cover
Contact Name
I KETUT MUDITE ADNYANE
Contact Email
adnyane@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
acta.vet.indones@gmail.com
Editorial Address
-
Location
Kota bogor,
Jawa barat
INDONESIA
ACTA VETERINARIA INDONESIANA
ISSN : 23373207     EISSN : 23374373     DOI : -
Core Subject : Health,
Acta Veterinaria Indonesiana (Indonesian Veterinary Journal) mempublikasikan artikel-artikel dalam bentuk: penelitian, ulasan, studi kasus, dan komunikasi singkat yang berkaitan dengan berbagai aspek ilmu dalam bidang kedokteran hewan, biomedis, peternakan dan bioteknologi. Artikel ditulis dalam bahasa Indonesia atau Inggris. Acta Veterinaria Indonesiana diterbitkan oleh Fakultas Kedokteran Hewan bekerjasama dengan Perhimpunan Dokter Hewan Indonesia. Terbit dua kali dalam satu tahun pada bulan Januari dan Juli. [ISSN 2337-3202, E-ISSN 2337-4373]
Arjuna Subject : -
Articles 332 Documents
The Success Rate of Non-Penetrative Pre-Slaughter Stunning on Australian Brahman Cross Cattle Slaughter in Indonesia Supratikno; Setijanto, Heru; Nuraini , Henny; Agungpriyono, Srihadi; Sudarnika, Etih; Nurhidayat; Nisa’, Chairun; Novelina, Savitri; Dwi Cahyadi, Danang
Acta VETERINARIA Indonesiana Vol. 12 No. 1 (2024): Maret 2024
Publisher : IPB University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29244/avi.12.1.47-54

Abstract

This study was conducted to evaluate the success rate of non-penetrative pre slaughter stunning (NPPSS) and the factors that influence it in 460 Australian Brahman cross cattle. Observations were made on the handling of cattle, the implementation of NPPSS, the slaughtering process until the animal was declared dead. The results showed that the stunning success rate of NPPSS (SSR) was 74.35%. Ordinal regression analysis of the six observed parameters, three parameters have a significant influence on SSR: shooting placement area (ASP), shooting placement distance (DSP), and the presence of frontal and nuchal eminence (FE, NE). The ASP at the point of the cross line between two lines from the center of the dorsal eye to the center of the contralateral horn base, DSP at a low position (DSP<3 cm), and presence of FE gave a relatively low of SSR. Thus, it can be concluded that the SSR of the use of NPPSS in Indonesia is relatively low and is influenced by ASP, DSP, and the presence of FE and NE.
Pola Penggunaan Anti Mikrob pada Peternakan Mandiri Ayam Broiler di Kabupaten Bogor Sunandar; Suandy, Imron; Nurbiyanti, Nofita; Arief, Riana Aryani; Rachmawati, Annisa Devi; Pertela, Gian; Purwanto, Budi; Daradjat, Hanan; Speksnijder, David; Sani, Rianna Anwar; Dinar, Tagrid; Naipospos, Tri Satya Putri; Wagenaar, Jaap
Acta VETERINARIA Indonesiana Vol. 12 No. 1 (2024): Maret 2024
Publisher : IPB University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29244/avi.12.1.83-90

Abstract

Penggunaan anti mikrob dapat menyebabkan terjadinya resistansi anti mikrob baik di sektor peternakan maupun dalam hal kesehatan manusia. Studi ini bertujuan untuk mengetahui gambaran dan mengukur frekuensi pemberian anti mikrob di peternakan ayam broiler dan melihat hubungan penggunaan anti mikrob dengan tingkat kematian. Studi dilakukan tahun 2019-2022, di 19 peternakan ayam broiler mandiri di Kabupaten Bogor dengan total pengamatan 89 periode produksi. Data yang dikumpulkan yaitu jenis anti mikrob dan frekuensi pemberian kemudian dianalisis menggunakan perhitungan used daily dose (UDD) dan treatment frequency (TF). Hubungan penggunaan anti mikrob dengan tingkat kematian dianalisis menggunakan regresi linear. Pemberian antibotik di peternakan berdasarkan saran dari pemilik (15,8%), technical service/TS (36,8%) dan petugas penyuluh lapang/PPL (47,4%). Diantaranya hanya 1 orang yang merupakan dokter hewan (5,3%). Rata-rata frekuensi pemberian anti mikrob dalam sehari (TFUDD) di peternakan adalah 10,5 kali. Dari semua anti mikrob yang digunakan 60,5% termasuk dalam kategori prioritas paling tinggi untuk anti mikrob yang sangat penting bagi manusia (HPCIA). Tujuan pemberian anti mikrob mayoritas untuk pencegahan (82,7%) dan frekuensi pemberian paling banyak pada minggu pertama untuk menekan tingkat kematian. Tidak ditemukan hubungan yang signifikan antara frekuensi pemberian anti mikrob dan tingkat kematian pada minggu pertama periode produksi (p>0,05). Penggunaan anti mikrob sebagian besar dilakukan tanpa konsultasi dengan dokter hewan. Frekuensi pemberian anti mikrob sebagian besar dari kategori HPCIA dan tujuan penggunaannya untuk pencegahan. Tinggi atau rendahnya frekuensi pemberian anti mikrob pada minggu pertama tidak berhubungan dengan penurunan tingkat kematian.
Karakteristik Kejadian dan Capaian Program Eliminasi Filariasis di Provinsi Bengkulu Kermelita, Deri; Upik Kesumawati Hadi; Susi Soviana; Risa Tiuria
Acta VETERINARIA Indonesiana Vol. 11 No. 3 (2023): November 2023
Publisher : IPB University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29244/avi.11.3.175-181

Abstract

Limfatik filariasis ditemukan hampir di seluruh provinsi di Indonesia dengan jumlah kasus tahun 2020 sebanyak 9.906 kasus. Provinsi Bengkulu merupakan salah satu provinsi endemis filariasis di Indonesia dengan jumlah penderita tahun 2011-2020 sebesar 66 orang. Program pemberian obat pencegahan massal (POPM) telah dilaksanakan sejak tahun 2011. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi sebaran penderita filariasis klinis serta gambaran pencapaian program eliminasi filariasis di Provinsi Bengkulu. Penelitian ini menggunakan data sekunder Dinas Kesehatan Provinsi Bengkulu yang mencakup seluruh wilayah kabupaten dan kota di Provinsi Bengkulu. Kasus dikelompokkan menjadi 8 kategori usia menurut depkes (2009) yakni < 11 tahun, 12-16 tahun, 17-25 tahun, 26-35 tahun, 36-45 tahun, 46-55 tahun, 56-66 tahun dan > 66 tahun. Perbedaan jumlah kasus berdasarkan jenis kelamin dan kelompok usia diuji menggunakan uji Chi-square. Sebaran tempat berdasarkan kabupaten dilaporkannya penderita, data ditampilkan dalam bentuk peta wilayah dan tabel. Data Program POPM dianalisis berdasarkan capaian pengobatan serta angka keberhasilan pengobatan sejak tahun 2011 hingga tahun 2017. Sebaran kasus filariasis di Provinsi Bengkulu menunjukkan bahwa penderita filariasis di dominasi jenis kelamin perempuan dan usia produktif. Penyebaran kasus filarisis sejak tahun 2011-2020 berfluktuasi, akan tetapi terjadi perluasan sebaran wilayah kabupaten yang melaporkan kasus filariasis. Gambaran pelaksanaan POPM baik angka capaian cakupan pengobatan dan keberhasilan pengobatan telah melebihi target nasional.
Prevalensi, Faktor Kejadian dan Pengaruh Endometritis Terhadap Efisiensi Reproduksi pada Sapi Perah Salam, La Ode Muhammad Aswad; Agil, Muhammad; Setiadi, Mohamad Agus
Acta VETERINARIA Indonesiana Vol. 11 No. 3 (2023): November 2023
Publisher : IPB University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29244/avi.11.3.182-188

Abstract

Endometritis merupakan gangguan reproduksi akibat infeksi uterus yang menyebabkan penurunan efisiensi reproduksi dan kerugian ekonomi yang cukup besar pada peternakan sapi perah. Tujuan penelitian untuk mengetahui dan menganalisis secara spesifik tentang prevalensi, faktor kejadian dan pengaruh endometritis terhadap efisiensi reproduksi pada sapi perah. Penelitian ini menggunakan data sekunder 580 ekor sapi perah dari 98 peternak yang dikoleksi dari data recording reproduksi sapi perah di KPBS Pangalengan periode Januari sampai dengan Juni 2020. Data prevalensi, faktor kejadian endometritis, service per conception, conception rate dan pregnancy rate dianalisis secara deskriptif menggunkan Microsoft Excel, sedangkan jarak lahir ke IB pertama dan days open dianalisis mengunakan independent-sample t test. Hasil penelitian ditemukan data 120 ekor sapi perah yang mengalami endometritis dan 460 ekor tanpa endometritis dengan tingkat prevalensi sebesar 20,69%, prevalensi tertinggi pada laktasi ≥2, faktor kejadian berturut-turut adalah infeksi post partus pada partus normal (41,67%), kesulitan melahirkan (41,67%), retensio plasenta (9,17%), abortus (4,17), hipokalsemia/milk fever (2,50%) dan metritis (0,53%). Sapi dengan endometritis mengalami penundaan jarak lahir ke IB pertama dibandingkan tanpa endometritis (123,57±52,77 vs 90,94±41,18 hari) dan perpanjangan days open (146,98±63,01 vs 104,31±46,13 hari). Dapat disimpulkan bahwa kejadian endometritis dapat menurunkan efisiensi reproduksi pada sapi perah dengan perpanjangan days open sekitar 2 siklus estrus.
Nigella Sativa Seed Extract has Potential Antimicrobial Activity on Pasteurella multocida in Vitro Vanda, Henni; Zakya Ardi; Sari, Wahyu Eka; Hambal, Muhammad
Acta VETERINARIA Indonesiana Vol. 11 No. 3 (2023): November 2023
Publisher : IPB University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29244/avi.11.3.228-233

Abstract

Nigella sativa known as black cumin has various bioactive compounds to treat many diseases. Some of the benefits of N. sativa seed are as immune booster, antihistamin, anti-diabetic, antihypertension, antiinflammatory, antimicrobial, and antitumor. This study aimed at determining the antimicrobial activity and finding out the effective concentration of N. sativa seed ethanolic extract on Pasteurella multocida in vitro. N. sativa seed extract was divided into three groups consisting of 15% extract (T1), 25% extract (T2), 45% extract (T3), and chloramphenicol was used as positive control. For antimicrobial test, Kirby Bauer diffusion method was used, and the data were analyzed by ANOVA. The results revealed that T3 had the most effective antimicrobial activity, shown by the largest inhibition zone (17.72 mm), followed by T2 (15.93 mm) and T1 (10.75 mm). ANOVA test results showed significant differences (P<0.05) in each group. The antimicrobial effect of T3 and T2 was categorized as strong, whilst T1 as moderate. From the results it can be concluded that N. sativa seed extract had strong and moderate inhibition activity on the growth of P. multocida, therefore, N. sativa seed is a potential candidate for antimicrobial drug development againts P. multocida.
Putative Mechanical Asphyxiation and Cerebral Cyst in a Sudden Death Changeable Hawk Eagle (Nisaetus chirratus) Hardian, Andreas Bandang; Nugrahani, Warih Pulung; Rahmawati, Irhamna Putri; Widyarini, Sitarina
Acta VETERINARIA Indonesiana Vol. 11 No. 3 (2023): November 2023
Publisher : IPB University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29244/avi.11.3.220-227

Abstract

An adult changeable hawk eagle (Nisaetus chirratus) was found dead with no significant lesion. Previous health examination showed no abnormality suggesting that the bird underwent sudden death. Necropsy resulted no significant findings except intact living prey stuck at the upper digestive tract and nodular lesion accompanied with cerebral cyst in the cerebrum. Intact lizard body was found in the proventriculus suggesting that the bird showed odd feeding behaviour of failing to macerate the lizard. Thus, mechanical asphyxiation due to proventricular content compression was highly expected as the cause of this sudden death event. A cerebral cyst with nodular masses was present and might become space-occupying lesion in the cerebrum which distorted the cerebral parenchyma and affected the centre of neural response. Histopathology revealed that there were no proliferative reaction and neoplastic growth present. Hence, we presumed that the nodular masses came from outwards compression during the cyst formation.
Uji Resistansi Antibiotik Bakteri Vibrio Parahaemolyticus dari Udang Putih (Litopaneus Vannamei) Serta Identifikasi Gen Penyandi Resistan Ampisilin Ramadhaniah, Vetty; Agustin Indrawati; Bayu Febram Prasetyo
Acta VETERINARIA Indonesiana Vol. 12 No. 2 (2024): Juli 2024
Publisher : IPB University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29244/avi.12.2.97-105

Abstract

Penyakit vibriosis pada udang putih (Litopaneus vannamei) sangat ditakuti oleh pembudidaya pada tahun 2009 karena diduga dapat menimbulkan early mortality syndrome (EMS). Penyakit ini menyebabkan kematian massal pada usia muda. Umumnya vibriosis pada udang dicegah dan diobati dengan menggunakan antibiotik. Penggunaan antibiotik yang tidak tepat dapat menyebabkan resistansi multi-antibiotik. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui tingkat resistansi antibiotik terhadap bakteri Vibrio parahaemolyticus di udang putih dan mengidentifikasi keberadaan gen resistan terhadap ampisilin. Isolat bakteri V. parahaemolyticus diuji resistansi terhadap antibiotik ampisilin, oksitetrasiklin, kloramfenikol, enrofloksasin, dan eritromisin. Penelitian ini dilakukan menggunakan metode difusi cakram Kirby-Bauer dengan tabel Clinical and Laboratory Standards Institute (CLSI). Hasil uji resistansi menunjukkan bahwa 30 isolat V. parahemolyticus sensitif terhadap enrofloxacin (94%), dan kloramfenikol (97%). Adapun hasil uji terhadap ampisilin menunjukkan adanaya resistan (77%). Bakteri yang resistan terhadap ampisilin diuji terhadap keberadaan gen yang mengkode protein BlaTEM yaitu dengan hasil persentase 100% (dari 6 sampel) pada amplikon 516 bp. Dapat disimpulkan bahwa isolat V. parahaemolyticus resistan terhadap ampisilin terhadap gen BlaTEM.
Analisis Serum Symmetric Dimethylarginine dalam Berbagai Gejala Klinis pada Anjing Sulistiawati, Erni; Zulfitra Utami Putri; Cucu K. Sajuthi
Acta VETERINARIA Indonesiana Vol. 11 No. 3 (2023): November 2023
Publisher : IPB University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29244/avi.11.3.244-249

Abstract

Symmetric dimethylarginine (SDMA) merupakan golden standard untuk menilai fungsi ginjal terutama terkait glomerular filtration rate (GFR). Nilai SDMA pada serum dapat digunakan untuk mendeteksi Chronic Kidney Disease (CKD) sebelum kreatinin mengalami peningkatan diatas nilai normal pada anjing. Nilai SDMA telah dibuktikan sebagai pendeteksi awal kondisi penyakit ginjal, namun belum banyak data yang menjelaskan tentang adanya peningkatan nilai SDMA terkait gejala klinis lain selain penyakit ginjal. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan informasi penyebab peningkatan nilai SDMA dengan proses penyebab peningkatan nilai SDMA terkait dengan gejala klinis yang timbul pada anjing selain gangguan ginjal. Penelitian dilakukan pada 20 ekor anjing dengan berbagai gejala klinis yang dilengkapi dengan data jenis kelamin, usia, dan pemeriksaan parameter kimia darah (BUN, kreatinin, ALT, total protein, albumin) dan SDMA. Nilai SDMA dianalisis dari sampel serum dengan menggunakan IDEXX Catalyst® SDMA Test. Hasil penelitian manunjukkan anjing yang mengalami gejala klinis terkait gangguan sistem urinari (60%) memiliki persentase tertinggi diikuti oleh gejala klinis terkait gangguan sistem pencernaan (45%), gangguan jantung (20%), gangguan mata dan gangguan periodontal (15%), gangguan otot dan tulang (10%), dan gangguan kulit (5%). Berdasarkan hasil tersebut dapat disimpulkan bahwa peningkatan nilai SDMA juga dapat terjadi pada berbagai gangguan fungsi organ dengan gejala klinis yang tidak spesifik menunjukkan gangguan fungsi ginjal.
Analysis Impact of COVID-19 Pandemic on Veterinary Practice Services in Bandung Dianita Gustina; Noormarina Indraswari; Tyagita
Acta VETERINARIA Indonesiana Vol. 12 No. 1 (2024): Maret 2024
Publisher : IPB University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29244/avi.12.1.76-82

Abstract

The increase in COVID-19 cases in Bandung has led to changes in health services, including animal health services. This study aimed to determine the impact of the COVID-19 pandemic and the efforts made by veterinarians to overcome the impact of the COVID-19 pandemic in the clinic. Data was collected by collecting primary data through in-depth interviews. Data was collected on selected respondents to obtain data and explore the impact and efforts made during the pandemic on each veterinary practice service. The impacts found included a shortage of medicines and medical equipment, staff infected COVID-19, temporary closure of veterinary clinics, reduced number of patients, and a shortage of medical staffs. Meanwhile, the efforts include implementing health protocols, changing operational schedules, modifying service flows, providing online or telemedicine services, limiting surgical procedures, providing medicines and medical equipment in the long term, and increasing the number of examination rooms.
Observasi Kesembuhan Auto Skin Graft Yang Diberi Platelet-Rich Plasma (PRP) dan Dirawat dengan Bio Dressing Kulit Ikan Mujair (Tilapia mozambique) Abellisa Abellisa; Siti Aisyah; Rusli Rusli; Amiruddin Amiruddin; Sugito Sugito; Erwin, Erwin; Etriwati Etriwati
Acta VETERINARIA Indonesiana Vol. 12 No. 2 (2024): Juli 2024
Publisher : IPB University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29244/avi.12.2.141-147

Abstract

Skin graft merupakan tindakan pengambilan kulit dari tubuh donor yang telah dipisahkan dari lokasi suplai darah lokalnya ke area lain. Penelitian ini bertujuan mengamati kesembuhan auto skin graft (ASG) setelah pemberian platelet-rich plasma (PRP) dan dirawat dengan bio dressing dari kulit Tilapia mozambique (TM) melalui pengamatan subjektif dan objektif. Penelitian ini menggunakan 6 ekor kucing lokal jantan, berumur 1-2 tahun dengan berat badan 2-3 kg yang dibagi menjadi 2 kelompok perlakuan. Semua kucing dibuat defek berukuran 2x2 cm pada area kaki depan, 4 hari kemudian luka ditutup dengan ASG bersumber dari area abdomen. Perawatan ASG menggunakan bio dressing kulit TM (K-1) dan penambahan PRP disertai bio dressing kulit TM (K-2). Pengamatan subjektif ASG hari ke-3, 6, 9 dan 12, sedangkan uji pendarahan dan pengamatan objektif pada hari ke-18 pasca bedah. Hasil pengamatan subjektif menunjukkan kesembuhan ASG yang diberi PRP beserta bio dressing kulit TM (K2) lebih baik dibandingkan bio dressing kulit TM (K1) (P<0,05). Hari ke-12 warna kulit graft kembali sama dengan kulit sekitar, respon nyeri berkurang, disertai pertumbuhan rambut lebih cepat pada K-2. Pengamatan objektif menunjukkan waktu absorbsi NaCl 0,9% dan efek obat lebih cepat pada K-2 dibandingkan K-1 (P<0,05). Penggunaan PRP beserta bio dressing kulit TM (K2) memiliki potensi untuk digunakan dalam perawatan ASG.