cover
Contact Name
Muhamad Suhardi
Contact Email
jurnalp4i@gmail.com
Phone
+6285239967417
Journal Mail Official
jurnalp4i@gmail.com
Editorial Address
Lingkungan Handayani, Kel. Leneng, Kec. Praya, Kab. Lombok Tengah, NTB
Location
Unknown,
Unknown
INDONESIA
LEARNING : Jurnal Inovasi Penelitian Pendidikan dan Pembelajaran
ISSN : 27770583     EISSN : 27770575     DOI : https://doi.org/10.51878/learning.v1i2.376
Core Subject : Education,
LEARNING : Jurnal Inovasi Pendidikan dan Pembelajaran diterbitkan 4 kali setahun (Februari, Mei, Agustus, dan November) oleh Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I) yang berada dibawah naungan Yayasan Insan Cendekia Indonesia Raya dan berafiliasi dengan Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Hamzanwadi, MKKS SMP Negeri Kab. Lombok Timur dan Ikatan Guru Indonesia Kab. Tulang Bawang. Jurnal ini berisi artikel hasil pemikiran dan penelitian yang ditulis oleh para guru, dosen, pakar, ilmuwan, praktisi, dan pengkaji dalam semua disiplin ilmu yang berkaitan dengan pendidikan dan pembelajaran.
Arjuna Subject : Umum - Umum
Articles 844 Documents
STRATEGI PEDAGOGIS DIFERENSIATIF BERBASIS GAYA BELAJAR UNTUK MENGURANGI PERILAKU DISRUPTIF DAN MENINGKATKAN KETERLIBATAN SISWA Hani Rita Witri Pratiwi; Ni Luh Sakinah Nuraini
LEARNING : Jurnal Inovasi Penelitian Pendidikan dan Pembelajaran Vol. 6 No. 4 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/learning.v6i4.15328

Abstract

The diversity of characteristics and learning styles among elementary school students in the concrete operational stage requires contextual learning to minimize disruptive behavior in the classroom. This study aims to reduce disruptive behavior and enhance student engagement through the implementation of differentiated pedagogical strategies based on learning styles in mathematics learning on whole numbers up to 100 for Grade 2C students at SDN Bunulrejo 2 Kota Malang. The study employed Classroom Action Research (CAR) using the Kemmis and McTaggart model, comprising planning, action, observation, and reflection stages involving 19 students. Data were collected through observations of disruptive behavior, student engagement observations, field notes, and documentation. Instructional interventions were implemented through number card games, ice cream stick activities, market shopping role-play, and number snakes-and-ladders games. The findings revealed a significant reduction in disruptive behavior alongside an increase in average student engagement from 52.6% in the pre-cycle to 81.6% in Cycle I and 95.4% in Cycle II. Thus, differentiated pedagogical strategies based on learning styles are proven effective in creating active learning that reduces classroom disruptions and boosts student participation. ABSTRAK Keberagaman karakteristik dan gaya belajar murid usia sekolah dasar pada fase operasional konkret menuntut pembelajaran kontekstual agar mampu meminimalisasi munculnya perilaku mengganggu di kelas. Penelitian ini bertujuan untuk mengurangi perilaku disruptif dan meningkatkan keterlibatan murid melalui penerapan strategi pedagogis diferensiatif berbasis gaya belajar pada pembelajaran matematika materi bilangan cacah sampai 100 di kelas 2C SDN Bunulrejo 2 Kota Malang. Penelitian menggunakan metode Penelitian Tindakan Kelas (PTK) model Kemmis dan McTaggart yang mencakup tahap perencanaan, pelaksanaan tindakan, observasi, dan refleksi terhadap 19 murid. Data dikumpulkan melalui observasi perilaku disruptif, observasi keterlibatan, catatan lapangan, dan dokumentasi. Tindakan diimplementasikan melalui permainan kartu angka, stik es krim, role play belanja di pasar, serta ular tangga angka. Hasil penelitian menunjukkan penurunan signifikan pada seluruh indikator perilaku disruptif serta peningkatan rata-rata keterlibatan murid dari 52,6% pada pra siklus menjadi 81,6% pada Siklus I dan mencapai 95,4% pada Siklus II. Dengan demikian, strategi pedagogis diferensiatif berbasis gaya belajar terbukti efektif menciptakan pembelajaran aktif yang mampu mereduksi gangguan kelas dan meningkatkan partisipasi belajar siswa.  
IMPLEMENTING PROJECT-BASED LEARNING (PjBL) TO ENHANCE SPEAKING SKILLS: TEACHERS’ PERSPECTIVE IN JUNIOR HIGH SCHOOL Nazwa Fatima Azzahra; Setia Muljanto; Yustika Nur Fajriah
LEARNING : Jurnal Inovasi Penelitian Pendidikan dan Pembelajaran Vol. 6 No. 4 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/learning.v6i4.15330

Abstract

The problem discussed in this study arises from the poor oral performance of junior high school students in learning the English language. Students often lack self-confidence, possess narrow vocabularies, and encounter limited opportunities for meaningful communicative practice. Project-Based Learning (PjBL) is recognized as an effective approach to actively engage students in contextual language use. This study aims to investigate English teachers' perspectives regarding the implementation of PjBL to enhance students' speaking skills at the junior high school level. A qualitative descriptive research design was employed. The participants were two English teachers at SMPN 1 Garut who actively implemented PjBL in their speaking classes. Data were gathered through semi-structured in-depth interviews and documentation, then analyzed using thematic analysis. The findings reveal that teachers perceive PjBL as an effective strategy for developing students' confidence, fluency, and collaborative skills in oral communication. Nevertheless, teachers faced notable challenges, including instructional time constraints, student proficiency gaps, and complex project planning demands. In conclusion, PjBL implementation holds significant potential for fostering students' speaking competence when supported by thorough instructional design, scaffolded tasks, and adaptive classroom management. ABSTRAK Penelitian ini dilatarbelakangi oleh rendahnya keterampilan berbicara (speaking) siswa sekolah menengah pertama dalam pembelajaran bahasa Inggris, yang ditandai dengan kurangnya kepercayaan diri, keterbatasan kosakata, serta minimnya kesempatan untuk praktik komunikasi bermakna di kelas. Project-Based Learning (PjBL) dipandang sebagai salah satu pendekatan yang mampu mendorong partisipasi aktif dan penggunaan bahasa secara kontekstual. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi perspektif guru terhadap pengimplementasian PjBL dalam meningkatkan keterampilan berbicara siswa di jenjang SMP. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan desain studi deskriptif. Subjek penelitian adalah dua orang guru bahasa Inggris SMPN 1 Garut yang menerapkan PjBL dalam pembelajaran speaking. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam terstruktur dan dokumentasi, kemudian dianalisis menggunakan teknik analisis tematik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa guru memandang PjBL sebagai strategi yang efektif untuk meningkatkan keberanian, kelancaran, serta kolaborasi siswa dalam berbicara bahasa Inggris. Namun demikian, guru juga menghadapi beberapa tantangan, seperti keterbatasan waktu, perbedaan kemampuan siswa, dan kesiapan perencanaan proyek. Secara keseluruhan, dapat disimpulkan bahwa implementasi PjBL berpotensi meningkatkan keterampilan speaking siswa apabila didukung oleh perencanaan yang matang, scaffolding berjenjang, dan pengelolaan kelas yang efektif.    
PENERAPAN PROJECT BASED LEARNING SEBAGAI STRATEGI PENINGKATAN MOTIVASI BELAJAR SISWA Dewi Nirwana Ayu Kirani; Dina Merdeka Citraningrum; Indah Ita Utami
LEARNING : Jurnal Inovasi Penelitian Pendidikan dan Pembelajaran Vol. 6 No. 4 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/learning.v6i4.15331

Abstract

Mastery of scientific writing requires critical and systematic thinking skills; however, low learning motivation and conventional teacher-centered methods often leave students passive and struggling to complete writing tasks. This study aims to improve the learning motivation of 11th-grade students in class XI E at SMA Muhammadiyah 3 Jember in scientific paper materials through the implementation of Project-Based Learning (PjBL). The study employed Classroom Action Research (CAR) following the Kemmis and McTaggart spiral model across two cycles, each consisting of planning, action, observation, and reflection. The subjects comprised 24 students. Data were collected through structured classroom observations and learning motivation questionnaires covering five indicators. The results indicated that the implementation of Project-Based Learning progressively increased student learning motivation. In Cycle I, the average motivation score was 71.98 (sufficient category), which significantly improved in Cycle II to 82.03 (good category), successfully exceeding the targeted success criterion (). Notable improvements occurred across task persistence, problem-solving interest, tenacity in overcoming difficulties, group collaboration, and active discussion participation. Project-based learning provides meaningful exploration for students to design, write, and present scientific papers. Thus, the Project-Based Learning model is proven effective in enhancing student learning motivation and establishing active, collaborative, and meaningful Indonesian language learning. ABSTRAK Penguasaan materi karya ilmiah menuntut kemampuan berpikir kritis dan sistematis, namun rendahnya motivasi belajar serta dominasi metode konvensional di kelas kerap membuat siswa pasif dan kesulitan menyelesaikan tugas penulisan. Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan motivasi belajar siswa kelas XI E SMA Muhammadiyah 3 Jember pada materi karya ilmiah melalui penerapan model Project-Based Learning (PjBL). Penelitian menggunakan metode Penelitian Tindakan Kelas (PTK) dengan model Kemmis dan McTaggart yang dilaksanakan dalam dua siklus, meliputi tahap perencanaan, tindakan, observasi, dan refleksi. Subjek penelitian berjumlah 24 siswa. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui observasi dan penyebaran angket motivasi belajar yang mencakup lima indikator. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan Project-Based Learning mampu meningkatkan motivasi belajar siswa secara bertahap. Pada siklus I, rata-rata skor motivasi belajar siswa mencapai 71,98 dengan kategori cukup, kemudian meningkat pada siklus II menjadi 82,03 dengan kategori baik dan telah melampaui indikator keberhasilan tindakan yang ditetapkan (). Peningkatan motivasi terlihat pada aspek ketekunan mengerjakan tugas, minat dalam memecahkan masalah, keuletan menghadapi kesulitan, kerja sama kelompok, serta keaktifan bertanya dan berdiskusi. Pembelajaran berbasis proyek memberi ruang eksplorasi nyata bagi siswa dalam merancang, menyusun, dan mempresentasikan karya ilmiah. Dengan demikian, model Project-Based Learning terbukti efektif dalam meningkatkan motivasi belajar siswa dan mewujudkan pembelajaran bahasa Indonesia yang aktif, kolaboratif, serta bermakna.    
PENINGKATAN KETERAMPILAN BERBICARA MELALUI PENGGUNAAN MEDIA GAMBAR BERSERI PADA SISWA KELAS V SEKOLAH DASAR Raditya Rangga Davito; Wildan Farih Kurniawan; Muhammad Aunur Rofiq
LEARNING : Jurnal Inovasi Penelitian Pendidikan dan Pembelajaran Vol. 6 No. 4 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/learning.v6i4.15332

Abstract

Speaking skill is one of the essential language competencies that should be developed among elementary school students. Preliminary observations conducted in Grade V of SDN 1 Trembulrejo revealed that students' speaking skills were still relatively low. This study aimed to improve students' speaking skills through the use of serial picture media in Indonesian language learning. The research employed a Classroom Action Research design based on the Kemmis and McTaggart model, which was conducted in two cycles. The participants consisted of 19 fifth-grade students of SDN 1 Trembulrejo, Blora Regency. Data were collected through observation, interviews, and documentation. Data analysis was carried out by comparing the percentage of learning mastery and the average speaking skill achievement across each cycle. The findings indicated a gradual improvement in students' speaking skills. Classical mastery increased from 52.63% in the pre-cycle stage, with an average score of 66.00, to 68.42% in Cycle I, with an average score of 72.40. After improvements were implemented in Cycle II, classical mastery increased to 84.21%, with an average score of 79.20. The use of serial picture media helped students develop ideas, enrich vocabulary, build confidence in speaking, and present stories more coherently. These findings suggest that serial picture media is effective in improving elementary school students’ speaking skills. ABSTRAK Keterampilan berbicara merupakan salah satu kemampuan berbahasa yang perlu dikembangkan pada siswa sekolah dasar. Hasil observasi awal di kelas V SDN 1 Trembulrejo menunjukkan bahwa keterampilan berbicara siswa masih rendah. Penelitian ini bertujuan meningkatkan keterampilan berbicara siswa melalui penggunaan media gambar berseri dalam pembelajaran Bahasa Indonesia. Penelitian menggunakan metode Penelitian Tindakan Kelas model Kemmis dan McTaggart yang dilaksanakan dalam dua siklus. Subjek penelitian berjumlah 19 siswa kelas V SDN 1 Trembulrejo Kabupaten Blora. Data dikumpulkan melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi. Analisis data dilakukan dengan membandingkan persentase ketuntasan dan rata-rata capaian keterampilan berbicara pada setiap siklus. Hasil penelitian menunjukkan bahwa keterampilan berbicara siswa mengalami peningkatan secara bertahap. Ketuntasan klasikal meningkat dari 52,63% pada pra-siklus dengan rata-rata capaian 66,00 menjadi 68,42% pada siklus I dengan rata-rata 72,40. Setelah dilakukan perbaikan tindakan pada siklus II, ketuntasan klasikal meningkat menjadi 84,21% dengan rata-rata capaian 79,20. Media gambar berseri membantu siswa mengembangkan ide, memperkaya kosakata, meningkatkan keberanian berbicara, dan menyampaikan cerita secara lebih runtut. Temuan ini menunjukkan bahwa media gambar berseri efektif digunakan untuk meningkatkan keterampilan berbicara siswa sekolah dasar.  
STUDI FENOMENOLOGI PENGALAMAN ANAK USIA DINI MENGHADAPI KECEMASAN DI TAMAN KANAK-KANAK Vicha Kholifatul Aulia; Yuli Kurniawati Sugiyo Pranoto
LEARNING : Jurnal Inovasi Penelitian Pendidikan dan Pembelajaran Vol. 6 No. 4 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/learning.v6i4.15333

Abstract

The transition to kindergarten is a critical stage in early childhood development, yet many children experience anxiety that may hinder their social, emotional, and learning adjustment. This study aims to describe the experiences of early childhood children in dealing with anxiety at Dharmawanita 01 Kindergarten in Kapung, identify factors that influence the emergence of anxiety, and understand how children express and cope with their anxiety. The study used a qualitative approach with a phenomenological method. The research subjects were selected using purposive sampling, consisting of 5 children aged 4–6 years exhibiting anxiety symptoms as primary participants, 2 classroom teachers, and 3 parents as supporting participants. Data collection was conducted through observation, interviews, and documentation. Data analysis employed Interpretative Phenomenological Analysis (IPA), including horizonalization and textural-structural descriptions. The results showed that children's anxiety manifested in the form of crying, silence, difficulty separating from parents (separation anxiety), and reluctance to participate in learning activities. Factors causing anxiety included a new environment, dependence on parents, interactions with teachers and peers, and pressure during learning activities. Children overcome anxiety through teacher support, parental guidance, playing with friends, and a gradual adaptation process in the school environment. ABSTRAK Masa transisi menuju taman kanak-kanak merupakan tahap penting dalam perkembangan anak usia dini, namun banyak anak mengalami kecemasan yang dapat menghambat penyesuaian sosial, emosional, dan proses belajarnya. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan pengalaman anak usia dini dalam menghadapi kecemasan di TK Dharmawanita 01 Kapung, mengidentifikasi faktor yang memengaruhi munculnya kecemasan, serta mengetahui cara anak mengekspresikan dan mengatasi kecemasan yang dialami. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode fenomenologi. Subjek dan partisipan penelitian ditentukan secara purposive sampling yang terdiri atas 5 anak usia 4–6 tahun (Anxiety) sebagai partisipan utama, 2 guru kelas, dan 3 orang tua/pengasuh sebagai partisipan pendukung. Pengumpulan data dilakukan melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi. Teknik analisis data menggunakan analisis fenomenologis interpretatif (IPA) mencakup horizonalization serta deskripsi tekstural-struktural. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kecemasan anak muncul dalam bentuk menangis, diam, sulit berpisah dengan orang tua (separation anxiety), serta enggan mengikuti kegiatan pembelajaran. Faktor penyebab kecemasan meliputi lingkungan baru, ketergantungan terhadap orang tua, interaksi dengan guru dan teman sebaya, serta tekanan dalam kegiatan belajar. Anak mengatasi kecemasan melalui dukungan guru, pendampingan orang tua, bermain bersama teman, dan proses adaptasi secara bertahap di lingkungan sekolah.  
PEMBENTUKAN KEMANDIRIAN ANAK USIA 4-5 TAHUN DI TPA DAN TK IT AS-SALAM KOTA MALANG Zhahirah Azka Ramadhani; Ahmad Samawi
LEARNING : Jurnal Inovasi Penelitian Pendidikan dan Pembelajaran Vol. 6 No. 4 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/learning.v6i4.15334

Abstract

This study was motivated by the importance of developing independence among children aged 4–5 years through habituation and environmental support. It aimed to describe the formation of child independence in the daycare and kindergarten environments of TK IT As-Salam Malang City and the factors influencing it. This research used a single-subject qualitative case study approach. The subject was one child, identified as BHR, who participated in both daycare and kindergarten activities in the same institution. Data were collected through observation, interviews with the kindergarten teacher, daycare caregiver, and parents, as well as documentation. The data were analyzed through data reduction, data display, and conclusion drawing using source and technique triangulation. The findings show that independence was formed through habituation, instruction, positive reinforcement, scaffolding, social experience, and opportunities to try. In kindergarten, independence appeared through discipline, obedience, task completion, and learning responsibility. In daycare, independence appeared through courage to try, care for personal belongings, peer interaction, and independent daily activities. The main obstacles were unstable emotion and inconsistent parenting practices between home and the institution. ABSTRAK Penelitian ini dilatarbelakangi oleh pentingnya pembentukan kemandirian anak usia 4–5 tahun melalui pembiasaan dan dukungan lingkungan. Tujuan penelitian ini adalah mendeskripsikan pembentukan kemandirian anak di lingkungan Tempat Penitipan Anak (TPA) dan Taman Kanak-Kanak (TK) IT As-Salam Kota Malang serta faktor yang memengaruhinya. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis studi kasus tunggal (single-case study). Subjek penelitian adalah seorang anak berinisial BHR yang mengikuti kegiatan di TPA dan TK dalam satu lembaga yang sama. Data dikumpulkan melalui observasi, wawancara guru TK, pengasuh TPA, orang tua, serta studi dokumentasi. Analisis data dilakukan melalui reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan dengan teknik triangulasi sumber dan metode. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kemandirian anak terbentuk melalui pembiasaan, instruksi terarah, penguatan positif (positive reinforcement), pendampingan (scaffolding), pengalaman sosial, dan pemberian kesempatan mencoba. Di TK, kemandirian lebih tampak melalui disiplin, kepatuhan aturan, penyelesaian tugas, dan tanggung jawab belajar. Di TPA, kemandirian tampak melalui keberanian mencoba, menjaga barang pribadi, interaksi sosial teman sebaya, dan aktivitas harian mandiri. Hambatan utamanya adalah regulasi emosi anak yang belum stabil serta ketidakselarasan pola pengasuhan antara rumah dan lembaga.    
DINAMIKA VERBAL BULLYING DI LINGKUNGAN SMP KARTIYOSO SEMARANG Tarcisia Sri Suwarti; Siti Lestari; Ismah Ismah
LEARNING : Jurnal Inovasi Penelitian Pendidikan dan Pembelajaran Vol. 6 No. 4 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/learning.v6i4.15336

Abstract

Verbal bullying is a strategic issue in middle school education as it negatively affects students' emotional, social, and academic development. This study aims to identify the forms of verbal bullying occurring at SMP Kartiyoso Semarang, analyze its contributing factors, examine its psychological impacts, and explore the school's role in its prevention and intervention. This study employed a descriptive qualitative approach and was conducted from August to October 2025. Using purposive sampling, 50 participants were selected, including 38 students (victims, perpetrators, and bystanders), 4 Guidance and Counseling (BK) teachers, 5 homeroom teachers, and 3 school staff members. Data were collected through structured interviews, observations, open-ended questionnaires, and documentation. Data validity was ensured through source and technique triangulation, while data analysis followed the Miles and Huberman interactive model. The findings revealed that the most prevalent form of verbal bullying was negative body-shaming or parent-name calling (46.00%), followed by mocking (28.00%), offensive language (16.00%), and public humiliation (10.00%). The primary factors driving verbal bullying were an excessive joking culture, peer pressure, and limited supervision during break times. Psychologically, victims suffered from social anxiety, decreased self-confidence, and classroom disengagement. While the school responded through counseling services and rules enforcement, interventions remained largely reactive, highlighting the need for sustainable, character-building anti-bullying programs. ABSTRAK Verbal bullying merupakan salah satu isu strategis dalam dunia pendidikan pada jenjang Sekolah Menengah Pertama (SMP) karena berpotensi menghambat perkembangan emosional, sosial, dan akademik peserta didik. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi bentuk-bentuk verbal bullying yang terjadi di SMP Kartiyoso Semarang, menganalisis faktor penyebabnya, mengkaji dampak psikologisnya, serta mengidentifikasi peran sekolah dalam pencegahan dan penanganannya. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif. Penelitian dilaksanakan pada bulan Agustus hingga Oktober 2025. Informan penelitian dipilih menggunakan teknik purposive sampling yang terdiri dari 50 orang, mencakup 38 siswa (korban, pelaku, dan saksi), 4 guru Bimbingan dan Konseling (BK), 5 wali kelas, dan 3 karyawan sekolah. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui wawancara terstruktur, observasi lingkungan sekolah, kuesioner terbuka, dan studi dokumentasi. Keabsahan data diuji menggunakan triangulasi sumber dan teknik, sedangkan analisis data menerapkan model Miles dan Huberman (data reduction, data display, conclusion drawing/verification). Hasil penelitian menunjukkan bahwa bentuk verbal bullying yang paling dominan adalah pemberian julukan negatif terkait kondisi fisik atau nama orang tua (46,00%), ejekan merendahkan (28,00%), penggunaan kata-kata kasar (16,00%), dan penyorakan di depan umum (10,00%). Faktor utama penyebab terjadinya verbal bullying adalah budaya bercanda yang berlebihan (over-joking culture), pengaruh kelompok sebaya (peer pressure), dan belum optimalnya pengawasan saat jam istirahat. Dampak psikologis yang dialami korban mencakup kecemasan sosial, penurunan rasa percaya diri, dan keengganan berpartisipasi aktif di kelas. Sekolah telah berupaya merespons melalui layanan konseling dan sosialisasi tata tertib, namun masih bersifat reaktif sehingga memerlukan penguatan program pencegahan perundungan berbasis edukasi karakter yang berkelanjutan.    
PENINGKATAN KEMAMPUAN BERPIKIR KRITIS PESERTA DIDIK MELALUI MODEL PROBLEM-BASED LEARNING PADA PEMBELAJARAN BAHASA INDONESIA DI KELAS V SD NEGERI 071005 BANUA SIBOHOU Rispen Elfandi Lase; Dernius Hura; Otilina Gulo; Edward Harefa
LEARNING : Jurnal Inovasi Penelitian Pendidikan dan Pembelajaran Vol. 6 No. 4 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/learning.v6i4.15337

Abstract

This study is motivated by the low critical thinking skills of Grade V students in the Indonesian Language subject at SD Negeri 071005 Banua Sibohou. This condition is indicated by the fact that most students have not yet achieved the Learning Achievement Criteria (KKTP) set by the school. This situation is caused by the use of teacher-centered learning methods, which results in students being less active in the learning process. This study aims to describe the implementation of the Problem-Based Learning model and to determine the improvement of students’ critical thinking skills through this model. The research type used is Classroom Action Research (CAR) following the Kemmis and McTaggart model, conducted in two cycles consisting of planning, action, observation, and reflection stages. The research subjects were 11 Grade V students at SD Negeri 071005 Banua Sibohou in the 2025/2026 academic year. Data were collected through tests, observations, and documentation, while data analysis was carried out using descriptive quantitative and qualitative methods. The results show that the Problem-Based Learning model significantly improves students’ critical thinking skills. This improvement is evidenced by the increase in the average critical thinking test score from 54.00 with classical mastery of 36.36% (poor category) in Cycle I to 87.00 with classical mastery of 90.91% (excellent category) in Cycle II. Student active participation also increased from 60.00% in Cycle I to 80.00% in Cycle II. Thus, the Problem-Based Learning model is effective in enhancing students’ critical thinking skills in Indonesian Language learning at the elementary school level. ABSTRAK Penelitian ini dilatarbelakangi oleh rendahnya kemampuan berpikir kritis peserta didik pada mata pelajaran Bahasa Indonesia di kelas V SD Negeri 071005 Banua Sibohou. Hal tersebut ditunjukkan oleh sebagian besar peserta didik yang belum mencapai Kriteria Ketercapaian Tujuan Pembelajaran (KKTP) yang telah ditetapkan sekolah. Kondisi ini disebabkan oleh penggunaan metode pembelajaran yang masih berpusat pada guru (teacher-centered), sehingga peserta didik kurang aktif dalam proses pembelajaran. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan penerapan model problem-based learning serta menganalisis peningkatan kemampuan berpikir kritis peserta didik melalui model tersebut. Jenis penelitian yang digunakan adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK) model Kemmis dan McTaggart yang dilaksanakan dalam dua siklus, di mana setiap siklus terdiri atas tahapan perencanaan, tindakan, observasi, dan refleksi. Subjek penelitian adalah 11 peserta didik kelas V SD Negeri 071005 Banua Sibohou Tahun Pelajaran 2025/2026. Teknik pengumpulan data menggunakan tes, observasi, dan dokumentasi, sedangkan teknik analisis data dilakukan secara deskriptif kuantitatif dan kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan model problem-based learning dapat meningkatkan kemampuan berpikir kritis peserta didik. Hal ini dibuktikan dengan peningkatan nilai rata-rata tes kemampuan berpikir kritis peserta didik dari 54,00 dengan ketuntasan klasikal 36,36% (kategori kurang) pada Siklus I menjadi 87,00 dengan ketuntasan klasikal 90,91% (kategori sangat baik) pada Siklus II. Keaktifan peserta didik juga mengalami peningkatan dari 60,00% pada Siklus I menjadi 80,00% pada Siklus II. Dengan demikian, model problem-based learning terbukti efektif untuk meningkatkan kemampuan berpikir kritis peserta didik pada pembelajaran Bahasa Indonesia di sekolah dasar.    
PENGARUH MOTIVASI, METODE PEMBELAJARAN DAN PENGALAMAN BELAJAR MICROTEACHING TERHADAP KESIAPAN MENGAJAR MAHASISWA PENDIDIKAN AKUNTANSI UNIVERESITAS NEGERI MEDAN Dea Natalia Sembiring; Sondang Aida Silalahi; Weny Nurwendari; Pasca Dwi Putra; Haryani Pratiwi Sitompul
LEARNING : Jurnal Inovasi Penelitian Pendidikan dan Pembelajaran Vol. 6 No. 4 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/learning.v6i4.15338

Abstract

This study was motivated by the still-low teaching readiness of Accounting Education students at Medan State University, as identified through a pre-survey, particularly in the psychological (36.50%), mental (31.75%), and moral (33.33%) aspects, which prompted the researcher to examine the factors influencing it. This study aims to determine the influence of motivation, teaching methods, and microteaching learning experiences on students’ teaching readiness. The population of this study consists of all Accounting Education students enrolled in the 2022 cohort, totaling 60 students, with the sample selected using total sampling. This study employed a quantitative approach using a Likert-scale questionnaire as the data collection instrument. Data analysis was conducted using Partial Least Squares Structural Equation Modeling (PLS-SEM) with SmartPLS 4 software, involving validity and reliability tests as well as hypothesis testing using the bootstrapping procedure. The results indicate that motivation has a positive and significant effect on teaching readiness, with a T-statistic of 2.495 > 1.96 and a p-value of 0.013 < 0.05; teaching methods have a positive and significant effect with a T-statistic of 3.369 > 1.96 and a p-value of 0.001 < 0.05; and microteaching experience has a positive and significant effect with a T-statistic of 5.969 > 1.96 and a p-value of 0.000 < 0.05. Collectively, these three variables account for 68.1% of the variance in teaching readiness. The conclusion of this study is that motivation, teaching methods, and microteaching learning experiences have a positive effect on teaching readiness, with microteaching learning experiences being the most dominant variable. This study recommends strengthening the implementation of microteaching, applying innovative teaching methods, and increasing student motivation to produce competent and teaching-ready prospective teachers. ABSTRAK Penelitian ini dilatarbelakangi oleh masih rendahnya kesiapan mengajar mahasiswa Pendidikan Akuntansi Universitas Negeri Medan yang teridentifikasi melalui pra-survei, terutama pada aspek psikis (36,50%), mental (31,75%), dan moral (33,33%), sehingga mendorong peneliti untuk mengkaji faktor-faktor yang memengaruhinya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh motivasi, metode pembelajaran, dan pengalaman belajar microteaching terhadap kesiapan mengajar mahasiswa. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh mahasiswa Pendidikan Akuntansi stambuk 2022 yang berjumlah 60 mahasiswa, dengan sampel diambil menggunakan teknik total sampling. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan instrumen pengumpulan data berupa angket skala Likert, dan analisis data dilakukan menggunakan metode Partial Least Squares Structural Equation Modeling (PLS-SEM) dengan bantuan SmartPLS 4 melalui tahapan uji validitas, reliabilitas, dan pengujian hipotesis menggunakan prosedur bootstrapping. Hasil penelitian menunjukkan bahwa motivasi berpengaruh positif dan signifikan terhadap kesiapan mengajar dengan nilai T-statistics 2,495 > 1,96 dan p-values 0,013 < 0,05; metode pembelajaran berpengaruh positif dan signifikan dengan T-statistics 3,369 > 1,96 dan p-values 0,001 < 0,05; dan pengalaman belajar microteaching berpengaruh positif dan signifikan dengan T-statistics 5,969 > 1,96 dan p-values 0,000 < 0,05. Secara simultan, ketiga variabel tersebut memberikan kontribusi sebesar 68,1% terhadap kesiapan mengajar dengan nilai R-square 0,681, sedangkan sisanya 31,9% dipengaruhi oleh variabel lain di luar model penelitian. Simpulan penelitian ini adalah motivasi, metode pembelajaran, dan pengalaman belajar microteaching berpengaruh positif terhadap kesiapan mengajar, dengan pengalaman belajar microteaching sebagai variabel yang paling dominan. Penelitian ini merekomendasikan penguatan pelaksanaan microteaching, penerapan metode pembelajaran inovatif, dan peningkatan motivasi mahasiswa untuk menghasilkan calon guru yang kompeten dan siap mengajar.    
ANALISIS PENGGUNAAN MEDIA PEMBELAJARAN BAHASA INDONESIA PADA MATERI BELAJAR BERWIRAUSAHA BERDASARKAN GAYA BELAJAR PESERTA DIDIK KELAS V SD NEGERI 076686 TETEHOSI SOROWI Kasiani Nazara; Wahyutra Adilman Telaumbanua; Dernius Hura
LEARNING : Jurnal Inovasi Penelitian Pendidikan dan Pembelajaran Vol. 6 No. 4 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/learning.v6i4.15339

Abstract

The use of learning media tailored to students' diverse learning styles is the key to creating an inclusive and effective learning process. However, the implementation of media based on learning style differentiation in the Merdeka Curriculum has not been optimally carried out in elementary schools. This study aims to describe the implementation of Indonesian language learning on the subject of Entrepreneurship Learning, identify students' learning styles, and analyze the use of learning media based on the learning styles of fifth-grade students at SD Negeri 076686 Tetehosi Sorowi. This study uses a descriptive qualitative approach with main informants consisting of one fifth-grade teacher and 10 students selected purposively, alongside 22 students as supporting questionnaire respondents. Data collection techniques were carried out through observation, interviews, questionnaires, and documentation, while data analysis used data reduction, data display, and conclusion drawing. The results indicate that learning implementation is still teacher-centered with media usage limited to textbooks, whiteboards, and simple pictures. Students exhibit visual, auditory, and kinesthetic learning styles, with a dominant tendency toward visual learning styles. The questionnaire results show that the visual learning style obtained the highest percentage of 72.50% (54.55% dominant), followed by auditory at 68.30% (13.64% dominant), and kinesthetic at 65.00% (31.82% dominant). The required learning media are varied, engaging, interactive, and capable of accommodating all three learning styles. This study demonstrates that adapting learning media to students' learning styles can foster more effective and meaningful Indonesian language learning. ABSTRAK Penggunaan media pembelajaran yang disesuaikan dengan beragam gaya belajar peserta didik merupakan kunci utama dalam menciptakan proses pembelajaran yang inklusif dan efektif. Namun, penerapan media berbasis diferensiasi gaya belajar pada materi Kurikulum Merdeka masih belum dilaksanakan secara optimal di sekolah dasar. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan pelaksanaan pembelajaran Bahasa Indonesia pada materi Belajar Berwirausaha, mengidentifikasi gaya belajar peserta didik, serta menganalisis penggunaan media pembelajaran berdasarkan gaya belajar peserta didik kelas V SD Negeri 076686 Tetehosi Sorowi. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan informan utama satu orang guru kelas V dan 10 peserta didik yang dipilih secara purposive, serta 22 peserta didik sebagai responden angket pendukung. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui observasi, wawancara, angket, dan dokumentasi, sedangkan analisis data menggunakan prosedur reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pelaksanaan pembelajaran masih berpusat pada guru (teacher-centered) dengan penggunaan media yang terbatas pada buku paket, papan tulis, dan gambar sederhana. Peserta didik memiliki gaya belajar visual, auditori, dan kinestetik, dengan kecenderungan dominan pada gaya belajar visual. Hasil angket menunjukkan gaya belajar visual memperoleh persentase tertinggi sebesar 72,50% (54,55% dominan), diikuti auditori 68,30% (13,64% dominan), dan kinestetik 65,00% (31,82% dominan). Media pembelajaran yang dibutuhkan adalah media yang variatif, menarik, interaktif, serta mampu mengakomodasi ketiga gaya belajar tersebut. Penelitian ini menunjukkan bahwa penggunaan media pembelajaran yang disesuaikan dengan gaya belajar peserta didik dapat menciptakan pembelajaran Bahasa Indonesia yang lebih efektif dan bermakna.