cover
Contact Name
Malik
Contact Email
alkarimastiq@gmail.com
Phone
+6287881807504
Journal Mail Official
messakelam@gmail.com
Editorial Address
Jl. Solo-Tawangmangu KM. 34 Pakel, Gerdu, Karangpandan, Karanganyar, Jawa Tengah. Kode Pos: 57791 Telp : (0271) 6901044
Location
Kab. karanganyar,
Jawa tengah
INDONESIA
Al Karima : Jurnal Studi Ilmu Al Qur'an dan Tafsir
ISSN : 25493035     EISSN : 28293703     DOI : -
Jurnal Studi Ilmu Al Quran dan Tafsir yang diterbitkan oleh Sekolah Tinggi Ilmu Al Quran Isy Karima Karanganyar setiap bulan Februari dan Agustus setiap tahun
Articles 112 Documents
Makna Du'afa dan Solusi Pemberdayaannya Perspektif Al-Qur'an Iqbal, Ipmawan Muhammad
Al Karima : Jurnal Studi Ilmu Al Quran dan Tafsir Vol. 7 No. 2 (2023): Al Karima : Jurnal Studi Ilmu Al Quran dan Tafsir
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Al-Quran Isy Karima Karanganyar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58438/alkarima.v7i2.177

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis; 1) makna du'afa dalam Al-Qur'an; 2) pesan Al-Qur'an terkait keberadaan kaum du'afa dan solusi pemberdayaannya. Jenis penelitian library research dan explanatory research. Sumber data dari mushaf Al-Qur'an dan kitab indek ayat-ayat Al-Qur'an serta kitab-kitab tafsir. Analisa data menggunakan analisa tematik, analisa konteks dan berprinsip ilmiah, yaitu rasional, objektif dan argumentatif. Hasil penelitian meliputi; 1) Arti Du'afa adalah lemah dan hina. Adapun menurut istilah orang-orang du'afa adalah mereka yang lemah fisik dikarenakan usia lanjut, cacat pada tubuh dan anak-anak, du'afa bisa berarti miskin, tidak memiliki harta dan lemah intelektualnya; 2) Adapun solusi pemberdayaan Al-Qur'an diantaranya; a. Kategori lemah iman dengan meningkatkan kesadaran beragama dan pembinaan aqidah, b. Lemah intelektual dengan mempelajari, mendalami dan mengimplementasikan ilmu pengetahuan dan teknologi, c. Lemah ekonomi dengan bekerja keras, zakat produktif dan membangun perekonomian berkeadilan, d. Lemah fisik dengan prinsip kerjasama dalam lingkungan keluarga dan masyarakat, e. Lemah politik dengan bantuan perlawanan terhadap penguasa yang dzalim ataupun hijrah ke wilayah yang memberikan kebebasan dan kemerdekaan.
Konsep Sabar pada Surah Al-Baqarah dan Implikasinya dalam Kesehatan Mental Ihsanillah, Muhammad Mu'tamid; Auliya
Al Karima : Jurnal Studi Ilmu Al Quran dan Tafsir Vol. 8 No. 1 (2024): Al Karima : Jurnal Studi Ilmu Al Quran dan Tafsir
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Al-Quran Isy Karima Karanganyar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58438/alkarima.v8i1.199

Abstract

Fenomena bunuh diri yang terjadi akhir-akhir ini disebabkan oleh minimnya kesadaran masyarakat terhadap kesehatan mental. Islam sangat memperhatikan kesehatan mental, banyak ayat Al-Quran yang menuntun manusia untuk memiliki sikap sabar, tidak gampang putus asa, dan semangat dalam menjalani kehidupan dunia untuk bekal kehidupan diakhirat. Untuk itu tujuan penelitian ini adalah menganalisis konsep sabar yang terdapat dalam Q.S Al-Baqarah ayat 155-157 dan implikasinya dalam Kesehatan mental. Jenis penelitian ini adalah deskriptif kualitatif dengan teknik pengumpulan data studi pustaka (library research). Hasil dari penelitian ini adalah konsep sabar yang terdapat dalam kandungan Q.S Al-Baqarah ayat 155-157 yaitu sikap mental dan jiwa yang terlatih untuk menghadapi segala bentuk cobaan, yang lahir dan tumbuh atas dorongan agama, serta ketabahan dan penerimaan cobaan yang menimpa, menjauhi segala macam dorongan dari hawa nafsu, mempunyai sikap mental yang mampu menghadapi ujian, teguh dan pantang menyerah serta tetap taat kepada perintah Allah dengan terus berusaha dan berjuang untuk memperoleh keberkahan untuk kebahagiaan dunia dan akhirat. Implikasi sabar di dalam kesehatan mental sangat berkaitan erat, yaitu bagaimana sikap sabar mampu membuat jiwa menjadi tenang dan menemukan hakikat tujuan hidup.
Qiraat Syaddzah dalam Tafsir Bahru Al-Muhit Mas'ud, Mas'ud; Ni’mah, Khairin; Sulfa, Nafilah
Al Karima : Jurnal Studi Ilmu Al Quran dan Tafsir Vol. 8 No. 2 (2024): Al Karima : Jurnal Studi Ilmu Al-Quran dan Tafsir
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Al-Quran Isy Karima Karanganyar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58438/alkarima.v8i2.250

Abstract

Memahami Al-Qur’an tidak cukup dengan mata telanjang karena masih bersifat mujmal, untuk memahaminya memerlukan alat bantu berupa tafsir yang notabene menjelaskan Al-Qur’an dari berbagai aspeknya. Adanya tafsir tidak lepas dari adanya qiraat. Dari bermacam qiraat yang masih terjadi perdebatan di antara ulama adalah qiraat syadzah yang terimplikasi dalam tafsir. Bisa saja qiraat syadzah itu dibutuhkan dalam menafsirkan Al-Qur’an mengingat periwayatannya bersumber dari sahabat dan mendengar langsung dari Nabi. Salah satu tafsir yang memuat qiraat syadzah adalah tafsir al-Bahru al-Muhit karya Abu al-Hayyan. Penelitian ini menggunakan pustaka (library research) sebagai metode dalam penelitian ini, yaitu metode yang bersumber dari data yang diteliti. Penelitian ini memiliki dua permasalahan (1) Bagaimana polarisasi Qiraat Syadzah (2) Bagaimana Qiraat Syadzah dalam Kitab al-Bahru al-Muhit karya Abu Hayyan. Terdapat tiga pola dalam qiraat syadzah: pertama, qiraat yang diriwayatkan dari rawi tidak tsiqah tetapi mempunyai kesesuaian dengan kaidah-kaidah bahasa Arab dan rasm Utsmani; kedua, qiraat yang diriwayatkan dari rawi tsiqah tetapi menyalahi kaidah-kaidah bahasa Arab; ketiga, qiraat yang sanadnya sahih dan mempunyai kesesuaian dengan kaidah-kaidah bahasa Arab, namun menyalahi rasm Utsmani. Munculnya qiraat syadzah dalam tafsir disebabkan dua hal, pertama, adanya perbedaan persepsi terhadap hadis tentang makna zahir dan batin yang dimiliki Al-Qur’an; kedua, karena pengaruh tersebarnya hadis qiraat syadzah. Al-Zamakhsyari merupakan ulama yang banyak menyebutkan qiraat syadzah dalam tafsirnya al-Kasyaf, kemudian Abu Hayyan menerapkan qiraat syadzah dalam kitabnya al-Bahru al-Muhit dan al-Syaukani dalam tafsir Fathu al-Qadir.
Quo Vadis I'jaz 'Ilmi : Karakteristik dan Persinggungannya dengan Fakta Sains Khoiri, Shohib; Sulthoni, Akhmad
Al Karima : Jurnal Studi Ilmu Al Quran dan Tafsir Vol. 8 No. 1 (2024): Al Karima : Jurnal Studi Ilmu Al Quran dan Tafsir
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Al-Quran Isy Karima Karanganyar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58438/alkarima.v8i1.195

Abstract

This study aims to examine the development of the study of i'jaz ilmi and the signs that must be considered so that the study of i'jaz ilmi does not deviate. The focus of this study consists of several important points, namely the development of tafsir ilmi and its characteristics, a critical study of the definition of i'jaz ilmi and tafsir ilmi that developed in the community, and the signs in the study of i'jaz ilmi so that no mistakes occur. This research uses qualitative-descriptive-analytic methodology. Based on the research, it is found that: First, Despite the pros and cons among scholars, i'jaz and tafsir ilmi is one of the studies of the Qur'an that is widely discussed by scholars, this is evident from the emergence of several works related to it, including in Indonesia. Second, some scholars argue that i'jaz ilmi and tafsir ilmi are two different things, this difference lies in the potential error that will occur. I'jaz ilmi is considered a definite truth while tafsir ilmi has the possibility of error. However, in practice i'jaz ilmi also has the possibility of being wrong as long as there is no explicit signal that shows the relationship of a verse with scientific facts, meaning that if the condition is so then i'jaz ilmi and tafsir ilmi are only based on conjectures that have the possibility of being wrong. Third, to minimize the occurrence of errors, it is necessary to pay attention to some of the signs in the study, namely the use of sentences that can be used in the study.
Ashab al-Kahf in the Writings of the Orientalist Johann Wolfgang von Goethe: A Semantic Study of the Intertextuality with Surah Al-Kahf: أصحاب الكهف في كتابات المستشرق يوهان فولفغانغ فون غوته: دراسة دلالية لألفاظ التناص مع سورة الكهف Albshkar, Hajer; Ayad, Nahid; Alouzi, Khuloud; Masuwd, Mowafg; Abdulghani, Naser
Al Karima : Jurnal Studi Ilmu Al Quran dan Tafsir Vol. 8 No. 2 (2024): Al Karima : Jurnal Studi Ilmu Al-Quran dan Tafsir
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Al-Quran Isy Karima Karanganyar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58438/alkarima.v8i2.262

Abstract

This study analyses how the poem "Ashab al-Kahf" in the writings of the orientalist Johann Wolfgang von Goethe connects with Surah Al-Kahf through intertextuality. The overlap of the poem with the story " Ashab al-Kahf" in the Quranic Surah highlighted the extent of Johann Wolfgang von Goethe's influence by the Quran and Islamic heritage. This research aimed to study and analyze some of the words used in the poem using an analytical and comparative approach to understand Johann Wolfgang von Goethe's understanding of the story, the significance of the chosen words, and the impact of intertextuality with the Quranic text on shaping the poem's meanings. The findings indicated that Johann Wolfgang von Goethe faithfully presented the events, characters, and the spatial context of the story. His chosen words highlight the strong link between the poem and the Quranic text which shows the author's deep engagement with the Quranic narrative.
Resepsi Surah An-Nur Ayat 41 sebagai Wasilah pada Tradisi Betukak Mesan di Dusun Ketangga Lombok Timur Romdani, Zainur Ihsan
Al Karima : Jurnal Studi Ilmu Al Quran dan Tafsir Vol. 7 No. 2 (2023): Al Karima : Jurnal Studi Ilmu Al Quran dan Tafsir
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Al-Quran Isy Karima Karanganyar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58438/alkarima.v7i2.184

Abstract

Adanya sebuah intraksi umat Islam dengan al-Qur’an kerap kali menimbulkan penerimaan akan al-Qur’an. Penerimaan atau resepsi yang terjadi dalam umat Islam tersebut terwujud dalam bentuk yang beragam, tergantung pada cara berfikir, kognisi sosial, dan konteks yang mengitari kehidupan masyarakat tersebut. Salah satu bentuk penerimaan al-Qur’an yaitu terwujud pada tradisi betukak mesan, yaitu sebuah tradisi yang dilakukan dalam rangka upacara kematian. Tradisi ini masih dilestarikan oleh masyarakat Dusun Ketangga. Mereka meyakini bahwa dalam tradisi tersebut mengandung manfaat, di mana dengan dilakukannya tradisi tersebut maka akan menjadi penolong atau wasilah bagi mayit tersebut. Oleh karenanya penelitian ini mencoba mengurai atau mengungkap motif-motif masyarakat Ketangga menyelenggarakan tradisi tersebut. Dalam memudahkan mengungkap motif tersebut, digunakan pendekatan yang digunakan yaitu menggunakan pendekatan fenomenologi dengan analisa interpretatif. Adapun kesimpulan akhir dari penelitian ini ialah bahwa tradisi betukak mesan lahir dari pemahaman masyarakat akan ayat al-Qur’an maupun hadis. Di mana dalam hal ini resepsi al-Qur’an nampak dari dilakukannya pembacaan ayat-ayat al-Qur’an terhadap batu yang digunakan sebagai nisan tersebut.
Pengaruh Ikhtilaf Al-Qira'at Al-Mutawatirah dalam Surah Maryam Ayat 19: أثر اختلاف القراءات المتواترة في تفسير سورة مريم الآية 19 نموذجا Ismail, Ulfan Huda; Tarmom, Nabil Ahmed; Mubarok, Wildan Fata
Al Karima : Jurnal Studi Ilmu Al Quran dan Tafsir Vol. 8 No. 2 (2024): Al Karima : Jurnal Studi Ilmu Al-Quran dan Tafsir
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Al-Quran Isy Karima Karanganyar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58438/alkarima.v8i2.263

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk memahami dampak dari perbedaan bacaan al-qur’an terhadap tafsir surat maryam melalui kitab-kitab tafsir dan ilmu qira’at untuk menjelaskan makna dari perbedaan bacaan tersebut dan memahami juga bagaimana para mufassir dan qori menghadapi perbedaan bacaan al-qur'an. Penelitian ini penting karena berkaitan dengan kitab Allah, sehingga penafsiran al-qur'an tidak hanya terbatas pada riwayat Hafs ‘an Asim saja akan tetepi dengan riwayat lain juga. Adapun metode penelitian yang diambil oleh peneliti adalah pendekatan induktif untuk mengumpulkan perbedaan bacaan yang mutawatirah dari buku-buku ilmu qira’at. Kedua, pendekatan deskriptif-analitis untuk menganalisis perbedaan bacaan dan menganalisis maknanya serta dampaknya terhadap ilmu tafsir. Penelitian ini membuktikan bahwa perbedaan bacaan berdampak pada ilmu tafsir dalam memperluas makna dan memperjelas bacaan lain atau dapat mengubah makna untuk menafsirkan ayat tersebut, adapun makna-makna yang terdapat dalam surat maryam sebagian besar terkait dengan bahasa. adapun para penafsir dan qori dalam memahami perbedaan bacaan adalah dengan mempelajari dan menganalisisnya secara cermat dan teliti. Implikasi dari penelitian ini adalah tidak boleh mengatakan bahwasannya perbedaan bacaan tidak merubah makna terhadap tafsir, melainkan perbedaan bacaan merupakan salah satu mukjizat dari al-qur’an.
Dakwah Minbariyah sebagai Praktik Living Qur'an di Pesantren: (Studi Kasus Santriwati di Pondok Pesantren Mutiara Qur'an Yogyakarta) Daib Insan Labib, Muhammad Alfreda; Fajriyaturrohmah, Fajriyaturrohmah; Dhiya’elhaq, Muhammad Nazhif Ghossan
Al Karima : Jurnal Studi Ilmu Al Quran dan Tafsir Vol. 8 No. 1 (2024): Al Karima : Jurnal Studi Ilmu Al Quran dan Tafsir
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Al-Quran Isy Karima Karanganyar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58438/alkarima.v8i1.193

Abstract

Penelitian ini membahas tentang fenomena Santriwati dalam dakwah minbariyah di PPMQ Yogyakarta. Berdasarkan hasil penelitian ditemukan bahwa, kegiatan ini adanya interpretasi pada surah annahl 97. Dakwah Minbariyah, juga memiliki dampak positif terhadap para santri serta musyrifah-musrifah PPMQ. Beberapa diantaranya yakni, melatih santriwati agar terbiasa berbicara didepan umum, kemudian dapat mengembangkan potensi dan atau kemampuan yang dimiliki para santri dan paling utama adalah membiasakan para santri untuk dapat berbicara yang baik dan benar didepan umum. Adapun dalam penelitian ni, penulis mengunakan metode kualitatif dengan pendekatan Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini mencoba pada Teori Konstruksi Sosial Peter I Berber, yang terdiri dari 3 aspek yaityu; Eksternalisasi, Objektivitasi, dan Internalisasi. Adapun didapat kesimpulan, dengan adanya kegiatan da’iyah minbariyah dapat memberikan kesempatan kepada santriwati untuk dapat mengembangkan kemampuan diri sendiri, membiasakan santriwati untuk berbicara didepan umum dan atau khalayak ramai, selain itu karena kurangnya tenaga pendakwah dari Masjid, dan keinginan dari berbagai pihak untuk menghasilkan regenerasi yang berbasis islami terkhusus pada bidang dakwah.
Imam Ibnu Jarir Al-Tabari, Kehidupannya dan Pendekatannya dalam Tafsir Jami’ Al-Bayan Terhadap Tafsir Al-Qur’an: الإمام ابن جرير الطبري حياته ومنهجه في تفسير جامع البيان عن تأويل أي القرآن Tsauri, Sidiq Samsi; Hidayat, Tatang
Al Karima : Jurnal Studi Ilmu Al Quran dan Tafsir Vol. 8 No. 2 (2024): Al Karima : Jurnal Studi Ilmu Al-Quran dan Tafsir
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Al-Quran Isy Karima Karanganyar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58438/alkarima.v8i2.261

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui model kajian penafsiran pepatah dan pernyataan pendekatannya dari tafsir Jami' al-Bayan terhadap tafsir al-Quran karya Imam Ibnu Jarir al-Thabari. Metode penelitian yang digunakan adalah deskriptif dan analitis dengan menggunakan metode studi kepustakaan, dan data telah dikumpulkan dari sumber-sumber tertulis atau digital yang relevan dengan topik penelitian. Peneliti telah meriwayatkan kehidupan Imam dalam bentuk yang rinci dan pernyataan metodologinya dan mencapai hasil sebagai berikut: Pertama: Imam Ibnu Jarir al-Thabari biasanya datang dengan sebuah ayat untuk menafsirkannya dan sumber ucapannya mengatakan dengan mengatakan: “Perkataan dalam tafsir Allah SWT.” Kedua: menyebutkan ayat yang akan ditafsirkan, kemudian menyebutkan salah satu kata dalam tafsirnya, dengan didukung oleh para sahabat atau mufassir yang mengatakannya, Ketiga: mengevaluasi ucapan-ucapan yang paling penting dan hal-hal yang paling penting dari satu kata, bukan perumpamaan, dan lain-lain. Keempat: Banyak menggunakan metode dalam penafsiran, selain kitab-kitab hadis, sejarah, dan sumber-sumber penafsiran lainnya. Kitab ini dianggap sebagai contoh penafsiran yang benar berdasarkan hadis, dan setiap penafsiran yang mengikutinya mengacu pada pandangan penafsiran Imam al-Tabari.
Toleransi dan Dialog sebagai Nilai Etika dalam Al-Qur'an Firmansyah, Firmansyah; Putra, Dayul Seven
Al Karima : Jurnal Studi Ilmu Al Quran dan Tafsir Vol. 7 No. 2 (2023): Al Karima : Jurnal Studi Ilmu Al Quran dan Tafsir
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Al-Quran Isy Karima Karanganyar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58438/alkarima.v7i2.181

Abstract

Tolerance and dialogue as ethical values in the Qur'an are very interesting to study because in social life there is a need for these two elements. The formulation of the problem is broken down into questions, namely a). What is the definition and essence of tolerance, b). What are the limits of tolerance in the Koran, c). What is the relationship between tolerance and dialogue as ethical values in the Koran? This research is included in library research or library research, namely by analyzing themes related to tolerance and dialogue as ethical values in the Koran in order to obtain concrete and reliable data. Tolerance is popularly known as samaha or often called tasamuh which means forgiveness, forgiveness and forgiveness. Tolerance often leads to positive traits, where every human being is given the freedom to choose. For example, in embracing a religion according to one's own beliefs there appears to be an obligation. In the Qur'an there are many verses that talk about tolerance, for example: Q.S. Al-Baqarah: 256, Q.S. AlAn'am: 108, Q.S Yunus: 99, Q.S Al-Mumlahanah: 7-9, Q.S Al-Kafirun: 1-6, then dialogue and tolerance are not the final goal in social life, but a process to continue to the next goal. The involvement of each individual and group in social life is very important. Remembering dialogue and tolerance can take place if individuals and groups can work together and respect each other's differences. In other words, tolerance can be established well by using good dialogue.

Page 10 of 12 | Total Record : 112


Filter by Year

2017 2025