cover
Contact Name
Mamang Efendy
Contact Email
ma2nkppb@gmail.com
Phone
+6282335560188
Journal Mail Official
mamangefendy@untag-sby.ac.id
Editorial Address
Jl. Semolowaru Praja No.45, Menur Pumpungan, Kec. Sukolilo, Kota SBY, Jawa Timur 60118
Location
Kota surabaya,
Jawa timur
INDONESIA
SUKMA: Jurnal Penelitian Psikologi
ISSN : -     EISSN : 27229955     DOI : DOI: https://doi.org/10.30996/sukma.v3i2.7842
Focus and Scope SUKMA: Jurnal Penelitian Psikologi (SUKMA) accepts manuscript research results in the fields of educational psychology, developmental psychology, and clinical psychology, but not limited to: 1. Personality and Learning 2. Learning Interventions 3. Teaching Strategies 4. Education of Children with Special Needs 5. Education of Gifted Children 6. Counseling in Education 7. Development of Children, Adolescents, Adults, and the Elderly 8. Developmental Problems 9. Parenting Strategies 10. Quality of Life 11. Personality Disorder 12. Behavior Modification 13. Counseling and Psychotherapy 14. Psychosis Disorders 15. Psychological Intervention Peer Review Process SUKMA is a journal published by Faculty of Psychology Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya. The research article submitted to this online journal will be a double blind peer-reviewed (Both reviewer and author remain anonymous to each other) a at least 2 (two) reviewers. The accepted research articles will be available online following the journal peer-reviewing process. a Language used in this journal is Indonesia or English. For checking Plagiarism, a SUKMA JOURNAL Editor will screen plagiarism manually (offline and online database) on the Title, Abstract, and Body Text of the manuscript, and by using several plagiarism detection software (Unplag and Crosscheck). If it is found a plagiarism indication, editorial board will reject manuscript immediately. Review Process: Editor recieving manuscript from author; Editor evaluate manuscript (journal aim and scope, in house style, supplementary data); (Rejected if not meet criteria) Editor screening for plagiarism on offline and online database manually; (Rejected if found major plagiarism, contacted author if found redunancy or minor plagiarism for clarification) Editor send manuscript to reviewer along with review form (double blind review, Both reviewer and author remain anonymous to each other); Reviewer send back his review form to Editor (with revised manuscript if necessary); Editor decision (rejected, require major revision, need minor revision, or accepted); Confirmation to the Author. If revision, author revised manuscripts and a should be returned to the editor without delay. Returned later than three months will be considered as new submissions.
Articles 159 Documents
Manifestasi perceraian orang tua dalam kepuasan hubungan berpacaran pada emerging adulthood Novelia Tarizka Putri; Diana Permata Sari
SUKMA : Jurnal Penelitian Psikologi Vol. 7 No. 1 (2026): Volume 7 No 1 Juni 2026 (In Progress)
Publisher : Fakultas Psikologi Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The phenomenon of parental divorce has the potential to shape commitment, trust, and intimacy with a partner during emerging adulthood. This study aims to understand how parental divorce manifests in dating relationship satisfaction during emerging adulthood. A qualitative method with a phenomenological design was used to explore subjective meanings. The study included three informants selected through purposive sampling in accordance with predetermined criteria. Data were collected through semi-structured interviews and analyzed using reflexive thematic analysis. The main themes identified include (i) family and partners as secure attachment figures, (ii) positive evaluations of dating relationships, (iii) communication in fostering relational closeness, and (iv) constructive conflict resolution. Additionally, gender-based differences were found regarding the needs they sought to fulfill to achieve relationship satisfaction. Female informants emphasized emotional needs, while male informants emphasized acceptance within the relationship. The experience of parental divorce does not always manifest negatively but can serve as a source of learning in building trust and closeness with a partner.   Fenomena perceraian orang tua berpotensi membentuk komitmen, kepercayaan dan kedekatan dengan pasangan pada emerging adulthood. Penelitian ini bertujuan untuk memahami bagaimana perceraian orang tua termanifestasi dalam kepuasan hubungan berpacaran pada masa emerging adulthood. Metode kualitatif dengan desain fenomenologi dipakai untuk mengeksplorasi makna subjektif. Informan penelitian berjumlah tiga orang yang dipilih melalui teknik purposive sampling sesuai dengan kriteria yang sudah ditetapkan. Data dikumpulkan melalui wawancara semi-terstruktur dan dianalisis dengan analisis tematik reflektif. Tema utama yang ditemukan meliputi (i) keluarga dan pasangan sebagai figur kelekatan aman, (ii) penilaian positif dalam hubungan berpacaran, (iii) komunikasi dalam mengembangkan kedekatan relasional, (iv) serta resolusi konflik konstruktif. Selain itu, ditemukan perbedaan berdasarkan gender mengenai kebutuhan yang ingin dipenuhi dalam membentuk kepuasan dalam hubungan. Informan perempuan menekankan kebutuhan emosional, sedangkan laki-laki menekankan penerimaan dalam hubungan. Pengalaman perceraian orang tua tidak selalu termanifestasi secara negatif tetapi dapat menjadi sumber pembelajaran dalam membangun rasa kepercayaan dan kedekatan dengan pasangan.  
Optimisme dan resiliensi akademik pada siswa sekolah menengah atas Nabila Laila; Suhadianto; Karolin Rista
SUKMA : Jurnal Penelitian Psikologi Vol. 7 No. 1 (2026): Volume 7 No 1 Juni 2026 (In Progress)
Publisher : Fakultas Psikologi Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Dynamic academic challenges in contemporary educational settings require students to be able to adapt, persist, and recover when facing pressure and difficulties in the learning process. Optimism is considered an important internal factor that contributes to strengthening students’ resilience. This study was designed to examine the relationship between optimism and academic resilience among senior high school (SMA) students using a quantitative correlational approach. This study employed a quantitative approach using a correlational method, aiming to examine the relationship between optimism and academic resilience among high school students. The study sample consisted of 195 high school students selected through purposive sampling. The measurement instruments in this study used an optimism scale developed by the researcher based on Seligman’s (2006) theory, with a Cronbach’s Alpha value of 0.922, and an academic resilience scale developed by the researcher based on Cassidy’s (2016) theory, with a Cronbach’s Alpha value of 0.872. The data obtained were then analyzed using the product-moment correlation technique. The results indicated a significant positive relationship between optimism and academic resilience (r = 0.668, p = 0.000, p < 0.05). These findings suggest that higher levels of optimism are associated with higher levels of academic resilience. Therefore, strengthening students’ optimism is essential as an effort to enhance academic resilience in coping with academic demands during the learning process. Tantangan akademik yang dinamis dalam dunia pendidikan mengharuskan siswa untuk mampu beradaptasi, gigih, dan bangkit kembali saat menghadapi tekanan dan kesulitan dalam proses belajar. Optimisme diyakini berperan menjadi salah satu faktor internal dalam meningkatkan ketahanan diri siswa. Penelitian ini dirancang untuk mengetahui hubungan antara optimisme dengan resiliensi akademik pada siswa Sekolah Menengah Atas (SMA) dengan menggunakan pendekatan kuantitatif korelasional. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode korelasional, yang bertujuan untuk melihat hubungan antara variabel optimisme dan variabel resiliensi akademik pada siswa SMA. Subjek penelitian sebanyak 195 siswa SMA yang diambil melalui teknik purposive sampling. Alat ukur dalam penelitian ini menggunakan skala optimisme yang dibuat sendiri oleh peneliti mengacu pada teori Seligman (2006) dengan nilai Cronbach’s Alpha sebesar 0,922 dan skala resiliensi akademik yang dibuat sendiri oleh peneliti mengacu pada teori Cassidy (2016) dengan nilai Cronbach’s Alpha sebesar 0,872. Data yang diperoleh selanjutnya dianalisis menggunakan teknik korelasi product moment. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat hubungan positif yang signifikan antara optimisme dengan resiliensi akademik diperoleh hasil sebesar r = 0,668 dengan taraf signifikansi p = 0,000 (p < 0,05). Temuan ini mengindikasikan bahwa semakin tinggi tingkat optimisme, semakin tinggi pula resiliensi akademik yang dimiliki. Penguatan optimisme pada siswa penting dilakukan sebagai upaya meningkatkan resiliensi akademik dalam menghadapi tuntutan akademik selama proses pembelajaran di sekolah.  
Self-acceptance, kecemasan, dan kepuasan hidup pada ibu yang memiliki anak balita Rahmadani Syafitri; Bawinda Sri Lestari; Herlan Pratikto
SUKMA : Jurnal Penelitian Psikologi Vol. 7 No. 1 (2026): Volume 7 No 1 Juni 2026 (In Progress)
Publisher : Fakultas Psikologi Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

This study aims to examine the relationship between self-acceptance and anxiety on life satisfaction in mothers of toddlers. Mothers of toddlers often face intensive parenting challenges, making them vulnerable to decreased life satisfaction due to anxiety and self-acceptance. The research method used was quantitative with multiple linear regression analysis techniques. Data were collected through questionnaires distributed to mothers of toddlers in Kindergarten X with a total of 70 respondents. The research instrument was developed by the researcher with a Cronbach's Alpha value of more than 0.6. The results showed that self-acceptance has a significant positive relationship with life satisfaction with a score of t = 9.432 with a significance of 0.000 (p < 0.05), while anxiety has a significant negative relationship with life satisfaction with a score of t = -2.110 with a significance of 0.039 (p < 0.05). The effective contribution of self-acceptance and anxiety to life satisfaction is 70.9%. Findings These findings imply that efforts to increase life satisfaction in mothers of toddlers need to focus on self-acceptance and overcoming anxiety. Through family support and a conducive environment, mothers can fulfill their parenting role more optimally. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji hubungan antara self-acceptance dan kecemasan terhadap kepuasan hidup pada ibu yang memiliki anak balita. Ibu balita sering kali menghadapi tantangan pengasuhan yang intensif, sehingga rentan mengalami penurunan kepuasan hidup akibat kecemasan dan self-acceptance. Metode penelitian yang digunakan adalah kuantitatif dengan teknik analisis regresi linear berganda. Data dikumpulkan melalui kuesioner yang dibagikan kepada ibu dengan anak balita di TK X dengan total 70 responden. Instrumen penelitian dikembangkan sendiri oleh peneliti dengan nilai Cronbach's Alpha lebih dari 0,6. Hasil penelitian menunjukkan self-acceptance memiliki hubungan positif yang signifikan terhadap kepuasan hidup dengan skor t = 9,432 dengan signifikansi sebesar 0,000 (p < 0,05), sedangkan kecemasan memiliki hubungan negatif yang signifikan terhadap kepuasan hidup dengan skor t = -2,110 dengan signifikansi sebesar 0,039 (p < 0,05). Adapun sumbangan efektif dari self-acceptance dan kecemasan mempengaruhi kepuasan hidup sebesar 70,9%. Temuan Temuan ini mengimplikasikan bahwa upaya peningkatan kepuasan hidup ibu dengan anak balita perlu berfokus pada penerimaan diri dan mengatasi kecemasan. Melalui dukungan keluarga serta lingkungan yang kondusif, ibu dapat menjalankan peran pengasuhan secara lebih optimal.  
Perilaku agresivitas pada mahasiswa di surabaya: sejauh mana kontrol diri dan dukungan sosial teman sebaya berperan? Ibrahim Reza Saputra; Nindia Pratitis; Andik Matulessy
SUKMA : Jurnal Penelitian Psikologi Vol. 7 No. 1 (2026): Volume 7 No 1 Juni 2026 (In Progress)
Publisher : Fakultas Psikologi Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

University students are in a vulnerable developmental phase and often face various academic, social, and emotional pressures that may trigger aggressive behavior. This study aims to examine the relationship between self-control and peer social support with aggressive behavior among university students. The research employed a quantitative method with 117 active students in the city of Surabaya selected using accidental sampling. Data were analyzed using the non-parametric Spearman’s Rho test with the assistance of SPSS 23.0 for Windows. The results indicated that self-control had a significant negative relationship with aggressive behavior (rxy = −0.831, p = 0.000 < 0.05), meaning that higher self-control is associated with lower levels of aggressive behavior. Peer social support also showed a significant negative relationship with aggressive behavior (rxy = −0.715, p = 0.003 < 0.05), indicating that higher peer social support is associated with lower levels of aggressive behavior. The findings of this study provide a foundation for higher education institutions to design student development programs aimed at enhancing self-control and strengthening peer social support as preventive strategies to reduce aggressive behavior among university students. Mahasiswa berada pada fase perkembangan yang rentan menghadapi berbagai tekanan akademik, sosial, dan emosional yang dapat memicu munculnya perilaku agresivitas. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara kontrol diri dan dukungan sosial teman sebaya dengan perilaku agresivitas pada mahasiswa. Metode penelitian kuantitatif dengan jumlah responden sebanyak 117 mahasiswa aktif di Kota Surabaya yang diambil dengan teknik accidental sampling. Teknik analisis data menggunakan Non parametrik uji Spearman’s Rho dengan bantuan SPSS 23.0 for windows. Hasil penelitian menunjukkan kontrol diri menunjukkan hubungan negatif signifikan dengan perilaku agresivitas (rxy = -0,831, P=0,000<0,005). Artinya semakin tinggi kontrol diri, maka akan semakin rendah perilaku agresivitas. Pada dukungan sosial teman sebaya menunjukkan hubungan negatif signifikan dengan perilaku agresivitas (rxy = -0,715, P=0,003<0,005). Artinya semakin tinggi dukungan sosial teman sebaya, maka akan semakin rendah perilaku agresivitas. Temuan ini dapat menjadi dasar bagi perguruan tinggi dalam mengembangkan program pembinaan mahasiswa yang berfokus pada peningkatan kontrol diri dan penguatan dukungan sosial teman sebaya guna meminimalkan perilaku agresivitas di lingkungan kampus.    
Kesepian pada dewasa awal pasca putus cinta hubungan long term: bagaimana peran gaya kelekatan orang tua dan self compassion? Aprilya Ferani; Wina Lova Riza; Mohammad Iqbal
SUKMA : Jurnal Penelitian Psikologi Vol. 7 No. 1 (2026): Volume 7 No 1 Juni 2026 (In Progress)
Publisher : Fakultas Psikologi Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Putusnya hubungan asmara yang terjalin lama pada masa dewasa awal kerap kali menimbulkan penderitaan emosional yang berat, sehingga menempatkan individu pada risiko tinggi mengalami kesepian yang mendalam. Penelitian ini dirancang untuk menguji secara empiris dampak simultan maupun parsial dari gaya kelekatan (attachment style) dan welas diri (self-compassion) terhadap tingkat kesepian yang dirasakan oleh individu dewasa awal pasca-putus cinta di Kabupaten Karawang. Menggunakan pendekatan kuantitatif kausalitas, data dihimpun dari 204 responden (berusia 18–25 tahun) yang mengalami putus hubungan dalam kurun waktu 12 bulan terakhir, dengan usia jalinan asmara sebelumnya minimal dua tahun. Penarikan sampel dilakukan melalui metode non-probability purposive sampling. Instrumen pengumpulan data menggunakan adaptasi dari UCLA Loneliness Scale Version 3, Inventory of Parent and Peer Attachment (IPPA), serta Self-Compassion Scale (SCS). Haasil analisis regeresi linear berganda menunjukkan bahwa attachment style dan self - compassion secara bersama - sama memberikan kontribusi sebesar 49,9% terhadap varians kesepian (F = 103,152; p < 0,001). Secara parsial, gaya kelekatan (khususnya kelekatan tidak aman) membawa pengaruh positif yang signifikan terhadap kesepian (t = 10,901; p < 0,001), sementara welas diri menunjukkan pengaruh negatif yang signifikan (t = -8,639; p < 0,001). Temuan ini mengindikasikan bahwa meskipun gaya kelekatan tidak aman meningkatkan kerentanan terhadap isolasi pasca-putus hubungan, kemampuan welas diri yang kuat berfungsi sebagai mekanisme koping internal yang krusial dalam mereduksi kesepian.
Analisis undang-undang nomor 16 tahun 2019 dalam mendukung ketahanan keluarga dan kesehatan mental : perspektif psikologi keluarga Ikrima Imroatul Arifa; Sarjduningsih
SUKMA : Jurnal Penelitian Psikologi Vol. 7 No. 1 (2026): Volume 7 No 1 Juni 2026 (In Progress)
Publisher : Fakultas Psikologi Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstract Marriage is a bond formed both physically and spiritually between a man and a woman, which is recognized as valid by both religion and the state. The law governing marriage is Law No. 1 of 1974, which has recently become a subject of controversy regarding marriage, particularly concerning the minimum age for marriage. The implementation of this law has had a negative impact on the functioning of households, which can lead to disparities and health consequences. The focus of this study is on the implementation of Law No. 1 of 1974 and its influence on the dynamics of family relationships in Indonesia, as well as the impact of the legal provisions in Law No. 1 of 1974 on mental health. The method used in this study is normative law with a normative and conceptual legal approach. The results of this study indicate that the application of this law to the dynamics of family relationships has a significant impact, as there are differences in the emphasis placed on the roles performed by husbands and wives, leading to the establishment of protections for women and children aimed at reducing divorce rates. Meanwhile, regarding the mental health of the couples themselves, early marriage can cause anxiety, stress, and depression because they are not yet psychologically and mentally prepared to shoulder the responsibilities of married life. Keywords: Implementation, Relationships, Marriage Law, Mental Health Abstrak Pernikahan merupakan sebuah ikatan yang secara lahir dan batin terjalin diantara laki-laki dan perempuan, yang dimana ikatan ini sah menurut agama dan negara. Undang-Undang yang mengatur terkait dengan pernikahan adalah Undang-Undang Nomor 1 Tabun 1974 yang dimana pada masa sekarang Undang-Undang ini menjadi sedikit bahan dalam pertentangan tehadap pernikahan yang diantaranya terkait dengan batas usia pernikahan. Berlakukunya Undang-Undang ini mempunyai hubungan yang kurang baik terhadap jalannya rumah tangga, dimana hal ini dapat menyebabkan adanya kesenjangan dan dampak kesehatan. Adapun focus penelitian ini adalah terkait dengan implementasi Undang-Undang omor 1 Tahun 1974 dalam mempengaruhi dinamika relasi dalam keluarga di Indonesia dan dampak dari ketentuan hukum dalam Undang-Undang nomor 1 Tahun 1974 terhadap kesehatan mental. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah hukum normative dengan pendekatan yurisis normative dan konseptual. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwasannya berlakuknya Undang-Undang tersebut terhadap dimanika realsi dalam keluarga sangat memepngaruhi, dimana terdapat perbedaan pada penekanan terhadap peran yang dijalankan oleh oleh suami istri yang menyebabkan munculnya perlindungan bafi perempuan dan anak yang bertujuan untuk mengurangi angka perceraian. Sedagkan terhadap kesehatan mental pada pasangan itu sendiri, dimana setiap pasangan yang melakukan pernikahan dalam usia dini dapat menimbulkan kecemasan, stress dan juga depresi karena psikis dan mental mereka belum siap untuk menanggung tanggungjawab dalam berumah tangga. Kata kunci: Implementasi, Relasi, UU Perkawinan, Kesehatan Mental
Academic dishonesty pada mahasiswa: peran achievement pressure dan moderasi religiusitas Christy Maharani Mamuko; Mamang Efendy; Herlan Pratikto
SUKMA : Jurnal Penelitian Psikologi Vol. 7 No. 1 (2026): Volume 7 No 1 Juni 2026 (In Progress)
Publisher : Fakultas Psikologi Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstract Academic dishonesty is a form of ethical violation in education that frequently occurs among university students. This study aims to examine the effect of achievement pressure on academic dishonesty and the role of religiosity as a moderating variable in this relationship. This study employed a quantitative approach with a correlational method. The participants were 350 active university students domiciled in Surabaya. The results showed a positive and significant effect of achievement pressure on academic dishonesty behavior (β = 0.74697; p < 0.001). Religiosity had a negative and significant effect on academic dishonesty (β = -0.18762; p < 0.001), indicating that higher levels of religiosity were associated with a lower tendency to engage in academic dishonesty. However, the interaction analysis showed that religiosity did not moderate the relationship between achievement pressure and academic dishonesty (β = -0.000159; p = 0.608). These findings imply that efforts to reduce academic dishonesty should not only focus on strengthening students’ religiosity, but also on managing achievement pressure through supportive academic environments, fair evaluation systems, and educational programs that promote academic integrity. Abstrak Perilaku ketidakjujuran akademik merupakan salah satu bentuk pelanggaran etika dalam dunia pendidikan yang sering terjadi di kalangan mahasiswa. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh achievement pressure terhadap academic dishonesty, serta peran religiusitas sebagai variabel moderator dalam hubungan tersebut. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode korelasional. Subjek dalam penelitian ini berjumlah 350 mahasiswa aktif yang berdomisili di Surabaya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tekanan prestasi berpengaruh positif dan signifikan terhadap perilaku ketidakjujuran akademik (β = 0,74697; p < 0,001). Sementara itu, religiusitas berpengaruh negatif dan signifikan terhadap ketidakjujuran akademik (β = -0,18762; p < 0,001), yang berarti semakin tinggi tingkat religiusitas, semakin rendah kecenderungan mahasiswa untuk melakukan ketidakjujuran akademik. Namun, hasil analisis interaksi menunjukkan bahwa religiusitas tidak memoderasi hubungan antara tekanan prestasi dan ketidakjujuran akademik (β = -0,000159; p = 0,608). Temuan ini mengimplikasikan bahwa upaya untuk menurunkan ketidakjujuran akademik tidak hanya perlu difokuskan pada penguatan religiusitas mahasiswa, tetapi juga pada pengelolaan tekanan prestasi melalui lingkungan akademik yang suportif, sistem evaluasi yang adil, serta program pendidikan yang menekankan pentingnya integritas akademik.
Apakah perceived social support memoderasi peran loneliness terhadap quarter-life crisis pada fresh graduate? Raviqa Mawaddah; Aflah Zakinov Irta
SUKMA : Jurnal Penelitian Psikologi Vol. 7 No. 1 (2026): Volume 7 No 1 Juni 2026 (In Progress)
Publisher : Fakultas Psikologi Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstract   This study aims to examine the effect of loneliness on the quarter-life crisis and the role of perceived social support as a moderator among recent graduates. The study employs a quantitative approach with a correlational design. The sample consisted of 290 recent graduates aged 21–25 years, selected using incidental sampling. Data were collected using the UCLA Loneliness Scale Version 3, the Quarter-Life Crisis Scale, and the Multidimensional Scale of Perceived social support (MSPSS), and then analyzed using SEM-PLS. The results indicate that loneliness has a positive and significant effect on the quarter-life crisis. However, perceived social support does not have a significant effect on the quarter-life crisis and was not found to moderate the relationship between loneliness and the quarter-life crisis. These findings suggest that loneliness is a key factor in the emergence of quarter-life crisis experiences among fresh graduates. Therefore, strengthening psychological resources can help fresh graduates cope with various challenges during the transition from the academic world to the workforce.   Penelitian ini bertujuan untuk menguji hubungan loneliness terhadap quarter-life crisis serta peran perceived social support sebagai variabel moderator pada fresh graduate. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain korelasional. Sampel penelitian berjumlah 290 fresh graduate berusia 21–25 tahun yang dipilih menggunakan teknik incidental sampling. Data dikumpulkan menggunakan UCLA Loneliness Scale Version 3, skala Quarter-Life Crisis, dan Multidimensional Scale of Perceived social support (MSPSS), kemudian dianalisis menggunakan SEM-PLS. Hasil penelitian menunjukkan bahwa loneliness berpengaruh positif dan signifikan terhadap quarter-life crisis. Namun, perceived social support tidak berpengaruh signifikan terhadap quarter-life crisis dan tidak terbukti memoderasi hubungan antara loneliness dan quarter-life crisis. Temuan ini menunjukkan bahwa loneliness merupakan faktor yang berperan penting dalam munculnya pengalaman quarter-life crisis pada fresh graduate. Oleh karena itu, penguatan sumber daya psikologis dapat membantu fresh graduate menghadapi berbagai tantangan pada masa transisi dari dunia pendidikan menuju dunia kerja.
Kecemasan pada anggota polri di polda DIY: bagaimana peran stresor lingkungan kerja? Muhammad Bahrori Rohza; FX Wahyu Widiantoro
SUKMA : Jurnal Penelitian Psikologi Vol. 7 No. 1 (2026): Volume 7 No 1 Juni 2026 (In Progress)
Publisher : Fakultas Psikologi Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The policing profession is inherently exposed to high-risk demands and organizational dynamics that potentially disrupt the mental well-being of personnel. This study was conducted to examine the phenomenon of mental health issues within law enforcement with the aim of testing the effect of work environment stressors on anxiety levels among Indonesian National Police members. Employing a non-experimental quantitative approach with correlational, data were collected through digital surveys using instruments constructed based on the job stressor theory by French & Caplan (1972) and the anxiety indicators defined by Hendra (2024). A total of 150 active members at the Special Region of Yogyakarta Regional Police were selected as participants using a simple random sampling technique. The collected numerical data were then analyzed using simple linear regression statistical tests after fulfilling the prerequisite normality and linearity tests. The descriptive analysis results indicate that the respondents' work stressor levels are in the low category since the workload is considered proportional to personal capacity. Meanwhile, the inferential analysis results prove a positive and significant effect of work environment stressors on anxiety, with an effective contribution of 21 percent. This implies that the police institution must implement proactive policies, such as integrating comprehensive psychological counseling programs and stress management training, to maintain emotional stability and optimize personnel performance in the field.   Profesi kepolisian secara inheren dihadapkan pada tuntutan tugas bersiko tinggi dan dinamika organisasi yang berpotensi mengganggu kesejahteraan mental personel. Penelitian ini dilakukan untuk mengkaji fenomena gangguan kesehatan mental di lingkungan penegak hukum dengan tujuan menguji pengaruh stresor lingkungan kerja terhadap tingkat kecemasan pada anggota Kepolisian Republik Indonesia. Menggunakan pendekatan kuantitatif korelasional, data dikumpulkan melalui survei digital dengan instrumen yang dikonstruksi berdasarkan teori stresor kerja French & Caplan (1972) dan indikator kecemasan Hendra (2024). Sebanyak 150 anggota aktif di Kepolisian Daerah Istimewa Yogyakarta dipilih sebagai partisipan menggunakan teknik penarikan sampel acak sederhana. Data numerik yang dihimpun kemudian dianalisis menggunakan uji statistik regresi linear sederhana setelah memenuhi uji prasyarat normalitas dan linearitas. Hasil analisis deskriptif menunjukkan bahwa tingkat stresor kerja responden berada dalam kategori rendah karena beban tugas dinilai masih sesuai dengan kapasitas personal. Sementara itu, hasil analisis inferensial membuktikan adanya pengaruh positif dan signifikan dari stresor lingkungan kerja terhadap kecemasan, dengan kontribusi efektif sebesar 21 persen. Implikasinya, institusi Polri perlu merumuskan kebijakan yang lebih proaktif, seperti penguatan program konseling psikologis yang terintegrasi dan pelatihan manajemen stres, guna menjaga stabilitas emosional serta mengoptimalkan kinerja anggota di lapangan.