cover
Contact Name
Samadi
Contact Email
jurnalagripet@usk.ac.id
Phone
+6281383736633
Journal Mail Official
jurnalagripet@usk.ac.id
Editorial Address
Animal Husbandry Department, The Faculty of Agriculture, Universitas Syiah Kuala Jln. Tgk. H. Hasan Krueng Kalee No. 3, Kopelma Darussalam, Banda Aceh, 23111, Aceh, Indonesia
Location
Kab. aceh besar,
Aceh
INDONESIA
Jurnal Agripet
ISSN : 14114623     EISSN : 24604534     DOI : https://doi.org/10.17969/agripet
Core Subject : Agriculture,
Aims Jurnal Agripet aims to publish original research results on farm tropical animals such as cattle, buffaloes, sheep, goats, horses, poultry, etc. Scope Jurnal Agripet encompasses a broad range of research topics in animal sciences and biotechnology including animal physiology and nutrition, feed processing and technology, animal productions, animal genetics, breeding and reproduction, meat and milk sciences, animal health, behavior and welfare, animal housing and livestock farming system.
Articles 462 Documents
Potensi Khamir Kluyveromyces lactis dalam Meningkatkan Kualitas Susu Fermentasi yang Ditambah Jagung Manis (Zea mays saccharata Linn) Siti Rani Ayuti; Yurliasni Yurliasni; Cut Intan Novita; Elmy Mariana
Jurnal Agripet Vol 20, No 1 (2020): Volume 20, No. 1, April 2020
Publisher : Agricultural Faculty

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17969/agripet.v20i1.15356

Abstract

ABSTRAK. Penelitian ini bertujuan mengetahui peningkatan kualitas produk susu fermentasi dengan menggunakan khamir Kluyveromyces lactis dan penambahan jagung manis. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) pola faktorial yang terdiri dari 2 faktor dan 2 level, yaitu faktor penambahan jagung manis (Zea mays saccharata Linn) (A) terdiri atas 25% (a1) dan 75% (a2), dan faktor penambahan khamir Kluyveromyces lactis (B) terdiri atas 0.5% (b1) dan 1% (b2), dengan lima kali ulangan pada masing-masing perlakuan sehingga memperoleh 20 satuan percobaan. Parameter yang diamati antara lain adalah kadar protein, kadar lemak, kadar asam laktat dan derajat keasaman (pH). Data yang diperoleh dianalisis secara statistik menggunakan ANOVA dan dilanjutkan dengan uji lanjut Duncan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penambahan khamir Kluyveromyces lactis tidak berpengaruh nyata (P0.05) terhadap kadar protein, lemak, kadar asam laktat dan derajat keasaman (pH). Sementara penambahan jagung manis tidak berpengaruh nyata (P0.05) terhadap kadar protein dan derajat keasaman (pH), namun berpengaruh sangat nyata (P0.01) terhadap kadar lemak dan kadar asam laktat. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa penambahan khamir Kluyveromyces lactis 1% dan jagung manis (Zea mays saccharata Linn) 75% pada produk susu fermentasi dapat meningkatkan kualitas produk susu.(Potential of yeast-Kluyveromyces lactis in improving quality of fermented milk added sweet corn (Zea mays saccharata Linn))ABSTRACT. The aims of this research were to determine the quality improvement of fermented milk products using Kluyveromyces lactis and the addition of sweet corn. This study used factorial experiment conducted with completely randomized design (CRD) which divide into 2 factors and 2 levels, there were the addition of sweet corn (Zea mays saccharata Linn) factors (A) consist of 25% (a1) and 75% (a2), and the addition of yeast Kluyveromyces lactis factors (B) consist of 0.5% (b1) and 1% (b2), with five replications on each treatment to obtain 20 units of experiment. The observed parameters such as protein levels, fat levels, lactic acid levels and acidity degree (pH). Research data were analyzed statistically by using ANOVA and continued by Duncan's tests. The results showed that the addition of yeast Kluyveromyces lactis had no significant effect (P 0.05) on protein levels, fat levels, lactic acid levels and acidity degree (pH). While the addition of sweet corn had no significant effect (P 0.05) on protein levels and acidity degree (pH), but it had a very significant effects (P 0.01) on fat levels and lactic acid levels. The results indicate the addition of yeast Kluyveromyces lactis 1% and sweet corn (Zea mays saccharata Linn) 75% in fermented milk products can improve the quality of dairy products.
Suplementasi Probiotik dan Senyawa Fitokimia terhadap Performan, Persentase Komponen Asam Lemak Terbang, Total Bakteri dan Protozoa Cairan Rumen Kambing Solehudin Solehudin; Antonius Antonius; Simon Petrus Ginting
Jurnal Agripet Vol 20, No 1 (2020): Volume 20, No. 1, April 2020
Publisher : Agricultural Faculty

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17969/agripet.v20i1.15598

Abstract

ABSTRAK. Penelitian ini bertujuan untuk menginvestigasi efektivitas suplementasi probiotik Saccharomyces cerevisiae dan Acetoanaerobium noterae serta senyawa fitokimia pada tepung batang pisang (TBP) dan tepung daun albezia (TDA) terhadap performan, persentase komponen asam lemak terbang dan total koloni bakteri dan protozoa cairan rumen kambing. Ternak yang digunakan dalam penelitian adalah 25 ekor kambing jantan sedang tumbuh dengan bobot badan rata-rata 12,212,28 kg. Penelitian menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 5 perlakuan: pakan kontrol (R0); R0 + TBP (R1); R0 + TDA (R2); R0 + Probiotik S.c (R3); R0 + Probiotik A.n (R4). Setiap perlakuan diulang sebanyak 5 kali. Parameter yang diuji adalah konsumsi bahan kering, pertambahan bobot badan harian (pbbh) dan persentase komponen asam lemak terbang serta total koloni bakteri dan protozoa cairan rumen. Data dianalisis menggunakan analysis of variance (ANOVA) dan dilanjutkan dengan uji jarak berganda Duncan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian perlakuan memberikan pengaruh yang tidak signifikan (p0,05) terhadap seluruh parameter. Namun demikian, pemberian Saccharomyces cerevisiae (R3) cenderung meningkatkan pbbh, persentase komponen asam lemak terbang dan total bakteri cairan rumen. Pemberian tepung batang pisang (R2) cenderung memberikan pengaruh paling baik dalam mendefaunasi total protozoa cairan rumen. Diperlukan penelitian lebih lanjut untuk mengetahui pengaruh perlakuan lebih mendalam.(Supplementation of probiotics and phytochemical compound on performance, percentage of volatil fatty acid components, total of bacteria and protozoa of goats rumen fluid)ABSTRACT. The research was aimed to investigate supplementation effectiveness of probiotic Saccharomyces cerevisiae and Acetoanaerobium noterae and phytochemical compound from stem banana flour and albezia leaf flour on performances, percentage of volatil fatty acid components, and total of bacteria and protozoa of goats rumen fluid. A total 25 head of buck in growing period was used with average body weight of 12.212.28 kg. The research used Completely Randomized Design (CRD) with five treatments: Control (R0); R0+stem banana flour (R1); R0+Albizia leaf powder (R2); R0+Saccharomyces cerevisiae (R3); RO+ Acetoanaerobium noterae (R4). Each treatments replicated five times. Parameter tested were dry matter consumption, average daily gain (ADG), percentage of fatty acid components, and total of bacterial colonies and protozoa in rumen fluid. Data were analyzed by analysis of variance (ANOVA) and continued with Duncans multiple range test. The result showed that all treatments no significant affected (p0,05) on all parameter. However, supplementation of Saccharomyces cereviseae (R3) tended to increase average daily gain, percentage of volatil fatty acid components and total of bacterial colonies in rumen. Supplementation of stem banana flour (R2) tended to have the best effect on protozoa defaunating in rumen fluid. Further research is needed to determine the effect of more profound treatment.
Pengaruh Substitusi Sebagian Ransum Komersil Ayam Petelur dengan Bahan Pakan Campuran Fermentasi Tepung Limbah Ikan Leubim (Canthidermis maculata) dan Daun Indigofera terhadap Penampilan Produksi Telur Puyuh Zulfan Zulfan; Allaily Allaily; Cut Aida Fitri; Ilham Ilham
Jurnal Agripet Vol 20, No 1 (2020): Volume 20, No. 1, April 2020
Publisher : Agricultural Faculty

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17969/agripet.v20i1.15201

Abstract

ABSTRAK. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui pengaruh penggunaan bahan pakan fermentasi yang terutama tersusun atas tepung limbah ikan leubim dan tepung indigofera sebagai substitusi sebagian ransum komersil ayam petelur terhadap penampilan produksi telur puyuh. Penelitian ini dilakukan di Laboratorium Lapangan Peternakan (LLP), Program Studi Peternakan, Fakultas Pertanian, Universitas Syiah Kuala selama 10 minggu. Penelitian ini menggunakan 80 ekor puyuh (Coturnix coturnix japonica) betina dara umur 4 minggu. Rancangan penelitian yang digunakan adalah Rancangan Acak Kelompok terdiri dari 4 perlakuan dan 4 kelompok. Setiap kelompok merupakan unit percobaan yang masing-masing terdiri atas 5 ekor puyuh betina dara. Ransum perlakuan adalah ransum komersil ayam petelur yang disubstitusi dengan bahan pakan campuran fermentasi: 20% tepung limbah ikan leubim + 11% tepung daun indigofera + 45,4% menir + 20% dedak jagung + 3,6% tepung kulit kerang sebanyak 0, 10, 20, dan 30%. Hasil penelitian memperlihatkan bahwa ransum komersil ayam petelur dapat disubstitusi sampai 30% dengan bahan pakan campuran fermentasi yang tersusun atas tepung limbah ikan leubim 20% + tepung daun indigofera 11% + menir 45,4% + dedak jagung 20% + tepung kulit kerang 3,6% tanpa menurunkan secara nyata produksi, berat dan massa telur, konsumsi dan konversi ransum, serta berat badan akhir dan pertambahan berat badan puyuh.(Egg productions of quails fed the commercial rations partially substituted by fermentation feed ingredients based on the mixture of Leubim fish waste meal and Indigofera sp.)ABSTRACT. The purpose of this study was to determine the effect of the partial substitution of commercial ration with fermented feed ingredients based on leubim fish (Canthidermis maculata) waste meal and Indigofera sp. meal on the appearance of quail egg production. The research was conducted at the Field Laboratory of Animal Husbandry, Animal Husbandry Department, Faculty of Agriculture, Syiah Kuala University for 10 weeks. The study used 80 female quails (Coturnix-coturnix japonica) at 4 weeks of age. The study was designed into randomized block design consisting of 4 treatments and 4 blocks. Each block was an experimental unit, each consisting of 5 quails. The treatment was commercial ration of laying hens partially substituted by fermented feed ingredients composed of 20% leubim fish waste meal + 11% Indigofera sp. meal + 45.4% broken rice + 20% corn bran + 3.6% clam shell meal as many as 0, 10, 20, and 30%. The results of study showed that commercial ration of laying hens could be substituted up to 30% with a mixture of fermented feed ingredients composed of 20% leubim fish waste meal +11% Indigofera sp. meal + 45.4% broken rice + 20% corn bran + 3.6% clam shell meal without significantly reduced egg production, egg weight, and egg mass, feed consumption and FCR, and final body weight and average body weight gain of quails.
Semen Quality of Garut Rams feed by Different Protein Sources and Their Implementation Potential in Small Farms of West Java Kurnia Bagus Ariyanto; Lilis Khotijah; Dewi Apri Astuti; Raden Iis Arifiantini; Jean-Baptise Menassol
Jurnal Agripet Vol 20, No 1 (2020): Volume 20, No. 1, April 2020
Publisher : Agricultural Faculty

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17969/agripet.v20i1.15391

Abstract

ABSTRACT. Maggot Hermetia illucens (Maggot Black Soldier Fly, MBSF) is an alternative protein source besides soybean meal (SBM) which may be used as a feed for improving the quality of semen particularly in Garut rams to support prolific nature. The aims of this study were to analyzed and compare the impact of different protein sources in feed on semen quality of Garut rams, and to assess the prediction ability of Garut rams to serve ewe in small-scale breeders in West Java, Indonesia. This study was conducted using a completely randomized design with 3 treatments and 4 replications, consisted of Brachiaria humidicola (BH) grass and T1 (concentrate contains 20% of SBM), T2 (concentrate contains 10% of SBM and 10% of MBSF), and T3 (concentrate contains 20% of MBSF). The parameters measured were feed consumption, semen quality (macroscopic and microscopic characteristics), also a potential ability of rams to serve ewe. The results showed there were no significant effect on protein consumption, semen volume, semen pH, semen color and consistency, sperm mass movement, sperm motility, sperm concentration, sperm morphology, and prediction potential ability to serve ewe. However, the result showed a significant effect (P0.05) on sperm viability and sperm plasma membrane integrity. Sperm plasma membrane integrity of ram feed with T3 was better than T1 and T2 (P0.05). The prediction potential ability rams to serve ewes on MBSF treatment was 38 heads, while in T1 and T2 were 43 and 57 heads, respectively. In conclusion, MBSF can be an alternative source of protein besides SBM to improve the semen quality of Garut rams.ABSTRAK. Maggot Hermetia illucens (Maggot Black Soldier Fly; MBSF) adalah sumber protein alternatif selain bungkil kedelai (SBM) yang dapat dipergunakan sebagai pakan untuk memperbaiki kualitas semen terutama pada domba Garut untuk mendukung sifat prolifik. Tujuan penelitian ini adalah menganalisis dan membandingkan dampak pemberian sumber protein berbeda terhadap kualitas semen domba Garut dan untuk menilai kemampuan domba Garut pejantan dalam melayani betina pada peternakan rakyat di Jawa Barat, Indonesia. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 3 perlakuan dan 4 ulangan yang terdiri dari rumput Brachiaria humidicola (BH) dan T1 (konsentrat mengandung 20% SBM), T2 (konsentrat mengandung 10% SBM dan 10% MBSF), dan T3 (konsentrat mengandung 20% MBSF). Parameter yang diukur adalah konsumsi pakan, karakteristik semen (makroskopis dan mikroskopis) serta potensi domba jantan melayani betina. Hasil Penelitian menunjukkan tidak ada perbedaan signifikan pada konsumsi protein pakan, volume semen, pH semen, warna dan konsistensi semen, gerakan massa sperma, motilitas sperma, konsentrasi sperma, morfologi sperma, dan prediksi potensi pejantan dalam melayani betina. Namun, hasil penelitian menunjukkan terdapat perbedaan (P0.05) pada viabilitas sperma dan membran plasma utuh sperma. Membran plasma utuh pada perlakuan T3 lebih baik dibandingkan perlakuan T1 dan T2 (P0.05). Prediksi potensi betina terlayani dari pejantan yang diberi pakan MBSF adalah 38 ekor, sedangkan yang diberi SBM dan kombinasinya adalah 43 dan 57 ekor. Kesimpulan penelitian ini adalah MBSF dapat menjadi alternatif sumber protein selain bungkil kedelai dalam memperbaiki kualitas sperma domba Garut.
Pengaruh Pemberian Tumbuhan Obat terhadap Performa Produksi dan Karakteristik Reproduksi Ayam Petelur Nurmeiliasari Nurmeiliasari; Yosi Fenita; Ahmat Kusnandar
Jurnal Agripet Vol 20, No 1 (2020): Volume 20, No. 1, April 2020
Publisher : Agricultural Faculty

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17969/agripet.v20i1.15269

Abstract

ABSTRAK. Performa produksi, jumlah folikel dan berat organ reproduksi diukur pada 40 ekor ayam petelur yang diberi perlakuan penambahan 5% tepung daun tumbuhan obat yaitu daun Katuk (5%TDK), daun Marigold (5%TDM), daun Senduduk (5%TDS) ke dalam ransum. Variabel yang diamati meliputi konsumsi ransum, persentase produksi telur, egg mass production, konversi ransum, berat dan panjang organ reproduksi dan jumlah folikel. Penambahan tepung tanaman obat tidak mempengaruhi konsumsi ransum ayam petelur. Hasil perhitungan persentase produksi telur mingguan menunjukkan hasil yang sama pada semua perlakuan. Perlakuan 5% tepung tanaman herbal tidak mempengaruhi egg mass production. Konversi ransum pada semua kelompok perlakuan tanaman obat adalah sama. Pemberian tepung tanaman obat di dalam ransum petelur tidak berpengaruh nyata pada jumlah folikel. Berat dan panjang organ reproduksi tidak dipengaruhi oleh perlakuan tepung tanaman obat. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa penambahan 5% tepung daun Katuk, Marigold dan Senduduk dalam ransum menunjukkan konsumsi ransum, persentase produksi telur, egg mass production, konversi ransum, bobot dan panjang oviduk, berat ovarium dan jumlah folikel yang sama pada ayam petelur. (Efficacy of medicinal plants on production performance and reproductive characteristics of laying hens)ABSTRACT. Efficacy of Katuk leaf meal, Marigold leaf meal and Senduduk leaf meal on production performance and reproductive characteristics were evaluated. Forty layers aged 32 weeks were distributed into 4 dietary treatments. The layers were housed in individual battery. One-way ANOVA treatment arranged in a Completely Randomized Design was used in this experiment. Dietary treatments were P0 (control without medicinal leaf meal), P1 (diet with 5% Katuk leaf meal), P2 (diet with 5% Marigold leaf meal), P3 (diet with 5% Senduduk leaf meal). This research measured feed intake, egg production, percentage of egg production, feed conversion ratio, number of follicles, weight of ovary, weight and length of oviduct as parameters. Significant results were tested by Duncan Multiple Range Test. The result showed that dietary treatments of medicinal leaf did not affect feed intake and feed conversion ratio of layers. Egg production percentage and egg mass production, the number of follicles, and length and weight of oviduct were similar of all medicinal leaf meal treatments. It can be concluded that feeding medicinal leaf meal did not affect production performance, number of follicles and weight of reproductive organs.
Performan dan Produksi Karkas Itik Lokal dengan Pemberian Ransum yang Mengandung Limbah Ikan Leubiem (Canthidermis maculata) Muhammad Daud; Zahrul Fuadi; Mulyadi Mulyadi
Jurnal Agripet Vol 20, No 1 (2020): Volume 20, No. 1, April 2020
Publisher : Agricultural Faculty

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17969/agripet.v20i1.15149

Abstract

ABSTRAK. Penelitian bertujuan untuk mengevaluasi performan dan produksi karkas itik lokal yang diberi ransum mengandung limbah ikan leubim (Canthidermis maculata). Materi penelitian yang digunakan adalah 100 ekor itik lokal jantan umur 1 hari yang dipelihara hingga umur 16 minggu. Metode penelitian dilakukan secara eksperimental menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) yang terdiri 5 perlakuan ransum dan 4 ulangan. Perlakuan ransum yang digunakan adalah : R0 (ransum kontrol /tanpa limbah ikan leubim), R1 (ransum mengandung 10% tepung kulit ikan leubim), R2 (ransum mengandung 10% tepung kepala ikan leubim), R3 (ransum mengandung 10% tepung tulang ikan leubim), dan R4 (ransum mengandung 10% kombinasi limbah ikan leubim/tepung kulit, kepala dan tulang). Variabel yang diamati yaitu: konsumsi ransum, bobot badan akhir, konversi ransum, mortalitas, bobot karkas dan persentase karkas. Data yang diperoleh dianalisis dengan Analysis of Variance (ANOVA) dan dilanjutkan dengan uji jarak berganda Duncan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian ransum yang mengandung tepung limbah ikan leubim sebanyak 10% dalam formulasi ransum memberi pengaruh yang signifikan (p0,05) terhadap konsumsi ransum, bobot badan akhir, nilai konversi ransum, bobot karkas dan persentase karkas itik lokal jantan umur 16 minggu, namun tidak berpengaruh nyata terhadap mortalitas. Kesimpulan penelitian adalah penggunaan kombinasi limbah ikan leubim (tepung kulit, kepala dan tulang) sebanyak 10% dalam formulasi ransum dapat meningkatkan bobot badan akhir, bobot karkas dan persentase karkas, serta dapat menurunkan konversi ransum itik lokal jantan umur 16 minggu.(Performance and carcass production of local ducks by ration containing of leubiem fish waste (Canthidermis maculata))ABSTRACT. The purpose of this study was to determine the effect of the use of leubim fish (Canthidermis maculata) waste in ration formulations on the performance and carcass production of local ducks. The research material used was 100 male local ducks 1-16 weeks old. The research method was conducted experimentally using a Completely Randomized Design (CRD) consisting of 5 treatments and 4 replications. The treatment ration used was as follows: R0 (control ration/without leubim fish waste), R1 (ration containing 10% leubim fish skin), R2 (ration containing 10% leubim fish head), R3 (ration containing 10% leubim fish bone), and R4 (ration contains 10% combination of leubim fish waste/skin, head, and bones). The observed variables were: feed consumption, final body weight, feed conversion, mortality, carcass weight, and carcass percentage. Data were analyzed with Analysis of Variance (ANOVA). The results showed that the use of leubim fish waste in ration 10% had a significant effect (p0.05) on ration consumption, final body weight, conversion ratio, carcass weight, and carcass percentage of male local ducks, but did not significantly affect mortality. The study concluded that the use of 10% leubim fish waste combination in ration formulation could increase the final body weight, carcass weight, carcass percentage and decrease feed conversion of the male local ducks age 16 weeks.
Tingkat Keberhasilan Inseminasi Buatan Menggunakan Semen Beku Sexing pada Bangsa Sapi yang Berbeda Wiranto Wiranto; Kuswati Kuswati; Rizki Prafitri; Asri Nurul Huda; Aulia Puspita Anugra Yekti; Trinil Susilawati
Jurnal Agripet Vol 20, No 1 (2020): Volume 20, No. 1, April 2020
Publisher : Agricultural Faculty

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17969/agripet.v20i1.15811

Abstract

ABSTRAK. Penelitian ini bertujuan mengevaluasi tingkat keberhasilan IB semen beku sexing Y. Penelitian menggunakan 39 sapi Peranakan Ongole dan 77 sapi Persilangan Limousin yang di IB secara double dosis. IB menggunakan semen beku spermatozoa Y dengan metode pemisahan Sentrifugasi Gradien Densitas Percoll (SGDP) sapi Limousin yang diproduksi oleh Balai Besar Inseminasi Buatan (BBIB) Singosari. Teknik deposisi semen adalah 4+ yaitu pada posisi cornua uteri selanjutnya dilakukan IB pada jam ke 2 dan ke 8. Untuk akseptor dilakukan penyuntikan BioATP+ dan pemberian pakan konsentrat 3 kg per hari selama 3 hari setelah IB. Variabel penelitian meliputi Non Return Rate (NRR), Service Per Conception (S/C), dan Conception Rate (CR). Hasil penelitian menunjukkan bahwa IB sapi Peranakan Ongole dan sapi Persilangan Limousin yaitu NRR1 sebesar 82,05% dan 89,61%, nilai NRR2 sebesar 76,92% dan 84,42%, nilai CR sebesar 58,97% dan 74,03%, serta nilai S/C sebesar 1,78% dan 1,46%. Kesimpulan penelitian adalah IB menggunakan semen beku hasil sexing Y sapi Limousin pada sapi persilangan Limousin memiliki tingkat keberhasilan yang lebih tinggi dibandingkan sapi Peranakan Ongole.(The success rate of artificial insemination using frozen sexing semen of different breed cow)ABSTRACT. This study aimed to evaluate the success rate of AI frozen semen sexing Y. The material in this study used 39 Filial Ongole and 77 Limousin crossbred cattle in AI in double dose. The spermatozoa used were Y frozen semen of Limousin bull with the Percoll Gradient Density Centrifugation (SGDP) separation method produced by the Singosari Center for Artificial Insemination. The semen deposition technique was 4+, which has the position of the cornua uteri (deep Insemination), then AI implemented with a double dose at the 2nd and 8th hours after estrous. The cow acceptor was injected with BioATP+ and feed by 3 kg concentrate per day for three days after AI. Research variables include Non-Return Rate (NRR), Service Per Conception (S/C), and Conception Rate (CR). The results showed that AI of Peranakan Ongol and Limousin crossbred cattle on NRR1, NRR2, CR values, and S/C values respectively was 82.05% and 89.61%; 76.92% and 84.42%; 58.97% and 74.03%; 1.78% and 1.46%. In conclusion, AI using frozen semen from sexing Y Limousin cattle in Limousin crossbred cows had a higher success rate than Filial Ongole cattle.
Peningkatan Motilitas Spermatozoa Kambing Nubian Setelah Pemberian PGF2 dalam Pengencer Andromed Adhea Prestiya; Tongku Nizwan Siregar; Husnurrizal Husnurrizal; Sri Wahyuni; Eka Meutia Sari; Hafizuddin Hafizuddin; Budianto Panjaitan
Jurnal Agripet Vol 20, No 1 (2020): Volume 20, No. 1, April 2020
Publisher : Agricultural Faculty

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17969/agripet.v20i1.15509

Abstract

ABSTRAK. Penelitian ini bertujuan mengetahui pengaruh pemberian PGF2 dalam pengencer semen komersial (Andromed) terhadap peningkatan motilitas spermatozoa kambing Nubian. Penelitian ini menggunakan sampel semen yang dikoleksi dari 3 ekor kambing Nubian berumur 2-3 tahun menggunakan vagina buatan dan dievaluasi kualitasnya secara makroskopis dan mikroskopis. Setelah dievaluasi, sampel semen ditambahkan pengencer Andromed lalu dibagi atas 3 kelompok perlakuan, yaitu: P1; P2; dan P3 yang masing-masing ditambahkan NaCl fisiologis; 37,5 g PGF2; dan 75 g PGF2. Seluruh sampel disimpan dalam refrigerator selama 4 jam dan dilakukan pemeriksaan motilitas spermatozoa. Data yang diperoleh dianalisis dengan sidik ragam pola satu arah (ANOVA) dan dilanjutkan dengan uji Duncan. Hasil penelitian menunjukkan, bahwa motilitas spermatozoa (%) kambing Nubian pada P1; P2; dan P3 masing-masing adalah 26,335,5; 62,03,5; dan61,810,13 (P0,05). Disimpulkan bahwa penambahan PGF2 pada pengencer Andromed dapat meningkatkan motilitas spermatozoa kambing Nubian.(The improvement of sperm motility in Nubian goat after PGF2 administration in andromed semen diluents)ABSTRACT. The study aims to determine the administration effect of PGF2 in a commercial semen diluents (Andromed) on improvement of Nubian goat sperm motility. This study used semen samples that collected from three Nubian goats aged 2-3 using artificial vagina and their quality evaluated macroscopically and microscopically. After evaluated, semen samples were added with Andromed diluents then divided into three groups (P1, P2, and P3) where each group was then added with 0,9% physiologic NaCl, 37.5 g PGF2, and 75 g PGF2, respectively and stored in a refrigerator for 4 hours and subsequently spermatozoa motility was examined. The data obtained were analyzed by one-way analysis of variance (ANOVA) and followed by Duncan test. The results showed that the spermatozoa motility (%) of Nubian goats at P1, P2, and P3 were 26.335.5, 62.03.5, and 61.810.13, respectively. Based on the statistical tests showed that the administration of PGF2 at P2 and P3 had a significant effect (P0,05) on the motility of spermatozoa of Nubian goats, but the motility decreased in P1. The conclusion of this study is the addition of PGF2 to Andromed diluents can increase the motility of spermatozoa of Nubian goats.
Evaluasi Produksi dan Kualitas Susu pada Sapi Mastitis Anis Fatonah; Dian Wahyu Harjanti; Fajar Wahyono
Jurnal Agripet Vol 20, No 1 (2020): Volume 20, No. 1, April 2020
Publisher : Agricultural Faculty

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17969/agripet.v20i1.15200

Abstract

ABSTRAK. Tingkat peradangan ambing merupakan salah satu faktor yang dapat mempengaruhi produksi dan kualitas susu sapi. Penelitian ini bertujuan mengetahui hubungan antara produksi dan kualitas susu yang dihasilkan sapi mastitis. Materi yang digunakan adalah 30 ekor sapi perah Friesian Holstein (FH) dengan periode laktasi III-V dan bulan laktasi 3-4. Tingkat peradangan ambing diuji menggunakan California mastitis test (X1) dan jumlah sel somatik (X2) dengan metode Breed dihubungkan dengan produksi (Y1) atau kualitas susu (lemak : Y2, protein = Y3 dan laktosa = Y4). Analisis yang digunakan adalah analisis regresi linier berganda. Hasil penelitian menunjukkan sebanyak 30% kuartir ambing dinyatakan sehat sedangkan 70% kuartir ambing terinfeksi mastitis subklinis dengan tingkat peradangan yang berbeda. Terdapat hubungan antara tingkat peradangan ambing dengan produksi susu berpola linier negatif nyata (P 0,05) dengan persamaan Y1 = 16,126 - 3,064X1 - 0,001X2 dan koefisien korelasi kuat (r = 0,740). Hubungan antara tingkat peradangan ambing dengan kualitas susu (lemak, protein, laktosa) berpola linier negatif nyata (P 0,05) dengan persamaan Y2 = 3,481 - 0,157X1 - 0,000X2 (r = 0,739), Y3 = 3,048 - 0,124X1 - 0,000X2 (r = 0,653) dan Y4 = 4,605 - 0,106X1 - 0,001X2 (r = 0,623). Kesimpulan dari penelitian ini adalah terdapat hubungan antara tingkat peradangan ambing dengan produksi dan kualitas susu dimana semakin tinggi tingkat peradangan ambing maka produksi dan kualitas susu akan mengalami penurunan.(Evaluation of milk production and quality in mastitis cows)ABSTRACT. The level of udder inflammation is one of the factors that can affect the production and quality of cow's milk. This study was aimed to determine the relationship between milk production and quality produced by mastitis cows. The material used was 30 Friesian Holstein (FH) dairy cows with a lactation period of III-V and a lactation month of 3-4. Inflammation degree of the mammary gland was determined by the California mastitis test (X1) and somatic cell count (X2) with a breed method relationship between milk production (Y1) or milk quality (fat: Y2, protein: Y3, and lactose: Y4) were determined by the multiple linear regression. The results showed that 30% of the udder quarter were healthy while 70% of the udder quarter were infected with mastitis with different levels of inflammation. There was a strong negative correlation (P 0,05; r = 0.740) between milk production, CMT and SCC score with Y1 = 16.126 - 3.064X1 - 0.001X2. Moreover, the correlation between milk production and milk quality (fat, protein, lactose) also showed a strong negative linear correlation (P 0,05) with the equation Y2 = 3.481 - 0.157X1 - 0.000X2 (r = 0.739), Y3 = 3.048 - 0.124X1 - 0.000X2 (r = 0.653) and Y4 = 4.605 - 0.106X1 - 0.001X2 (r = 0.623). In conclusion, the increased mammary inflammation level will result the decrease in milk production and milk quality.
Komponen Serat Sabut Kelapa yang Difermentasi Menggunakan Mikroba Pencerna Serat dari Rumen Kerbau Limbang Kustiawan Nuswantara; Sunarso Sunarso; Mukh Arifin; Agus Setiadi
Jurnal Agripet Vol 20, No 1 (2020): Volume 20, No. 1, April 2020
Publisher : Agricultural Faculty

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17969/agripet.v20i1.15545

Abstract

ABSTRAK. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji pengaruh perbedaan lama pemeraman dan aras starter mikroba pencerna serat dari rumen kerbau terhadap komponen serat dan perubahan struktur jaringan sabut kelapa fermentasi. Percobaan menggunakan rancangan acak lengkap pola faktorial 3x3 dan 4 ulangan. Fermentasi sabut kelapa menggunakan mikroba pencerna serat dari rumen kerbau sebagai starter dengan perlakuan aras starter (0, 2,5 dan 5%) dan lama peram (0, 7 dan 14 hari). Parameter yang diamati adalah komponen serat dan perubahan struktur jaringan. Data dianalisis menggunakan analisis ragam, dilanjutkan uji jarak berganda Duncan. Hasil penelitian menunjukkan tidak terdapat pengaruh interaksi (P0,05) antara perbedaan aras starter dan lama peram terhadap kadar neutral detergent fiber (NDF), acid detergent fiber (ADF), hemiselulosa, selulosa dan lignin. Kesimpulan penelitian ini adalah penurunan kadar komponen serat serta peningkatan kerusakan jaringan seiring dengan peningkatan aras starter dan lama pemeraman. Hal ini disebabkan oleh penurunan kadar selulosa dan lignin sedangkan kadar hemiselulosa tidak dipengaruhi. Hal ini didukung oleh pengamatan terhadap perubahan struktur jaringan.(Fiber components of fermented coconut husk using fibre degrading microbes from buffalo rumen)ABSTRACT. This study aimed to examine the effect of different fermentation periods and levels of fiber-degrading microbial starter from buffalo rumen fluid on fiber component and tissue structure alteration of coconut husk. The experimental design used was factorial randomized complete 3x3 and 4 replications. The coconut husk fermentation was using fiber-degrading microbial obtained from buffalo rumen fluid as a starter with different treatments of starter levels (0, 2.5 and 5%) and fermentation periods (0, 7 and 14 days). Parameters observed were fiber component and tissue structure alteration. The data were analyzed by analysis of variance and continued by Duncans Multiple Range Test. The results of this research showed that there was no interaction effect (P0.05) between starter level and fermentation period on NDF, ADF, hemicellulose, cellulose and lignin contents. The conclusion of this research was decreased fiber component content and damage to tissue structure of coconut husk along with increased starter level and fermentation period. This is caused by decreased levels of cellulose and lignin while hemicellulose levels were not affected. This is supported by observations of changes in tissue structure alteration.

Filter by Year

2000 2025


Filter By Issues
All Issue Vol 25, No 2 (2025): Volume 25, No. 2 October 2025 Vol 25, No 1 (2025): Volume 25, No. 1, April 2025 Vol 24, No 2 (2024): Volume 24, No. 2, October 2024 Vol 24, No 1 (2024): Volume 24, No. 1, April 2024 Vol 23, No 2 (2023): Volume 23, No. 2, Oktober 2023 Vol 23, No 1 (2023): Volume 23, No. 1, April 2023 Vol 22, No 2 (2022): Volume 22, No. 2, Oktober 2022 Vol 22, No 1 (2022): Volume 22, No. 1, April 2022 Vol 21, No 2 (2021): Volume 21, No. 2, Oktober 2021 Vol 21, No 1 (2021): Volume 21, No. 1, April 2021 Vol 20, No 2 (2020): Volume 20, No. 2, Oktober 2020 Vol 20, No 1 (2020): Volume 20, No. 1, April 2020 Vol 19, No 2 (2019): Volume 19, No. 2, Oktober 2019 Vol 19, No 1 (2019): Volume 19, No. 1, April 2019 Vol 18, No 2 (2018): Volume 18, No. 2, Oktober 2018 Vol 18, No 1 (2018): Volume 18, No. 1, April 2018 Vol 17, No 2 (2017): Volume 17, No. 2, Oktober 2017 Vol 17, No 1 (2017): Volume 17, No. 1, April 2017 Vol 16, No 1 (2016): Volume 16, N0. 1, April 2016 Vol 16, No 2 (2016): Volume 16, No. 2, Oktober 2016 Vol 15, No 1 (2015): Volume 15, N0. 1, April 2015 Vol 15, No 2 (2015): Volume 15, No. 2, Oktober 2015 Vol 14, No 2 (2014): Volume 14, No. 2, Oktober 2014 Vol 14, No 1 (2014): Volume 14, No. 1, April 2014 Vol 13, No 2 (2013): Volume 13, No. 2, Oktober 2013 Vol 13, No 1 (2013): Volume 13, No. 1, April 2013 Vol 12, No 2 (2012): Volume 12, No. 2, Oktober 2012 Vol 12, No 1 (2012): Volume 12, No. 1, April 2012 Vol 11, No 2 (2011): Volume 11, No. 2, Oktober 2011 Vol 11, No 1 (2011): Volume 11, No. 1, April 2011 Vol 10, No 2 (2010): Volume 10, No. 2, Oktober 2010 Vol 10, No 1 (2010): Volume 10, No. 1, April 2010 Vol 9, No 2 (2009): Volume 9, No. 2, Oktober 2009 Vol 9, No 1 (2009): Volume 9, No. 1, April 2009 Vol 8, No 2 (2008): Volume 8, No. 2, Oktober 2008 Vol 8, No 1 (2008): Volume 8, No. 1, April 2008 Vol 7, No 2 (2007): Volume 7, No. 2, Oktober 2007 Vol 7, No 1 (2007): Volume 7, No. 1, April 2007 Vol 3, No 1 (2002): Volume 3, No. 1, April 2002 Vol 2, No 2 (2001): Volume 2, No. 2, Oktober 2001 Vol 2, No 1 (2001): Volume 2, No. 1, April 2001 Vol 1, No 1 (2000): Volume 1, No. 1, April 2000 More Issue