cover
Contact Name
suparna wijaya
Contact Email
life.jurnalku@gmail.com
Phone
+6287780663168
Journal Mail Official
life.jurnalku@gmail.com
Editorial Address
Serpong, Tangerang Selatan
Location
Unknown,
Unknown
INDONESIA
Indonesian Journal of Health Science
Published by PT WIM Solusi Prima
ISSN : -     EISSN : 28091167     DOI : https://doi.org/10.54957/ijhs
Core Subject : Health,
Indonesian Journal of Health Science is a place for disseminating research results in the field of health, including, but not limited to topics of public health, environmental health, occupational health, pharmacy, nutrition, epidemiology, medical laboratories, physiotherapy, or other general health.
Articles 25 Documents
Search results for , issue "Vol 5 No 1 (2025)" : 25 Documents clear
Asuhan keperawatan pada keluarga dengan caries gigi dan gout arthritis di Gampong Miruek Taman Kecamatan Darussalam Kabupaten Aceh Besar Ayun, Qurrata; Hartaty, Neti; Hidayati, Husna
Indonesian Journal of Health Science Vol 5 No 1 (2025)
Publisher : PT WIM Solusi Prima

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54957/ijhs.v5i1.1343

Abstract

Background: Dental caries is a common health issue within families, particularly affecting children aged 3–5 years. It can reduce the quality of life by causing pain in the teeth and mouth. Another prevalent family health issue is gout arthritis, which can lead to joint damage, tophi formation, heart disease, kidney stones, kidney failure, and other complications. This Final Scientific Paper aimed to describe nursing care for families dealing with dental caries and gout arthritis. The research utilized a case study approach conducted in Miruek Taman Village, Darussalam Subdistrict, Aceh Besar Regency. Based on assessments carried out from November 7 to 10, 2024, the priority nursing diagnoses identified were ineffective health self-management for gout arthritis and ineffective health maintenance behavior for dental caries. Interventions were based on the five main tasks of family health. For gout arthritis, interventions included health education about a low-purine diet and pain relief techniques using warm compresses with moringa leaves. For dental caries, interventions involved teaching proper tooth brushing techniques and limiting the consumption of sweet foods and drinks. Evaluation results showed improved family knowledge and skills regarding gout arthritis and dental caries. It is recommended that family nurses conduct regular home visits and provide accurate information to enhance family knowledge, particularly concerning dental caries and gout arthritis. Latar belakang: Caries gigi merupakan masalah kesehatan yang sering terjadi di keluarga. Umumnya terjadi pada anak-anak yang berumur 3-5 tahun dan berdampak pada penurunan kualitas hidup anak seperti timbulnya rasa nyeri pada gigi dan mulut. Sedangkan penyakit lainnya yang sering terjadi dikeluarga ialah Gout Arthritis. Gout Arthritis dapat memicu terjadinya kelompok penyakit kerusakan sendi, terbentuknya tofi, penyakit jantung, batu ginjal, gagal ginjal dan lain sebagainya. Tujuan: Karya Ilmiah Akhir (KIA) ini adalah untuk memberikan gambaran tentang asuhan keperawatan pada keluarga dengan masalah caries gigi dan Gout Arthritis. Metode: penelitian ini menggunakan studi kasus yang dilakukan di desa Miruek Taman Kecamatan Darussalam Aceh Besar. Berdasarkan pengkajian yang dilakukan pada tanggal 7 sampai 10 November 2024 didapatkan diagnosa keperawatan prioritas yang muncul pada keluarga adalah Ketidakefektifan manajemen mandiri kesehatan: Gout Arthritis dan ketidakefektifan perilaku pemeliharaan kesehatan: Caries gigi. Intervensi diberikan berdasarkan lima tugas utama kesehatan keluarga. Intervensi yang diberikan untuk Gout Arthritis adalah, berupa pendidikan kesehatan tentang diet rendah purin dan cara mengurangi nyeri dengan kompres hangat menggunakan daun kelor. Untuk caries gigi Mengajarkan cara menyikat gigi yang benar dan membatasi konsumsi makanan dan minuman manis. Hasil evaluasi menunjukkan adanya peningkatan pengetahuan dan keterampilan keluarga tentang Gout Arthritis dan caries gigi. Disarankan kepada perawat keluarga agar melakukan homevisit secara berkala dengan dan dapat memberikan informasi yang tepat untuk meningkatan pengetahuan keluarga khususnya mengenai Caries gigi dan Gout Arthritis.
Asuhan keperawatan pasien acute respiratory failure et causa ensefalopati uremikum di ICU: Studi kasus Monicha, Ecy Oktaviana; Jufrizal, Jufrizal; Aklima, Aklima
Indonesian Journal of Health Science Vol 5 No 1 (2025)
Publisher : PT WIM Solusi Prima

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54957/ijhs.v5i1.1344

Abstract

Latar belakang: Acute respiratory failure (ARF) merupakan kondisi kritis dimana sistem pernapasan gagal untuk mempertahankan pertukaran gas yang memadai yang ditandai dengan hipoksemia atau hiperkapnia atau keduanya. Salah satu faktor penyebab ARF adalah ensefalopati uremikum. Pasien dengan ensefalopati uremikum akan terjadi penumpukan ureum sehingga pasien mengalami penurunan kesadaran dan bahkan koma, yang dapat mengakibatkan ketidakmampuan untuk mempertahankan ventilasi spontan. Tujuan: Studi kasus ini bertujuan untuk dengan melakukan dan mendeskripsikan asuhan keperawatan pada pasien dengan acute respiratory failure et causa ensefalopati uremikum. Metode:Penelitian ini menggunakan studi kasus dengan pendekatan asuhan keperawatan keluarga yang meliputi pengkajian, penetapan diagnosa, intervensi, implementasi, dan evaluasi. Hasil: Hasil studi kasus menunjukkan bahwa diagnosa yang muncul pada Ny. AR yaitu risiko aspirasi dengan rencana keperawatan pencegahan aspirasi, gangguan pertukaran gas dengan rencana keperawatan manajemen ventilasi mekanik, penurunan kapasitas adaptif intrakranial dengan rencana keperawatan peningkatan tekanana intrakranial dan ketidakstabilan glukosa darah dengan rencana keperawatan manajemen hiperglikemia. Kesimpulan: Terdapat sebagian perbaikan pada kondisi pasien seperti terjadi peningkatan kesadaran, tidak terdapat residu lambung, dan tidak terdengar suara napas tambahan namun harus dilakukan peningkatan intervensi lainnya diakibatkan kondisi pasien yang belum stabil. Rekomendasi: Diharapkan pelaksanaan penanganan pasien dapat dilakukan segera dengan intervensi yang menunjang perbaikan kondisi pasien dan terus meningkatkan asuhan keperawatan pada pasien acute respiratory failure.
Asuhan keperawatan keluarga dengan hipertensi di Aceh Besar Putri, Nadhira Alya; Hidayati, Husna; Arnita, Yuni
Indonesian Journal of Health Science Vol 5 No 1 (2025)
Publisher : PT WIM Solusi Prima

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54957/ijhs.v5i1.1345

Abstract

Background: hypertension is one of the health problems in the world which is also referred to as silent killer or silent disease, which is a deadly disease without any signs and symptoms first. Hypertension is also still a top priority in global health. There are several factors that can cause hypertension such as: age, gender, and lifestyle. Objective: this final scientific paper is to provide nursing care to families with hypertension problems. Methods: this study uses a case study with a family nursing care approach which includes assessment, diagnosis determination, intervention, implementation, and evaluation. Results: The family nursing intervention provided was related to five family health tasks, namely identifying problems with hypertension, providing support and motivation to families to care for family members experiencing hypertension problems, simple demonstrations of the DASH (Dietary Approch to Stop Hypertension) diet and hypertension exercises, creating a comfortable living environment, and encouraging families to use nearby health facilities. Conclusion: Family nursing care related to the five family health tasks is very important to improve family knowledge, skills, motivation and improve healthy behaviors in daily life. Suggestion: It is expected that the health center will routinely conduct health checks with the home visit method, especially for family members who have difficulty visiting health facilities. Latar belakangan: hipertensi adalah salah satu masalah Kesehatan di dunia yang juga disebut sebagai silent killer atau silent disease yaitu penyakit yang mematikan tanpa adanya tanda dan gejala terlebih dahulu. Hipertensi juga masih menjadi prioritas utama dalam kesehatan global. terdapat beberapa faktor yang dapat menyebabkan hipertensi seperti: usia, jenis kelamin, dan pola hidup. Tujuan: karya ilmiah akhir ini ialah untuk memberikan asuhan keperawatan pada keluarga dengan masalah hipertensi. Metode: penelitian ini menggunakan studi kasus dengan pendekatan asuhan keperawatan keluarga yang meliputi pengkajian, penetapan diagnose, intervensi, implementasi, dan evaluasi. Hasil: Intervensi keperawatan keluarga yang diberikan terkait dengan lima tugas kesehatan keluarga yaitu mengidentifikasi masalah tentang hipertensi, memberikan dukungan dan motivasi kepada keluarga untuk merawat anggota keluarga yang mengalami masalah hipertensi, demonstrasi sederhana diet DASH (Dietary Approch to Stop Hypertension) dan senam hipertensi, menciptakan lingkungan hidup yang nyaman, serta mendorong keluarga untuk menggunakan fasilitas kesehatan terdekat. Kesimpulan: Asuhan keperawatan keluarga berkaitan dengan lima tugas kesehatan keluarga sangat penting untuk meningkatkan pengetahuan, keterampilan, motivasi keluarga dan meningkatkan perilaku sehat dikehidupan sehari-hari. Saran: Diharapkan kepada puskesmas untuk rutin melakukan pemeriksaan kesehatan dengan metode home visit terutama bagi anggota keluarga yang sulit mengunjungi fasilitas kesehatan.
Imunitas komunitas dalam dinamika penyebaran sifilis pada remaja: Kajian naratif Kwarta, Cityta Putri; Fathiyyah, Nurul; Imeldawati, Rakhmalia; Ganisia, Ainun; Kusumawardani, Lentera Afrida
Indonesian Journal of Health Science Vol 5 No 1 (2025)
Publisher : PT WIM Solusi Prima

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54957/ijhs.v5i1.1349

Abstract

Sexually Transmitted Infections (STIs), particularly syphilis, are a significant global health issue among adolescents, requiring an understanding of community immunity to manage its transmission. This study aims to analyze the factors influencing the spread of syphilis among adolescents and the role of community immunity in suppressing the infection rate. The research method used is a literature review from various academic databases, including PubMed, Scopus, and Google Scholar, with inclusion criteria for cohort, case-control, and cross-sectional studies, and exclusion criteria for animal and in vitro studies. The research results show that social, cultural, and economic factors play an important role in the spread of syphilis among adolescents. Community immunity in this context is not achieved through vaccination, but rather through collective behavioral changes and effective public health interventions. Community-based approaches involving families, schools, healthcare workers, and community organizations are crucial in building community immunity against syphilis. The active involvement of families and communities in providing sexual education also plays a crucial role in creating an environment that supports the sexual health of adolescents. This research concludes that a holistic and multidisciplinary community-based approach is essential to address the issue of syphilis among adolescents. Prevention and control efforts must involve changes in individual and collective behavior, as well as be supported by strong public health policies and adequate resources. By building strong community immunity, it is hoped that the spread of syphilis among adolescents can be significantly reduced, thereby improving overall public health. Infeksi Menular Seksual (IMS), terutama sifilis, merupakan masalah kesehatan global yang signifikan di kalangan remaja, memerlukan pemahaman tentang imunitas komunitas untuk mengelola penularannya. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor-faktor yang memengaruhi penyebaran sifilis pada remaja dan peran imunitas komunitas dalam menekan laju infeksi. Metode penelitian yang digunakan adalah penelusuran literatur dari berbagai database akademik, termasuk PubMed, Scopus, dan Google Scholar, dengan kriteria inklusi studi kohort, kasus-kontrol, dan cross-sectional, serta kriteria eksklusi studi pada hewan dan in vitro. Hasil penelitian menunjukkan bahwa faktor sosial, budaya, dan ekonomi memiliki peran penting dalam penyebaran sifilis pada remaja. Imunitas komunitas dalam konteks ini tidak dicapai melalui vaksinasi, melainkan melalui perubahan perilaku kolektif dan intervensi kesehatan masyarakat yang efektif. Pendekatan berbasis komunitas yang melibatkan keluarga, sekolah, tenaga kesehatan, dan organisasi masyarakat, sangat penting dalam membangun imunitas komunitas terhadap sifilis. Keterlibatan aktif keluarga dan komunitas dalam memberikan edukasi seksual juga berperan penting dalam menciptakan lingkungan yang mendukung kesehatan seksual remaja. Penelitian ini menyimpulkan bahwa pendekatan berbasis komunitas yang holistik dan multidisiplin sangat diperlukan untuk mengatasi masalah sifilis di kalangan remaja. Upaya pencegahan dan pengendalian harus melibatkan perubahan perilaku individu dan kolektif, serta didukung oleh kebijakan kesehatan masyarakat yang kuat dan sumber daya yang memadai. Dengan membangun imunitas komunitas yang kuat, diharapkan penyebaran sifilis pada remaja dapat ditekan secara signifikan, sehingga meningkatkan kesehatan masyarakat secara keseluruhan.
Asuhan keperawatan pasien post craniotomy et causa sol intrakranial di intensive care unit: Studi kasus Tifany, Adinda; Nurhidayah, Irfanita; Fikriyanti, Fikriyanti
Indonesian Journal of Health Science Vol 5 No 1 (2025)
Publisher : PT WIM Solusi Prima

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54957/ijhs.v5i1.1353

Abstract

Space Occupying Lesion (SOL) is a critical condition that requires intensive care in monitoring hemodynamic stabilization. SOL refers to a mass or lesion that occupies space within the skull. The pressure from this lesion causes neurological disturbances and increased intracranial pressure (ICP). One of the medical management strategies for SOL patients is craniotomy. This case study aims to describe the nursing care for patients with post-operative craniotomy due to intracranial SOL in the Intensive Care Unit. The methodology used is a case study. The results of this case study show that the diagnoses encountered in the patient include decreased intracranial adaptive capacity, gas exchange disturbances, aspiration risk, infection risk, and ventilator weaning disturbances. The interventions used include intracranial pressure management (ICP), mechanical ventilation management to prevent aspiration, infection prevention, and mechanical ventilation weaning. The conclusion of this case study is that there has been some improvement in the diagnoses, such as gas exchange disturbances and successful ventilator weaning. However, other interventions have not been optimal due to the patient's unstable condition. It is hoped that the patient’s management can be carried out promptly with interventions that support the improvement of the patient’s condition. Space Occupying Lesion (SOL) suatu kondisi kritis yang memerlukan perawatan intensif dalam pemantauan stabilisasi hemodinamik. SOL merupakan massa atau lesi yang mengisi ruang di dalam tengkorak. Pendesakan akibat lesi tersebut mengakibatkan gangguan neurologis dan peningkatan tekanan intrakranial (TIK). Penatalaksanaan medis pasien SOL salah satunya adalah craniotomy. Tujuan dari studi kasus ini adalah untuk mendeskripsikan asuhan keperawatan pada pasien dengan post op craniotomy et causa SOL intrakranial di Intensive Care Unit. Metodologi yang digunakan adalah case study. Hasil studi kasus menunjukkan bahwa diagnosa yang muncul pada pasien yaitu penurunan kapasitas adaptif intrakranial, gangguan pertukaran gas, risiko aspirasi, gangguan penyapihan ventilator, dan risiko infeksi. Intervensi yang digunakan adalah manajemen peningkatan intrakranial (PTIK), manajemen ventilasi mekanik pencegahan aspirasi, penyapihan ventilasi mekanik, dan pencegahan infeksi.  Kesimpulan dari studi kasus ini adalah terdapat sebagaian perbaikan pada diagnosa yaitu gangguan pertukaran gas dan keberhasilan penyapihan ventilator, namun intervensi lainnya belum optimal dikarenakan kondisi pasien yang belum stabil. Diharapkan pelaksanaan penanganan pasien dapat dilakukan segera dengan intervensi yang menunjang perbaikan kondisi pasien.
Asuhan keperawatan keluarga dengan masalah merokok dan kesehatan reproduksi pada remaja: Studi kasus Listia, Vera; Fithria, Fithria; Hartaty, Neti
Indonesian Journal of Health Science Vol 5 No 1 (2025)
Publisher : PT WIM Solusi Prima

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54957/ijhs.v5i1.1355

Abstract

Background: Adolescence is often faced with smoking and reproductive health problems. Smoking may cause non-communicable diseases such as hypertension and stroke, while reproductive health are essential and need serious attention to prevent disruptions in the reproductive organs. Aim of Researc: This study aims to provide an overview of nursing care for families with issues related to smoking and reproductive health in adolescents. Research method: This used method with a case study approach to nursing care, including reviewing, est ablishing diagnosis, planning, implementing, and evaluating. Result of Study: Nursing planning was taken according to five family health tasks; recognizing problems, making an appropriate decision, providing care to sick family members, modifying the environment, and using health facilities. The intervention given on the issue of smoking behavior was health care about the concept of smoking, teaching SEFT therapy (Spiritual Emotional Freedom Technique) to overcome the desire to smoke, modifying the home environment to be smoke-free, and utilization of health services. Intervention provided for reproductive health issues was health care about reproduction health care, teaching how to overcome menstruation pain through abdominal stretching exercises, modifying the behavior in caring for the reproductive organ appropriately, and introducing nearby healthcare facilities that can be used for health checks. Conclusion: After the intervention there was an improvement in the family’s knowledge, skill, and motivation in improving the health status by fulfilling five family health tasks. Recommendation: It was expected the community health center nurses can apply SEFT techniques to address smoking behavior in adolescents, as well as teach abdominal stretching exercises to reduce menstrual pain in adolescent girls. Latar belakang: Masa remaja sering dihadapkan pada masalah merokok dan kesehatan reproduksi. Merokok dapat menyebabkan penyakit tidak menular seperti hipertensi dan stroke, sementara kesehatan reproduksi menjadi hal penting dan perlu mendapatkan perhatian serius untuk mencegah terjadinya gangguan pada organ reproduksi. Tujuan: Karya tulis ilmiah ini bertujuan untuk memberikan gambaran tentang asuhan keperawatan keluarga dengan masalah merokok dan kesehatan reproduksi pada remaja. Metode: Penelitian ini menggunakan studi kasus dengan pendekatan asuhan keperawatan keluarga yang meliputi pengkajian, penetapan diagnosa, perencanaan, implementasi, dan evaluasi. Hasil: Perencanaan keperawatan disusun berdasarkan lima tugas kesehatan keluarga yaitu mengenal masalah, mengambil keputusan yang tepat, memberikan perawatan kepada anggota keluarga yang sakit, memodifikasi lingkungan dan memanfaatkan fasilitas kesehatan. Intervensi yang diberikan pada masalah perilaku merokok berupa pendidikan kesehatan tentang konsep merokok, mengajarkan terapi SEFT (Spiritual Emotional Freedom Technique), memodifikasi lingkungan rumah bebas asap rokok serta memanfaatkan fasilitas kesehatan. Intervensi yang diberikan untuk masalah kesehatan reproduksi adalah pendidikan kesehatan tentang konsep kesehatan reproduksi, mengajarkan cara mengurangi nyeri menstruasi dengan abodminal stretching exercise, memodifikasi perilaku dalam merawat organ reproduksi yang benar, serta mengenalkan fasilitas kesehatan terdekat yang bisa digunakan untuk pemeriksaan kesehatan. Kesimpulan: Setelah diberikan intervensi, keluarga menunjukkan adanya peningkatan pengetahuan, keterampilan dan motivasi dalam meningkatkan status kesehatan dengan memenuhi lima tugas kesehatan keluarga. Saran: Diharapkan kepada perawat puskesmas dapat menerapkan teknik SEFT untuk mengatasi perilaku merokok pada remaja, serta dapat mengajarkan abodminal stretching exercise untuk mengurangi nyeri menstruasi pada remaja putri.
Fisioterapi pada kasus Bell's Palsy Sinistra dengan modalitas infrared, Electrical Stimulation (ES) dan massage di RS Hermina Bogor Rantika, Wa Ode; Fatimah, Danisa Nurul; Fuadi, Dela Fariha; Ningrum, Rina Yusika Widya
Indonesian Journal of Health Science Vol 5 No 1 (2025)
Publisher : PT WIM Solusi Prima

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54957/ijhs.v5i1.1359

Abstract

Bell's palsy adalah kelumpuhan wajah yang memengaruhi neuron motorik bawah dengan penyebab yang tidak diketahui (idiopatik) yang umumnya muncul secara akut, unilateral, dan melibatkan satu saraf. Prevalensi Bell's palsy di Indonesia sekitar 19,55%, dan sebagian besar terjadi pada usia dewasa muda hingga dewasa tengah. Studi kasus ini menyoroti seorang wanita berusia 46 tahun dengan Bell's Palsy, yang memiliki riwayat kelemahan wajah selama 1,5 bulan tanpa pengobatan. Setelah gejalanya memburuk, pasien datang ke rumah sakit. Menurut pasien, ia kesulitan untuk mengerutkan dahi, menutup mata, dan tersenyum. Pasien juga didiagnosis dengan diabetes mellitus dan hipertensi. Secara keseluruhan, pemeriksaan menunjukkan penurunan kekuatan otot wajah, fungsi sensori, kemampuan fungsional, serta kejang otot. Pasien menyelesaikan 6 sesi terapi dua kali seminggu di unit fisioterapi RS Hermina Bogor. Pasien juga melakukan latihan cermin di rumah dua kali sehari. Kekuatan otot wajah menunjukkan perbaikan, terutama pada m. orbicularis oculi dan m. orbicularis oris. Pada akhir penelitian, pasien mengalami peningkatan kemampuan fungsional wajah dari tingkat buruk menjadi moderat. Pemulihan yang lebih baik setelah intervensi dengan Infrared, ES, dan Pijat dapat dilakukan dengan aman dan berhasil pada pasien dengan Bell's Palsy.
Penatalaksanaan fisioterapi pada post operasi rekonstruksi ACL dengan TENS dan terapi latihan Fikri, Nuraini; Yvonne, Byanca Sylvia; Saputra, Andrew Wijaya; Nesi; Hayuningrum, Cicilia F.; Nuryanto, M. Ruslan
Indonesian Journal of Health Science Vol 5 No 1 (2025)
Publisher : PT WIM Solusi Prima

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54957/ijhs.v5i1.1364

Abstract

Anterior Cruciate Ligament (ACL) adalah salah satu ligamen yang paling sering mengalami cedera pada area lutut, baik secara langsung maupun tidak langsung dan sering kali tidak hanya satu ligament yang rusak akibat cedera tunggal. Cedera ACL dibagi menjadi 2 yaitu cedera kontak dan non-kontak, pada penelitian ini penulis ingin membahas mekanisme cedera ACL secara non-kontak yang berdasarkan kondisi dan kejadian pasien yang berada di RS Hermina Depok. Kejadian mekanisme cedera ACL yang paling banyak adalah non-kontak. Mekanisme kejadian cedera ACL non-kontak yang paling sering terjadi karena adanya mekanisme rotasional ketika tibia mengalami eksorotasi pada saat kaki menapak dan adanya hiperekstensi paksa pada lutut. Bertujuan untuk mengetahui penatalaksanaan fisioterapi dengan modalitas TENS dan Terapi Latihan pada kasus post operasi rekonstruksi ACL sinistra dalam mengurangi nyeri gerak, menambah lingkup gerak sendi dan meningkatkan kekuatan otot. Setelah dilakukan terapi selama 5 kali pertemuan didapatkan hasil adanya pengurangan nyeri gerak T1 (5) menjadi T5 (2), peningkatan LGS T1 (68◦) menjadi T5 (110◦) dan peningkatan kekuatan otot T1 (3) menjadi T5 (4). Sehingga dapat disimpulkan bahwa penatalaksanaan Fisioterapi dengan modalitas TENS dan Terapi Latihan dapat mengurangi nyeri gerak, meningkatkan LGS dan peningkatan kekuatan otot pada pasien post operasi rekonstruksi ACL.
Penatalaksanaan fisioterapi pada kasus post ORIF fraktur distal humerus dextra dengan active ROM dan isometric exercise di rumah sakit Hermina Bogor Puspita, Dyas Nurvitasari; Risti, Nur Fadhilah; Rantika, Wa Ode; Elfiyani, Nur Khotimah
Indonesian Journal of Health Science Vol 5 No 1 (2025)
Publisher : PT WIM Solusi Prima

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54957/ijhs.v5i1.1365

Abstract

Fraktur humerus distal merupakan patah di ujung bawah tulang pada lengan atas (humerus) yang dapat ditangani dengan dilakukannya tindakan ORIF. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui penatalaksanaan fisioterapi pada kasus post ORIF fraktur distal humerus dengan menggunakan active ROM exercise dan isometric exercise. Metode penelitian ini menggunakan metode studi kasus, dilakukan intervensi sebanyak 6 kali selama 1 bulan, pengukuran nyeri dengan VAS, bengkak dengan midline, kekuatan otot dengan MMT, ROM dengan goniometer, spasme otot dan tightness dengan palpasi. Setelah dilakukan intervensi fisioterapi selama 6 kali pertemuan didapatkan penurunan nyeri tekan T1 = 6 menjadi T6 = 4, nyeri gerak T1 = 7 menjadi T6 = 4. Adanya penurunan bengkak T1 = 31 cm menjadi T6 = 29 cm. Terdapat peningkatan kekuatan otot pada gerakan fleksi, ekstensi, abduksi, adduksi shoulder T1 = 3 menjadi T6 = 4, pada gerakan fleksi, ekstensi elbow T1 = 3 menjadi T6 = 4, gerakan pronasi dan supinasi forearm T1 = 4 menjadi T6 = 5. Terdapat peningkatan ROM pada regio shoulder T1 = S:24°-0°-120° menjadi T6 = S:34°-0°-132°, T1 = F: 20°-0°-40° menjadi T6 = F:33°-0°-57° pada regio elbow T1 = S: 88°-90°-110° menjadi T6 = S:72°-75°-128°, pada regio forearm T1 = T:86°-0°-74° menjadi T6 = T:90°-0°-78°. Terdapat penurunan spasme otot dan  tightness. Kesimpulan dari penelitian ini adalah active ROM exercise dan isometric exercise dapat mengurangi nyeri, bengkak, meningkatkan kekuatan otot, ROM pada kasus post ORIF fraktur distal humerus dextra.
Asuhan keperawatan pada ny. LS dengan mola hidatidosa di rumah sakit umum daerah dr. Zainoel Abidin Banda Aceh Jannah, Rizka Raudhatul; Darmawati, Darmawati; Kiftia, Mariatul
Indonesian Journal of Health Science Vol 5 No 1 (2025)
Publisher : PT WIM Solusi Prima

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54957/ijhs.v5i1.1368

Abstract

Mola hidatidosa akan berdampak pada morbiditas dan mortalitas wanita usia subur jika tidak dideteksi dan ditangani segera. Prevalensi masalah kasus mola pada tahun 2020 di RSUD dr. Zainoel Abidin didapatkan pasien dengan kasus mola hidatidosa sebanyak 22 (3.68%) dan 3 pasien (0.46%) dengan kasus mola invasif. Tujuan dari studi kasus ini adalah untuk menerapkan asuhan keperawatan pada pasien dengan mola hidatidosa post kuretase. Metode penelitian yang digunakan yaitu case study. Masalah keperawatan yang muncul pada kasus ini meliputi pre-kuretase yaitu defisit nutrisi dan perfusi perifer tidak efektif dan post-kuretase yaitu nyeri akut, risiko syok dan risiko infeksi. Intervensi utama yang diberikan yaitu edukasi terapi distraksi melalui murattal Al-Qur’an dan terapi kompres air hangat sesuai evidence based practice, edukasi terkait makanan tinggi kalori dan protein serta menganjurkan makan sedikit tapi sering untuk meningkatkan frekuensi makan, edukasi dan demonstrasi perawatan perineum dan mengenali tanda gejala infeksi saat di rumah. Hasil evaluasi selama 4 hari didapatkan perfusi perifer tidak efektif dan defisit nutrisi teratasi serta nyeri akut, risiko syok dan risiko infeksi teratasi sebagian dibuktikan dengan tercapainya beberapa tujuan dari kriteria hasil yang telah ditetapkan. Diharapkan laporan ini dapat menjadi salah satu sumber rujukan dalam menerapkan asuhan keperawatan pada ibu dengan mola hidatidosa.

Page 2 of 3 | Total Record : 25