cover
Contact Name
Azharsyah Ibrahim
Contact Email
jurnal.share@ar-raniry.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
jurnal.share@ar-raniry.ac.id
Editorial Address
Share: Jurnal Ekonomi dan Keuangan Islam Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam UIN Ar-Raniry Banda Aceh, 2nd Floor Jln. Syech Abdur Rauf Banda Aceh 23111, Aceh, Indonesia Email: jurnal.share@ar-raniry.ac.id
Location
Kota banda aceh,
Aceh
INDONESIA
Share: Jurnal Ekonomi dan Keuangan Islam
ISSN : 20896239     EISSN : 25490648     DOI : https://doi.org/10.22373/share
Core Subject : Religion, Economy,
Share: Jurnal Ekonomi dan Keuangan Islam [SHARE] is a double-blind peer-reviewed journal published by the Faculty of Islamic Economics and Business, Universitas Islam Negeri Ar-Raniry, Banda Aceh, Indonesia. SHARE publishes research and concept papers pertaining to the field of Islamic economics and finance in open access format, which enables readers to freely access and download the articles under the CC BY SA license. Since 2017, SHARE has become a CrossRef Member, meaning that each article published by the journal will have a unique DOI number. SHARE has been indexed in many trusted indexing sites, such as DOAJ, Index Copernicus, Scilit, WorldCat, Google Scholar, Dimensions, EBSCO, and many others. In Indonesia, SHARE is listed among the top-notch journals by the Indonesian journal accreditation body officialized with the Decree of Director General of Research Strengthening and Advancement, Ministry of Research, Technology, and Higher Education, No. 21/E/KPT/2018, starting from 9 July 2018 until 9 July 2023. Currently, SHARE is under consideration for inclusion in SCOPUS.
Articles 328 Documents
Bibliometric Analysis of Islamic Finance: Mapping Growth and Research Trends Kumara, Gatot Kunta; Nugraha, Nugraha
Share: Jurnal Ekonomi dan Keuangan Islam Vol. 13 No. 2 (2024)
Publisher : Faculty of Islamic Economics and Business, Universitas Islam Negeri Ar-Raniry

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22373/share.v13i2.21905

Abstract

Islamic finance, a rapidly expanding sector, integrates financial principles with Islamic moral and ethical guidelines derived from the Quran and Hadith. This study conducts a thorough analysis of literature reviews in this field to discern its growth and collaborative dynamics. The primary objective of this research is to analyze literature reviews on Islamic finance using the Scopus database, thereby providing insights into publication trends, influential countries, and emerging research themes. An initial dataset of 231 publications was extracted from the Scopus database and refined to 139 publications for detailed bibliometric analysis using VOSviewer software. The analysis revealed that the year 2023 had the highest number of journal publications, totaling 21 articles, while the highest citation count, 221, was recorded in 2014. These publications are globally dispersed across America, Asia, Africa, Australia, and Europe. The most influential countries with substantial international collaboration include the United States, Indonesia, the United Kingdom, Saudi Arabia, and Malaysia. The study concludes that Islamic finance is a burgeoning financial market segment that promotes equitable financial and economic frameworks. The increasing demand for Sharia-compliant financial products and the advancement of Islamic financial institutions are noteworthy trends. The findings offer deeper insights into the evolution of Islamic finance research, identify centers of excellence, and delineate current research trends. This foundational framework will assist researchers, practitioners, and academics in navigating the future development of Islamic finance research, thereby fostering growth and innovation in the field.========================================================================================================ABSTRAK – Analisis Blibliometrik Keuangan Islam: Pemetaan Perkembangan dan Tren Riset. Sistem keuangan Islam, dalam praktiknya, mengintegrasikan nilai-nilai moral dan etika Islam yang bersumber dari Al-Quran dan Hadits. Penelitian ini melakukan analisis menyeluruh terhadap tinjauan literatur di bidang ini untuk memahami perkembangan dan dinamika kolaborasinya. Tujuan utamanya adalah menganalisis tinjauan literatur terkait keuangan Islam menggunakan basis data Scopus, untuk mendapatkan gambaran tentang tren publikasi, negara-negara berpengaruh, dan tema penelitian yang muncul. Dataset awal sebanyak 231 publikasi diekstraksi dan disaring menjadi 139 publikasi untuk analisis bibliometrik menggunakan aplikasi VOSviewer. Hasil analisis menunjukkan bahwa tahun 2023 memiliki jumlah publikasi tertinggi, yaitu 21 artikel, sementara jumlah sitasi tertinggi (221) tercatat pada tahun 2014. Publikasi ini tersebar di berbagai benua, dimana negara-negara yang paling berpengaruh dengan kerjasama internasional yang signifikan adalah Amerika Serikat, Indonesia, Inggris, Arab Saudi, dan Malaysia. Penelitian ini menyimpulkan bahwa keuangan Islam merupakan segmen pasar keuangan yang berkembang pesat yang mempromosikan kerangka keuangan dan ekonomi yang adil. Permintaan yang meningkat untuk produk-produk keuangan yang sesuai Syariah dan perkembangan lembaga keuangan Islam adalah tren yang patut menjadi perhatian. Temuan ini memberikan pemahaman yang lebih dalam tentang evolusi penelitian keuangan Islam, mengidentifikasi pusat-pusat keunggulan, dan menjelaskan tren penelitian saat ini. Kerangka dasar ini akan membantu peneliti, praktisi, dan akademisi dalam menavigasi perkembangan masa depan penelitian keuangan Islam, sehingga mendorong pertumbuhan dan inovasi di bidang ini.
Is the Merger Effective for Indonesian Islamic Banks? Budiantoro, Risanda Alirastra; Rachman, Mohammad Aulia; Tsani, Luthfi Ibnu; Millatina, Afifah Nur; Fatimatuzzahro, Fatimatuzzahro
Share: Jurnal Ekonomi dan Keuangan Islam Vol. 13 No. 2 (2024)
Publisher : Faculty of Islamic Economics and Business, Universitas Islam Negeri Ar-Raniry

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22373/share.v13i2.22036

Abstract

The low competitiveness of the Islamic banking sector has raised significant concerns within the government regarding the future viability of this financial industry in Indonesia. In response, a merger has been proposed as a strategic policy to strengthen and enhance the Islamic banking framework. This study seeks to assess the effectiveness of the merger strategy involving three state-owned Islamic banks—Bank Syariah Mandiri, BNI Syariah, and BRI Syariah—which have consolidated to form Bank Syariah Indonesia (BSI). The study employs a qualitative exploratory approach, utilizing analytical tools such as the Five Forces Model and SWOT analysis. The findings indicate that the merger strategy has been effective, as the management of the newly established entity has successfully implemented a range of initiatives to enhance the competitiveness of Islamic banking within the financial sector. These initiatives include product differentiation, innovation, a strong emphasis on service quality, institutional strengthening, and a focus on digital business development. The study concludes that the merger represents a positive step for the Indonesian Islamic banking sector. The strategies implemented by BSI may serve as a potential roadmap for other institutions aiming to enhance their competitive standing in the industry.========================================================================================================ABSTRAK – Efektifkah Merger pada Perbankan Syariah di Indonesia? Rendahnya daya saing sektor perbankan syariah menimbulkan kekhawatiran akan keberlangsungan industri keuangan ini di masa depan di Indonesia. Sebagai kebijakan strategis untuk memperkuat dan meningkatkan kerangka kerja perbankan syariah, pemerintah mengusulkan dilakukannya merger terhadap tiga bank syariah milik negara. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi efektivitas strategi merger Bank Syariah Mandiri, BNI Syariah, dan BRI Syariah menjadi Bank Syariah Indonesia (BSI). Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif eksploratif dengan memanfaatkan Five Forces Model dan analisis SWOT sebagai alat analisis. Hasil penelitian menunjukkan efektivitas strategi merger dalam meningkatkan daya saing perbankan syariah. Manajemen BSI dinilai berhasil menerapkan serangkaian strategi pencapaian tujuan organisasi seperti melakukan diferensiasi produk, inovasi, orientasi pada kualitas layanan, penguatan kelembagaan, dan menseriusi pengembangan bisnis digital. Penelitian ini menyimpulkan bahwa strategi merger merupakan langkah positif bagi sektor perbankan syariah di Indonesia dalam meningkatkan daya saingnya di industri perbankan. Hasil ini dapat menjadi panduan potensial bagi lembaga keuangan syariah lain yang ingin menerapkan strategi serupa.
Enhancing Cooperative Member Loyalty: The Nexus of Service Quality, Institutional Image, and Governance Nurdin, Ridwan; Umuri, Khairil; Riyaldi, Muhammad Haris
Share: Jurnal Ekonomi dan Keuangan Islam Vol. 14 No. 1 (2025)
Publisher : Faculty of Islamic Economics and Business, Universitas Islam Negeri Ar-Raniry

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22373/share.v14i1.22446

Abstract

Cooperatives play a crucial role in driving economic development in Indonesia. However, increasing competition from financial institutions has made member loyalty a key factor in ensuring cooperative sustainability. Baitul Qiradh Baburrayyan Cooperative, (KBQ Baburrayyan) a leading coffee-exporting cooperative in Aceh Tengah Regency, Indonesia, faces these challenges while striving to maintain strong member engagement. This study explores the strategies implemented by KBQ Baburrayyan to sustain member loyalty using a qualitative approach with descriptive analysis. The findings reveal that the cooperative enhances service quality through improved coordination and collaboration between management and members. Additionally, strong governance and member-oriented business practices empower members by addressing their economic needs. The cooperative also maintains a positive institutional image, fostering trust among members and stakeholders. This study highlights that service quality, governance, and institutional reputation are essential factors in sustaining long-term member loyalty in cooperatives.======================================================================================================== ABSTRAK - Meningkatkan Loyalitas Anggota Koperasi: Hubungan antara Kualitas Pelayanan, Citra Organisasi, dan Tatakelola. Koperasi memiliki peran penting dalam mendorong perkembangan ekonomi di Indonesia. Dalam menghadapi persaingan dengan lembaga keuangan lainnya, mempertahankan loyalitas anggota menjadi faktor kunci dalam menjaga keberlanjutan koperasi. Koperasi Baitul Qiradh (KBQ) Baburrayyan, sebagai koperasi eksportir kopi terkemuka di Kabupaten Aceh Tengah, juga menghadapi tantangan untuk mempertahankan loyalitas anggotanya. Penelitian ini mengeksplorasi strategi yang diterapkan KBQ Baburrayyan dalam mempertahankan loyalitas anggota dengan menggunakan pendekatan kualitatif dan analisis deskriptif. Hasil penelitian menemukan bahwa dalam mempertahankan loyalitas anggota, KBQ Baburrayyan melakukan beberapa strategi, yaitu menjaga kualitas pelayanan dengan meningkatkan koordinasi dan kerjasama yang baik antar pengurus dan anggota. Selain itu, koperasi juga menjalankan tata kelola dan bisnis yang berorientasi pada pemberdayaan anggota, sehingga anggota dapat memenuhi kebutuhan hidup mereka dengan baik. Koperasi juga berupaya menjaga citra sehingga senantiasa dipandang baik oleh anggota dan stakeholder lainnya. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa untuk menjaga loyalitas anggota, koperasi harus senantiasa menjaga kualitas pelayanan, tata kelola dan citra dengan baik. 
Decentralized Finance and Its Maslahah: Shaping the Future of Financial Services in Indonesia Amir, Muhammad Fakhri; Kadir, Syahruddin; Sumarlin, Sumarlin
Share: Jurnal Ekonomi dan Keuangan Islam Vol. 13 No. 2 (2024)
Publisher : Faculty of Islamic Economics and Business, Universitas Islam Negeri Ar-Raniry

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22373/share.v13i2.22857

Abstract

Technological innovations are revolutionizing the financial sector through decentralized systems. The emergence of digital currencies necessitates a shift in the financial system toward services that accommodate the development of digital money in the era of Society 5.0. This study aims to explore the potential of Decentralized Finance (DeFi) and its maslahah (benefit) for future financial services in Indonesia. A qualitative approach was employed using library research by collecting primary and secondary data from journals, books, and other literature. Data were analyzed using descriptive analysis through data grouping, data display, and conclusion drawing. The findings indicate that DeFi has the potential to become one of the future financial services as it aligns with technological advancements and the development dimensions of the Society 5.0 era. DeFi offers five maslahah benefits: (1) Protecting religion (hifzu al-din) by serving as an alternative investment instrument; (2) Protecting life (hifzu an-nafs) by becoming a financial market instrument; (3) Protecting progeny (hifzu al-nasl) by encouraging income growth; (4) Protecting intellect (hifzu al-‘aql) by developing human resource potential; and (5) Protecting wealth (hifzu al-maal) by accommodating sources of income and financing for the benefit of society. Therefore, DeFi holds significant potential to contribute positively to Indonesia's financial future by providing services aligned with the values of maslahah and the technological advancements of Society 5.0.========================================================================================================ABSTRAK - Desentralisasi Keuangan dan Maslahahnya: Membentuk Layanan Keuangan Masa Depan di Indonesia. Inovasi teknologi mengarah pada revolusi sektor keuangan melalui sistem terdesentralisasi. Kemunculan mata uang digital memaksa sistem keuangan untuk beralih ke layanan yang mengakomodasi perkembangan uang digital di era 5.0. Penelitian ini bertujuan untuk menggali potensi Decentralized Finance (DeFi) berikut maslahahnya sebagai layanan keuangan masa depan di Indonesia. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode kepustakaan, dimana data-data dikumpulkan dari artikel jurnal, buku, dan literatur lainnya. Analisis data dilakukan dengan metode deskriptif melalui pengelompokan data, penyajian, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa DeFi memiliki potensi untuk menjadi salah satu layanan keuangan di masa depan karena selaras dengan kemajuan teknologi dan dimensi pengembangan untuk era 5.0. DeFi menawarkan lima manfaat maslahah: (1) Melindungi agama (hifzu al-din) dengan menjadi instrumen investasi alternatif; (2) Melindungi jiwa (hifzu an-nafs) dengan menjadi instrumen pasar keuangan; (3) Melindungi keturunan (hifzu al-nasl) dengan mendorong pertumbuhan pendapatan; (4) Melindungi akal (hifzu al-‘aql) dengan mengembangkan potensi sumber daya manusia; dan (5) Melindungi harta (hifzu al-maal) dengan mengakomodasi sumber pendapatan dan pembiayaan untuk kepentingan masyarakat. DeFi memiliki potensi yang signifikan untuk berkontribusi secara positif terhadap masa depan sistem keuangan Indonesia dengan menyediakan layanan yang sejalan dengan nilai-nilai maslahah dan kemajuan teknologi era 5.0. 
The Role of Financial Inclusion in Islamic Bank Efficiency: Evidence from Asian OIC Countries Taufiq, Taufiq; Razali, Razali
Share: Jurnal Ekonomi dan Keuangan Islam Vol. 13 No. 2 (2024)
Publisher : Faculty of Islamic Economics and Business, Universitas Islam Negeri Ar-Raniry

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22373/share.v13i2.22894

Abstract

The role of financial inclusion in determining the efficiency of Islamic banks remains understudied despite its significance. This study seeks to bridge this gap by introducing financial inclusion as a novel variable influencing Islamic bank performance. Analyzing panel data from Sharia banking across OIC Asian countries from Q3 2018 to Q1 2023, the research employs random effect model regression analysis (GLS) to assess the impact of financial inclusion on two efficiency measures, operational and cost efficiency. The analysis reveals that financial inclusion positively impacts cost efficiency but negatively affects operational efficiency. This indicates that financial inclusion in these banks is low due to factors such as high participation of low-income customers, interest rate restrictions, and limited product offerings by Islamic banks. In addition, cultural and economic factors also contribute to this trend. To enhance cost efficiency, it is recommended that Islamic banks improve service accessibility for customers. Furthermore, operational efficiency is positively influenced by capital adequacy, loans, profitability, and bank size, while negatively affected by banking risk. Policymakers should focus on strengthening financial infrastructure and legal systems to promote greater financial inclusion. Bank managers are advised to exercise caution in loan issuance to avoid inefficiencies, and identifying key efficiency factors is crucial for developing effective strategies for sustainability in Islamic banking.========================================================================================================ABSTRAK – Peran Inklusi Keuangan dalam Efisiensi Bank Syariah: Bukti dari Negara-negara OKI di Asia. Walaupun dianggap penting, peran inklusi keuangan syariah dalam menentukan efisiensi bank syariah masih belum banyak dikaji. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk menguji pengaruh variabel inklusi keuangan syariah terhadap efisiensi bank syariah di negara-negara Organisasi Kerjasama Islam (OKI) yang ada di Asia dari kuartal 3-2018 sampai kuartal 1-2023. Penelitian ini mengumpulkan data panel dari sejumlah bank syariah di negara-negara tersebut untuk kemudian dilakukan analisis regresi dengan random effect model (GLS), menggunakan dua ukuran efisiensi, yaitu efisiensi operasional dan efisiensi biaya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa inklusi keuangan berdampak positif terhadap efisiensi biaya tetapi berdampak negatif terhadap efisiensi operasional. Hal ini berarti bahwa rendahnya inklusi keuangan pada perbankan syariah disebabkan oleh sejumlah faktor seperti tingginya jumlah nasabah berpenghasilan rendah, pembatasan suku bunga, dan kurangnya variasi produk yang ditawarkan oleh bank syariah. Selain itu, faktor budaya dan ekonomi juga berperan signifikan terhadap hasil ini. Untuk meningkatkan efisiensi biaya, disarankan agar bank syariah meningkatkan aksesibilitas layanan bagi pelanggan. Selain itu, efisiensi operasional dipengaruhi secara positif oleh kecukupan modal, pinjaman, profitabilitas, dan ukuran bank, sementara dipengaruhi secara negatif oleh risiko perbankan. Pembuat kebijakan harus fokus pada penguatan infrastruktur keuangan dan sistem hukum untuk mendorong inklusi keuangan yang lebih baik. Pihak bank disarankan untuk berhati-hati dalam penerbitan pinjaman untuk menghindari inefisiensi, dan mengidentifikasi faktor-faktor utama yang dapat meningkatkan efisiensi sehingga dapat merumuskan strategi keberlanjutan bagi perbankan syariah. 
Halal Certification for MSEs in Indonesia: How Business Duration Drives Legal Awareness Maulana, Hartomi; Labolo, Sultan Nanta Setia Dien; Jamal, Mulyono; Syamsuri, Syamsuri
Share: Jurnal Ekonomi dan Keuangan Islam Vol. 13 No. 2 (2024)
Publisher : Faculty of Islamic Economics and Business, Universitas Islam Negeri Ar-Raniry

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22373/share.v13i2.22907

Abstract

Halal certification is mandatory for all Micro and Small Enterprises (MSEs) in Indonesia. Despite the vast number of MSEs, totaling 64.2 million as of February 2023, only about 20% have obtained halal certification. This study investigates the influence of legal awareness on halal certification registration among Indonesian MSEs and examines the moderating role of business duration. Using Structural Equation Modeling (SEM) with a quantitative approach, the study assessed the impact of legal awareness constructs (knowledge, understanding, attitudes, and behavior) on halal certification awareness among 333 MSE respondents, with business duration included as a moderator. The findings revealed that legal knowledge, understanding, attitudes, and behavior did not significantly affect halal certification awareness, whereas business duration had a significant positive impact. Additionally, the moderation analysis demonstrated that business duration significantly influenced the relationship between legal understanding and halal certification awareness. The results suggest that experience, rather than legal comprehension, drives halal certification awareness among Indonesian MSEs. The study offers insights for policymakers to support longer-running businesses and simplify certification processes to increase halal certification rates among MSEs. Future research should consider using larger, more diverse samples and incorporating qualitative methods to gain a comprehensive understanding of MSEs’ motivations and challenges in obtaining halal certification.======================================================================================================== ABSTRAK – Sertifikasi Halal untuk UKM di Indonesia: Peran Durasi Usaha dalam Mendorong Kesadaran Hukum. Sertifikasi halal diwajibkan bagi seluruh Usaha Mikro dan Kecil (UMK) di Indonesia. Meskipun jumlah UKM mencapai 64,2 juta per Februari 2023, hanya sekitar 20% yang telah memperoleh sertifikasi halal. Penelitian ini mengkaji pengaruh kesadaran hukum terhadap pendaftaran sertifikasi halal di kalangan UKM Indonesia dan menguji peran moderasi durasi usaha. Menggunakan Structural Equation Modeling (SEM) dengan pendekatan kuantitatif, penelitian ini menguji dampak konstruk kesadaran hukum (pengetahuan, pemahaman, sikap, dan perilaku) terhadap kesadaran sertifikasi halal di antara 333 responden UKM, dengan durasi usaha dimasukkan sebagai variabel moderator. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengetahuan hukum, pemahaman, sikap, dan perilaku tidak secara signifikan mempengaruhi kesadaran sertifikasi halal, sementara durasi usaha memiliki dampak positif yang signifikan. Lebih lanjut, analisis moderasi menunjukkan bahwa durasi usaha secara signifikan mempengaruhi hubungan antara pemahaman hukum dan kesadaran sertifikasi halal. Hasil ini menunjukkan bahwa pengalaman akan mendorong kesadaran sertifikasi halal di kalangan UKM Indonesia. Temuan ini memberikan pencerahan bagi pembuat kebijakan untuk lebih mendukung usaha-usaha yang telah berjalan lama dan menyederhanakan proses sertifikasi bagi UKM. Penelitian selanjutnya perlu mempertimbangkan penggunaan sampel yang lebih besar dan beragam serta menggabungkan metode kualitatif untuk mendapatkan pemahaman yang lebih komprehensif mengenai motivasi dan tantangan UKM dalam memperoleh sertifikasi halal.
How Behavioral Factors Shape Intentions Toward Cash Waqf Linked Sukuk in Indonesia? Andni, Riyan; Aris, Nur; Widodo, Syukri Fathudin Achmad; Anam, Ahmad Muzakkil
Share: Jurnal Ekonomi dan Keuangan Islam Vol. 14 No. 1 (2025)
Publisher : Faculty of Islamic Economics and Business, Universitas Islam Negeri Ar-Raniry

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22373/share.v14i1.23109

Abstract

Cash Waqf Linked Sukuk (CWLS) represents an innovative social investment instrument in Indonesia, combining cash waqf (Islamic endowment) with government sukuk (Sharia-compliant bonds). Despite its significant role in funding education, healthcare, and economic development, the substantial potential of CWLS remains underutilized due to a disparity between its projected benefits and the limited participation of potential investors. The study aims to predict the intention of Islamic banking customers to engage in cash waqf through State Sukuk or CWLS in West Java. It employs the Theory of Planned Behavior (TPB) to investigate the behavioral intentions of Islamic banking customers in West Java, Indonesia, toward adopting CWLS. Using a quantitative approach, data were collected from 119 respondents who are active customers of Islamic banks. The findings reveal that attitude toward behavior and subjective norms do not significantly influence behavioral intention, whereas perceived behavioral control (PBC) emerges as a critical predictor of intention to participate in CWLS. Among demographic variables, only age moderates the relationship between attitude toward behavior and behavioral intention. The study identifies low public awareness, limited financial literacy, and mistrust in CWLS mechanisms as key barriers. To bridge this gap, stakeholders must prioritize widespread socialization campaigns, particularly targeting productive-age demographics, to enhance trust and literacy. Strategic promotion of CWLS’s dual benefits—social impact and financial returns—is recommended to accelerate investor participation and maximize its socioeconomic potential.========================================================================================================ABSTRAK - Bagaimana Faktor Perilaku Membentuk Niat Investasi dalam Cash Waqf Linked Sukuk di Indonesia? Cash Waqf Linked Sukuk (CWLS) merupakan instrumen investasi sosial inovatif di Indonesia yang menggabungkan wakaf uang dengan sukuk negara (surat berharga syariah). Meskipun berperan penting dalam mendanai sektor pendidikan, kesehatan, dan pembangunan ekonomi, terdapat kesenjangan antara potensi yang ditimbulkan atas manfaat CWLS dan calon investor potensial. Penelitian ini bertujuan untuk memprediksi niat nasabah perbankan syariah dalam mewakafkan uang melalui sukuk negara atau CWLS di Jawa Barat. Penelitian ini menggunakan ‘Theory of Planned Behavior’ (TPB) untuk menganalisis niat perilaku calon investor dalam menggunakan CWLS dari perspektif nasabah Perbankan syariah. Metode kuantitatif diterapkan dengan melibatkan 119 responden nasabah bank syariah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ‘attitude toward behavior’ (sikap) dan ‘subjective norms’ (norma subjektif) tidak berpengaruh signifikan terhadap ‘behavioral intention’ (niat berperilaku), sementara ‘perceived behavioral control’ (PBC) menjadi prediktor utama ‘behavioral intention’ atau niat berpartisipasi dalam CWLS. Dari variabel demografi, hanya usia yang memoderasi hubungan antara sikap dan niat berperilaku. Rendahnya kesadaran masyarakat, literasi keuangan terbatas, dan ketidakpercayaan terhadap mekanisme CWLS diidentifikasi sebagai hambatan utama. Untuk mengatasi hal ini, pemangku kepentingan perlu meningkatkan sosialisasi, khususnya kepada kelompok usia produktif, guna memperkuat kepercayaan dan pemahaman masyarakat. Promosi strategis mengenai manfaat ganda CWLS—dampak sosial dan keuntungan finansial—direkomendasikan untuk memperluas partisipasi investor dan memaksimalkan potensi sosial-ekonomi instrumen ini. 
E-Commerce and Ethical Business Practices: The Role of DSN-MUI Fatwa Nugroho, Randhy; Nurhayati, Ely
Share: Jurnal Ekonomi dan Keuangan Islam Vol. 14 No. 1 (2025)
Publisher : Faculty of Islamic Economics and Business, Universitas Islam Negeri Ar-Raniry

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22373/share.v14i1.23296

Abstract

In light of the rapid expansion of e-commerce, this study critically examines the role of the National Sharia Board-Indonesian Council of Ulama (DSN-MUI) fatwas (No. 144 and 146) in fostering ethical business practices within online marketplaces. With the ongoing digital transformation, aligning business practices with Islamic ethical standards has become increasingly critical. This research critically evaluates the practical implementation of Sharia-compliant consignment contracts on two leading platforms, Shopee and Tokopedia, using a document analysis approach. Findings indicate that current consignment contracts largely comply with DSN-MUI guidelines despite the absence of explicit contractual formulations. Furthermore, both Shopee and Tokopedia have implemented preventive and corrective mechanisms to deter prohibited transactions, such as tadlis (concealment of defects) and ghisy (quality mismatch). However, a notable gap exists in measures addressing tanajusy (demand engineering) transactions. The study suggests that issuing additional fatwas specifically targeting tanajusy transactions, along with adopting Islamic compliance labeling, could further strengthen the ethical framework of the e-commerce sector.========================================================================================================ABSTRAK - E-Commerce dan Praktik Bisnis Beretika: Peran Fatwa DSN-MUI. Seiring dengan pertumbuhan e-commerce yang pesat, kebutuhan untuk menyelaraskan praktik bisnis dengan standar etika Islam semakin mendesak. Penelitian ini mengkaji peran fatwa DSN-MUI (No.144 dan 146) dalam mendorong perilaku bisnis beretika di platform ritel daring. Penelitian ini secara kritis mengevaluasi implementasi kontrak konsinyasi pada dua platform e-commerce terkemuka, yaitu Shopee dan Tokopedia. dan menganalisis kesesuaiannya dengan prinsip-prinsip syariah. Dengan menggunakan pendekatan analisis dokumen, penelitian ini menguji kesesuaian praktik kontraktual dengan kedua fatwa DSN-MUI tersebut. Hasil kajian menunjukkan bahwa pelaksanaan kontrak konsinyasi saat ini secara substansial telah memenuhi persyaratan DSN-MUI meskipun tidak ada formulasi kontrak eksplisit. Selain itu, kedua platform telah menerapkan mekanisme preventif dan korektif untuk mencegah transaksi terlarang seperti tadlis (penyembunyian cacat) dan ghisy (ketidaksesuaian kualitas). Namun, penelitian juga mengungkapkan adanya kekurangan dalam mekanisme yang mengatasi transaksi tanajusy (rekayasa permintaan). Penelitian ini menyarankan untuk penerbitan fatwa tambahan yang khusus mengatur transaksi tanajusy, serta penerapan label kepatuhan syariah, sehingga dapat memperkuat iklim etis di sektor e-commerce.
Drivers of Sharia P2P Lending Adoption in Indonesia: An AISAS Model Approach Ismail, Juniaty; Supri, Zikra; Dukalang, Hendra; Budianto, Rahman; Katili, Chitra Yuliashri
Share: Jurnal Ekonomi dan Keuangan Islam Vol. 13 No. 2 (2024)
Publisher : Faculty of Islamic Economics and Business, Universitas Islam Negeri Ar-Raniry

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22373/share.v13i2.23438

Abstract

The challenge of accessing capital for Micro, Small, and Medium Enterprises (MSMEs), compounded by low financial literacy, has led to limited awareness among MSME actors regarding sharia-based Peer-to-Peer (P2P) Lending. This study investigates the response of MSME actors on Sulawesi Island, Indonesia, to the adoption of fintech-based sharia P2P lending services using the AISAS (Attention, Interest, Search, Action, and Share) model. Distinct from previous research, this study specifically focuses on the utilization of sharia-based P2P fintech by MSMEs in Sulawesi, applying the AISAS model approach. A quantitative approach was employed, gathering data from 580 MSME respondents in Sulawesi, and analyzed using Smart-PLS 3.2.9 software. The results indicate that interest, search, and sharing behavior are significant predictors of sharia-compliant P2P lending adoption, while attention and action demonstrate no significant influence. This study offers valuable insights for sharia fintech P2P lending service providers and government bodies supporting MSMEs, particularly in Sulawesi, stressing the importance of enhancing outreach to promote sharia fintech P2P lending as a more accessible and efficient capital source.========================================================================================================ABSTRAK – Pendorong Adopsi P2P Lending Syariah di Indonesia: Pendekatan Model AISAS. Akses permodalan masih menjadi tantangan signifikan bagi Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) di Indonesia. Hal ini dipicu oleh rendahnya literasi keuangan para pelaku usaha yang berakibat pada rendahnya kesadaran akan produk keuangan syariah seperti layanan Peer-to-Peer (P2P) Lending. Penelitian ini mengkaji adopsi layanan  P2P Lending Syariah di kalangan UMKM di Pulau Sulawesi, Indonesia, dengan menggunakan model Attention, Interest, Search, Action, and Share (AISAS). Berbeda dengan penelitian sebelumnya, studi ini berfokus pada pemanfaatan fintech P2P berbasis syariah oleh pelaku UMKM di Pulau Sulawesi. Menggunakan pendekatan kuantitatif, penelitian ini mengumpulkan data dari 580 pelaku UMKM dan dianalisis menggunakan Smart-PLS 3.2.9. Hasil penelitian menunjukkan bahwa minat, pencarian, dan berbagi berpengaruh signifikan terhadap adopsi P2P Lending syariah, sementara perhatian dan tindakan menunjukkan hal sebaliknya. Hasil penelitian ini berkontribusi kepada penyedia layanan P2P dan instansi pemerintah dalam mendukung pertumbuhan UMKM, khususnya di Sulawesi. Temuan ini menyoroti perlunya sosialisasi yang terarah untuk mempromosikan P2P Lending syariah sebagai solusi pembiayaan yang mudah diakses dan efisien.
Towards Usury-Free Finance in Land Pawning: Evaluating Carter and Angkat-Bloe Contracts Siregar, Ahmad Sholihin; Ainiah, Ainiah; Daud, Zakiul Fuady Muhammad
Share: Jurnal Ekonomi dan Keuangan Islam Vol. 13 No. 2 (2024)
Publisher : Faculty of Islamic Economics and Business, Universitas Islam Negeri Ar-Raniry

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22373/share.v13i2.23642

Abstract

Pawn transactions fall under tabarru' contracts, which prohibit the accrual of profit, as such gains are categorized as usury and are forbidden in Islam. In situations where pawn contracts are prevalent, Islam offers alternatives to avoid usury. In the Kuta Makmur community of Aceh, the carter and angkat-bloe contracts are seen as viable alternatives to land pawn contracts. This study aims to analyze the carter and angkat-bloe contracts among the community and analyze their permissibility from an Islamic economic perspective. This research employs a descriptive qualitative approach, utilizing observation and interviews for data collection. The findings reveal that the carter contract is analogous to lease agreements and, therefore, is permissible as an alternative to avoid usury. However, the angkat-bloe contract shares similarities with the bai' al-wafa' contract, the legality of which remains debated among Islamic jurists (Fukaha). The permissibility of the angkat-bloe contract depends on its substance and the intention behind its execution. This study suggests that the carter contract could be legitimized by the National Sharia Council as a solution for individuals facing economic challenges, while the angkat- bloe contract requires further scrutiny based on the intentions and substance of its practice.========================================================================================================ABSTRAK - Menuju Keuangan Bebas Riba dalam Gadai Tanah: Evaluasi Akad ‘Carter’ dan ‘Angkat-Bloe’. Gadai merupakan bagian dari akad tabarru’ yang tidak memperbolehkan pengambilan keuntungan, karena manfaat tersebut masuk dalam kategori riba yang diharamkan dalam Islam. Di sisi lain, Islam memberikan solusi alternatif untuk menghindari riba dalam akad gadai, seperti praktik akad ‘carter’ dan ‘angkat-bloe’ dalam masyarakat Kuta Makmur, Aceh, yang disinyalir sebagai alternatif untuk menghindari riba. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis praktik ‘carter’ dan ‘angkat-bloe’ dalam komunitas tersebut serta menganalisisnya dari perspektif ekonomi syariah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa akad ‘carter’ memiliki kemiripan dengan akad sewa-menyewa dari segi substansinya, sehingga akad ‘carter’ dibolehkan dan bisa menjadi alternatif untuk menghindari riba. Sementara akad ‘angkat-bloe’ mempunyai kemiripan dengan akad bai’ al-wafa’ yang hukumnya masih diperdebatkan Fukaha. Berdasarkan argumen Fukaha, kajian ini menyimpulkan kebolehan akad bai’ al-wafa’ serta akad angkat jual yang mirip dengannya sangat tergantung pada subtansi dan niat dalam pelaksanaannya. Penelitian ini mengusulkan agar akad ‘carter’ dapat dilegalkan oleh Dewan Syariah Nasional sebagai solusi bagi masyarakat yang mengalami kesulitan ekonomi, sedangkan akad ‘angkat-bloe’ memerlukan kajian lebih lanjut terkait niat dan substansinya.