cover
Contact Name
I KETUT MUDITE ADNYANE
Contact Email
adnyane@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
acta.vet.indones@gmail.com
Editorial Address
-
Location
Kota bogor,
Jawa barat
INDONESIA
ACTA VETERINARIA INDONESIANA
ISSN : 23373207     EISSN : 23374373     DOI : -
Core Subject : Health,
Acta Veterinaria Indonesiana (Indonesian Veterinary Journal) mempublikasikan artikel-artikel dalam bentuk: penelitian, ulasan, studi kasus, dan komunikasi singkat yang berkaitan dengan berbagai aspek ilmu dalam bidang kedokteran hewan, biomedis, peternakan dan bioteknologi. Artikel ditulis dalam bahasa Indonesia atau Inggris. Acta Veterinaria Indonesiana diterbitkan oleh Fakultas Kedokteran Hewan bekerjasama dengan Perhimpunan Dokter Hewan Indonesia. Terbit dua kali dalam satu tahun pada bulan Januari dan Juli. [ISSN 2337-3202, E-ISSN 2337-4373]
Arjuna Subject : -
Articles 332 Documents
Kasus Rabbit Haemorrhagic Disease (RHD) pada Kelinci: Sejarah, Penyebaran, serta Dampak RHDV di Beberapa Negara Asal Kelinci Impor Indonesia Murtini, Sri; Wibawan, I Wayan Teguh; Setiyaningsih, Surachmi; Handharyani, Ekowati; Setyaningsih, Retno
Acta VETERINARIA Indonesiana Vol. 12 No. 1 (2024): Maret 2024
Publisher : IPB University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29244/avi.12.1.8-16

Abstract

Virus Rabbit Haemorrhagic Disease (RHDV) adalah virus penyebab Rabbit Haemorrhagic Disease (RHD) pada kelinci Eropa (Oryctolagus cuniculus). Penyakit ini memiliki tingkat kematian dan morbiditas hingga 100%. Penyakit ini pertama kali dilaporkan di Republik Rakyat Tiongkok pada tahun 1984 dan menyebar ke seluruh dunia. Pada tahun 1996, kasus pertama infeksi RHDV pada kelinci tanpa gejala klinis menyebar di peternakan kelinci di Italia. Beberapa studi telah melapaorkan keberadaan variasi genetic RHDV termasuk varian RHDV terbaru. Penyakit ini berpotensi menimbulkan dampak ekologis dan kerugian ekonomi, terutama di peternakan kelinci. Pada studi sebelumnya diketahui bahwa terdapat serokonversi RHDV pada kelinci tanpa gejala klinis di daerah Bandung Barat, Provinsi Jawa barat, Indonesia, meskipun belum ada informasi mengenai keberadaan RHDV di Indonesia. Meskipun Indonesia diketahui berstatus bebas RHDV, namun kelinci yang diimpor berasal dari negara-negara di Eropa, Amerika, dan Australia yang terkenal sebagai negara endemik RHDV. Tulisan ini bertujuan untuk mengkaji penyebaran RHDV di negara asal kelinci impor Indonesia dan dampaknya. Selain itu, tulisan ini diharapkan dapat memberikan informasi tentang penyakit kelinci yang sedang berkembang.
Evaluasi Performa Ayam Broiler Setelah Pemberian Produk Cellulovit® pada Fase Finisher Hamdika Yendri Putra; Nugroho Sampurno; Fiqhi Alfiansyah; Koestijanto; Irawan
Acta VETERINARIA Indonesiana Vol. 11 No. 3 (2023): November 2023
Publisher : IPB University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29244/avi.11.3.204-209

Abstract

Peningkatan produksi ternak dapat dilakukan dengan berbagai cara. Peningkatan kualitas nutrisi, penambahan suplemen dan pemberian bahan bahan yang meningkatkan kecernaan pakan. Selain faktor pakan, perlu diberikannya sediaan yang dapat memperbaiki kualitas usus karena didalam usus terdapat mikroflora normal yang membantu pencernaan makanan. Pertumbuhan mikroba yang menguntungkan diperlukan dalam tubuh ayam broiler untuk memperlancar pencernaan pakan. Pemberian enzim sebagai suplemen pakan masih belum banyak diteliti. Penelitian ini bertujuan untuk membuktikan peningkatan performa ayam broiler pada fase finisher setelah diberikan produk Cellulovit®. Produk yang digunakan mengandung enzim papain yang diindikasikan dapat meningkatkan kecernaan usus ayam. Penelitian ini dilakukan di peternakan ayam dengan sistem close house dngan populasi 6.285 ekor ayam. Produk diberikan pada minggu ke 4 pemeliharaan. Pemberian sediaan dilakukan dengan menambahkan bahan kedalam air minum dengan dosis 1 mL dalam 2 Liter air minum. Pemberian sediaan dilakukan dari hari ke 21 hingga hari ke 26. Penelitian ini mengamati performa ayam yang meliputi Feed Intake (FI), Average Daily Gain (ADG), Body Weight (BW), dan Feed Consumption rate (FCR). Data dikleksi dalam bentuk tabulasi dan diolah dengan metode ANOVA single parameter menggunakan perangkat lunak R software. Hasil penelitian menunjukan adanya peningkatan dalam konsumsi pakan, feed consumption rate (FCR), dan peningkatan bobot badan harian ayam. Parameter feed intake meningkat 72% dibandingkan dengan sebelum pemberian produk, FCR menurun dari 1.9 menjadi 1.8. Bobot badan meningkat 59.9% dibandingkan dengan sebelum pemberian sediaan. Pertambahan bobot badan mingguan meningkat 89.6% dibandingkan dengan sebelum pemberian sediaan. Hal ini menunjukan pemberian Cellulovit® memberikan efek yang baik terhadap performa ayam broiler fase sinisher.
Sitologi Vagina dan Kadar Estradiol pada Hewan Model Hipoestrogenik Kelinci (Oryctolagus cuniculus) Noviana, Deni; Priosoeryanto, Bambang Pontjo; Gunanti; Tungga Dewi, Tri Isyani
Acta VETERINARIA Indonesiana Vol. 12 No. 1 (2024): Maret 2024
Publisher : IPB University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29244/avi.12.1.40-46

Abstract

Pembuatan hewan model hipoestrogenik dapat dilakukan melalui tindakan ovariektomi bilateral. Penentuan hipoestrogenik hewan dapat dilihat melalui sitologi vagina dan kadar estradiol dalam darah. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui gambaran sitologi vagina dan kadar estradiol pada pembuatan hewan model hipoestrogenik kelinci (Oryctolagus cuniculus). Penelitian ini menggunakan 8 ekor kelinci betina (Oryctolagus cuniculus) breed New Zealand White, berumur 1 tahun dengan berat badan 3,0 – 3,5 kg. Semua kelinci diberi tindakan ovariektomi bilateral. Parameter pengamatan dilakukan sebanyak enam kali melalui pengambilan sitologi vagina dan pengambilan darah yaitu pada hari ke-0 (sebelum operasi ovariektomi), serta hari ke-7, ke-14, ke-30, ke-60, ke-90 setelah ovariektomi. Pengamatan sitologi vagina untuk melihat jenis sel epitel vagina meliputi sel epitel kecil berinti, sel epitel besar berinti dan sel epitel kornifikasi. Pemeriksaan darah untuk mengukur kadar hormon estradiol dalam darah. Data dianalisis dengan menggunakan ANOVA dan dilanjutkan dengan uji Duncan (software R-Studio). Hasil penelitian menunjukkan hewan model kelinci mengalami kondisi hipoestrogenik mulai hari ke-30 setelah ovariektomi ditandai penurunan kadar estradiol lebih dari 50% dari kadar estradiol sebelum ovariektomi. Gambaran sitologi vagina pada hari ke-30 menunjukkan peningkatan sel epitel berinti berukuran kecil, dan tidak ditemukan sel kornifikasi yang menunjukkan tidak terjadi siklus estrus. Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan bahwa dengan ovariektomi bilateral menghasilkan hewan model hipoestrogenik ditandai dengan penurunan kadar estradiol lebih dari 50 % dan tidak ditemukan sel epitel kornifikasi pada gambaran sitologi vagina.
Prevalence of Endoparasite Infestation of Edible-Nest Swiftlet (Aerodramus fuciphagus) in Swiftlet Houses in Central Java, Indonesia Siti Gusti Ningrum
Acta VETERINARIA Indonesiana Vol. 12 No. 2 (2024): Juli 2024
Publisher : IPB University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29244/avi.12.2.148-153

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menentukan prevalensi infestasi endoparasit pada burung walet (Aerodramus fuciphagus) di Provinsi Jawa Tengah, Indonesia. Sebanyak 76 sampel feses segar burung walet (A. fuciphagus) dikoleksi dari beberapa rumah burung walet di Jawa Tengah. Metode deteksi endoparasit dalam penelitian ini menggunakan kombinasi metode natif, metode sedimentasi, dan metode apung. Berdasarkan hasil penelitian ini, prevalensi infestasi endoparasit pada burung walet (A. fuciphagus) di Jawa Tengah adalah 28%. Endoparasit yang ditemukan dalam penelitian ini antara lain Tetrameres spp. (7%), Notocotylus sp. (11%), dan Raillietina sp. (11%). Penelitian ini berhasil memberikan data kejadian infestasi endoparasit di burung walet (A. fuciphagus).
Dinamika Bakteri Vibrio spp. pada Air Laut di Seputar Sentra Pembenihan Udang Vanamei (Litopenaeus vannamei) di Indonesia: Dinamika Bakteri Vibrio spp. pada Air Laut Rubiyanto Widodo Haliman; Edi Poncolaksito; Sujarwo Sujarwo; Ismawi Ismawi; Awan Kunadi; Nuzuliah Wahyu Berutu; Dwi Retno Untari; Sarayut Srisombat; Beni Halalludin; Rizkiantino, Rifky; Fivi Najmushabah; Hendri Laiman
Acta VETERINARIA Indonesiana Vol. 12 No. 2 (2024): Juli 2024
Publisher : IPB University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29244/avi.12.2.112-118

Abstract

Bakteri Vibrio spp. adalah salah satu patogen yang umum menginfeksi pembenihan dan pembesaran udang, yang dapat menyebabkan kematian masal benur di panti benih udang. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dinamika bakteri Vibrio spp. pada air laut di seputar tujuh area sentra pembenihan udang vanamei di Indonesia. Pengamatan dilakukan setiap bulan sejak Januari hingga Desember 2020, dengan menginokulasikan 100 µL sampel air laut ke media agar thiosulfate-citrate-bile-salt sucrose (TCBS), diinkubasikan pada suhu 30°C selama 18–24 jam, setelah itu dilakukan penghitungan koloni Green Vibrio Colony (GVC), Total Vibrio Count (TVC), dan persentase kejadian bakteri berpendar pada sampel air laut. Hasil pengamatan menunjukkan bahwa angka GVC dan TVC tertinggi terjadi di perairan Takalar pada bulan Mei 2020, sedangkan persentase sampel air laut dengan bakteri yang berpendar paling tinggi terjadi pada sampel dari perairan Pantai Cermin-Serdang Bedagai. Nilai GVC berkisar antara 0,01–130,00 × 102 CFU/mL dengan angka tertinggi terjadi pada bulan Januari, Oktober, November, dan Desember 2020, sedangkan nilai TVC berkisar antara 0.20–520.00 × 102 CFU/mL sepanjang tahun 2020. Tidak ditemukan adanya bakteri berpendar pada sampel air laut dari daerah Anyer dan Pangandaran. Para operator panti benih udang vanamei perlu senantiasa waspada terhadap dinamika populasi bakteri Vibrio spp. pada air laut yang akan dipakai dalam kegiatan pembenihan udang vanamei.
Ekstrak Kecoak Periplaneta americana sebagai Antiinflamasi Sistemik pada Tikus Putih Model SIRS Aritonang, Erfan Andrianto
Acta VETERINARIA Indonesiana Vol. 12 No. 2 (2024): Juli 2024
Publisher : IPB University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29244/avi.12.2.119-124

Abstract

Systemic inflammatory response syndrome (SIRS) merupakan fenomena hiperinflamsi sistemik yang diperantarai oleh respon imunitas bawaan akibat paparan infeksi ataupun non infeksi. Penelitian ini bertujuan menganalisis efektifitas antiinflamasi ekstrak kecoak P. americana melalui tampilan klinis hewan model. Induksi SIRS melalui cecal ligation and puncture (CLP). Hewan model menggunakan tikus putih galur Sprague Dawley jantan umur 10 minggu sebanyak 20 ekor yang mendapatkan bedah CLP dan diterapi menggunakan NaCl 0,9% 0,2 ml/ekor, dexamethasone 0,75 mg/kg BB, ekstrak kecoak P. americana (EKP) 50 mg/kg BB, dan 100 mg/kg BB. Pemberian terapi dilakukan secara per oral pada 24 dan 48 jam setelah CLP. Hasil penelitian variabel suhu tubuh menunjukan tidak terdapat perbedaan signifikan antara kelompok yang diberi NaCl 0,9%, dexamethasone, dan EKP 50 mg/kg BB (P > 0.05), namun berbeda signifikan (suhu lebih rendah dibawah normal) dengan kelompok EKP 100 mg/kg BB (P < 0.05). Variabel jumlah napas, detak jantung, dan total leukosit tidak menujukan perbedaan signifikan antara setiap kelompok (P > 0.05). Presentase bertahan hidup hingga akhir penelitian kelompok yang diterapi menggunakan NaCl 0,9%, dexamethasone, EKP 50 mg, dan EKP 100 mg masing-masing sebesar 60%, 80%, 100%, dan 60%. EKP 50 mg/Kg BB memiliki potensi sebagai antiinflmasi sistemik pada tikus putih model SIRS
Evaluation of Cassava Leaf Paste on Egg Performance and Egg Quality of Quail Egg Laying Period La Jumadin; Aryani Sismin Satyaningtijas; Hera Maheshwari; Niken Ulupi; Dwi Nurhidayah Zubaidah; Maryce Agusthinus Walukou; Lili Darlian; Damhuri; Koekoeh Santoso
Acta VETERINARIA Indonesiana Vol. 12 No. 2 (2024): Juli 2024
Publisher : IPB University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29244/avi.12.2.106-111

Abstract

Quail has a high egg production. On the other hand, quail has a weakness, which is prone to stress. This stress is caused by erratic weather conditions. This study examines and evaluates the role and function of cassava leaf paste on aspects of egg performance and egg quality of quail eggs in the laying period that are reared under natural conditions or normal conditions in tropical areas, such as in Indonesia. Observation of egg performance was detected by calculating egg length, egg width, and egg shape index. Observation of egg quality aspects was detected by calculating the quality of the shell, egg white, and egg yolk. The results showed that the shape index of quail eggs at various levels of cassava leaf paste administration showed results that were not significantly different. The egg shape index obtained at P2 and P3 tends to be more oval/semi-tapered, while at P0 and P1 it tends to be round. The value of the eggshell weight, egg white weight, and egg yolk weight that received cassava leaf paste were higher than the control treatment. The high eggshell weight, egg white weight, and egg yolk weight were suspected to be differences in nutritional content, mineral elements, and flavonoids between treatments. Giving cassava leaf paste can increase the index of egg shape in the quail laying period. The application of cassava leaf paste can also increase the weight of the shell, the weight of the egg white, and the weight of the yolk in the egg-laying period of quail.
Superficial necrolytic dermatitis: first case report in Indonesia and a literature review Putra, Andhika; Vimala Putri Lamsundy; Curtis Plowgian
Acta VETERINARIA Indonesiana Vol. 12 No. 2 (2024): Juli 2024
Publisher : IPB University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29244/avi.12.2.125-132

Abstract

Superficial necrolytic dermatitis is a rare condition that affects older dogs. It is a fatal disease in which dermatologic signs stem from an abnormality of the liver and/or the pancreas. This paper aims to report a case workup and treatment protocol of superficial necrolytic dermatitis in a patient that presented with lameness. A skin biopsy was performed, and revealed a pathognomonic “red-white-blue” pattern. Abdominal ultrasonography revealed a severe irregular hypoechoic shape nodular pattern and coarse parenchyma with variable size from round and oval. The nodules were surrounded by network of thin hyperechoic strands, forming a “honeycomb/ Swiss cheese-like” pattern. From these findings, a diagnosis of superficial necrolytic dermatitis was made. The patient was treated with a combination of amino acid infusion, liver supplement, and a high-protein diet. However, the patient only lived for four months after diagnosis was made. Clinicians need to be aware that dermatologic lesions may be a manifestation of internal or systemic disease.
Penggunaan Tetes Mata Serum untuk Terapi Sequestrum Kornea pada Kucing Domestik: corneal squestrum, serum eye drops, Feline Herpesvirus type 1 (FHV-1) Alham, Fitri; Fajri, Aisa Nur; Amalia, Loly
Acta VETERINARIA Indonesiana Vol. 12 No. 1 (2024): Maret 2024
Publisher : IPB University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29244/avi.12.1.91-96

Abstract

Sequestrum kornea merupakan kematian kornea mata mulai dari sel epitel sampai dengan stroma yang mengalami kerusakan kronis dan ditandai dengan adanya perubahan jaringan menjadi gelap kecokelatan. Pengobatan sequestrum kornea adalah keratektomi, namun membutuhkan peralatan dan teknik khusus, banyak pengalaman, adanya risiko anestesi, dan kendala keuangan bagi pemilik. Penggunaan tetes mata serum menjadi pilihan terapi pada kasus ini. Seekor kucing domestik berumur 5 tahun, berjenis kelamin jantan, sudah steril, berwarna hitam putih, dan memiliki berat badan 5,59 kg. Mata terlihat kotor dan basah (hiperlakrimasi), konjungtivitis, adanya vaskularisasi, kornea keruh, dan adanya lesi nekrosa. Sebelumnya kucing ini terinfeksi Feline Herpesvirus tipe 1 (FHV-1) dan telah diobati dokter hewan lain selama 1 bulan dengan tetes mata antibiotik, namun tidak membaik. Pemeriksaan yang dilakukan pada pasien adalah menace, dazzle, pupillary reflex, dan fluorescein test. Berdasarkan anamnesa, sinyalemen, dan pemeriksaan fisik dapat disimpulkan bahwa kucing kasus mengalami sequestrum kornea. Terapi yang dilakukan yaitu dengan penggunaan tetes mata serum sebanyak 6 kali sehari dan terapi suportif. Setelah diterapi selama 6 minggu, terlihat kondisi mata yang membaik, tidak terdapat lagi vaskularisasi, konjungtivitis dan lesi nekrosa yang sudah terlepas.
Penambatan Molekuler Senyawa Bioaktif Tanaman Metang terhadap Reseptor Estrogen Alfa sebagai Antikanker Agus Saputra; Ietje Wientarsih; Lina Novianti Sutardi; Mohamad Rafi; Silmi Mariya
Acta VETERINARIA Indonesiana Vol. 12 No. 3 (2024): November 2024
Publisher : IPB University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29244/avi.12.3.203-210

Abstract

Breast cancer is a common health problem in women and causes a high mortality rate. Cancer cells can grow and metastasize to other organs and related to estrogen and estrogen receptor alpha (ERα). The search for plant-based bioactive compounds that are antagonistic to ERα is currently being carried out using an in silico approach. Lunasia amara blanco is a medicinal plant that contains quinolone alkaloid compounds and has been known to inhibit DNA Topoisomerase II. This study aims to predict the interaction of lunacrine, graveoline, lunine, lunacridine, and lumarine compounds on the estrogen receptor alpha (ERα) (PDB 1SJ0) by in silico method. Docking will be done with PyRex 0.8 and the result visualization will be done with the BIOVIA Discovery Studio Visualizer. Base on the results of molecular docking, graveoline and lunine compounds have bond energies of -8.4 and -8.0 kcal/mol, approaching the native ligan of tamoxifen, which is -9.7 kcal/mol. The type of interaction with amino acids affects the bond energy. The amino acid residues that formed interactions with all the test compounds were Ala350, Leu387, Met388, Phe404, and Ile424. The stability of the binding of tamoxifen and graveoline is also thought to be due to the amino acids Asp351 and Cys530. The interaction of the two amino acids is not found in other compounds and the interactions formed are in the form of hydrogen bonds or hydrophobicity. Lunamarine has the lowest bond energy and make interactions with different amino acids