cover
Contact Name
Rahmat Pannyiwi
Contact Email
rahmatpannyiwi79@gmail.com
Phone
+6285298456666
Journal Mail Official
agdosiagdosi@gmail.com
Editorial Address
Komp. Nusa Harapan Permai Blok B.6 No.7 Kecamatan biringkanaya
Location
Unknown,
Unknown
INDONESIA
Sahabat Sosial: Jurnal Pengabdian Masyarakat
ISSN : -     EISSN : 29649196     DOI : https://doi.org/10.59585/sosisabdimas
Sahabat Sosial: Jurnal Pengabdian Masyarakat, tidak memiliki ruang lingkup yang spesifik, Jurnal ini merupakan jurnal nasional yang berisi hasil-hasil kegiatan pengabdian kepada masyarakat berupa penerapan berbagai bidang ilmu diantaranya pendidikan, teknik, pertanian, sosial humaniora, komputer dan kesehatan.
Arjuna Subject : Umum - Umum
Articles 429 Documents
Pemberdayaan Remaja Melalui Pendidikan Seksualitas Berbasis Nilai Moral Dan Kesehatan Reproduksi Susi Rabuana; Rezqiqah Aulia Rahmat
Sahabat Sosial: Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol. 4 No. 4 (2026): Sahabat Sosial: Jurnal Pengabdian Masyarakat (September)
Publisher : Asosiasi Guru dan Dosen Seluruh Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59585/sosisabdimas.v4i4.1427

Abstract

Latar Belakang: Remaja merupakan kelompok usia yang mengalami perubahan fisik, psikologis, sosial, dan emosional secara cepat sehingga memerlukan informasi yang benar mengenai kesehatan reproduksi dan seksualitas. Kurangnya pengetahuan, pengaruh media digital, tekanan teman sebaya, serta rendahnya komunikasi dengan orang tua dan guru dapat meningkatkan risiko perilaku seksual yang tidak sehat, kehamilan pada usia remaja, Infeksi Menular Seksual (IMS), serta berbagai dampak psikososial. Pendidikan seksualitas yang dipadukan dengan penguatan nilai moral dan etika merupakan salah satu pendekatan promotif dan preventif untuk membantu remaja mengambil keputusan yang sehat dan bertanggung jawab. Tujuan: Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan meningkatkan pengetahuan remaja mengenai kesehatan reproduksi, memperkuat pemahaman tentang nilai moral dalam pergaulan, meningkatkan kemampuan mengenali perilaku seksual berisiko, serta mendorong perilaku hidup sehat dan bertanggung jawab. Metode: Kegiatan dilaksanakan pada bulan Oktober 2026 di salah satu sekolah menengah atas yang berada di wilayah kerja puskesmas dengan melibatkan 50 remaja usia 15–19 tahun. Metode yang digunakan meliputi pre-test, penyuluhan interaktif, diskusi kelompok, simulasi (role play), tanya jawab, pembagian media edukasi, dan post-test. Analisis data dilakukan secara deskriptif menggunakan distribusi frekuensi, persentase, dan nilai rata-rata. Hasil: Seluruh peserta mengikuti kegiatan hingga selesai. Nilai rata-rata pengetahuan meningkat dari 60,2 sebelum edukasi menjadi 92,8 setelah kegiatan. Sebanyak 96,0% peserta memahami perubahan fisik dan psikologis pada masa remaja, 94,0% memahami kesehatan reproduksi, 92,0% mampu mengidentifikasi perilaku seksual berisiko, 90,0% mengetahui langkah-langkah pencegahan IMS dan kehamilan remaja, serta 96,0% menyatakan kegiatan sangat bermanfaat. Kesimpulan: Pendidikan seksualitas yang dipadukan dengan penguatan nilai moral efektif meningkatkan pengetahuan, sikap, dan kesiapan remaja dalam menjaga kesehatan reproduksi serta mengambil keputusan yang bertanggung jawab. Program serupa perlu dilaksanakan secara berkelanjutan melalui kolaborasi antara sekolah, keluarga, tenaga kesehatan, dan masyarakat.
Membangun Sumber Daya Manusia Yang Sehat Dan Produktif Melalui Program Edukasi Kesehatan Di Universitas Pertahanan RI Ferdic Sukma Wahyudin; Rahmat Pannyiwi
Sahabat Sosial: Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol. 4 No. 4 (2026): Sahabat Sosial: Jurnal Pengabdian Masyarakat (September)
Publisher : Asosiasi Guru dan Dosen Seluruh Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59585/sosisabdimas.v4i4.1431

Abstract

Latar Belakang: Pembangunan sumber daya manusia (SDM) yang unggul merupakan salah satu faktor utama dalam mendukung kemajuan bangsa dan ketahanan nasional. Namun, berbagai permasalahan kesehatan seperti pola makan yang kurang seimbang, aktivitas fisik yang rendah, gangguan tidur, stres akademik, serta rendahnya literasi kesehatan masih sering dijumpai pada mahasiswa. Kondisi tersebut dapat berdampak terhadap prestasi akademik, produktivitas, serta kualitas hidup. Tujuan: Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan meningkatkan pengetahuan peserta mengenai perilaku hidup sehat, gizi seimbang, aktivitas fisik, kesehatan mental, pencegahan penyakit, serta membangun komitmen dalam menerapkan gaya hidup sehat guna meningkatkan produktivitas di lingkungan Universitas Pertahanan RI. Metode: Kegiatan dilaksanakan pada bulan Oktober 2026 di Universitas Pertahanan RI dengan melibatkan 50 peserta. Metode yang digunakan meliputi pre-test, ceramah interaktif, diskusi kelompok, demonstrasi praktik hidup sehat, tanya jawab, pembagian booklet edukasi, post-test, dan evaluasi kepuasan peserta. Analisis data dilakukan secara deskriptif menggunakan distribusi frekuensi, persentase, dan nilai rata-rata. Hasil:. Nilai rata-rata pengetahuan meningkat dari 61,8 sebelum intervensi menjadi 93,6 setelah edukasi. Sebanyak 96,0% peserta memahami konsep SDM sehat dan produktif, 94,0% memahami pentingnya gizi seimbang, 92,0% memahami manfaat aktivitas fisik secara teratur, 90,0% memahami strategi manajemen stres, 94,0% berkomitmen menerapkan gaya hidup sehat, dan 98,0% menyatakan kegiatan sangat bermanfaat. Kesimpulan: Program edukasi kesehatan efektif meningkatkan pengetahuan, kesadaran, dan komitmen peserta dalam menerapkan perilaku hidup sehat. Kegiatan serupa perlu dilaksanakan secara berkelanjutan sebagai bagian dari upaya membangun sumber daya manusia yang sehat, produktif, dan berdaya saing di lingkungan perguruan tinggi.
Gen-Z Scientist Level Up: Workshop Pipetting Untuk Penguatan Deteksi Halal Makanan Viral Dengan Teknik PCR Muhammad Haidar Amrullah; Adlillah Triastuti
Sahabat Sosial: Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol. 4 No. 3 (2026): Sahabat Sosial: Jurnal Pengabdian Masyarakat (Juni)
Publisher : Asosiasi Guru dan Dosen Seluruh Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59585/sosisabdimas.v4i3.1430

Abstract

Latar Belakang: Perkembangan makanan viral di media sosial meningkatkan perhatian masyarakat terhadap keamanan, mutu, dan kehalalan produk pangan. Produk olahan yang mengalami proses pencampuran dan pengolahan dapat memiliki bahan yang sulit diidentifikasi secara visual. Teknik molekuler seperti Polymerase Chain Reaction (PCR) dapat digunakan sebagai salah satu pendekatan untuk autentikasi bahan pangan berdasarkan target DNA tertentu. Tujuan: Meningkatkan pengetahuan dan keterampilan generasi muda dalam penggunaan mikropipet serta memberikan pemahaman mengenai penerapan teknik PCR sebagai salah satu pendekatan ilmiah untuk mendukung autentikasi bahan pangan dalam konteks halal. Metode: Kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat dilaksanakan melalui workshop laboratorium dengan peserta sebanyak 30 mahasiswa/generasi Z. Metode kegiatan meliputi pretest, penyampaian materi, demonstrasi penggunaan mikropipet, praktik pipetting, pengenalan tahapan dasar PCR, diskusi, evaluasi keterampilan, dan posttest. Materi mencakup prinsip dasar mikropipet, pemilihan tip, teknik aspirasi dan dispensing, pencegahan kontaminasi, keselamatan kerja laboratorium, konsep dasar ekstraksi DNA dan PCR, serta pemahaman mengenai penggunaan PCR untuk mendukung autentikasi bahan pangan. Hasil: Terjadi peningkatan pengetahuan peserta dengan rerata skor 61,8 pada pretest menjadi 88,6 pada posttest. Kemampuan praktik pipetting juga meningkat, terutama dalam aspek pemilihan mikropipet, pemasangan tip, pengaturan volume, teknik aspirasi dan dispensing, serta penerapan prosedur kerja yang konsisten. Sebanyak 86,7% peserta mencapai kategori keterampilan baik setelah workshop, tetapi hasil analisis laboratorium perlu ditempatkan dalam kerangka pengujian dan sertifikasi halal yang sesuai.Kesimpulan: Workshop pipetting yang dikombinasikan dengan pengenalan PCR dapat meningkatkan literasi dan keterampilan dasar laboratorium generasi muda. Kegiatan ini berpotensi memperkuat kesiapan mahasiswa sebagai young scientist dalam memahami teknologi analisis pangan dan mendukung pengembangan literasi autentikasi halal berbasis sains.
Operasi Lancar, Hati Bugar: Rahasia Sukses Persiapan Operasi Melalui Edukasi Tepat Guna Rahayu Setyaningsih; Aprilia Nuryanti
Sahabat Sosial: Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol. 4 No. 4 (2026): Sahabat Sosial: Jurnal Pengabdian Masyarakat (September)
Publisher : Asosiasi Guru dan Dosen Seluruh Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59585/sosisabdimas.v4i4.1432

Abstract

Abstract Introduction: Pre-operative anxiety and patients' lack of knowledge regarding surgical preparation procedures often hinder the smoothness of anesthesia administration and post-operative recovery. Appropriate health education is necessary to improve patient compliance with pre-surgical protocols, such as fasting and personal hygiene, thereby minimizing the risk of intraoperative complications. Methods: This community service activity took the form of health counseling and the distribution of educational media in the form of a "Ready for Surgery" booklet to 50 patients scheduled for elective surgery at RSUD X. The methods used included interactive lectures, demonstrations of deep breathing relaxation techniques, and evaluation of understanding through pre-test and post-test questionnaires. Results: There was a significant increase in participants' knowledge scores regarding pre-operative preparation, from an average of 45% (pre-test) to 85% (post-test). As many as 90% of participants stated they felt calmer and more confident facing the surgical procedure after receiving the education. Compliance with fasting instructions and personal hygiene also increased drastically compared to historical data prior to the intervention. Discussion: Providing clear, simple, and visual information helps reduce anxiety and improves patients' understanding of the importance of physical preparation. Two-way interaction during the counseling allowed for the clarification of myths circulating in the community regarding surgical preparation. Conclusion: Precise education through a multimedia approach and therapeutic communication effectively increases patients' mental and physical readiness, thereby supporting the smoothness of the surgical process and accelerating the recovery period.. Keywords : Pre-operative Education, Surgical Preparation, Patient Anxiety, Compliance, Community Service Abstrak Pendahuluan: Kecemasan pra-operasi dan ketidaktahuan pasien mengenai prosedur persiapan bedah sering kali menghambat kelancaran tindakan anestesi dan pemulihan pasca-operasi. Edukasi kesehatan yang tepat guna diperlukan untuk meningkatkan kepatuhan pasien terhadap protokol pra-bedah, seperti puasa dan higiene diri, sehingga dapat meminimalkan risiko komplikasi intraoperatif. Metode: Kegiatan pengabdian masyarakat ini berbentuk penyuluhan kesehatan dan distribusi media edukasi berupa booklet "Siap Operasi" kepada 50 pasien yang dijadwalkan menjalani operasi elektif di RSUD X. Metode yang digunakan meliputi ceramah interaktif, demonstrasi teknik relaksasi napas dalam, dan evaluasi pemahaman melalui kuesioner pre-test dan post-test. Hasil: Terjadi peningkatan signifikan pada skor pengetahuan peserta mengenai persiapan pra-operasi dari rata-rata 45% (pre-test) menjadi 85% (post-test). Sebanyak 90% peserta menyatakan merasa lebih tenang dan percaya diri menghadapi tindakan bedah setelah menerima edukasi. Kepatuhan terhadap instruksi puasa dan kebersihan diri juga meningkat drastis dibandingkan data historis sebelum intervensi. Pembahasan: Pemberian informasi yang jelas, sederhana, dan visual membantu mengurangi kecemasan serta memperbaiki pemahaman pasien tentang pentingnya persiapan fisik. Interaksi dua arah selama penyuluhan memungkinkan klarifikasi mitos yang beredar di masyarakat mengenai persiapan operasi. Kesimpulan: Edukasi tepat guna melalui pendekatan multimedia dan komunikasi terapeutik efektif meningkatkan kesiapan mental dan fisik pasien, sehingga mendukung kelancaran proses pembedahan dan mempercepat masa pemulihan. Kata Kunci: Edukasi Pra-Operasi, Persiapan Bedah, Kecemasan Pasien, Kepatuhan, Pengabdian Masyarakat *Penulis Korespondensi : Rahayu Setyaningsih *Email : rahayusetyaningsih@uhb.ac.id
Peningkatan Kesadaran Masyarakat Tentang Pentingnya Menjaga Kesehatan Pencernaan Untuk Mencegah Konstipasi Dan Gangguan Gastrointestinal Rezqiqah Aulia Rahmat; Farida Fakhrunnisa
Sahabat Sosial: Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol. 4 No. 4 (2026): Sahabat Sosial: Jurnal Pengabdian Masyarakat (September)
Publisher : Asosiasi Guru dan Dosen Seluruh Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59585/sosisabdimas.v4i4.1445

Abstract

Latar Belakang: Gangguan kesehatan pencernaan, khususnya konstipasi, masih menjadi masalah kesehatan yang sering dialami masyarakat di berbagai kelompok usia. Konstipasi tidak hanya menimbulkan ketidaknyamanan, tetapi juga dapat menurunkan kualitas hidup, produktivitas, serta meningkatkan risiko terjadinya komplikasi apabila tidak ditangani dengan baik. Faktor penyebab konstipasi sebagian besar berkaitan dengan pola hidup yang kurang sehat, seperti rendahnya konsumsi serat, kurang minum air putih, aktivitas fisik yang rendah, kebiasaan menahan buang air besar, serta penggunaan obat pencahar yang tidak rasional. Rendahnya literasi masyarakat mengenai kesehatan pencernaan menyebabkan upaya pencegahan belum dilakukan secara optimal. Edukasi kesehatan berbasis pemberdayaan masyarakat menjadi salah satu strategi promotif dan preventif untuk meningkatkan pengetahuan serta mendorong perubahan perilaku menuju gaya hidup sehat. Tujuan: Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan meningkatkan pengetahuan dan kesadaran masyarakat mengenai pentingnya menjaga kesehatan pencernaan, mengenali faktor risiko konstipasi, serta menerapkan pola hidup sehat sebagai upaya pencegahan gangguan gastrointestinal. Metode: Kegiatan dilaksanakan pada bulan Februari 2026 di wilayah kerja puskesmas dengan melibatkan 50 peserta berusia 20–65 tahun. Metode yang digunakan meliputi pre-test, ceramah interaktif, diskusi kelompok, demonstrasi penyusunan menu tinggi serat, simulasi aktivitas fisik ringan, edukasi hidrasi, pembagian booklet, post-test, dan evaluasi kepuasan peserta. Data dianalisis secara deskriptif menggunakan distribusi frekuensi, persentase, dan nilai rata-rata. Hasil: Seluruh peserta mengikuti kegiatan hingga selesai. Nilai rata-rata pengetahuan meningkat dari 60,5 sebelum intervensi menjadi 93,1 setelah edukasi. Sebanyak 96,0% peserta memahami penyebab konstipasi, 94,0% memahami pentingnya konsumsi serat dan cairan, 92,0% mampu menyusun pola makan sehat untuk menjaga kesehatan pencernaan, 90,0% berkomitmen meningkatkan aktivitas fisik dan kebiasaan hidup sehat, serta 96,0% menyatakan program sangat bermanfaat. Kesimpulan: Edukasi kesehatan mengenai kesehatan pencernaan efektif meningkatkan pengetahuan, kesadaran, dan komitmen masyarakat dalam mencegah konstipasi dan gangguan gastrointestinal melalui penerapan gaya hidup sehat. Program edukasi berkelanjutan perlu dikembangkan sebagai bagian dari promosi kesehatan di tingkat masyarakat.
Pendampingan Ibu Hamil Risiko Tinggi Melalui Intervensi Perawat Maternitas Untuk Meningkatkan Derajat Kesehatan Maternal Dan Neonatal Lumastari Ajeng Wijayanti; Rezqiqah Aulia Rahmat
Sahabat Sosial: Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol. 4 No. 4 (2026): Sahabat Sosial: Jurnal Pengabdian Masyarakat (September)
Publisher : Asosiasi Guru dan Dosen Seluruh Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59585/sosisabdimas.v4i4.1446

Abstract

Latar Belakang: Kehamilan risiko tinggi merupakan salah satu kondisi yang berkontribusi terhadap meningkatnya morbiditas dan mortalitas maternal maupun neonatal. Rendahnya pengetahuan ibu hamil mengenai faktor risiko, tanda bahaya kehamilan, pentingnya pemeriksaan antenatal, serta persiapan persalinan dapat meningkatkan risiko terjadinya komplikasi. Perawat maternitas memiliki peran strategis dalam memberikan edukasi dan pendampingan kepada ibu hamil sebagai upaya promotif dan preventif untuk meningkatkan kesehatan ibu dan bayi. Metode: Kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat dilaksanakan di salah satu wilayah pelayanan kesehatan masyarakat dengan melibatkan 20–30 ibu hamil risiko tinggi sebagai peserta. Metode yang digunakan meliputi penyuluhan kesehatan, edukasi mengenai kehamilan risiko tinggi, diskusi interaktif, konsultasi individual, serta pendampingan oleh perawat maternitas. Evaluasi dilakukan menggunakan metode pretest dan posttest untuk mengukur peningkatan pengetahuan peserta, disertai observasi terhadap partisipasi dan perubahan perilaku selama kegiatan berlangsung. Hasil: Kegiatan berlangsung dengan baik dan diikuti secara aktif oleh seluruh peserta. Hasil evaluasi menunjukkan adanya peningkatan pengetahuan ibu hamil setelah mengikuti penyuluhan dan pendampingan, ditunjukkan oleh peningkatan nilai rata-rata pretest dari 63,4 menjadi 86,8 pada posttest. Selain itu, terjadi peningkatan pemahaman mengenai faktor risiko kehamilan, tanda bahaya kehamilan, pentingnya pemeriksaan antenatal secara rutin, pemenuhan kebutuhan gizi, kepatuhan mengonsumsi tablet tambah darah, serta kesiapan menghadapi persalinan. Peserta juga menunjukkan motivasi yang lebih tinggi untuk menerapkan perilaku hidup sehat selama kehamilan dan memanfaatkan pelayanan kesehatan secara optimal. Kesimpulan: Pendampingan ibu hamil risiko tinggi melalui intervensi perawat maternitas terbukti efektif dalam meningkatkan pengetahuan, kesadaran, dan perilaku kesehatan ibu hamil. Program ini berkontribusi terhadap upaya peningkatan derajat kesehatan maternal dan neonatal melalui deteksi dini faktor risiko, peningkatan kepatuhan terhadap pelayanan antenatal, serta penguatan kesiapan menghadapi persalinan. Kegiatan serupa direkomendasikan untuk dilaksanakan secara berkelanjutan melalui kolaborasi antara tenaga kesehatan, keluarga, dan masyarakat.
Self Care Empowerment: Pendampingan Keperawatan Bagi Pasien Penyakit Kronis Dalam Meningkatkan Kemandirian Perawatan Di Rumah Tri Wahyuni; Rosida Rosida
Sahabat Sosial: Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol. 4 No. 4 (2026): Sahabat Sosial: Jurnal Pengabdian Masyarakat (September)
Publisher : Asosiasi Guru dan Dosen Seluruh Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59585/sosisabdimas.v4i4.1448

Abstract

Latar Belakang: Diabetes melitus merupakan salah satu penyakit kronis dengan prevalensi yang terus meningkat dan menjadi penyebab utama berbagai komplikasi, seperti penyakit kardiovaskular, nefropati, retinopati, dan neuropati. Keberhasilan pengelolaan diabetes tidak hanya bergantung pada terapi medis, tetapi juga pada kemampuan pasien dalam melakukan self care secara mandiri di rumah. Rendahnya pengetahuan dan keterampilan pasien dalam mengelola penyakit sering kali menyebabkan pengendalian kadar glukosa darah yang kurang optimal serta meningkatkan risiko komplikasi. Oleh karena itu, diperlukan intervensi keperawatan berbasis pemberdayaan (self care empowerment) melalui kegiatan pengabdian kepada masyarakat untuk meningkatkan kemampuan pasien dalam melakukan perawatan mandiri. Metode: Kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat dilaksanakan pada komunitas masyarakat dengan sasaran pasien diabetes melitus. Intervensi dilakukan melalui pelatihan self care, penyuluhan kesehatan, demonstrasi praktik perawatan mandiri, diskusi interaktif, serta pendampingan keperawatan. Evaluasi dilakukan menggunakan metode pretest dan posttest untuk mengukur peningkatan pengetahuan peserta serta observasi terhadap kemampuan peserta dalam menerapkan perilaku self care. Hasil: Pelaksanaan kegiatan berlangsung dengan baik dan diikuti secara aktif oleh peserta. Hasil evaluasi menunjukkan adanya peningkatan pengetahuan peserta mengenai pengelolaan diabetes melitus, pengaturan pola makan, aktivitas fisik, kepatuhan minum obat, perawatan kaki diabetik, pemantauan kadar glukosa darah, serta pencegahan komplikasi. Selain itu, peserta menunjukkan peningkatan motivasi dan kepercayaan diri dalam melakukan perawatan mandiri di rumah serta lebih memahami pentingnya keterlibatan keluarga dalam mendukung pengelolaan penyakit. Kesimpulan: Program Self Care Empowerment melalui pendampingan keperawatan efektif meningkatkan pengetahuan, keterampilan, dan kemandirian pasien diabetes melitus dalam melakukan perawatan di rumah. Kegiatan ini berpotensi meningkatkan kualitas hidup pasien serta menurunkan risiko komplikasi melalui penerapan perilaku self care yang berkelanjutan.
Pemberdayaan Masyarakat Dalam Upaya Pencegahan Sakit Kepala Melalui Edukasi Manajemen Stres Dan Gaya Hidup Sehat Warda M Warda M; Andi Agustang
Sahabat Sosial: Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol. 4 No. 4 (2026): Sahabat Sosial: Jurnal Pengabdian Masyarakat (September)
Publisher : Asosiasi Guru dan Dosen Seluruh Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59585/sosisabdimas.v4i4.1449

Abstract

Latar Belakang: Sakit kepala merupakan salah satu keluhan kesehatan yang paling sering dialami masyarakat dan dapat menurunkan kualitas hidup, produktivitas kerja, serta aktivitas sehari-hari. Sebagian besar kasus sakit kepala primer, seperti tension-type headache dan migrain, dipengaruhi oleh berbagai faktor yang dapat dimodifikasi, antara lain stres, kurang tidur, pola makan yang tidak teratur, dehidrasi, kurang aktivitas fisik, serta postur tubuh yang buruk. Rendahnya pengetahuan masyarakat mengenai faktor risiko dan strategi pencegahan menyebabkan kejadian sakit kepala berulang masih cukup tinggi. Edukasi kesehatan yang dikombinasikan dengan pelatihan manajemen stres dan penerapan gaya hidup sehat merupakan salah satu strategi promotif dan preventif yang dapat meningkatkan kemampuan masyarakat dalam mencegah kekambuhan sakit kepala. Tujuan: Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan meningkatkan pengetahuan masyarakat mengenai faktor pencetus sakit kepala, manajemen stres, pola hidup sehat, teknik relaksasi, serta kemampuan menerapkan upaya pencegahan secara mandiri. Metode: Kegiatan dilaksanakan pada bulan Oktober 2026 di wilayah kerja puskesmas dengan melibatkan 50 peserta berusia 20–60 tahun. Metode yang digunakan meliputi pre-test, penyuluhan interaktif, diskusi kelompok, demonstrasi teknik relaksasi napas dalam, latihan peregangan leher dan bahu, simulasi penyusunan gaya hidup sehat, pembagian booklet, post-test, serta evaluasi kepuasan peserta. Analisis data dilakukan secara deskriptif menggunakan distribusi frekuensi, persentase, dan nilai rata-rata. Hasil: Seluruh peserta mengikuti kegiatan hingga selesai. Nilai rata-rata pengetahuan meningkat dari 59,8 sebelum edukasi menjadi 92,5 setelah kegiatan. Sebanyak 96,0% peserta memahami faktor pencetus sakit kepala, 94,0% memahami teknik manajemen stres, 92,0% mampu mempraktikkan teknik relaksasi, 90,0% berkomitmen menerapkan gaya hidup sehat, dan 96,0% menyatakan kegiatan sangat bermanfaat. Kesimpulan: Edukasi mengenai manajemen stres dan gaya hidup sehat efektif meningkatkan pengetahuan serta keterampilan masyarakat dalam mencegah sakit kepala. Program serupa perlu dilaksanakan secara berkelanjutan melalui kolaborasi tenaga kesehatan, pemerintah desa, dan masyarakat untuk mendukung peningkatan kualitas hidup dan produktivitas.
Membangun Desa Sadar Sehat Melalui Program Edukasi Promosi Kesehatan Dan Pencegahan Penyakit Tidak Menular Rahmat Pannyiwi; Rifqi Ferry Balfas
Sahabat Sosial: Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol. 4 No. 4 (2026): Sahabat Sosial: Jurnal Pengabdian Masyarakat (September)
Publisher : Asosiasi Guru dan Dosen Seluruh Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59585/sosisabdimas.v4i4.1450

Abstract

Latar Belakang: Penyakit Tidak Menular (PTM) seperti hipertensi, diabetes melitus, penyakit jantung, stroke, dan kanker merupakan penyebab utama morbiditas dan mortalitas di berbagai negara, termasuk Indonesia. Peningkatan kejadian PTM erat kaitannya dengan perubahan gaya hidup masyarakat, seperti konsumsi makanan tinggi gula, garam, dan lemak, kurang aktivitas fisik, kebiasaan merokok, konsumsi alkohol, serta stres yang tidak terkelola dengan baik. Rendahnya kesadaran masyarakat terhadap faktor risiko PTM menyebabkan upaya pencegahan dan deteksi dini belum dilakukan secara optimal. Pendekatan promosi kesehatan berbasis pemberdayaan masyarakat menjadi strategi yang efektif untuk meningkatkan literasi kesehatan serta mendorong perubahan perilaku menuju gaya hidup sehat. Tujuan: Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan meningkatkan pengetahuan, kesadaran, dan kemampuan masyarakat dalam mengenali faktor risiko PTM serta menerapkan perilaku hidup sehat melalui program edukasi promosi kesehatan berbasis Desa Sadar Sehat. Metode: Kegiatan dilaksanakan pada bulan Oktober 2026 di salah satu desa binaan dengan melibatkan 50 peserta berusia 18–65 tahun. Metode yang digunakan meliputi pre-test, ceramah interaktif, diskusi kelompok, skrining sederhana faktor risiko PTM, demonstrasi pengukuran tekanan darah dan antropometri, simulasi aktivitas fisik, konseling individu, pembagian booklet edukasi, post-test, dan evaluasi kepuasan peserta. Data dianalisis secara deskriptif menggunakan distribusi frekuensi, persentase, dan nilai rata-rata. Hasil: Seluruh peserta mengikuti kegiatan hingga selesai. Nilai rata-rata pengetahuan meningkat dari 61,8 sebelum intervensi menjadi 93,8 setelah edukasi. Sebanyak 96,0% peserta memahami faktor risiko PTM, 94,0% memahami pola makan sehat, 92,0% memahami pentingnya aktivitas fisik, 90,0% berkomitmen melakukan pemeriksaan kesehatan berkala, dan 96,0% menyatakan program sangat bermanfaat. Kesimpulan: Program edukasi promosi kesehatan berbasis Desa Sadar Sehat efektif meningkatkan pengetahuan, kesadaran, dan komitmen masyarakat dalam mencegah penyakit tidak menular. Pendekatan pemberdayaan masyarakat perlu dilaksanakan secara berkelanjutan untuk mendukung terbentuknya perilaku hidup sehat dan menurunkan faktor risiko PTM.
Peningkatan Pengetahuan, Kepatuhan dan Analisis Penggunaan Obat Antihipertensi pada Peserta Prolanis di Puskesmas Ciluluk Sulaeman Nurdin; Dewi Wulamtresna
Sahabat Sosial: Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol. 4 No. 4 (2026): Sahabat Sosial: Jurnal Pengabdian Masyarakat (September)
Publisher : Asosiasi Guru dan Dosen Seluruh Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59585/sosisabdimas.v4i4.1459

Abstract

Hipertensi merupakan salah satu penyakit tidak menular yang membutuhkan pengelolaan jangka panjang melalui penggunaan obat secara tepat, peningkatan pengetahuan, serta kepatuhan pasien terhadap terapi. Program Pengelolaan Penyakit Kronis (Prolanis) menjadi salah satu upaya dalam meningkatkan kualitas pengelolaan hipertensi melalui pemantauan dan edukasi secara berkelanjutan. Kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan dan kepatuhan peserta Prolanis dalam menjalani terapi hipertensi serta menganalisis pola penggunaan obat antihipertensi pada peserta Prolanis di Puskesmas Ciluluk. Kegiatan dilaksanakan melalui edukasi mengenai hipertensi, penggunaan obat antihipertensi yang tepat, pentingnya kepatuhan minum obat, serta pemantauan penggunaan obat. Analisis penggunaan obat dilakukan secara observasional retrospektif menggunakan data kartu pemantauan peserta Prolanis yang didiagnosis hipertensi pada Februari 2026. Pengambilan sampel dilakukan secara purposive sampling berdasarkan kriteria yang telah ditetapkan dan diperoleh sebanyak 58 peserta. Hasil kegiatan menunjukkan bahwa sebagian besar peserta Prolanis dengan hipertensi berjenis kelamin perempuan (90%), dengan kelompok usia terbanyak 40–60 tahun (58%). Berdasarkan pola penggunaan obat, monoterapi merupakan terapi yang paling dominan, dengan amlodipine 10 mg sebagai obat antihipertensi yang paling banyak digunakan (76%). Edukasi yang diberikan diarahkan pada peningkatan pemahaman peserta mengenai hipertensi, penggunaan obat secara rasional, keteraturan minum obat, dan pentingnya pemantauan tekanan darah secara berkala. Evaluasi program juga menunjukkan adanya peningkatan partisipasi peserta hipertensi dalam kegiatan Prolanis sebesar 1% dibandingkan bulan sebelumnya. Kegiatan edukasi dan pemantauan penggunaan obat antihipertensi diharapkan dapat meningkatkan pengetahuan dan kepatuhan peserta dalam menjalani terapi serta mendukung keberhasilan pengendalian tekanan darah pada peserta Prolanis di Puskesmas Ciluluk.