cover
Contact Name
Firmansyah
Contact Email
panipahanf@gmail.com
Phone
+6281233282834
Journal Mail Official
jitp@uinsa.ac.id
Editorial Address
A. Yani Street
Location
Kota surabaya,
Jawa timur
INDONESIA
Journal of Islamic Thought and Philosophy
ISSN : 28295625     EISSN : 28295323     DOI : https://doi.org/10.15642/jitp
Journal of Islamic Thought and Philosophy is a peer-reviewed journal by the Master of Aqidah and Islamic Philosophy Study Program at UIN Sunan Ampel Surabaya. This journal provides scientific publications for research related to the themes of Islamic thought and philosophy. Taking a broad view of the subject, the journal brings together all the disciplinary perspectives of Islamic scholarship and philosophy. Publishes peer-reviewed articles on historical, cultural, social, philosophical, social media, anthropological, literary, artistic and other aspects of Islamic theology, Islamic Philosophy, Islamic Theology, Islamic Thought. By promoting an understanding of diverse Islamic Theology, Islamic Philosophy, and Islamic Thought in thought, practice and in its cultural and social context, the journal aims to become one of the world’s leading platforms for new discoveries. and discussions from the fields of Islamic Thought, Islamic theology and Philosophy.
Articles 137 Documents
Maqāṣid Syarī'ah dan Pencegahan Perkawinan Dini: Studi tentang Implementasi Bimbingan Remaja Usia Sekolah di Kantor Urusan Agama Kecamatan Solokuro Janeko, Janeko; Arifayanti, Reza
Journal of Islamic Thought and Philosophy Vol. 5 No. 3 (2026): September
Publisher : Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15642/jitp.2026.5.3.425-441

Abstract

Penelitian ini menganalisis peran Kantor Urusan Agama (KUA) Kecamatan Solokuro dalam pelaksanaan Bimbingan Remaja Usia Sekolah (BRUS) sebagai upaya pencegahan perkawinan dini serta relevansinya dengan perspektif Maqāṣid Syarī'ah. Kajian ini berangkat dari tingginya angka perkawinan dini yang belum dapat diatasi hanya melalui pendekatan regulatif sehingga diperlukan strategi preventif berbasis pembinaan remaja. Penelitian menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi kasus. Data diperoleh melalui wawancara, observasi, dan dokumentasi, kemudian di­ana­lisis menggunakan model interaktif Miles, Huberman, dan Saldaña. Hasil pene­li­tian menunjukkan bahwa KUA Kecamatan Solokuro menjalankan fungsi edukatif, preventif, konsultatif, dan kolaboratif melalui BRUS, dengan strategi berupa pendekatan edukatif, partisipatif, penguatan karakter, pengembangan life skills, serta sinergi dengan sekolah dan penyuluh agama. Dalam perspektif Maqāṣid Syarī'ah, BRUS berkontribusi terhadap perlindungan agama, jiwa, akal, keturunan, dan harta sehingga menjadi instrumen pembangunan keluarga yang berorientasi pada kemaslahatan. Secara teoretis, penelitian ini memperluas penerapan kajian Maqāṣid Syarī'ah dengan menunjukkan bahwa prinsip perlindungan tersebut tidak hanya relevan dalam penetapan hukum perkawinan, tetapi juga dapat digunakan sebagai kerangka analisis terhadap program preventif dan edukatif dalam mempersiapkan generasi sebelum memasuki kehidupan berkeluarga.
Merekonstruksi Etika Digital Remaja Muslim: Analisis Maqasid Syari’ah pada Fenomena FOMO dan Flexing di Media Sosial Tarmidzi, Naeli Nafis Syahda Tarmidzi; Faizah, Putri Nurul; Saputra, Egi Bayu
Journal of Islamic Thought and Philosophy Vol. 5 No. 3 (2026): September
Publisher : Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15642/jitp.2026.5.3.410-424

Abstract

Penelitian ini meneliti tentang fenomena yang marak terjadi dikalangan remaja pada saat ini yaitu, FOMO (Fear of Missing Out) dan gaya hidup flexing yang melanda kalangan remaja, khususnya remaja Muslim pengguna aktif media sosial. Penelitian ini menggunakan perspektif Maqasid Syariah khususnya Hifz al-Nafs dan Hifz al-Mal sebagai kerangka analisis untuk fenomena FOMO dan flexing ini. Kecemasan akademis penelitian ini datang dari realita yang terjadi, bahwa kajian pendidikan Islam khususnya di Indonesia masih berkonsentrasi pada topik-topik klasik, sehingga belum seutuhnya menjadi landasan nilai bagi remaja Muslim dalam menghadapi tantangan zaman dalam ruang digital. Penelitian ini merupakan penelitian kepustakaan dengan menggunakan pendekatan normatif analitis, mengamati data statistik dan literatur psikologi sosial berkaitan dengan fenomena FOMO dan flexing, kemudian mengaitkan dengan prinsip Islam yaitu, Maqasid Syariah dengan memadukan antara literatur klasik dan juga kontemporer. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa FOMO merupakan ancaman nyata yang mempengaruhi kesehatan jiwa yang kemudian menimbulkan dampak kuangnya kepercayaam diri, cemas, dan krisis identitas, sementara flexing adalah wujud nyata fenomena kontemporer yang kemunculannya dilatarbelakangi oleh FOMO, sehingga sangat memerlukan tanggapan pendidikan Islam yang terintegrasi oleh sifat qana’ah, tawakkal, dan literasi keuangan digital.
Negotiative Hermeneutics as a Framework for Interpreting Religious Arabic Texts: Reconstructing Khaled M. Abou El Fadl's Perspective Siregar, Syahri Ramadhan; Nasiruddin, Moch; Sumbulah, Umi; Haris, Abdul
Journal of Islamic Thought and Philosophy Vol. 5 No. 3 (2026): September
Publisher : Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15642/jitp.2026.5.3.394-409

Abstract

This study examines Khaled M. Abou El Fadl’s negotiated hermeneutics in relation to the interpretive character of Arabic religious texts. Previous studies have focused primarily on Islamic law, religious authority, and the interpretation of the Qur’an and Hadith, while the relationship between negotiated hermeneutics and the linguistic and interpretive characteristics of Arabic religious texts has received relatively limited attention. This study employs a literature-based method using a conceptual approach and a descriptive-analytical framework, focusing primarily on an analysis of Speaking in God’s Name: Islamic Law, Authority and Women and other relevant scholarly literature. The findings indicate that negotiated hermeneutics can be reconstructed as a conceptual framework for explaining the openness of meaning in Arabic religious texts. This openness is associated with linguistic complexity, the historicity of texts, and the reader’s involvement in the construction of meaning. The study makes a theoretical contribution by connecting this interpretive openness with dialogical, contextual, and ethical principles while preserving textual authority against tendencies toward authoritarianism and interpretive relativism.
Hierarki Otoritas Epistemik dalam Akidah Islam: Komparasi Akal Burhani, Nash, dan Syuhud Syukur, Muhammad; Zulkifli, Muhammad Yusuf
Journal of Islamic Thought and Philosophy Vol. 5 No. 3 (2026): September
Publisher : Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15642/jitp.2026.5.3.512-530

Abstract

Perdebatan tentang sumber dan otoritas pengetahuan dalam akidah Islam me­li­batkan tiga tradisi epistemologis utama, yaitu filsafat, teologi, dan tasawuf, yang mena­warkan perangkat berbeda untuk mencapai keyakinan. Meskipun kajian menge­nai epistemologi burhani, nash, dan syuhud irfani telah berkembang, penelitian terdahulu cenderung membahas ketiganya secara parsial dan belum menguji hujjiyyah masing-masing dalam pembuktian akidah secara komparatif. Kekosongan tersebut menim­bul­kan persoalan mendasar mengenai apakah ketiga alat pengetahuan tersebut memiliki kekuatan epistemik yang setara atau terdapat perbedaan hierarkis dalam otoritasnya. Dengan menggunakan metode kualitatif terhadap karya primer pendukung utama tigamazhab tersebut serta literatur kontemporer, penelitian ini menemukan: pertama, akal burhani memiliki otoritas inheren (hujjiyyah dzatiyyah) karena mampu mengung­kap realitas tanpa dalil lain; kedua, nas agama menghadapi tiga problem utama, otentisitas sumber (shudur), dan indikasi makna (dilalah) dan arah (jihah) sehingga bersifat spekulatif (zhanni); ketiga, penyaksian hati (mukasyafah) tidak memiliki timbangan objektif untuk membedakan penyingkapan Ilahi dari bisikan setan. Akal burhani merupakan fondasi epistemik bagi seluruh alat pengetahuan lainnya, semen­tara naql dan syuhud bersifat subsidier. Kebaruan adalah sintesis epistemologis yang menawarkan hierarki otoritas pengetahuan dengan menempatkan akal burhani sebagai dalil primer dalam metodologi baru studi akidah kontemporer.
Tafsir Lughawi dan Batas Epistemologis Penafsiran Al-Qur’an: Kritik Metodologis dan Relevansi Pendekatan Hermeneutik Palahudin, Palahudin; Erlina, Elin; Muttaqin, Sufyan
Journal of Islamic Thought and Philosophy Vol. 5 No. 3 (2026): September
Publisher : Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15642/jitp.2026.5.3.442-456

Abstract

Artikel ini mengkaji relevansi tafsīr lughawī dalam memahami Al-Qur’an secara kontekstual. Tafsir Lughawi menekankan pemaknaan ayat berdasarkan kaidah bahasa Arab, tetapi penggunaan pendekatan secara harfiah berpotensi mengabaikan konteks sosial, historis, dan tujuan syar‘i ayat. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif-deskriptif dengan metode studi kepustakaan (library research). Data diperoleh dari kitab-kitab tafsir bercorak lughawī dan literatur metodologi tafsir, kemudian dianalisis melalui analisis isi dan interpretasi historis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tafsir Lughawi tetap penting karena Al-Qur’an diturunkan dalam bahasa Arab sehingga pemahaman terhadap aspek kebahasaan menjadi dasar dalam penafsiran. Namun, pendekatan ini memiliki keterbatasan dalam menjelaskan konteks sosial suatu hukum, memahami kondisi historis masyarakat penerima wahyu, dan menemukan nilai universal dari ayat yang bersifat partikular. Karena itu, tafsir Lughawi perlu dipadukan dengan pendekatan sosiologis, hermeneutis, dan filosofis agar penafsiran Al-Qur’an tidak hanya berorientasi pada makna bahasa, tetapi juga mampu menjawab persoalan sosial, moral, dan spiritual secara kontekstual.
Epistemologi Adabi-Ijtima’i dalam Tafsir Al-Azhar: Kekuatan, Kerentanan, dan Perbandingannya dengan Tafsir Al-Mishbah Romlah, Ai
Journal of Islamic Thought and Philosophy Vol. 5 No. 3 (2026): September
Publisher : Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15642/jitp.2026.5.3.457-472

Abstract

Artikel ini mengkaji problem epistemologis dalam kontekstualisasi adabi-ijtima‘i pada Tafsir Al-Azhar karya Hamka, terutama bagaimana strategi interpretatif yang sama dapat menghasilkan kekuatan sekaligus kerentanan epistemik. Tafsir Al-Azhar merepresentasikan corak adabi-ijtima‘i melalui pengaitan makna ayat dengan rea­li­­tas sosial, penggunaan bahasa figuratif, peribahasa, dan kontekstualisasi historis. Pene­li­tian ini merupakan studi kepustakaan dengan Tafsir Al-Azhar sebagai sumber data primer, yang dianalisis melalui close reading menggunakan enam indikator epis­te­mik, yaitu validitas, justifikasi, otoritas, disiplin tekstual, positionality, dan reflek­sivitas. Te­mu­an pada Tafsir Al-Azhar kemudian dibandingkan dengan Tafsir Al-Mishbah meng­gu­nakan indikator yang identik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kekuatan epis­temik Hamka berupa aksesibilitas, kontekstualisasi, dan orientasi reformis secara kon­sisten berkelindan dengan kerentanan berupa selektivitas budaya, perluasan ana­logis, dan positionality sosial-politik. Dengan demikian, kekuatan dan kerentanan epis­te­mik tersebut bukan dua karakter yang berdiri sendiri, melainkan konsekuensi dari meka­nis­me interpretatif yang sama. Temuan ini menunjukkan bahwa kontekstualisasi adabi-ijti­ma‘i tidak hanya memperkuat relevansi tafsir terhadap realitas sosial, tetapi juga mem­bentuk kondisi epistemik yang memungkinkan munculnya keterbatasan dalam se­lek­­si budaya, perluasan analogis, dan pembacaan yang dipengaruhi positionality penafsir.
Profesionalisasi Keagamaan dan Konstruksi Otoritas Perempuan dalam Gerakan Salafi Kontemporer di Indonesia Firdaus, Moh. Fiqih
Journal of Islamic Thought and Philosophy Vol. 5 No. 3 (2026): September
Publisher : Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15642/jitp.2026.5.3.492-511

Abstract

Penelitian terdahulu mengenai perempuan Salafi di Indonesia terutama berfokus pada domestikasi, segregasi gender, dan agensi perempuan, sementara perhatian terhadap proses terbentuknya profesionalisasi dan otoritas keagamaan masih terbatas. Artikel ini menganalisis transformasi perempuan Salafi dari peran domestik menuju profesionalisasi keagamaan serta bagaimana proses tersebut membentuk otoritas keagamaan mereka. Dengan menggunakan pendekatan kualitatif melalui studi kepustakaan dan analisis tematik, penelitian ini menemukan bahwa pendidikan memungkinkan perempuan Salafi memperoleh modal keagamaan yang kemudian mendorong profesionalisasi, memperkuat pengakuan sosial, dan pada akhirnya membentuk otoritas keagamaan dalam komunitas Salafi. Pendidikan memberikan pengetahuan keislaman, pengalaman kelembagaan, dan legitimasi akademik yang memungkinkan perempuan menjalankan peran sebagai pendakwah, pendidik keagamaan, dan pengawas lembaga. Melalui peran tersebut, mereka memperoleh pengakuan sosial yang memperkuat legitimasi sebagai aktor keagamaan. Artikel ini berkontribusi pada kajian otoritas keagamaan perempuan dengan menunjukkan bagaimana pendidikan dan profesionalisasi mengubah modal keagamaan menjadi otoritas yang diakui secara sosial dalam gerakan Islam konservatif di Indonesia.