cover
Contact Name
I KETUT MUDITE ADNYANE
Contact Email
adnyane@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
acta.vet.indones@gmail.com
Editorial Address
-
Location
Kota bogor,
Jawa barat
INDONESIA
ACTA VETERINARIA INDONESIANA
ISSN : 23373207     EISSN : 23374373     DOI : -
Core Subject : Health,
Acta Veterinaria Indonesiana (Indonesian Veterinary Journal) mempublikasikan artikel-artikel dalam bentuk: penelitian, ulasan, studi kasus, dan komunikasi singkat yang berkaitan dengan berbagai aspek ilmu dalam bidang kedokteran hewan, biomedis, peternakan dan bioteknologi. Artikel ditulis dalam bahasa Indonesia atau Inggris. Acta Veterinaria Indonesiana diterbitkan oleh Fakultas Kedokteran Hewan bekerjasama dengan Perhimpunan Dokter Hewan Indonesia. Terbit dua kali dalam satu tahun pada bulan Januari dan Juli. [ISSN 2337-3202, E-ISSN 2337-4373]
Arjuna Subject : -
Articles 332 Documents
Deteksi Antibodi terhadap Virus Newcastle Disease pada Burung Trucukan (Pycnonotus goiavier) Erina Erina; Hanni Aninaidu; Zuhrawaty Zuhrawaty; Etriwati Etriwati; Abdullah Hamzah; Mahdi Abrar; M. Daud AK
Acta VETERINARIA Indonesiana Vol. 9 No. 3 (2021): November 2021
Publisher : IPB University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29244/avi.9.3.173-178

Abstract

Burung trucukan (Pycnonotus goiavier) merupakan salah satu burung liar yang sering dipelihara karena kicauannyayang merdu. Infeksi ND dapat berupa infeksi yang akut atau kronis yang menyerang burung trucukan dan jenis burunglainnya. Burung liar merupakan salah satu sumber virus ND yang dapat menyebarkan virus ke unggas peliharaan.Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui titer antibodi terhadap penyakit tetelo pada burung trucukan liar. Sampel yangdigunakan adalah serum darah dari 50 ekor burung trucukan liar. Parameter yang diamati adalah titer antibodi dalamserum berdasarkan metode Hirst menggunakan uji Haemagglutination Inhibition (HI) untuk melihat titer antibodi. Untukmenghitung titer virus maka uji Haemaglutination (HA) dilakukan sebelumnya. Untuk memastikan titer antigen yangdigunakan adalah 4HAU dilkukan juga back titrasi sehingga didapatkan nilai virus optimal yang akan dipakai pada uji HI.Hasil penelitian menunjukkan 45 dari 50 sampel (90%) mempunyai antibodi positif terhadap ND, dengan titer berkisar 21-29. Berdasarkan hasil yang diperoleh dapat disimpulkan bahwa 90% burung trucukan di Kabupaten Aceh Besar sudahpernah terpapar ND, tetapi hanya 80% yang memiliki titer antibodi yang dapat melingdungi terhadap serangan virus ND.Oleh sebab itu dapat disimpulkan bahwa burung trucukan liar dengan titer antibodi yang protektif berarti sudah pernahterpapar virus ND sebelumnya akan berpotensi sebagai pembawa virus yang dapat ditularkan ke unggas peliharaanmasyarakat di sekitarnya.
Gambaran Histologi dan Histomorfometri Penis Kuda Gayo Juli Melia; Morteza Almuthahhar; Muslim Akmal; Al Azhar
Acta VETERINARIA Indonesiana Vol. 9 No. 3 (2021): November 2021
Publisher : IPB University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29244/avi.9.3.154-162

Abstract

Penis kuda adalah alat kopulasi utama pada kuda. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran histologi danhistomorfometri penis pada kuda gayo. Sampel penelitian menggunakan penis dari 3 ekor kuda gayo jantan berumur 5-10 tahun yang dipotong di Rumah Potong Hewan Dolok Sanggul, Humbang Hasundutan, Sumatera Utara. Prosesmikroteknik dilakukan terhadap sampel menggunakan pewarnaan hematoksilin-eosin (HE). Pengamatan strukturhistologi menggunakan mikroskop dan dilakukan pengukuran ketebalan lapisan epitel uretra, ketebalan tunikaalbugenia di corpora cavernosa dan corpus spongiosum radix, corpus, dan glans penis menggunakan program aplikasitoupview. Hasilnya dibahas secara deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan gambaran histologi penis kuda gayo terdiriatas dua jaringan erektil yaitu corpora cavernosa dan corpus spongiosum serta satu uretra. Sinusoid cavernosal daricorpus cavernosum mengandung banyak trabekula yang terdiri atas jaringan ikat fibroelastis, serat otot polos danfibroblas. Corpus spongiosum memiliki trabekula yang lebih tipis dengan ruang kavernosa yang lebih besar. Corpuscavernosum dan corpus spongiosum ditutup oleh tunika albuginea. Uretra terdiri atas berbagai epitel, seperti epitelberlapis transisional, epitel kolumnar berlapis dan epitel skuamosa. Pengukuran histomorfometri menunjukkan bahwaketebalan tunika albugenia radix dan corpus penis kuda gayo berturut-turut adalah 2.181,10 ± 48,50 µm, dan 2.366,51 ±131,48 µm., sedangkan ketebalan lapisan epitel uretra adalah 50,02 ± 6,95 µm. Kesimpulannya adalah penis kuda gayoterdiri atas radix, corpus dan glans penis. Radix dan corpus penis kuda gayo terdiri atas jaringan ikat, otot polos dansinusoid cavernosal; glans penis terdapat sinus uretra.
Karakteristik Semen dan Korelasi antara Konsentrasi Testosteron dengan Libido Pejantan Sapi Simental Abdullah Baharun; Syahruddin Said; R. Iis Arifiantini; Ni Wayan Kurniani Karja
Acta VETERINARIA Indonesiana Vol. 10 No. 1 (2022): Maret 2022
Publisher : IPB University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29244/avi.10.1.1-7

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari karakteristik semen dan mengevaluasi hubungan antara konsentrasi testosteron dengan libido pejantan sapi Simental. Sebanyak 12 ekor sapi Simental, 9 ekor dengan motilitas spermatozoa ≥70% (A) dan 3 ekor dengan motilitas spermatozoa <70% (B) berdasarkan data sekunder dari Balai Inseminasi Buatan (BIB) tahun 2018-2019. Semen ditampung menggunakan vagina buatan pada pagi hari. Evaluasi kualitas semen segar hanya dilakukan dengan penilaian morfologi spermatozoa. Sampel darah disentrifugasi (3000 rpm, 10 menit), supernatan dimasukkan ke dalam microtube dan disimpan pada suhu -20 °C. Analisis testosteron menggunakan metode ELISA. Data kualitas semen segar sapi pejantan Simental dianalisis secara deskriptif. Korelasi antara karakteristik semen, libido dan konsentrasi hormon testosteron menggunakan korelasi Pearson’s. Hasil analisis menunjukkan terdapat perbedaan signifikan (P<0,05) antara kualitas semen segar kelompok pejantan A dengan pejantan B dalam parameter motilitas, konsentrasi, dan morfologi spermatozoa normal. Volume semen dan skor libido pada semua pejantan tidak menunjukkan perbedaan signifikan. Konsentrasi testosteron pada kelompok pejantan A lebih tinggi (42,57 ng/mL) dibandingkan dengan kelompok pejantan B (33,26 ng/mL). Konsentrasi testosteron menunjukkan korelasi positif (P<0,01) dengan karakteristik semen seperti motilitas spermatozoa (0,813), morfologi spermatozoa normal (0,639), dan libido (0,952). Hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai pertimbangan untuk dilakukannya pengukuran konsentrasi testosteron dalam proses seleksi sapi jantan menjadi pejantan.
Efek Ekstrak Fraksi Etil Asetat Daun Pelawan pada Kinerja Ovarium Tikus Pascamelahirkan Yusfiati; Wasmen Manalu; Hera Maheshwari; Andriyanto
Acta VETERINARIA Indonesiana Vol. 10 No. 1 (2022): Maret 2022
Publisher : IPB University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29244/avi.10.1.8-22

Abstract

Daun Pelawan memiliki kandungan flavonoid dan steroid yang dapat mempengaruhi sistem reproduksi betina. Penelitian ini bertujuan mengkaji efektivitas ekstrak fraksi etil asetat Pelawan pada fisiologis ovarium tikus pacamelahirkan berdasarkan pada prediksi jumlah anak, bobot anak, kadar estrogen, dan bobot ovarium. Penelitian menggunakan rancangan acak lengkap (RAL) dengan pola faktorial. Perlakuan dibagi menjadi perlakuan tikus yang melahirkan sekali dan melahirkan dua kali. Tiap perlakuan terdiri atas kontrol tanpa ekstrak pelawan, tikus diberikan ekstrak pelawan dengan dosis 50 mg/kg BB, 100 mg/kg BB, dan 150 mg/kg BB secara peroral. Hasil penelitian menunjukkan jumlah anak dan bobot anak pada induk melahirkan dua kali mengalami peningkatan pada dosis 50 mg. Jumlah anak dan bobot anak pada induk melahirkan sekali mengalami penurunan pada dosis 100 mg. Konsentrasi estrogen pada semua perlakuan mengalami penurunan di hari ke-3 dan meningkat di hari ke-5. Konsentrasi estrogen pada dosis 100 mg memiliki kadar tertinggi dibandingkan dosis 50 mg dan 150 mg. Bobot ovarium mengalami penurunan di hari ke-3 dan meningkat di hari ke-5. Induk melahirkan dua kali dengan dosis 100 mg mengalami peningkatan bobot ovarium dibandingkan dengan dosis lain. Senyawa bioaktif ekstrak Pelawan mempengaruhi jumlah anak, bobot anak, kadar estrogen, dan bobot ovarium. Diduga, senyawa antioksidan pada ekstrak mempengaruhi kinerja hormon pertumbuhan dan faktor pertumbuhan untuk menghasilkan LH dan FSH di kelenjar pituitari.
Atypical Presentation of a Tick Paralysis in a Dog Erdem Gülersoy; İsmail Günal
Acta VETERINARIA Indonesiana Vol. 10 No. 1 (2022): Maret 2022
Publisher : IPB University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29244/avi.10.1.23-30

Abstract

An 11-month-old Guregh dog was admitted to the hospital with history of vomiting and regurgitation, gait disorder and unilateral thread-like hypersalivation for last a few days. Clinical and radiographic examinations revealed quadriplegia, facial paralysis, grave MGCS (5) and VAS (4) scores, severe megaesophagus and gas-filled distended intestines. In hematochemical analysis, leucocytosis due to granulocytosis with polycythemia, elevated BUN, creatinine, CPK and AST levels were determined. During careful clinical examination, engorged ticks were found in the head and neck region of the dog. After excluding diseases that may cause similar symptoms, diagnosis of atypical tick paralysis was made on the basis of clinical findings such as history of vomiting and regurgitation before the onset of gait abnormalities and the presence of megaoesophagus although the patient is less than 1 year old. The clinical appearance, MGCS and VAS scores improved after 5 days of hospitalization period. It was concluded that the presence of megaesophagus in young dogs with vomiting and/or regurgitation before the onset of neurological findings are observed in atypical tick paralysis and hospitalization of the patient, tick removal, supportive treatment administration and MGCS and VAS score assessments provide successful clinical results.
Komparasi Data Hematologi pada Beberapa Spesies Macaca Erni Sulistiawati; Luluk Lailatul Hasanah; Dondin Sajuthi; Yohana Tri Hastuti
Acta VETERINARIA Indonesiana Vol. 10 No. 1 (2022): Maret 2022
Publisher : IPB University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29244/avi.10.1.31-38

Abstract

Satwa primata merupakan salah satu hewan model yang banyak digunakan dalam penelitian biomedis karena secara anatomi dan fisiologis memiliki kesamaan dengan manusia. Darah merupakan salah satu cairan tubuh ekstraseluler yang berfungsi sebagai alat angkut atau media transport dan pertahanan tubuh. Gangguan keseimbangan yang terdapat pada setiap variabel kuantitatif dan kualitatif dari jenis sel-sel darah dapat menyebabkan validitas suatu penelitian menurun. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan data dasar hematologi Macaca siberu dan untuk mendapatkan informasi kekerabatan melalui data sekunder hematologi secara kuantitatif dan kualitatif dari Macaca leonina, dan Macaca nemestrina. Sampel diambil dari 8 ekor Macaca siberu (5 jantan dan 3 betina) dengan umur yang bervariasi dan tergolong sehat serta telah dipuasakan. Analisis sampel yang dilakukan yaitu berupa pemeriksaan diferensial leukosit, pemeriksaan kuantitatif sel-sel darah, dan indeks eritrosit yang dianalisis secara deskriptif. Profil hematologi pada Macaca siberu secara keseluruhan menunjukkan hasil yang tidak jauh berbeda dengan Macaca nemestrina dan Macaca leonina. Variasi nilai yang ditemukan dapat dipengaruhi oleh faktor intrinsik seperti jenis kelamin, nutrisi, aktivitas dan stres, serta faktor ekstrinsik seperti suhu, ketinggian, dan letak geografis.
Kajian Pustaka: Komparasi Metode Deteksi Mastitis Subklinis Najwa Namira; Adi Imam Cahyadi; Sarasati Windria
Acta VETERINARIA Indonesiana Vol. 10 No. 1 (2022): Maret 2022
Publisher : IPB University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29244/avi.10.1.39-50

Abstract

Mastitis subklinis merupakan radang pada kelenjar susu yang menyerang ternak penghasil susu. Ambing ternak yang terinfeksi akan tampak normal, namun ternak akan mengalami penurunan produksi serta kualitas susu. Deteksi dini mastitis subklinis penting bagi peternak untuk mengurangi kerugian ekonomi. Berbagai macam metode deteksi untuk mendiagnosis mastitis subklinis telah tersedia. Studi komparasi ini dilakukan untuk mengetahui sensitivitas, spesifisitas, kelebihan, dan kekurangan dari metode-metode deteksi mastitis subklinis yang dapat dilakukan di lapangan seperti California Mastitis Test (CMT), Surf Field Mastitis Test (SFMT), Milk Electrical Conductivity (EC), Infrared Thermography (IRT), pH Detector, White Side Test (WST), dan Somatic Cell Counted (SCC). Jenis penelitian yang digunakan yaitu kajian pustaka dari literatur yang dikumpulkan sesuai dengan topik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa CMT memiliki sensitivitas dan spesifisitas yang tinggi dan dapat digunakan sebagai metode alternatif dalam mendiagnosis mastitis subklinis. Waktu deteksi yang singkat, penggunaannya yang praktis, dan ketersediaan CMT di berbagai tempat dapat digunakan sebagai alternatif metode tes skrining dalam mendiagnosis mastitis subklinis.
Penanganan Paraparesis Kaki Belakang pada Kucing Domestik dengan Metode Terapi Elektroakupunktur Mudhita Zikkrullah Ritonga; Cut Nila Thasmi; Sri Wahyuni; M. Nur Salim; M. Ikhsanuddin
Acta VETERINARIA Indonesiana Vol. 10 No. 1 (2022): Maret 2022
Publisher : IPB University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29244/avi.10.1.51-57

Abstract

Paraparesis atau paresis merupakan suatu kondisi ditandai oleh lemahnya gerak badan, atau hilangnya sebagian gerakan badan atau adanya gangguan gerakan. Kucing domestik berumur ±4 bulan, berjenis kelamin jantan, ras kucing domestik campuran, warna rambut putih bercampur coklat muda, dengan berat badan 1,5 kg mengalami kelemahan pada kedua kaki belakang, tidak bisa berjalan disertai dengan kondisi tubuh yang tampak lemah serta lesu, dan tidak memberikan respon rasa sakit saat dilakukan penekanan pada regio femur dan digit sehingga menyebabkan ketidakmampuan pada kedua kaki belakang untuk mengangkat tubuh bagian belakang dengan sempurna sehingga menunjukkan adanya gangguan pada sistem saraf yang mempengaruhi anggota gerak dan muskuloskeletal. Hasil foto x-ray menunjukkan bahwa tidak adanya tulang yang fraktur dan pada organ visceral juga tidak menunjukkan perubahan ataupun kelainan yang signifikan. Namun terdapat suatu kondisi radiopaque dari perkembangan osteofit pada tulang belakang diantara L6-L7 sehingga menunjukkan diagnosa yaitu paraparesis kaki belakang. Terapi paraparesis kaki belakang pada kucing dengan metode elektroakupunktur dilakukan di titik BL-23, BL-25, BL-32 dan ST-36 pada tubuh kucing selama 4 minggu dengan durasi setiap terapi selama 15 menit yang dilaksanakan seminggu sekali selama 4 minggu. Kucing diberikan terapi Neurobion® injeksi 0,15 cc intra muscular setelah setiap terapi akupunktur dan diresepkan neurobion® sebanyak seperdelapan tablet satu kali sehari. Kesimpulannya yaitu metode terapi elektroakupunktur dengan titik akupunktur BL-23, BL-25, BL-32 dan ST-36 pada kucing yang mengalami paraparesis kaki belakang menunjukkan perkembangan yang membaik setelah dilakukannya terapi selama empat kali.
Gambaran Kesejahteraan Musang Luwak Tangkar (Paradoxurus hermaphroditus) Penghasil Biji Kopi Luwak Pegunungan Malabar, Jawa Barat Dinda Purnomo Putri; Novi Mayasari; Andi Hiroyuki
Acta VETERINARIA Indonesiana Vol. 10 No. 1 (2022): Maret 2022
Publisher : IPB University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29244/avi.10.1.58-70

Abstract

Musang luwak (Paradoxurus hermaphroditus) merupakan salah satu jenis mamalia kecil seukuran kucing (cat-sized mammals) yang hidup di Asia Selatan dan Tenggara. Di Indonesia, musang jenis luwak kerap dimanfaatkan sebagai hewan untuk produksi biji kopi luwak. Dalam praktiknya, produksi biji kopi luwak ini sering ditemukan pelanggaran kesejahteraan hewan terhadap musang luwak sebagai hewan produksi. Penelitian ini bertujuan untuk menilai kualitas pemeliharaan musang luwak pada salah satu penangkaran yang berlokasi di daerah Pegunungan Malabar, Kabupaten Bandung, Jawa Barat. Variabel yang diamati meliputi tingkat kesejahteraan musang luwak serta manajemen pemeliharaan dan pengelolaan yang diterapkan di penangkaran. Pengambilan data dilakukan dengan menggunakan metode observasi tidak langsung, pengisian daftar pertanyaan campuran (tipe tertutup dan tipe terbuka), pengisian checklist serta studi literatur. Selanjutnya, data yang diperoleh diolah dan disajikan secara deskriptif dengan kategori penilaian akhir meliputi buruk (skor 1) hingga memuaskan (skor 5). Hasil yang diperoleh menunjukkan nilai 88.7 dari peneliti dan 100 dari pengelola, dengan angka rata-rata sebesar 94.35. Skor yang diperoleh diklasifikasikan ke dalam kategori ‘Sangat Baik’. Meski demikian masih terdapat beberapa catatan yang perlu diperhatikan untuk menyempurnakan implementasi praktik kesrawan bagi satwa di penangkaran, terutama hal-hal yang berkaitan dengan aspek bebas dari rasa sakit, cedera, dan penyakit serta aspek bebas dari rasa takut dan tertekan.
Data Prevalensi, Pemetaan Spasial, Analisis Morfologi, dan Morfometrik Trypanosoma lewisi Pada Tikus Liar Di Malang Reza Yesica; Yustia Nur Holizah; Herlina Pratiwi; Andreas Bandang Hardian; Shelly Kusumarini R; Ida Bagus Gde Rama Wisesa
Acta VETERINARIA Indonesiana Vol. 10 No. 1 (2022): Maret 2022
Publisher : IPB University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29244/avi.10.1.71-79

Abstract

Trypanosomiasis merupakan penyakit yang disebabkan oleh protozoa darah ekstraseluler berflagela yaitu Trypanosoma sp. Trypanosoma lewisi adalah parasit darah pada tikus, yang ditularkan oleh pinjal Xenopsylla cheopis. Walaupun parasit ini bersifat non patogen, tetapi keberadaannya dapat mengancam kesehatan manusia. Kasus infeksi T. lewisi pada manusia telah dilaporkan di Thailand dan India, yang mengindikasikan bahwa penyakit ini dapat menginfeksi manusia dalam beberapa keadaan yang belum diketahui. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi T. lewisi berdasarkan morfologi dan morfometrik serta dilakukan perhitungan prevalensi dan pemetaan spasial kasus infeksi T. lewisi pada tikus liar di Malang. Sebanyak 74 ekor tikus dikumpulkan dari berbagai wilayah di Malang dengan menggunakan perangkap hidup tunggal. Hasil penelitian menunjukkan prevalensi infeksi T. lewisi pada tikus liar di Malang dari bulan Agustus sampai Oktober 2020 sebesar 17,5%. Analisis data menggunakan uji chi-square dan uji Fisher, diperoleh hasil tidak ada hubungan atau korelasi yang signifikan antara infeksi T. lewisi dengan jenis kelamin dan umur tikus. Morfologi T. lewisi memiliki posterior tipis dengan kinetoplas oval di sub-terminal, dan nukleus di anterior. Secara morfometrik, T. lewisi memiliki panjang rata-rata 33,19 μm, lebar 3,52 μm, panjang inti 7,82 μm, lebar inti 3,05 μm, panjang kinetoplas 5,25 μm, serta jarak inti ke kinetoplas 10,79 μm. Dari hasil di atas dapat disimpulkan bahwa Trypanosoma lewisi menginfeksi tikus liar dan hasil gambaran geografis didapatkan bahwa terdapat risiko penyebaran penyakit trypanosomiasis di wilayah Malang.