cover
Contact Name
Endrizal
Contact Email
rizalpiliang84@gmail.com
Phone
+6281225197932
Journal Mail Official
Ethnography@isi-padangpanjang.ac.id
Editorial Address
https://journal.isi-padangpanjang.ac.id/index.php/Ethno/about/editorialTeam
Location
Kota padang panjang,
Sumatera barat
INDONESIA
Ethnography
ISSN : -     EISSN : 30311616     DOI : http://dx.doi.org/10.26887/ethnography
FOCUS Ethnography : Journal of Cultural Anthropology fokus menerbitkan artikel terkait isu-isu antropologi budaya dari hasil kajian riset/penelitian para akademisi, peneliti. SCOPE 1. Kajian Tradisi dan Ritual 2. Kajian Multikulturalisme 3. Kajian Gender dalam kebudayaan 4. Kajian Lingkungan dan Kebudayaan 5. Kajian Agama dan Budaya
Articles 26 Documents
"BAKAUA ADAT BAKATOMPAT" DI SUNGAI LANSEK SIJUNJUNG Yunita, Savina Vina; Gani, Maulid Hariri
Ethnography : Journal of Cultural Anthropology Vol 3, No 1 (2024): Vol 3, No 1 (2024): Januari - Juni 2024
Publisher : Institut Seni Indonesia Padangpanjang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26887/ethnography.v3i1.4268

Abstract

Tradisi merupakan suatu kebiasaan yang dilakukan oleh sekelompok masyarakat, dari zaman dahulu sampai sekarang yang dilakukan secara berulang dan akan teru dilestarikan sampai kapan pun, tradisi juga memiliki makna agama, adat dan sosial antar masyarakat yang ada.Bakau merupakan bentuk rasa syukur masyarakat atas hasil pertanian dan perkebunan.Bakatampat adalah suatu upacara yang dilkukan oleh suatu masyarakat sebagai ucapan rasa syukur masyarakat tersebut kepada Allah SWT dan para Datuak terdahulu atas hasil panen yang diberikan. Di dalam Bakatomapat itu ada beberapaq proses yang dilalui sebelum memasuki acara puncak Bakatompat tersebut. Teori yang digunakan dalam penelitian ini adalah teori Fungsional menurut Emile Durkheim (1858-1917). Metode penelitian saya menggunakan kualitatif. Kaitan dengan materi yang di angkat adalah fungsi dari tradisi tersebut bagi masyarakat Sungai Lansek dan juga merupakan keseimbangan kebutuhan bagi masyarakat Sungai Lansek, dengan cara mewawancarai narasumber yang terlibat didalam acara Bakatompat.
Kekerasan Terhadap Anak di Kecamatan Sangir Kabupaten Solok Selatan Provinsi Sumatera Barat Sawitri, Rini; Gani, Maulid Hariri; Tungga, Candrika Kumala
Ethnography : Journal of Cultural Anthropology Vol 3, No 1 (2024): Vol 3, No 1 (2024): Januari - Juni 2024
Publisher : Institut Seni Indonesia Padangpanjang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26887/ethnography.v3i1.4205

Abstract

Kekerasan terhadap anak merupakan permasalahan serius yang mempengaruhi jutaan anak diseluruh dunia. Penelitian ini berfokus pada faktor penyebab kekerasan pada anak, dampak kekerasan pada anak, jenis kekerasan yang dialami oleh anak dan upaya penanggulangan kekerasan anak di Kabupaten Solok Selatan Sumatera Barat. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menjelaskan faktor apa yang menjadi penyebab kekerasan pada anak, bagaimana dampak kekerasan pada anak, dan jenis kekerasan yang dialami oleh anak serta upaya penanggulangan kekerasan pada anak itu sendiri. Penelitian ini bersifat kualitatif dan menggunakan metode pengumpulan data observasi dan wawancara. Kekerasan terhadap anak memiliki dampak yang serius terhadap kesejahteraan dan perkembangan anak. Anak-anak merupakan calon generasi emas di masa depan. Kekerasan yang mereka alami di usia dini mampu menghancurkan masa depan mereka.
Pengaruh Politik Identitas Melalui Aksi Masa Terhadap Generasi Muda Dalam Pelaksanaan Pilgub Dki Jakarta Periode 2017-2022 Melani, Diva; Haq, Thariqul
Ethnography : Journal of Cultural Anthropology Vol 3, No 1 (2024): Vol 3, No 1 (2024): Januari - Juni 2024
Publisher : Institut Seni Indonesia Padangpanjang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26887/ethnography.v3i1.4301

Abstract

Eksploitasi politik identitas masih sering ditemukan melalui aksi massa, Hal ini akan membawa pengaruh negative terhadap kondisi sosial masyarakat termasuk generasi muda, sehingga pelaksanaan Pilgub 2017 yang aman dan demokratis menjadi tidak terwujud. Politik identitas merupakan sebuah alat politik suatu kelompok seperti etnis, suku, budaya, agama atau yang lainnya untuk tujuan tertentu, Tujuan penelitian ini adalah untuk mencegah adanya eksploitasi politik identitas melalui aksi massa. Kondisi tersebut tentunya menjadi tantangan bagi seluruh pelaksana Pemilu, agar melaksanakan berbagai tindakan sistematis, sehingga pelaksanaan Pilgub 2017 dapat berlangsung dengan aman dan demokratis. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kualitatif. Hasil penelitian ini adalah dapat memberikan usulan terkait dengan upaya penanganan eksploitasi politik identitas melalui aksi massa agar disintegrasi sosial di kalangan generasi muda dapat dicegah. Keberhasilan pelaksana Pemilu dalam menangani politik identitas melalui media sosial akan menghasilkan pelaksanaan pilgub 2017 yang aman dan demokratis, sehingga mampu menghasilkan wakil-wakil rakyat yang berkualitas. 
Tradisi Manulangi Natua- Tua Perantau Batak Toba Desa Sialang Baru Kecamatan Lubuk Dalam Kabupaten Siak Provinsi Riau Nadeak, Rachel Tree Anggun; Suharti, Suharti
Ethnography : Journal of Cultural Anthropology Vol 3, No 1 (2024): Vol 3, No 1 (2024): Januari - Juni 2024
Publisher : Institut Seni Indonesia Padangpanjang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26887/ethnography.v3i1.4262

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana bentuk prosesi Manulangi Natua-tua perantau Batak Toba, Desa Sialang Baru, Kecamatan Lubuk Dalam, Kabupaten Siak. Tujuan penelitian ini adalah guna mengetahui dan melihat bagaimana fungsi dan makna dari manulangi natua-tua pada masyarakat Batak Toba perantau. Tradisi manulangi di lingkungan sosial yang heterogen akan mengakibatkan perbedaan tradisi dalam upacara manulangi tradisional Batak Toba karena interaksi antara kelompok- kelompok sosial yang berbeda tradisinya. Penelitian ini menggunakan studi kualitatif yang menggambarkan kehidupan orang Batak Toba secara faktual dalam kehidupan berkeluarga, penulis menggunakan teknik pengumpulan data melalui pengamatan dan wawancara. Teori Fenomenologi Edmund Husserl dengan didukung konsepisasi menjadi pisau teori penelitian. Hasilnya, tradisi manulang memiliki makna sebagai bentuk penghormatan dan balasan budi seorang anak terhadap orang tua karena telah berhasil membesarkan anaknya. Tradisi ini telah menjadi salah satu dari rangkaian tradisi yang divalidasi dan disetujui oleh masyarakat suku Batak Toba itu sendiri.
Ketidakadilan Gender dalam Tradisi Mandoa di Kabupaten Padang Pariaman: Analisis Perbedaan Makan Antara Laki-Laki dan Perempuan di Kenagarian Toboh Ketek Rani, Wahyu Mustika; Tungga, Candrika Kumala
Ethnography : Journal of Cultural Anthropology Vol 3, No 1 (2024): Vol 3, No 1 (2024): Januari - Juni 2024
Publisher : Institut Seni Indonesia Padangpanjang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26887/ethnography.v3i1.4203

Abstract

Penelitian ini menjelaskan tentang “Ketidakadilan Gender Dalam Tradisi Mandoa Di Kabupaten Padang Pariaman: Analisis Perbedaan Makan Antara Laki-Laki dan Perempuan di Kenagarian Toboh Ketek”. Tujuan penelitian ini ialah guna mengetahui latar belakang perbedaan makan antara laki-laki dan perempuan pada tradisi mandoa masyarakat Toboh Ketek serta guna mengetahui bahwa dalam tradisi mandoa ditemukan ketidakadilan gender yang tidak disadari dan dinormalisasi oleh masyarakat. Teori yang digunakan dalam penelitian ini ialah teori Teori sosial konflik yang dikemukakan oleh Karl Marx. Metode yang digunakan dalam penelitian ini ialah metode kualitatif dengan teknik pengumpulan data yakni Observasi, wawancara, dan dokumentasi. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa ketidakadilan gender dalam tradisi mandoa di Kabupaten Padang Pariaman terjadi karena laki-laki adalah orang yang sangat dihormati sehingga dalam hal apapun akan lebih didahulukan dari pada perempuan. Selanjutnya bentuk ketidakadilan gender seperti apa yang ada tradisi mandoa dan cara adaptasi masyarakat dalam menghadapi ketidakdilan gender pada tradisi mandoa di Nagari Toboh Ketek. 
Tradisi Panen Niro pada Masyarakat Nagari Koto Tinggi Kecamatan Gunuang Omeh Kabupaten Lima Puluh Kota Provinsi Sumatera Barat Prima, Andika Dika; Suharti, Suharti; Yurisman, Yurisman
Ethnography : Journal of Cultural Anthropology Vol 3, No 2 (2024): Vol 3, No 2 (2024): Juli - Desember 2024
Publisher : Institut Seni Indonesia Padangpanjang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26887/ethnography.v3i2.4650

Abstract

Penelitian ini membahas tentang tradisi panen niro masyarakat Nagari Koto Tinggi Kecamatan Gunuang Omeh Kabupaten Lima Puluh Kota, Provinsi Sumatera Barat. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaimana proses dan fungsi tradisi dalam melakukan panen niro di Nagari Koto Tinggi. Di sini juga dipaparkan mengenai sejarah ritual panen niro. Teori yang digunakan dalam penelitian ini adalah teori Fungsionalisme dari Bronislaw Malinowski. Metode yang digunakan yaitu Metode Kualitatif, dengan teknik pengumpulan data obeservasi lapangan, wawancara dan dokumentasi. Teknik analisis data yang digunakan diantaranya, reduksi data, penyajian data, dan penarik kesimpulan. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa peneliti menemukan beberapa indikator dari objek ini yang pertama bagaimana prosesi tradisi Panen niro yang meliputi sebagai berikut: mengambil daun lalang di kri kanan ruas jalan, Monggua atau memukul dahan aren, memutuskan mayang atau buah kolang kaling, menampung aren. Indikator kedua dalam penelitian ini yaitu membahas bagaiaman bentuk fungsi dari tradisi panen niro yang memiliki fungsi sebagai berikut: fungsi ekonomi, fungsi sosial dan fungsi pewarisan budaya. Dalam tradisi panen niro prosesi yang dilakukan adalah prosesi yang dilakukan secara turun temurun dan sudah menjadi kearifan lokal masyarakat Koto Tinggi, tradisi panen niro juga memiliki banyak fungsi salah satunya sebagai peningkatan pendapatan masyarakat sebagai fungsi ekonomi, fungsi menjaga silaturahmi dan wujud gotong royong sebagai fungsi social, dan pelestarian budaya sebagai fungsi pewarisan budaya.
Makna Rokok Sebagai Kapalo Baso Di Lapau, Studi Kasus: Masyarakat Nagari Sikucur, Kecamatan V Koto Kampung Dalam Kabupaten Padang Pariaman Hakim, Atthoriq Chairul; Yulika, Febri; Suharti, Suharti
Ethnography : Journal of Cultural Anthropology Vol 3, No 2 (2024): Vol 3, No 2 (2024): Juli - Desember 2024
Publisher : Institut Seni Indonesia Padangpanjang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26887/ethnography.v3i2.4646

Abstract

Penelitian ini berjudul “Makna Rokok sebagai Kapalo Baso di Lapau Studi Kasus: Masyarakat Nagari Sikucur Kecamatan V Koto Kampung Dalam Kabupaten Padang Pariaman”. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan munculnya rokok sebagai kapalo baso serta pengetahuan masyarakat terhadap rokok, nilai dan maknanya bagi laki- laki nagari Sikucur yang mayoritasnya perokok. Teori yang digunakan adalah Interpretivisme Simbolik oleh Clifford Geertz. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kualitatif. Pengumpulan data dilakukan dengan metode observasi, wawancara, dokumentasi, dan studi literatur. Teknik analisis data dalam penelitian ini menggunakan prosedur diantaranya, pengumpulan data, mereduksi data, penyajian data, dan menarik kesimpulan. Hasil penelitian ini menunjukan, munculnya rokok sebagai kapalo baso dikarenakan pengetahuan ninik mamak terhadap rokok, lalu diimplementasikan pada musyawarah adat. Ada tiga faktor rokok sebagai kapalo baso tetap bertahan di Nagari Sikucur, diantaranya, rokok sebagai konsumsi candu masyarakat, lapau sebagai wadah sentral tempat terjadinya rokok sebagai kapalo baso, dan keterikatan masyarakat terhadap rokok, norma, dan budaya. Kondisi sosial budaya juga mempengaruhi semakin kuatnya budaya rokok ini, dan didukung oleh budaya- budaya yang sering dilakukan masyarakat Sikucur, seperti, gotong- royong, budaya Ka Lapau, pernikahan secara adat, mendo’a, dan kesenian. Ditemukan juga perbedaan penggunaan siriah dan rokok sebagai kapalo baso, di masa sekarang pada masyarakat Sikucur lebih sering menggunakan rokok, karena sifatnya yang fleksibel, dibanding siriah yang sudah jarang digunakan. Pengetahuan masyarakat Sikucur terhadap rokok sangat mendalam, dan mereka menganggap jika tidak dilakukan budaya ini akan berdampak terhadap fungsi- fungsi lapau, rusaknya hubungan sosial- kekerabatan, dan tidak terwariskan dengan baik nilai- nilai budaya. Ada beberapa nilai yang menjadi pegangan masyarakat Sikucur pada budaya rokok sebagai kapalo baso antara lain, nilai kekerabatan, normatif, sosial, dan tradisional.
Perubahan tradisi maantaan juadah dalam pesta pernikahan di desa toboh palabah kota pariaman Nurillahi, Adam Sakti; Suharti, Suharti; Endrizal, Endrizal
Ethnography : Journal of Cultural Anthropology Vol 3, No 2 (2024): Vol 3, No 2 (2024): Juli - Desember 2024
Publisher : Institut Seni Indonesia Padangpanjang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26887/ethnography.v3i2.4738

Abstract

Penelitian ini menjelaskan tentang “Perubahan Tradisi Maantaan Juadah Dalam Pesta Pernikahan Di Desa Toboh Palabah Kota Pariaman”. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan perubahan pelaksanaan tradisi maantan juadah serta bentuk perubahan tradisi maantaan juadah dan penyebab terjadinya perubahan. Teori yang digunakan dalam penelitian ini adalah Teori Perubahan Sosial dari Gillin. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kualitatif. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan metode observasi, wawancara dan dokumentasi. Teknik analisis data yang dilakukan dalam penelitian ini menggunakan langkah-langkah antara lain mengumpulkan data, mereduksi data, penyajian data dan menarik kesimpulan. Temuan dalam penelitian di atas dapat disimpulkan dalam penelitian ini bahwa tradisi maantaan juadah dipercaya oleh masyarakat memiliki makna tentang kehidupan manusia sesuai dengan ajaran agama islam. Pelaksanaan tradisi maantaan juadah pada pesta pernikahan terdiri dari tiga yaitu pembuatan juadah, pengantaran juadah dan basalam ninik mamak. Bentuk perubahan pada tradisi maantaan juadah dalam pernikahan terdiri dari pembuatan, transportasi, dan partisipasi masyarakat. Faktor yang menyebabkan terjadinya perubahan yaitu ekonomi, sosial dan budaya.
Makna Simbolik Kelambu Tujuh Lapis dalam Prosesi Pernikahan Suku Mukomuko di Kelurahan Bandar Ratu Provinsi Bengkulu Purwanti, Rani; Suharti, Suharti; Fajri, Emzia
Ethnography : Journal of Cultural Anthropology Vol 2, No 1 (2023): Vol 2, No 1 (2023): Januari - Juni 2023
Publisher : Institut Seni Indonesia Padangpanjang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26887/ethnography.v2i1.3361

Abstract

Skripsi ini merupakan hasil penelitian mengenai makna simbolik kelambu tujuh lapis dalam prosesi pernikahan Suku Mukomuko di Kelurahan Bandar Ratu Kabupaten Mukomuko. Metode penelitian yang digunakan dalam skripsi ini adalah metode kualitatif yang menggunakan pendekatan etnografi melalui metode analisis deskriptif kualitatif. Teori yang digunakan adalah interpretivisme simbolik. Teknik pengumpulan data menggunakan observasi, wawancara, studi pustaka, dan dokumentasi. Hasil penelitian mengungkapkan bahwa prosesi pernikahan Suku Mukomuko memiliki empat tahap yaitu acara batanyo, pertunangan, khatam Al-Qur’an dan pelaksanaan pernikahan. Kelambu tujuh lapis memiliki tujuh lapisan dimana lapisan pertama disebut tile yang memiliki makna sebagai perempuan sebagai makhluk yang rapuh, kemudian lapisan kedua hingga ketujuh yang disebut beludru memiliki makna sebagai penjagaan diri. Selain itu, kelambu tujuh lapis juga memiliki lima warna dasar kain yaitu warna putih, merah, hijau, kuning, dan merah muda yang penggunaan warnanya diacak pada keenam lapis kelambu kecuali warna putih yang wajib digunakan di lapisan pertama. Adapun fungsi kelambu tujuh lapis adalah sebagai penentu status sosial dan sebagai simbol seorang gadis.
Prosesi Perkawinan Angkap Di Kampung Pining Kecamatan Pining Kabupaten Gayo Lues Provinsi Aceh Sempurna, Anisa; Yurisman, Yurisman; Rahmi, Hijratur
Ethnography : Journal of Cultural Anthropology Vol 2, No 1 (2023): Vol 2, No 1 (2023): Januari - Juni 2023
Publisher : Institut Seni Indonesia Padangpanjang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26887/ethnography.v2i1.3352

Abstract

Penelitian ini mengkaji tentang “Prosesi perkawinan angkap di Kampung Pining Kecamatan Pining Kabupaten Gayo Lues Provinsi Aceh”. Metode yang digunakan adalah metode kualitatif dengan pendekatan etnografi, teknik pengumpulan datanya yaitu observasi, wawancara dan dokumentasi. Prosesi perkawinan di Kampung Pining terdiri dari tahap permulaan berupa: resek, rese, kono, dan tahap pelaksanaan berupa: nginte, beguru, naik rempele dan mah bai. Makna dalam prosesi perkawinan angkap  yaitu: 1. resek bermakna keinginan orang tua untuk melanjutkan kehidupan baru bagi anaknya. 2. Telangke (perantara) bermakna penghubung kedua keluarga mengenai tentang perjodohan. 3. Ikat lidah bermakna  agar calon pengantin tidak ingkar janji terhadap perjanjian. 4. Penyerahan mahar bermakna bukti berlanjutnya tahap pelaksanaan perkawinan. 5. Pemberian nasehat bermakna doa selamat bagi pengantin 6. Alang-alang bermakna rombongan keluarga pengantin laki-laki telah sampai tujuan 7. Air putih bermakna suci dalam membanagun kehidupan. Benda dalam prosesi perkawinan angkap yaitu: Batil bersap (cerana beserta perlengkapan sirih) bermakna pembuka pembicaraan dan penghormatan terhadap tamu yang hadir. Oros senare (beras 1 liter) bermakna sebagai penghidupan baik. Biji-bijian bermakna semoga pengantin berketurunan baik.

Page 2 of 3 | Total Record : 26