cover
Contact Name
Octavia Dwi Wahyuni
Contact Email
octaviaw@fk.untar.ac.id
Phone
+6282122010570
Journal Mail Official
tmj@fk.untar.ac.id
Editorial Address
Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara Gedung J Lt. 2 Jl. Letjen S.Parman No. 1, Grogol, Jakarta Barat Kode Pos: 11440
Location
Kota adm. jakarta barat,
Dki jakarta
INDONESIA
Tarumanagara Medical Journal
ISSN : 26547147     EISSN : 26547155     DOI : https://doi.org/10.24912/tmj
Core Subject : Health, Science,
Tarumangara Medical Journal adalah jurnal kedokteran dan kesehatan yang dikaji oleh pakar yang ahli dalam bidangnya. Tarumangara Medical Journal berfokus meningkatkan wasasan dan pengetahuan ilmu kedokteran dasar, kedokteran klinis dan kedokteran komunitas dengan pendekatan Evidence-Based Medicine berupa artikel asli. Konten Tarumanagara Medical Journal meliputi artikel-artikel terkini dalam bidang Biologi Molekuler, Histopatologi, Alergi dan Imunologi, Studi Sel Punca, Gizi, Geriatri, Farmakologi, Herbal, Infeksi dan Penyakit Tropis, Ilmu Penyakit Dalam, Ilmu Kesehatan Anak, Ilmu Obstetri dan Ginekologi, Ilmu Kesehatan Masyarakat, Ilmu Bedah, Neurologi, Oftalmologi, Otolaringologi, Dermatovenerologi, Psikiatri, Radiologi, Forensik, Rehabilitasi Medik dan Kedokteran Olah Raga.
Articles 421 Documents
Pajanan polusi udara dan keluhan sesak napas pada pekerja transportasi darat PT Catur Putra Manunggal Valeria Putri Munthe; Hadisono
Tarumanagara Medical Journal Vol. 8 No. 1 (2026): TARUMANAGARA MEDICAL JOURNAL
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/tmj.v8i1.34505

Abstract

Pekerja transportasi darat merupakan kelompok yang berisiko tinggi mengalami pajanan polusi udara akibat paparan emisi kendaraan bermotor secara terus-menerus. Paparan tersebut dapat menimbulkan gangguan sistem pernapasan, termasuk keluhan sesak napas. Studi ini bertujuan menganalisis hubungan antara pajanan polusi udara dengan keluhan sesak napas pada pekerja transportasi darat PT Catur Putra Manunggal. Studi analitik observasional dengan desain potong lintang dilakukan pada Desember 2024 terhadap 95 sopir dan kernet truk PT Catur Putra Manunggal. Data pajanan polusi udara diperoleh dari Status Mutu Udara Ambien Wilayah DKI Jakarta Tahun 2024 berdasarkan Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU), sedangkan keluhan sesak napas dinilai menggunakan kuesioner Modified Medical Research Council (mMRC). Analisis hubungan menggunakan uji chi-square dengan tingkat kemaknaan p<0,05. Sebanyak 51,6% responden berada pada kategori pajanan polusi udara tinggi dan 18,9% mengalami sesak napas ringan (mMRC grade 1). Mayoritas responden tidak menggunakan masker saat bekerja (77,9%). Analisis menunjukkan tidak terdapat hubungan yang bermakna antara pajanan polusi udara dan keluhan sesak napas (p=0,368). Namun, nilai prevalence risk ratio (PRR) sebesar 1,48 (IK95%: 0,877–1,702) menunjukkan kecenderungan peningkatan risiko sesak napas pada kelompok dengan pajanan lebih tinggi. Pajanan polusi udara tidak berhubungan secara bermakna dengan keluhan sesak napas, namun menunjukkan kecenderungan meningkatkan risiko sesak napas pada pekerja transportasi darat.
Gambaran pengetahuan siswa SMPN 7 Bekasi mengenai vaksin tifoid Mochamad Thoriq Alinudin; Linda Budiarso
Tarumanagara Medical Journal Vol. 8 No. 1 (2026): TARUMANAGARA MEDICAL JOURNAL
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/tmj.v8i1.34512

Abstract

Demam tifoid masih menjadi masalah kesehatan masyarakat di Indonesia, terutama pada remaja usia sekolah. Vaksinasi merupakan upaya pencegahan yang efektif, namun cakupan vaksinasi tifoid masih rendah sehingga pengetahuan remaja mengenai vaksin tifoid perlu diketahui. Studi  deskriptif dengan pendekatan cross-sectional ini dilakukan pada Mei–Juni 2025 di SMPN 7 Bekasi. Sebanyak 287 siswa berusia 12–17 tahun menjadi responden. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner tervalidasi dan reliabel yang terdiri atas 22 pertanyaan, kemudian dianalisis secara deskriptif. Rata-rata usia responden ialah 13,94±0,96 tahun dengan mayoritas perempuan (55,4%). Rata-rata skor pengetahuan sebesar 67,33±15,48. Tingkat pengetahuan responden sebagian besar berada pada kategori cukup (44%), diikuti baik (34%) dan kurang (22%). Sebanyak 89,9% responden pernah mendengar tentang tifoid, tetapi hanya 41,8% yang mengetahui vaksin tifoid dan 14,3% yang pernah menerima vaksin. Sebagian besar responden (89,2%) menganggap vaksin tifoid penting dan 67,3% bersedia divaksin. Pengetahuan siswa mengenai vaksin tifoid tergolong cukup, namun paparan informasi dan cakupan vaksinasi masih rendah. Edukasi kesehatan yang berkelanjutan diperlukan untuk meningkatkan pengetahuan dan penerimaan vaksin tifoid.
Analisis proses pemulangan pasien rawat inap dengan pendekatan lean management di Rumah Sakit Azra Kota Bogor Dieni Ananda Putri; Nofierni; Kemala Rita Wahidi; Dhita Widya Putri; Paula Tjatoerwidya Anggarina; Yusuf Enril Fathurrohman
Tarumanagara Medical Journal Vol. 8 No. 1 (2026): TARUMANAGARA MEDICAL JOURNAL
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/tmj.v8i1.34564

Abstract

Lama waktu tunggu proses pemulangan pasien rawat inap sering melebihi waktu yang telah ditetapkan dan mempengaruhi kepuasan pelanggan. Rata-rata waktu tunggu proses pemulangan pasien di RS Azra Kota Bogor pada tahun 2023 ialah 4 jam 21 menit diiringi dengan angka komplain yang tinggi. Waktu ini melebihi waktu standar yang ditetapkan oleh KMK 129/2008 tentang Standar Pelayanan Minimal dimana proses pemulangan ≤2 jam. Lean management merupakan salah satu metode perbaikan yang bertujuan mengurangi lama waktu tunggu. Studi ini menggunakan mix method dengan desain sequential exploratory dan action research pada 24 pasien rawat inap jenis asuransi Third Party Assurance (TPA) di RS Azra Kota Bogor perode Juni-Juli Tahun 2024. Pengumpulan data kualitatif dilakukan melalui observasi pemulangan pasien rawat inap dengan time study sebelum dan setelah pendekatan lean management, analisis value stream mapping, wawancara, telaah dokumen, usulan perbaikan alur proses pemulangan pasien baru dan mitigasi risiko dengan Failure Mode and Effect Analysis (FMEA). Data kuantitatif dengan melakukan uji statistik t-paired test. Hasil studi menunjukkan bahwa terdapat 3 waste kritis yaitu waiting, transportation dan overprocessing. Waktu tunggu menurun secara bermakna dari 3 jam 10 menit menjadi 2 jam 8 menit setelah dilakukan pendekatan lean management yang dibuktikan dengan uji statistik dengan nilai p<0,001. Lama waktu proses pemulangan pasien rawat inap di RS Azra dapat diturunkan dengan pendekatan lean management, meskipun belum mencapai standar pelayanan minimal yang ditetapkan Pemerintah. Tindak lanjut perbaikan diperlukan untuk mencapai standar yang ditetapkan.
Fungsi ginjal dan beban psikologis: Peran usia sebagai mediator hubungan kreatinin dan DASS-42 Noer Saelan Tadjudin; Alexander Halim Santoso; Stanislas Kotska Marvel Mayello Teguh
Tarumanagara Medical Journal Vol. 8 No. 1 (2026): TARUMANAGARA MEDICAL JOURNAL
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/tmj.v8i1.35079

Abstract

Gangguan fungsi ginjal tidak hanya berdampak terhadap kesehatan fisik, tetapi juga berhubungan dengan kondisi psikologis, seperti depresi, kecemasan, dan stres. Hubungan tersebut dipengaruhi oleh berbagai faktor, salah satunya usia, yang berpotensi bertindak sebagai variabel mediator atau perancu. Studi ini bertujuan menganalisis hubungan fungsi ginjal berdasarkan kadar kreatinin dengan beban psikologis menggunakan Depression Anxiety Stress Scale-42 (DASS-42) serta mengevaluasi peran usia dalam hubungan tersebut. Studi analitik observasional dengan desain potong lintang dilakukan secara multisenter di tiga wilayah DKI Jakarta pada November 2024–Mei 2025. Sebanyak 192 responden berusia ≥18 tahun dipilih menggunakan consecutive sampling. Fungsi ginjal dinilai melalui kadar kreatinin serum dan estimasi laju filtrasi glomerulus (LFG), sedangkan beban psikologis diukur menggunakan DASS-42. Analisis hubungan dilakukan menggunakan uji korelasi Spearman dan partial correlation dengan mengendalikan variabel usia. Rerata usia responden ialah 46,85±12,86 tahun. Kadar kreatinin berkorelasi negatif dengan depresi (r=-0,200; p=0,005) dan stres (r=-0,170; p=0,018), sedangkan LFG berkorelasi signifikan dengan seluruh dimensi psikologis (p<0,05). Usia juga berkorelasi negatif dengan seluruh dimensi psikologis (p<0,01). Setelah usia dikendalikan, hubungan antara kreatinin maupun LFG dengan seluruh skor DASS-42 menjadi tidak bermakna (p>0,05). Temuan ini menunjukkan bahwa usia merupakan faktor perancu yang kuat dalam hubungan antara fungsi ginjal dan kondisi psikologis. Temuan ini menekankan pentingnya mempertimbangkan faktor usia dalam evaluasi kondisi psikologis pasien, serta perlunya pendekatan biopsikososial dalam praktik klinis dan penelitian selanjutnya.
Senyawa metabolit sekunder dan tingkat toksisitas ekstrak methanol batang Brotowali Linginda Soebrata; Ni Made Swantari; Frans Ferdinal; Eny Yulianti
Tarumanagara Medical Journal Vol. 8 No. 1 (2026): TARUMANAGARA MEDICAL JOURNAL
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/tmj.v8i1.35982

Abstract

Antioksidan merupakan senyawa yang dapat menetralisir radikal bebas melalui transfer elektron. Antioksidan dalam suatu tanaman didapatkan melalui hasil metabolit sekundernya. Batang brotowali merupakan salah satu jenis tanaman tradisional yang telah lazim dikonsumsi oleh masyarakat Indonesia sebagai jamu dan telah terbukti dapat mencegah penyakit seperti diabetes. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui senyawa metabolit sekunder yang terkandung dalam ekstrak metanol batang brotowali melalui skrining fitokimia, serta uji tingkat toksisitas dari batang brotowali dengan metode BSLT (Brine Shrimp Lethality Test). Melalui penelitian ini, diketahui bahwa ekstrak mengandung hasil metabolit sekunder berupa Steroid, Terpenoid, Alkaloid, Betasianin, Kardioglikosida, Glikosida, Flavonoid, Saponin, Fenol. Kuinon, Tanin, dan Kumarin. Pada ada uji toksisitas didapatkan nilai LC50 sebesar 464.28 µg/mL, angka tersebut tergolong kedalam kategori kuat, menunjukkan bahwa ekstrak memiliki aktivitas antimitotik yang kuat.
Analisis hubungan stres akademik dengan Premestrual Syndrome pada mahasiswi kedokteran Yuliana; Twidy Tarcisia
Tarumanagara Medical Journal Vol. 8 No. 1 (2026): TARUMANAGARA MEDICAL JOURNAL
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/tmj.v8i1.35991

Abstract

Premenstrual syndrome (PMS) termasuk kumpulan gejala fisik, emosional dan perilaku yang muncul menjelang terjadinya menstruasi serta dapat mengganggu aktivitas harian penderitanya. Berbagai faktor dapat berperan dalam timbulnya PMS, salah satunya ialah stres akademik. Stres akademik merupakan tekanan psikologis yang dialami mahasiswa selama menjalani proses pembelajaran akibat tuntutan akademik. Studi ini dimaksudkan untuk menganalisis keterkaitan antara tingkat stres akademik dengan munculnya PMS pada mahasiswi Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara angkatan 2022–2024. Studi dilaksanakan di FK UNTAR pada bulan Agustus 2025 dengan desain observasional analitik potong lintang dan melibatkan 191 mahasiswi yang ditetapkan melalui prosedur non-random sampling. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner Medical Student Stressor Questionnaire (MSSQ) untuk menilai tingkat stres akademik serta Shortened Premenstrual Assessment Form (SPAF) untuk mengevaluasi PMS. Hasil studi menunjukkan bahwa sebagian besar responden mengalami PMS derajat sedang (67 orang; 35,1%) dan stres akademik derajat sedang (70 orang; 36,6%). Hasil uji analitik chi-square menghasilkan p-value < 0,001, menandakan terdapat keterkaitan yang bermakna secara statistik antara tingkat stres akademik dan kejadian PMS. Studi menyimpulkan bahwa stres akademik memiliki keterkaitan dengan timbulnya PMS pada mahasiswi kedokteran. Temuan ini diharapkan dapat menjadi dasar bagi upaya promotif dan preventif terkait kesehatan reproduksi dan pengelolaan stres di lingkungan pendidikan kedokteran.  
Laporan kasus: Ileus obstruksi akibat “silent“ adenokarsinoma rektum Rayhan Setiawan; Cristina Tarigan; Peter Ian Limas
Tarumanagara Medical Journal Vol. 8 No. 1 (2026): TARUMANAGARA MEDICAL JOURNAL
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/tmj.v8i1.36012

Abstract

Kanker rektum menyumbang sepertiga dari semua kasus kanker kolorektal. Kanker rektum sering terlambat terdiagnosis karena gejalanya seperti gangguan pencernaan pada umumnya. Kanker rektum dapat menyebabkan obstruksi kolon tergantung pada lokasi dan ukuran tumor. Laporan kasus ini berfokus pada skrining, presentasi klinis, lokasi tumor, dan diagnosis obstruksi usus besar akibat adenokarsinoma pada pasien dewasa. Seorang perempuan berusia 50 tahun datang ke IGD RS dengan gejala konstipasi tanpa ada riwayat kanker kolorektal sebelumnya. Pemeriksaan fisik abdomen menunjukkan distensi abdomen dengan dua massa yang teraba. Massa pertama (13 x 12 cm) dengan permukaan nodular dan konsistensi keras di kuadran kanan bawah, sedangkan massa kedua (8 x 9 cm) dengan konsistensi padat di area periumbilikal. Hasil laboratorium menunjukkan peningkatan kadar penanda tumor CEA. Kolonoskopi menunjukkan massa yang menutupi seluruh permukaan rektum, dan hasil biopsi tumor mengonfirmasi diagnosis adenokarsinoma rektum. Manifestasi klinis pada pasien tidak menunjukkan korelasi dengan progresivitas penyakit kanker kolorektalnya. Obstruksi kolorektal pasien disebabkan oleh pertumbuhan tumor yang secara fisik menyumbat lumen rektum yang dikonfirmasi melalui kolonoskopi. Tumor terletak di rektum, yang merupakan lokasi paling umum untuk obstruksi dan memiliki kecenderungan lebih tinggi untuk berkembang menjadi kanker kolorektal. Skrining tumor kolorektal memainkan peran penting dalam diagnosis dini dan waktu intervensi terapi, yang pada akhirnya mengurangi keparahan penyakit.
Rasionalitas penggunaan antibiotik berdasarkan Gyssens dan WHO AWaRe di Rumah Sakit Royal Taruma Jakarta: Studi retrospektif Eric Hartono; Shirly Gunawan; Luciana Mariana
Tarumanagara Medical Journal Vol. 8 No. 1 (2026): TARUMANAGARA MEDICAL JOURNAL
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/tmj.v8i1.36062

Abstract

Kemunculan dan meluasnya resistensi antibiotik merupakan tantangan kesehatan masyarakat global yang sangat serius. Penggunaan antibiotik, termasuk pemberiannya untuk infeksi non-bakteri dan pemilihan agen yang tidak sesuai, berkontribusi signifikan terhadap kondisi ini. World Health Organization (WHO) mengembangkan klasifikasi Access, Watch, Reserve (AWaRe) dalam mendorong penggunaan antimikroba yang rasional. Selain itu, metode Gyssens memberikan pendekatan sistematis untuk evaluasi kualitatif praktik pemberian resep antibiotik. Studi ini bertujuan untuk menilai penggunaan antibiotik di Rumah Sakit Royal Taruma Jakarta berdasarkan klasifikasi AWaRe dan mengevaluasi ketepatan penggunaannya menggunakan metode Gyssens. Studi retrospektif ini dilakukan menggunakan rekam medis pasien rawat inap rumah sakit tersebut dari Januari hingga Maret 2023. Analisis dilakukan terhadap 1314 kasus penggunaan antibiotik dari pasien rawat inap. Ketepatan dinilai menggunakan metode Gyssens, dan antibiotik diklasifikasikan sesuai dengan kriteria AWaRe WHO. Berdasarkan klasifikasi AWaRe WHO, penggunaan antibiotik didominasi oleh kategori Watch (91,5%), diikuti oleh Access (5,1%), Reserve (1,1%), Not Recommended (2,1%), dan Lainnya (0,2%). Sebanyak 385 resep (25,53%) dinilai tepat berdasarkan metode Gyssens. Sebagian besar antibiotik yang digunakan di Rumah Sakit Royal Taruma termasuk dalam kategori Watch. Temuan ini menekankan pentingnya untuk memperkuat program pengendalian antibiotik dan mendorong pemberian resep yang rasional pada pasien rawat inap.
Pengaruh tingkat stress psikis terhadap kualitas tidur mahasiswa kedokteran Universitas Tarumanagara Intan Ayu Risqika; Alya Dwiana
Tarumanagara Medical Journal Vol. 8 No. 1 (2026): TARUMANAGARA MEDICAL JOURNAL
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/tmj.v8i1.36162

Abstract

Salah satu masalah utama mahasiswa kedokteran ialah tingginya tingkat stres yang dialami. Mahasiswa dituntut mampu beradaptasi dengan berbagai tekanan atau situasi kompleks yang muncul akibat beragam faktor, seperti kurikulum yang luas, banyaknya tuntutan akademik yang harus dipenuhi, serta ujian yang beragam dan memiliki tingkat kesulitan yang tinggi. Stres tersebut menjadi salah satu faktor umum yang dapat menurunkan kualitas tidur mahasiswa kedokteran. Tujuan studi ini untuk mengetahui hubungan stres psikis dengan kualitas tidur pada mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara. Studi ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain analitik dan metode cross sectional. Jumlah sampel sebanyak 319 mahasiswa kedokteran Universitas Tarumanagara angkatan 2022 dan 2023 dengan teknik pengambilan non-random sampling. Studi ini menggunakan instrumen Perceived Stress Scale (PSS) untuk menilai stres psikis dan Pitssburg Sleep Quality Index (PSQI) untuk menilai kualitas tidur dalam satu bulan terakhir. Sebagian besar responden tergolong memiliki tingkat stres sedang (259 responden; 81,2%) dan kualitas tidur yang buruk (188 responden; 58,9%). Hasil analisis statistik menunjukkan nilai p value < 0.001 (p < 0.05), artinya secara statistik terdapat hubungan yang signifikan antara stres psikis dengan kualitas tidur. Nilai asosiasi epidemiologi juga memperlihatkan makin tinggi tingkat stres yang dialami, maka makin buruk kualitas tidur yang dimiliki mahasiswa kedokteran Universitas Tarumanagara angkatan 2022 dan 2023.
Gambaran CD4+ dan viral load berdasarkan terapi antiretroviral di RSPI Prof. Dr. Sulianti Saroso Clarissa Hartawan; Sari Mariyati Dewi Nataprawira; Teguh Sarry Hartono
Tarumanagara Medical Journal Vol. 8 No. 1 (2026): TARUMANAGARA MEDICAL JOURNAL
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/tmj.v8i1.36199

Abstract

Infeksi Human Immunodeficiency Virus (HIV) merupakan salah satu masalah kesehatan yang serius. Virus ini merusak sel CD4+ dalam sistem imunitas. Antiretroviral (ARV) merupakan pengobatan utama untuk menekan replikasi virus. Keberhasilan terapi dipantau melalui pemeriksaan jumlah CD4+ dan viral load (VL). Regimen ARV pilihan yang saat ini digunakan ialah Tenofovir, Lamivudine, Dolutegravir (TLD) yang memiliki efek samping minimal. Studi ini bertujuan mengetahui gambaran jumlah CD4+ dan viral load pada orang hidup dengan HIV (ODHIV) yang menjalani terapi ARV di RSPI Prof. Dr. Sulianti Saroso periode 2020–2024. Studi deskriptif potong-lintang ini dilakukan pada 93 subjek dengan menggunakan data sekunder rekam medis.  Hasil studi  didapatkan peningkatan nilai median dari jumlah CD4 setelah terapi (246 sel/mm3) dibandingkan sebelum terapi (57 sel/mm3). Pada kelompok anak 0–10 tahun, kenaikan median jumlah CD4 paling tinggi pada subjek yang menggunakan regimen ABC(120)/3TC(60)+DTG(10), yaitu 1.494 sel/mm3, sedangkan kenaikan  median jumlah CD4 tertinggi di kelompok remaja dan dewasa pada pengguna regimen TDF(300)/3TC(300)/DTG(50)+DTG(50), yaitu 473 sel/mm3. Hasil pemeriksaan viral load pada mayoritas subjek setelah terapi ialah tersupresi. Namun, semua pengguna regimen ABC(120)/3TC(60)+LPV/r(200/50) di kelompok anak 0-10 tahun serta 2 subjek pengguna regimen TDF(300)/3TC(300)/DTG(50) dan 3 subjek pengguna regimen TDF(300)/3TC(300)/EFV(600) pada kelompok remaja-dewasa mengalami viral load yang tidak tersupresi. Hasil dari pemeriksaan CD4 dan viral load bervariasi, namun cenderung meningkat pada jumlah CD4 dan tersupresi pada jumlah viral load. Variasi hasil pada setiap subjek studi ini dikarenakan adanya faktor-faktor lain seperti kepatuhan berobat, dukungan sosio-ekonomi, resistensi obat, dan faktor lainnya.