cover
Contact Name
Andi Safitri Sacita
Contact Email
jurnalperbal@gmail.com
Phone
+6281213302660
Journal Mail Official
jurnalperbal@gmail.com
Editorial Address
Fakultas Pertanian, Universitas Cokroaminoto Palopo Jalan Lamaranginang, Kel. Wara Utara, Kota Palopo, 91913
Location
Kota palopo,
Sulawesi selatan
INDONESIA
Perbal: Jurnal Pertanian Berkelanjutan
ISSN : 23026944     EISSN : 25811649     DOI : https://doi.org/10.30605/perbal
Core Subject : Agriculture,
Jurnal ini berisi tentang lingkup ilmu-ilmu pertanian, dengan prioritas pada ilmu dan teknologi tanaman (pangan, perkebunan, hortikultura, dan kehutanan), termasuk aspek pascapanen, sosial ekonomi, maupun ketatawilayahan.
Articles 224 Documents
Dampak Ekonomi Alih Fungsi Lahan Kakao Menjadi Lahan Persawahan (Studi Kasus Petani di Kecamatan Ranteangin Kabupaten Kolaka Utara): Economic Impact of Altering the Function of Cocoa Land to Civil Land (Case Study of Farmers in Ranteangin District, North Kolaka Regency) Irwanto Hasbi; Naima Haruna; Suryanto, Suryanto
Perbal: Jurnal Pertanian Berkelanjutan Vol. 13 No. 3 (2025): Perbal: Jurnal Pertanian Berkelanjutan
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Cokroaminoto Palopo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30605/perbal.v13i3.6866

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor-faktor yang memengaruhi alih fungsi lahan kakao ke persawahan padi di Kecamatan Ranteangin, Kabupaten Kolaka Utara. Pergeseran ini terjadi sebagai respons petani terhadap tingginya biaya perawatan, serangan hama, dan fluktuasi harga kakao yang tidak menentu. Penelitian deskriptif kuantitatif ini menggunakan metode sensus terhadap 29 petani. Analisis data dilakukan dengan regresi linear berganda dan uji Paired Sample t-Test. Hasil penelitian menunjukkan bahwa faktor aspek ekonomi dan konsistensi harga memiliki pengaruh signifikan terhadap alih fungsi lahan. Sebaliknya, faktor kesesuaian lahan dan bantuan pemerintah terbukti tidak signifikan secara statistik. Dampak dari alih fungsi lahan ini sangat positif bagi petani, terbukti dengan peningkatan pendapatan bersih dari Rp16.561.310 per tahun (kakao) menjadi Rp26.361.667 per musim tanam (padi). Kesimpulan ini menegaskan bahwa keputusan alih fungsi lahan didorong oleh pertimbangan ekonomi yang kuat demi peningkatan kesejahteraan petani. This study aims to analyze the factors influencing the conversion of cocoa land to paddy fields in Ranteangin District, North Kolaka Regency. This shift occurred as a response by farmers to the high maintenance costs, pest attacks, and uncertain price fluctuations of cocoa. This quantitative descriptive study used a census method involving 29 farmers. Data analysis was performed using multiple linear regression and a Paired Sample t-Test. The results show that economic aspects and price consistency have a significant influence on land conversion. Conversely, land suitability and government assistance factors were found to be statistically insignificant. The impact of this land conversion is very positive for farmers, as evidenced by an increase in net income from Rp16,561,310 per year (cocoa) to Rp26,361,667 per planting season (paddy). This conclusion affirms that the decision for land conversion is driven by strong economic considerations for the improvement of farmers' welfare.  
Uji Invigorasi Ekstrak Bawang Merah Terhadap Viabilitas Benih Kedelai (Glycine max L.): Invigoration Test of Shallot Extract on the Viability of Soybean (Glycine max L.) Seeds Arifin, Tuti Handayani; Sri Soenarsih DAS; Shubzan Andi Mahmud
Perbal: Jurnal Pertanian Berkelanjutan Vol. 13 No. 3 (2025): Perbal: Jurnal Pertanian Berkelanjutan
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Cokroaminoto Palopo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30605/perbal.v13i3.6920

Abstract

Viabilitas benih kedelai (Glycine max L.) cenderung menurun selama penyimpanan, sehingga diperlukan teknik invigorasi untuk memperbaikinya. Penelitian ini bertujuan mengkaji pengaruh ekstrak bawang merah (Allium cepa L.) terhadap viabilitas dan vigor benih kedelai. Penelitian menggunakan Rancangan Acak Lengkap Faktorial dengan konsentrasi ekstrak (0%, 20%, 40%, 60%, 80%, and 100% %) dan lama perendaman (3, 6, dan 9 jam) dengan tiga ulangan. Hasil menunjukkan bahwa konsentrasi 80% dengan perendaman 9 jam memberikan hasil terbaik, ditandai dengan potensi tumbuh sebesar 80,89%, daya kecambah 29,78% dan 19,28%, vigor 62,67%, kecepatan 15,87% dan 22,72% serta keserampakan tumbuh yang lebih tinggi sebesar 17,33%, serta penurunan kecambah abnormal sebesar 17,33% dan benih mati sebesar 22,87%. The viability of soybean seeds (Glycine max L.) tends to decline during storage, thus requiring invigorating techniques to restore their quality. This study aimed to evaluate the effect of shallot (Allium cepa L.) extract on the viability and vigor of soybean seeds. A Factorial Completely Randomized Design was applied with extract concentrations (0%, 20%, 40%, 60%, 80%, and 100% and soaking durations (3, 6, and 9 hours), each replicated three times. The results showed that a concentration of 80% combined with 9 hours of soaking produced the best outcomes, characterized by germination potential of 80.89%, germination percentages of 29.78% and 19.28%, vigor of 62.67%, growth speed of 15.87% and 22.72%, and higher uniformity of 17.33%, along with reduced abnormal seedlings (17.33%) and dead seeds (22.87%).
Potensi Bahan Tambahan pada Pestisida Nabati Daun Pepaya Terhadap Hama dan Kerusakan Daun Kangkung Cabut (Ipomoea reptans Poir): Additive Effects of Papaya Leaf Botanical Pesticides on Pest Control and Leaf Protection in Upland Water Spinach (Ipomoea reptans Poir) Chairiyah, Nurul; Ipun, Ipun; Dwi Santoso; Nur Indah Mansyur; Nurmaisah, Nurmaisah; Muh. Adiwena; Saat Egra; Muttaqien, Muttaqien
Perbal: Jurnal Pertanian Berkelanjutan Vol. 13 No. 3 (2025): Perbal: Jurnal Pertanian Berkelanjutan
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Cokroaminoto Palopo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30605/perbal.v13i3.6987

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi efektivitas penambahan bawang putih, serai, dan daun sirsak dalam formulasi pestisida nabati berbahan dasar daun pepaya terhadap penurunan jumlah hama dan kerusakan daun pada tanaman kangkung cabut (Ipomoea reptans Poir). Penelitian ini menggunakan metode eksperimen lapangan dengan Rancangan Acak Kelompok (RAK) yang terdiri atas lima taraf perlakuan dan lima ulangan, sehingga terdapat 25 satuan percobaan. Perlakuan terdiri dari P0 (kontrol); P1 (daun pepaya); P2 (daun pepaya + bawang putih), P3 (daun pepaya + serai), dan P4 (daun pepaya + daun sirsak). Pestisida nabati diformulasikan melalui proses penghalusan bahan aktif dalam 300 mL air, diikuti inkubasi selama tiga hari, penyaringan, dan pengenceran hingga 1 liter. Penanaman kangkung cabut dilakukan pada bedengan berukuran 1 × 1 meter dengan perlakuan budidaya standar, meliputi penyiraman, penyiangan, dan pemupukan dasar. Pestisida nabati diaplikasikan dengan metode penyemprotan sebanyak dua kali, yaitu pada minggu ketiga dan keempat setelah tanam, pada sore hari. Parameter yang diamati meliputi persentase penurunan jumlah hama serta kerusakan daun. Data yang diperoleh dianalisis secara deskriptif untuk menggambarkan pengaruh aplikasi pestisida nabati terhadap populasi hama dan tingkat kerusakan tanaman kangkung. Perlakuan paling optimal diperoleh dari kombinasi daun pepaya dan serai (P3), yang mampu menurunkan jumlah hama hingga 87,5% dan dapat menekan kerusakan daun dibandingkan perlakuan lainnya. Masih ditemukan tanda-tanda serangan berupa bercak cokelat dan bekas gigitan pada beberapa perlakuan, yang menunjukkan bahwa efektivitas pestisida nabati turut dipengaruhi oleh stabilitas senyawa aktif yang digunakan. This study aimed to evaluate the effectiveness of adding garlic, lemongrass, and soursop leaves to a plant-based pesticide formulation using papaya leaves as the main ingredient in reducing pest populations and leaf damage in upland water spinach (Ipomoea reptans Poir). The research was conducted through a field experiment using a Randomized Complete Block Design (RCBD) consisting of five treatments and five replications, resulting in 25 experimental units. The treatments included P0 (control), P1 (papaya leaves), P2 (papaya leaves + garlic), P3 (papaya leaves + lemongrass), and P4 (papaya leaves + soursop leaves). The botanical pesticide was formulated by blending the active ingredients with 300 mL of water, followed by incubation for three days, filtration, and dilution to a final volume of 1 liter. Upland water spinach was cultivated on plots measuring 1 × 1 meters using standard cultivation practices, including watering, weeding, and base fertilization. The pesticide was applied twice by spraying, in the third and fourth weeks after planting, during the late afternoon. Observed parameters included the percentage reduction in pest numbers and leaf damage. The most effective treatment was P3 (papaya leaves + lemongrass), which reduced pest populations by 87.5% and significantly suppressed leaf damage compared to other treatments. However, signs of pest activity such as brown spots and bite marks were still observed in some treatments, indicating that the effectiveness of the botanical pesticide was also influenced by the stability of the active compounds used.
Peran Pupuk Hilado (Hijau Lamtoro dan Dolomit) dalam Revitalisasi Kesuburan Lahan Bekas Tambang Aspal untuk Budidaya Padi Wakawondu: “Hilado" (Green Lamtoro and Dolomit) Fertilizer’s Role in Restoring Ex-Asphalt Mine Soil for Wakawondu Rice Peliyarni, Peliyarni; Rizka Rahmahwati
Perbal: Jurnal Pertanian Berkelanjutan Vol. 13 No. 3 (2025): Perbal: Jurnal Pertanian Berkelanjutan
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Cokroaminoto Palopo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30605/perbal.v13i3.7013

Abstract

Tanaman padi wakawondu merupakan tanaman pangan lokal unggulan masyarakat Buton khususnya Desa Lawele, Kecamatan Lasalimu. Budidaya padi lokal wakawondu sudah jarang dilakukan di lahan kering karena rendahnya hasil produksi sebagai akibat menurunnya kesuburan tanah. Penyebab menurunnya kesuburan tanah adalah adanya aktivitas pertambangan aspal yang terjadi daerah tersebut. Degradasi lahan tidak dapat dihindari sehingga ketersediaan hara tanah pada daearah tambang aspal menjadi rendah. Pemupukan menggunakan bahan organik sangat perlu dilakukan guna memperbaiki kondisi hara pada lahan tambang aspal untuk budidaya padi wakawondu. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui peran pupuk hilado (hijau lamtoro dan dolomit) dalam merevitalisasi lahan tambang aspal untuk pertumbuhan padi wakawondu. Penelitian ini dilaksanakan di Desa Lawele Kecamatan Lasalimu Kabupaten Buton. Waktu penelitian pada bulan Juni-September 2025. Penelitian ini menggunakan metode Rancangan Acak Kelompok (RAK) yang dilakukan dengan 4 perlakuan dengan 3 kali ulangan sehingga terdapat 12 unit percobaan. Taraf dosis yang digunakan yaitu P0 = tanpa perlakuan (kontrol), P1 (Dosis 25% pupuk hilado), P2 (Dosis 50% pupuk hilado), dan P3 (Dosis 75% pupuk hilado). Hasil penelitian menunjukkan bahwa aplikasi dosis pupuk hilado tidak memberikan pengaruh nyata terhadap pH tanah (7) namun memberikan pengaruh nyata terhadap tinggi tanaman 79.73, jumlah anakan 41.44, dan indeks kehijauan daun 3.83. Perlakuan terbaik terdapat pada perlakuan P2 (dosis 50% pupuk hilado) untuk semua variabel pengamatan. Hal ini diduga dosis 50% mampu mensuplai ketersedian hara bagi tanaman. Wakawondu rice is one of the best food crops of the Buton community, particularly in Lawele Village, Lasalimu District. Its cultivation is rarely carried out on dry land due to low production yields as a result of declining soil fertility. The cause of this decline is the asphalt mining activities that occur in this area. Land degradation cannot be avoided, so the availability of soil nutrients in asphalt mining is low. Organic fertilization is therefore critical to restore soil productivity in this wakawondu cultivation area. This study aims to determine the role of Hilado fertilizer in revitalizing the asphalt mining land for wakawondu rice growth. This study was conducted in Lawele Village, Lasalimu District, Buton Regency. The research period was June to September 2025. This study used a Randomized Block Design (RBD) method, which was carried out with 4 treatments with 3 replications, so that there were 12 experimental units. The dosage levels used were P0 = no treatment (control), P1 (25% dose of Hilado fertilizer), P2 (50% dose of Hilado fertilizer), and P3 (75% dose of Hilado fertilizer). The result of the study showed that the application of Hilado fertilizer doses did not have a significant effect on soil pH (7) but had a significant effect on plant height 79.73, number of tillers 41.44, and leaf greenness index 3.83. The best treatment was in the P2 (50% dose of Hilado fertilizer) for all observation variables. It is hypothesized that the 50% application rate provides sufficient availability to support plant growth.
Seleksi dan Aksi Gen Karakter Morfologi Kecambah Padi Varietas Inpari Nutri Zinc Berdasarkan Analisis Korelasi dan Sidik Lintas: Morphological Character Selection of Rice Sprouts Inpari Nutri Zinc Varieties Based on Correlation Analysis and Cross Yamin, Mayasari; Arsyad, Silviana; Puspitasari, Indah
Perbal: Jurnal Pertanian Berkelanjutan Vol. 13 No. 3 (2025): Perbal: Jurnal Pertanian Berkelanjutan
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Cokroaminoto Palopo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30605/perbal.v13i3.7104

Abstract

Analisis korelasi dan sidik lintas merupakan analisis statistik deskriptif untuk memahami hubungan langsung dan tidak langsung antar karakter morfologi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui respon perendaman benih terhadap karakter amatan; menduga aksi gen yang mengendalikan karakter perkecambahan benih padi terhadap perendaman benih; memperoleh karakter amatan yang memiliki keeratan hubungan dengan karakter lainnya melalui nilai korelasi; dan mengetahui pengaruh langsung dan tidak langsung beberapa karakter amatan perkecambahan benih padi terhadap beberapa perlakuan perendaman benih. Penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium Agronomi Fakultas Pertanian Universitas Negeri Gorontalo pada Bulan November 2024. Penelitian ini menggunakan rancangan faktorial dua faktor dalam RAL, dimana faktor pertama terdiri atas jenis perendaman yaitu tanpa perendaman, perendaman menggunakan air biasa, air kelapa, air panas suhu 40°C, dan ekstrak bawang merah. Sedangkan untuk faktor kedua yaitu durasi perendaman yang terdiri atas 5 menit dan 10 menit. Hasil penelitian menunjukkan perendaman benih berpengaruh nyata terhadap perkecambahan benih padi Var. Inpari Nutri Zinc yang dibuktikan dari nilai kuadrat tengah, dominansi karakter amatan dipengaruhi oleh aksi gen aditif dan epistasis komplementer dan dikendalikan oleh banyak gen, karakter panjang plumula dan radikula berkorelasi positif dan sangat kuat dengan karakter kadar air kecambah. Sementara bobot kering kecambah berkorelasi negatif dan berpengaruh sangat nyata terhadap kadar air kecambah; dan karakter bobot kering kecambah menghasilkan pengaruh langsung tertinggi serta karakter panjang radikula menghasilkan pengaruh tidak langsung tertinggi. Sehingga, karakter kadar air kecambah dan panjang plumula dapat digunakan sebagai karakter seleksi untuk uji perkecambahan benih padi menggunakan perlakuan perendaman benih. Correlation and cross-fingerprint analysis is a descriptive statistical analyses to understand the direct and indirect relationships between morphological characters. This study aims to determine the response of seed soaking to observed characters; predict the action of genes that control rice seed germination characters to seed soaking; obtain observed characters that have a close relationship with other characters through correlation values; and determine the direct and indirect effects of several observed characters of rice seed germination on several seed soaking treatments. This study was conducted at the Agronomy Laboratory, Faculty of Agriculture, Gorontalo State University in November 2024. This study used a two-factor factorial design in RAL, where the first factor consisted of the type of soaking, namely, without soaking, soaking using plain water, coconut water, hot water at 40°C, and shallot extract. The second factor is the duration of soaking, which consists of 5 minutes and 10 minutes. The results showed that seed soaking had a significant effect on the germination of rice seeds of Var. Inpari Nutri Zinc, as evidenced by the mean square value, the dominance of observed characters is influenced by additive gene action and complementary epistasis, and is controlled by many genes. The plumule and radicle length characters decrease positively and very strongly with the character of the water content of the sprouts. While the dry weight of the sprouts has a negative and very significant effect on the water content of the sprouts, the dry weight character of the sprouts produces the highest direct effect, and the radicle length character produces the highest indirect effect. Thus, the characters of the water content of the sprouts and the length of the plumule can be used as selection characters for rice seed germination tests using seed soaking treatments.
Estimasi Cadangan Karbon Tanah Kelapa Sawit Fase Tanaman Menghasilkan pada Lahan Sawah Tadah Hujan Perkebunan Rakyat di Desa Tanjung Rejo Kecamatan Percut Sei Tuan: Estimation of Soil Carbon Stocks of Oil Palm Plantations in the Plant Produce Phase in Rainfed Rice Fields of Smallholder Plantations in TanjungRejo Village Percut Sei Tuan District Dicky Brema Tarigan; Anggraini, Sari; Robert Kho; Zahratul Mina Parinduri; Krisman Hia
Perbal: Jurnal Pertanian Berkelanjutan Vol. 13 No. 3 (2025): Perbal: Jurnal Pertanian Berkelanjutan
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Cokroaminoto Palopo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30605/perbal.v13i3.7024

Abstract

Salah satu tanaman yang kemampuan dalam menyerap CO2 adalah tanaman kelapa sawit, sehingga penananaman kelapa sawit dapat menetralisir konsentrasi CO2 yang terbentuk pada udara yang disebabkan oleh efek rumah kaca yang telah membuat terjadinya perubahan iklim. Penanaman kelapa sawit sudah banyak dilakukan diberbagai tipe lahan termasuk tipe lahan tadah hujan.  Masalah yang terjadi penggunaan lahan tadah hujan yaitu  tingginya kadar garam, kandungan air tanah yang tinggi, kandungan unsure hara yang rendah serta pH tanah yang masam yang membuat perlunya dilakukan pengelolaan yang tepat agar tanaman dapat menghasilkan pertumbuhan dan produksi yang tinggi. Penelitian dilakukan mengetahui perkiraan cadangan karbon tanah kelapa sawit fase tanaman menghasilkan (TM) pada lahan sawah tadah hujan Perkebunan Rakyat Sungai Dua Dusun XII Desa Tanjung Rejo Kecamatan Percut Sei Tuan. Data dianalisis melalui pemaparan data-data yang diperoleh dari lapangan. Dari hasil penelitian yang dilakukan dapat diketahui bahwa kandungan C-organik pada tanah tadah hujan Perkebunan Rakyat Sungai Dua Dusun XII,  pada sistem polikultur sebesar 4,82 g/cm dan pada sistem monokultur sebesar 4,43 g/cm.  Kelapa sawit yang ditanam secara polikultur memiliki sifat fisik dan kimia tanah yang lebih baik dibanding sistem tanam monokultur. Oil palms are a potential crop with a high CO2 absorption capacity, which is very useful in reducing CO2 concentrations in the atmosphere due to the increase in greenhouse gases that cause climate change on Earth. Oil palm cultivation has been widely practiced in rainfed rice fields. Problems often encountered in utilizing rainfed rice fields include excess water, high salinity, low pH, and low nutrient content, requiring proper management to achieve high growth and production. This study aimed to determine the estimated soil carbon stocks of oil palm plantations in the plant produce phase in rainfed rice fields of Sungai Dua Dusun XII smallholder plantations in Tanjung Rejo Village, Percut Sei Tuan District. Data is analyzed through the presentation of average data obtained in the field. From the result of the research conducted, it can be seen that the organic c-content in the rain-fed soil of smallholder plantations in Tanjung Rejo Village, Percut Sei Tuan District, under monoculture systems is 1.62% and under polyculture systems it is 2.25%. Oil palm planted in polyculture have better physical and chemical soil properties than monoculture.
Kompetensi Penyuluh dalam Pengembangan Tanaman Padi di Kota Palopo: Competence of Agricultural Extension Workers in the Development of Rice Crops in Palopo City Henny Mahyudin; Idawati, Idawati; Arzam, Taruna S.
Perbal: Jurnal Pertanian Berkelanjutan Vol. 13 No. 3 (2025): Perbal: Jurnal Pertanian Berkelanjutan
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Cokroaminoto Palopo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30605/perbal.v13i3.6826

Abstract

Pangan merupakan kebutuhan dasar manusia yang pemenuhannya dijamin oleh Undang-Undang Dasar 1945. Padi sebagai pangan pokok utama masyarakat Indonesia sangat bergantung pada peran penyuluh pertanian dalam meningkatkan produksi melalui transfer teknologi dan pendampingan petani. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis tingkat kompetensi penyuluh pertanian lapangan (PPL) dalam pengembangan padi di Kota Palopo, Penelitian dilakukan di Kota Palopo, Provinsi Sulawesi Selatan, yang dipilih secara sengaja karena tantangan pertanian di wilayah perkotaan, seperti alih fungsi lahan, keterbatasan ruang, dan tingkat adopsi teknologi yang berbeda dibandingkan daerah pedesaan. Populasi penelitian adalah seluruh PPL Kota Palopo sebanyak 48 orang dan digunakan metode sensus. Data primer diperoleh melalui wawancara dan observasi lapangan, sedangkan data sekunder dikumpulkan dari instansi terkait. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat kompetensi penyuluh tergolong tinggi pada semua dimensi. Kompetensi sosial memperoleh skor tertinggi sebesar 79,61%, disusul kompetensi teknis 72,37%, dan manajerial 60,53%, dengan rata-rata keseluruhan 70,39% (kategori tinggi). Kompetensi sosial mendukung keberhasilan penyuluh dalam membangun komunikasi dan partisipasi petani, sedangkan aspek manajerial masih perlu ditingkatkan, terutama dalam perencanaan program dan pemanfaatan teknologi digital. Hasil ini menegaskan pentingnya pengembangan kapasitas penyuluh secara berkelanjutan melalui pelatihan tematik, pendidikan lanjutan, dan literasi digital untuk mendukung produktivitas padi dan ketahanan pangan di Kota Palopo. Food is a basic human need guaranteed by the 1945 Constitution. Rice, as the primary staple food in Indonesian society, relies heavily on agricultural extension workers to boost production through technology transfer and farmer support. This study aims to analyze the competence level of field agricultural extension workers in rice development in Palopo City. The research was conducted in Palopo City, South Sulawesi Province, chosen intentionally because of the unique challenges of urban agriculture, such as land conversion, limited space, and varying levels of technology adoption compared to rural areas. The population included all 48 PPL in Palopo City, employing a census approach. Primary data were gathered through interviews and field observations, while secondary data were collected from relevant institutions. Results indicate that the competence levels of extension workers are in the high category across all dimensions. Social competence scored the highest at 79.61%, followed by technical competence at 72.37%, and managerial competence at 60.53%, with an overall average of 70.39% (classified as high). Social competence greatly supports extension workers in effective communication and farmer engagement, whereas managerial competence requires improvement, especially in program planning and digital technology use. These findings highlight the need for ongoing capacity building for extension workers through targeted training, further education, and digital literacy to enhance rice production and food security in Palopo City.
Peranan Pupuk Nitrogen dan Co-Kompos Biochar pada Budidaya Padi Sistem Salibu di Tanah Aluvial: The Role of Nitrogen Fertilizer and Biochar Co-Compost in Rice Cultivation Salibu System in Alluvial Soil Megantara, I Gede; Radian, Radian; Iwan Sasli
Perbal: Jurnal Pertanian Berkelanjutan Vol. 13 No. 3 (2025): Perbal: Jurnal Pertanian Berkelanjutan
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Cokroaminoto Palopo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30605/perbal.v13i3.7023

Abstract

Penelitian ini bertujuan mengevaluasi peran pupuk Nitrogen (N), co-kompos biochar, serta interaksinya terhadap pertumbuhan dan hasil padi pada sistem tanam Salibu dengan menggunakan Rancangan Petak Terpisah (Split Plot Design). Perlakuan utama terdiri atas empat taraf dosis pupuk N (0, 100, 200, dan 300 kg/ha), sedangkan anak petak merupakan pemberian co-kompos biochar dengan empat kombinasi (0%, 25%:75%, 50%:50%, dan 75%:25%). Hasil penelitian menunjukkan bahwa kombinasi pupuk N 300 kg/ha dan co-kompos biochar 75%:25% memberikan hasil gabah tertinggi, yaitu 3,92–3,96 ton/ha. Sementara itu, kombinasi pupuk N 100–300 kg/ha dengan co-kompos biochar 50%:50% dan 75%:25% menghasilkan hasil gabah yang relatif setara. Hasil analisis usahatani mengungkapkan bahwa perlakuan pupuk N 100 kg/ha dengan co-kompos biochar 50%:50% merupakan kombinasi paling efisien, menghasilkan 3,22 ton/ha gabah dengan nilai B/C ratio 2,78, serta memberikan efisiensi biaya usahatani masing-masing Rp 5.434.500 untuk pupuk N 100 kg/ha dan Rp 2.833.000 untuk co-kompos biochar 50%:50%. Berdasarkan temuan ini, kombinasi tersebut direkomendasikan sebagai strategi untuk meningkatkan produktivitas sekaligus efisiensi biaya pada budidaya padi sistem Salibu. This study aimed to evaluate the effects of Nitrogen (N) fertilizer, biochar co-compost, and their interactions on the growth and yield of rice under the Salibu planting system using a Split Plot Design. The main plots consisted of four N fertilizer rates (0, 100, 200, and 300 kg/ha), while the subplots comprised four levels of biochar co-compost (0%, 25%:75%, 50%:50%, and 75%:25%). Results showed that the combination of 300 kg/ha N fertilizer with 75%:25% biochar co-compost produced the highest grain yield (3.92–3.96 t/ha), whereas N fertilizer rates of 100–300 kg/ha combined with 50%:50% and 75%:25% biochar co-compost resulted in statistically similar grain yields. Farm business analysis revealed that 100 kg/ha N fertilizer combined with 50%:50% biochar co-compost was the most cost-efficient treatment, yielding 3.22 t/ha of rice with a B/C ratio of 2.78 and achieving production cost efficiencies of Rp 5,434,500 for N fertilizer and Rp 2,833,000 for biochar co-compost. These findings suggest that this combination is the most recommended strategy for improving productivity and economic efficiency in Salibu rice cultivation.
Efektivitas Penggunaan Giberelin dan Kombinasi Dosis Pemupukan untuk Meningkatkan Hasil Beberapa Varietas Bawang Merah: Effectiveness of Gibberellin and Combined Fertilization Doses on Shallot Yield Enhancement in Several Varieties Hantari, Dimar; Anditya Gilang Rizky P; Febry Nurhidayati; Desy Setyaningrum; Dewi Nawang Suprihatin; Didik Suryadi; Hardian Ningsih; Edi Paryanto; Cahyaningtyas Putri Suhita; Zainal Abidin; Eddy Triharyanto; Djoko Purnomo
Perbal: Jurnal Pertanian Berkelanjutan Vol. 13 No. 3 (2025): Perbal: Jurnal Pertanian Berkelanjutan
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Cokroaminoto Palopo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30605/perbal.v13i3.7026

Abstract

Bawang merah (Allium ascalonicum L.) merupakan komoditas hortikultura yang konsumsi dan permintaannya sangat tinggi di masyarakat. Namun, data menunjukkan bahwa produksi bawang merah dari tahun ke tahun terus mengalami perubahan, yang seringkali memicu fluktuasi harga dan ketergantungan pada impor di beberapa periode. Penelitian ini bertujuan untuk menguji dosis pupuk serta penggunaan giberelin (GA3) pada tiga varietas bawang merah untuk mengoptimalkan produktivitas bawang merah secara berkelanjutan dan efisien. Penelitian dilakukan pada bulan Mei sampai Agustus 2025 di Desa Pancot, Tawangmangu, Karanganyar dengan ketinggian tempat 1200 mdpl. Rancangan  penelitian menggunakan Rancangan Petak Terbagi (Split Plot) dan diulang sebanyak 3 (tiga) kali. Petak utama merupakan varietas bawang merah, sedangkan anak petak merupakan dosis pupuk + giberelin. Data dianalisis dengan ANOVA menggunakan uji F pada taraf signifikansi 5%. Jika ditemukan perbedaan yang signifikan, analisis dilanjutkan dengan uji Duncan’s Multiple Range Test. Hasil penelitian menunjukkan bahwa, substitusi 50% pupuk  anorganik ke pupuk organik yang dikombinasikan dengan giberelin 50ppm mampu meningkatkan jumlah anakan per rumpun (7,22), jumlah umbi per rumpun (8,33) dan berat kering umbi per rumpun (58,96 g). Shallots (Allium ascalonicum L.) are a horticultural commodity with consistently high consumption and demand. However, production data reveal frequent fluctuations, often leading to price instability and reliance on imports during certain periods. This research aimed to determine fertilizer dosages and gibberellic acid (GA3) application for three shallot varieties to optimize their productivity sustainably and efficiently. The study was conducted from May to August 2025 at the Pancot Village, Tawangmangu, Karanganyar, located at an elevation of 1200 meters above sea level. A Split-Plot Design was employed with three replications. Shallot varieties constituted the main plots, while combinations of fertilizer dosage and GA3 formed the sub-plots. Quantitative data were analyzed using analysis of variance (ANOVA) at a 5% significance level (F-test). When significant differences were detected, Duncan's Multiple Range Test (DMRT) was used for post-hoc comparisons. The results demonstrated that the application of 50 ppm gibberellic acid, combined with a fertilizer dosage of 50% inorganic + 150% organic, significantly increased the number of shoots per clump (7,21), number of bulbs per clump (8,33), and productivity per clump (58,96).
Adopsi Pertanian Organik oleh Petani Hortikultura di Wilayah Pesisir: Adoption of Organic Farming by Horticultural Farmers in Coastal Areas Umahani, Maya Saputri; Sirajuddin, Zulham; Amin, Nur Silfiah
Perbal: Jurnal Pertanian Berkelanjutan Vol. 13 No. 3 (2025): Perbal: Jurnal Pertanian Berkelanjutan
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Cokroaminoto Palopo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30605/perbal.v13i3.7112

Abstract

Petani hortikultura masih banyak menerapkan praktik pertanian modern yang berdampak negatif terhadap kesehatan, lingkungan, sumber daya alam, dan produktivitas tanaman. Oleh karena itu, diperlukan penerapan sistem pertanian berkelanjutan yang tidak hanya berorientasi pada peningkatan hasil produksi, tetapi juga pada pelestarian keanekaragaman hayati. Penelitian ini bertujuan untuk (1) menganalisis tahapan pengambilan keputusan dalam adopsi inovasi pertanian organik pada petani pesisir dan non-pesisir, serta (2) mengidentifikasi perbedaan tingkat adopsi inovasi tersebut di antara keduanya. Penelitian dilaksanakan pada Januari hingga Mei tahun 2025 di Kabupaten Bone Bolango, meliputi delapan kecamatan terpilih: Bone, Bone Pantai, Kabila Bone, Bone Raya, Bulawa, Bulango Utara, Bulango Timur, dan Bulango Selatan. Pendekatan yang digunakan adalah deskriptif kuantitatif dengan data primer dan sekunder, melibatkan populasi sebanyak 3.450 petani hortikultura dan sampel sebanyak 100 responden. Analisis menggunakan uji Chi-Square menunjukkan adanya hubungan yang sangat signifikan antara lokasi petani (pesisir) dengan tingkat adopsi pertanian organik (pupuk organik). Hasil penelitian juga mengidentifikasi tujuh tahapan dalam proses adopsi inovasi pertanian organik mencakup; tanpa pengetahuan, pengetahuan, persuasive, keputusan (tidak mengadopsi), keputusan (mengadopsi), implementasi dan konfirmasi. Tahapan tersebut bertujuan untuk mengetahui perbedaan antara kelompok petani adopter dan non-adopter. Horticultural farmers still widely apply modern agricultural practices that have a negative impact on health, the environment, natural resources, and crop productivity. Therefore, it is necessary to implement a sustainable agricultural system that is not only oriented towards increasing production, but also towards preserving biodiversity. This study aims to (1) analyze the stages of decision-making in the adoption of organic farming innovations among coastal and non-coastal farmers, and (2) identify differences in the level of adoption of these innovations between the two groups. The research was conducted from January to May in Bone Bolango Regency, covering eight selected subdistricts: Bone, Bone Pantai, Kabila Bone, Bone Raya, Bulawa, North Bulango, East Bulango, and South Bulango. The approach used was quantitative descriptive with primary and secondary data, involving a population of 3,450 farmers and a sample of 100 respondents. The analysis using the Chi-Square test showed a highly significant relationship between the location of farmers (coastal) and the level of adoption of organic farming (organic fertilizers). The results of the study also identified seven stages in the process of adopting organic farming innovations, including: no knowledge, knowledge, persuasion, decision (not to adopt), decision (to adopt), implementation, and confirmation. These stages aim to identify the differences between groups of farmers who adopt and those who do not.