cover
Contact Name
M. Arifki Zaianro
Contact Email
m.arifkiz@yahoo.com
Phone
+6285366376666
Journal Mail Official
m.arifkiz@yahoo.com
Editorial Address
Jalan Imam Bonjol Gang Sultan Anom Perumahan Sultan Anom Residence Blok D No 1
Location
Kota bandar lampung,
Lampung
INDONESIA
MAHESA : Malahayati Health Student Journal
Published by Universitas Malahayati
ISSN : 2746198X     EISSN : 27463486     DOI : 10.3324
Core Subject : Health,
MAHESA : Malahayati Health Student Journal, dengan nomor ISSN 2746-198X (Cetak) dan ISSN 2746-3486 (Online) adalah jurnal ilmiah yang diterbitkan oleh DIII Keperawatan Universitas Malahayati Lampung. MAHESA : Malahayati Health Student Journal merupakan jurnal yang memiliki fokus utama pada hasil penelitian dan ilmu-ilmu di bidang kesehatan yang dikembangkan dengan pendekatan interdispliner dan multidisiplin. Proses penerimaan naskah selalu terbuka setiap waktu, naskah yang sudah disubmit oleh penulis akan direview oleh reviewer yang ahli dalam bidang keperawatan dan kesehatan. MAHESA : Malahayati Health Student Journal telah menggunakan Open Journal System dimana penulis, editor dan reviewer bisa memantau proses naskah secara online. Dalam satu tahun MAHESA : Malahayati Health Student Journal terbit sebanyak 4 kali yaitu pada bulan Maret, Juni, September, Desember.
Articles 1,573 Documents
Aktivitas Antibakteri Kombinasi Ekstrak Daun Belimbing Wuluh (Averrhoa Bilimbi L.) dan Daun Kelor (Moringa Oleifera L.) terhadap Pertumbuhan Staphylococcus Aureus Dermana, Kadek Diah Ari Wulan; Hidayati, Diani Sri; Herlinawati, Herlinawati; Hermawati, Resna
MAHESA : Malahayati Health Student Journal Vol 5, No 8 (2025): Volume 5 Nomor 8 (2025)
Publisher : Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/mahesa.v5i8.18983

Abstract

ABSTRACT Infectious diseases are still the cause of high morbidity and mortality rates in the world, including in Indonesia. Infectious diseases can be caused by Staphylococcus aureus bacteria. Synthetic antibiotics are used to treat these bacterial infections. Improper use of antibiotics can cause resistance, making it difficult to treat Staphylococcus aureus bacteria. There are several ways to overcome this, namely by using natural ingredients such as Averrhoa bilimbi L and Moringa oleifera L which are known as antimicrobials. This research used a true experimental completely randomized design (CRD) using the Cup-plate diffusion technique/welling diffusion method with 5 treatment groups and 2 controls (clindamycin 10ug for positive control and sterile distilled water on negative control). In a ratio of 1:0, bilimbi leaf (Averrhoa bilimbi L) extract and Moringa leaf (Moringa oleifera L) extract have an inhibitory zone diameter of 15 mm. Meanwhile, in the ratios of 0:1, 1:1, 1:2 and 2:1, no inhibition zone was formed against the growth of Staphylococcus aureus bacteria. The results of data analysis using the unpaired T test showed a significant difference in value (p 0.0007). This research showed that the combination of bilimbi leaf (Averrhoa bilimbi L) extract and Moringa leaf (Moringa oleifera L) extract had no antibacterial activity against Staphylococcus aureus bacteria. Keywords: Antibacterial, Averrhoa Bilimbi L, Moringa Oleifera L, Growth, Staphylococcus Aureus  ABSTRAK Penyakit infeksi masih menjadi penyebab tingginya angka kesakitan dan kematian di dunia termasuk di Indonesia. Penyakit infeksi dapat disebabkan oleh Staphylococcus aureus. Penggunaan antibiotik secara tidak tepat dapat menimbulkan resistensi sehingga menyulitkan dalam mengobati Staphylococcus aureus. Terdapat upaya untuk mengatasi hal tersebut yaitu dengan penggunaan bahan alami seperti Averrhoa bilimbi L dan Moringa oleifera L yang dikenal sebagai antimikroba. Penelitian ini menggunakan True experimental dengan Rancangan Acak Lengkap (RAL) menggunakan metode difusi Cup-plate technique/sumuran dengan 5 kelompok perlakuan dan 2 kontrol (kontrol positif Klindamisin 10 ug, kontrol negatif akuades steril). Hasil perbandingan 1:0 ekstrak Daun Belimbing Wuluh dan Daun Kelor memiliki diameter zona hambat sebesar 15 mm. Sedangkan pada perbandingan 0:1, 1:1, 1:2 dan 2:1 tidak terbentuk zona hambat terhadap pertumbuhan Staphylococcus aureus. Hasil analisis data menggunakan uji T tidak berpasangan menunjukkan perbedaan signifikan dengan nilai (p 0,0007).  Kombinasi ekstrak daun belimbing wuluh (Averrhoa bilimbi L) dan daun kelor (Moringa oleifera L) tidak memiliki aktivitas antibakteri terhadap Staphylococcus aureus.  Kata Kunci: Antibakteri, Averrhoa bilimbi L, Moringa oleifera L, Pertumbuhan, Staphylococcus aureus
Efektifitas Batok Kelapa Muda (Cocos Nucifera L ) Sebagai Bahan Bakar Briket Bioarang Marwanto, Andriana; Adeko, Riang; Mulyati, Sri; Rahmawati, Ullya; Aditama, Wiwit
MAHESA : Malahayati Health Student Journal Vol 5, No 6 (2025): Volume 5 Nomor 6 (2025)
Publisher : Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/mahesa.v5i6.18338

Abstract

ABSTRACT Waste from young coconut shells from young coconut sellers will usually be thrown away and become waste that disturbs the environment. One of the efforts to process young coconut shells is by making briquettes. briquettes have potential as a substitute for coal, and more environmentally friendly. This study aimed to determine the effect of adhesive type on the quality of young coconut shell briquettes. This research is a laboratory experiment, using a Quasi Experimental Design with Post-test Only Design. The raw materials used in this research are young coconut shells, tapioca flour, sago flour. Coconut shells that have become charcoal powder are mixed with sago and tapioca starch adhesives, with adhesive mass composition of 5%, 10% and 15%. The results showed that the average value of moisture content of young coconut shell briquettes was 3.37% to 4.50%; ash content was 6.40% to 7.82%; bound carbon content was 78.15% to 80.57% and volatile matter content was 12.43% to 15.44%. Young coconut shell briquettes with tapioca and sago starch adhesives produce briquettes that meet the required SNI. Keywords: Young Coconut Shell, Briquettes, Tapioca, Sago  ABSTRAK Limbah dari batok kelapa muda hasil dari penjual kelapa muda biasanya akan dibuang begitu saja dan menjadi limbah yang mengganggu lingkungan. Upaya untuk melakukan pengolahan batok kelapa muda salah satunya dengan membuat briket. Briket bioarang berpotensi sebagai pengganti batu bara, dan lebih ramah lingkungan. Penelitian ini ditujukan untuk mengetahui pengaruh jenis perekat terhadap kualitas briket batok kelapa muda. Penelitian ini adalah eksperimental laboratoris, dengan menggunakan rancangan Quasi Experimental Design dengan rancangan Post-test Only Design. Bahan baku yang digunakan dalam penelitian ini adalah batok kelapa muda, tepung tapioka, tepung sagu. Batok kelapa yang telah menjadi serbuk arang dicampur dengan perekat tepung sagu dan tapioka, dengan komposisi massa perekat 5 %, 10 % dan 15%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai rerata kadar air briket batok kelapa muda 3,37 % hingga 4,50 %; kadar abu nilai rerata 6,40 % hingga 7,82 %; kadar karbon terikat nilai rerata 78,15 % hingga 80,57 % dan kadar zat menguap nilai rerata 12,43 % hingga 15,44 %. Briket batok kelapa muda dengan. perekat tepung tapioka dan sagu menghasilkan briket yang sudah memenuhi SNI yang di persyaratkan. Kata Kunci: Batok Kelapa Muda, Briket, Tapioka, Sagu
Faktor Yang Berhubungan dengan Pengetahuan Perawat Tentang Syok Hipovolemik: Sebuah Narrative Review Witjaksono, Galuh; Trisyani, Yanny; Emaliyawati, Etika
MAHESA : Malahayati Health Student Journal Vol 5, No 6 (2025): Volume 5 Nomor 6 (2025)
Publisher : Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/mahesa.v5i6.17799

Abstract

ABSTRACT Hypovolemic shock is a life-threatening condition resulting from loss of large amounts of blood or fluid, which requires immediate detection and treatment to prevent organ damage and death. Nurses’ knowledge of hypovolemic shock is essential to improve patient outcomes, especially in early recognition and intervention. This study aimed to explore the factors that influence nurses' knowledge about hypovolemic shock. This narrative review was conducted by identifying articles from two databases (PubMed and Cinahl) and Google Scholar. The keywords used were “Nurses OR Nursing AND Knowledge AND Hypovolemic Shock AND Factor OR Predictor”. Eight articles from various countries were analyzed using cross-sectional methods. The results showed that the level of nurses’ knowledge was influenced by age, education, work experience, and training that had been attended. Conclusion: Nurses’ knowledge of hypovolemic shock tends to be still lacking. This study suggests the need for increased access to continuing education and structured clinical training to strengthen nurses’ competence in managing hypovolemic shock, with a focus on simulation and clinical practice-based learning. Keywords: Hipovolemic Shock, Knowledge, Nurses  ABSTRAK Syok hipovolemik adalah kondisi yang mengancam jiwa akibat kehilangan darah atau cairan dalam jumlah besar, yang membutuhkan deteksi dan penanganan segera untuk mencegah kerusakan organ dan kematian. Pengetahuan perawat tentang syok hipovolemik sangat penting untuk meningkatkan hasil perawatan pasien, terutama dalam pengenalan dini dan intervensi. Studi ini bertujuan untuk mengeksplorasi faktor-faktor yang mempengaruhi pengetahuan perawat tentang syok hipovolemik. Narrative review ini dilakukan dengan mengidentifikasi artikel dari dua database (PubMed dan Cinahl) dan Google Scholar. Kata kunci yang digunakan adalah “Nurses OR Nursing AND Knowledge AND Hypovolemic Shock AND Factor OR Predictor”. Delapan artikel dari berbagai negara dianalisis dengan menggunakan metode cross-sectional. Hasilnya menunjukkan bahwa tingkat pengetahuan perawat dipengaruhi oleh usia, pendidikan, pengalaman kerja, serta pelatihan yang pernah diikuti. Pengetahuan perawat tentang syok hypovolemia cenderung masih kurang. Penelitian ini menyarankan perlunya peningkatan akses terhadap pendidikan berkelanjutan dan pelatihan klinis yang terstruktur untuk memperkuat kompetensi perawat dalam menangani syok hipovolemik, dengan fokus pada simulasi dan pembelajaran berbasis praktik klinis. Kata Kunci: Syok Hipovolemia, Pengetahuan, Perawat
Pengaruh Pendidikan dan Dukungan Keluarga Ibu pada Keberhasilan ASI Eksklusif di Wilayah Kerja Klinik Ananda Sajira Kabupaten Lebak Setiawati, Mila; Jusmawati, Jusmawati
MAHESA : Malahayati Health Student Journal Vol 5, No 1 (2025): Volume 5 Nomor 1 (2025)
Publisher : Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/mahesa.v5i1.16538

Abstract

ABSTRACT Breast milk is the optimal nutrition for infants due to its essential nutrients that enhance the well-being of both mother and child. It is recommended that infants be exclusively breastfed for the first six months without supplementing or replacing it with other foods or drinks. Limited maternal education can influence knowledge and motivation in providing exclusive breastfeeding. When awareness of the importance and benefits of breast milk is restricted, mothers may show reduced incentives to exclusively breastfeed their babies. They may fail to recognize the importance of breast milk in providing top-tier nutrition and enhancing the well-being and growth of the baby. Several factors influence exclusive breastfeeding, including support from partners or relatives as well as support from healthcare practitioners. This study aims to determine the influence of mother's education and family support on the success of exclusive breastfeeding in the working area of Ananda Clinic, Sajira, Lebak Regency. The research employs a quantitative method with a cross-sectional design involving 30 respondents. There is no significant relationship between the mother's education level and the success of exclusive breastfeeding, with a p-value of 0.832. There is no highly significant relationship between family support and the success of exclusive breastfeeding, with a p-value of 0.980. There is no significant relationship between the education variable (0.824) and family support (0.642) on exclusive breastfeeding. The conclusions of this study indicate a significant relationship between the mother's education level and the success of exclusive breastfeeding, as well as a very significant relationship between family support and the success of exclusive breastfeeding. There is no significant relationship between the variables of education and family support on the provision of exclusive breastfeeding. The suggestions include enhancing educational programs related to exclusive breastfeeding, expanding the scope of research, developing intensive counseling programs, and encouraging the community to be more proactive in supporting breastfeeding mothers. Keywords: Exclusive Breastfeeding, Education, Family Support. ABSTRAK ASI adalah nutrisi optimal untuk bayi karena dimasukkannya nutrisi penting yang meningkatkan kesejahteraan ibu dan keturunannya. Disarankan bahwa bayi hanya disusui selama setengah tahun pertama tanpa melengkapi atau menggantinya dengan makanan atau minuman alternatif. Pendidikan ibu yang terbatas dapat memengaruhi kognisi dan dorongnya dalam menyediakan ASI eksklusif. Ketika kesadaran tentang pentingnya ASI dan manfaatnya dibatasi, ibu mungkin menunjukkan penurunan insentif untuk memberikan ASI semata-mata untuk bayi mereka. Mereka mungkin gagal mengenali pentingnya ASI dalam memberikan nutrisi tingkat atas dan meningkatkan kesejahteraan dan pertumbuhan bayi. Beberapa faktor mempengaruhi keperawatan eksklusif, termasuk bantuan dari pasangan atau kerabat serta bantuan dari praktisi kesehatan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pendidikan dan dukungan keluarga ibu pada keberhasilan ASI eksklusif di Wilayah Klinik Ananda, Sajira, Kab. Lebak. Penelitian menggunakan metode kuantitatif dengan desain cross-sectional dan melibatkan 30 responden. Tidak adanya hubungan yang signifikan antara tingkat pendidikan ibu dan keberhasilan pemberian ASI eksklusif, dengan p-value sebesar 0,832. Tidak terdapat hubungan yang sangat signifikan antara dukungan keluarga dan keberhasilan pemberian ASI eksklusif, dengan nilai p-value sebesar 0,980. tidak ada hubungan yang signifikan antara variabel pendidikan (0,824) dan dukungan keluarga (0,642) terhadap pemberian ASI eksklusif. Kesimpulan dari penelitian ini adalah adanya hubungan yang signifikan antara tingkat pendidikan ibu dan keberhasilan pemberian ASI eksklusif, serta hubungan yang sangat signifikan antara dukungan keluarga dan keberhasilan pemberian ASI eksklusif. Tidak ada hubungan signifikan antara variabel pendidikan dan dukungan keluarga terhadap pemberian ASI eksklusif. Saran yang diajukan antara lain meningkatkan program edukasi terkait ASI eksklusif, memperluas cakupan penelitian, mengembangkan program penyuluhan yang intensif, serta mendorong masyarakat untuk lebih proaktif dalam memberikan dukungan kepada ibu menyusui. Kata Kunci : Asi Ekslusif, Pendidikan, Dukungan Keluarga.
Pengaruh Intensitas Nyeri Punggung Bawah Terhadap Derajat Keterbatasan Aktivitas Felicia, Ivana; Singh, Arwinder
MAHESA : Malahayati Health Student Journal Vol 5, No 7 (2025): Volume 5 Nomor 7 (2025)
Publisher : Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/mahesa.v5i7.18870

Abstract

ABSTRACT Low back pain is one of the most common musculoskeletal disorders and a leading cause of disability globally, which can lead to limitations in daily activities for both working individuals and the elderly population. This study aims to determine the relationship between the intensity of low back pain and the level of activity limitation in affected individuals. The research employs a cross-sectional design with 170 respondents selected through consecutive random sampling, where data were collected through interviews and questionnaires using the Numeric Rating Scale to measure pain intensity and the Oswestry Disability Index to assess the level of disability. The study was conducted at Sumber Waras Hospital and Dr. Mintohardjo Naval Hospital, with data analysis performed using univariate analysis (frequency distribution) and bivariate analysis using the chi-square test. The results show that the majority of individuals with severe pain intensity fall into the high disability category, with 41.1% classified as Crippled and 19.6% as Bed-bound or Exaggerating Symptoms, indicating a significant relationship between pain intensity and disability level (p 0.001). In conclusion, the intensity of low back pain is significantly related to the level of disability, highlighting the importance of pain management to improve the quality of life for patients. Keywords: Low Back Pain, Pain Intensity, Level of Disability, Relationship Between Pain And Disability.  ABSTRAK Nyeri punggung bawah merupakan salah satu gangguan muskuloskeletal yang paling umum terjadi dan menjadi penyebab utama disabilitas secara global, yang dapat menyebabkan keterbatasan aktivitas sehari-hari pada individu yang aktif bekerja maupun populasi lansia. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan hubungan antara intensitas nyeri punggung bawah dengan tingkat keterbatasan aktivitas pada individu yang mengalaminya. Penelitian menggunakan desain cross sectional dengan 170 responden yang dipilih secara consecutive random sampling, di mana data dikumpulkan melalui wawancara dan kuesioner menggunakan Numeric Rating Scale untuk mengukur intensitas nyeri dan Oswestry Disability Index untuk menilai tingkat disabilitas. Penelitian dilakukan di Rumah Sakit Sumber Waras dan Rumah Sakit Angkatan Laut dr. Mintohardjo dengan analisis data univariat (distribusi frekuensi) dan bivariat menggunakan uji chi-square. Hasil menunjukkan mayoritas individu dengan intensitas nyeri berat berada pada kategori disabilitas tinggi, yaitu 41,1% hampir lumpuh dan 19,6% lumpuh, dengan hubungan yang signifikan antara intensitas nyeri dan tingkat disabilitas (p 0,001). Kesimpulannya, intensitas nyeri punggung bawah berhubungan secara signifikan dengan tingkat disabilitas, yang menunjukkan pentingnya pengelolaan nyeri untuk meningkatkan kualitas hidup penderita. Kata Kunci: Nyeri Punggung Bawah, Intensitas Nyeri, Tingkat Disabilitas, Hubungan Nyeri dan Disabilitas
Gambaran Faktor-Faktor Penyebab Terjadinya Penyakit Diabetes Melitus di UPTD Puskesmas Kedungmundu Kota Semarang Tanati, Angel Agustiani Manangsang; Nurvita, Silvia
MAHESA : Malahayati Health Student Journal Vol 5, No 6 (2025): Volume 5 Nomor 6 (2025)
Publisher : Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/mahesa.v5i6.17279

Abstract

ABSTRACT Diabetes mellitus is a metabolic disorder where the pancreas is unable to produce enough insulin for the body, which currently being a threat to global health worldwide. Uncontrolled insulin use could rise blood glucose levels and harm the entire body system, especially in the nerves and blood vessels. Diabetes mellitus can be influenced by several factors, such as lifestyle, wrong diet methods, obesity, age, gender, or blood sugar levels. This study aims to determine how the description of the factors caused diabetes mellitus in Puskesmas Kedungmundu, Semarang City. This study used a quantitative approach descriptive design survey method. This study was conducted at Puskesmas Kedungmundu Semarang with total population of 53 respondents. The research sample was taken using the total sampling method with total sample of 49 respondents. The results showed that 35 respondents (71.4%) were female, 30 respondents (61.2%) were > 60 years old, 16 respondents (32.7%) lived in the Tembalang area and 33 respondents (67.3%) had a high fasting blood sugar index. In this study, the gender factor has the highest percentage.  The advice given is to do regular blood checks, manage a healthy diet and increase body activity. Keywords: Diabetes Mellitus, Risk Factors, UPTD Puskesmas Kedungmundu, Secondary Characteristics.  ABSTRAK Diabetes melitus merupakan suatu kondisi gangguan masalah metabolisme dimana pankreas tidak dapat mencukupi produksi insulin untuk tubuh yang saat ini tengah menjadi ancanman bagi kesehatan global di seluruh dunia. Penggunaan insulin yang tidak terkendali dapat menyebabkan kadar glukosa darah meningkat dan membahayakan seluruh sistem tubuh, terutama pada saraf dan pembuluh darah. Diabetes melitus sendiri dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor, beberapa diantaranya seperti faktor gaya hidup, pola makan yang salah, obesitas, usia, jenis kelamin maupun tingkat gula darah. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana gambaran dari faktor-faktor penyebab penyakit diabetes melitus di Puskesmas Kedungmundu Kota Semarang. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif desain deskripif metode survei. Penelitian ini dilakukan di UPTD Puskesmas Kedungmundu dengan populasi  seluruh pasien diabetes melitus sebanyak 53 responden. Sampel penelitian diambil menggunakan metode total sampling yang berjumlah 49 responden. Hasil penelitian yang diperoleh bahwa sebanyak 35 responden(71,4%) berjenis kelamin perempuan, sebanyak 30 responden (61,2%) berusia > 60 tahun, sebanyak 16 responden (32,7%) berdomisili di wilayah Tembalang dan sebanyak 33 responden (67,3%) memiliki indeks gula darah puasa kategori tinggi. Pada penelitian ini faktor  jenis kelamin memiliki persentase tertinggi.  Saran  yang diberikan yaitu melakukan pemeriksaan darah secara berkala, mengatur pola makan yang sehat dan meningkatkan aktivitas tubuh. Kata Kunci: Diabetes Melitus, Faktor Risiko, UPTD Puskesmas Kedungmundu, Karateristik Sekunder.
Hubungan Paritas dan Usia dengan Kejadian Kek pada Calon Pengantin Wanita di Puskesmas Banjit Lampung Ulandari, Wayan Ike; Sutarno, Maryati
MAHESA : Malahayati Health Student Journal Vol 5, No 7 (2025): Volume 5 Nomor 7 (2025)
Publisher : Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/mahesa.v5i7.18766

Abstract

ABSTRACT The incidence of CED is still quite high in women of childbearing age. This will have an impact on the pregnancy period if it is not treated immediately. There are many factors that cause CED, including the age and parity of the bride and groom. The prevalence of CED is 21.3% in pregnant women and 17.6% in Women of Childbearing Age (WUS). To study the relationship between parity and age with the incidence of CED among prospective brides at the Banjit Lampung Community Health Center in 2024. Analytical survey, with a cross sectional approach, the population in this study were all prospective brides at the Banjit Lampung Community Health Center from January to September 2024 as many as 111 people, with a random sampling technique with a sample size of 53 respondents, using data namely data secondary with a checklist sheet, analysis using chi square. From the results of univariate statistical tests, it is known that of the 53 prospective bride and groom respondents at the Banjit Lampung Community Health Center in 2024, it is known that as many as 19 (35.8%) experienced CED, as many as 48 (90.6%) had risk parity (nullipara/primipara), as many as 23 (43.4%) were at risk, namely 20 or 35 years old. From the results of the Chi Square test, there is a relationship between age and the incidence of CED in prospective brides at the Banjit Lampung Community Health Center in 2024, with a value of (ρ value = 0.000), OR value = 39.667, meaning prospective brides who are aged 20 years or 35 years 39,667 times more at risk of experiencing SEZ and vice versa. There is no relationship between parity and the incidence of KEK among prospective brides at the Banjit Lampung Community Health Center in 2024, with a value (ρ value = 0.147). it is hoped that health workers will have a relationship between age and the incidence of KEK in prospective brides, so that this research can be used as a reference in providing services to prospective brides, because the results of the research are theoretically in line with health regulations Law No. 16 of 2019 concerning the minimum age limit Marry.  Keywords: Parity, Age, KEK  ABSTRAK Masih cukup tingginya angka kejadian KEK pada wanita usia subur. Hal ini akan berdampak ke masa kehamilan jika tidak segera ditangani, banyak faktor yang mneyebabkan KEK antara lain usia dan paritas calon pengantin. Prevalensi  KEK sebesar 21,3% pada ibu hamil dan 17,6% pada Wanita Usia Subur (WUS). Untuk mempelajari hubungan paritas dan usia dengan kejadian KEK pada calon pengantin wanita di Puskesmas Banjit Lampung Tahun 2024. Survei Analitik, dengan pendekatan secara cross sectional, populasi dalam penelitian ini seluruh calon pengantin wanita di Puskesmas Puskesmas Banjit Lampung dari bulan Januari s/d September 2024 sebanyak 111 orang, dengan teknik random samplling dengan jumlah sample 53 responden, memakai data yaitu data sekunder dengan lembar cheklist, analisis menggunakan chi square. Dari hasil uji statsitik univariat diketahui Dari 53 responden calon pengantin di Puskesmas Banjit Lampung tahun 2024 diketahui bahwa  sebanyak 19 (35,8%) mengalami KEK, sebanyak 48 (90,6%) memiliki paritas berisiko (nulipara/primipara),  sebanyak 23 (43.4 %) pada usia berisiko yaitu usia 20 atau 35 tahun. Dari hasil uji uji Chi Square Ada hubungan usia dengan kejadian KEK pada calon pengantin wanita di Puskesmas Banjit Lampung Tahun 2024, dengan nilai (ρ value = 0,000,), nilai OR=39,667 artinya calon pengantin yang mengalami usia 20 tahun atau 35 tahun lebih berisiko 39,667  kali akan mengalami KEK dan begitu pula sebaliknya. Tidak ada hubungan paritas dengan kejadian KEK pada calon pengantin wanita di Puskesmas Banjit Lampung Tahun 2024, dengan nilai (ρ value = 0,147). Diharapkan kepada petugas kesehatan dengan adanya hubunganumur dengan kejadian KEK pada calon pengantin wanita, sehingga dengan adanya penelitian ini dapat dijadikan acuan dalam memberikan layanan calon pengantin, karena dari hasil penelitian secara teori seiring dengan permenkes UU No.16 Tahun 2019 mengenai batas usia minimal menikah.  Kata Kunci: Paritas, Usia, KEK
Stigma Tuberkulosis Paru di Asia Tenggara: Systematic Literatur Review Pradana, Tasya Lukita Cyndi; Widjaja Putra, Bayu Taruna; Utami, Wiwien Sugih
MAHESA : Malahayati Health Student Journal Vol 5, No 6 (2025): Volume 5 Nomor 6 (2025)
Publisher : Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/mahesa.v5i6.18337

Abstract

ABSTRACT Pulmonary tuberculosis is an infectious disease that remains a global health problem. Tuberculosis stigma is determinants of this disease. The purpose of this study was to find out the determinants of tuberculosis stigma in 4 Southeast Asian regions, namely Thailand, Cambodia, Vietnam and Indonesia. The research method used was a systematic literature review using PRISMA guidelines. From the 14 articles reviewed, it was found that tuberculosis stigma can be divided into two things, namely personal and negative views of the surrounding community. The impact of stigma is that patients choose to isolate themselves, feel embarrassed, and are discriminated against by the surrounding community.  The stigma of tuberculosis in four regions make the problem of tuberculosis tend to be high. The author recommends providing education to communities that stigmatize tuberculosis patients. By providing education, the author hopes that the community can change their mindset and provide social support to tuberculosis patients. Keywords: Tuberculosis Stigma, Systematic Literatur Review, Southeast Asia.  ABSTRAK Tuberkulosis paru merupakan penyakit menular yang masih menjadi masalah kesehatan di seluruh dunia. Salah satu faktor determinan dari penyakit ini dan adalah stigma tuberkulosis. Tujuan dari penelitian ini mencari tahu faktor determinan stigma tuberkulosis di 4 wilayah Asia Tenggara yaitu Thailand, Kamboja, Vietnam, dan Indonesia. Metode penelitian yang digunakan adalah systematic literatur review dengan pedoman PRISMA. Dari 14 artikel yang direview didapatkan bahwa stigma tuberkulosis dibedakan menjadi dua hal yaitu personal dan pandangan negatif masyarakat sekitar. Dampak yang ditimbulkan dari stigma yaitu pasien memilih untuk mengisolasi diri, merasa malu, dan terdiskriminasi dari lingkungan sekitar. Adanya stigma tuberkulosis di empat wilayah tersebut menjadikan masalah tuberkulosis cenderung tinggi. Penulis merekomendasikan pemberian edukasi pada masyarakat yang memberikan stigma kepada pasien tuberkulosis. Dengan adanya upaya pemberian edukasi, penulis berharap masyarakat dapat merubah pola pikir dan memberi dukungan sosial kepada pasien tuberkulosis.  Kata Kunci: Stigma Tuberkulosis, Systematic Literatur Review, Asia Tenggara
Hubungan Pengetahuan Ibu tentang Demam dengan Manajemen Demam pada Anak Balita di Puskesmas X Yeni, Roza Indra; Sari, Putri Permata; Sitorus, Laura Agustin
MAHESA : Malahayati Health Student Journal Vol 5, No 7 (2025): Volume 5 Nomor 7 (2025)
Publisher : Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/mahesa.v5i7.19633

Abstract

ABSTRACT Fever is one of the most common diseases experienced by children and is the reason for about 30% of children's hospital visits. Fever management in children can be done at home in the form of pharmacological and non-pharmacological treatment. This study aims to determine the relationship between knowledge about fever and fever management at Puskesmas X. This type of research is quantitative descriptive with a cross sectional approach. The sample in this study was 92 people. Data collection was carried out using questionnaires. Data analysis was carried out using the chi-square test. The results of the study showed that the highest level of knowledge of mothers in Puskesmas X was mothers with sufficient knowledge amounting to 41 people (44.6%), lack of knowledge amounting to 40 (43.5%) and good knowledge amounting to 11 people (12.0%). Fever management in children was the most in the bad category with 76 (82.6%) while the management of fever in the good category amounted to 16 people (17.4%). The relationship between maternal knowledge about fever and fever management in toddlers (0-59 months) was obtained with a value of p=0.001 (p0.005). So it was concluded that there was a relationship between maternal knowledge about fever and fever management in toddlers (0-59 months) at Puskesmas X. Keywords: Knowledge About Fever, Fever Management, Toddlers  ABSTRAK Demam adalah salah satu penyakit yang umum dialami oleh anak dan merupakan alasan sekitar 30% kunjungan anak ke rumah sakit. Manajemen demam pada anak  dapat dilakukan di rumah adalah berupa penanganan farmakologi dan non farmakologi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara pengetahuan tentang demam dengan manajemen demam di Puskesmas X. Jenis penelitian ini  deskriptif kuantitatif dengan pendekatan cross sectional. Sampel pada penelitian ini adalah 92 orang. Pengumpulan data dilakukan menggunakan kuisioner. Analisis data dilakukan menggunakan uji chi-square. Hasil penelitian menunjukan tingkat pengetahuan ibu di Puskesmas X terbanyak adalah ibu dengan pengetahuan cukup berjumlah 41 orang (44,6%), pengetahuan kurang berjumlah 40 (43,5%) dan pengetahuan baik berjumlah 11 orang (12,0%). Manajemen demam pada anak terbanyak  pada kategori buruk dengan jumlah 76 (82,6%) sedangkan manajemen demam kategori baik berjumlah 16 orang (17,4%). Hubungan pengetahuan ibu tentang demam dengan manajemen demam pada balita (0-59 bulan) didapatkan nilai p=0,001 (p0,005). Sehingga disimpulkan bahwa terdapat hubungan antara pengetahuan ibu tentang demam dengan manajemen demam pada balita (0-59 bulan) di Puskesmas X. Kata Kunci: Pengetahuan Tentang Demam, Manajemen Demam, Balita
Faktor yang Berhubungan dengan Perilaku Tidak Aman Pada Pekerja Pengelasan Kota Semarang Verliza, Mutia; Lestantyo, Daru; Prastawa, Heru
MAHESA : Malahayati Health Student Journal Vol 5, No 6 (2025): Volume 5 Nomor 6 (2025)
Publisher : Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/mahesa.v5i6.18261

Abstract

ABSTRACT Occupational Health and Safety (K3) is an effort to create a safe, comfortable working atmosphere and achieve the goal of maximum productivity. Occupational Health and Safety (K3) is very important to be implemented in all fields of work. The welding industry is a workplace with high-risk activities that can cause health problems and work fatigue that have an impact on work accidents. This study aims to analyze the factors that influence unsafe behavior in workers that cause industrial welding accidents. This study uses a cross-sectional method. The research was conducted in the city of Semarang. The population in this study was 73 respondents. The sample used was total sampling where the number of populations is the number of samples. The results of statistical analysis using Chi-square. The results of statistical analysis using Chi-square show that the value (p value 0.006 <0.05) so that statistically there is a significant relationship between respondents' attitudes and unsafe behavior. The results of statistical analysis using Chi-square show that the value (p value 0.022 <0.05) so that statistically there is a significant relationship between respondents' use of PPE and unsafe behavior. There is no relationship between the factors age, length of service and knowledge with unsafe behavior among welding workers. Workers are expected to always use personal protective equipment when working. Keywords: Unsafe Action, Industry, Welding Workers.  ABSTRAK Kesehatan dan Keselamatan Kerja (K3) merupakan upaya untuk menciptakan suasana bekerja yang aman, nyaman, dan mencapai tujuan yaitu produktivitas setinggi-tingginya. Kesehatan dan Keselamatan Kerja (K3) sangat penting untuk dilaksanakan pada semua bidang pekerjaan. Industri pengelasan merupakan tempat kerja dengan aktivitas yang berisiko tinggi yang dapat menimbulkan gangguan kesehatan dan kelelahan kerja yang berdampak pada kecelakaan kerja.  Penelitian ini  bertujuan  untuk menganalisis faktor-faktor yang berpengaruh dengan perilaku tidak aman pada pekerja yang menyebabkan kecelakaan kerja industri pengelasan. Penelitian ini menggunakan metode cross sectionalPelaksanaan penelitian dilakukan di wilayah kota Semarang. Populasi dalam penelitian ini sebanyak 73 responden. Sampel yang digunakan adalah total sampling dimana jumlah popilasi adalah jumlah sampel. Hasil analisis statistik menggunakan Chi-square. Hasil analisis statistik menggunakan Chi-square menunjukkan bahwa nilai (p value 0.006<0.05) sehingga secara statistik terdapat hubungan yang signifikan antara sikap responden dengan perilaku tidak aman. Hasil analisis statistik menggunakan Chi-square menunjukkan bahwa nilai (p value 0.022<0.05) sehingga secara statistik terdapat hubungan yang signifikan antara penggunaan APD responden dengan perilaku tidak aman. Tidak ada hubungan antara faktor usia, masa kerja dan pengetahuan dengan tindakan perilaku tidak aman pada pekerja las. Diharapkan pekerja  agar selalu menggunakan alat pelindung diri apabila bekerja. Kata Kunci: Perilaku Tidak Aman, Pekerja, Pengelasan

Filter by Year

2021 2026


Filter By Issues
All Issue Vol 6, No 4 (2026): Volume 6 Nomor 4 (2026) Vol 6, No 3 (2026): Volume 6 Nomor 3 (2026) Vol 6, No 2 (2026): Volume 6 Nomor 2 (2026) Vol 6, No 1 (2026): Volume 6 Nomor 1 (2026) Vol 5, No 12 (2025): Volume 5 Nomor 12 (2025) Vol 5, No 11 (2025): Volume 5 Nomor 11 (2025) Vol 5, No 10 (2025): Volume 5 Nomor 10 (2025) Vol 5, No 9 (2025): Volume 5 Nomor 9 (2025) Vol 5, No 8 (2025): Volume 5 Nomor 8 (2025) Vol 5, No 7 (2025): Volume 5 Nomor 7 (2025) Vol 5, No 6 (2025): Volume 5 Nomor 6 (2025) Vol 5, No 5 (2025): Volume 5 Nomor 5 (2025) Vol 5, No 4 (2025): Volume 5 Nomor 4 (2025) Vol 5, No 3 (2025): Volume 5 Nomor 3 (2025) Vol 5, No 2 (2025): Volume 5 Nomor 2 (2025) Vol 5, No 1 (2025): Volume 5 Nomor 1 (2025) Vol 4, No 12 (2024): Volume 4 Nomor 12 (2024) Vol 4, No 11 (2024): Volume 4 Nomor 11 (2024) Vol 4, No 10 (2024): Volume 4 Nomor 10 (2024) Vol 4, No 9 (2024): Volume 4 Nomor 9 (2024) Vol 4, No 8 (2024): Volume 4 Nomor 8 (2024) Vol 4, No 7 (2024): Volume 4 Nomor 7 (2024) Vol 4, No 6 (2024): Volume 4 Nomor 6 (2024) Vol 4, No 5 (2024): Volume 4 Nomor 5 (2024) Vol 4, No 4 (2024): Volume 4 Nomor 4 (2024) Vol 4, No 3 (2024): Volume 4 Nomor 3 (2024) Vol 4, No 2 (2024): Volume 4 Nomor 2 (2024) Vol 4, No 1 (2024): Volume 4 Nomor 1 (2024) Vol 3, No 12 (2023): Volume 3 Nomor 12 (2023) Vol 3, No 11 (2023): Volume 3 Nomor 11 (2023) Vol 3, No 10 (2023): Volume 3 Nomor 10 (2023) Vol 3, No 9 (2023): Volume 3 Nomor 9 (2023) Vol 3, No 8 (2023): Volume 3 Nomor 8 (2023) Vol 3, No 7 (2023): Volume 3 Nomor 7 (2023) Vol 3, No 6 (2023): Volume 3 Nomor 6 (2023) Vol 3, No 5 (2023): Volume 3 Nomor 5 (2023) Vol 3, No 4 (2023): Volume 3 Nomor 4 (2023) Vol 3, No 3 (2023): Volume 3 Nomor 3 (2023) Vol 3, No 2 (2023): Volume 3 Nomor 2 (2023) Vol 3, No 1 (2023): Volume 3 Nomor 1 (2023) Vol 2, No 4 (2022): Volume 2 Nomor 4 (2022) Vol 2, No 3 (2022): Volume 2 Nomor 3 (2022) Vol 2, No 2 (2022): Volume 2 Nomor 2 (2022) Vol 2, No 1 (2022): Volume 2 Nomor 1 (2022) Volume 1 Nomor 4 Desember 2021 Volume 1 Nomor 3 September 2021 Volume 1 Nomor 2 Juni 2021 Volume 1 Nomor 1 Maret 2021 More Issue