cover
Contact Name
Safni Elivia
Contact Email
safni@iphorr.com
Phone
+6282282204653
Journal Mail Official
mail@iphorr.com
Editorial Address
Jl. Karet, Sumber Rejo, Kec. Kemiling, Kota Bandar Lampung, Lampung 35155
Location
Kota bandar lampung,
Lampung
INDONESIA
JOURNAL OF Qualitative Health Research & Case Studies Reports
ISSN : 28079094     EISSN : 28078489     DOI : 10.56922
Core Subject : Health,
Jurnal penelitian kualitatif di bidang kesehatan berkaitan dengan penjelasan narasi atau cerita di balik suatu fakta atau kejadian. Disamping itu memuat laporan kegiatan penerapan asuhan keperawatan dibidang kesehatan meliputi kegiatan promotif, preventif, kuratif dan rehabilitatif pada semua tingkat usia. Terbit 2 kali dalam satu tahun bulan Juli dan Desember
Articles 208 Documents
Efektivitas posisi semi fowler modifikasi modifikasi pursed lips breathing terhadap peningkatan saturasi oksigen pada pasien tb paru Silvia, Andi Bunga; Kurniasih, Dennti; Yulendasari, Rika
JOURNAL OF Qualitative Health Research & Case Studies Reports Vol 4 No 2 (2024): December Edition 2024
Publisher : Published by: Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerjasama dengan Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/quilt.v4i2.411

Abstract

Background: Pulmonary tuberculosis is a contagious infectious disease that occurs in the lower human respiratory tract caused by the bacterium Mycobacterium Tuberculosis. As a result, it can affect oxygen saturation levels in pulmonary TB patients. One of the non-pharmacological treatments that can be given to pulmonary TB patients is modified semi-fowler position pursed lips breathing. The prevalence of pulmonary TB in Lampung province in 2017 reached 7,627 cases, and there was a very rapid increase in 2019, namely 3,077,136 cases of pulmonary TB sufferers. Purpose: To determine the effectiveness of modified semi-fowler position pursed lips breathing on increasing oxygen saturation in pulmonary TB patients. Methods: Qualitative descriptive research with a case study descriptive research design with a nursing care approach, which includes assessment, nursing diagnosis, planning, implementation and evaluation. Nursing care in this study was carried out on 2 pulmonary TB patients at RSUD. Dr. H. Abdul Moeloek Lampung Province in May 2024. The intervention provided was the application of nursing care using the semi-fowler position technique modified with pursed lips breathing exercises carried out for three days. Results: The results of Mr. Y, before being given therapy in semi-fowler position modified pursed lips breathing, the SPO2 value = 90% and after being given therapy for 3 days, an increase in SPO2 = 96% was obtained. Meanwhile, Mr. T results obtained before the SPO2 value = 93% and after therapy was given an increase in SPO2: 98%. Conclusion: The results of the evaluation of the application of modified pursed lips breathing semi-fowler position therapy which was carried out for 3 days showed significant success in increasing oxygen saturation levels in patients.   Keywords : Pulmonary TB; Semi Fowler Position Modified Pursed Lips Breathing.   Pendahuluan: Tuberkulosis paru adalah suatu penyakit infeksi menular yang terjadi pada saluran pernapasan manusia bagian bawah yang disebabkan oleh bakteri Mycobacterium Tuberkulosis. Akibatnya dapat mempengaruhi kadar saturasi oksigen pada pasien TB paru. Salah satu penanganan non farmakologi yang dapat diberikan pada pasien TB paru adalah posisi semi fowler modifikasi pursed lips breathing. Prevalensi TB paru di provinsi Lampung tahun 2017 mencapai 7.627 kasus, dan terjadi peningkatan yang sangat pesat pada tahun 2019 yaitu 3.077.136 kasus penderita TB paru. Tujuan: Untuk mengetahui efektivitas posisi semi fowler modifikasi modifikasi pursed lips breathing terhadap peningkatan saturasi oksigen pada pasien tb paru. Metode: Penelitian deskriptif kualitatif dengan desain penelitian deskriptif studi kasus dengan pendekatan asuhan keperawatan, yang meliputi pengkajian, diagnosa keperawatan, perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi. Asuhan keperawatan pada penelitian ini dilakukan pada 2 pasien TB paru di Di Rsud. Dr. H. Abdul Moeloek Provinsi Lampung pada bulan Mei tahun 2024. Intervensi yang diberikan adalah penerapan asuhan keperawatan dengan teknik posisi semi fowler yang dimodifikasi dengan latihan nafas pursed lips breathing yang dilakukan selama tiga hari. Hasil: Hasil kasus Tn. Y sebelum diberikan terapi posisi semi fowler modifikasi pursed lips breathing nilai SPO2=90% dan setelah diberikan terapi selama 3 hari didapatkan peningkatan SPO2=96%. Sedangkan pada Tn. T didapatkan hasil sebelum nilai SPO2 =93% dan setelah diberikan terapi didapatkan peningkatan SPO2:98%. Simpulan: Hasil evaluasi penerapan terapi posisi semi fowler modifikasi pursed lips breathing yang telah dilakukan selama 3 hari menunjukan adanya keberhasilan yang signifikan terhadap peningkatan kadar saturasi oksigen pada pasien.   Kata Kunci : Posisi Semi Fowler Modifikasi Pursed Lips Breathing; TB paru.
Efektivitas terapi benson untuk mengatasi gangguan pola tidur pada lansia Mardani, Mardani; Elliya, Rahma; Furqoni, Prima Dian
JOURNAL OF Qualitative Health Research & Case Studies Reports Vol 4 No 2 (2024): December Edition 2024
Publisher : Published by: Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerjasama dengan Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/quilt.v4i2.413

Abstract

Background: Elderly is the closing period of a person's life span in which gradual physical and psychological decline occurs. One of the main aspects of improving the health of the elderly is maintaining sleep. The impact that occurs if someone is unable to get enough sleep is a change in personality and behavior. One of the non-pharmacological therapies that can be done is Benson relaxation therapy. Purpose: To determine the effectiveness of Benson therapy to treat sleep pattern disorders in the elderly. Method: Qualitative descriptive research using the case study method and using a Quasi Experimental approach with a One Group Pretest-Posttest Design. The nursing care approach was carried out on 2 patients in Sukajaya Lempasing Village, Teluk Pandan District, Pesawaran Regency, Lampung Province in 2024. This research will be carried out using the Benson relaxation therapy method to overcome sleep pattern disorders in the elderly. The instruments used are the Benson relaxation therapy SOP to overcome sleep pattern disorders in the elderly and observation sheets. Results: Sleep pattern disturbance before Benson therapy was obtained by Mrs. M=17 (Poor) and Mrs. Score. C=16 (Bad). However, after doing Benson relaxation therapy, Mrs. M=7 (Good) and Mrs. score. C=6 (Good). Conclusion: The results of the evaluation show that Benson relaxation therapy has proven to be effective in treating sleep pattern disorders in the elderly.   Keywords: Elderly; Benson Relaxation Therapy; Sleep Pattern Disorders.   Pendahuluan: Lansia merupakan periode penutup bagi rentang kehidupan seseorang yang terjadi kemunduran fisik dan psikologis secara bertahap. Salah satu aspek utama dari peningkatan kesehatan lansia ialah pemeliharaan tidur. Dampak yang terjadi apabila seseorang tidak mampu mencukupi kebutuhan tidurnya adalah perubahan kepribadian dan perilaku. terapi non-farmakologi yang dapat dilakukan salah satunya adalah terapi relaksasi Benson. Tujuan: Untuk mengetahui efektivitas terapi benson untuk mengatasi gangguan pola tidur pada lansia. Metode: Penelitian deskriptif kualitatif dengan metode studi kasus dan menggunakan pendekatan Quasi Eksperimen dengan rancangan One Group Pretest-Posttest Design. Pendekatan asuhan keperawatan dilakukan kepada 2 pasien di Desa Sukajaya Lempasing Kecamatan Teluk Pandan Kabupaten Pesawaran Provinsi Lampung Tahun 2024. Penelitian ini akan dilakukan dengan metode terapi relaksasi benson untuk mengatasi gangguan pola tidur pada lansia. Instrumen yang digunakan yaitu SOP terapi relaksasi Benson untuk mengatasi gangguan pola tidur pada lansia dan lembar observasi. Hasil: Gangguan pola tidur sebelum dilakukan terapi benson diperoleh skor Ny. M=17 (Buruk) dan Skor Ny. C=16 (Buruk). Namun setelah dilakukan terapi relaksasi benson diperoleh skor Ny. M=7 (Baik) dan skor Ny. C=6 (Baik). Simpulan: Hasil evaluasi menunjukkan bahwa tindakan terapi relaksasi benson terbukti efektif dalam mengatasi gangguan pola tidur pada lansia.   Kata Kunci: Lansia; Gangguan Pola Tidur; Terapi Relaksasi Benson.
Efektivitas terapi bermain puzzle terhadap perkembangan motorik halus anak usia prasekolah di Panti Asuhan Bussaina Bandar Lampung Nadila, Tiya; Novikasari, Linawati; Winarno, Rudi
JOURNAL OF Qualitative Health Research & Case Studies Reports Vol 4 No 2 (2024): December Edition 2024
Publisher : Published by: Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerjasama dengan Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/quilt.v4i2.424

Abstract

Background: The growth and development of children in Indonesia requires serious attention, because delays in growth and development are still quite high, namely around 5-10% of children experience general delays. Children who receive targeted stimulation can develop more quickly than children who receive less stimulation. Therefore, providing stimulation is very important to optimize children's fine motor development. One way to overcome delays in fine motor development in preschool children is to learn through play. Puzzles are a type of game that improves thinking skills, makes it easier for children to remember and understand concepts, and increases children's creativity. Purpose: To determine the effectiveness of playing puzzles on the fine motor development of children aged 5-6 years. Method: This type of research uses descriptive qualitative research, this research uses descriptive research methods in the form of case studies with a Nursing Care approach, which includes assessment, nursing diagnosis, planning, implementation and evaluation. The research was conducted at the Bussaina Orphanage in Bandar Lampung in April-May 2024 on two patients, namely An. S and An. Y. Data analysis was carried out by comprehensive data collection. Data interpretation has two narrow and limited aspects, namely only the research questions answered by the data obtained. Result: The results of nursing data analysis on patient An.S who was only able to carry out 6 out of 20 fine motor assessments of toddlers so he was said to be experiencing growth and development disorders. Apart from that, patient An.Y also experienced growth and development disorders because he could only carry out 8 of the 20 assessments in the research conducted. After providing nursing care for 4 meetings, at the last meeting, patient An.S (49 months) showed enjoyment in playing puzzles and actively answering known pictures. In addition, the evaluation results of patient An.Y (50 months) show that it is now easier to play puzzles and participate in therapy actively and expressively. Conclusion: Puzzle games given to children aged 5 to 6 years have proven to be effective in improving children's fine motor development. Suggestion: It is hoped that the Bussaina Orphanage in Bandar Lampung can provide and utilize puzzle playing media to improve the fine motor development of children in the orphanage.   Keywords: Fine Motor Development; Preschool; Puzzle Play Therapy. Pendahuluan : Tumbuh kembang anak di Indonesia memerlukan perhatian serius, karena keterlambatan tumbuh kembang masih cukup tinggi yaitu sekitar 5-10% anak mengalami keterlambatan umum. Anak yang mendapat stimulasi tepat sasaran dapat berkembang lebih cepat dibandingkan anak yang mendapat stimulasi lebih sedikit. Oleh karena itu pemberian stimulasi sangat penting untuk mengoptimalkan perkembangan motorik halus anak. Salah satu cara mengatasi keterlambatan perkembangan motorik halus pada anak prasekolah adalah dengan belajar melalui bermain. Puzzle merupakan salah satu jenis permainan yang meningkatkan kemampuan berpikir, memudahkan anak mengingat dan memahami konsep, serta meningkatkan kreativitas anak. Tujuan : Untuk mengetahui efektivitas bermain puzzle terhadap perkembangan motorik halus anak usia 5-6 tahun. Metode : Jenis penelitian ini menggunakan penelitian deskriptif kualitatif, penelitian ini menggunakan metode penelitian deskriptif dalam bentuk studi kasus dengan pendekatan Asuhan Keperawatan, yang meliputi pengkajian, diagnosa keperawatan, perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi. Penelitian dilakukan di Panti Asuhan Bussaina Bandar Lampung pada bulan April-Mei 2024 pada dua pasien yaitu An. S dan An. Y. Analisis data dilakukan dengan pengumpulan data secara menyeluruh. Penafsiran data mempunyai dua aspek yang sempit dan terbatas, yaitu hanya pada pertanyaan penelitian yang dijawab oleh data yang diperoleh. Hasil : Hasil analisa data keperawatan pada pasien An.S yang hanya dapat melakukan 6 dari 20 penilaian motorik halus balita sehingga dikatakan mengalami gangguan tumbuh kembang. Selain itu, pasien An.Y juga mengalami gangguan tumbuh kembang karena hanya dapat melakukan 8 dari 20 penilaian dalam penelitian yang dilakukan. Setelah menjalani asuhan keperawatan selama 4 pertemuan, pada pertemuan terakhir pasien An.S (49 bulan) menunjukkan rasa senang bermain puzzle dan dengan aktif menjawab gambar yang diketahui. Selain itu, hasil evaluasi pasien An.Y (50 bulan) menunjukkan sekarang lebih mudah memainkan puzzle dan mengikuti terapi dengan aktif dan ekspresif. Simpulan: Permainan puzzle yang diberikan kepada anak usia 5 sampai 6 tahun terbukti efektif dalam peningkatan perkembangan motorik halus anak. Saran: Panti Asuhan Bussaina Bandar Lampung diharapkan dapat menyediakan dan memanfaat media bermain puzzle untuk meningkatkan perkembangan motorik halus anak di panti.   Kata Kunci : Perkembangan Motorik Halus; Prasekolah; Terapi Bermain Puzzle.  
Efektivitas terapi bermain pada anak prasekolah dengan kecanduan gadget Satria, Imanda; Setiawati, Setiawati; Wandini, Riska
JOURNAL OF Qualitative Health Research & Case Studies Reports Vol 4 No 2 (2024): December Edition 2024
Publisher : Published by: Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerjasama dengan Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/quilt.v4i2.431

Abstract

Background : Continuous use of gadgets will have a negative impact on children's thinking patterns and behavior in their daily lives. Children who tend to continuously use gadgets will become very dependent on them and become routine activities in their daily activities. In this case, children often prefer to play with gadgets, causing children to become lazy about moving and doing activities. They prefer to sit in front of gadgets and enjoy games with certain features rather than interacting with the real world. This certainly has a negative impact on children's development and health, especially in terms of the brain and psychology. Purpose: To determine the effectiveness of play therapy in pre-school children with gadget addiction. Method: Descriptive case study research with a child care approach following Standard Operating Procedures (SOAP). Nursing care in this research was carried out in May 2024 for 3 preschool children who were diagnosed with gadget addiction in Lempuyang Bandar Village, Wei Pengbuan District, Central Lampung. The three research cases are given the initials An.H, An.N, and An.B. The intervention was given to the three patients for 3 days. Data analysis uses comparative descriptive analysis. Results: Implementation of the intervention for 3 days in case 1 (An.H), case 2 (An.N), and case 3 (An.B) showed significant changes. Before implementing Lego play therapy, the three cases were in the high category, but after being given intervention for 3 consecutive days, the three cases experienced a significant decrease. Case 1 (An.H) is in the medium category, case 2 (An.N) is still in the high category but the duration of gadget use has decreased, and case 3 is in the low category. This can be seen from changes in sleep patterns, social interactions with peers, and interactions with awake parents. Conclusion: The use of Lego play therapy is effective in reducing gadget addiction in preschool children.   Keywords: Gadget Addiction; Play Therapy; Preschool Children.   Pendahuluan : Penggunaan gadget secara terus menerus akan berdampak buruk terhadap pola pikir dan perilaku anak dalam kehidupan kesehariannya. Anak-anak yang cenderung terus menerus menggunakan gadget akan sangat tergantung dan menjadi kegiatan yang rutin dalam aktivitas sehari hari, dalam hal ini sering kali anak-anak lebih memilih bermain gadget sehingga menyebabkan anak menjadi malas bergerak dan beraktivitas. Mereka lebih memilih duduk di depan gadget dan menikmati permainan yang ada pada fitur-fitur tertentu dibandingkan berinteraksi dengan dunia nyata. Hal ini tentu berdampak buruk bagi perkembangan dan kesehatan anak, terutama di segi otak dan psikologis. Tujuan : Untuk mengetahui efektivitas terapi bermain pada anak pra sekolah dengan kecanduan gadget. Metode : Penelitian deskriptif studi kasus dengan pendekatan perawatan anak mengikuti Standar Operasional Prosedur (SOAP). Asuhan keperawatan pada penelitian ini dilakukan pada bulan Mei 2024 kepada 3 orang anak prasekolah yang didiagnosa mengalami kecanduan gadget di Desa Lempuyang Bandar, Kecamatan Wei Pengbuan, Lampung Tengah. Ketiga kasus penelitian diberi inisial An.H, An.N, dan An.B. Intervensi yang diberikan pada ketiga pasien selama 3 hari. Analisa data menggunakan analisis deskriptif komparatif. Hasil : Pelaksanaan intervensi selama 3 hari pada kasus 1 (An.H), kasus 2 (An.N), dan kasus 3 (An.B) menunjukkan adanya perubahan yang signifikan. Sebelum pelaksanaan terapi bermain lego ketiga kasus tersebut masuk dalam kategori tinggi, namun setelah diberikan intervensi selama 3 hari berturut-turut ketiga kasus tersebut mengalami penurunan yang signifikan. Kasus 1 (An.H) masuk dalam kategori sedang, kasus 2 (An. N) masih dalam kategori tinggi namun durasi penggunaan gadget menurun, dan kasus 3 masuk dalam kategori rendah. Hal ini dapat dilihat dari perubahan pola tidur, interaksi sosial dengan teman sebaya, dan interaksi dengan orang tua terbangun. Simpulan : Penggunaan terapi bermain lego efektif dalam menurunkan kecanduan penggunaan gadget pada anak prasekolah, sehingga permainan yang efektif seperti lego dapat membantu dalam menurunkan kecanduan gadget pada anak prasekolah.   Kata Kunci : Anak Prasekolah; Kecanduan Gadget; Terapi Bermain.
Efektivitas pemberian lidah buaya terhadap pertumbuhan jaringan luka pada pasien diabetes melitus Wulan, Sarinah Sri; Saputra, M.Khalid Fredy; Muhammad, Fadil
JOURNAL OF Qualitative Health Research & Case Studies Reports Vol 4 No 1 (2024): July Edition 2024
Publisher : Published by: Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerjasama dengan Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/quilt.v4i1.457

Abstract

Background: Diabetes mellitus is a disease or metabolic disorder characterized by high levels of sugar in the blood. Diabetes can cause heart attacks, strokes, and severe foot infections or ulcers. Non-pharmacological treatment can be done using aloe vera which contains growth hormone which plays a role in the healing process of diabetic wounds. Purpose: To determine the effectiveness of providing treatment to diabetes melitus sufferers using aloe vera on the growth of wound tissue. Method: Qualitative descriptive research with a case study approach to nursing care, which includes assessment, nursing diagnosis, planning, implementation and evaluation. The subjects of this research were two people suffering from diabetes melitus who had diabetic wounds. The wound care intervention was carried out 7 times over 14 days with meetings lasting >30-50 minutes. Data were collected by observing diabetes melitus wounds before and after administering aloe vera. Results: Before being given aloe vera intervention on the first day subject 1 with a score of 45, subject 2 with a score of 46 measured by Bates Jensen, the wound was still approaching wound degeneration, but after being given 7 treatments for 14 days the wound on subject 1 had a score of 18, subject 2 with a score of 19, which means the wound experienced fairly good wound regeneration. Conclusion: Administration of aloe vera has been proven to be effective in healing and growing wound tissue in diabetes melitus patients. Suggestion: Wound treatment with aloe vera can be used as an alternative for wound care at home and combined with proper diet management in an effort to control blood sugar   Keywords : Aloe Vera; Diabetes Melitus; Wound Healing.   Pendahuluan: Diabetes melitus merupakan suatu penyakit atau gangguan metabolisme yang ditandai dengan tingginya kadar gula dalam darah. Diabetes dapat mengakibatkan serangan jantung, stroke, dan infeksi kaki atau luka ulkus yang berat. Pengobatan secara non farmakologi dapat dilakukan dengan menggunakan lidah buaya yang mengandung hormon pertumbuhan yang berperan dalam proses penyembuhan luka diabetes. Tujuan: Untuk mengetahui efektivitas pemberian perawatan pada penderita diabetes melitus menggunakan lidah buaya terhadap pertumbuhan jaringan luka. Metode: Penelitian deskriptif kualitatif dengan pendekatan studi kasus asuhan keperawatan, yang meliputi pengkajian, diagnosa keperawatan, perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi. subjek penelitian ini adalah dua orang yang menderita diabetes melitus yang memiliki luka diabetes. Intervensi pelaksanaan perawatan luka dilakukan sebanyak 7 kali selama 14 hari dengan pertemuan selama >30-50 menit. Pengumpulan data dilakukan dengan observasi terhadap luka diabetes melitus sebelum dan sesudah dilakukan pemberian lidah buaya. Hasil: Sebelum diberikan intervensi lidah buaya pada pada hari pertama subjek 1 dengan skor 45, subjek 2 dengan skor 46 diukur dengan Bates Jensen, luka masih mendekati wound degeneration, namun setelah diberikan 7 kali perawatan selama 14 hari luka pada subjek 1 dengan skor 18, subjek 2 dengan skor 19 yang artinya luka mengalami wound regeneration yang cukup baik. Simpulan: Pemberian lidah buaya terbukti efektif dalam penyembuhan dan pertumbuhan jaringan luka pada pasien diabetes melitus. Saran: Perawatan luka dengan pemberian lidah buaya bisa dijadikan alternatif perawatan luka di rumah dan ditambah dengan pengaturan diit yang tepat dalam upaya mengontrol gula darah.   Kata Kunci : Diabetes Melitus; Lidah Buaya; Penyembuhan Luka.
Perawatan luka terhadap pencegahan infeksi pada tali pusat di Klinik Barokah Medika Nurhayati, Nurhayati; Aliun, Fatimah Wahab; Suharti, Sri
JOURNAL OF Qualitative Health Research & Case Studies Reports Vol 4 No 1 (2024): July Edition 2024
Publisher : Published by: Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerjasama dengan Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/quilt.v4i1.458

Abstract

Background: Umbilical cord wound care is carried out as an act of caring for and cleaning the umbilical cord, as well as preventing infection in the baby's umbilical cord and speeding up the healing of wounds left by cutting the umbilical cord. Providing nursing in the form of education to mothers about how to properly care for the umbilical cord can prevent infection in newborns according to independent nursing practice service standards. Purpose: to prevent tetanus in newborn babies, so that the umbilical cord Method: Case study research on nursing care for newborns uses descriptive observational methods. This research was conducted at the Barokah Medika Clinic, independent practice nurse Dr. Siroojudin, SP. Og. which is located in Sumberejo village, Kemiling Bandar Lampung District on February 20 2023. The intervention carried out was in the form of providing education on care and prevention of infection in the baby's umbilical cord to two mothers who had 4 day old babies. Results: The results of the baby's examination, Mrs. S and Mrs. A, when making his first visit to the Barokah Medika clinic on February 20 2023 at 10.00 WIB, was stated to be in general condition and within normal limits with good general condition examination results, compensatory awareness, N = 116 x/m, RR= 45 x/m, and S=36.5◦ C. Based on the stages of baby umbilical cord care that have been carried out, the baby's mother only observes and tries to understand the explanation that has been given. So he said he would apply it himself when he got home and felt lucky because he had increased knowledge in umbilical cord care. Conclusion: Improper care for umbilical cord wounds in babies will result in infection which can result in death. Basically, umbilical cord infections can be prevented by carrying out good and correct umbilical cord care, namely using the principles of dry and clean care. Suggestion: nurses can provide complete information about how to care for umbilical cord wounds in mothers who have newborn babies properly and correctly to prevent infections in babies. Apart from that, it is important for mothers of babies to know how to care for umbilical cord wounds so that mothers can do it independently without having to feel awkward, afraid and worried about making mistakes in carrying out umbilical cord care.                                                 Keywords: Infection; Umbilical Cord; Wound Care.   Pendahuluan: Perawatan luka tali pusat dilakukan sebagai tindakan merawat dan membersihkan tali pusat, serta mencegah terjadinya infeksi pada tali pusat bayi dan mempercepat penyembuhan luka bekas pemotongan tali pusat. Menyediakan keperawatan berupa edukasi kepada ibu tentang cara merawat tali pusat yang benar dapat mencegah infeksi pada bayi baru lahir sesuai standar pelayanan praktik mandiri keperawatan. Tujuan: untuk mencegah penyakit tetanus pada bayi baru lahir, sehingga tali pusat tetap bersih,kuman tidak masuk sehingga tidak terjadi infeksi pada tali pusat bayi. Metode: Penelitian studi kasus asuhan keperawatan pada bayi baru lahir menggunakan metode deskriptif observasional. Penelitian ini dilakukan di Klinik Barokah Medika perawat praktik mandiri Dr. Siroojudin, SP. Og. yang terletak di desa Sumberejo, Kecamatan Kemiling Bandar Lampung pada tanggal 20 Februari 2023. Intervensi yang dilakukan berupa pemberian edukasi perawatan dan pencegahan infeksi pada tali pusat bayi pada Ny. S dan Ny. A yang memiliki bayi umur 4 hari. Hasil: Hasil pemeriksaan bayi Ny. S dan Ny. A pada saat melakukan kunjungan pertama di klinik Barokah Medika pada tanggal 20 Februari 2023 pukul 10.00 WIB dinyatakan dalam keadaan umum dan batas normal dengan hasil pemeriksaan keadaan umum baik, kesadaran komposmenti, N = 116 x/m, RR= 45 x/m, dan S=36.5◦ C. Berdasarkan tahapan perawatan tali pusat bayi yang telah dilakukan, ibu bayi hanya mengamati dan mencoba memahami penjelasan yang telah berikan. Sehingga mengatakan akan mengaplikasikannya sendiri jika sudah sampai di rumah dan merasa beruntung karena bertambah ilmu dalam perawatan tali pusat. Simpulan: Perawatan luka tali pusat pada bayi tidak tepat akan mengakibatkan infeksi yang dapat mengakibatkan kematian. Infeksi tali pusat pada dasarnya dapat dicegah dengan melakukan perawatan tali pusat yang baik dan benar, yaitu dengan prinsip perawatan kering dan bersih. Saran: perawat dapat memberikan informasi yang lengkap tentang cara merawat luka tali pusat pada ibu yang memiliki bayi baru lahir dengan baik dan benar sebagai pencegahan infeksi pada bayi. Selain itu, penting bagi ibu bayi untuk mengetahui cara perawatan luka tali pusat sehingga ibu dapat melakukannya secara mandiri tanpa harus ada rasa canggung, takut, dan khawatir akan mengalami kesalahan dalam melakukan perawatan tali pusat.   Kata Kunci: Infeksi; Perawatan Luka; Tali Pusat.
Penerapan air rebusan daun binahong (anredera cordifolia) terhadap luka perineum pada ibu postpartum Yunitasari, Eva; Fitri, Feni Elda; Marliyana, Marliyana
JOURNAL OF Qualitative Health Research & Case Studies Reports Vol 4 No 1 (2024): July Edition 2024
Publisher : Published by: Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerjasama dengan Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/quilt.v4i1.465

Abstract

Background: Postpartum is the period during which a mother gives birth starting from the first day of birth until 6 weeks of birth. 90% of mothers in the world who undergo normal childbirth experience perineal wounds either with or without episiotomi. The impact of perineal wounds that are not handled properly will cause complications, such as blood loss due to performing an episiotomi too early, infection due to contamination with urine and feces, dyspareunia, and local hematomas that cause infection. Efforts to prevent infection from perineal lacerations can be provided with pharmacological therapy and non-pharmacological therapy. Purpose: To determine the application of boiled water from binahong leaves (anredera cordifolia) in healing perineal wounds. Method: This research uses a case study approach with a descriptive research design. The case study subjects in this research were postpartum mothers with grade II perineal rupture. This research was carried out in November 2023 at Azzahra Hospital. In this case study, the subject is Mrs. A and Mrs. U with nursing problems and risk of infection related to tissue trauma/physical damage. Results: After implementing perineal treatment with boiled water from binahong leaves, Mrs. A and Mrs. U are gradually getting better. Evaluation of the latest data on November 17 2023 showed objective data: BP 120/80 mmHg, pulse 86 x/minute, temperature 36.5 ºC, RR 22x/minute, no edema, no redness, no bluish spots on the perineum, there is no pus/blood in the suture wound, the lochea rubra when examined is ± 40 cc, the perineum looks back to normal, so there is a risk of problems infection does not occur or the problem is resolved. Conclusion: Giving boiled water from binahong leaves is effective in accelerating the healing of perineal wounds in postpartum mothers. Suggestion: It is hoped that this will increase knowledge about the use of binahong leaf decoction in the perineal wound healing process and that mothers can apply it to speed up the wound healing process.   Keywords: Binahong Decoction; Perineal Wound; Postpartum.   Pendahuluan: Postpartum merupakan masa yang dilewati ibu melahirkan dimulai dari hari kelahiran pertama sampai 6 minggu kelahiran. 90% ibu di dunia yang menjalani proses persalinan normal mengalami robekan luka perineum baik dengan atau tanpa episiotomi. Dampak dari luka perineum yang tidak tertangani dengan baik akan menimbulkan komplikasi, seperti kehilangan darah karena melakukan episiotomi terlalu dini, infeksi karena terkontaminasi dengan urine dan feses, dispareunia, dan hematoma lokal yang menyebabkan infeksi. Upaya untuk mencegah terjadinya infeksi laserasi perineum dapat diberikan dengan terapi farmakologis dan terapi non farmakologis. Tujuan: Untuk mengetahui penerapan pemberian air rebusan daun binahong (anredera cordifolia) terhadap penyembuhan luka perineum. Metode: Penelitian ini menggunakan pendekatan studi kasus dengan desain penelitian deskriptif. Subjek studi kasus dalam penelitian ini adalah ibu nifas dengan ruptur perineum derajat II. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan November 2023 di Rumah Sakit Azzahra. Pada studi kasus ini yang menjadi subjek adalah Ny. A dan Ny. U dengan masalah keperawatan resiko infeksi berhubungan dengan trauma jaringan/kerusakan fisik. Hasil: Setelah implementasi perawatan perineum dengan air rebusan daun binahong didapatkan luka Ny. A dan Ny. U berangsur membaik. Evaluasi dari data terakhir pada tanggal 17 November 2023 didapatkan data objektif TD 120/80 mmHg, Nadi 86 x/ menit, Suhu 36,5 ºC, RR 22x/ menit, tidak ada edema, tidak ada kemerahan, tidak ada bintik kebiruan pada perineum, tidak ada pus/darah pada luka jahitan, lochea rubra saat dikaji ± 40 cc, perineum terlihat kembali normal, sehingga masalah resiko terjadinya infeksi tidak terjadi atau masalah teratasi. Simpulan: Pemberian rebusan air daun binahong efektif mempercepat penyembuhan luka perineum pada ibu postpartum. Saran: Diharapkan dapat menambah pengetahuan tentang penggunaan rebusan daun binahong terhadap proses penyembuhan luka perineum serta ibu dapat menerapkannya untuk mempercepat proses penyembuhan luka.   Kata Kunci: Air Rebusan Binahong; Luka Perineum; Postpartum.
Edukasi kesehatan tentang perawatan luka episiotomi pada ibu postpartum di BPS Bd. Yuliati Gisting Tanggamus Fitri, Feni Elda; Yunitasari, Eva; Wulan, Sarinah Sri
JOURNAL OF Qualitative Health Research & Case Studies Reports Vol 4 No 1 (2024): July Edition 2024
Publisher : Published by: Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerjasama dengan Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/quilt.v4i1.466

Abstract

Background: An episiotomy is an incision made in the perineum before delivery, with the aim of widening the baby's birth canal so that delivery is easier. Perineal care is an effort to meet the health needs of the area between the thighs which is limited by the vulva and anus in postpartum mothers, during the period between the birth of the placenta until the genital organs return to their pre-pregnancy condition. Wounds caused by episiotomy or lacerations take six to seven days to heal. The process of cleaning the perineal area can be done with a thorough inspection of the perineum. Purpose: To provide health education about episiotomy wound care to postpartum mothers. Method: This research is a qualitative descriptive study with a case study design conducted on two patients with the same medical diagnosis, namely health education on episiotomy care for postpartum mothers. This research uses a nursing process approach with five stages, including assessment, diagnosis, intervention, implementation and evaluation. The focus of this case study is health education on episiotomy wound care for postpartum mothers carried out at BPS Bd. Yuliati Gisting Tanggamus which starts from January-June 2023. Results: The nursing diagnosis states there is no difference between case I and case II. Cases I and II experienced a knowledge deficit, did not know the source of information, did not know enough about how to care for suture wounds on the perineum, did not receive an explanation from the midwife regarding caring for the perineum after giving birth, and did not look for information on the internet about care after giving birth. Conclusion: The results of the evaluation of the two participants after providing health education about episiotomy wound care found different results. Case I's knowledge deficit problem was partially resolved, and client II's knowledge deficit problem was completely resolved. Suggestion: Health services are expected to ensure that the patient's family is satisfied with health services, and can provide complete and good facilities and infrastructure.   Keywords: Episiotomy Wound; Health Education; Postpartum.   Pendahuluan: Episiotomi adalah sayatan yang dilakukan pada perineum sebelum proses melahirkan, dengan tujuan untuk memperlebar jalan lahir bayi agar persalinan menjadi lebih mudah. Perawatan perineum adalah upaya untuk memenuhi kebutuhan kesehatan pada area antara paha yang dibatasi oleh vulva dan anus pada ibu pasca melahirkan, selama periode antara kelahiran plasenta hingga organ genital kembali ke kondisi seperti sebelum kehamilan. Luka yang disebabkan oleh episiotomi atau laserasi membutuhkan waktu enam hingga tujuh hari untuk sembuh. Proses membersihkan area perineum dapat dilakukan dengan inspeksi perineum yang menyeluruh. Tujuan: Untuk memberikan edukasi kesehatan tentang perawatan luka episiotomi kepada ibu postpartum. Metode: Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kualitatif dengan rancangan studi kasus yang dilakukan pada dua orang pasien dengan diagnosis medis yang sama yaitu pendidikan kesehatan perawatan episiotomi pada ibu Postpartum. Penelitian ini menggunakan pendekatan proses keperawatan dengan lima tahapan, diantaranya yaitu pengkajian, diagnosa, intervensi, implementasi, dan evaluasi. Fokus studi kasus ini adalah edukasi kesehatan perawatan luka episiotomi pada ibu postpartum yang dilakukan di BPS Bd. Yuliati Gisting Tanggamus yang dimulai dari bulan Januari-Juni 2023. Hasil: Diagnosa keperawatan menyatakan tidak ada perbedaan antara kasus I dan kasus II. Kasus I dan II mengalami defisit pengetahuan, tidak mengenal sumber informasi, kurang mengetahui tentang cara perawatan luka jahitan pada perineum, belum mendapatkan penjelasan dari bidan mengenai perawatan perineum setelah melahirkan, dan tidak mencari informasi di internet mengenai perawatan setelah melahirkan. Simpulan: Hasil evaluasi kedua partisipan setelah pemberian edukasi kesehatan tentang perawatan luka episiotomi ditemukan hasil yang berbeda. Masalah defisit pengetahuan kasus I teratasi sebagian, dan masalah defisit pengetahuan klien II teratasi sepenuhnya. Saran: Pelayanan kesehatan diharapkan dapat memastikan bahwa keluarga pasien puas terhadap pelayanan kesehatan, dan dapat menyediakan sarana dan prasarana yang lengkap dan baik.   Kata Kunci: Edukasi Kesehatan; Luka Episiotomi; Postpartum.
Psikoedukasi untuk menurunkan kecemasan pada keluarga dan pasien dengan diabetes melitus Ikhwanudin, Ikhwanudin; Wulan, Sarinah Sri; Nuridah, Nuridah
JOURNAL OF Qualitative Health Research & Case Studies Reports Vol 4 No 1 (2024): July Edition 2024
Publisher : Published by: Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerjasama dengan Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/quilt.v4i1.468

Abstract

Background: Anxiety in diabetes mellitus patients due to chronic pain and impaired physical activity makes families feel the impact of the same problems in the process of treating diabetes mellitus patients. The anxiety that arises in the family is caused by the caregiver's concern about meeting the patient's main needs in carrying out daily physical activities. Purpose: To find out the description of families in caring for family members who suffer from diabetes mellitus and to know the benefits of psychoeducation as therapy to support the learning process about caring for chronic disease sufferers at home in reducing the burden and level of anxiety in families and diabetes mellitus patients. Methods: Qualitative research with a case study approach conducted on families and patients experiencing diabetes mellitus concerns. The research was carried out in Bernung, Pesawaran Regency in September 2023. The intervention was carried out directly once a week with a total of 6 sessions and held in 5 meetings. Results: Before providing psychoeducation, the results of the Self-Reported Question (SRQ) were obtained with a score of 9. This shows that the family experienced stress in caring for the patient, therefore deep breathing relaxation techniques and stress management as well as five finger hypnosis were given to the patient's family. After being given family psychoeducation for 5 meetings and measuring anxiety levels again using the CANSAS questionnaire, it was found that the family's anxiety level had decreased. Conclusion: There was a decrease in family anxiety before and after family psychoeducation was carried out. Suggestion: Implementing psychoeducation in families who care for patients with chronic illnesses can change the coping mechanisms that exist in the family, so that it can be used as a support for the learning process about caring for diabetes mellitus sufferers at home with the aim of caregivers feeling less anxious than before.   Keywords: Anxiety; Family Psychoeducation; Hypertension.   Pendahuluan: Kecemasan pada pasien diabetes melitus akibat ada nyeri kronik dan gangguan aktivitas fisik membuat keluarga merasakan dampak masalah yang sama dalam proses perawatan pasien diabetes melitus. Kecemasan yang muncul pada keluarga diakibatkan oleh adanya perasaan khawatir pada caregiver dalam memenuhi kebutuhan utama pasien dalam menjalankan aktivitas fisik sehari-hari. Tujuan:.Untuk mengetahui gambaran keluarga dalam merawat anggota keluarga yang menderita diabetes melitus dan mengetahui manfaat psikoedukasi sebagai terapi pendukung proses belajar tentang perawatan penderita penyakit kronis di rumah dalam menurunkan beban dan tingkat kecemasan pada keluarga dan pasien diabetes melitus. Metode: Penelitian kualitatif dengan pendekatan studi kasus yang dilakukan pada keluarga dan pasien yang mengalami kecemasan diabetes melitus. Penelitian dilaksanakan di Bernung Kabupaten Pesawaran pada bulan September 2023. Intervensi dilakukan secara langsung selama 1x per minggu dengan total 6 sesi dan dilakukan sebanyak 5 kali pertemuan. Hasil: Sebelum pemberian psikoedukasi hasil Self-Reported Question (SRQ) diperoleh nilai 9. Hal ini menunjukan bahwa keluarga mengalami stress dalam merawat pasien, oleh karena itu diberikan teknik relaksasi nafas dalam dan manajemen stress serta hypnosis lima jari kepada keluarga pasien. Setelah diberikan psikoedukasi keluarga selama 5x pertemuan dan dilakukan kembali pengukuran tingkat kecemasan menggunakan kuesioner CANSAS diperoleh bahwa tingkat kecemasan keluarga menurun. Simpulan: Adanya penurunan kecemasan keluarga sebelum dan setelah dilakukan psikoedukasi keluarga. Saran: Pelaksanaan psikoedukasi pada keluarga yang merawat pasien dengan penyakit kronis dapat merubah mekanisme koping yang ada pada keluarga, sehingga dapat dijadikan pendukung proses belajar tentang perawatan penderita penyakit diabetes melitus di rumah dengan tujuan Caregiver yang merasakan kecemasan dapat berkurang dari sebelumnya.   Kata kunci: Diabetes Melitus; Kecemasan; Psikoedukasi Keluarga.
Perbedaan efektifitas pemberian teh hijau dan bawang hitam (garlic) terhadap kadar gula darah pasien DM Herawati, Ade Tika; Rahayu, Sri Mulyati; Jamiyanti, Anggi
JOURNAL OF Qualitative Health Research & Case Studies Reports Vol 4 No 2 (2024): December Edition 2024
Publisher : Published by: Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerjasama dengan Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/quilt.v4i2.471

Abstract

Background: Increased blood sugar levels due to impaired glucose absorption due to insulin deficiency or reduced cell sensitivity to glucose absorption are the main symptoms in DM patients. The fluctuating increase and decrease in blood sugar depends on several factors, one of which is food consumption.  Various efforts are made to reduce blood sugar levels, such as adjusting diet, exercising, doing physical activity, consuming anti-DM drugs, and controlling blood sugar regularly. Diet management is done by reducing the amount of sweet foods, carbohydrates, or foods high in glucose. Apart from that, consuming food or herbal medicines such as consuming green tea and consuming black onions (Garlic) can reduce the blood sugar levels of DM patients. Purpose: To determine the effectiveness of giving green tea and black garlic in reducing blood sugar levels in DM patients. Method: This research was a Quasi-experimental with a control group which was carried out on two groups, namely model A group which was given green tea and model B group which was given black onions regularly for 1 month. Participants in this study were DM patients in the working area of ​​the Panyileukan Community Health Center who were actively prolanist. The intervention of giving green tea was carried out twice a day in the morning and evening, while the intervention was giving 2 cloves of black onion twice a day for 1 month. Data analysis using SPSS with Paired T-Test. Results: The average blood sugar level in model A group before giving green tea was 125.7 mg/dl and in model B group given black onion (Garlic) was 155.1 mg/dl. After being given the intervention, blood sugar levels decreased, in model A group the average blood sugar level was 118.3 mg/dl and in model B group it was 131.4 mg/dl. Based on the results of the analysis carried out on the two groups, it was found that blood sugar levels decreased. The average reduction in model A group was 7.4 mg/dl and in model B group was 23.7. Conclusion: Giving green tea and black garlic can reduce blood sugar levels in DM patients. However, of the two interventions, giving black garlic was more effective in reducing blood sugar levels in DM patients than giving green tea. Suggestion: DM sufferers are advised to consume black garlic as an additional alternative to lower blood sugar levels.   Keywords: Black Garlic; Blood Sugar Levels; Green Tea.   Pendahuluan: Peningkatan kadar Gula darah akibat terganggunya penyerapan glukosa akibat kekurangan insulin atau berkurangnya kepekaan sel terhadap penyerapan glukosa merupakan gejala utama pada pasien DM. Peningkatan dan penurunan gula darah secara fluktuatif tergantung dari beberapa faktor, salah satunya adalah konsumsi makanan.  Berbagai Upaya dilakukan untuk menurunkan kadar gula darah tersebut seperti pengaturan diet, olahraga , melakukan aktivitas fisik, konsumsi obat-obatan anti DM, dan kontrol gula darah secara rutin. Pengaturan diet dilakukan dengan mengurangi jumlah makanan manis, karbohidrat, atau makanan tinggi glukosa. Selain itu, mengkonsumsi makanan atau obat-obatan herbal seperti mengkonsumsi teh hijau dan mengkonsumsi bawang hitam (Garlic) dalam mengurangi kadar gula darah pasien DM. Tujuan: Untuk mengetahui efektifitas pemberian teh hijau dan bawang hitam dalam penurunan kadar gula darah pasien DM. Metode: Penelitian ini adalah Quasi eksperiment dengan grup kontrol yang dilakukan pada dua kelompok yaitu kelompok model A dengan pemberian teh hijau dan kelompok model B pemberian bawang hitam secara teratur selama 1 bulan. Partisipan pada penelitian ini adalah pasien DM yang berada di wilayah kerja Puskesmas Panyileukan yang aktif prolanis. Intervensi pemberian teh hijau dilakukan 2x sehari pagi dan sore hari, sedangkan intervensi pemberian bawang  hitam 2x sehari sebanyak 2 siung selama 1 bulan. Analisa data menggunakan SPSS dengan pengujian Paired T-Test.   Hasil: Rata-rata kadar gula darah pada kelompok model A sebelum dilakukan pemberian teh hijau adalah 125.7 mg/dl dan pada kelompok model B yang diberikan bawang hitam (Garlic) adalah 155.1 mg/dl. Setelah diberikan intervensi terjadi penurunan kadar gula darah, kelompok model A rata-rata kadar gula darah sebesar 118.3 mg/dl dan pada Kelompok model B adalah 131.4 mg/dl. Berdasarkan hasil analisis yang dilakukan pada kedua kelompok didapatkan penurunan kadar gula darah. Rata-rata penurunan pada kelompok model A sebesar 7.4 mg/dl dan pada kelompok model B sebesar 23.7. Simpulan: Pemberian teh hijau dan bawang hitam dapat menurunkan kadar gula darah pasien DM. Namun dari kedua intervensi tersebut, pemberian bawang hitam lebih efektif menurunkan kadar gula darah pada pasien DM dari pada pemberian teh hijau. Saran: Penderita DM disarankan untuk mengkonsumsi bawang hitam sebagai alternatif tambahan untuk menurunkan kadar gula darah.   Kata Kunci : Kadar Gula Darah; Teh Hijau; Bawang Hitam

Page 7 of 21 | Total Record : 208