cover
Contact Name
Dinar Nur Inten
Contact Email
uptpublikasi@unisba.ac.id
Phone
+6289657453976
Journal Mail Official
jrpgp@unisba.ac.id
Editorial Address
Gedung Rektorat Lantai 4, Jl. Tamansari No. 20 Bandung 40116
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
Jurnal Riset Pendidikan Guru Paud
ISSN : ISSN2808     EISSN : 27986012     DOI : https://doi.org/10.29313/jrpgp.v1i2
Jurnal Riset Pendidikan Guru Paud (JRPGP) adalah jurnal peer review dan dilakukan dengan double blind review (direview secara tertutup) yang mempublikasikan kajian hasil riset dan teoritik terhadap isu empirik dalam sub kajian Pendidikan Anak Usia Dini. JRPGP ini dipublikasikan pertamanya 2021 dengan eISSN 2798-6012 yang diterbitkan oleh UPT Publikasi Ilmiah, Universitas Islam Bandung. Semua artikel diperiksa plagiasinya dengan perangkat lunak anti plagiarisme. Jurnal ini ter-indeks di Google Scholar, Garuda, Crossref, dan DOAJ. Terbit setiap Juli dan Desember.
Articles 114 Documents
Analisis Keterlibatan Pengelolaan Komunikasi Orang Tua dalam Aktivitas Sensory Play Husnusyifa, Annisa; R Ismira Febrina
Jurnal Riset Pendidikan Guru Paud Volume 4, No. 1, Juli 2024, Jurnal Riset Pendidikan Guru Paud (JRPGP)
Publisher : UPT Publikasi Ilmiah Unisba

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/jrpgp.v4i1.4565

Abstract

Abstrak. Perkembangan anak usia dini, terutama pada masa bayi, sangat dipengaruhi oleh stimulasi optimal, salah satunya melalui sensory play yang melibatkan panca indera. Keterlibatan orang tua dalam pengelolaan sensory play, khususnya dalam aspek komunikasi, sangat penting untuk mengoptimalkan manfaatnya bagi perkembangan anak. Penelitian ini menganalisis bentuk keterlibatan komunikasi orang tua dalam aktivitas sensory play pada bayi berusia 6-12 bulan. Menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi kasus, subjek penelitian terdiri dari tiga orang tua yang aktif terlibat dalam sensory play. Data dikumpulkan melalui observasi, wawancara mendalam, dan dokumentasi video, kemudian dianalisis dengan teknik reduksi data. Hasil menunjukkan bentuk keterlibatan komunikasi orang tua meliputi komunikasi verbal (penamaan objek, deskripsi tekstur), nonverbal (ekspresi wajah, kontak mata), dan responsif (tanggapan terhadap inisiatif anak). Keterlibatan ini berdampak positif pada perkembangan anak dalam aspek kognitif, bahasa, sosial-emosional, serta motorik halus dan kasar. Kesimpulannya, keterlibatan komunikasi orang tua dalam sensory play sangat penting untuk perkembangan bayi. Abstract. Early childhood development, especially during infancy, is significantly influenced by optimal stimulation, one of which is sensory play that engages the senses. Parental involvement in managing sensory play, particularly in communication aspects, is crucial for maximizing its benefits for child development. This study analyzes the forms of parental communication involvement in sensory play activities for infants aged 6-12 months. Using a qualitative approach with a case study method, the subjects consisted of three parents actively engaged in sensory play. Data were collected through observation, in-depth interviews, and video documentation, then analyzed using data reduction techniques. The results showed that forms of parental communication involvement included verbal communication (naming objects, describing textures), nonverbal communication (facial expressions, eye contact), and responsive communication (responses to children's initiatives). This involvement positively impacts children's development in cognitive, language, social-emotional, as well as fine and gross motor aspects. In conclusion, parental communication involvement in sensory play is essential for infant development.
Digital Parenting to Improve Quality of Relationship Between Educators and Parents Resmisari Dewi; Dadi Ahmadi
Jurnal Riset Pendidikan Guru Paud Volume 4, No. 1, Juli 2024, Jurnal Riset Pendidikan Guru Paud (JRPGP)
Publisher : UPT Publikasi Ilmiah Unisba

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/jrpgp.v4i1.4566

Abstract

Abstrak.   Interaksi dan komunikasi orang tua dan pihak sekolah dalam proses kegiatan belajar anak di rumah memerlukan cara atau strategi yang bisa menyesuaikan karakteristik peserta didik serta orang tua atau wali murid. Penulisan artikel ini bertujuan untuk mengetahui sejauhmana parenting digital dapat meningkatkan komunikasi guru dengan orang tua murid di PAUD lmanda. Penelitian ini menggunakan metode analisis deskriptif dengan pendekatan kualitatif. Lokasi penelitian dilakukan di PAUD Imanda Kota Bandung.  Pada tahap proses penelitiannya memakai teknik pengumpulan data yang dilaksanakan melalui pengamatan/ observasi, wawancara serta dokumentasi. Hasil penelitian mengungkapkan bahwa program digital parenting dapat memengaruhi komunikasi dan kedekatan dengan anak. Orangtua melakukan pendekatan pendidikannya melalui interaksi dengan anak secara komunikatif, intensif dan penuh keterbukaan melalui media teknologi sebagai sarana pendidikan anak agar menjadi positif. Berbagai konten pendidikan dan pengasuhan juga bermacam-macam tema tentang pola asuh dan tumbuh kembang anak. Informasi di media online juga dapat merujuk pola komunikasi yang baik antara orang tua dengan anak terutama pada  masa pandemik COVID-19. Abstract. The interaction and communication between parents and schools in the process of children's learning activities at home requires ways or strategies that can adapt to the characteristics of students and their parents or guardians. The purpose of this article is to discover to what extent digital parenting can improve parent-teacher communication at PAUD (early childhood education) Imanda. This research, which takes place at PAUD Imanda in Bandung City, applies descriptive analysis method with qualitative approach. Data collection techniques are conducted through observation, interviews and documentation. The results of the study reveal that digital parenting programs can affect communication and closeness with children. Parents' approach to education is carried out through communicative, intensive and open interaction with children by using technology media as a means of educating children to be positive. Online media presents a variety of educational and parenting content with various themes of parenting and child development. Information in online media can also refer to good communication patterns between parents and children, especially during the COVID-19 pandemic.
Persepsi Orang Tua terhadap Permainan Balok Model PKPK pada Anak Usia Dini Najma Shafira; Masnipal Marhun; Heru Pratikno
Jurnal Riset Pendidikan Guru Paud Volume 4, No. 2, Desember 2024, Jurnal Riset Pendidikan Guru Paud (JRPGP)
Publisher : UPT Publikasi Ilmiah Unisba

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/jrpgp.v4i2.5040

Abstract

Abstrak. Permasalahan terkait persepsi orang tua terhadap permainan balok model PKPK muncul karena keterbatasan pemahaman mereka tentang konsep permainan konstruktif dan model PKPK. Penelitian ini bertujuan mengkaji persepsi orang tua mengenai pemahaman konsep permainan konstruktif dengan balok model PKPK, kesiapan alat, keterlibatan anak, kemampuan guru, serta manfaatnya bagi perkembangan motorik halus, kognitif, bahasa, dan sosial-emosional anak. Dengan pendekatan kualitatif dan metode deskriptif, hasil penelitian menunjukkan bahwa orang tua memahami permainan konstruktif sebagai aktivitas menyusun, meskipun pemahaman tentang model PKPK terbatas. Orang tua menilai ketersediaan balok dan keterampilan guru dalam membimbing sangat baik. Anak terlibat aktif dalam permainan dan menunjukkan perkembangan positif, seperti lebih kreatif dan mampu bermain bersama teman. Solusi yang diusulkan meliputi: (1) pelatihan guru untuk komunikasi efektif dengan orang tua, (2) workshop bagi orang tua, dan (3) kolaborasi untuk mengoptimalkan permainan di rumah. Abstract. A common issue with parents' perceptions of constructive play is their limited understanding of the concept and the PKPK model. This study aimed to explore parents' perceptions of constructive play using PKPK model blocks, tool readiness, children's involvement, teacher guidance, and the game's benefits in fostering fine motor, cognitive, language, and socio-emotional development. Using a qualitative approach with descriptive methods, the study found that parents understand constructive play as building or assembling activities but have limited knowledge of the PKPK model. Parents noted that block availability at schools is excellent and praised teachers’ skills in guiding children with PKPK model blocks. Children actively participate, following rules and instructions, and show positive developmental changes, becoming more active, creative, and collaborative. Proposed solutions include (1) enhancing teacher communication skills to explain the game's benefits, (2) organizing workshops for parents, and (3) collaborating with parents to optimize at-home activities.
Pendidikan Mitigasi Gempa Bumi Sesar Lembang Bagi Anak Usia Dini Hukita Ismaura; Ayi Sobarna; Nurul Afrianti
Jurnal Riset Pendidikan Guru Paud Volume 4, No. 2, Desember 2024, Jurnal Riset Pendidikan Guru Paud (JRPGP)
Publisher : UPT Publikasi Ilmiah Unisba

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/jrpgp.v4i2.5059

Abstract

Abstrak. Gempa bumi adalah peristiwa bergetarnya bumi akibat pelepasan energi di dalam bumi secara tiba-tiba yang ditandai dengan patahnya lapisan batuan pada kerak bumi. Akumulasi energi penyebab terjadinya gempabumi dihasilkan dari pergerakan lempeng-lempeng tektonik. seperti gempa bumi yang diakibatkan oleh gesekan sesar Lembang, seolah menjadi bom waktu yang tidak dapat dikontrol oleh manusia yang dapat meledak kapan saja. Dalam studi ini, Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan jenis pendekatan deskriptif. Dimana penelitian kualitatif sebagai metode ilmiah sering digunakan dan dilaksanakan oleh sekelompok peneliti dalam bidang ilmu sosial, termasuk juga ilmu pendidikan. Penelitian dengan pendekatan kualitatif diartikan sebagai penelitian yang temuannya tidak dapat diperoleh melalui penggunaan prosedur statistik, dan sebagainya. Pendidikan mitigasi bencana di TK membawa hasil yang signifikan dalam meningkatkan kesadaran, kesiapsiagaan, dan keterampilan praktis anak-anak dalam menghadapi bencana. Program ini tidak hanya melindungi anak-anak tetapi juga memperkuat peran guru, meningkatkan partisipasi orang tua, dan berkontribusi pada keselamatan dan kesiapsiagaan komunitas secara keseluruhan. Dengan dukungan yang tepat, pendidikan mitigasi bencana dapat membentuk generasi yang lebih tangguh dan siap menghadapi tantangan bencana di masa depan.Pendidikan mitigasi bencana di Taman Kanak-Kanak (TK) adalah langkah penting untuk membangun kesadaran dan kesiapsiagaan sejak dini terhadap bencana alam seperti gempa bumi. Melalui pendekatan yang tepat, program ini dapat membantu anak-anak memahami risiko dan langkah-langkah yang harus diambil untuk melindungi diri mereka sendiri. Abstract. An earthquake is the shaking of the earth due to the sudden release of energy in the earth, which is characterized by the fracture of rock layers in the earth's crust. The accumulation of energy that causes earthquakes is produced by the movement of tectonic plates, such as earthquakes caused by the friction of the Lembang fault, as if it is a time bomb that cannot be controlled by humans that can explode at any time. In this study, this research uses a qualitative method with a descriptive approach. Qualitative research as a scientific method is often used and implemented by a group of researchers in the field of social sciences, including education. Research with a qualitative approach is defined as research whose findings cannot be obtained through the use of statistical procedures, and so on. Disaster mitigation education in kindergarten brings significant results in increasing children's awareness, preparedness and practical skills in dealing with disasters. The program not only protects children but also strengthens the role of teachers, increases parental participation, and contributes to overall community safety and preparedness. With the right support, disaster mitigation education can shape a generation that is more resilient and ready to face future disaster challenges. Disaster mitigation education in kindergarten is an important step to build awareness and preparedness from an early age.
Pengelolaan Kurikulum Merdeka Pembelajaran STEAM di Pos PAUD Anggrek Kota Bandung Meilani Dwi Cahya; Ayi Sobarna; Arif Hakim
Jurnal Riset Pendidikan Guru Paud Volume 4, No. 2, Desember 2024, Jurnal Riset Pendidikan Guru Paud (JRPGP)
Publisher : UPT Publikasi Ilmiah Unisba

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/jrpgp.v4i2.5074

Abstract

Abstrak. Kurikulum adalah komponen penting dalam pendidikan, yang diartikan sebagai program pembelajaran untuk siswa. Tanpa kurikulum, sekolah akan kesulitan menentukan arah pembelajaran, menjadikannya elemen esensial dalam pendidikan, mulai dari PAUD hingga perguruan tinggi. Kurikulum Merdeka, juga disebut Kurikulum Prototipe, merupakan kurikulum yang fleksibel. Penelitian ini membahas implementasi Kurikulum Merdeka pada pembelajaran STEAM di Pos PAUD Anggrek (nonformal) untuk anak usia 5-6 tahun. Tujuan penelitian adalah memahami perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi Kurikulum Merdeka pada pembelajaran STEAM. Penelitian menggunakan metode kualitatif dengan studi kasus, melibatkan kepala sekolah dan guru sebagai narasumber. Data dikumpulkan melalui observasi, dokumentasi, dan wawancara. Hasil penelitian menunjukkan: (1) Dalam perencanaan, pendidik masih mengenal Kurikulum Merdeka dan belum sepenuhnya lepas dari Kurikulum 2013, sehingga terjadi kebingungan. (2) Pelaksanaan pembelajaran belum sesuai minat anak karena PAUD Anggrek masih beradaptasi dengan Kurikulum Merdeka. (3) Evaluasi pembelajaran dilakukan melalui observasi, dokumentasi, dan pencatatan oleh guru. Penelitian ini menyoroti tantangan implementasi Kurikulum Merdeka di lembaga nonformal. Abstract. Curriculum is an important component of education, defined as a learning program for students. Without a curriculum, schools will have difficulty determining the direction of learning, making it an essential element in education, from early childhood education to higher education. The Merdeka Curriculum, also called the Prototype Curriculum, is a flexible curriculum. This research discusses the implementation of Merdeka Curriculum in STEAM learning at Pos PAUD Anggrek (non-formal) for children aged 5-6 years. The research objective is to understand the planning, implementation, and evaluation of Merdeka Curriculum in STEAM learning. The research used a qualitative method with a case study, involving the principal and teachers as resource persons. Data were collected through observation, documentation, and interviews. The results showed: (1) In planning, educators still recognize the Merdeka Curriculum and have not completely separated from the 2013 Curriculum, resulting in confusion. (2) The implementation of learning has not matched children's interests because Anggrek PAUD is still adapting to the Merdeka Curriculum. (3) Learning evaluation is carried out through observation, documentation, and recording by the teacher. This research highlights the challenges of implementing the Merdeka Curriculum in non-formal institutions.
Implementasi Program Tafaqquh Fiddin dalam Mengembangkan Kemampuan Nilai Agama dan Moral Salwadya Nazhifah Ramadhani; Masnipal Marhun; Arif Hakim
Jurnal Riset Pendidikan Guru Paud Volume 4, No. 2, Desember 2024, Jurnal Riset Pendidikan Guru Paud (JRPGP)
Publisher : UPT Publikasi Ilmiah Unisba

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/jrpgp.v4i2.5099

Abstract

Abstrak. Orang tua menghadapi tantangan dalam melindungi anak dari pengaruh negatif yang mudah diserap. Sumber informasi dan hiburan yang berpotensi merugikan perkembangan anak menjadi perhatian utama, mengingat usia dini adalah masa terbaik untuk menstimulasi pendidikan agama dan moral. Selain itu, pendidikan di Indonesia dinilai kurang menekankan pembentukan karakter, budi pekerti, dan moral. Penelitian ini bertujuan menganalisis implementasi program Tafaqquh Fiddin dalam mengembangkan nilai agama dan moral pada anak usia 4-5 tahun. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi kasus. Data dikumpulkan melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi dari kepala sekolah, tenaga kependidikan, guru agama, wali kelas kelompok A, dan orang tua siswa. Hasil penelitian menunjukkan implementasi program Tafaqquh Fiddin dilakukan melalui tiga tahap: (1) Persiapan, mencakup penyusunan rencana pembelajaran tahunan, semester, mingguan, dan harian; (2) Pelaksanaan, meliputi pembelajaran klasikal dan individual dengan metode seperti Qiro'ati, hafalan, bercerita, tanya jawab, dan permainan; (3) Penilaian berkelanjutan untuk mengukur perkembangan nilai agama dan moral anak. Program ini terbukti efektif mendukung perkembangan religious dan moral anak sesuai tahap perkembangan usia dini. Abstract. Parents face challenges in protecting their children from negative influences that are easily absorbed. Sources of information and entertainment that have the potential to harm children's development are a major concern, considering that early childhood is the best time to stimulate religious and moral education. In addition, education in Indonesia is considered to have less emphasis on character building, ethics, and morals. This study aims to analyze the implementation of the Tafaqquh Fiddin program in developing religious and moral values in children aged 4-5 years. The research used a qualitative approach with a case study method. Data were collected through observations, interviews, and documentation from the principal, education personnel, religion teachers, homeroom teachers of group A, and parents of students. The results showed that the implementation of the Tafaqquh Fiddin program was carried out through three stages: (1) Preparation, including the preparation of annual, semester, weekly, and daily learning plans; (2) Implementation, including classical and individual learning with methods such as Qiro'ati, memorization, storytelling, questions and answers, and games; (3) Continuous assessment to measure the development of children's religious and moral values. This program is proven to be effective in supporting children's religious and moral development according to early childhood development stages.
Perilaku Tantrum pada Anak Usia 4-6 Tahun Nurul Inayah; Nurul Afrianti
Jurnal Riset Pendidikan Guru Paud Volume 4, No. 2, Desember 2024, Jurnal Riset Pendidikan Guru Paud (JRPGP)
Publisher : UPT Publikasi Ilmiah Unisba

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/jrpgp.v4i2.5100

Abstract

Abstrak. Tantrum pada anak usia 4-6 tahun merupakan fenomena umum dan kerap membuat khawatir para pendidik dan orang tua. Tantrum dapat diartikan sebagai ledakan emosi yang ditandai dengan membentak, menangis, atau perilaku agresif yang biasanya terjadi ketika anak merasa frustasi atau tidak mendapatkan apa yang diinginkannya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui penyebab frekuensi dan dampak kemarahan pada anak di RA Al-Istikomah. Desa Bojong, Kabupaten Bandung Barat. Melalui pendekatan kualitatif dan pengumpulan data melalui observasi dan wawancara, penelitian ini menemukan bahwa faktor lingkungan, komunikasi dan perkembangan emosi anak berkontribusi signifikan terhadap perilaku marah. Upaya guru dalam mengelola amarah anak antara lain dengan menghindari faktor pemicu amarah dan mengalihkan perhatian anak, memberikan sentuhan-sentuhan lembut seperti pelukan hangat dan berbicara dengan suara tenang. Berikan instruksi yang sederhana dan jelas untuk menenangkan anak yang mengamuk, puji dan berikan penghargaan kepada anak bila ia menunjukkan perilaku yang baik dan melakukan kegiatan yang menyenangkan. Hasil penelitian ini diharapkan dapat membantu orang tua dan pendidik dalam mengelola perilaku marah dengan lebih baik. Abstract.Tantrums in children aged 4-6 years are a common phenomenon and often worry educators and parents. Tantrums can be interpreted as emotional outbursts characterized by yelling, crying, or aggressive behavior that usually occurs when a child feels frustrated or doesn't get what he wants. This study aims to find out the causes of the frequency and impact of anger on children in RA Al-Istikomah. Bojong Village, West Bandung Regency. Through a qualitative approach and data collection through observation and interviews, this study found that environmental factors, communication and emotional development of children contribute significantly to anger behavior. Teachers' efforts in managing children's anger include avoiding factors that trigger anger and distracting children, giving gentle touches such as warm hugs and talking in a calm voice. Give simple and clear instructions to calm the child who is angry, praise and reward the child if he shows good behavior and does fun activities. The results of this study are expected to help parents and educators in managing angry behavior better.
Pengaruh Kegiatan Pembacaan Cerita Buku Pilar Karakter terhadap Perilaku Proposial Peserta Didik Nadhira Putri Mulyana; Erhamwilda; Eko Surbiantoro
Jurnal Riset Pendidikan Guru Paud Volume 4, No. 2, Desember 2024, Jurnal Riset Pendidikan Guru Paud (JRPGP)
Publisher : UPT Publikasi Ilmiah Unisba

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/jrpgp.v4i2.5106

Abstract

Abstrak. Tujuan penelitian ini adalah mendeskripsikan proses serta hasil pembelajaran menggunakan metode bercerita menggunakan buku pilar karakter untuk dapat meningkatkan perilaku prososial peserta didik disalah satu Taman Kanak-Kanak di Kecamatan Bandung Wetan dengan subjek penelitian berjumlah 8 anak. Indikator perilaku prososial yang diteliti adalah dermawan, jujur, menolong dan bekerja sama. Metode yang digunakan  dalam penelitian ini adalah action research dengan jenis penelitian collaborative action research dan menggunakan model kemmis & Mc Taggart. Temuan penelitian secara deskriptif kuantitatif, menggambarkan persentase perilaku prososial peserta didik mengalami peningkatan dari 54,01% menjadi 62,05% pada siklus I dan mengalami peningkatan kembali pada siklus II menjadi 76,33%. Berdasarkan hasil tersebut, dapat disimpulkan bahwa dalam proses pengembangan perilaku prososial pada anak dapat berkembang melalui metode bercerita menggunakan buku pilar karakter. Abstract. The purpose of this study is to describe the process and results of learning using the storytelling method using the character pillar book to be able to improve the prosocial behavior of students in one kindergarten in Bandung Wetan District with research subjects totaling 8 children. The indicators of prosocial behavior studied are generous, honest, helpful and cooperative. The method used in this research is action research with the type of collaborative action research and using the Kemmis & Mc Taggart model. The research findings are descriptively quantitative, describing the percentage of students' prosocial behavior has increased from 54.01% to 62.05% in cycle I and has increased again in cycle II to 76.33%. Based on these results, it can be concluded that in the process of developing prosocial behavior in children can develop through storytelling methods using character pillar books.
Pola Pengasuhan Ibu sebagai Orang Tua Tunggal dalam Membina Kemandirian Fisik Anak Salma Afifah Nuryani; Asep Dudi Suhardini; Dinar Nur Inten
Jurnal Riset Pendidikan Guru Paud Volume 4, No. 2, Desember 2024, Jurnal Riset Pendidikan Guru Paud (JRPGP)
Publisher : UPT Publikasi Ilmiah Unisba

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/jrpgp.v4i2.5108

Abstract

Abstrak. Kemandirian anak usia dini penting dikembangkan sejak dini, namun banyak anak usia 5-6 tahun masih belum mandiri secara fisik. Berdasarkan pengamatan, kemandirian fisik anak dipengaruhi oleh pola pengasuhan orang tua, khususnya ibu. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis studi kasus, melibatkan tiga anak dengan orang tua tunggal (ibu) dan guru kelas sebagai subjek. Data dikumpulkan melalui observasi, wawancara, dan studi dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pola pengasuhan ibu bervariasi, mulai dari mengajarkan, memanjakan, hingga membiarkan. Pembinaan kemandirian fisik dapat dilakukan dengan pengasuhan sesuai cara Rasulullah, seperti memberi teladan baik, menanamkan adab, membangun rasa percaya diri, memberi pujian dan motivasi, serta tidak mencela atau marah. Salah satu bentuk pembinaan adalah memisahkan tempat tidur anak, sebagaimana hadis riwayat Abu Daud yang menganjurkan orang tua memerintahkan anak salat pada usia tujuh tahun dan memisahkan tempat tidur pada usia sepuluh tahun. Hasil penelitian menunjukkan dua dari tiga anak sudah mandiri secara fisik, mampu melakukan aktivitas harian tanpa bantuan. Sementara satu anak belum mandiri karena kurangnya pembiasaan dan minimnya kesempatan dari ibu untuk mencoba melakukan aktivitas secara mandiri. Abstract. Early childhood independence is important to develop early, but many children aged 5-6 years are still not physically independent. Based on observations, children's physical independence is influenced by parenting patterns, especially mothers. This research uses a qualitative approach with a case study type, involving three children with a single parent (mother) and a class teacher as subjects. Data were collected through observation, interviews, and documentation studies. The results showed that mothers' parenting patterns varied, ranging from teaching, pampering, to allowing. Fostering physical independence can be done by parenting according to the Prophet's way, such as setting a good example, instilling adab, building self-confidence, giving praise and motivation, and not criticizing or getting angry. One form of guidance is to separate the child's bed, as the hadith narrated by Abu Daud which recommends parents to order children to pray at the age of seven and separate the bed at the age of ten. The results showed that two of the three children were physically independent, able to do daily activities without assistance. While one child is not yet independent due to lack of habituation and lack of opportunities from the mother to try to do activities independently.
Meningkatkan Kekuatan dan Koordinasi Otot Kaki Anak melalui Permainan Loncat Jejak Kaki Resti Sinta Belinda; Nan Rahminawati; Sobar Al-Ghazal
Jurnal Riset Pendidikan Guru Paud Volume 4, No. 2, Desember 2024, Jurnal Riset Pendidikan Guru Paud (JRPGP)
Publisher : UPT Publikasi Ilmiah Unisba

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/jrpgp.v4i2.5128

Abstract

Abstrak. Penelitian ini dilatarbelakangi oleh permasalahan di TK Harapan Ibu, Kecamatan Bojongsoang, Kabupaten Bandung, terkait kekuatan dan koordinasi otot kaki anak yang belum optimal. Hal ini terlihat dari keterbatasan anak dalam melakukan aktivitas seperti naik turun tangga dengan kaki bergantian, berjalan di papan titian dengan seimbang, meloncat dengan satu atau dua kaki, berlari lurus, menendang secara terarah, dan menirukan gerakan sederhana seperti pohon tertiup angin, pesawat terbang, serta kelinci melompat. Penelitian menggunakan metode Penelitian Tindakan Kelas (PTK) yang dilakukan secara kolaboratif antara peneliti, guru, dan kepala sekolah. Subjek penelitian adalah 10 anak usia 4-5 tahun, dengan data diperoleh melalui observasi dan dokumentasi. Setelah dua siklus kegiatan, hasil menunjukkan peningkatan kekuatan dan koordinasi otot kaki anak melalui permainan loncat jejak kaki. Persentase rata-rata meningkat dari 34% pada pra-siklus menjadi 59% pada siklus I, dan 88% pada siklus II.  Peningkatan ini didukung oleh pembiasaan gerakan motorik kasar sebelum pembelajaran, serta penggunaan media jejak kaki yang menarik untuk meningkatkan antusiasme anak. Permainan ini terbukti efektif dalam melatih keseimbangan, koordinasi, dan kekuatan otot kaki anak di TK Harapan Ibu. Abstract.This study was motivated by problems at Harapan Ibu Kindergarten, Bojongsoang District, Bandung Regency, related to the strength and coordination of children's leg muscles that are not optimal. This can be seen from the children's limitations in doing activities such as going up and down stairs with alternating legs, walking on a footbridge with balance, jumping with one or two feet, running straight, kicking in a directed manner, and imitating simple movements such as trees blowing in the wind, airplanes, and jumping rabbits. The research used the Classroom Action Research (PTK) method which was conducted collaboratively between researchers, teachers, and principals. The research subjects were 10 children aged 4-5 years, with data obtained through observation and documentation. After two cycles of activities, the results showed an increase in children's leg muscle strength and coordination through footprint jumping games. The average percentage increased from 34% in the pre-cycle to 59% in cycle I, and 88% in cycle II. This increase was supported by the habituation of gross motor movements before learning, as well as the use of interesting footprint media to increase children's enthusiasm. This game proved to be effective in training children's balance, coordination, and leg muscle strength at Harapan Ibu Kindergarten.

Page 9 of 12 | Total Record : 114