cover
Contact Name
Ida Leida Maria
Contact Email
hjph.unhas@gmail.com
Phone
+628114440454
Journal Mail Official
hjph.unhas@gmail.com
Editorial Address
Jl. Perintis Kemerdekaan Km.10, Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Hasanuddin, Tamalanrea, Kota Makassar, Sulawesi Selatan, 90245
Location
Kota makassar,
Sulawesi selatan
INDONESIA
Hasanuddin Journal of Public Health
Published by Universitas Hasanuddin
ISSN : -     EISSN : 27212408     DOI : https://doi.org/10.30597/hjph.v1i1
Core Subject : Health,
Aims and Scope Hasanuddin Journal of Public Health: Epidemiology Health Education and Promotion Environmental Health Occupational Health and Safety Health Administration and Policy Biostatistics Reproductive Health Hospital Management Nutrition Science Health Information System
Articles 180 Documents
PENERAPAN SISTEM MANAJEMEN KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA PADA PEKERJA PABRIK PT. SEMEN TONASA TAHUN 2024 Khusnul Khotimah Dahlan; Furqaan Naiem; Mahfuddin Yusbud
Hasanuddin Journal of Public Health Vol. 5 No. 2: JUNE 2024
Publisher : Faculty of Public Health, Hasanuddin University, Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30597/hjph.v5i2.35060

Abstract

Latar Belakang: Sistem Manajemen Keselatan dan Kesehatan Kerja (SMK3) perlu diterapkan untuk melindungi pekerja dan mencegah kerugian perusahaan. PT Semen Tonasa, terdapat program kerja untuk penerapan SMK3, tetapi masih ada banyak permasalahan yang memengaruhi implementasinya. Tujuan: Mengetahui faktor yang berhubungan dengan penerapan SMK3 di Pabrik PT. Semen Tonasa tahun 2024. Metode: Jenis penelitian ini adalah penelitian kuantitatif dengan desain cross sectional study. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh pekerja di Unit Produksi Semen dan Unit Produksi Klinker 2 PT. Semen Tonasa sebanyak 163 orang. Pengambilan sampel pada penelitian ini menggunakan teknik Purposive Sampling dengan hasil perhitungan sebanyak 61 sampel. Data dianalisis secara univariat dan bivariat menggunakan uji Chi-Square. Hasil: Sebanyak 55 orang (90,2%) memiliki penerapan SMK3 yang baik dan sebanyak 6 orang (9,8%) memiliki penerapan SMK3 yang cukup. Hasil analisis bivariat menunjukkan ada hubungan antara pengetahuan tentang SMK3 (p=0,023) dengan penerapan SMK3, ada hubungan antara lingkungan kerja (p=0,005) dengan penerapan SMK3, ada hubungan antara komitmen manajemen (p=0,023) dengan penerapan SMK3, dan ada hubungan antara kepatuhan terhadap Undang-Undang (p=0,002) dengan penerapan SMK3 di Pabrik PT. Semen Tonasa tahun 2024. Kesimpulan: Ada hubungan antara pengetahuan SMK3, lingkungan kerja, komitmen manajemen, dan kepatuhan Undang-Undang dengan penerapan SMK3 di pabrik PT. Semen Tonasa tahun 2024. Disarankan kepada perusahaan untuk melakukan upaya pengendalian terhadap kondisi fisik lingkungan kerja demi kenyamanan pekerja.
HUBUNGAN KEBISINGAN DENGAN STRES KERJA PADA PEKERJA PT PLN UP-PLTD TELLO Farah Fadhilah Prins; Awaluddin Awaluddin; M. Furqaan Naiem
Hasanuddin Journal of Public Health Vol. 5 No. 2: JUNE 2024
Publisher : Faculty of Public Health, Hasanuddin University, Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30597/hjph.v5i2.35134

Abstract

Latar Belakang: Pajanan kebisingan di lingkungan kerja atau disebut sebagai polusi suara merupakan masalah utama kesehatan masyarakat di dunia yang berimplikasi terhadap kesehatan fisiologis dan psikologis. Tujuan: Mengetahui hubungan antara kebisingan, usia, masa kerja, dan tingkat pendidikan dengan stres kerja pada pekerja PT PLN UP-PLTD Tello. Metode: Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian kuantitatif dengan pendekatan cross sectional. Populasi dalam penelitian ini berjumlah 35 orang dan seluruhnya diambil untuk dijadikan sampel (exhaustive sampling). Pengumpulan data menggunakan alat sound level meter dan kuesioner DASS-21. Kemudian, data diolah menggunakan program SPSS dan ditampilkan dalam bentuk tabel beserta narasi. Hasil: Terdapat hubungan yang signifikan antara kebisingan dengan stres kerja (p = <0,001), juga terdapat hubungan yang signifikan antara usia dengan stres kerja (p = 0,002). Sementara itu, tidak terdapat hubungan yang signifikan antara masa kerja dengan stres kerja (p = 0,488), serta tidak terdapat hubungan yang signifikan antara tingkat pendidikan dengan stres kerja (p = 0,728). Kesimpulan: Kebisingan dan usia memiliki berhubungan secara signifikan dengan stres kerja. Berdasarkan hasil penelitian tersebut, pekerja yang berada di dalam atau sekitar ruang mesin harus menggunakan ear muff atau ear plug untuk mengurangi paparan kebisingan yang diterima. Perusahaan juga diharapkan mengawasi setiap pekerja agar disiplin dalam menggunakan APD tersebut.
FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN KEJADIAN STRES KERJA PADA PEGAWAI DI REKTORAT UNIVERSITAS HASANUDDIN Dirna Akirah; Lalu Muhammad Saleh; Masyitha Muis
Hasanuddin Journal of Public Health Vol. 5 No. 2: JUNE 2024
Publisher : Faculty of Public Health, Hasanuddin University, Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30597/hjph.v5i2.35157

Abstract

Latar Belakang: Stres kerja merupakan tekanan psikologis tenaga kerja berupa ketegangan, kecemasan, dan kelelahan emosional akibat dari pekerjaannya sehingga memengaruhi emosi, proses kognitif, dan kondisi mentalnya. Riskesdas tahun 2018 mengemukakan persentase terbesar penderita stres pada pegawai swasta sebesar 4,8% dan juga pada PNS dengan jumlah 2,4%. Tujuan: Mengetahui faktor yang berhubungan dengan kejadian stres kerja pada pegawai di Rektorat Universitas Hasanuddin. Metode: Jenis penelitian yang digunakan adalah observasional analitik dengan metode cross sectional study. Penelitian dilakukan di Rektorat Universitas Hasanuddin pada bulan Januari-Februari 2024. Populasi penelitian ini sebanyak 490 pegawai dengan sampel 87 pegawai. Teknik pengambilan sampel yang digunakan adalah proportional stratified random sampling. Adapun analisis data univariat dan bivariat dengan pendekatan uji chi-square dengan menilai p-value. Hasil: Responden yang mengalami stres kategori rendah sebanyak 71,3%, dan stres kategori tinggi sebanyak 28,7%. Stres kerja memiliki hubungan dengan beban kerja, dukungan sosial, dan tuntutan mental, sedangkan umur dan masa kerja tidak memiliki hubungan dengan kejadian stres kerja. Kesimpulan: Terdapat hubungan signifikan antara beban kerja, dukungan sosial, tuntutan mental dan tidak terdapat hubungan signifikan antara umur dan masa kerja terhadap kejadian stres kerja pada pegawai di Rektorat Universitas Hasanuddin. Diharapkan kepada jajaran pimpinan rektorat untuk mampu memberikan proporsional uraian jenis kerja pegawai dengan jumlah pegawai sesuai di bidangnya dan bagi pegawai diharapkan mampu mengenali gejala atau tanda-tanda stres sedini mungkin sehingga mampu menerapkan manajemen stres.
HUBUNGAN GAYA HIDUP DENGAN KEJADIAN HIPERTENSI PADA USIA DEWASA MUDA DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS BALOCCI Hafizhah Nurul Afifah Hafizhah; Ridwan Amiruddin; Andi Zulkifli
Hasanuddin Journal of Public Health Vol. 5 No. 2: JUNE 2024
Publisher : Faculty of Public Health, Hasanuddin University, Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30597/hjph.v5i2.35221

Abstract

Latar Belakang: Hipertensi atau tekanan darah tinggi ialah suatu kondisi kronis yang ditandai dengan terjadinya peningkatan tekanan darah pada dinding pembuluh darah arteri dan menyebabkan tekanan darah menjadi abnormal. Selain menjadi salah satu penyakit yang dapat menyebabkan kematian utama di dunia hipertensi juga dapat menimbulkan risiko mortalitas dini. Hipertensi menjadi penyumbang kurang lebih 40% penyebab kematian usia muda. Walaupun usia muda seharusnya masih termasuk usia produktif dan jauh dari penyakit, namun hipertensi juga banyak dialami oleh usia muda. Hal ini dikarenakan pola gaya hidup yang dijalani oleh penderita. Tujuan: Mengetahui hubungan gaya hidup dengan kejadian hipertensi pada usia muda. Metode: Desain penelitian menggunakan desain studi cross sectional. Adapun jumlah populasi dalam penelitian ini adalah usia dewasa muda (20-44 tahun) sebanyak 3.448 orang dan diperoleh besar sampel penelitian sebanyak 145 sampel. Teknik analisis data yang digunakan yaitu analisis univariat dan analisis bivariat menggunakan uji chi-square. Hasil: Hasil analisis menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara aktivitas fisik (p=0,001), konsumsi garam (p=0,000), status merokok (p=0,000), dan kualitas tidur (p=0,007) terhadap kejadian hipertensi. Sedangkan tidak terdapat hubungan yang signifikan antara tingkat stres (p=0,079) dengan kejadian hipertensi. Kesimpulan: Variabel aktivitas fisik, konsumsi garam, status merokok, dan kualitas tidur berhubungan dengan kejadian hipertensi pada usia muda. Sedangkan tingkat stres tidak berhubungan dengan kejadian hipertensi pada usia muda.
FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN PERILAKU TIDAK AMAN PADA PEKERJA DI BANDAR UDARA KHUSUS SOROWAKO Alfiah Ashila Achmad; Lalu Muhammad Saleh; Masyitha Muis; Syamsiar S. Russeng; Muhammad Rachmat
Hasanuddin Journal of Public Health Vol. 5 No. 3: OCTOBER 2024
Publisher : Faculty of Public Health, Hasanuddin University, Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30597/hjph.v5i3.35252

Abstract

Latar Belakang: Perilaku tidak aman adalah perbuatan berbahaya dari manusia atau pekerja yang dilatar belakangi oleh faktor-faktor internal seperti sikap dan tingkah laku yang tidak aman, kurangnya pengetahuan dan keterampilan, penurunan konsentrasi, kurang adanya motivasi kerja, kelelahan dan kejenuhan. Perilaku tidak aman 94% memberikan kontribusi pada terjadinya kecelakaan kerja. Tujuan: Mengetahui faktor yang berhubungan dengan perilaku tidak aman pada pekerja di Bandar Udara Khusus Sorowako. Metode: Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan desain penelitian observasional analitik dengan desain cross-sectional. Populasi penelitian ini yaitu seluruh pekerja di Bandar Udara Khusus Sorowako sebanyak 70 orang, dan sampel ditentukan menggunakan exhaustive sampling ditemukan sebanyak 70 sampel. Data dikumpul menggunakan kuesioner. Hasil: Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada hubungan antara masa kerja (p=0,000), sikap (p=0,000), dan pelatihan K3 (p=0,005) dengan perilaku tidak aman pada pekerja di Bandar Udara Khusus Sorowako. Sedangkan pengetahuan (p=0,248), tindakan (p=0,957), dan pengawasan (p=0,720) tidak berhubungan dengan perilaku tidak aman pada pekerja di Bandar Udara Khusus Sorowako. Kesimpulan: Terdapat adanya hubungan yang signifikan antara masa kerja, sikap, dan pelatihan K3 dengan perilaku tidak aman pada pekerja di Bandar Udara Khusus Sorowako. Pekerja di Bandar Udara Khusus Sorowako disarankan untuk selalu mengikuti prosedur keselamatan yang telah ditetapkan oleh perusahaan.
EFEKTIVITAS PENGEMBANGAN BUKU SAKU RAPOR KESEHATAN TERHADAP PENGETAHUAN, SIKAP DAN PRAKTIK PENCEGAHAN SKABIES Utami Pradana Putri; Andi Selvi Yusnitasari; Rosa Devitha Ayu
Hasanuddin Journal of Public Health Vol. 5 No. 2: JUNE 2024
Publisher : Faculty of Public Health, Hasanuddin University, Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30597/hjph.v5i2.35439

Abstract

Latar Belakang: Skabies merupakan penyakit infeksi kulit menular yang disebabkan oleh sejenis kutu bernama Sarcoptes scabiei, faktor yang mempengaruhi kejadian skabies beberapa diantaranya adalah pengetahuan dan sikap individu. Peningkatan pengetahuan, sikap dan praktik pencegahan skabies dapat dilakukan dengan memberikan pendidikan kesehatan dengan metode pembelajaran yang tepat dan efektif. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan pengetahuan, sikap dan praktik pencegahan skabies sebelum dan setelah intervensi. Metode: Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif menggunakan Pra Experimental dengan rancangan penelitian one group pre-test and post-test design. Metode pengambilan sampel menggunakan simple random sampling dengan aplikasi spin the well random roulette pada 67 santri. Analisisi statistik menggunakan uji friedman yang dianalisis pada aplikasi SPSS.Hasil: Terdapat perbedaan pengetahuan (p value = 0,000), dengan nilai rata-rata 7.18, meningkat menjadi 8.39 pada post-test 1 dan 8.69 pada post-test 2. kemudian terdapat perbedaan sikap (p value = 0,000), dengan nilai rata-rata 42.99, meningkat menjadi 46.00 pada post-test 1 dan 46.51 pada post-test 2. Selanjutnya terdapat perbedaan praktik pencegahan skabies sebelum dan setelah intervensi (p value = 0,000) dengan nilai rata-rata 7.84, meningkat menjadi 8.85 pada post-test 1 dan 9.01 pada post-test 2.. Kesimpulan: Buku saku rapor kesehatan efektif sebagai media edukasi terhadap pengetahuan, sikap dan praktik pencegahan skabies. Pimpinan pondok pesantren IMMIM Modern Putra Makassar sebaiknya rutin melakukan edukasi kesehatan khususnya penyakit kulit skabies, serta memberikan himbauan dan pemantauan terhadap praktik kebersihan santri dan juga pemanfaatan buku saku rapor kesehatan.
FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN KEJADIAN LOW BACK PAIN PADA PEKERJA PT. PLN SULAWESI Dwita Maulidyah; Atjo wahyu; Awaluddin Awaluddin
Hasanuddin Journal of Public Health Vol. 5 No. 2: JUNE 2024
Publisher : Faculty of Public Health, Hasanuddin University, Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30597/hjph.v5i2.35446

Abstract

Latar Belakang: Low back pain (LBP) adalah gangguan nyeri yang dirasakan di punggung bagian bawah yang belum dikategorikan sebagai diagnosis penyakit. LBP biasanya ditimbulkan oleh karakteristik individu, faktor pekerjaan, dan faktor lingkungan. Tujuan: Tujuan penelitian ini untuk mengetahui faktor yang berhubungan dengan kejadian LBP pada pekerja PT. PLN UIP3B Sulawesi. Metode: Penelitian yang digunakan adalah metode penelitian kuantitatif dengan desain studi cross-sectional. Sampel penelitian ini adlaah pegawai PT.PLN UIP3B Sulawesi yang berjumlah 86 responden berdasarkan rumus Isaac & Michel. Pengambilan sampel dilakukan dengan purposive sampling yang selanjutnya dianalisis secara univariat dan bivariat dengan menyajikan data dalam bentuk tabel distribusi frekuensi, tabulasi silang, dan narasi sesuai dengan tujuan penelitian. Hasil: Hasil penelitian didapatkan bahwa variabel usia (p=0,004), Indeks Massa Tubuh (p=0,019), gerakan berulang (p=0,008) dan durasi kerja (p=0,004) berhubungan dengan low back pain pada pegawai UIP3B Sulawesi. Sedangkan variabel jenis kelamin (p=0,073) dan aktivitas fisik (p=0,946) tidak berhubungan dengan low back pain pada pegawai UIP3B Sulawesi. Sehingga dapat diketahui bahwa usia, IMT, gerakan berulang, dan durasi kerja berhubungan dengan kejadian low back pain pada pegawai UIP3B Sulawesi. Kesimpulan: Usia, IMT, Aktivitas fisik, Gerakan Berulang, dan Durasi Kerja berhubungan dengan kejadian low back pain pada Pekerja PT. PLN UIP3B Sulawesi. Diharapkan bagi para pekerja agar memperhatikan faktor-faktor penyebab terjadinya keluhan low back pain agar lebih berhati-hati dan diharapkan dapat mengurangi kemungkinan terjadinya keluhan low back pain.
KEJADIAN STUNTING PADA BALITA USIA (0– 59 BULAN) DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS PEKKABATA KABUPATEN POLEWALI MANDAR Gabryella Laura Mongan; Wahiduddin Wahiduddin; Indra Dwinata
Hasanuddin Journal of Public Health Vol. 5 No. 2: JUNE 2024
Publisher : Faculty of Public Health, Hasanuddin University, Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30597/hjph.v5i2.35491

Abstract

Latar Belakang: Hasil Studi Status Gizi Balita Indonesia (SSGBI) di tahun 2022 prevalensi stunting di Indonesia adalah 21,6%. Pada tahun 2022 Provinsi Sulawesi Barat menduduki peringkat kedua dengan stunting yang tinggi. Di Sulawesi Barat, Kabupaten Polewali Mandar berada di peringkat kedua dengan prevalensi balita stunting sebesar 39,3%. Berdasarkan Dinas Kesehatan Polewali Mandar bahwa kasus stunting di Kabupaten Polman mengalami kenaikan di tahun 2023. sebesar 29,85%. Dari kenaikan jumlah yang mengalami stunting tentunya menjadi masalah karena kenaikan stunting yang cukup pesat. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui besar risiko kejadian stunting pada balita usia (0-59 bulan) di wilayah kerja Puskesmas Pekkabata Kabupaten Polewali Mandar Sulawesi Barat. Metode: Desain penelitian menggunakan desain studi case control. Populasi seluruh balita stunting dan balita tidak stunting usia 0-59 bulan. Pengambilan sampel dengan purposive sampling menghasilkan 152 responden (masing-masing 76 kasus dan kontrol). Hasil: Hasil penelitian didapatkan faktor risiko stunting adalah pendidikan ibu (OR=2,06;95% CI=0,980-4,396), tinggi badan ibu (OR=2,56; 95% CI=1,221-5,422), usia ibu saat hamil (OR=6,79; 95% CI=2,612-19,626), berat badan lahir anak (OR=2,41;95% CI=0,634-11,195), Status KEK (OR=7,81;95% CI=2,436-32,504). Kesimpulan: Pendidikan ibu, tinggi badan ibu, usia ibu saat hamil, berat badan lahir anak dan status KEK menjadi faktor risiko penyebab stunting pada balita usia 0-59 bulan di Wilayah Kerja Puskesmas PekkabataLatar Belakang: Hasil Studi Status Gizi Balita Indonesia (SSGBI) di tahun 2022 prevalensi stunting di Indonesia adalah 21,6%. Pada tahun 2022 Provinsi Sulawesi Barat menduduki peringkat kedua dengan stunting yang tinggi. Di Sulawesi Barat, Kabupaten Polewali Mandar berada di peringkat kedua dengan prevalensi balita stunting sebesar 39,3%. Berdasarkan Dinas Kesehatan Polewali Mandar bahwa kasus stunting di Kabupaten Polman mengalami kenaikan di tahun 2023. sebesar 29,85%. Dari kenaikan jumlah yang mengalami stunting tentunya menjadi masalah karena kenaikan stunting yang cukup pesat. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui besar risiko kejadian stunting pada balita usia (0-59 bulan) di wilayah kerja Puskesmas Pekkabata Kabupaten Polewali Mandar Sulawesi Barat. Metode: Desain penelitian menggunakan desain studi case control. Populasi seluruh balita stunting dan balita tidak stunting usia 0-59 bulan. Pengambilan sampel dengan purposive sampling menghasilkan 152 responden (masing-masing 76 kasus dan kontrol). Hasil: Hasil penelitian didapatkan faktor risiko stunting adalah pendidikan ibu (OR=2,06;95% CI=0,980-4,396), tinggi badan ibu (OR=2,56; 95% CI=1,221-5,422), usia ibu saat hamil (OR=6,79; 95% CI=2,612-19,626), berat badan lahir anak (OR=2,41;95% CI=0,634-11,195), Status KEK (OR=7,81;95% CI=2,436-32,504). Kesimpulan: Pendidikan ibu, tinggi badan ibu, usia ibu saat hamil, berat badan lahir anak dan status KEK menjadi faktor risiko penyebab stunting pada balita usia 0-59 bulan di Wilayah Kerja Puskesmas PekkabataLatar Belakang: Hasil Studi Status Gizi Balita Indonesia (SSGBI) di tahun 2022 prevalensi stunting di Indonesia adalah 21,6%. Pada tahun 2022 Provinsi Sulawesi Barat menduduki peringkat kedua dengan stunting yang tinggi. Di Sulawesi Barat, Kabupaten Polewali Mandar berada di peringkat kedua dengan prevalensi balita stunting sebesar 39,3%. Berdasarkan Dinas Kesehatan Polewali Mandar bahwa kasus stunting di Kabupaten Polman mengalami kenaikan di tahun 2023. sebesar 29,85%. Dari kenaikan jumlah yang mengalami stunting tentunya menjadi masalah karena kenaikan stunting yang cukup pesat. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui besar risiko kejadian stunting pada balita usia (0-59 bulan) di wilayah kerja Puskesmas Pekkabata Kabupaten Polewali Mandar Sulawesi Barat. Metode: Desain penelitian menggunakan desain studi case control. Populasi seluruh balita stunting dan balita tidak stunting usia 0-59 bulan. Pengambilan sampel dengan purposive sampling menghasilkan 152 responden (masing-masing 76 kasus dan kontrol). Hasil: Hasil penelitian didapatkan faktor risiko stunting adalah pendidikan ibu (OR=2,06;95% CI=0,980-4,396), tinggi badan ibu (OR=2,56; 95% CI=1,221-5,422), usia ibu saat hamil (OR=6,79; 95% CI=2,612-19,626), berat badan lahir anak (OR=2,41;95% CI=0,634-11,195), Status KEK (OR=7,81;95% CI=2,436-32,504). Kesimpulan: Pendidikan ibu, tinggi badan ibu, usia ibu saat hamil, berat badan lahir anak dan status KEK menjadi faktor risiko penyebab stunting pada balita usia 0-59 bulan di Wilayah Kerja Puskesmas Pekkabata.
HUBUNGAN POLA ASUH DENGAN KEJADIAN STUNTING PADA ANAK USIA (12-59 BULAN) DI PUSKESMAS TOMBANGKALUA’ Anastasya Elma Panggo; Wahiduddin Wahiduddin; Ryza Jazid Baharuddin Nur
Hasanuddin Journal of Public Health Vol. 5 No. 3: OCTOBER 2024
Publisher : Faculty of Public Health, Hasanuddin University, Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30597/hjph.v5i3.35706

Abstract

Latar belakang: Stunting adalah pendek atau sangat pendek berdasarkan panjang badan atau tinggi badan menurut usia kurang dari -2 Standar Deviasi (SD) pada kurva pertumbuhan yang dapat terjadi karena asupan nutrisi yang tidak adekuat akibat infeksi/kronis yang terjadi dalam 1000 HPK. Prevalensi stunting secara global 22,3% pada tahun 2022. Berdasarkan SSGI tahun 2022, prevalensi stunting di Indonesia sebesar 21,6%, di Sulawesi Selatan sebesar 27,2%, dan Toraja Utara sebesar 34,1%. Pola asuh orang tua sangat penting dalam mencegah dan menanggulangi masalah stunting yang berkaitan dengan asupan gizi dan status infeksi pada anak. Tujuan: Mengetahui hubungan pola asuh dengan kejadian stunting pada anak usia 12-59 bulan di wilayah kerja Puskesmas Tombangkalua’. Metode: Desain penelitian menggunakan cross sectional Study. Adapun besar sampel sebanyak 121 responden dengan penarikan sampel menggunakan proportional random sampling. Data di analisis secara univariat dan bivariat. Hasil: Dari penelitian ini didapatkan bahwa pola asuh berdasarkan praktik pemberian makan (p-value=0,000), rangsangan psikososial (p-value=0,007), pemanfaatan pelayanan kesehatan (p-value=0,000), kebersihan diri (p-value=0,000), dan sanitasi penyediaan air bersih (p-value=0,000) berhubungan dengan kejadian stunting pada anak usia 12-59 bulan. Kesimpulan: Variabel pemberian makan, rangsangan psikososial, pemanfaatan layanan kesehatan, kebersihan diri, dan ketersediaan air bersih berhubungan dengan kejadian stunting di Puskesmas Tombangkalua’ Tahun 2023. Disarankan kepada orang tua yang memiliki anak berusia 12-59 bulan agar lebih memperhatikan pola asuh berdasarkan praktik pemberian makan terutama dalam hal pemenuhan gizi makanan yang diberikan kepada anak dan lebih memperhatikan sumber air bersih yang aman dan terlindungi.
POTENSI FENOMENA KEKERASAN SEKSUAL PADA MAHASISWA S-1 UNIVERSITAS : SEBUAH STUDI DESKRIPTIF Ashila Faradiba; Ummu Salmah; M. Tahir Abdullah
Hasanuddin Journal of Public Health Vol. 6 No. 1: FEBRUARY 2025
Publisher : Faculty of Public Health, Hasanuddin University, Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30597/hjph.v6i1.35736

Abstract

Latar Belakang: Kekerasan seksual di lingkungan perguruan tinggi merupakan masalah serius yang membutuhkan perhatian khusus. Berdasarkan data dari Komnas Perempuan, perguruan tinggi menempati urutan pertama sebagai tempat dengan kejadian kekerasan seksual terbanyak di Indonesia. Hal ini menunjukkan bahwa lingkungan pendidikan belum menjadi ruang aman bagi mahasiswa dan sivitas akademika lainnya. Tujuan: Penelitian bertujuan untuk mengidentifikasi prevalensi dan karakteristik kekerasan seksual di kalangan mahasiswa S-1 Universitas Hasanuddin, serta untuk mengidentifikasi pelaku, lokasi, dan waktu kejadian kekerasan seksual, serta dampak psikologis yang dialami korban. Metode: Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif deskriptif dengan populasi mahasiswa S-1 Universitas Hasanuddin. Sampel diambil secara accidental dengan jumlah responden sebanyak 424 mahasiswa. Pengumpulan data dilakukan melalui kuesioner yang disebarkan secara daring. Analisis data menggunakan metode univariat untuk mendeskripsikan karakteristik setiap variabel. Hasil: Penelitian ini menunjukkan bahwa prevalensi kekerasan seksual di Universitas Hasanuddin mencapai 76%, dengan korban perempuan lebih banyak dibandingkan laki-laki. Bentuk kekerasan seksual yang paling sering dialami adalah verbal dan non-fisik. Pelaku kekerasan seksual paling banyak adalah mereka yang terlibat dalam proses Tri Dharma Perguruan Tinggi. Kejadian kekerasan seksual paling sering terjadi di ruang publik sekitar kampus dan ruang daring, terutama pada tahun 2022 dan saat mahasiswa berada di semester 2. Kesimpulan: Kekerasan seksual menjadi masalah signifikan di Universitas Hasanuddin. Namun, sebagian besar korban tidak melaporkan kejadian tersebut, dengan alasan berupa rasa malu, takut disalahkan, dan ketidakpercayaan terhadap sistem yang ada. Universitas Hasanuddin diharapkan dapat meningkatkan edukasi pencegahan kekerasan seksual dan sosialisasi terkait alur pelaporan di Universitas Hasanuddin.