cover
Contact Name
I KETUT MUDITE ADNYANE
Contact Email
adnyane@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
acta.vet.indones@gmail.com
Editorial Address
-
Location
Kota bogor,
Jawa barat
INDONESIA
ACTA VETERINARIA INDONESIANA
ISSN : 23373207     EISSN : 23374373     DOI : -
Core Subject : Health,
Acta Veterinaria Indonesiana (Indonesian Veterinary Journal) mempublikasikan artikel-artikel dalam bentuk: penelitian, ulasan, studi kasus, dan komunikasi singkat yang berkaitan dengan berbagai aspek ilmu dalam bidang kedokteran hewan, biomedis, peternakan dan bioteknologi. Artikel ditulis dalam bahasa Indonesia atau Inggris. Acta Veterinaria Indonesiana diterbitkan oleh Fakultas Kedokteran Hewan bekerjasama dengan Perhimpunan Dokter Hewan Indonesia. Terbit dua kali dalam satu tahun pada bulan Januari dan Juli. [ISSN 2337-3202, E-ISSN 2337-4373]
Arjuna Subject : -
Articles 332 Documents
Escherichia coli Penghasil Extended-spectrum Β-Lactamases yang Diisolasi pada Peternakan Broiler-Ikan Terintegrasi Prasaja, Aditya Gilang; Wulandari, Eka; Anggaeni, Trianing Tyas Kusuma; Sukmawinata, Eddy
Acta VETERINARIA Indonesiana Vol. 12 No. 1 (2024): Maret 2024
Publisher : IPB University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29244/avi.12.1.25-31

Abstract

Extended-spectrum β-lactamases (ESBL) adalah sekelompok enzim yang diproduksi oleh bakteri untuk dapat resisten terhadap antibiotika termasuk sefalosporin generasi ketiga yang menjadi masalah kesehatan baik pada hewan dan manusia. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui keberadaan bakteri Escherichia coli penghasil ESBL serta profil resistensinya pada komponen lingkungan di sekitar peternakan broiler-ikan terintegrasi. Deteksi E. coli penghasil ESBL dan uji sensitivitas dilakukan dengan uji double disc synergy dan disc diffusion, dan hasil interpretasi mengacu pada The European Committee on Antimicrobial Susceptibility Testing. Sebanyak 19 isolat E. coli penghasil ESBL diisolasi dari sampel swab kloaka, ikan, dan lingkungan pada suatu peternakan broiler-ikan terintegrasi. Secara rinci, E. coli penghasil ESBL terdeteksi pada seluruh sampel sampel air (3/3), sampel ikan (2/2), sampel tanah (1/1), dan 86,7% sampel swab kloaka (13/15). Hasil pengujian kepekaan terhadap antibiotika menunjukkan resistensi terhadap ampisilin (100%), seftriakson (100%), siprofloksasin (68,4%), dan tetrasiklin (42,1%). Selain itu, 8 isolat yang terdiri dari sampel swab (6/13; 46,1%), air (1/3; 33,3%), dan ikan (1/2; 50,0%) teridentifikasi sebagai bakteri multi-drug resistant. Studi ini dapat menggambarkan terjadinya cemaran E. coli penghasil ESBL di lingkungan peternakan broiler-ikan terintegrasi.
Aktivitas Gastroprotektif Infusa Serai Wangi terhadap Gastritis Akut pada Tikus Sprague dawley Nabilah, Avida Shahnaz; Handharyani, Ekowati; Sutardi, Lina Noviyanti; Mustika, Aulia Andi
Acta VETERINARIA Indonesiana Vol. 12 No. 1 (2024): Maret 2024
Publisher : IPB University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29244/avi.12.1.17-24

Abstract

Gastritis is an inflammation of the stomach mucosal lining. Citronella grass (Cymbopogon nardus) is a plant that has been used in traditional medicine to treat diseases, including digestive problems. This study aimed to analyze the gastroprotective activity of citronella grass infusion on acidified ethanol-induced gastritis in Sprague Dawley rats. The study was conducted on four groups of rats that were previously fasted for 18 hours. All rats were given treatments: water (HCl/ethanol group), omeprazole (omeprazole group), 20% citronella grass infusion (P1), and 40% citronella grass infusion (P2). After 90 minutes, all groups were administered HCl and ethanol mixture orally and then sacrificed 90 minutes later. The stomachs were collected for gastric fluid pH measurement and macroscopic and microscopic analysis. The results of phytochemical screenings showed that the citronella grass infusion contains alkaloids, flavonoids, saponins, and tannins. The pH values and the gastric lesion scores of P1 and P2 were significantly different (P<0.05) with higher and lower values respectively than the HCl/ethanol group. Macroscopic and microscopic examinations also showed a decrease in gastric lesions in the P1 and P2 groups. These findings confirm the gastroprotective activity of citronella plant infusion. There was no significant difference (P>0.05) between the P1 and P2.
Identifikasi Bakteri Pencernaan dan Uji Resistansi pada Primata di Kebun Binatang Bukittinggi safika, safika; Indrawati, Agustin; Hidayat, Rahmat; Afiff, Usamah; Sunartatie, Titiek; Nauval Firdana, Chorrysa; Destri Prameswari, Alvira
Acta VETERINARIA Indonesiana Vol. 11 No. 3 (2023): November 2023
Publisher : IPB University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29244/avi.11.3.196-203

Abstract

Bakteri merupakan satu di antara penyebab terjadinya beberapa penyakit infeksi. Jenis bakteri yang dapat menginfeksi tubuh berbeda-beda tergantung organ atau lokasi target. Organ yang sering diinfeksi oleh bakteri adalah saluran pencernaan. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi jenis bakteri saluran pencernaan dan pola resistansi bakteri terhadap beberapa jenis antibiotik. Feses primata diperoleh dari Kebun Binatang Bukittinggi yang diisolasi pada media Eosin Methylene Blue Agar (EMBA), MacConkey agar (MCA), dan agar darah. Isolat bakteri yang didapat kemudian diuji dengan pewarnaan Gram, dan uji biokimia untuk diidentifikasi. Bakteri Escherichia coli dan Staphylococcus aureus yang didapat dilakukan uji resistansi dengan metode disk Kirby Bauer. Jenis bakteri Gram negatif yang dapat diidentifikasi yaitu Shigella sp., Proteus sp., Escherichia coli, Klebsiella oxytoca, dan Yersinia sp., serta bakteri Gram positif yaitu Staphylococcus aureus, Staphylococcus epidermidis, Streptococcus sp., Stomatococcus mucilaginosus, dan Bacillus sp.. Bakteri E. coli mengalami resistan terhadap antibiotik ampisilin, streptomisin, eritromisin (2 isolat dari 2 isolat), amoksisilin tetrasiklin, oksitetrasiklin, doksisiklin, gentamisin, kloramfenikol dan asam nalidiksat (1 isolat dari 2 isolat), sedangkan bakteri S. aureus hanya mengalami resistansi terhadap antibiotik ampisilin dan amoksisilin (1 isolat dari 1 isolat). Resistansi tersebut dapat terjadi karena penggunaan antibiotik yang tidak tepat, perpindahan gen antarmikroorganisme.
Effect of Fenbendazole Treatment Against Oxyuris spp. on Green Iguana (Iguana iguana) kusuma, shelly; Garvasilus Privantio Tegar Virgiawan Huler; Rafi Dzakir Ghalib; Shafa Luvena Pradhantya; Devita Marsya Herina Hapsari; Nofan Rickyawan; Reza Yesica; Nanis Nurhidayah
Acta VETERINARIA Indonesiana Vol. 12 No. 1 (2024): Maret 2024
Publisher : IPB University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29244/avi.12.1.32-39

Abstract

Infection of Oxyuris spp., a gastrointestinal nematode, has been reported in reptiles around the world, including in the green iguana (Iguana iguana). In most cases, parasite control in reptiles relies on anthelmintics administration. Fenbendazole has been used as the drug of choice for parasite control in reptiles. However, the data of fenbendazole administration for Oxyuris spp. infection on green iguana (Iguana iguana) in Indonesia was absent. We evaluated the effect of fenbendazole administration (dose: 25 mg/kg body weight [BW] for five consecutive days per oral) for natural infection of Oxyuris spp. among thirty-three green iguanas in Malang Raya (Malang District, Malang City, and Batu City). The fecal examination was made through a modified Mc Master technique on the day-0, 7, 14, 21, and 31 post-treatment. The data on management (such as caging, feeding, and health program) conducted by the owners were recorded as well. The result showed that reduction of a hundred percent (100%) of egg per gram (epg) on day-31 post-treatment in all sampled animals. Iguanas were placed in individual and communal cages with daily cleaning and feeding. However, none of the owners arranged health programs such as anthelmintic treatment for their companion reptiles. This study can be used as a recommendation for future control of Oxyuris spp. in green iguanas in Indonesia.
Analisis In Silico Senyawa Flavonoid Kayu Secang (Caesalpinia sappan L.) pada Reseptor α-Amilase Sebagai Antihiperglikemik Indah Kurnia Klara; Purwono, Rini Madyastuti; Achmadi, Pudji
Acta VETERINARIA Indonesiana Vol. 11 No. 3 (2023): November 2023
Publisher : IPB University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29244/avi.11.3.210-219

Abstract

Pengujian in vitro dan in vivo kayu secang (Caesalpinia sappan L.) sebagai antihiperglikemik sudah dilakukan sebelumnya dan memberikan hasil yang efektif, namun mekanismenya pada hewan belum diketahui. Penelitian ini bertujuan menganalisis mekanisme senyawa metabolit kayu secang (Caesalpinia sappan L.) yang dapat menghambat enzim α-amilase pada hewan melalui penambatan molekuler secara in silico. Profil farmakokinetik ligan diprediksi berdasarkan aturan Lipinski. Prediksi toksisitas dilakukan menggunakan admetSAR. Reseptor diperoleh dari basis data PDB (ID 1OSE). Ligan pembanding yang digunakan adalah akarbosa. Penambatan molekuler dilakukan dengan menambatkan ligan uji brazilin, protosappanin B, protosappanin C, dan sappanchalcone pada enzim α-amilase menggunakan Autodock Vina. Penambatan molekuler dianalisis dengan energi ikatan (ΔG), konstanta inhibisi, serta ikatan kimia. Hasil penambatan molekuler menunjukkan semua ligan uji memiliki potensi sebagai antihiperglikemik. Ligan uji brazilin memiliki aktivitas penghambatan enzim α-amilase lebih baik daripada akarbosa berdasarkan nilai ΔG dan %BSS.
The Bambara Groundnut’s Potential for Heart Histological Repair in Protein-Deficient Female Mice Puteri, Nabila Ramiza; Gunanegara, Rimonta Febby; Sunarti; Nuriliani, Ardaning
Acta VETERINARIA Indonesiana Vol. 11 No. 3 (2023): November 2023
Publisher : IPB University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29244/avi.11.3.234-243

Abstract

Defisiensi protein diketahui memberikan perubahan histologis yang signifikan pada jantung seperti hipertrofi, penebalan dinding ventrikel kiri, peningkatan deposisi matriks ekstraseluler dan diameter kardiomiosit, serta fibrosis interstisial. Kacang bambara (Vigna subterranea) dengan kandungan protein dan asam amino berpotensi untuk menanggulangi defisiensi protein dan memperbaiki perubahan struktur histologis pada jantung. Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari pengaruh defisiensi protein 10% dan penambahan kacang bambara terhadap struktur histologis jantung mencit betina galur Swiss-Webster. Lima belas jantung dari 5 kelompok dikumpulkan untuk dipreparasi dengan metode parafin setebal 6 μm, dan diwarnai dengan Hematoxylin-Eosin dan Mallory Acid Fuchsin. Data dalam penelitian ini adalah parameter biometrik, lebar kardiomiosit, dimensi internal ventrikel kiri (LVID), ketebalan dinding posterior ventrikel kiri (LVPW), dan struktur histologis otot jantung. Data kuantitatif dianalisis dengan ANOVA satu arah dan post hoc dengan Duncan (p-value=0,05), sedangkan data kualitatif dianalisis menggunakan Kruskal Wallis (p<0,05). Tidak terdapat perbedaan yang signifikan (p>0,05) antara kelompok kontrol dan perlakuan pada parameter biometrik, LVID, LVPW, dan lebar kardiomiosit. Pada parameter struktur histologis otot jantung, kelompok defisiensi protein menunjukkan perubahan berupa lesi atrofi, hipertrofi, nekrosis, dan fibrosis yang lebih banyak dibandingkan dengan kelompok kacang bambara. Dengan demikian, penambahan kacang bambara berpotensi sebagai suplemen protein yang dapat memperbaiki struktur jantung pada kondisi defisiensi protein
Potensi daun kumis kucing dalam meningkatkan hematopoiesis pada kondisi kerusakan ginjal Satyaningtijas, Aryani; Pamungkas, Joko; Sa’diah, Siti; Wientarsih, Ietje; Purnawarman, Trioso; Rini Madyastuti Purwono; Nisa, Khoirun; Nugroho, Radhitya Aryo; Hadiyanti, Cresensia Rara; Tarigan, Ronald
Acta VETERINARIA Indonesiana Vol. 11 No. 3 (2023): November 2023
Publisher : IPB University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29244/avi.11.3.189-195

Abstract

Kerusakan ginjal berdampak pada proses eritropoiesis karena ginjal merupakan organ utama penghasil eritropoietin (EPO). Tanaman kumis kucing secara turun-temurun sudah digunakan untuk pengobatan gangguan saluran kemih, hipertensi, dan diabetes mellitus. Tanaman ini diketahui mengandung berbagai zat aktif yang bersifat nefroprotektif, seperti flavonoid, tannin, saponin, phenol, serta terpenoid. Penelitian ini bertujuan untuk melihat potensi tanaman kumis kucing untuk memperbaiki profil eritosit pada kondisi kerusakan ginjal yang diinduksi oleh etilen glikol. Sebanyak 35 ekor tikus galur Sprague Dawley jantan berumur 7 bulan dibagi ke dalam 7 kelompok perlakuan dengan pemberian etilen glikol dan atau ekstrak kumis kucing dengan lama permberian yang berbeda. Pemberian ekstrak daun kumis kucing mampu meningkatkan jumlah eritrosit pada tikus serta menekan penurunan jumlah eritrosit saat dan setelah pemberian etilen glikol. Selain itu, pemberian ekstrak kumis kucing juga mampu menurunkan jumlah leukosit serta rasio neutrofil: limfosit yang meningkat akibat induksi etilen glikol. Ekstrak kumis kucing memiliki potensi untuk memperbaiki proses eritropoiesis dan menekan peradangan pada kasus kerusakan ginjal.
The Detection of Resistant Escherichia coli Isolated From Cats In Dukuh Kupang Sub-District, Surabaya Wibisono, Freshinta Jellia; Wirjaatmadja, Roeswandono; Candra, Adhitya Yoppy Ro; Rahmaniar, Reina Puspita; Trirahayu, Rizkika Amalia; Diningrum, Dinda Prisilya; Rianto, Vinsensius; Kendek, Irfan Alias
Acta VETERINARIA Indonesiana Vol. 12 No. 1 (2024): Maret 2024
Publisher : IPB University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29244/avi.12.1.1-7

Abstract

Resistansi antimikrob merupakan isu global yang menjadi pusat perhatian dunia. Penularan pada manusia melalui hewan peliharaan penting untuk diwaspadai. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui adanya resistansi antimikrob bakteri Escherichia coli pada kucing. Sebanyak 60 sampel swab diambil, yang terdiri atas 30 sampel kucing liar dan 30 sampel kucing peliharaan. Sampel diuji di Laboratorium Kesmavet Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Wijaya Kusuma Surabaya. Sampel kemudian di isolasi dan identifikasi dengan media selektif diferensial Eosin Methylene Blue Agar. Isolat Escherichia coli kemudian dilakukan uji sensitivitas untuk mengetahui adanya resistensi pada antibiotik ampicillin, tetracycline, dan streptomycin. Hasil penelitian menunjukkan 83% sampel terdapat bakteri Escherichia coli pada kucing, dengan resistansi antibiotik sebesar 16% terhadap antibiotika ampisilin, pada kucing liar 19%, dan kucing peliharaan 12%. Resistansi pada antibiotik tetrasiklin menunjukkan 12%, dimana kucing liar 15%, dan kucing peliharaan 8%. Sedangkan resistensi pada antibiotik streptomisin menunjukkan 4% (2/50), dengan resistensi pada kucing liar 8% dan pada kucing peliharaan tidak ditemukan adanya resistensi (0%). Kucing sebagai hewan yang memilliki kedekatan dengan kehidupan manusia, mampu menjadi faktor penular resistensi antimikroba, hal ini menjadi kewaspadaan dini sebagai tindakan pencegahan penularan resistensi antimikrobial pada manusia.
Palatabilitas Makanan Fungsional yang Mengandung Ekstrak Jintan Hitam (Nigella sativa) pada Kucing Domestik Bulu Pendek (Felis catus) Kusumawati, Nina Tri; Purwono, Rini Madyastuti; Kusumawati, Nina; Priosoeryanto, Bambang Pontjo; Esfandiari, Anita
Acta VETERINARIA Indonesiana Vol. 12 No. 2 (2024): Juli 2024
Publisher : IPB University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29244/avi.12.2.133-140

Abstract

Plant extract is one of the functional ingredients to support health and immune system. Black cumin (Nigella sativa) is known to have a strong effect on immunomodulatory function. Its bitter taste and characteristic smell will affect the palatability of a final product. The palatability is important for product development in the pet food industry. The palatability defines cat’s preference and acceptance of a product. This research was aimed to determine the palatability of functional foods containing black cumin’s extract in domestic shorthair cats (Felis catus). The modified two bowl test was used in this study. Domestic shorthair cats aged 1-6 years, 7 spayed females and 2 neutered males, unvaccinated, and clinically healthy were participated in the study. Three bowls of food containing 89,1 mg; 222,75 mg; and 445,5 mg concentration of black cumin extract were offered to cats simultaneously. The first choice consumed, the duration of food consumed, and the amount of food intake were evaluated. A significant difference (p<0,05) was observed in the first choice consumed. The duration of food consumed, and the amount of food consumed were not found a significant difference. Based on all observations, this study indicates the food containing 222,75 mg concentration of black cumin is more palatable compared with other foods. The result of this study will be the foundation of the next research. Keywords: black cumin, cats, food, palatability
Penilaian Pendedahan Kualitatif Virus Penyakit Mulut dan Kuku melalui Pemasukan Kulit Sapi Mentah Garaman dari Malaysia ke Indonesia di Pelabuhan Tanjung Priok, Indonesia Basri, Chaerul; Sekarsana, Disty Ayu; Lukman, Denny Widaya
Acta VETERINARIA Indonesiana Vol. 12 No. 1 (2024): Maret 2024
Publisher : IPB University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29244/avi.12.1.65-75

Abstract

Penyakit mulut dan kuku (PMK) merupakan penyakit yang menjadi perhatian semua negara karena dapat menimbulkan kerugian ekonomi yang besar. Penyakit ini sangat mudah menyebar antar negara atau wilayah sehingga dikategorikan sebagai transboundary animal disease. Salah satu penyebab penyebaran PMK adalah perdagangan hewan dan produk hewan antar negara atau wilayah. Lalu lintas kulit sapi mentah dapat membawa risiko penyebaran PMK. Penelitian ini bertujuan untuk melakukan penilaian risiko pendedahan kualitatif terhadap masuk dan tersebarnya PMK dari kulit sapi mentah garaman ke Indonesia. Penilaian ini dilaksanakan dengan mengembangkan biological pathway terhadap likelihood pendedahan agen penyakit melalui kulit sapi mentah garaman dari negara asal Malaysia ke Indonesia. Tingkat likelihood (kemungkinan) kualitatif pada penilaian pendedahan (exposure assessment) didasarkan pada Biosecurity Import Risk Analysis Guidelines 2016, sedangkan tingkat ketidakpastian ditentukan berdasarkan pedoman yang diberikan oleh The European Food Safety Authority (EFSA). Penilaian akhir pendedahan virus PMK melalui kulit sapi mentah garaman dari Malaysia di Pelabuhan Tanjung Priok menunjukkan tingkat likelihood sedang, dengan tingkat ketidakpastian yang rendah. Tingkat likelihood sedang mengindikasikan bahwa peluang kemungkinan kejadian tersebarnya virus PMK melalui kulit sapi mentah garaman dari Malaysia memiliki peluang yang sama besar yaitu antara terbawa atau tidak terbawanya virus PMK melalui kulit sapi mentah garaman dari Malaysia. Penerapan biosekuriti sebagai tindakan mitigasi untuk mengurangi risiko penyebaran virus PMK perlu diterapkan pada tempat kedatangan kulit sapi mentah garaman dan di gudang penyimpanan kulit.