cover
Contact Name
Andi Safitri Sacita
Contact Email
jurnalperbal@gmail.com
Phone
+6281213302660
Journal Mail Official
jurnalperbal@gmail.com
Editorial Address
Fakultas Pertanian, Universitas Cokroaminoto Palopo Jalan Lamaranginang, Kel. Wara Utara, Kota Palopo, 91913
Location
Kota palopo,
Sulawesi selatan
INDONESIA
Perbal: Jurnal Pertanian Berkelanjutan
ISSN : 23026944     EISSN : 25811649     DOI : https://doi.org/10.30605/perbal
Core Subject : Agriculture,
Jurnal ini berisi tentang lingkup ilmu-ilmu pertanian, dengan prioritas pada ilmu dan teknologi tanaman (pangan, perkebunan, hortikultura, dan kehutanan), termasuk aspek pascapanen, sosial ekonomi, maupun ketatawilayahan.
Articles 224 Documents
Potensi Minyak Sereh Wangi untuk Pengendalian Hama pada Tanaman Buah: Potential of Citronella Oil for Controlling Pests in Fruit Crops Istianto, Mizu
Perbal: Jurnal Pertanian Berkelanjutan Vol. 13 No. 1 (2025): Perbal: Jurnal Pertanian Berkelanjutan
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Cokroaminoto Palopo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30605/perbal.v13i1.4910

Abstract

Budidaya untuk menghasilkan produk buah yang optimal masih menghadapi kendala. Salah satu kendala tersebut adalah serangan hama. Untuk mengendalikan serangan hama, saat ini petani masih bertumpu pada penggunaan pestisida sintetik. Aplikasi pestisida sintetik selain mampu meningkatkan produksi buah juga menyebabkan dampak negatif terhadap lingkungan dan manusia. Upaya untuk mendapatkan alternatif teknologi pengendalian ramah lingkungan yang mampu mengurangi penggunaan pestisida sintetik berlebihan sangat diperlukan. Penggunaan biopestisida merupakan teknologi yang diharapkan mampu mengendalikan hama tanaman tetapi aman terhadap lingkungan dan manusia. Salah satu jenis biopestisida yang memiliki potensi dikembangkan untuk pengendalian hama adalah minyak sereh wangi. Hasil penelitian yang telah dilakukan pada kondisi laboratorium dan lapang menunjukkan bahwa minyak sereh wangi mampu mengendalikan hama tanaman. Aplikasi minyak sereh wangi bisa diterapkan secara tunggal maupun rotasi dengan pestisida sintetik. Dengan memanfaatkan minyak sereh wangi dalam pengendalian hama tanaman akan melengkapi komponen paket pengendalian hama terpadu ramah lingkungan mendukung upaya mewujudkan pembangunan pertanian berkelanjutan. Cultivation to produce optimal fruit products still faces obstacles. One of these obstacles is pest attacks. Currently, farmers still rely on synthetic pesticides to control pest attacks. The application of synthetic pesticides, apart from being able to increase fruit production, also causes negative impacts on the environment and humans. Efforts to find environmentally friendly alternative control technologies that can reduce excessive use of synthetic pesticides are very necessary. The use of biopesticides is a technology that is expected to be able to control plant pests but is safe for the environment and humans. One type of biopesticide that has the potential to be developed for pest control is citronella oil. The results of research conducted in laboratory and field conditions show that citronella oil can control plant pests. The application of citronella oil can be applied singly or in rotation with synthetic pesticides. Using citronella oil in controlling plant pests will complete the components of an environmentally friendly integrated pest control package to support efforts to realize sustainable agricultural development.
Populasi Serangga pada Lahan Budidaya Tomat yang Dikelilingi Refugia: Insect Population in Tomato Cultivation Areas Surrounded by Refugia Nurmaisah, Nurmaisah; Rahim, Abdul; Adiwena, Muh.
Perbal: Jurnal Pertanian Berkelanjutan Vol. 13 No. 1 (2025): Perbal: Jurnal Pertanian Berkelanjutan
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Cokroaminoto Palopo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30605/perbal.v13i1.5279

Abstract

Arah penelitian ini adalah untuk mengevaluasi dampak penanaman refugia terhadap indeks keanekaragaman serta dominansi serangga di lahan budidaya tomat (Solanum lycopersicum). Penelitian ini menerapkan rancangan acak kelompok dengan perlakuan tanpa refugia, serta refugia berupa Zinnia elegans, Cosmos caudatus dan Tagetes erecta. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan refugia seperti Z. elegans dan T. erecta meningkatkan indeks keanekaragaman serangga dan indeks dominansi dibandingkan dengan perlakuan lainnya. Indeks keanekaragaman tertinggi mencapai 1,55 pada penggunaan T. erecta sementara indeks dominansi bernilai 0,44. Penelitian ini menggarisbawahi pentingnya penggunaan refugia untuk meningkatkan biodiversitas dan menjaga keseimbangan ekosistem pertanian dan meskipun peningkatan keanekaragaman hayati berhasil dicapai, tingkat keanekaragaman masih tergolong rendah. This research aims to evaluate the impact of refugia planting on the insect diversity index and dominance index in tomato (Solanum lycopersicum) cultivation areas. The research used an experiment with a randomized block design which included control procedures of no refugia and with the use of Zinnia elegans, Cosmos caudatus, and Tagetes erecta. The study demonstrates that employing refugia such as Z. elegans and T. erecta was also superior in improving the insect diversity index and dominance index compared to other treatments. The maximum estimated index diversity was 1.55 for T. erecta and for the dominance index was 0.44. The study concludes that the application of refugia is necessary for the enhancement of agricultural biodiversity and the equilibrium of the agricultural ecosystems though the diversity attained leaves much to be desired.
Efektivitas Nutrisi AB Mix terhadap Pertumbuhan dan Produksi Tanaman Padi (Oryza sativa L.) Varietas SR P08 UG Sistem Hidroponik Rakit Apung: Effectiveness of AB Mix Nutrition on Growth and Production of Rice (Oryza sativa L.) Varieties SR P08 UG Floating Raft Hydroponic System Masluki, Masluki; Suhaeni, Suhaeni; Mutmainnah, Mutmainnah
Perbal: Jurnal Pertanian Berkelanjutan Vol. 13 No. 1 (2025): Perbal: Jurnal Pertanian Berkelanjutan
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Cokroaminoto Palopo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30605/perbal.v13i1.5402

Abstract

Upaya untuk meningkatkan produksi tanaman padi pada lahan suboptimal yang mengalami cekaman genangan salah satunya melalui teknologi hidroponik rakit apung. Tujuan penelitian untuk mengetahui respon pemberian pupuk AB mix terhadap pertumbuhan dan produksi tanaman padi (Oryza sativa L.) varietas SR P08 UG dalam sistem hidroponik rakit apung. Penelitian dilaksankan di Greenhouse Fakultas Pertanian Universitas Cokroaminoto Palopo pada Bulan September-Desember 2024. Metode penelitian menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) terdiri dari 5 perlakuan dan 4 ulangan. Setiap perlakuan terdapat 2 ulangan, sehingga terdapat 40 unit percobaaan. Perlakuan pada percobaan menggunakan kombinasi yaitu; P0 = Kontrol, P1 = AB mix 1200 ppm, P2 = AB mix 1400 ppm, P3 = AB mix 1600 ppm, P4 = AB mix 1800 ppm. Hasil penelitian menunjukkan perlakuan pupuk AB mix memiliki signifikansi terhadap paramameter tinggi tanaman dan jumlah anakan, sedangkan jumlah butir permalai, berat malai, panjang akar, dan bobot per 1000 biji tidak signifikan. Perlakuan terbaik terdapat perlakuan P4 dengan parameter tinggi tanaman (90,5 cm), jumlah anakan (34,625 batang), jumlah butir per malai (127,25 butir), berat malai (19,375 gr), berat per 1000 biji (16,5 gr), sedangkan panjang akar di tunjukkan pada perlakuan P0 (tanpa perlakauan) dengan nilai (26,75 cm). One of the efforts to increase rice production on suboptimal land experiencing accumulation stress is through floating raft hydroponic technology. The aim of the research was to determine the response of AB mix fertilizer application to the growth and production of rice plants (Oryza sativa L.) SR P08 UG variety in a floating raft hydroponic system. The research was carried out at the green house, Faculty of Agriculture Cokroaminoto University, Palopo in September-December 2024. The research method used a Randomized Group Design (RGD) consisting of 5 treatments and 4 replications. Each treatment had 2 replications, so there were 40 experimental units. The treatment in the experiment used a combination, namely; P0 = Control, P1 = AB mix 1200 ppm, P2 = AB mix 1400 ppm, P3 = AB mix 1600 ppm, P4 = AB mix 1800 ppm. The results showed that AB mix fertilizer treatment had significance on the parameters of plant height and number of tillers, while the number of perennial grains, panicle weight, root length and weight per 1000 seeds were not significant. The best treatment was treatment P4 with parameters of plant height (90.5 cm), number of tillers (34,625 stems), number of grains per panicle (127.25 grains), panicle weight (19.375 gr), weight per 1000 seeds (16.5 gr), while root length was summarized in treatment P0 (without treatment) with a value of (26.75 cm).
Isolasi dan Uji Patogenesitas Cendawan Endofit Asal Tanaman Pisang Kepok (Musa acuminate balbisiana colla): Isolation and Inhibition Test of Endophytic Fungi from Kepok Banana (Musa acuminate balbisiana colla) Eka Lestari Ariyanti; Rahmat Jahuddin; Asti Irawanti Azis
Perbal: Jurnal Pertanian Berkelanjutan Vol. 13 No. 1 (2025): Perbal: Jurnal Pertanian Berkelanjutan
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Cokroaminoto Palopo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30605/perbal.v13i1.5429

Abstract

Cendawan endofit dapat digunakan sebagai agens hayati dalam memperbaiki pertumbuhan dan ketahanan tanaman dalam menghadapi serangan penyakit. Penelitian ini bertujuan mengisolasi cendawan endofit asal tanaman pisang dan menguji potensinya sebagai pemacu pertumbuhan tanaman. Berdasarkan hasil isolasi cendawan endofit pada jaringan tanaman pisang kepok diperoleh sebanyak 6 isolat. Hasil identifikasi dan karakterisasi menunjukkan terdapat 4 genus cendawan. Genus cendawan tersebut yaitu Culvularia sp., Fusarium sp., Aspergillus sp., dan Trichoderma sp. Isolat cendawan tersebut diseleksi untuk melihat kemampuan dalam memacu pertumbuhan tanaman melalui uji patogenesitas. Hasil uji patogenesitas menunjukkan cendawan dari genus Trichoderma sp., dan Fusarium sp. memiliki kemampuan terbaik dalam memacu pertumbuhan tanaman. Hal ini mengindikasikan bahwa beberapa cendawan endofit non patogen asal tanaman pisang berpotensi sebagai pemacu pertumbuhan tanaman. Endophytic fungi can be used as biological agents in improving plant growth and resistance in the face of disease attacks. This study aims to isolate endophytic fungi from banana plants and test their potential as a booster for plant growth. From the results of the isolation of endophytic fungi in the banana pupace plant tissue, 6 isolates were obtained. The results of identification and characterization show that there are 4 genera of fungi. The genus of fungi is Culvularia sp., Fusarium sp., Aspergillus sp., and Trichoderma sp. The fungus isolates were selected to see the ability to spur plant growth through pathogenicity tests. Pathogenicity test results show that fungi from the genus Trichoderma sp., and Fusarium sp. have the best ability to spur plant growth. This indicates that some non-pathogenic endophytic fungi from banana plants have the potential to be a driver of plant growth.
Preferensi Penggunaan Benih Bersertifikat Terhadap Produksi Padi di Desa Padangloang Kabupaten Sidenreng Rappang: Farmers’ Preferences in the Use of Certified Seeds on Rice Production in Padangloang Village Sidenreng Rappang District Anggi, Anggi; Trisnawaty AR.; Muhanniah, Muhanniah
Perbal: Jurnal Pertanian Berkelanjutan Vol. 13 No. 3 (2025): Perbal: Jurnal Pertanian Berkelanjutan
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Cokroaminoto Palopo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30605/perbal.v13i3.6452

Abstract

Benih merupakan unsur vital dalam keberhasilan budidaya tanaman, karena menjadi cikal bakal kehidupan tanaman dan berperan penting dalam penentuan hasil usaha tani. Namun, permasalahan terkait benih masih menjadi kendala utama dalam pengembangan komoditas pertanian, termasuk padi. Beberapa permasalahan tersebut antara lain ketidaktepatan dalam pemilihan benih, perubahan iklim, serta gangguan hama dan penyakit. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis sikap petani terhadap penggunaan benih bersertifikat, melihat peningkatan penggunaannya, dan dampaknya terhadap hasil produksi padi. Penelitian dilaksanakan di Desa Padangloang, Kecamatan Dua Pitue, Kabupaten Sidenreng Rappang, selama Januari hingga April 2025, dengan metode survei terhadap 176 petani dari 11 kelompok tani menggunakan teknik simple random sampling.  Berdasarkan hasil penelitian data dikumpulkan melalui observasi, kuesioner, wawancara, dan dokumentasi. Hasilnya, 56,25% petani menggunakan benih bersertifikat, 93,93% menyatakan kualitasnya baik, dan 92,92% menilai manfaatnya sebanding. Korelasi signifikan ditemukan pada variabel pendidikan, pengetahuan varietas, dan tempat perolehan benih. Seed is a vital element in the success of crop cultivation, as it is the forerunner of plant life and plays an important role in determining the results of farming. However, problems related to seeds are still a major obstacle in the development of agricultural commodities, including rice. Some of these problems include inaccuracy in seed selection, climate change, and pest and disease problems. This study aims to analyze farmers' attitudes towards the use of certified seeds, see the increase in their use, and their impact on rice production. The research was conducted in Padangloang Village, Dua Pitue Subdistrict, Sidenreng Rappang District, from January to April 2025, using a survey method on 176 farmers from 11 farmer groups using a simple random sampling technique.  Data were collected through observation, questionnaires, interviews, and documentation. As a result, 56.25% of farmers used certified seeds, 93.93% stated the quality was good, and 92.92% rated the benefits as comparable. Significant correlations were found in the variables of education, varietal knowledge, and place of acquisition.
Aplikasi Metarhizium spp. dan Ekstrak Serai terhadap Mortalitas Wereng Hijau (Nephotettix virescens) Penyebab Penyakit Tungro pada Tanaman Padi: Applications of Metarhizium spp. and Lemongrass Extract on the Mortality of Green Leafhopper (Nephotettix virescens), the Vector of Tungro Disease in Rice Plants Muh. Hadriansyah. T; Fenny Hasanuddin; Nining Triani Thamrin
Perbal: Jurnal Pertanian Berkelanjutan Vol. 13 No. 3 (2025): Perbal: Jurnal Pertanian Berkelanjutan
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Cokroaminoto Palopo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30605/perbal.v13i3.6453

Abstract

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui efektivitas dan konsentrasi yang tepat dari Metarhizium spp. dan ekstrak serai terhadap mortalitas wereng hijau. Penelitian dilaksanakan di greenhouse BRMP (Badan Perakitan dan Modernisasi Pertanian) Aneka Umbi, Lanrang, Kabupaten Sidenreng Rappang pada bulan April-Juli 2025. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap dengan 5 perlakuan, terdiri dari P0: Aquades, P1: 10 gr Metarhizium spp./100 ml air, P2: 12,5 gr Metarhizium spp./100 ml air, P3: 100 ml ekstrak serai/1000 ml air dan P4: 125 ml ekstrak serai/1000 ml air, diulang sebanyak 3 kali sehingga diperoleh total 15 unit percobaan yang terdiri 4 sampel masing-masing unit percobaan, sehingga terdapat 60 unit pengamatan. Hasil penelitian menunjukkan perlakuan 12,5 gr Metarhizium spp./100 ml air memberikan pengaruh yang sangat nyata terhadap wereng hijau dengan mortalitas 100%, LT50 36 jam dan mematikan wereng hijau pada 2 HSA. The purpose of this study was to determine the effectiveness and appropriate concentration of Metarhizium spp. and lemongrass extract on green leafhopper mortality. The research was conducted in the greenhouse of BRMP (Badan Perakitan dan Modernisasi Pertanian) Aneka Umbi, Lanrang, Sidenreng Rappang Regency, from April to July 2025. This study used a Completely Randomized Design with 5 treatments, consisting of P0: Aquades, P1: 10 g Metarhizium spp./100 ml water, P2: 12.5 g Metarhizium spp./100 ml water, P3: 100 ml lemongrass extract/1000 ml water and P4: 125 ml lemongrass extract/1000 ml water, repeated 3 times so that a total of 15 experimental units were obtained consisting of 4 samples for each experimental unit, so there were 60 observation units. The results of the study showed that the treatment of 12.5 g Metarhizium spp./100 ml water had a very significant effect on green leafhoppers with 100% mortality, LT50 36 hours, and killed green leafhoppers at 2 DAA.
Respon Tiga Varietas Kacang Panjang Terhadap Pemberian Pupuk Kandang Ayam dan Burung Walet: Response of Three Yardlong Bean Varieties to the Application of Chicken Manure and Swiftlet Droppings Asmuliani R; Yulan Ismail
Perbal: Jurnal Pertanian Berkelanjutan Vol. 13 No. 3 (2025): Perbal: Jurnal Pertanian Berkelanjutan
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Cokroaminoto Palopo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30605/perbal.v13i3.6715

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pemanfaatan pemberian pupuk organik pada berbagai varietas kacang panjang. Penelitian ini dirancang dengan menggunakan rancangan acak kelompok terdiri atas enam taraf perlakuan yaitu pupuk kandang ayam dan varietas kanton tavi (V11) ; pupuk kandang burung walet dan varietas kanton tavi (V12) ; pupuk kandang ayam dan varietas pertiwi (V21) ; pupuk kandang burung walet dan varietas pertiwi (V22) ; pupuk kandang ayam dan varietas persada (V31) ; dan pupuk kandang burung walet dan varietas persada (V32). Perlakuan diulang sebanyak 3 kali dengan 5 unit sehingga menghasilkan 90 polybag pengamatan. Berdasarkan hasil penelitian diperoleh bahwa perlakuan V31 memberikan hasil terbaik pada parameter pengamatan panjang tanaman (206,381 cm), jumlah daun (2,685 helai pada umur 14 HST dan 5,683 helai pada umur 21 HST), dan panjang buah kacang panjang (56,207 cm). Perlakuan V12 memberikan hasil terbaik pada parameter pengamatan jumlah daun 28 HST (8,529 helai), jumlah buah (6,889 buah per polybag) dan berat buah kacang panjang (180,804 g per polybag). This study aims to determine the utilization of organic fertilizer application on various yardlong bean varieties. The experiment was designed using a randomized complete block design consisting of six treatment levels: chicken manure with the Kanton Tavi variety (V11); swiftlet droppings with the Kanton Tavi variety (V12); chicken manure with the Pertiwi variety (V21); swiftlet droppings with the Pertiwi variety (V22); chicken manure with the Persada variety (V31); and swiftlet droppings with the Persada variety (V32). Each treatment was replicated three times with five units per replication, resulting in a total of 90 observation polybags. Based on the results, the V31 treatment produced the best outcomes in the parameters of plant height (206,382 cm), number of leaves (2,685 leaves at 14 days after planting (DAP) and 5,683 leaves at 21 DAP), and pod length (56,207 cm). The V12 treatment yielded the best results in the number of leaves at 28 DAP (8,529 leaves), number of pods (6,889 pods), and pod weight (180,804 g).
Kualitas Biostimulan Berbahan Dasar Keong Mas dengan Penambahan Senyawa Aromatik Daun Jeruk Purut : Quality of Biostimulant Made from Snails with the Addition of Kaffir Lime Leaf Aromatic Compounds Budi Arifiana, Nisa; Sepdian Luri Asmono; Rahmawati, Rahmawati; Mochamad Syarief; Dessy Putri Andini
Perbal: Jurnal Pertanian Berkelanjutan Vol. 13 No. 3 (2025): Perbal: Jurnal Pertanian Berkelanjutan
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Cokroaminoto Palopo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30605/perbal.v13i3.6724

Abstract

Keong mas dapat dimanfaat sebagai bahan perbanyakan mikoorganisme melalui fermentasi sebagai biostimulan. Biostimulan keong mas memiliki peran bagi tanaman untuk meningkatkan fotosintesis, system metabolisme dan ketahanan tanaman terhadap pengaruh abiotik. Hasil fermentasi biostimulan keong mas memberikan bau yang tidak sedap sehingga perlu dilakukannya inovasi perbaikan kualitas biostimulan dengan penambahan ekstrak daun jeruk purut. Penelitian ini dilakukan di kebun percobaan Laboratorium Lapang Politeknik Negeri Jember. Perlakuan yang diberikan, yaitu Formulasi 1 (F1): Ekstrak Keong Mas 1500ml + Aquadest 375ml + Em4 25ml + Gula merah 300ml tanpa daun jeruk purut; Formulasi 2 (F2): Ekstrak Keong Mas 1500ml + Aquadest 375ml + Em4 25ml + Gula merah 300ml+20gr daun jeruk purut; Formulasi 3 (F3): Ekstrak Keong Mas 1500ml + Aquadest 375ml + Em4 25ml + Gula merah 300ml+100gr daun jeruk purut; Formulasi 4 (F4): Ekstrak Keong Mas 1500ml + Aquadest 375ml + Em4 25ml + Gula merah 300ml+200gr daun jeruk purut. Variable pengamatan suhu, pH, warna dan aroma. Berdasarkan hasil pengamatan penambahan daun jeruk purut 200gram memberikan aroma wangi pada hasil fermentasi biostimulan keong mas. Perlakuan tanpa penambahan daun jeruk purut dan penambahan daun jeruk purut tidak memberikan pengaruh berbeda pada suhu, pH dan warna. Golden snails can be used as a material for the propagation of microorganisms through fermentation as a biostimulant. Golden snail biostimulants have a role for plants to increase photosynthesis, metabolic systems, and plant resistance to abiotic influences. The results of fermenting golden snail biostimulants produce an unpleasant odor, so it is necessary to innovate and improve the quality of biostimulants by adding kaffir lime leaf extract. This research was conducted in the experimental garden of the Jember State Polytechnic Field Laboratory. The treatments given were Formulation 1 (F1): 1500ml Golden Snail Extract + 375ml Aquadest + 25ml EM4 + 300ml Brown sugar without kaffir lime leaves; Formulation 2 (F2): 1500ml Golden Snail Extract + 375ml Aquadest + 25ml EM4 + 300ml Brown sugar + 20gr of kaffir lime leaves; Formulation 3 (F3): 1500ml Golden Snail Extract + 375ml Aquadest + 25ml EM4 + 300ml Brown Sugar + 100gr Kaffir Lime Leaves; Formulation 4 (F4): 1500ml Golden Snail Extract + 375ml Aquadest + 25ml EM4 + 300ml Brown Sugar + 200gr Kaffir Lime Leaves. Observation variables are temperature, pH, color, and aroma. Based on the observation results, the addition of 200grams of kaffir lime leaves gives a fragrant aroma to the fermentation results of the golden snail biostimulant. Treatment without the addition of kaffir lime leaves and the addition of kaffir lime leaves did not give a different effect on temperature, pH, and color.
Analisis Kebutuhan Air dan Koefisien Tanaman Bawang Merah (Allium cepa L.) Menggunakan Aplikasi CropWat 8.0 : Analysis of Water Requirements and Coefficients of Shallot Plants (Allium cepa L.) Using the CropWat 8.0 Application Nurfadillah To Kau; Yumna, Yumna; Akmal, Akmal
Perbal: Jurnal Pertanian Berkelanjutan Vol. 13 No. 3 (2025): Perbal: Jurnal Pertanian Berkelanjutan
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Cokroaminoto Palopo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30605/perbal.v13i3.6773

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kebutuhan air dan koefisien tanaman bawang merah menggunakan aplikasi CropWat 8.0. Penelitian ini dilaksanakan di Kelurahan Takkalala, Kecamatan Wara Selatan, Kota Palopo, yang dimulai pada tanggal 13 Desember 2024 sampai tanggal 8 Maret 2025. Metode percobaan yang digunakan untuk menghitung Kebutuhan air dan koefisien tanaman menggunakan CropWat 8.0 dengan metode Penman-Monteith. Berdasarkan hasil analisis kebutuhan air dan koefisien tanaman bawang merah menggunakan aplikasi CropWat 8.0, dapat disimpulkan bahwa kebutuhan air tanaman bawang merah mengalami fluktuasi sepanjang fase pertumbuhan. Kebutuhan air tertinggi terjadi pada fase initial (fase awal pertumbuhan) dengan nilai 67,20 mm/day dan fase mid-season (fase pembentukan umbi) dengan nilai 63,73 mm/day, kemudian mengalami penurunan pada fase crop development dengan nilai 58,39 mm/day dan fase late season (fase akhir pertumbuhan) dengan nilai 58,32 mm/day. Demikian juga, dengan nilai koefisien tanaman (Kc) bawang merah  mengalami fluktuasi sepanjang fase pertumbuhan. Nilai koefisien tanaman (Kc) bawang merah tertinggi terjadi pada fase initial dengan nilai 17,28, selanjutnya fase mid-season dengan nilai 16,38, kemudian fase crop development dengan nilai 15,01 dan fase late season dengan nilai 14,99. Pola ini menunjukkan bahwa ketersediaan air yang optimal sangat krusial pada fase-fase awal (initial) dan puncak pertumbuhan tanaman (mid-season). Dengan demikian, manajemen irigasi yang tepat waktu dan efisien pada fase initial dan mid-season sangat penting untuk mendukung pertumbuhan optimal dan hasil produksi maksimal. Pengaturan kebutuhan air yang disesuaikan dengan fase pertumbuhan akan meningkatkan efisiensi penggunaan air dan mengurangi resiko penurunan produktivitas akibat kekurangan irigasi. This study aimed to determine the water requirements and crop coefficient (Kc) of shallots using the CropWat 8.0 application. The research was conducted in Takkalala Village, Wara Selatan Subdistrict, Palopo City, from December 13, 2024, to March 8, 2025. Water requirements and crop coefficients were calculated using the Penman-Monteith method with CropWat 8.0. The results showed that shallot water requirements fluctuated across growth stages, with the highest values recorded during the initial stage (67,20 mm/day) and mid-season stage (63,73 mm/day), followed by a decline in the crop development stage (58,39 mm/day) and late-season stage (58,32 mm/day). Similarly, the crop coefficient (Kc) values varied throughout the growth cycle, peaking in the initial stage (1.728), decreasing in the mid-season (16,38), crop development (15,01), and late-season (14,99) stages. These findings highlight the critical importance of ensuring optimal water availability during the initial and mid-season stages to support maximum growth and yield. Properly managing irrigation according to the crop growth phases enhances water-use efficiency and reduces the risk of yield losses due to under-irrigation.
Keanekaragaman dan Dominansi Gulma pada Fase Kritis Tanaman Jagung di Kecamatan Taluditi Kabupaten Pohuwato: Weed Diversity and Dominance in the Critical Phase of Corn Crops in Taluditi District Pohuwato Regency Muh. Arsyad; Erse Drawana Pertiwi; Roy Jordi Masjid
Perbal: Jurnal Pertanian Berkelanjutan Vol. 13 No. 3 (2025): Perbal: Jurnal Pertanian Berkelanjutan
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Cokroaminoto Palopo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30605/perbal.v13i3.6816

Abstract

Keberadaan gulma menjadi masalah penting dalam budidaya tanaman. Semakin lama gulma tumbuh bersama dengan tanaman pokok, semakin hebat persaingannya, pertumbuhan tanaman pokok semakin terlambat, dan hasilnya semakin menurun. Tujuan dari penelitian ini sebagai berikut : (1) untuk mengetahui gulma apa saja yang tumbuh dan mendominasi pada fase kritis sehingga pengendalian dapat dilakukan secara efektif dan dapat mencegah persaingan di pertanaman jagung di Kecamatan Taluditi Kabupaten Pohuwato, (2) Untuk mengetahui indeks keanekaragaman gulma yang tumbuh pada areal pertanaman jagung. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kualitatif (mendeskripsikan dan mengidentifikasi gulma yang ditemukan pada pertanaman jagung) dan kuantitatif (menghitung dan menganalisis vegetasi gulma yang dominan serta keanekaragaman pada pertanaman jagung). Tahapan penelitian yaitu survei lokasi, pengumpulan data (observasi lapang, pengambilan sampel dan identifikasi, wawancara, dokumentasi), analisis dan pengolahan data.  Adapun analisis data yang dilakukan yaitu analisis data kerapatan mutlak, kerapatan nisbi, frekuensi mutlak, frekuensi nisbi, nilai penting, Summed Dominance Ratio (SDR) dan indeks keanekaragaman jenis (H’). Berdasarkan hasil yang didapatkan dilapangan terdapat 26 jenis gulma yang terdapat dalam lahan pertanaman jagung sebagai sampel penelitian. Gulma yang mendominasi lahan pertanaman jagung fase kritis umur 20-25 HST adalah rumput teki (Cyperus rotundus) sebesar adalah 46,8 %, sedangkan gulma yang mendominasi pada lahan pertanaman jagung  pada fase kritis umur 45-50 HST adalah gulma rumput kelabang (Eremochloa ophiuroides) sebesar 31,4%. Indeks keanekaragaman gulma yang terdapat pada pertanaman jagung pada fase kritis umur 20-25 HST dan Umur 45-50 HST berkisar pada nilai 1.9184-2.2611, termasuk dalam kategori sedang. The presence of weeds is a significant problem in crop cultivation. The longer weeds grow alongside the main crop, the greater the competition, the slower the main crop's growth, and the lower its yield. The aims of this research are as follows: (1) to find out which weeds grow and dominate in the critical phase so that control can be carried out effectively and can prevent competition in corn plantations in Taluditi District, Pohuwato Regency, (2) to find out the diversity index of weeds growing in corn plantation areas. The methods used in this research are qualitative methods (describing and identifying weeds found in corn plantations) and quantitative methods (calculating and analyzing dominant weed vegetation and diversity in corn plantations). The research stages are location survey, data collection (field observation, sampling and identification, interviews, documentation), data analysis and processing. The data analysis carried out included analysis of absolute density data, relative density, absolute frequency, relative frequency, important value, Summed Dominance Ratio (SDR) and species diversity index (H'). Based on the results obtained in the field, there were 26 types of weeds found in the corn plantations as research samples. The weeds that dominate the critical phase of corn planting land at 20-25 HST are nutsedge (Cyperus rotundus) at 46.8%, while the weeds that dominate the critical phase of corn planting land at 45-50 HST are centipede grass (Eremochloa ophiuroides) at 31.4%. The weed diversity index found in corn plantations at the critical phase of 20-25 HST and 45-50 HST ranges from 1.9184 to 2.2611, which is included in the moderate category.