cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kab. sleman,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Jurnal Sain Veteriner
ISSN : 012660421     EISSN : 24073733     DOI : -
Core Subject : Health,
Arjuna Subject : -
Articles 28 Documents
Search results for , issue "Vol 43, No 3 (2025): Desember" : 28 Documents clear
Profil Darah dan Gambaran Makroskopis Kesembuhan Luka Tikus Wistar (Rattus norvegicus) Infeksi Staphylococcus aureus yang Diberi Ekstrak Bawang Merah (Allium cepa L.) Rosyadi, Imron; Alhidayany, Desriza; S, Christin Marganingsih
Jurnal Sain Veteriner Vol 43, No 3 (2025): Desember
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Universitas Gadjah Mada bekerjasama dengan PB PDHI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jsv.44891

Abstract

Wound is one of the most common cases happened frequently. Infected wound by pathogenic microorganism could inhibit wound healing process. The microorganism that often infect the wound is Staphylococcus aureus. Shallot had believed as one of traditional medicine that believes as an alternative therapy for wound healing. This study aimed to determine the blood profile and macroscopic images of wound healing in Wistar rats (Rattus norvegicus) infected by Staphylococcus aureus and given shallot extract (Allium cepa L.). This study used 12 rats, aged about 2 months and weighed 180-250 gram is divided into 4 groups, each group consist of 3 rats. Rats were injured by incision wound at 1 cm length and ± 2 mm depth, then infected by Staphylococcus aureus bacteria. Group I and II were droped of shallot extract 40% and 80%, while Group III was droped by povidon iodine 10%, and Group IV was given nothing (control group) until the wound healed. Research observation was did at day-0, 7, 14, and 21. The length of wound was measured in centimeter evere week and blood sampling were done at day-0 and day-21. The observational data of wound length were analysis using Friedman, Wilcoxon, dan Mann-Whitney. The result of research showed the wound length average on day-7 in Group I: 0,733 cm; Group II: 0,433 cm; Group III: 0,567 cm; and Group IV: 0,767 cm (p<0,05). The wound length average on day-14 in Group I: 0,433 cm and Group IV: 0,333 cm (p>0,05), Group II and III were healed (p>0,05). In day-21 all wound were completely healed. The rats blood profile on day-0 and day-21 showed that erythrocytes total count, hemoglobin (Hb), and packed cell volume (PCV) were in normal range. Rats were in health condition. Thus it could be concluded that the time need for the wounds to heal in rats that were treated with shallot extract 80%  is equal to rats were treated with povidon iodine 10% on the 14th day of the study while rats that were treated with shallot extract 40%  is equal to rats was given nothing on the 21st day of the study. Shallot extract 80% can treat wound that infected by Staphylococcus aureus is equal to povidon iodine 10% treatment.
Pengaruh Ekstrak Bawang Merah (Allium cepa L.) terhadap Gambaran Leukosit Tikus Wistar yang Diinfeksi Staphylococcus aureus Munawaroh, Muhammad; Angkasa, Winoto; Santosa, Christin Marganingsih; Kholik, Kholik; Rosyadi, Imron
Jurnal Sain Veteriner Vol 43, No 3 (2025): Desember
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Universitas Gadjah Mada bekerjasama dengan PB PDHI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jsv.44892

Abstract

Shallot (Allium cepa L) has been used emperically to treat wounds, bloat, common cold and is known to boost immunity. Shallots have a variety of useful compounds such as flavonoids, antioxidants, quercetin, saponins and many other compounds. These compounds have been known to have antibacterials, antihistamines, and immunomodulators activities. This study aimed to examine the  potential of shallot extract in wounded rats that are infected with Staphylococcus aureus.Fifteen female Wistar rat were divided into 5 treatment groups: 40% shallot extract, 80% shallot extract, 10% povidone iodine, positive control and negative control. The rats were wounded by making an incision on the back then the shallot extract was administered topically once a day for 21 days. Blood samples were taken on days 0 and 21 then the total number of leukocytes and its differentials     (neutrophils, lymphocytes, monocytes, eosinophils and basophils) were calculated. The data were then processed using one-way ANOVA test with 95% significance value.The result showed a significant increase (p<0,05) on the total number of leukocyte (10,37 ± 1,09 103/µl), neutrophils (4,98 ± 0,30 103/µl), lymphocytes  (8,76 ± 0,04 103/µl) and monocytes (0,74 ± 0,02 103/µl) on the group treated with 40% shallot extract. While on the group treated with 80% shallot extract there was a significant increase (p<0,005) on the total number of leukocytes (10,40 ± 0,43 103/µl), lymphocytes (7,67 ± 0,19 103/µl), and monocytes (0,64 ± 0,01 103/µl). This study concluded that shallot extract is able to improve the immune system.
Potensi Ekstrak Daun Sirsak (Annona muricata L. sebagai Sumber Pengobatan Skabies pada Kelinci (Oryctolagus cuniculus) Surya, Nur Jannah Permata; Nugroho, Muhammad Arif; Andita, Aretta Safa; Kurniyawan, Farid Firnanda; Safitri, Nuril Qolbi; Lestari, Fajar Budi; Sukoco, Hendro; Basy, Lukman La; Haryadi, Fathur Rohman
Jurnal Sain Veteriner Vol 43, No 3 (2025): Desember
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Universitas Gadjah Mada bekerjasama dengan PB PDHI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jsv.69252

Abstract

Skabies pada kelinci yang disebabkan oleh infestasi Sarcoptes scabiei berdampak terhadap kesejahteraan hewan dan produktifitas. Pengobatan berbahan kimia berisiko menimbulkan efek samping, sehingga diperlukan alternatif berbahan alami. Daun sirsak (Annona muricata L.) mengandung senyawa bioaktif yang berpotensi sebagai antiparasit. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas ekstrak daun sirsak (Annona muricata L.) dalam pengobatan skabies pada kelinci (Oryctolagus cuniculus). Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental dengan menggunakan 35 sampel luka skabies pada kelinci (Oryctolagus cuniculus). Pemeriksaan mikroskopis kerokan kulit pada kelinci yang menunjukkan gejala klinis skabies untuk memastikan infestasi tungau Sarcoptes scabiei. Skabies kelinci dibagi menjadi tujuh kelompok perlakuan yang terdiri dari kelompok kontrol positif, kelompok kontrol negatif, kemudian kelompok yang mendapat ekstrak daun sirsak konsentrasi 10%, 20%, 30%, 40%, dan 50%, perlakuan diberikan setiap hari selama tujuh hari. Pengamatan dan parameter keberhasilan pengobatan skabies berdasarkan derajat scoring dari 3 parameter perubahan klinis kulit yang terdiri dari pertumbuhan rambut, keropeng, penebalan dan lipatan kulit. Kesimpulan dari penelitian ini adalah ekstrak daun sirsak memiliki efek penyembuhan pada skabies kelinci (Oryctolagus cuniculus).
Gambaran Indeks Ovitrap dan Survei Iklim Mikro pada Tiga Kelurahan di Samarinda, Kalimantan Timur AZ, Syadza Zahratun Nufus; Hadi, Upik Kesumawati; Arif, Ridi
Jurnal Sain Veteriner Vol 43, No 3 (2025): Desember
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Universitas Gadjah Mada bekerjasama dengan PB PDHI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jsv.75032

Abstract

Degradasi ekosistem akan menimbulkan permasalahan serius terutama bagi kesehatan masyarakat. Salah satu masalah kesehatan masyarakat adalah penyakit tular vektor (vector borne disease). Demam Berdarah Dengue (DBD) adalah salah satu penyakit tular vektor. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kepadatan telur nyamuk Aedes spp. di Samarinda, Kalimantan Timur, berdasarkan indeks ovitrap dan hubungannya dengan iklim mikro (suhu dan kelembapan). Survei ini mengamati 150 rumah pada tiga kelurahan di Samarinda. Setiap rumah diberikan dua ovitrap, outdoor dan indoor. Jumlah ovitrap yang diberikan sebanyak 300/minggu. Pengambilan sampel dilakukan sebanyak 8 kali dengan interval waktu survei dua minggu. Indeks ovitrap pada tiap kelurahan yaitu  31.62% di Pelita, 28.25% di Sidodadi, dan 27.8% di Sempaja Utara. Hasil indeks ovitrap termasuk tingkat 3 di tiap kelurahan. Hubungan antara iklim mikro (suhu dan kelembapan) dengan ovitrap positif berkorelasi positif di kelurahan Pelita dan Sempaja Utara (p-value < 0.05), tetapi tidak berkorelasi di kelurahan Sidodadi (p-value > 0.05).
Peran Plasma Kaya Trombosit dan Perban Lembab dalam Perawatan Transplantasi Kulit pada Kucing Zamzami, Rumi Sahara; Hasan, Muhammad; Daud, Razali; Daniel, Daniel; Sabri, Mustafa; Jamin, Faisal; Etriwati, Etriwati; Sirait, Muhammad Alfajri Erutama; Erwin, Erwin
Jurnal Sain Veteriner Vol 43, No 3 (2025): Desember
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Universitas Gadjah Mada bekerjasama dengan PB PDHI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jsv.85600

Abstract

Plasma Kaya Trombosit (PKT) mengandung konsentrasi fibrin dan faktor pertumbuhan yang tinggi, yang berperan penting dalam regenerasi jaringan selama proses penyembuhan transplantasi kulit. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi efektivitas pemberian PKT yang dikombinasikan dengan balutan lembap terhadap keamanan dan hasil penyembuhan transplantasi kulit pada kucing domestik melalui penilaian subjektif dan objektif. Penelitian ini menggunakan enam ekor kucing domestik jantan berumur 1–2 tahun dengan bobot badan 2–3 kg yang dibagi ke dalam dua kelompok perlakuan. Defek kulit full-thickness berukuran 2 × 2 cm dibuat pada ekstremitas anterior dan ditutup d engan transplantasi kulit empat hari kemudian. Kelompok I (K-I) diberi balutan lembap, sedangkan Kelompok II (K-II) diberi PKT pada dasar luka sebelum pemasangan transplantasi kulit dan selanjutnya ditutup dengan balutan lembap. Penilaian subjektif pada area defek pasca skin graft meliputi perubahan warna kulit, respons nyeri, dan uji perdarahan, sedangkan penilaian objektif meliputi absorpsi NaCl dan respons terhadap agen simpatomimetik yang diamati pada hari ke-18 pasca-transplantasi. Hasil menunjukkan bahwa warna kulit dan respons nyeri pada K-II secara signifikan lebih baik dibandingkan K-I (P < 0,05). Area transplantasi menunjukkan warna menyerupai kulit sekitarnya pada hari ke-9 dan ke-12 dengan perbedaan signifikan antar waktu pengamatan (P < 0,05), sementara respons nyeri tidak berbeda signifikan seiring waktu (P > 0,05). Penilaian objektif menunjukkan keluarnya darah merah terang secara segera setelah insisi serta absorpsi NaCl dan respons obat simpatomimetik yang lebih cepat pada K-II (P < 0,05). Disimpulkan bahwa aplikasi PKT yang dikombinasikan dengan balutan lembap secara signifikan mempercepat proses pemulihan trasnplantasi kulit pada kucing domestik.
Efektivitas Penerapan Biosekuriti di Feedlot Lembu Setia Abadi Jaya Tangerang Damayati, Dyka -; Wibisono, Cahyo; Widiasih, Dyah Ayu; Drastini, Yatri
Jurnal Sain Veteriner Vol 43, No 3 (2025): Desember
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Universitas Gadjah Mada bekerjasama dengan PB PDHI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jsv.86800

Abstract

Biosekuriti merupakan tindakan pertahanan pertama untuk pengendalian wabah dan dilakukan untuk mencegah semua kemungkinan penularan/kontak dengan ternak tertular sehingga rantai penyebaran penyakit dapat diminimalkan. Penerapan biosekuriti yang merupakan pertahanan awal pengendalian wabah dengan komponen utama isolasi, kontrol lalu lintas dan sanitasi, pada pertengahan 2022, Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) kembali muncul di Indonesia setelah 3 dekade bebas dari penyakit tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas biosekuriti feedlot. Penelitian ini dilakukan di feedlot Lembu Setia Abadi Jaya (LSAJ) yang merupakan perusahaan penggemukan sapi impor dari Australia berkapasitas Instalasi Karantina Hewan (IKH) sebanyak 1800 ekor berdiri sejak 2009. Pada penelitian ini akan menggunakan 3 data mortalitas dan morbiditas yaitu, data sebelum terjadi wabah PMK, data saat terjadi wabah PMK dan yang ketiga adalah data ketika feedlot sudah siap menghadapi wabah PMK dengan meningkatkan biosekuriti. Selama masa penelitian akan dilampirkan pula sapi sakit beserta penanganannya, apabila terdapat sapi potong paksa atau mati akan dilampirkan hasil investigasi kejadian tersebut. Hasil penelitian menunjukkan sebelum adanya wabah PMK biosekuriti yang diterapkan pada feedlot LSAJ belum terlalu ketat seperti wabah PMK sehingga tingkat kejadian PMK sebelum biosekuriti ketat diterapkan meningkat secara signifikan. Deteksi dini yang dilakukan sebagai respons yang tepat dan cepat dalam feedlot LSAJ terhadap wabah PMK, hal ini menunjukkan pengetatan biosekuriti berpengaruh pada kejadian PMK dan secara statistic dilakukan uji Chi-Square didapatkan mendapatkan hasil nilai sig. 0,000 < 0,05 yang berarti terdapat perbedaan antara keadaan biosekuriti sebelum pengetatan dan setelah ada pengetatan. 
Uji In vitro Aktivitas Antiparasit Minyak Esensial Chamomile (Anthemis nobilis L.) terhadap Tungau Otodectes cynotis Putri Ruchiyat, Shafira Permata; Waskita, Pranyata Tangguh; Krissanti, Ita; Khairani, Shafia; Hiroyuki, Andi; Rosdianto, Aziiz Mardanarian
Jurnal Sain Veteriner Vol 43, No 3 (2025): Desember
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Universitas Gadjah Mada bekerjasama dengan PB PDHI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jsv.86846

Abstract

Parasitic otitis adalah penyakit pada telinga yang biasa ditemukan pada hewan kecil, salah satunya adalah kucing. Penyakit ini disebabkan oleh tungau otodectes cynotis. Terdapat pengobatan alami yang bisa dijadikan peluang sebagai alternatif lain dalam membantu mengatasi penyakit otitis pada kucing yang salah satunya adalah minyak esensial chamomile (Anthemis nobilis l.)(MEC) karena memiliki efektifitas sebagai antiparasit, antibakteri, dan antijamur. Penelitian ini dilakukan dengan tujuan mengetahui potensi MEC sebagai antiparasit khususnya terhadap tungau otodectes cynotis serta mengetahui konsentrasi MEC yang berpotensi untuk menangani kasus parasitic otitis pada kucing. Penelitian ini dilakukan uji in vitro berupa uji aktivitas antiparasit untuk menentukan konsentrasi terbaik yang berpotensi membunuh tungau otodectes cynotis. Pada uji aktivitas antiparasit didapatkan konsentrasi MEC terbaik yaitu 5% dengan hasil daya hambat tetas telur (62,5%), persentase mortalitas tungau otodectes cynotis pada siklus larva (90%), nimfa (90%), dan dewasa (82,50%). Hal ini menunjukkan bahwa MEC 5% memiliki potensi sebagai antiparasit.
IIsolasi dan Identifikasi Staphylococcus aureus pada Susu Sapi Mastitis Subklinis di Pangalengan, Jawa Barat Sylvany, Hemalya; Waskita, Pranyata Tangguh; Windria, Sarasati
Jurnal Sain Veteriner Vol 43, No 3 (2025): Desember
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Universitas Gadjah Mada bekerjasama dengan PB PDHI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jsv.87051

Abstract

Susu sapi merupakan produk utama yang dihasilkan sapi perah. Kandungan susu sapi yang beragam, menjadikan susu sebagai sumber nutrisi yang baik untuk metabolisme tubuh. Tingginya permintaan susu di Indonesia belum terpenuhi karena adanya aspek kesehatan dari sapi yang mengalami mastitis. Staphylococcus aureus adalah salah satu patogen yang menyebabkan mastitis subklinis pada sapi. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui cemaran Staphylococcus aureus pada sampel susu sapi yang menderita mastitis subklinis di Pangalengan. Penelitian ini dilakukan dengan metode deskriptip kualitatif, menggunakan 48 sampel susu sapi perah mastitis dengan hasil uji CMT . Isolasi dan identifikasi Staphylococcus aureus dilakukan dilakukan melalui metode kultur pada media Blood Agar Plate (BAP), Mannitol Salt Agar (MSA), pewarnaan Gram, uji katalase, uji DNase, serta uji koagulase. Dari 48 sampel terdapat 17 isolat yang mengandung Staphylococcus aureus. 17 isolat menghasilkan hemolisin pada blood agar, memfermentasikan mannitol, pewarnaan Gram positif kokus, katalase positif, koagulase positif dan DNase positif.  Kata kunci : mastitis subklinis; susu sapi; Staphylococcus aureus.  
Investigasi Kasus dan Identifikasi Faktor Risiko Kematian Babi di Kabupaten Manokwari Pumoko, Florida R.A.; Santoso, Budi; Sambodo, Priyo
Jurnal Sain Veteriner Vol 43, No 3 (2025): Desember
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Universitas Gadjah Mada bekerjasama dengan PB PDHI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jsv.88011

Abstract

This study aims to determine the chronology of death, the spread of the disease, the causes of the disease and the risk factors that affect the disease that caused the death of hundreds of pigs in three districts in Manowari Regency, West Papua Province. The research was conducted in West Manokwari District, Prafi District and Tanah Rubuh District. The research was conducted using a survey method with interview techniques and field observations. The number of correspondents is 117 breeders. The data obtained were analyzed descriptively using a case study technique based on the results of investigations and laboratory tests. The average age of breeders are 34.27-42.9 years with farming experience of 2.67-11.47 years. Number of swines are 77-128 tails. The maintenance system is extensive except in the West Manokwari District, which is intensive. The main feed sources are household/food stall waste and garden produce. Almost all farmers do not understand about disease control. The death of pigs in the study area generally occurred suddenly without showing any clinical symptoms, starting with the animals looking weak, having convulsions, experiencing respiratory problems and then dying. The disease has spread in all pens or herds of pigs in the study area. Based on the results of the RT-PCR test, the dead pigs were diagnosed as infected with ASFV, except for Tanah Rubuh District. The risk factors for this outbreak are the pig management system, biosecurity, anthropogenic (human factors), animal and fomite. 
Pemeriksaan Kesehatan pada Kucing di Wilayah Sekitar Field Research Center Kulon Progo, Yogyakarta Lestari, Fajar Budi; Prihanani, Nur Ika; Tjahajati, Ida; Syazwina, Alvina Meita; Latifah, Khilda Tsania; Fatiha, Azzahra Jasmine; Wahyuningtyas, Helfi
Jurnal Sain Veteriner Vol 43, No 3 (2025): Desember
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Universitas Gadjah Mada bekerjasama dengan PB PDHI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jsv.90613

Abstract

Health disorders in companion animals are commonly encountered and may result from bacterial, viral, or fungal infections, as well as parasitic infestations. Cats (Felis catus) are among the domestic animals most closely associated with humans. This study aimed to evaluate the health status and identify diseases in cats inhabiting the area surrounding the Field Research Center (FRC), Yogyakarta. A total of 27 cats from the FRC area were included in this study. Fecal samples, ear swabs, skin scrapings, and blood samples were collected for laboratory examination. Fecal samples were analyzed using the native method to detect gastrointestinal parasites, ear swabs were examined for the presence of ear mites, skin scrapings were used to identify ectoparasites, and blood samples were analyzed using a hematology analyzer. Based on physical and laboratory examinations, cats in the FRC area were affected by parasitic infestations (scabies, ear mites, and pediculosis) and bacterial infections (rhinitis, conjunctivitis, enteritis, and otitis). Routine health examinations are essential for disease prevention and the improvement of animal welfare.

Page 1 of 3 | Total Record : 28


Filter by Year

2025 2025


Filter By Issues
All Issue Vol 43, No 3 (2025): Desember Vol 43, No 2 (2025): Agustus Vol 43, No 1 (2025): April Vol 42, No 3 (2024): Desember Vol 42, No 2 (2024): Agustus Vol 42, No 1 (2024): April Vol 41, No 3 (2023): Desember Vol 41, No 2 (2023): Agustus Vol 41, No 1 (2023): April Vol 40, No 3 (2022): Desember Vol 40, No 2 (2022): Agustus Vol 40, No 1 (2022): April Vol 39, No 3 (2021): Desember Vol 39, No 2 (2021): Agustus Vol 39, No 1 (2021): April Vol 38, No 3 (2020): Desember Vol 38, No 2 (2020): Agustus Vol 38, No 1 (2020): April Vol 37, No 2 (2019): Desember Vol 37, No 1 (2019): Juni Vol 36, No 2 (2018): Desember Vol 36, No 1 (2018): Juni Vol 35, No 2 (2017): Desember Vol 35, No 1 (2017): Juni Vol 34, No 2 (2016): Desember Vol 34, No 1 (2016): Juni Vol 33, No 2 (2015): Desember Vol 33, No 1 (2015): JUNI Vol 32, No 2 (2014): DESEMBER Vol 32, No 1 (2014): JUNI Vol 31, No 2 (2013): DESEMBER Vol 31, No 1 (2013): JULI Vol 30, No 2 (2012): DESEMBER Vol 30, No 1 (2012): JUNI Vol 29, No 2 (2011): DESEMBER Vol 29, No 1 (2011): JUNI Vol 28, No 2 (2010): DESEMBER Vol 28, No 1 (2010): JUNI Vol 27, No 2 (2009): DESEMBER Vol 27, No 1 (2009): JUNI Vol 26, No 2 (2008): DESEMBER Vol 26, No 1 (2008): JUNI Vol 25, No 2 (2007): DESEMBER Vol 25, No 1 (2007): JUNI Vol 24, No 2 (2006): DESEMBER Vol 24, No 1 (2006): JUNI Vol 23, No 2 (2005): DESEMBER Vol 23, No 1 (2005): JUNI Vol 22, No 2 (2004): DESEMBER Vol 22, No 1 (2004): Juli Vol 21, No 2 (2003): DESEMBER Vol 21, No 1 (2003): JULI Vol 20, No 2 (2002): Desember Vol 20, No 1 (2002): Juli Vol 19, No 2 (2001): DESEMBER Vol 18, No 1&2 (2000) Vol 18, No 2 (2000) Vol 18, No 1 (2000) Vol 17, No 1 (1999) Vol 16, No 2 (1999) Vol 16, No 1 (1998) Vol 15, No 1&2 (1996) Vol 14, No 2 (1995) More Issue