cover
Contact Name
Muhammad Asy'ari
Contact Email
m.asyari@litpam.com
Phone
+6285338219596
Journal Mail Official
m.asyari@litpam.com
Editorial Address
Perumahan Lingkar Permai Blok Q4 LK Sembalun, Tanjung Karang Sekarbela, Mataram, NTB
Location
Kota mataram,
Nusa tenggara barat
INDONESIA
Journal of Authentic Research
ISSN : -     EISSN : 28283724     DOI : 10.36312/jar
Journal of Authentic Research (ISSN. 2828-3724) is an open-access journal that published by Lembaga Penelitian dan Pemberdayaan Masyarakat (LITPAM). This journal publishes research papers in the field of social science and natural science. Journal of Authentic Research publish twice a year (bianually) in January and July. This journal has OAI address: https://journal-center.litpam.com/index.php/jar/oai
Arjuna Subject : Umum - Umum
Articles 769 Documents
Profil Multikomponen Kebugaran Jasmani Siswa Putra Kelas VIII Menggunakan TKSI Fase D Ihsan, Muhammad; Sepriadi, Sepriadi; Erianti, Erianti; Antoni, Despita
Journal of Authentic Research Vol. 5 No. 3 (2026): August
Publisher : LITPAM

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36312/jar.v5i3.6133

Abstract

Pelaporan kebugaran siswa hanya melalui skor komposit dapat menutupi kebutuhan latihan pada komponen tertentu. Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan kebugaran jasmani keseluruhan dan variasi profil lima komponen Tes Kebugaran Siswa Indonesia (TKSI) Fase D pada siswa putra kelas VIII SMP Muhammadiyah 6 Padang. Penelitian menggunakan desain deskriptif potong lintang. Dari 35 siswa putra, 22 siswa yang hadir dan menyelesaikan seluruh tes dianalisis sebagai sampel tersedia, sedangkan 13 siswa tidak hadir dan tidak diuji ulang. Instrumen meliputi koordinasi mata-tangan, sit-up 30 detik, standing broad jump, T-test kelincahan, dan bleep test. Data mentah diringkas dengan rerata dan simpangan baku atau median dan rentang, sedangkan skor ordinal 1-5 dilaporkan melalui median, rentang interkuartil, frekuensi, dan persentase. Skor total rata-rata adalah 14,59 ± 3,11 dengan median 15 dan rentang 9-20, sehingga kelompok berada pada kategori sedang. Distribusi peserta terdiri atas 18,18% kategori baik, 40,91% sedang, 36,36% kurang, dan 4,55% kurang sekali; tidak ada kategori baik sekali. Proporsi skor kurang-kurang sekali tertinggi ditemukan pada T-test kelincahan (54,55%), standing broad jump (40,91%), dan sit-up (36,36%), sedangkan 95,45% hasil bleep test berada pada kategori sedang atau lebih baik. Temuan menunjukkan variasi deskriptif antarkomponen yang tidak terlihat apabila interpretasi berhenti pada skor total. Hasil ini merupakan baseline kontekstual bagi peserta yang diukur dan dapat digunakan untuk merancang serta mengevaluasi pembelajaran PJOK yang lebih terarah, dengan tetap mempertimbangkan keterbatasan sampel nonacak dan satu sekolah. Reporting student fitness only as a composite score may conceal component-specific training needs. This study described overall physical fitness and the profile variation of five Indonesian Student Fitness Test (TKSI) Phase D components among eighth-grade male students at SMP Muhammadiyah 6 Padang. A cross-sectional descriptive design was employed. Of 35 eligible male students, 22 who attended and completed all tests were analyzed as an available-case sample; 13 students were absent and were not reassessed. The battery comprised hand-eye coordination, 30-second sit-ups, standing broad jump, the agility T-test, and the bleep test. Raw outcomes were summarized using means and standard deviations or medians and ranges, whereas ordinal scores of 1-5 were reported using medians, interquartile ranges, frequencies, and percentages. The mean total score was 14.59 ± 3.11, with a median of 15 and a range of 9-20, placing the measured group in the moderate category. The distribution included 18.18% good, 40.91% moderate, 36.36% poor, and 4.55% very poor; no participant reached the very good category. The largest proportions of poor-very poor scores occurred in the agility T-test (54.55%), standing broad jump (40.91%), and sit-ups (36.36%), while 95.45% of bleep-test results were moderate or better. These findings indicate descriptive variation across components that would be overlooked if interpretation relied only on the total score. The results provide a contextual baseline for the measured participants and may inform more targeted physical education planning and follow-up assessment, while acknowledging the non-random, single-school sample.  
Evaluasi Eksperimental Respons Sistem Kendali Level Air Satu Tangki Menggunakan Fuzzy Sugeno Orde-0 Berbasis Arduino Surya, Agung Okta; Agustiarmi, Winda; Zulwisli, Zulwisli; Diputra, Yudhi
Journal of Authentic Research Vol. 5 No. 3 (2026): August
Publisher : LITPAM

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36312/jar.v5i3.6146

Abstract

Penelitian ini mengevaluasi secara kritis respons prototipe kendali level air satu tangki berbasis Arduino Uno dan Fuzzy Sugeno Orde-0. Sistem menggunakan sensor ultrasonik HC-SR04, driver L298N, pompa DC 12 V, dua masukan berupa error dan perubahan error, serta keluaran PWM 0-255. Data yang dapat diaudit terdiri atas lima ulangan awal pada setpoint 10 cm dan 17 cm serta satu rekaman eksploratif setelah penyetelan manual pada masing-masing setpoint. Untuk menghindari bias interpretasi, kesalahan kendali berbasis sensor dibedakan dari kesalahan terhadap pengukuran manual dan selisih sensor-manual. Pada setpoint 10 cm, rerata pembacaan sensor adalah 9,24 ± 0,33 cm dengan mean absolute error (MAE) 0,76 cm atau 7,60%, sedangkan pengukuran manual adalah 10,80 ± 0,84 cm dengan MAE 0,80 cm atau 8,00%. Selisih absolut sensor-manual mencapai rata-rata 1,56 cm. Pada setpoint 17 cm, rerata pembacaan sensor adalah 16,68 ± 0,43 cm dengan MAE 0,36 cm atau 2,12%, sedangkan pengukuran manual adalah 16,50 ± 0,87 cm dengan MAE 0,50 cm atau 2,94%; selisih absolut sensor-manual rata-rata 0,30 cm. Pada rekaman eksploratif setelah penyetelan, level 10 cm berakhir pada 9,6 cm pada detik ke-85,2 tanpa overshoot yang teramati, sedangkan pengujian 17 cm berakhir pada 11,8 cm pada detik ke-126,6 sehingga belum mencapai kondisi tunak. Hasil ini menunjukkan fungsi dasar kontroler dalam memodulasi PWM, tetapi belum membuktikan perbaikan performa yang konsisten. Validasi lebih lanjut memerlukan kalibrasi sensor, dokumentasi lengkap fungsi keanggotaan dan rule base, data deret waktu mentah, serta pengujian berulang dengan kondisi dan durasi yang setara. This study critically evaluates the response of an Arduino Uno-based single-tank water-level control prototype using a zero-order Sugeno fuzzy controller. The system comprises an HC-SR04 ultrasonic sensor, an L298N driver, a 12 V DC pump, error and change-in-error inputs, and a 0-255 PWM output. Auditable data include five initial trials at the 10 cm and 17 cm setpoints and one exploratory post-tuning record for each setpoint. To prevent misleading interpretation, sensor-based control error was separated from manual-reference error and sensor-manual discrepancy. At 10 cm, the mean sensor reading was 9.24 ± 0.33 cm, with a mean absolute error (MAE) of 0.76 cm (7.60%); the manual reading was 10.80 ± 0.84 cm, with an MAE of 0.80 cm (8.00%). The mean absolute sensor-manual discrepancy was 1.56 cm. At 17 cm, the mean sensor reading was 16.68 ± 0.43 cm, with an MAE of 0.36 cm (2.12%); the manual reading was 16.50 ± 0.87 cm, with an MAE of 0.50 cm (2.94%), and the mean absolute sensor-manual discrepancy was 0.30 cm. In the exploratory tuned records, the 10 cm test ended at 9.6 cm at 85.2 s without an observed overshoot, whereas the 17 cm test ended at 11.8 cm at 126.6 s and therefore had not reached steady state. The results confirm basic PWM modulation functionality but do not establish consistent performance improvement. Further validation requires sensor calibration, complete membership-function and rule-base documentation, raw time-series data, and repeated matched-condition testing.
Efektivitas Model PBL Berbantuan Media Smart Box Terhadap Peningkatan Hasil Belajar IPAS Siswa Kelas V Sekolah Dasar Luafifah, Nazzekhatul; Purnamasari, Veryliana; Artharina, Filia Prima
Journal of Authentic Research Vol. 5 No. 3 (2026): August
Publisher : LITPAM

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36312/jar.v5i3.6163

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menguji efektivitas model pembelajaran Problem Based Learning (PBL) berbantuan media Smart Box terhadap peningkatan hasil belajar IPAS siswa kelas V sekolah dasar. Metode yang digunakan adalah pendekatan kuantitatif dengan desain Pre-Experimental tipe One-Group Pretest-Posttest Design yang melibatkan 19 siswa kelas V SDN Rejosari 03 Semarang. Pengumpulan data dilakukan melalui tes (Pretest dan Posttest), observasi aktivitas siswa, dan angket respon siswa. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata nilai siswa meningkat dari 58,68 menjadi 81,57 (selisih 22,89 poin), dan persentase ketuntasan belajar naik dari 26,32% (5 siswa) menjadi 78,95% (15 siswa). Temuan penelitian menunjukkan bahwa penerapan model PBL berbantuan media Smart Box memberikan dampak positif terhadap peningkatan hasil belajar siswa. Peningkatan ini terjadi karena model PBL mendorong siswa untuk aktif memecahkan masalah kontekstual yang dekat dengan kehidupan sehari-hari, sehingga siswa tidak hanya menghafal materi tetapi benar-benar memahami konsep melalui proses berpikir kritis dan diskusi kelompok. Selain itu, media Smart Box berperan penting dalam membantu siswa memahami materi yang abstrak dengan menyajikan kartu materi, gambar, dan aktivitas eksploratif yang konkret dan interaktif, sehingga siswa dapat belajar melalui pengalaman langsung. Hasil uji paired sample t-test menunjukkan thitung (6,4826) > ttabel (2,1009) pada taraf signifikansi 5%, yang membuktikan bahwa peningkatan tersebut bermakna secara statistik, sementara hasil uji N-Gain sebesar 56,57% dengan skor gain 0,57 menunjukkan tingkat efektivitas yang tergolong cukup efektif. Aktivitas siswa selama pembelajaran juga sangat baik dengan skor observasi 82,5 (kategori sangat baik), dan seluruh siswa (100%) memberikan tanggapan positif. Dengan demikian, model PBL berbantuan Smart Box terbukti efektif dalam meningkatkan hasil belajar IPAS siswa kelas V SDN Rejosari 03 Semarang pada materi perubahan pada diri (masa pubertas).
Dominasi Computational Thinking atas Motivasi dalam Kemampuan Pemrograman C Siswa SMA Yusuffa, Alfajar; Marta , Riskayeni; Delianti, Vera Irma; Darni, Resmi
Journal of Authentic Research Vol. 5 No. 3 (2026): August
Publisher : LITPAM

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36312/jar.v5i3.6173

Abstract

Kemampuan pemrograman tidak hanya ditentukan oleh penguasaan sintaks, tetapi juga oleh cara siswa memformulasikan masalah dan mempertahankan usaha ketika menghadapi kesalahan program. Penelitian ini bertujuan menguji kontribusi computational thinking skill dan motivasi belajar terhadap kemampuan pemrograman Bahasa C siswa SMA, sekaligus mengidentifikasi prediktor yang benar-benar dominan. Penelitian menggunakan desain kuantitatif korelasional ex post facto pada 138 siswa kelas XI SMA Negeri 1 Kubung yang dipilih secara proportionate stratified random sampling dari populasi 203 siswa. Computational thinking diukur dengan 13 soal objektif, motivasi dengan 22 pernyataan skala Likert, dan kemampuan pemrograman dengan 18 soal objektif; koefisien reliabilitas masing-masing sebesar 0,884, 0,852, dan 0,897. Hasil menunjukkan computational thinking berkorelasi sangat kuat dengan kemampuan pemrograman (r = 0,910; p < 0,001; R² = 0,829), sedangkan motivasi belajar tidak berkorelasi signifikan (r = -0,107; p = 0,210). Model simultan signifikan, F(2,135) = 331,81; p < 0,001, dengan R² = 0,831, tetapi penambahan motivasi hanya meningkatkan daya jelas model sebesar 0,2% (ΔR² = 0,002) dan koefisiennya tetap tidak signifikan (β = -0,044; p = 0,212). Kebaruan penelitian terletak pada bukti bahwa signifikansi model gabungan hampir sepenuhnya digerakkan oleh computational thinking, bukan motivasi. Temuan ini menegaskan perlunya pembelajaran Bahasa C yang memprioritaskan dekomposisi, pengenalan pola, abstraksi, perancangan algoritma, tracing, dan debugging, tanpa menafsirkan motivasi sebagai penyebab langsung capaian pemrograman. Programming ability depends not only on syntax mastery but also on how students formulate problems and sustain effort when code fails. This study examined the contributions of computational thinking skills and learning motivation to high school students’ C programming ability and identified the genuinely dominant predictor. A quantitative ex post facto correlational design involved 138 eleventh-grade students from SMA Negeri 1 Kubung, proportionally stratified and randomly selected from a population of 203. Computational thinking was measured using 13 objective items, motivation using 22 Likert statements, and programming ability using 18 objective items; reliability coefficients were 0.884, 0.852, and 0.897, respectively. Computational thinking showed a very strong correlation with programming ability (r = 0.910, p < 0.001, R² = 0.829), whereas learning motivation was not significantly related (r = -0.107, p = 0.210). The simultaneous model was significant, F(2,135) = 331.81, p < 0.001, with R² = 0.831; however, adding motivation increased explained variance by only 0.2% (ΔR² = 0.002), and its coefficient remained nonsignificant (β = -0.044, p = 0.212). The study’s novelty is evidence that the significant joint model was driven almost entirely by computational thinking rather than motivation. C programming instruction should therefore prioritize decomposition, pattern recognition, abstraction, algorithm design, tracing, and debugging while avoiding causal interpretations from correlational data.    
Peningkatan Hasil Belajar Bangun Datar Menggunakan Model Problem Based Learning Berbantuan Quizizz  Di Kelas III SDN 16 Air Tawar Timur Putri, Masya Rizki; Masniladevi, Masniladevi; Salmaini, Salmaini; Suciana, Fadila
Journal of Authentic Research Vol. 5 No. 3 (2026): August
Publisher : LITPAM

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36312/jar.v5i3.6175

Abstract

Rendahnya keterlibatan dan hasil belajar matematika pada materi bangun datar menuntut pembelajaran yang menghubungkan masalah kontekstual, kerja kelompok, dan umpan balik cepat. Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan peningkatan kualitas Rencana Pelaksanaan Pembelajaran Mendalam (RPPM), aktivitas guru dan peserta didik, serta hasil belajar melalui Problem-Based Learning (PBL) berbantuan Quizizz. Penelitian tindakan kelas kolaboratif dilaksanakan dalam dua siklus dan tiga pertemuan pada 28 peserta didik kelas III SDN 16 Air Tawar Timur, Kota Padang. Data dikumpulkan menggunakan rubrik pengamatan RPPM, lembar observasi aktivitas guru dan peserta didik, jurnal sikap, tes pengetahuan, serta rubrik keterampilan. Data dianalisis secara deskriptif melalui reduksi-refleksi kualitatif dan perhitungan persentase kuantitatif. Kualitas RPPM meningkat dari 70,00% pada pertemuan pertama menjadi 85,00% pada pertemuan kedua dan 92,50% pada siklus II. Aktivitas guru meningkat dari 71,40% menjadi 96,42%, sedangkan aktivitas peserta didik meningkat dari 75,00% menjadi 96,42%. Rata-rata pengetahuan naik dari kondisi awal 63,82 menjadi 88,03, dan ketuntasan klasikal meningkat dari 25,00% menjadi 85,71%. Sikap mencapai 84,34% dan keterampilan 86,60% pada siklus II. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa model Problem Based Learning berbantuan Quizizz dapat meningkatkan hasil belajar Murid pada pembelajaran Matematika kelas III SDN 16 Air Tawar Timur. The low level of student engagement and mathematics learning outcomes in plane figure topics requires learning approaches that integrate contextual problems, collaborative activities, and immediate feedback. This study aims to describe the improvement of the quality of Deep Learning Lesson Plans (Rencana Pelaksanaan Pembelajaran Mendalam/RPPM), teacher and student activities, and learning outcomes through the implementation of Problem-Based Learning (PBL) assisted by Quizizz. This collaborative classroom action research was conducted in two cycles consisting of three meetings involving 28 third-grade students at SDN 16 Air Tawar Timur, Padang City. Data were collected using RPPM observation rubrics, teacher and student activity observation sheets, attitude journals, knowledge tests, and skill assessment rubrics. The data were analyzed descriptively through qualitative reduction-reflection analysis and quantitative percentage calculations. The quality of RPPM improved from 70.00% in the first meeting to 85.00% in the second meeting and reached 92.50% in Cycle II. Teacher activity increased from 71.40% to 96.42%, while student activity increased from 75.00% to 96.42%. The average knowledge score increased from the initial condition of 63.82 to 88.03, and classical mastery improved from 25.00% to 85.71%. Students’ attitudes reached 84.34%, and their skills achieved 86.60% in Cycle II. Therefore, it can be concluded that the Problem-Based Learning model assisted by Quizizz effectively improves students’ mathematics learning outcomes in third-grade mathematics learning at SDN 16 Air Tawar Timur.
Manajemen Risiko Bencana Melalui Pemanfaatan Teknologi Informasi Dalam Kesiapsiagaan Erupsi Gunung Marapi Di Nagari Sungai Pua Hendrian, Heru; Syamsir
Journal of Authentic Research Vol. 5 No. 3 (2026): August
Publisher : LITPAM

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36312/jar.v5i3.6178

Abstract

Indonesia sebagai negara yang terletak di kawasan Cincin Api Pasifik menghadapi ancaman bencana geologi yang tinggi, salah satunya adalah erupsi Gunung Marapi di Sumatera Barat yang tergolong salah satu gunung api paling aktif. Erupsi besar pada Desember 2023 yang menewaskan 58 orang dan menyebabkan kerusakan luas menunjukkan bahwa upaya kesiapsiagaan konvensional tidak lagi memadai, sehingga diperlukan dukungan teknologi informasi (TI) untuk mempercepat penyampaian informasi peringatan dini dan edukasi kebencanaan kepada masyarakat. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis manajemen risiko bencana melalui pemanfaatan TI dalam mendukung kesiapsiagaan masyarakat menghadapi erupsi Gunung Marapi di Nagari Sungai Pua, Kabupaten Agam. Menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif, informan dipilih secara purposive dari BPBD Kabupaten Agam, perangkat Nagari Sungai Pua, Kelompok Siaga Bencana (KSB), dan masyarakat. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam, observasi, dan dokumentasi, kemudian dianalisis dengan model interaktif Miles dan Huberman serta diuji keabsahannya melalui triangulasi sumber dan teknik. Temuan utama menunjukkan bahwa keempat fungsi manajemen POAC telah dijalankan secara formal oleh BPBD, namun mengalami diskoneksi pada implementasi di tingkat nagari. Akibatnya, masyarakat dan KSB lebih mengandalkan media sosial dan komunikasi swadaya sebagai instrumen kesiapsiagaan yang nyata, sementara koordinasi yang terjadi masih bersifat satu arah dari atas ke bawah. Penelitian ini menyimpulkan bahwa desentralisasi kewenangan dan penguatan koordinasi dua arah merupakan kunci utama dalam mewujudkan kesiapsiagaan bencana berbasis TI yang efektif di tingkat lokal. Implikasi penelitian ini mencakup rekomendasi kebijakan bagi BPBD dan BNPB untuk melakukan sosialisasi terstruktur, pelatihan penggunaan aplikasi inaRISK, perbaikan penempatan alat Early Warning System (EWS), serta pengadaan alat deteksi khusus erupsi. Bagi pemerintah nagari dan KSB, penelitian ini memberikan implikasi praktis berupa penguatan sistem informasi swadaya yang telah berjalan dan pengusulan anggaran untuk infrastruktur komunikasi. Secara teoritis, penelitian ini memperkaya kajian manajemen risiko bencana dengan menunjukkan pentingnya memperhatikan konteks lokal dan struktur informal dalam implementasi kebijakan TI kebencanaan di tingkat nagari.
Hubungan Manajemen Acara, Sponsorship, Loyalitas Peserta, dan Kepuasan Peserta terhadap Keberhasilan Penyelenggaraan Turnamen Futsal Tingkat Pelajar Permana, Hafis Dikri; Maheswari, Drastiana Siwi
Journal of Authentic Research Vol. 5 No. 3 (2026): August
Publisher : LITPAM

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36312/jar.v5i3.6181

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan manajemen, sponsorship, loyalitas peserta, dan kepuasan peserta terhadap keberhasilan penyelenggaraan turnamen futsal tingkat pelajar. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain korelasional. Sampel penelitian berjumlah 156 peserta turnamen futsal tingkat pelajar di Kabupaten Pekalongan yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner dan dianalisis dengan korelasi Pearson serta regresi linear berganda. Hasil penelitian menunjukkan bahwa manajemen, sponsorship, loyalitas peserta, dan kepuasan peserta memiliki hubungan positif dan signifikan dengan keberhasilan penyelenggaraan turnamen. Secara simultan, keempat variabel memiliki hubungan yang signifikan dan mampu menjelaskan 62,1% variasi keberhasilan penyelenggaraan turnamen. Temuan ini menunjukkan bahwa peningkatan kepuasan dan loyalitas peserta menjadi faktor penting dalam mendukung keberhasilan penyelenggaraan turnamen futsal tingkat pelajar.
Korelasi Kecakapan Literasi Digital Dengan Pemahaman Konsep Fisika Siswa SMA Jannah, Azura Radhatul; Kamus, Zulhendri Kamus; Desnita, Desnita; Yumna, Hayyu
Journal of Authentic Research Vol. 5 No. 3 (2026): August
Publisher : LITPAM

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36312/jar.v5i3.6185

Abstract

Pemahaman konsep fisika menuntut siswa menghubungkan representasi verbal, matematis, grafis, dan fenomena nyata, sedangkan lingkungan belajar digital menuntut kemampuan menemukan, mengevaluasi, dan menggunakan informasi secara kritis. Penelitian ini menganalisis hubungan antara kecakapan literasi digital dan pemahaman konsep fisika siswa SMA. Penelitian menggunakan desain kuantitatif korelasional potong lintang pada 235 siswa kelas X SMA Negeri 2 Sungai Penuh. Kecakapan literasi digital diukur melalui angket yang mencakup literasi informasi dan data, komunikasi dan etika digital, kreasi konten, kolaborasi, keamanan, serta pemecahan masalah digital. Pemahaman konsep diproksikan dengan skor murni ujian akhir semester fisika. Data dianalisis secara deskriptif, diuji normalitas dan linearitasnya, kemudian dianalisis menggunakan korelasi Pearson. Skor literasi digital memiliki rerata 166,70 (SD = 15,801), sedangkan skor pemahaman konsep memiliki rerata 66,60 (SD = 14,907). Hubungan kedua variabel bersifat positif dan sangat kuat, r(233) = 0,924, p < 0,001, 95% CI [0,903, 0,941]. Kuadrat korelasi sebesar 0,854 menunjukkan 85,4% varians bersama, bukan bukti pengaruh kausal. Temuan mengindikasikan bahwa kecakapan mengakses, menilai, dan memanfaatkan sumber digital berkaitan erat dengan capaian fisika. Namun, interpretasi dibatasi oleh desain korelasional, penggunaan skor ujian sekolah sebagai proksi pemahaman konsep, dan belum lengkapnya pelaporan reliabilitas instrumen. Physics conceptual understanding requires students to connect verbal, mathematical, graphical, and real-world representations, while digital learning environments require the ability to locate, evaluate, and use information critically. This study examined the relationship between digital literacy skills and high school students’ physics conceptual understanding. A cross-sectional quantitative correlational design involved 235 tenth-grade students at SMA Negeri 2 Sungai Penuh, Indonesia. Digital literacy was measured using a questionnaire covering information and data literacy, digital communication and ethics, content creation, collaboration, safety, and digital problem solving. Conceptual understanding was proxied by students’ uncombined end-of-semester physics examination scores. Data were summarized descriptively, checked for normality and linearity, and analyzed using Pearson’s correlation. Digital literacy scores averaged 166.70 (SD = 15.801), whereas conceptual-understanding scores averaged 66.60 (SD = 14.907). The variables showed a positive and very strong association, r(233) = .924, p < .001, 95% CI [.903, .941]. The squared correlation (.854) represents shared variance rather than causal influence. The finding indicates that students’ ability to access, evaluate, and use digital resources is closely associated with physics achievement. Interpretation should nevertheless remain cautious because the design was correlational, the outcome relied on a school examination as a proxy for conceptual understanding, and the available manuscript did not fully report instrument reliability.
Desain dan Pengembangan Video Pembelajaran Servis Sistem Mesin Sepeda Motor Tipe Cub: Tinjauan Literatur Kritis Putra, Rafi Adika; Sugiarto, Toto; Wagino, Wagino; Arif, Ahmad
Journal of Authentic Research Vol. 5 No. 3 (2026): August
Publisher : LITPAM

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36312/jar.v5i3.6202

Abstract

Kompetensi servis sistem mesin sepeda motor tipe cub menuntut penguasaan prinsip kerja engine empat langkah, ketepatan prosedur, penggunaan alat ukur, keselamatan kerja, interpretasi gejala, dan verifikasi hasil perawatan. Video pembelajaran berpotensi memperjelas proses yang sulit diamati dan menyediakan demonstrasi yang dapat diulang, tetapi bukti menunjukkan bahwa video yang hanya merekam langkah kerja belum tentu menghasilkan kompetensi praktik. Kajian ini bertujuan mengkritisi bukti tentang desain video instruksional, pembelajaran prosedural, pendidikan vokasi, asesmen performa, dan media otomotif untuk merumuskan kerangka desain video servis sistem mesin sepeda motor tipe cub. Kajian menggunakan tinjauan literatur kritis dengan penelusuran terarah pada Google Scholar, Garuda, ERIC, ScienceDirect, dan SpringerLink untuk publikasi 2016-Juli 2026. Korpus akhir terdiri atas 32 sumber terverifikasi yang dianalisis melalui pemetaan deskriptif, pembobotan kekuatan inferensi, dan sintesis tematik. Enam kebutuhan desain ditemukan: standardisasi teknis dan keselamatan; eksposisi fungsional engine dan kondisi normal; rangkaian prosedur yang disertai alasan dan penalaran diagnosis; visualisasi detail melalui close-up, animasi, overlay, serta tampilan alat ukur; interaksi terarah yang terhubung dengan latihan bengkel; dan asesmen performa autentik. Sintesis menghasilkan Kerangka SERVIS: Standardisasi, Eksposisi, Rangkaian prosedur dan reasoning, Visualisasi, Interaksi, serta Skor performa. Kerangka ini memindahkan fokus dari video sebagai dokumentasi demonstrasi menuju video sebagai urutan belajar yang menghubungkan standar teknis, model mental, tindakan, data, keputusan, dan bukti kompetensi. Kerangka SERVIS perlu diuji melalui validasi ahli, uji kepraktisan, eksperimen komparatif, pengukuran retensi, dan penilaian transfer keterampilan pada unit praktik nyata. Four-stroke cub-motorcycle engine service requires integrated knowledge of engine operation, procedural accuracy, measuring-tool use, occupational safety, symptom interpretation, and post-service verification. Instructional video can make hidden processes visible and provide repeatable demonstrations; however, evidence indicates that videos that merely record procedural steps do not necessarily develop practical competence. This review critically examined evidence on instructional-video design, procedural learning, vocational education, performance assessment, and automotive learning media to formulate a design framework for cub-motorcycle engine-service videos. A critical literature review was conducted through targeted searches of Google Scholar, Garuda, ERIC, ScienceDirect, and SpringerLink for publications from 2016 to July 2026. The final corpus comprised 32 verified sources analysed through descriptive mapping, inference-strength weighting, and thematic synthesis. Six design requirements emerged: technical and safety standardisation; functional exposition of engine operation and normal conditions; procedural sequences linked to technical reasons and diagnostic reasoning; detailed visualisation using close-ups, animation, overlays, and measuring-instrument displays; guided interaction connected to workshop practice; and authentic performance assessment. These requirements were integrated into the SERVIS Framework: Standardisation, Exposition, Reasoned procedure, Visualisation, Interaction, and Scoring of performance. SERVIS shifts the focus from video as a recorded demonstration to video as a learning sequence connecting technical standards, mental models, actions, data, decisions, and evidence of competence. The framework should be examined through expert validation, usability studies, comparative experiments, delayed-retention measures, and transfer assessments using actual workshop units.
Analisis Beban Kerja Pegawai Badan Pengelolaan Keuangan dan Aset Daerah Provinsi Sumatera Barat Ferdiansyah, Hamid; Saputra, Boni
Journal of Authentic Research Vol. 5 No. 3 (2026): August
Publisher : LITPAM

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36312/jar.v5i3.6207

Abstract

Beban kerja merupakan salah satu faktor yang memengaruhi efektivitas pelaksanaan tugas pegawai dalam organisasi publik. Ketidakseimbangan antara jumlah pegawai dengan volume pekerjaan dapat menimbulkan tekanan kerja, menurunkan produktivitas, serta meningkatkan risiko kesalahan dalam pelaksanaan tugas. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan gambaran beban kerja pegawai serta menganalisis implikasi beban kerja terhadap pelaksanaan tugas di Badan Pengelolaan Keuangan dan Aset Daerah (BPKAD) Provinsi Sumatera Barat. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode deskriptif. Data diperoleh melalui wawancara mendalam, observasi, dan studi dokumentasi terhadap sepuluh informan yang dipilih secara purposive. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Bidang Perbendaharaan, Akuntansi, dan Pelaporan mengalami beban kerja paling tinggi akibat keterbatasan sumber daya manusia dan tingginya volume dokumen yang harus diproses. Kondisi tersebut berdampak pada meningkatnya jam kerja lembur, kelelahan fisik dan mental, penurunan konsentrasi, serta meningkatnya potensi kesalahan administrasi. Analisis data dilakukan menggunakan model Miles dan Huberman melalui tahapan reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa beban kerja pegawai belum terdistribusi secara proporsional. Bidang Perbendaharaan, Akuntansi, dan Pelaporan mengalami beban kerja paling tinggi akibat keterbatasan sumber daya manusia, tingginya volume dokumen yang harus diproses, serta tekanan waktu yang meningkat pada akhir tahun anggaran. Kondisi tersebut berdampak pada meningkatnya jam kerja lembur, kelelahan fisik dan mental, penurunan konsentrasi, serta meningkatnya potensi kesalahan administrasi. Meskipun demikian, pegawai tetap menunjukkan komitmen tinggi dalam menyelesaikan tugas organisasi.