cover
Contact Name
I Kadek Adhi Dwipayana
Contact Email
adhidwipa88@gmail.com
Phone
+6285738841774
Journal Mail Official
stilistika.fkip.upmi@gmail.com
Editorial Address
Seroja Street, Tonja, North Denpasar
Location
Kota denpasar,
Bali
INDONESIA
Stilistika
ISSN : 20898460     EISSN : 26213338     DOI : -
Core Subject : Education, Art,
Perkembangan dan dinamika ilmu pengetahuan, termasuk salah satunya ilmu pendidikan bahasa dan seni sangatlah pesat. Perlu sebuah wadah untuk menampung dan menyebarluaskan kemajuan ilmu pendidikan bahasa dan seni secara berkesinambungan agar dapat mengedukasi masyarakat. Civitas akademika FKIP Universitas PGRI Mahadewa Indonesia memiliki senstivitas dan kesadaran kolektif yang sangat kuat untuk berupaya memenuhi kebutuhan masyarakat akan ilmu pengetahuan sehingga direalisasikanlah sebuah jurnal ilmiah bernama Stilistika. Jurnal Stilistika ini diterbitkan dua kali dalam setahun, yakni pada bulan Mei dan November baik secara cetak maupun online. Jurnal Stilistika ini merupakan representasikan dari idealisme ilmiah yang terkonsentrasi pada bidang ilmu pendidikan bahasa dan seni. Jurnal ini tidak hanya mewadahi tulisan dosen-dosen internal FKIP Universitas PGRI Mahadewa Indonesia sendiri, tetapi juga mewadahi tulisan kawan-kawan di luar institusi yang memiliki komitmen kuat terhadap pelestarian dan pengembangan keilmuan, terutama ilmu pendidikan bahasa dan seni. Semoga penerbitan Jurnal Stilistika ini dapat bermanfaat dan menjadi wahana untuk membangun atmosfer akademik yang kompetitif. Sumbangan pemikiran, kritik, dan saran yang edukatif dari pembaca diharapkan dapat memperbaiki terbitan edisi selanjutnya.
Articles 147 Documents
GURATAN MAKNA RELIGIUS DALAM TRADISI RITUAL DHEKE SA’O ETNIK RONGGA DI MANGGARAI TIMUR: KAJIAN ETNOLINGUISTIK Sumitri, Ni Wayan
Stilistika : Jurnal Pendidikan Bahasa dan Seni Vol. 13 No. 1 (2024): STILISTIKA: JURNAL PENDIDIKAN BAHASA DAN SENI
Publisher : Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia dan Daerah Universitas PGRI Mahadewa Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59672/stilistika.v13i1.4119

Abstract

Abstrak Penelitian ini secara garis besar mengungkap guratan makna religius dalam tradisi Dheke Sa’o pada masyarakat etnik Rongga di Manggarai Timur. dikaji dari perspektif etnolinguistik. Dheke Sa’o (RDS) adalah tradisi ritual dikaitkan dengan keberhasilan membangun rumah baru. Penelitian ini bersifat deskriptif dan kualitatif dengan sumber data utama tuturan tradisi ritual Dheke Sa’o yang dipraktikkan oleh etnik Rongga. Metode pengumpulan data melalui observasi, wawancara, pencatatan, perekaman, dan studi pustaka. Data dianalisis secara kualitatif pada aspek penggunaan bahasa dalam kaitannya dengan leksikon religius pada tataran tekstual dan kontekstual. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari sudut pandang etnolinguisti, ciri-ciri penggunaan Bahasa dalam RDS menunjukkan ciri-ciri kiasan (gaya bahasa sastra) dengan ciri sosiolinguistik yang menggunakan bahasa Rongga sebagai alat komunikasi dengan campuran beberapa kata-kata arkais sebagai bagian dari manipulasi pengaruh kuat Bahasa ritual sacral magis, sarat makna religius, merupakan aspek makna paling penting. Makna ini berkaitan dengan keyakinan orang Rongga dikaitkan dengan konseptualisasi keberadaan Tuhan, roh nenek moyang, dan roh alam dipahami sebagai kekuatan supranatural yang sangat menentukan kelangsungan hidup mereka di dunia dan di akhirat. Ciri etnolinguistik yang menonjol digunakan menonjol bermoduskan indikatif-imeperatif sebagai latar/alasan untuk harapan/keinginan agar mereka diberkati dalam kehidupan di dunia. Secara kontekstual, RDS pemeliharaan hubungan harmonis dengan kekuatan di luar kemampuan mereke sebagai manusia. Oleh karena itu, RDS harus dilestarikan agar makna religious yang dikandungnya tetap hidup dan berkembang sesuai substansi sebenarnya dalam realitas kehidupan masyarakat etnik Rongga Kata kunci: makna religius, tradisi ritual dheke sa’o, etnik rongga, etnolinguistik STROKES OF RELIGIOUS MEANING IN THE DHEKE SA'O RITUAL TRADITION ETHNIC RONGGA IN EAST MANGGARAI: AN ETHNOLINGUISTIC STUDY Abstract This research largely reveals the strokes of religious meaning in the Dheke Sa'o tradition in the Rongga ethnic community in East Manggarai. studied from an ethnolinguistic perspective. Dheke Sa'o (RDS) is a ritual tradition associated with the success of building a new house. This research is descriptive and qualitative in nature with the main data source being the speech of the Dheke Sa'o ritual tradition practiced by the Rongga ethnic group. The method of data collection is through observation, interview, recording, recording, and literature study. The data were analyzed qualitatively on aspects of language use in relation to religious lexicon at textual and contextual levels. The results show that from an ethnolinguistic point of view, the characteristics of language use in RDS show figurative characteristics (literary language style) with sociolinguistic characteristics that use Rongga language as a means of communication with a mixture of some archaic words as part of manipulating the strong influence of sacred magical ritual language, full of religious meaning, is the most important aspect of meaning. This meaning is related to the beliefs of the Rongga people associated with the conceptualization of the existence of God, spirits of ancestors, and spirits of nature understood as supernatural forces that greatly determine their survival in the world and in the afterlife. A prominent ethnolinguistic feature is used prominently modulated indicative-imperative as a background/reason for hope/desire that they are blessed in life in the world. Contextually, RDS maintains a harmonious relationship with forces beyond their ability as humans. Therefore, RDS must be preserved so that the religious meaning it contains remains alive and develops according to its true substance in the reality of the lives of the Rongga ethnic community. Keywords: religious meaning, dheke sa'o ritual tradition, ethnic cavity, ethnolinguistics
ANGGRENI DUTA: PERSEMBAHAN GURU-DAKSINA KEPADA DRONA Geria, Anak Agung Gde Alit
Stilistika : Jurnal Pendidikan Bahasa dan Seni Vol. 13 No. 1 (2024): STILISTIKA: JURNAL PENDIDIKAN BAHASA DAN SENI
Publisher : Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia dan Daerah Universitas PGRI Mahadewa Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59672/stilistika.v13i1.4212

Abstract

Geguritan Dyah Anggreni merupakan hasil karya sastra lama sarat akan nilai adiluhung. Pada hakikatnya, kandungan isi yang tersirat dalam Geguritan Dyah Anggreni memiliki inti ajaran Hindu yang mencakup satyam (kebenaran), siwam (kesucian), dan sundaram (keindahan). Artinya, keharmonisan akan terwujud jika dibangun oleh sikap hidup yang seimbang, yakni hubungan dengan Sang Pencipta, sesama manusia, dan semesta alam yang disebut Tri Hita Karana. Geguritan Dyah Anggreni karya I Made Jimbar yang bersumber dari cerita Adiparwa ini, selesai ditulis pada tahun Saka 1923 (2001 Masehi), terdiri dari 7 pupuh dan 196 bait. Teks beraksara Latin berbahasa Kawi-Bali ini, berisikan tentang perjalanan Dyah Anggreni sebagai duta dari suaminya (Bambang Ekalawya) untuk mempersembahkan guru-daksina kepada Mahaguru Drona di Hastinapura. Konsep guru-daksina, merupakan tradisi zaman mahabharata yakni pemberian sesuatu dari seorang sisya (murid) kepada seorang siwa (guru) sebagai ucapan terima kasih seorang murid atas segala pengetahuan yang telah diajarkan gurunya. Walaupun lewat sebuah patung berwujud Drona, diyakini sebagai guru sejati yang mampu memberi segala ilmu pepanahan (dhanurdhara) hingga meresap pada diri Ekalawya. Di perjalanan, Dyah Anggreni dihadang para begal yang akhirnya minta bantuan kepada Arjuna. Ada janji yang seakan tergesa-gesa (kadropon) dilontarkan Dyah Anggreni kepada Arjuna, demi keselamatan dirinya dan para begal dapat terbunuh. Setelah berhasil, Arjuna menuntut janji hingga Dyah Anggreni berlari hingga jatuh ke jurang. Beruntung masih bisa diselamatkan oleh Dewi Peri. Mendengar kisah tersebut, Ekalawya segera minta keadilan ke Hastinapura, hingga perang tanding melawan Arjuna. Kemudian Arjuna menuntut balas ke Nishada. Akhirnya Ekalawya terbunuh dalam perang tanding karena kesaktian berupa cincin kresnadana dan ibu jarinya diminta oleh Kresna dan Drona. Karena kesetiaannya, Ni Dyah Anggreni kemudian mati bunuh diri sebagai tanda satyeng laki hingga mereka bertemu kembali di alam surga, karena telah melaksanakan kewajiban sebagai suami-istri yang baik dan setia (satyeng alaki-rabi) di mercapadha (dunia nyata)
PERAN ARTIFICIAL INTELLIGENCE SEBAGAI REFERENSI DALAM MEMBUAT KARYA SASTRA CERITA PENDEK Amal, Bahar; Noviana, Chayani; Utarie, Gadis Putri; Azizah, Indah Rafi Utari; Fransiska, Marsella; Aprilia, Risma; Tarihoran, Parlindunngan
Stilistika : Jurnal Pendidikan Bahasa dan Seni Vol. 13 No. 1 (2024): STILISTIKA: JURNAL PENDIDIKAN BAHASA DAN SENI
Publisher : Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia dan Daerah Universitas PGRI Mahadewa Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59672/stilistika.v13i1.4222

Abstract

Peran Artificial Intelligence (AI) sebagai referensi dalam penulisan cerita pendek di kalangan mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia di Universitas Singaperbangsa Karawang. Tujuan dilakukan penelitian ini untuk menganalisis peran dan efektivitas penggunaan Artificial Intelligence sebagai sumber referensi dalam proses penulisan cerita pendek di kalangan mahasiswa Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Universitas Singaperbangsa Karawang dengan fokus pada pandangan, pemanfaatan, tantangan serta kekhawatiran terhadap keaslian karya. Metode yang digunakan adalah kuantitatif deskriptif dengan penyebaran kuesioner untuk memperoleh data dari 30 mahasiswa. Hasil penelitian melalui analisis kuesioner menunjukkan bahwa mayoritas mahasiswa menganggap AI sebagai alat bantu yang berguna dalam penulisan kreatif, khususnya dalam menghasilkan inspirasi ide, dan mempercepat proses penulisan. Penggunaan AI dalam penulisan kreatif menunjukkan bahwa 76,7% mahasiswa merasa terbantu oleh AI dalam proses kreatif mereka. Namun, beberapa mahasiswa tetap skeptis terhadap AI, khawatir akan kehilangan keunikan dan orisinalitas dalam karya mereka, 23,3% mahasiswa memilih untuk tidak menggunakan AI dengan alasan menjaga keaslian dan etika karya mereka. Penelitian mengidentifikasi berbagai jenis AI yang digunakan, dengan ChatGPT menjadi pilihan utama responden. Hasil ini memberikan wawasan tentang bagaimana AI dapat dimanfaatkan secara optimal dalam pendidikan sastra, serta pentingnya keterampilan kritis dalam penggunaannya.    
POCAPAN PRAADEGAN GARA-GARA WAYANG KULIT SEBAGAI WAHANA KRITIK SOSIAL: TINJAUAN LAKON “WAHYU KATENTREMAN” KI SIGIT MANGGOLO SEPUTRO Angga Bimo Satoto; Endraswara, Suwardi; Suwarna; Widyastuti, Sri Harti
Stilistika : Jurnal Pendidikan Bahasa dan Seni Vol. 13 No. 2 (2025): Stilistika: Jurnal Pendidikan Bahasa dan Seni
Publisher : Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia dan Daerah Universitas PGRI Mahadewa Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59672/stilistika.v13i2.4412

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui cara penyampaian kritik sosial dan wujud kritik sosial dalam pocapan praadegan gara-gara wayang kulit lakon Wahyu Katentreman yang dibawakan Ki Sigit Manggolo Seputro. Penelitian ini termasuk dalam jenis penelitian kualitatif dengan menggunakan metode deskriptif. Sumber data berupa naskah transkripsi pocapan praadegan gara-gara. Penelitian ini menggunakan pendekatan sosiologi sastra karena pocapan termasuk wujud karya sastra lisan. Cara analisis data menggunakan teknik Miles, Huberman dan Saldana. Hasil penelitian menunjukkan bahwa cara penyampaian kritik sosial dalam pocapan tersebut menggunakan kiasan penggambaran rusaknya moral manusia yang hidup pada zaman Kaliyuga. Jenis wujud kritik sosial yang ditemukan dalam praadegan pocapan tersebut berjumlah tiga yaitu: kemiskinan, kejahatan dan pelanggaran norma. Wayang menjadi media yang bijak dalam menyampaikan kritik moral karena selalu mengedepankan etika dengan cara tidak langsung menyinggung pihak terkait.
ETNOPEDAGOGI DALAM CERITA NI DIAH TANTRI: STRATEGI KREATIF MENINGKATKAN LITERASI MEMBACA SISWA SEKOLAH DASAR Sritaman, Ni Luh; Suastra, I Wayan; putu.arnyana@undiksha.ac.id
Stilistika : Jurnal Pendidikan Bahasa dan Seni Vol. 13 No. 2 (2025): Stilistika: Jurnal Pendidikan Bahasa dan Seni
Publisher : Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia dan Daerah Universitas PGRI Mahadewa Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59672/stilistika.v13i2.4435

Abstract

Salah satu cara untuk menyelesaikan masalah literasi membaca di Indonesia adalah dengan menggunakan sastra lokal. Masyarakat Bali memiliki banyak karya sastra lokal, salah satunya adalah cerita Ni Diah Tantri. Tujuan penelitian ini adalah untuk menjelaskan pemanfaatan cerita rakyat Ni Diah Tantri sebagai strategi kreatif yang menggunakan kearifan lokal atau kajian Etnopedagogi untuk meningkatkan literasi membaca siswa sekolah dasar. Penelitian kualitatif ini menggunakan pendekatan Etnopedagogi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa cerita Ni Diah Tantri adalah karya sastra klasik masyarakat Bali yang masih dibaca oleh siswa sekolah dasar hingga saat ini. Empat strategi yang disarankan untuk meningkatkan literasi baca adalah membiasakan diri membaca, mengadakan ruang pojok baca, mengadakan kompetisi mesatua, dan melakukan partisipasi dalam kegiatan ekstrakurikuler.
AN ANALYSIS OF ENGLISH LANGUAGE POLITENESS USED BY THE LOCAL TOUR GUIDE OF BELUMBANG TOURISM VILLAGE IN TABANAN, BALI Widhiastuty, Ni Luh Putu Sri; Junipisa, Made Ernila; Trianingrum, Ni Nyoman Nidya
Stilistika : Jurnal Pendidikan Bahasa dan Seni Vol. 13 No. 2 (2025): Stilistika: Jurnal Pendidikan Bahasa dan Seni
Publisher : Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia dan Daerah Universitas PGRI Mahadewa Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59672/stilistika.v13i2.4467

Abstract

The purposes of the research were to study and to analyze English Language Politeness used by the local tour guides of Belumbang Tourism Village in Tabanan, Bali. The approach used is a qualitative method with a phenomenological approach, which allows an in-depth understanding of the behaviour of tour guides in communicating with tourists. The research data was collected through questionnaires completed by respondents as well as structured interviews with key informants, who provided first-hand views of communication practices in the tourism context. The collected data were analysed using a qualitative descriptive method, with reference to the theory of language politeness developed by Leech (1983), which includes six language politeness maxims: (1) Tact Maxim, (2) Generosity Maxim, (3) Approbation Maxim, (4) Modesty Maxim, and (6) Sympathy Maxim. The research shows that local tour guides in Belumbang Tourism Village consistently apply the six maxims in daily interactions, both in providing information and services to tourists. This reflects a high level of language politeness, which is crucial in creating a positive tourism experience, strengthening interpersonal relationships, and maintaining local cultural values.
ANALISIS X-BAR PADA KONSTRUKSI PASIF BAHASA BATAK TOBA Parasian, Nehemia Anugrah; Mulyadi, Mulyadi
Stilistika : Jurnal Pendidikan Bahasa dan Seni Vol. 13 No. 2 (2025): Stilistika: Jurnal Pendidikan Bahasa dan Seni
Publisher : Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia dan Daerah Universitas PGRI Mahadewa Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59672/stilistika.v13i2.4542

Abstract

Konstruksi pasif adalah kalimat dengan subjek yang menerima tindakan dari pelaku. Dalam konstruksi pasif, fokus kalimat beralih dari pelaku aksi ke objek yang menerima aksi tersebut. Selain itu, subjek gramatikal mengekspresikan pasien atau tema dari kata kerja utama. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi dan menggambarkan konstruksi pasif yang terdapat pada bahasa Batak Toba. Konstruksi pasif dalam bahasa Batak Toba menggambarkan bagaimana seseorang atau sesuatu mengalami suatu peristiwa akibat sebab tertentu. Analisis ini memperjelas struktur kalimat, khususnya perbedaan antara subjek dan objek dalam kalimat pasif. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif untuk mendeskripsikan fenomena dalam konteks alamiah. Pengumpulan data dilakukan dengan wawancara mendalam, observasi, dan focus group discussion (FGD). Pemilihan metode ini digunakan untuk memberikan deskripsi yang cermat dan detail. Hasil analisis data disajikan dengan teknik urai, yaitu memilah atau mengurai konstruksi secara spesifik. Pada penelitian ini, ditemukan hasil bahwa konstruksi pasif yang terdapat pada bahasa Batak Toba terdiri atas tiga jenis, yaitu: (1) pasif kanonis; (2) pasif pengedepanan objek; dan (3) pasif bentuk lain.
APLIKASI METODE STORYTELLING UNTUK MENINGKATKAN PENGALAMAN WISATA BUDAYA DI GOA GAJAH Utik Kuntariati; Paramita , Putu Dian Yuliani
Stilistika : Jurnal Pendidikan Bahasa dan Seni Vol. 13 No. 2 (2025): Stilistika: Jurnal Pendidikan Bahasa dan Seni
Publisher : Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia dan Daerah Universitas PGRI Mahadewa Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59672/stilistika.v13i2.4544

Abstract

Goa Gajah merupakan salah satu situs bersejarah dan budaya di Bali yang menjadi daya tarik bagi wisatawan domestik maupun mancanegara. Dalam menyampaikan informasi budaya kepada wisatawan asing, kemampuan komunikasi dalam bahasa Inggris sangat diperlukan, terutama melalui teknik Storytelling. Penelitian ini bertujuan untuk memahami bagaimana pemandu wisata di Goa Gajah memanfaatkan Storytelling dalam bahasa Inggris untuk meningkatkan pengalaman wisata budaya. Pendekatan kualitatif digunakan dalam penelitian ini dengan metode observasi, wawancara mendalam dengan pemandu wisata, serta pengumpulan umpan balik dari wisatawan asing. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan Storytelling mampu membuat pengalaman wisata menjadi lebih menarik dan membantu wisatawan lebih memahami nilai sejarah serta budaya yang ada. Namun, terdapat beberapa kendala yang dihadapi oleh pemandu wisata, seperti keterbatasan kosakata, kesulitan dalam pengucapan, serta kurangnya pelatihan yang sistematis dalam teknik Storytelling. Oleh karena itu, diperlukan program pelatihan yang lebih terstruktur agar pemandu wisata dapat mengembangkan keterampilan bercerita dengan lebih baik, sehingga pengalaman wisata di Goa Gajah semakin berkualitas.
PENYUSUNAN BUKU PENGAYAAN KECINTAAN TERHADAP LINGKUNGAN SMA MELALUI KAJIAN EKOKRITIK KUMPULAN PUISI
Stilistika : Jurnal Pendidikan Bahasa dan Seni Vol. 13 No. 2 (2025): Stilistika: Jurnal Pendidikan Bahasa dan Seni
Publisher : Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia dan Daerah Universitas PGRI Mahadewa Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59672/stilistika.v13i2.4558

Abstract

Penelitian ini dilatarbelakangi oleh kenyataan bahwa banyaknya buku teks pelajaran bahasa Indonesia yang belum menjadikan ekokritik sastra atau karya sastra hijau sebagai referensi bacaan. Hal ini menyebabkan materi ajar yang guru berikan tentang lingkungan terlalu sedikit dan kurang efektif bagi siswa sehingga menjauhkan siswa dari sastra hijau. Usaha untuk menumbuhkan dan mengembangkan sastra hijau ialah mengkaji kumpulan puisi Kekasih Teluk karya Saras Dewi karena konsisten mengangkat isu kerusakan lingkungan. Hasil kajian ekokritik terhadap kumpulan puisi Kekasih Teluk karya Saras Dewi akan digunakan sebagai bahan untuk menyusun buku pengayaan pengetahuan sastra. Tujuan penelitian ini ialah untuk mendeskripsikan struktur oposisi biner puisi, merepresentasikan krises lingkungan serta mendeskripsikan penyusunan buku pengayaan di SMA pada kumpulan puisi Kekasih Teluk karya Saras Dewi. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kualitatif dan statistik deskriptif. Teori yang digunakan untuk membedah krisis lingkungan adalah teori ekokritik sastra Greg Garrard. Metode pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah studi keustakaan, metode wawancara dan metode kuisioner dibantu dengan teknik baca, catat serta teknik rekam. Metode hasil analisis data disajikan dengan menggunakan metode informal dan formal. Berdasarkan hasil analisis, disusun buku pengayaan yang berisi interpretasi puisi dengan pendekatan ekokritik. Buku ini telah diuji oleh enam validator yang terdiri dari ahli materi/isi dan ahli desain. Hasil uji kelayakan menunjukkan bahwa buku pengayaan yang telah dirancang layak digunakan sebagai bahan ajar di SMA untuk dapat membangkitkan apresiasi dalam pembelajaran sastra serta dapat menumbuhkan rasa peduli lingkungan melalui sastra khususnya puisi.
ANALYZING GRAMMATICAL ERRORS IN EFL STUDENTS' OPINION ESSAYS USING DEEPSEEK AI: PATTERNS AND PEDAGOGICAL IMPLICATIONS Antara, I Made Agung Rai; Anggreni, Ni Putu Yunik
Stilistika : Jurnal Pendidikan Bahasa dan Seni Vol. 13 No. 2 (2025): Stilistika: Jurnal Pendidikan Bahasa dan Seni
Publisher : Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia dan Daerah Universitas PGRI Mahadewa Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59672/stilistika.v13i2.4560

Abstract

This study aims to examine grammatical errors in opinion essays written by  Post-Intermediate Level students at the Bali International Language Centre (BILCEN) at Triatma Mulya University, utilising DeepSeek AI to discover error trends and offer strategic advice for educators. A qualitative analysis of 17 articles revealed 109 grammatical problems, predominantly characterised by article omission errors (42.2%), followed by subject-verb agreement (26.6%), preposition errors (17.4%), and tense inconsistencies (13.8%). The primary reasons for these errors encompass first-language interference and sentence fragmentation, indicative of the impact of Indonesian structures on English production. Examples include “work in a cruise ship” rather than “work on a cruise ship.” This study underscores the significance of a teaching methodology incorporating contrastive exercises, targeted feedback, and task design that balances fluency and accuracy. Strategic recommendations involve implementing exercises that juxtapose Indonesian and English structures and utilizing DeepSeek AI’s functionalities to provide comprehensive feedback. This study presents a novel approach for educators to tackle systematic grammatical issues in EFL students’ opinion writing. It underscores the potential of AI to enhance the precision of academic writing.