cover
Contact Name
Mutiah
Contact Email
Ikom.fish@unesa.ac.id
Phone
+628563086790
Journal Mail Official
Ikom.fish@unesa.ac.id
Editorial Address
Jl. Ketintang, Gedung i7, Department of Communication Science, Faculty of Social Science and Law, Universitas Negeri Surabaya, Surabaya, Indonesia. Postal Code 60231
Location
Kota surabaya,
Jawa timur
INDONESIA
THE COMMERCIUM
ISSN : -     EISSN : 2809591     DOI : https://doi.org/10.26740/tc.v8i2
Core Subject : Education, Social,
The Commercium adalah Jurnal Ilmu Komunikasi yang memuat tulisan hasil penelitian mahasiswa. Jurnal ini diterbitkan oleh Program Studi S1 Ilmu Komunikasi Universitas Negeri Surabaya. Jurnal the commercium terbit 3 kali dalam setahun. Fokus dan scope penelitian di bidang Ilmu Komunikasi mencakup : Komunikasi Pemasaran Public Relations Periklanan Komunikasi Politik Komunikasi Pembangunan dan Perubahan Sosial Manajemen Media
Articles 757 Documents
Youth Representation and Generational Solidarity in SEVENTEEN's Music Video Titled 'Cheers To Youth' Alifia Subrata; Eko Pamuji
The Commercium Vol 10 No 3 (2026): The Commercium - Juli 2026
Publisher : Universitas Negeri Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26740/tc.v10i3.81445

Abstract

Masa muda merupakan fase transisi yang sering kali diwarnai oleh berbagai tantangan, seperti tekanan akademik, tuntutan sosial, kebingungan dalam menentukan arah hidup, hingga pengalaman Quarter-Life Crisis. Sebagai media yang merepresentasikan realitas sosial, video musik tidak hanya berfungsi sebagai hiburan, tetapi juga menyampaikan pesan melalui berbagai tanda visual yang dapat dimaknai. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis representasi masa muda dan solidaritas generasi dalam video musik Cheers to youth karya SEVENTEEN menggunakan semiotika Charles Sanders Peirce. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan paradigma konstruktivisme. Data penelitian diperoleh melalui observasi terhadap adegan-adegan dalam video musik yang merepresentasikan masa muda dan solidaritas generasi, kemudian dianalisis menggunakan konsep Sign, Object, dan Interpretant. Hasil penelitian menunjukkan bahwa representasi masa muda dibangun melalui berbagai tanda visual, seperti robot, panggilan telepon anonim, ruang pribadi yang berantakan, pet rock, dan meerkat yang merepresentasikan tekanan emosional, kecemasan, keterasingan, serta pencarian makna yang dialami generasi muda pada fase Quarter-Life Crisis. Sementara itu, representasi solidaritas generasi ditunjukkan melalui kehadiran TinyIssue Club sebagai ruang aman (safe space) yang menghadirkan dukungan emosional, rasa saling memahami, dan kebersamaan antarsebaya dalam menghadapi berbagai persoalan kehidupan. Melalui representasi tersebut, video musik Cheers to youth menggambarkan bahwa pengalaman masa muda tidak selalu harus dihadapi secara individual, melainkan dapat dilalui melalui dukungan dan solidaritas antarsebaya.
REPRESENTASI MASKULINITAS DINO SEVENTEEN SEBAGAI BRAND AMBASSADOR DALAM IKLAN PRODUK SKINCARE AZARINE PADA PLAFORM INSTAGRAM Muhammad Fadhil Fikri Ramdani; Eko Pamuji
The Commercium Vol 10 No 3 (2026): The Commercium - Juli 2026
Publisher : Universitas Negeri Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26740/tc.v10i3.81477

Abstract

Kolaborasi brand skincare lokal Azarine dengan Dino Seventeen, idol pria asal Korea Selatan, sebagai brand ambassador menghadirkan fenomena menarik karena secara historis produk perawatan kulit identik dengan citra feminin, sementara maskulinitas tradisional menekankan kekuatan fisik dan dominasi. Penelitian ini bertujuan mengetahui representasi maskulinitas Dino Seventeen sebagai brand ambassador dalam iklan produk skincare Azarine pada platform Instagram. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan metode analisis semiotika Roland Barthes melalui tiga tingkat pemaknaan: denotasi, konotasi, dan mitos. Data dikumpulkan melalui teknik dokumentasi dan studi pustaka terhadap 16 unggahan feeds Instagram @Azarinecosmeticofficial periode September 2025 hingga Mei 2026. Hasil penelitian menunjukkan bahwa secara denotatif, Dino ditampilkan dengan kondisi kulit bersih dan terhidrasi, ekspresi ramah, serta pose terbuka dan percaya diri berdampingan dengan produk Azarine. Secara konotatif, elemen-elemen tersebut memaknai Dino sebagai pria modern yang merawat diri tanpa kehilangan identitas maskulinnya. Pada tingkat mitos, unggahan tersebut menaturalisasi gagasan bahwa penggunaan skincare merupakan bagian sah dari identitas dan gaya hidup pria kontemporer, bukan sesuatu yang bertentangan dengan maskulinitas. Disimpulkan bahwa Dino berfungsi sebagai tanda simbolik yang memperluas citra Azarine kepada konsumen pria sekaligus merekonstruksi makna maskulinitas modern melalui media visual Instagram.
Analisis Resepsi Audiens atas Penolakan Mitos Pendakian pada Segmen Langit Kelabu di Kanal YouTube Dzawin Nur Ikram Episode Pandji Pragiwaksono Farel Al Farizi; Eko Pamuji
The Commercium Vol 10 No 3 (2026): The Commercium - Juli 2026
Publisher : Universitas Negeri Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26740/tc.v10i3.81486

Abstract

Meningkatnya penggunaan YouTube sebagai platform komunikasi reflektif dan diskursus sosial menunjukkan pentingnya pemahaman terhadap bagaimana audiens memaknai konten yang bersifat kritis dan dekonstruktif terhadap kepercayaan budaya. Namun, kajian mengenai resepsi audiens terhadap konten penolakan mitos di platform digital masih terbatas. Penelitian ini bertujuan menganalisis resepsi audiens atas penolakan mitos pendakian pada segmen “Langit Kelabu” di kanal YouTube Dzawin Nur Ikram episode Pandji Pragiwaksono melalui teori analisis resepsi encoding-decoding Stuart Hall. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan paradigma konstruktivisme dan metode analisis resepsi, melibatkan delapan informan yang aktif menonton konten tersebut. Data dianalisis menggunakan model interaktif Miles dan Huberman. Hasil penelitian menunjukkan bahwa audiens memaknai konten tersebut ke dalam tiga posisi, yaitu dominant-hegemonic, negotiated, dan oppositional. Posisi dominant-hegemonic muncul dari audiens yang menerima sepenuhnya sikap kritis Dzawin bahwa ketakutan terhadap mitos merupakan konstruksi budaya yang perlu dipertanyakan; posisi negotiated dari audiens yang menerima pesan rasionalitas namun tetap mempertimbangkannya dengan pengalaman dan kepercayaan pribadi; sedangkan posisi oppositional dari audiens yang menolak pendekatan dekonstruktif tersebut karena dinilai tidak menghormati budaya lokal Gunung Kawi. Ketiga posisi ini menunjukkan bahwa konten reflektif-sosial tidak menghasilkan pemaknaan tunggal, melainkan membuka ruang interpretasi yang beragam sesuai latar belakang sosial budaya audiens.
Strategi Adaptasi Komunikasi Antarbudaya Mahasiswa Indonesia Dalam Menghadapi Keanekaragaman Budaya Di Universiti Utara Malaysia Reyhana Putri Wiedaningtyas; Muhammad Hilmy Aziz
The Commercium Vol 10 No 3 (2026): The Commercium - Juli 2026
Publisher : Universitas Negeri Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26740/tc.v10i3.81488

Abstract

Keberagaman budaya dalam pendidikan internasional menuntut mahasiswa mampu beradaptasi dengan perbedaan bahasa, nilai, dan pola komunikasi di negara tujuan. Universiti Utara Malaysia (UUM) sebagai kampus multikultural menjadi ruang interaksi antarbudaya bagi mahasiswa dari berbagai negara. Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan strategi adaptasi komunikasi antarbudaya mahasiswa Indonesia serta menganalisisnya berdasarkan tahapan stress–adaptation–growth pada program pertukaran pelajar semester kedua tahun 2024/2025 di UUM. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode fenomenologi hermeneutik Gadamer. Data dikumpulkan melalui observasi, wawancara terstruktur, dan dokumentasi, kemudian dianalisis menggunakan teknik Miles dan Huberman (2014), sedangkan keabsahan data diuji melalui triangulasi sumber Hasil penelitian menunjukkan bahwa proses adaptasi berlangsung sesuai Teori Adaptasi Lintas Budaya Young Yun Kim (2001). Pada tahap stress, mahasiswa menghadapi hambatan bahasa, perbedaan norma budaya, dan kesalahpahaman komunikasi. Pada tahap adaptation, mereka menggunakan bahasa Inggris sebagai bahasa penghubung, membangun relasi lintas budaya, mempelajari budaya lokal, serta aktif dalam kegiatan akademik dan sosial. Pada tahap growth, mahasiswa mengalami peningkatan kompetensi komunikasi antarbudaya, kepercayaan diri, toleransi, dan kemampuan berinteraksi dalam lingkungan multikultural. Penelitian ini menyimpulkan bahwa adaptasi komunikasi antarbudaya tidak hanya mendukung penyesuaian diri di lingkungan baru, tetapi juga mengembangkan kompetensi komunikasi yang bermanfaat bagi kehidupan akademik dan profesional.
Resepsi Viewers Terhadap Personal Branding Aldean Tegar Sebagai Streamer Gaming Pada Kanal Youtube DEANKT Lutfiya Dwi Anggita; Eko Pamuji
The Commercium Vol 10 No 3 (2026): The Commercium - Juli 2026
Publisher : Universitas Negeri Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26740/tc.v10i3.81567

Abstract

Fenomena live streaming di platform Youtube semakin digandrungi, khususnya pada segmen gaming yang mampu membangun interaksi realtime antara streamer dan viewers. Popularitas streamer seperti Aldean Tegar, Windah Basudara, dan Luthfi Halimawan turut mendorong perkembangan ekosistem streaming di Indonesia. Di tengah persaingan tersebut, Aldean Tegar melalui kanal DEANKT menampilkan karakter yang berbeda lewat interaksi spontan dan pola respon donasi yang khas, sehingga menarik dikaji dalam konteks personal branding. Penelitian ini menganalisis resepsi viewers terhadap delapan aspek personal branding menurut Peter Montoya, yaitu spesialisasi, kepemimpinan, kepribadian, perbedaan, kenampakan, kesatuan, keteguhan, dan maksud baik dari Aldean Tegar sebagai streamer gaming dengan pendekatan kualitatif melalui analisis resepsi Stuart Hall. Hasil penelitian menunjukkan bahwa mayoritas viewers berada pada posisi dominan, dalam memaknai personal branding yang ditampilkan Aldean Tegar. Terutama pada aspek konsistensi karakter, pola interaksi, dan dampak sosial. Pada beberapa aspek juga ditemukan posisi negosiasi dan oposisi akibat perbedaan pengalaman dan ekspektasi viewers. Dalam perspektif analisis resepsi Stuart Hall, temuan ini menegaskan bahwa viewers berperan aktif dalam proses decoding, sehingga personal branding Aldean Tegar tidak dimaknai secara tunggal, melainkan bersifat dinamis dan terbuka terhadap berbagai interpretasi.
Pengaruh Brand Image Seventeen Terhadap Interaksi Parasosial Pada Generasi Z (Studi Kuantitatif Pada Penggemar Seventeen Carat) Awan Dina Marsela; Puspita Sari Sukardani
The Commercium Vol 10 No 3 (2026): The Commercium - Juli 2026
Publisher : Universitas Negeri Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26740/tc.v10i3.81631

Abstract

Perkembangan media digital telah memperkuat interaksi antara idola K-Pop dan penggemar sehingga mendorong terbentuknya hubungan parasosial. Salah satu faktor yang diduga memengaruhi hubungan tersebut adalah brand image yang dibangun oleh figur publik. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh brand image Seventeen terhadap interaksi parasosial pada penggemar Generasi Z (Carat). Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode survei. Sampel penelitian berjumlah 400 responden yang merupakan penggemar Seventeen Generasi Z (Carat) dan dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Pengumpulan data dilakukan melalui penyebaran kuesioner secara daring menggunakan Google Form. Data dianalisis menggunakan uji validitas, reliabilitas, normalitas, regresi linear sederhana, uji t, dan koefisien determinasi dengan bantuan SPSS. Hasil penelitian menunjukkan bahwa brand image Seventeen berpengaruh positif dan signifikan terhadap interaksi parasosial pada penggemar Generasi Z. Nilai koefisien determinasi (R²) sebesar 0,432 menunjukkan bahwa brand image mampu menjelaskan 43,2% variasi interaksi parasosial, sedangkan 56,8% sisanya dipengaruhi oleh faktor lain di luar penelitian. Temuan ini mengindikasikan bahwa semakin positif brand image Seventeen yang dipersepsikan oleh penggemar, semakin tinggi pula tingkat interaksi parasosial yang terbentuk. Penelitian ini memberikan kontribusi dalam pengembangan kajian ilmu komunikasi, khususnya mengenai hubungan antara brand image figur publik dan interaksi parasosial pada penggemar K-Pop.
Persepsi Jurnalis Media Lokal Jawa Timur terhadap Penggunaan AI dalam Aktivitas Jurnalistik Adinda Vira Eka Reynata; Aditya Fahmi Nurwahid
The Commercium Vol 10 No 3 (2026): The Commercium - Juli 2026
Publisher : Universitas Negeri Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26740/tc.v10i3.81642

Abstract

Tingginya adopsi dan optimisme masyarakat Indonesia terhadap Artificial Intelligence (AI) telah mendorong masifnya integrasi teknologi pintar di ruang redaksi media nasional. Namun, di tingkat media lokal, pemanfaatan AI memunculkan keragaman respons dan pemaknaan yang tidak seragam di kalangan jurnalis. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis persepsi jurnalis media lokal di Jawa Timur terhadap penggunaan AI dalam aktivitas jurnalistik melalui kacamata teori imagined affordance. Menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode fenomenologi, data digali melalui wawancara mendalam bersama empat jurnalis aktif dari variasi posisi keredaksian (Informan AB, SI, IR, dan AS). Hasil penelitian menunjukkan bahwa persepsi jurnalis terhadap AI tidak bersifat dinamis. imajinasi awal dan realitas lapangan, di mana jurnalis lokal tetap memegang kendali penuh atas kualitas dan etika karya jurnalistik. Meski mengadopsi AI sebagai alat bantu teknis, jurnalis tetap selektif dan menekankan pentingnya kontrol manusia.
Strategi Komunikasi Publik BPJS Kesehatan Cabang Surabaya Dalam Meningkatkan Kesadaran Masyarakat Mengenai Program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) Tohiruddin Tohiruddin; Tatak Setiadi
The Commercium Vol 10 No 3 (2026): The Commercium - Juli 2026
Publisher : Universitas Negeri Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26740/tc.v10i3.81649

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis strategi komunikasi publik BPJS Kesehatan Cabang Surabaya dalam meningkatkan kesadaran masyarakat mengenai Program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN). Penelitian menggunakan metode penelitian kualitatif dengan pendekatan deskriptif. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui wawancara mendalam, observasi, dan dokumentasi. Informan penelitian terdiri atas pihak BPJS Kesehatan Cabang Surabaya sebagai informan utama dan masyarakat sebagai informan pendukung. Analisis data dilakukan menggunakan model Miles dan Huberman yang meliputi reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Analisis strategi komunikasi publik mengacu pada teori Arifin (2011) yang meliputi mengenal khalayak, menyusun pesan, menetapkan metode komunikasi, dan memilih media komunikasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa BPJS Kesehatan Cabang Surabaya telah menerapkan strategi komunikasi publik melalui segmentasi khalayak berdasarkan karakteristik masyarakat, penyusunan pesan yang terpusat dan seragam, penggunaan metode komunikasi informatif, edukatif, dan persuasif, serta pemanfaatan berbagai media komunikasi, baik media massa, media digital, media sosial, media cetak, maupun komunikasi tatap muka. Strategi tersebut mampu meningkatkan pengetahuan dan pemahaman masyarakat mengenai Program JKN. Namun demikian, efektivitas komunikasi publik masih menghadapi beberapa kendala, antara lain keterbatasan paparan masyarakat terhadap kegiatan sosialisasi langsung, perbedaan tingkat literasi digital, serta masih adanya masyarakat yang belum memahami secara menyeluruh hak, kewajiban, dan prosedur pelayanan JKN. Oleh karena itu, BPJS Kesehatan perlu terus mengoptimalkan strategi komunikasi publik melalui peningkatan sosialisasi langsung, penyederhanaan pesan komunikasi, optimalisasi layanan digital, serta perluasan jangkauan komunikasi agar kesadaran masyarakat mengenai Program JKN dapat meningkat secara lebih optimal dan berkelanjutan.  
KOMUNIKASI PERSUASIF PUSTAKAWAN DISPERPUSIP PROVINSI JAWA TIMUR DALAM MEMBANGUN MINAT BACA PELAJAR MELALUI PROGRAM TUR KELILING PERPUSTAKAAN (TULIP) Kezia Audrey Yohana Sinaga; Muhammad Hilmy Aziz
The Commercium Vol 10 No 3 (2026): The Commercium - Juli 2026
Publisher : Universitas Negeri Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26740/tc.v10i3.81748

Abstract

Rendahnya minat baca pelajar masih menjadi tantangan dalam pengembangan literasi di Indonesia. Program Tur Keliling Perpustakaan (TULIP) yang diselenggarakan Disperpusip Provinsi Jawa Timur merupakan salah satu upaya untuk membangun minat baca melalui pengalaman literasi secara langsung. Penelitian ini bertujuan menganalisis komunikasi persuasif pustakawan dalam membangun minat baca pelajar melalui program TULIP. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi kasus, dengan teknik pengumpulan data melalui wawancara, observasi, dan dokumentasi, Kemudian dianalisis menggunakan strategi komunikasi persuasif Melvin L. DeFleur dan Sandra J. Ball Roceach dengan perspektif teori belajar kognitif Jean Piaget. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pustakawan menerapkan strategi psikodinamika, sosiokultural, dan konstruksi makna melalui penyesuaian pendekatan komunikasi sesuai karakteristik peserta, penciptaan lingkungan literasi yang mendukung, serta pembentukan pemaknaan baru mengenai perpustakaan dan aktivitas membaca. Penerapan strategi tersebut menghasilkan respons kognitif, afektif, dan konatif yang ditunjukkan melalui bertambahnya pengetahuan mengenai membaca dan perpustakaan, munculnya ketertarikan terhadap aktivitas literasi, serta berkembangnya kecenderungan untuk membaca dan memanfaatkan layanan perpustakaan. Dalam perspektif teori belajar kognitif, pengalaman belajar tersebut diproses melalui mekanisme asimilasi, akomodasi, dan ekuilibrasi sehingga membentuk pemahaman baru yang berkontribusi dalam membangun minat baca pelajar.
Komunikasi Antarpribadi Staf Plato Foundation dengan Klien pada Kegiatan Psikoedukasi Rehabilitasi Narkoba Yislia Yesarella Winda Nainggolan; Tsuroyya
The Commercium Vol 10 No 3 (2026): The Commercium - Juli 2026
Publisher : Universitas Negeri Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26740/tc.v10i3.81749

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tentang penerapan komunikasi antarpribadi staf Plato Foundation dengan klien pada kegiatan psikoedukasi rehabilitasi narkoba. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif dengan metode penelitian yaitu studi kasus. Data diperoleh melalui wawancara dan observasi, kemudian dianalisis menggunakan pencocokan pola dari Robert K Yin. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa penerapan komunikasi antarpribadi staf Plato Foundation dengan klien pada kegiatan psikoedukasi rehabilitasi narkoba dilakukan secara langsung dalam latar kelompok melalui melalui berbagai bentuk interaksi, seperti ice breaking untuk menciptakan rasa nyaman sebagai dasar munculnya keterbukaan diri klien, pemberian stimulus verbal untuk mendorong keterbukaan, sikap mendengarkan tanpa menghakimi, penggunaan kata - kata yang tepat, bersikap terbuka terhadap pandangan atau pendapat klien yang berbeda, serta memberikan ruang berbicara kepada klien agar komunikasi berlangsung secara dua arah dan tidak didominasi oleh pihak tertentu. Penerapan komunikasi antarpribadi tersebut bertujuan untuk membangun hubungan interpersonal antara staf dan klien. Melalui interaksi yang berlangsung secara berulang, tercipta rasa percaya, kenyamanan, dan keterbukaan yang memungkinkan hubungan yang semula berada pada tahap dangkal berkembang secara bertahap menuju hubungan yang lebih dekat. Hubungan interpersonal yang terbangun kemudian berpengaruh terhadap meningkatnya partisipasi aktif klien dalam kegiatan psikoedukasi seperti keterlibatan dalam aktivitas sharing, diskusi, tanya jawab, dan role play. Hal tersebut menjadi penting mengingat kegiatan psikoedukasi merupakan terapi kelompok yang dirancang untuk memulihkan kemampuan interaksi sosial klien sehingga partisipasi aktif mereka menjadi aspek yang krusial.