi dan prevalensi infeksi cacing Nematoda pada ayam petelur yang dipelihara di desa Bagik Polak kecamatan Labuapi. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan November tahun 2024 dengan menggunakan 25 sampel feses ayam petelur dengan menggunakan metode natif dan apung. Hasil penelitian menunjukan bahwa dari 25 sampel terdapat 12 sampel positif, telur cacing Nematoda. Jenis Nematoda yang ditemukan yaitu 7 sampel positif Ascaridia galli dengan prevalensi 28% dan 5 sampel positif Tetrameres sp dengan prevalensi 20%. Total prevalensi telur cacing Nematoda sebesar 48%. Kata kunci : Ayam petelur, Deteksi, Prevalensi, Nematoda sp, Labuapi
ANALISIS PROFIL HEMATOLOGI DAN MORFOLOGI ERITROSIT PENYU SISIK (ERETMOCHELYS IMBRICATA) SEBAGAI INDIKATOR KESEHATAN DI WILAYAH PESISIR PANTAI LOMBOK, NUSA TENGGARA BARAT M. Iftitah Mahroza; Septyana Eka Rahmawati; Muhammad Munawaroh; Ni Luh Lasmi Purwanti
JURNAL SANGKAREANG MATARAM Vol. 12 No. 2 (2025): DESEMBER
Publisher : SANGKAREANG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak: Penyu Sisik (Eretmochelys imbricata) merupakah salah satu jenis penyu yang dapat di temukan di Pesisir Pantai Lombok, NTB. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui profil dan morfologi eritrosit pada darah Penyu Sisik (Eretmochelys imbricata) yang berada di Pesisir Pantai Lombok, Nusa Tenggara Barat, sebagai indikator kesehatan dan adaptasi lingkungan. Sampel darah diambil dari dua ekor penyu menggunakan metode accidental sampling dan dianalisis di Balai Besar Veteriner Denpasar menggunakan alat hematology analyzer serta pengamatan mikroskopis apus darah dengan pewarnaan Giemsa. Hasil penelitian menunjukkan jumlah eritrosit (RBC) sebesar 2,2–2,9×10⁶/μl, kadar hemoglobin (Hb) 7,00–8,80 g/dl, dan hematokrit (HCT) 13,5–19%. Nilai MCV, MCH, dan MCHC tidak dapat terekam karena keterbatasan alat. Morfologi eritrosit menunjukkan bentuk elips berinti khas reptil. Data ini diharapkan dapat menjadi acuan dasar bagi pemantauan kesehatan penyu di wilayah Pesisir Pantai Lombok. Kata kunci: Penyu sisik, eritrosit, hematologi, morfologi darah, Lombok
UTILITAS LINGKUNGAN PERUMAHAN BTN TAMAN BARU KOTA MATARAM Erna Wijayanti Rahayu; Rahmat Awaludin
JURNAL SANGKAREANG MATARAM Vol. 12 No. 2 (2025): DESEMBER
Publisher : SANGKAREANG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak: Melihat perkembangan perumahan BTN Taman Baru saat ini, dimana perumahan tersebut sudah mengalami perubahan bentuk dengan adanya penambahan ruang, penambahan jumlah lantai dan fasad bangunan yang disebabkan adanya bertambahnya jumlah penghuni. Hal ini dapat berpengaruh terhadap utilitas lingkungan perumahan. Utilitas lingkungan berfungsi sebagai kelengkapan lingkunan yang memberikan rasa nyaman bagi masyarakat. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui kondisi utilitas lingkungan yang ada di BTN Taman Baru pada saat ini. Dimana penelitian ini menggambarkan perkembanga kondisi atau keadaan saat ini yang terjadi dengan cara pengumpulan data dilakukan dengan cara survey lapangan, dokumentasi dan wawancara serta studi literatur Utilitas lingkungan yang dimiliki pada saat ini berupa jaringan jalan, jaringan drainase, jaringan air limbah, jaringan air bersih dan laringan listrik sudah tersedia dengan baik. Agar masyarakat perumahan tetap merasakan kenyamanan diperlukan adanya penanganan dan pemeliharaan pada utilitas permukiman yang sudah ada. Kata kunci : utilitas, lingkungan, perumahan
LAJU PERTUMBUHAN DIMENSI PANJANG TUBUH BABI DOMESTIK (Sus scrofa domesticus) DI KABUPATEN LOMBOK BARAT Baiq Marwah Arradyah; Ni Luh Lasmi Purwanti; Mariyam Al Haddar; Septyana Eka Rahmawati; Eprinanda Galuh Berliana
JURNAL SANGKAREANG MATARAM Vol. 12 No. 2 (2025): DESEMBER
Publisher : SANGKAREANG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak: Ternak babi berperan penting secara ekonomi dan sosial bagi masyarakat, serta menunjukkan potensi produktivitas tinggi sebagai komoditas unggulan. Pertumbuhan babi pada aspek panjang tubuh, dipengaruhi oleh faktor genetik dan hormon, sehingga perlu dikaji untuk mengetahui potensi pertumbuhan dan performa ternak secara lebih akurat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan laju pertumbuhan babi domestik (Sus scrofa domesticus) antara jantan dan betina, serta membandingkan dimensi panjang tubuh yang meliputi kepala, leher, telinga, punggung, dan ekor. Penelitian dilakukan secara observasional terhadap 54 ekor babi domestik (27 jantan dan 27 betina) berumur 1–3 bulan yang dipelihara secara intensif di Kecamatan Gerung dan Kuripan, Kabupaten Lombok Barat. Data diperoleh melalui pengukuran morfometrik dan dianalisis menggunakan model regresi power. Hasil penelitian menunjukkan ukuran dimensi panjang tubuh babi domestik jantan berbeda nyata (P<0,05) dengan betina, namun tidak terdapat interaksi dengan umur. Dimensi panjang tubuh babi domestik jantan paling dini tumbuh yaitu panjang kepala, panjang telinga, panjang punggung, panjang ekor dan yang paling akhir tumbuh yaitu panjang leher. Sedangkan babi domestik betina, dimensi yang paling dini tumbuh yaitu panjang kepala, panjang telinga, panjang ekor, panjang leher, dan terakhir tumbuh yaitu panjang punggung. Kata kunci: Babi Domestik, Laju Pertumbuhan, Dimensi Panjang Tubuh, Morfometrik, Lombok Barat.
LAJU PERTUMBUHAN DIMENSI LINGKAR TUBUH BABI DOMESTIK (Sus scrofa domesticus) DI KABUPATEN LOMBOK BARAT Nova Eriyanto; Ni Luh Lasmi Purwanti; Mariyam Al Haddar; Devia Wulandasari
JURNAL SANGKAREANG MATARAM Vol. 12 No. 2 (2025): DESEMBER
Publisher : SANGKAREANG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak : Kabupaten Lombok Barat merupakan salah satu daerah penghasil ternak babi di Provinsi Nusa Tenggara Barat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan laju pertumbuhan dimensi lingkar tubuh yang meliputi lingkar leher (regio cervicalis), lingkar abdomen (regio abdominal), dan lingkar panggul (regio coxalis) pada babi domestik jantan dan betina. Penelitian dilakukan secara kuantitatif dengan rancangan acak lengkap (RAL) menggunakan dua faktor utama, yaitu jenis kelamin dan umur. Sampel terdiri dari 54 ekor babi domestik (27 jantan dan 27 betina) berumur 1 hingga 5 bulan yang diukur setiap bulan selama tiga bulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa jenis kelamin dan umur berpengaruh nyata terhadap dimensi lingkar tubuh. Babi jantan memiliki pertumbuhan paling dini yaitu pada dimensi lingkar leher (regio cervicalis) dengan nilai laju (b=0,812), kemudian disusul oleh lingkar panggul (regio coxalis) dengan nilai laju (b=1,042) dan terakhir tumbuh adalah dimensi lingkar abdomen (regio abdominal) dengan nilai laju (b=1,118). Sedangkan babi betina dimensi yang paling dini tumbuh yaitu dimensi lingkar leher (regio cervicalis) dengan nilai laju (b=0,852), kemudian disusul oleh dimensi lingkar abdomen (regio abdominal) dengan nilai laju (b=1,038) dan dimensi lingkar yang paling akhir tumbuh yaitu dimensi lingkar panggul (regio coxalis) dengan nilai laju (b=1,086). Hal ini disebabkan oleh adanya tuntutan dari fungsi fisiologis tubuh dan adanya pengaruh peran hormonal seperti androgen pada ternak jantan serta estrogen pada ternak betina. Kata kunci: Babi domestik, Laju pertumbuhan, Dimensi lingkar, jantan, betina.
PERANCANGAN DAN PENGEMBANGAN BUNGALOW BERBASIS ARSITEKTUR HIJAU DENGAN PENDEKATAN KEARIFAN LOKAL DI LENDANG BELO Muammar Khadafi; Baiq Susdiana Fibrianti; Nabila Haliya
JURNAL SANGKAREANG MATARAM Vol. 12 No. 2 (2025): DESEMBER
Publisher : SANGKAREANG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Perancangan dan pengembangan bungalow berbasis arsitektur hijau dengan pendekatan kearifan lokal di Desa Lendang Bello, Lombok Timur. Perancangan dan pengembangan bungalow ini bertujuan untuk mendukung pariwisata berkelanjutan yang harmonis dengan lingkungan dan budaya lokal. Desa Lendang Belo berpotensi besar dalam serktor pariwisata, sebab memiliki keindahan alam serta kekayaan budaya yang masih dilestarikan oleh masyarakat setempat, salah satunya Festival Dara Ngindang. Arsitektur hijau yang digunakan pada bungalow ini diterapkan melalui pemanfaatan energy alami, material ramah lingkungan, dan desain yang adaptif terhadap iklim tropis. Selain itu, pendekatan kearifan lokal diwujudkan dalam pemilihan bentuk bangunan dan penggunaan material tradisional seperti bambu dan alang-alang, serta orientasi bangunan yang mengikuti alam. Penelitian perancangan dan pengembangan bungalow ini menggunakan metode kualitatif dengan observasi lapangan, studi literatur, dan studi banding. Hasil perancangan menunjukkan bahwa integrasi antara prinsip arsitektur hijau dan kearifan lokal dapat menghasilkan desain yang ramah lingkungan, berkelanjutan, serta mencerminkan identitas budaya masyarakat setempat. Arsitektur hijau diterapkan melalui efisiensi energy, pemanfaatan pencahayaan dan ventilasi alami, serta pengelolaan air yang baik. Sementara itu, kearifan lokal diwujudkan dalam bentuk bangunan, pemilihan material alami seperti kayu, bamboo, dan alang-alang, serta adaptasi terhadap iklim dan kondisi geografis wilayah. Kata Kunci : Bungalow, Arsitektur Hijau, Kearifan Lokal
PERANCANGAN PUSAT WISATA KULINER DI KOTA MATARAM Nana Fariani; Tedy Hartawan; Eliza Ruwaidah
JURNAL SANGKAREANG MATARAM Vol. 12 No. 2 (2025): DESEMBER
Publisher : SANGKAREANG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kota Mataram memiliki potensi besar dalam pengembangan wisata kuliner yang didukung oleh keberadaan UMKM serta peningkatan jumlah wisatawan. Namun, belum terdapat fasilitas terpadu yang mampu mewadahi kegiatan kuliner secara representatif dan berkarakter lokal. Penelitian ini bertujuan untuk merancang pusat wisata kuliner dengan pendekatan arsitektur yang mengintegrasikan unsur budaya lokal Sasak dan arsitektur modern. Metode yang digunakan adalah kualitatif-deskriptif melalui studi literatur, observasi lapangan, dan wawancara dengan pelaku UMKM serta pemangku kepentingan terkait. Hasil penelitian menunjukkan bahwa desain yang menggabungkan elemen tradisional seperti atap lumbung Sasak dan limasan, dengan material modern seperti kaca, baja, dan beton, dapat menciptakan ruang yang fungsional, adaptif terhadap iklim tropis, dan estetis. Lokasi perancangan berada di Jalan Bypass Tembolak, Kota Mataram, seluas ±1,3 hektar. Diharapkan pusat wisata kuliner ini menjadi wadah pengembangan ekonomi kreatif dan destinasi wisata kuliner yang berkelanjutan. Kata kunci: wisata kuliner, arsitektur lokal, UMKM, Mataram, desain arsitektur modern, ekonomi kreatif.
ANALISIS KONTRAKSI SEKTOR PERTAMBANGAN TERHADAP PERTUMBUHAN EKONOMI PROVINSI NUSA TENGGARA BARAT DENGAN PENDEKATAN SHIFT SHARE Maulana Okta Saputra
JURNAL SANGKAREANG MATARAM Vol. 12 No. 2 (2025): DESEMBER
Publisher : SANGKAREANG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Perekonomian Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) mengalami kontraksi pada tahun 2025 yang terutama dipicu oleh melemahnya sektor pertambangan sebagai sektor unggulan daerah. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis sumber kontraksi ekonomi Provinsi NTB menggunakan pendekatan shift share dengan memanfaatkan data PDRB sektor pertambangan NTB dan nasional atas dasar harga konstan. Hasil analisis menujukan bahwa nilai proportional share dan differential shift yang negatif mengindikasikan pelemahan sektor pertambangan secara nasional serta rendahnya daya saing sektor tersebut di NTB. Kondisi ini diperparah oleh kebijakan larangan ekspor konsentrat mineral. Penelitian ini meyimpulan bahwa kontraksi ekonomi NTB bersifat struktural dan regional, sehingga diperlukan diversifikasi ekonomi dan penguatan industri hilir pertambangan. Kata kunci : Kontraksi ekonomi, shift share, sektor pertambangan, PDRB, NTB
PENGARUH PEMBERIAN PAKAN TAMBAHAN BERUPA PROAMINO PROTEIN DALAM PAKAN KOMERSIALTERHADAP PERFORMA BURUNG PUYUH FASE FINISHER Hasan Wirayuda; Dina Oktaviana; Candra Dwi Atma
JURNAL SANGKAREANG MATARAM Vol. 12 No. 2 (2025): DESEMBER
Publisher : SANGKAREANG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak : Pakan pemegang peranan penting dalam menentukan keberhasilan usaha eternakan unggas karna pakan adalah salah satu input produksi yang mempengaruhi produktifitas dan efisiensi usaha. Unggas membutuhkan protein sekitar 24-57 persen dari berat total makanan, namun kebutuhan optimumnya berkisar antara 3036 persen, Jika protein yang dikonsumsi tidak mencapai kebutuhan akan mengganggu kecepatan pertumbuhan,rancangan penilitian yang akan digunakan dalam penilitian ini adalah rancangan acak pengkap (RAL) dengan 5 (lima) perlakuan terdiri dari 1 (satu) kali ulangan.Masing-masing ulangan terdiri dari 4 burung puyuh jumlah sempel yang digunakan dalam penilitian ini yaitu 20 ekor burung puyuh yang berumur 6-8 minggu berdasarkan uji statistik one way anova dan lanjutkan dengan uji duncan didapatkan hasil uji statistik nilai P (P>0,05) maka dengan penambahan bahan pakan proamino protein dalam pakan komersial tidak memberikan pengaruh nyata terhadap bobot potong. Sedangkan uji hasil statistik nilai (P) dapat disimpulkan penambahan proamino protrin dalam pakan komersial memberikan pengaruh nyata terhadap konsumsi pakan burung puyuh dan hasil uji satatistik (P) maka dapt disimpulkan bahwa penambahan proamino protein dalm pakan komersial memberikan pengaruh nyata terhadap peingkatan konsumsi pakan burung puyuh fase finisher Kata kunci: Performa burung puyuh, Substitusi proamino protein.

Page 1 of 2 | Total Record : 11