cover
Contact Name
Yogi Setiawan
Contact Email
jurnal.P4I@gmail.com
Phone
+62851733700892
Journal Mail Official
jurnal.P4I@gmail.com
Editorial Address
Lingkungan Handayanai, Kel. Leneng, Kec. Praya, Kab. Lombok Tengah
Location
Unknown,
Unknown
INDONESIA
EDUCATIONAL: Jurnal Inovasi Pendidikan dan Pengajaran
ISSN : 27752585     EISSN : 27752593     DOI : https://doi.org/10.51878/educational.v4i4
Core Subject : Education,
Jurnal ini berisi artikel hasil pemikiran dan penelitian yang ditulis oleh para guru, dosen, pakar, ilmuwan, praktisi, dan pengkaji dalam semua disiplin ilmu yang berkaitan dengan pedidikan dan pengajaran.
Arjuna Subject : Umum - Umum
Articles 21 Documents
Search results for , issue "Vol. 5 No. 4 (2025)" : 21 Documents clear
PENERAPAN PEMBELAJARAN BERDIFERENSIASI PADA MATERI PERMAINAN INVASI SEPAK BOLA MATA PELAJARAN PJOK DI MADRASAH IBTIDAIYAH Arifin, Zainul
EDUCATIONAL : Jurnal Inovasi Pendidikan & Pengajaran Vol. 5 No. 4 (2025)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/educational.v5i4.7612

Abstract

ABSTRACT Differentiated learning is one of the strategies that can be implemented in teaching the subject of Physical Education, Sports, and Health (PJOK). Through differentiated learning, students can choose their learning needs according to their interests or learning styles. There are three approaches that can be applied in differentiated learning at every stage: differentiated content, differentiated process, and differentiated product. The purpose of this research is to examine the implementation of differentiated learning in Madrasah Ibtidaiyah (Islamic Elementary School) and the evaluation of differentiated learning in Madrasah Ibtidaiyah. This study uses a qualitative approach, with data collection techniques including interviews, observation, and documentation. Meanwhile, data validity is established using triangulation. The results of this study indicate that the application of differentiated learning in Madrasah Ibtidaiyah by the teacher is carried out through three stages: differentiated content (the teacher presents learning content through books and instructional videos), differentiated process (the teacher provides learning variations with two activities, including group presentations and games tailored to the students' needs), and differentiated product (the resulting products are in the form of written work, some create a video, and others produce a story). The learning evaluation, meanwhile, is conducted through the entire process, and the students' learning outcomes are reinforced with tests, practical assignments, and tasks. ABSTRAK Pembelajaran berdiferensiasi menjadi salah satu dari strategi yang bisa diterapkan dalam pembelajaran di mata Pelajaran pendidikan jasmani, olahraga, dan Kesehatan. Melalui pembelajaran berdiferensiasi peserta didik bisa memilih kebutuhan belajarnya sesuai dengan minat ataupun gaya belajar yang dimiliki. Ada tiga pendekatan yang bisa dilakukan dalam pembelajaran berdiferensiasi disetiap tahapannya yaitu berdiferensiasi konten, berdiferensiasi proses, dan berdiferensisi produk. Tujuan dari penelitian ini untuk melihat penerapan pembelajaran berdiferensiasi di madrasah ibtidaiyah dan evaluasi dalam pembelajaran berdiferensiasi di madrasah ibtidaiyah. Pendekatan penelitain ini menggunakan pendekatan kualitatif, pengumpulan data menggunakan teknik wawancara, observasi, dan dokumentasi. Sementara keabsahan data menggunakan triangulasi. Hasil yang diperoleh dari penelitian ini menunjukkan bahwa penerapan pembelajaran berdiferensiasi di madrasah ibtidaiyah yang dilakukan oleh guru melalui tiga tahapan yaitu berdiferensiasi konten (guru menyajikan bahan konten pembelajaran melalui buku dan video pembelajaran), berdiferensiasi proses (guru memberikan variasi pembelajaran dengan dua aktifitas meliputi presentasi kelompok dan permainan sesuai dengan kebutuhan peserta didik), dan berdiferensiasi produk (produk yang dihasilkan berupa tulisan, ada yang membuat dalam bentuk video, dan ada juga dalam bentuk cerita). Sementara evaluasi pembelajarannya dilakukan melalui proses secara utuh dan untuk hasil belajar peserta didik diperkuat dengan tes, praktik, dan tugas.
PENGARUH MODEL PBL BERBANTUAN PERMAINAN CONGKLAK TERHADAP KEMAMPUAN PEMAHAMAN KONSEP PENJUMLAHAN KELAS II SD Mosa, Theodorus Oliver; Puang, Desi Maria El; Lawotan, Yohanes Ehe
EDUCATIONAL : Jurnal Inovasi Pendidikan & Pengajaran Vol. 5 No. 4 (2025)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/educational.v5i4.7695

Abstract

This study aims to determine the effect of the Problem Based Learning (PBL) model assisted by the congklak game on the ability to understand the concept of addition among second grade students at SDK Nita 1. The research employed a quantitative method with an experimental approach using a one-group pretest–posttest design. The sampling technique used was nonprobability sampling with a saturated sampling method, resulting in a total sample of 29 students. The data collection procedure consisted of a pretest, followed by the implementation of the PBL model assisted by the congklak game, and then a posttest. Data analysis included a normality test and a hypothesis test (t-test). The results showed that on the pretest, the minimum score obtained was 50 and the maximum score was 80, with an average score of 64 and a standard deviation of 8.52246. In the posttest, the minimum score obtained was 65 and the maximum score was 96, with an average score of 84 and a standard deviation of 1.34645. The normality test yielded a significance value of 0.147, indicating that the data were normally distributed since Asymp. Sig (2-tailed) > 0.05. The hypothesis test using the t-test showed a significance value (2-tailed) of 0.000 < 0.05, which means that Ha is accepted and Ho is rejected. Thus, it can be concluded that the PBL model assisted by the congklak game has a significant effect on students understanding of the concept of addition in the second grade of SDK Nita 1. ABSTRAKPenelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh model PBL berbantuan permainan congklak terhadap kemampuan pemahaman konsep penjumlahan pada siswa kelas II SDK Nita 1. Metode yang digunakan dalam penelitian ini yaitu kuantitatif dengan pendekatan eksperimen melalui desain one group pretest posttest. Teknik pengambilan sampel menggunakan nonprobability sampling dengan metode sampling jenuh sehinggga sampel yang diambil adalah 29 orang. Prosedur pengumpulan data yaitu, tahap pretest, selanjutnya penerapan model PBL berbantuan permainan congklak, dan tahap berikutnya yaitu posttest. Analisis data menggunakan uji normalitas dan uji hipotesis (uji t). Hasil penelitian menunjukkan bahwa hasil pretest, nilai mínimum yang diperoleh yaitu 50, nilai maksimum 80 dengan rata-rata nilai 64 dan estándar deviasi 8.52246. Sementara pada hasil posttest, nilai mínimum yang diperoleh yaitu 65, nilai maksimum 96 dengan rata-rata nilai 84 dan standar deviasi 1.34645. Hasil uji normalitas menunjukkan nilai sig adalah 0,147. Data ini menunjukkan nilai normalitas memenuhi sebaran sebaran normal karena Asymp. Sig (2 tailled) > 0,05. Hasil uji hipótesis dengan menggunakan uji t diketahui nilai signifikansi (2-tailed) sebesar 0.000 < 0,05, maka Ha diterima dan Ho ditolak. Dengan demikian, kesimpulan dari penelitian ini menunjukkan bahwa terdapat pengaruh model PBL berbantuan permainan congklak terhadap kemampuan pemahaman konsep penjumlahan pada siswa kelas II SDK Nita 1.
GAMBARAN PENGETAHUAN SISWI TENTANG PERSONAL HYGIENE SAAT MENSTRUASI DI SLB B YAAT KLATEN Sugita, Sugita; Sitompul, Siti Doharni; Andriyani , Asti
EDUCATIONAL : Jurnal Inovasi Pendidikan & Pengajaran Vol. 5 No. 4 (2025)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/educational.v5i4.7807

Abstract

Menstruation is an important phase in the lives of adolescent girls that requires adjustment, particularly in maintaining personal hygiene. This phenomenon is often considered taboo, and the lack of adequate education and facilities, especially for adolescents with disabilities, leads to low knowledge and poor hygiene practices. This study aims to describe the knowledge of adolescent girls regarding personal hygiene during menstruation at SLB B YAAT Klaten, with a focus on age characteristics, menarche experience, and the sources of information used. The research was conducted using a quantitative approach and a descriptive design involving the entire population of adolescent girls who have experienced menstruation at SLB B YAAT Klaten. Data were collected from 40 respondents through a questionnaire and were analyzed descriptively using frequency distribution and percentages. The results showed that the majority of respondents were in early adolescence (ages 10-13 years) at 47.5%, with 52.5% of respondents having experienced menarche. Most respondents obtained health information from their parents (100%), with good knowledge levels in early adolescents at 37.5% and among those who have experienced menarche at 47.5%. The conclusion of this study highlights the significant role of parents in enhancing knowledge about menstrual personal hygiene among deaf adolescent girls. The research recommends the development of inclusive reproductive health education programs, collaboration between schools and healthcare providers, as well as active parental involvement in supporting hygiene behaviors during menstruation. It is hoped that these efforts will increase awareness and improve adolescent girls' knowledge of reproductive health from an early age. ABSTRAKMenstruasi merupakan suatu fase penting dalam kehidupan remaja putri/siswi yang memerlukan penyesuaian, terutama dalam aspek menjaga kebersihan diri (personal hygiene). Fenomena ini sering kali dianggap tabu, dan minimnya edukasi serta fasilitas yang memadai, khususnya bagi remaja putri/siswi penyandang disabilitas, menyebabkan rendahnya pengetahuan serta praktik kebersihan yang baik. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan gambaran pengetahuan remaja putri/siswi tentang personal hygiene saat menstruasi di SLB B YAAT Klaten, dengan fokus pada karakteristik usia, pengalaman menarche, dan sumber informasi yang digunakan. Penelitian ini dilakukan dengan pendekatan kuantitatif dan desain deskriptif pada populasi seluruh remaja putri/siswi di SLB B YAAT Klaten. Data diambil dari 40 responden melalui kuesioner dan dianalisis secara deskriptif dengan menggunakan distribusi frekuensi dan persentase. Hasil penelitian menunjukkan bahwa mayoritas responden berusia remaja awal (10-13 tahun) sebanyak 47,5%, serta 52,5% responden sudah mengalami menarche. Sebagian besar responden memperoleh informasi kesehatan dari orang tua (100%), dengan pengetahuan baik pada remaja awal sebanyak 37,5% dan pada responden yang sudah mengalami menarche sebanyak 47,5%. Kesimpulan dari penelitian ini adalah peran orang tua sangat signifikan dalam meningkatkan pengetahuan tentang personal hygiene menstruasi pada remaja putri/siswi tuna rungu. Penelitian ini menyarankan perlunya pengembangan program edukasi kesehatan reproduksi yang inklusif, kolaborasi antara sekolah dan tenaga kesehatan, serta peran aktif orang tua dalam mendukung perilaku kebersihan selama menstruasi. Hal ini diharapkan dapat meningkatkan kesadaran dan pengetahuan remaja putri/siswi (tuna rungu) mengenai kesehatan reproduksi sejak dini.
NAVIGATING DIGITAL LITERACY TO REDUCE CYBERBULLYING IN ADOLESCENTS Indarto, Mukhamad Diki; Huda, Muhammad; Utomo, Imam Aris; Ramadhan, Ari Maulana; Annur, Fauzi
EDUCATIONAL : Jurnal Inovasi Pendidikan & Pengajaran Vol. 5 No. 4 (2025)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/educational.v5i4.7810

Abstract

ABSTRACT The rapid advancement of digital technology presents both opportunities and risks for adolescents, one of which is the rising incidence of cyberbullying manifested in forms such as flaming, online harassment, and the dissemination of personal information. This situation affects adolescents’ psychological well-being, physical health, and academic performance, thereby requiring systematic preventive measures. This study aims to examine the role of digital literacy in reducing cyberbullying behavior through a literature review of relevant national and international publications. The selected articles were analyzed using a content analysis approach to identify recurring patterns, key concepts, and effective prevention strategies aligned with the dynamics of adolescents’ digital engagement. The findings indicate that digital literacy not only enhances technical abilities but also strengthens critical thinking skills, ethical awareness, and understanding of privacy protection, all of which directly contribute to reducing aggressive behavior in digital spaces. The review also highlights that school-based digital literacy programs, parental involvement, the use of educational technologies, and regulatory support such as the Electronic Information and Transactions Law (UU ITE) positively influence adolescents’ resilience against online threats. However, challenges such as unequal infrastructure readiness, varying literacy levels, and limited intensive supervision remain obstacles to optimal implementation. Overall, the study concludes that collaboration among educational institutions, families, the government, and digital platform providers serves as a fundamental basis for creating a safe, ethical, and supportive digital ecosystem for adolescent development. ABSTRAK Kemajuan teknologi digital yang berlangsung cepat menghadirkan peluang sekaligus risiko bagi remaja, salah satunya meningkatnya kasus cyberbullying yang muncul dalam bentuk flaming, pelecehan daring, dan penyebaran data pribadi. Situasi ini berdampak pada kondisi psikologis, kesehatan fisik, serta prestasi akademik remaja, sehingga diperlukan langkah pencegahan yang sistematis. Penelitian ini bertujuan mengkaji peran literasi digital dalam menekan perilaku cyberbullying melalui tinjauan pustaka terhadap berbagai publikasi nasional dan internasional yang relevan. Artikel-artikel terpilih dianalisis menggunakan pendekatan analisis isi untuk menelusuri pola temuan, konsep kunci, dan strategi pencegahan yang sesuai dengan dinamika aktivitas digital remaja. Hasil kajian menunjukkan bahwa literasi digital tidak hanya meningkatkan kemampuan teknis, tetapi juga memperkuat kecakapan berpikir kritis, kesadaran etis, dan pemahaman mengenai perlindungan privasi, yang secara langsung berkontribusi mengurangi kecenderungan perilaku agresif di ruang digital. Temuan juga menegaskan bahwa implementasi program literasi digital di sekolah, keterlibatan orang tua, pemanfaatan teknologi edukatif, serta dukungan regulasi seperti UU ITE berpengaruh positif dalam membangun ketahanan remaja terhadap ancaman dunia maya. Adapun hambatan berupa kesenjangan infrastruktur, perbedaan tingkat literasi, dan terbatasnya pendampingan intensif masih menjadi faktor penghambat. Secara keseluruhan, studi ini menyimpulkan bahwa kolaborasi antara institusi pendidikan, keluarga, pemerintah, dan penyedia platform digital merupakan fondasi utama untuk mewujudkan ekosistem digital yang aman, etis, dan mendukung perkembangan remaja.
IMPLEMENTASI KURIKULUM DEEP LEARNING PADA PEMBELAJARAN KITAB KUNING DI PONDOK PESANTREN Albab, Muhammad Ulul; Putra P, Heldy Ramadhan
EDUCATIONAL : Jurnal Inovasi Pendidikan & Pengajaran Vol. 5 No. 4 (2025)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/educational.v5i4.7812

Abstract

ABSTRACT The development of digital technology has encouraged Islamic boarding schools (pesantren) to adapt their learning methods to remain relevant, including in the teaching of the Kitab Kuning, which has traditionally relied on conventional instructional approaches. This study focuses on the implementation of a deep learning curriculum in the Kitab Kuning learning process at Pondok Pesantren Syarifatul Ulum Katerban and examines its contribution to improving students’ learning quality. A qualitative case study design was employed, involving in-depth interviews, participatory observations, and curriculum document analysis to obtain a comprehensive understanding of the pedagogical practices. The findings reveal that the integration of mindful learning, meaningful learning, and joyful learning principles enhances students’ engagement and fosters more reflective and meaningful learning experiences. The use of artificial intelligence technologies such as adaptive learning systems and the digitalisation of the Kitab Kuning also enriches the learning process, although challenges remain in terms of infrastructure readiness and teachers’ digital literacy. Overall, the implementation of the deep learning curriculum has strengthened students’ conceptual understanding, critical thinking skills, character development, and digital literacy, thereby offering new directions for the advancement of pesantren-based education in the digital era. ABSTRAK Perkembangan teknologi digital mendorong pesantren untuk menyesuaikan metode pembelajaran agar tetap relevan, termasuk dalam pengajaran Kitab Kuning yang selama ini menggunakan pendekatan tradisional. Penelitian ini berfokus pada implementasi kurikulum deep learning dalam pembelajaran Kitab Kuning di Pondok Pesantren Syarifatul Ulum Katerban serta kontribusinya terhadap peningkatan kualitas belajar santri. Studi ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain studi kasus melalui wawancara mendalam, observasi partisipatif, dan analisis dokumen kurikulum untuk memperoleh pemahaman menyeluruh mengenai praktik pembelajaran. Hasil penelitian menunjukkan bahwa integrasi prinsip mindful learning, meaningful learning, dan joyful learning mampu meningkatkan keterlibatan santri serta mendorong terbentuknya pengalaman belajar yang lebih reflektif dan bermakna. Pemanfaatan teknologi kecerdasan buatan seperti sistem pembelajaran adaptif dan digitalisasi Kitab Kuning juga memberikan nilai tambah dalam proses belajar, meskipun masih menghadapi kendala pada aspek infrastruktur dan literasi digital guru. Secara keseluruhan, implementasi kurikulum deep learning terbukti memperkuat pemahaman konseptual, keterampilan berpikir kritis, serta pengembangan karakter dan literasi digital santri, sehingga menawarkan arah baru bagi pengembangan pembelajaran pesantren di era digital.
ANALISIS IMPLEMENTASI MANAJEMEN BERBASIS GUGUS (MBG) Kurniawan, Bayu Tri; M.Munadi; Putra P, Heldy Ramadhan
EDUCATIONAL : Jurnal Inovasi Pendidikan & Pengajaran Vol. 5 No. 4 (2025)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/educational.v5i4.7814

Abstract

ABSTRACT This study is driven by the need of the madrasah to improve the quality of learning, student services, and institutional governance through strengthening collaboration-based management. MTs Negeri 3 Karanganyar, as a large madrasah with a high number of students, faces challenges related to coordination across units, consistency in instructional supervision, and the effectiveness of quality monitoring systems. This study aims to analyze the implementation of Cluster-Based Management (CBM) as a management model that emphasizes structured teamwork through the establishment of academic, student affairs, and governance clusters. Using a descriptive qualitative approach with a case study design, data were collected through in-depth interviews, participatory observations, and document reviews. The analysis focused on the CBM structure, planning processes, implementation, evaluation, as well as the identification of impacts and implementation barriers. The findings show that CBM enhances teacher coordination, strengthens academic supervision, improves quality documentation, and accelerates student services. However, its implementation still faces obstacles such as limited training, varied competencies among cluster members, and suboptimal digital-based monitoring. The study concludes that CBM contributes significantly to improving madrasah quality when supported by strengthened human resource capacity and continuous evaluation. ABSTRAK Penelitian ini dilatarbelakangi oleh kebutuhan madrasah untuk meningkatkan mutu pembelajaran, layanan peserta didik, dan tata kelola kelembagaan melalui penguatan manajemen berbasis kolaborasi. MTs Negeri 3 Karanganyar sebagai madrasah dengan jumlah peserta didik besar menghadapi tantangan koordinasi antarunit, konsistensi supervisi pembelajaran, serta efektivitas pemantauan mutu. Penelitian ini bertujuan menganalisis implementasi Manajemen Berbasis Gugus (MBG) sebagai model manajemen yang tekanan kerja tim terstruktur melalui pembentukan gugus akademik, gugus kesiswaan, dan gugus tata kelola. Penelitian menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif dengan desain studi kasus, dengan data yang diperoleh melalui wawancara mendalam, observasi partisipatif, dan studi dokumen. Analisis difokuskan pada struktur MBG, proses perencanaan, pelaksanaan, evaluasi, serta identifikasi dampak dan hambatan implementasinya. Hasil menunjukkan bahwa MBG mampu meningkatkan koordinasi guru, memperkuat supervisi akademik, memperbaiki dokumentasi mutu, dan mempercepat layanan peserta didik. Namun dalam pelaksanaannya masih menghadapi kendala berupa keterbatasan pelatihan, variasi kompetensi anggota gugus, serta kurang optimalnya digitalisasi monitoring. Penelitian menyimpulkan bahwa MBG memberikan kontribusi yang signifikan terhadap peningkatan mutu madrasah disertai penguatan kapasitas SDM dan evaluasi berkelanjutan.
BUDAYA BERSALAMAN SEBAGAI BAGIAN DARI PERILAKU DAN BUDAYA ORGANISASI DALAM INTERAKSI PESERTA DIDIK DAN GURU Heavyawan, Edwin Ridho; Rohmadi, Syamsul Huda
EDUCATIONAL : Jurnal Inovasi Pendidikan & Pengajaran Vol. 5 No. 4 (2025)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/educational.v5i4.7815

Abstract

ABSTRACT The handshake culture is a common behavioral practice found in educational environments, which not only reflects values of respect but also strengthens relationships among individuals within the institution. This study aims to examine the implementation of the handshake culture at MTs Negeri 2 Karanganyar, as well as to identify its relationship with individual behavior, organizational culture, and its impact on national education quality. In this context, the handshake culture is more than a daily habit; it becomes an integral part of the value system applied in the school. Through the practice of handshaking, a conducive atmosphere is created for students’ character development, fostering discipline and enhancing positive interactions among teachers, students, and school staff. This research employs a qualitative method with a case study approach involving observations, interviews, and document analysis. The findings show that the handshake culture implemented at MTs Negeri 2 Karanganyar not only supports the creation of more harmonious relationships within the school community but also increases trust and individual commitment toward organizational goals. Thus, this culture becomes an essential element in creating a better educational environment, which in turn can improve overall education quality. The study suggests that handshake culture should be considered as part of organizational culture development strategies in other schools in Indonesia to support the enhancement of more inclusive and morally grounded education quality. ABSTRAK Budaya bersalaman merupakan salah satu bentuk perilaku yang sering dijumpai di lingkungan pendidikan, yang tidak hanya mencerminkan nilai penghormatan, tetapi juga dapat mempererat hubungan antar individu di dalamnya. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji implementasi budaya bersalaman di MTs Negeri 2 Karanganyar, serta mengidentifikasi hubungan antara budaya tersebut dengan perilaku dan budaya organisasi, dan dampaknya terhadap mutu pendidikan nasional. Dalam konteks ini, budaya bersalaman lebih dari sekedar kebiasaan sehari-hari, tetapi juga menjadi bagian integral dari sistem nilai yang diterapkan di sekolah. Melalui budaya bersalaman, tercipta suasana yang kondusif bagi perkembangan karakter siswa, membentuk kedisiplinan, dan memperkuat interaksi positif antara guru, siswa, serta staf sekolah. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi kasus yang melibatkan observasi, wawancara, dan analisis dokumen. Hasil penelitian menunjukkan bahwa budaya bersalaman yang diterapkan di MTs Negeri 2 Karanganyar tidak hanya mendukung terciptanya hubungan yang lebih harmonis antara pihak sekolah, tetapi juga meningkatkan kepercayaan dan komitmen individu terhadap tujuan organisasi. Dengan demikian, budaya ini menjadi salah satu elemen penting dalam menciptakan lingkungan pendidikan yang lebih baik, yang pada gilirannya dapat mendongkrak mutu pendidikan secara keseluruhan. Penelitian ini menyarankan agar budaya bersalaman dijadikan bagian dari strategi pengembangan budaya organisasi di sekolah-sekolah lain di Indonesia, untuk mendukung peningkatan mutu pendidikan yang lebih inklusif dan berbasis pada nilai-nilai moral yang kuat.
REPRESENTASI EMOSI DAN MAKNA RELIGIUS DALAM TUTURAN ENZY STORIA PADA PODCAST “DANIEL TETANGGA KAMU”: KAJIAN PSIKOLINGUISTIK Tachi, Lely Nur; Suroso, Eko
EDUCATIONAL : Jurnal Inovasi Pendidikan & Pengajaran Vol. 5 No. 4 (2025)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/educational.v5i4.7827

Abstract

This research aims to analyze the representation of emotions and religious meanings in Enzy Storia's speech on the Daniel Neighbor Kamu podcast episode "Through Tahajud Prayer, Enzy Storia Receives God's Miracles?". This study is based on a psycholinguistic approach that focuses on the relationship between the speaker's psychological processes and linguistic forms in oral communication. The research data was in the form of a transcript of a conversation between Enzy Storia and Daniel Mananta which was analyzed qualitatively descriptively with the technique of interpreting the meaning and context of speech. The results of the study showed that Enzy's linguistic expression reflected multi-layered emotional dynamics, starting from confusion, sadness, to the achievement of spiritual calm. Diction choices such as "I'm sincere" and "Oh Allah, if this is my way" show a change in self-perception from the crisis phase to religious acceptance. Through language, Enzy emphasizes the shift in emotional orientation from suffering to sincerity, as well as showing the function of language as a medium of psychological healing. This research proves that religious language is not only a means of expression of faith, but also a therapeutic instrument that helps individuals reorganize emotional and spiritual balance. Thus, Enzy's speech becomes an authentic representation of the relationship between language, emotions, and faith that reinforce each other in modern human communication. ABSTRAK Penelitian ini bertujuan menganalisis representasi emosi dan makna religius dalam tuturan Enzy Storia pada podcast Daniel Tetangga Kamu episode “Lewat Doa Tahajud, Enzy Storia Terima Mujizat Tuhan?”. Kajian ini berlandaskan pendekatan psikolinguistik yang menitikberatkan pada hubungan antara proses psikologis penutur dan bentuk linguistik dalam komunikasi lisan. Data penelitian berupa transkrip percakapan antara Enzy Storia dan Daniel Mananta yang dianalisis secara kualitatif-deskriptif dengan teknik interpretasi makna dan konteks tuturan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekspresi linguistik Enzy mencerminkan dinamika emosi yang berlapis, dimulai dari kebingungan, kesedihan, hingga pencapaian ketenangan spiritual. Pilihan diksi seperti “aku ikhlasin aja” dan “Ya Allah, kalau memang ini jalan aku” menunjukkan perubahan persepsi diri dari fase krisis menuju penerimaan religius. Melalui bahasa, Enzy menegaskan pergeseran orientasi emosional dari penderitaan menjadi keikhlasan, serta memperlihatkan fungsi bahasa sebagai media penyembuhan psikologis. Penelitian ini membuktikan bahwa bahasa religius tidak hanya sarana ekspresi keimanan, tetapi juga instrumen terapeutik yang membantu individu menata kembali keseimbangan emosional dan spiritual. Dengan demikian, tuturan Enzy menjadi representasi autentik hubungan antara bahasa, emosi, dan iman yang saling memperkuat dalam komunikasi manusia modern.
EKSPLORASI MAKNA "TEMAN BELAJAR" BAGI SISWA KELAS II SD DALAM MEMBANGUN SEMANGAT BELAJAR Suhermi, Lulut; Restalia, Winda; Ani, Ani
EDUCATIONAL : Jurnal Inovasi Pendidikan & Pengajaran Vol. 5 No. 4 (2025)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/educational.v5i4.7839

Abstract

Learning enthusiasm is a crucial factor in the academic achievement of elementary school students. In the second grade, social interactions with peers begin to play a significant role. This study focuses on understanding the meaning of "study buddy" from the students' own perspective and its contribution to building learning enthusiasm. It explores the meaning of "study buddy" and describes the role of study buddy in building learning enthusiasm according to second grade elementary school students. This study uses a qualitative approach with a phenomenological method. Data collection was conducted through passive participant observation and semi-structured in-depth interviews with 8 second grade elementary school students selected using a purposive sampling technique. Data were analyzed using the Miles and Huberman data analysis model (data reduction, data presentation, and conclusion drawing). The research findings reveal three main themes. First, study buddy is interpreted as a "partner in difficulty" who is there to help each other with assignments. Second, study buddy as a "source of encouragement" through behaviors such as inviting, waiting, and providing verbal motivation. Third, study buddy as a "playmate" who makes the learning process feel fun and not boring. For second-grade elementary school students, a "study buddy" is not just a nearby individual, but rather a figure who provides academic, emotional, and social support. The presence of a study buddy creates a safe, enjoyable, and supportive learning environment, which ultimately significantly builds and maintains their enthusiasm for learning. The implications of this research can be considered by teachers to further encourage and design collaborative learning activities. ABSTRAKSemangat belajar merupakan faktor krusial dalam pencapaian akademik siswa sekolah dasar. Di jenjang kelas II SD, interaksi sosial dengan teman sebaya mulai memegang peran penting. Penelitian ini berfokus untuk memahami makna "teman belajar" dari perspektif siswa itu sendiri dan kontribusinya dalam membangun semangat belajar. Mengeksplorasi makna "teman belajar" dan mendeskripsikan peran yang dijalankan teman belajar dalam membangun semangat belajar menurut siswa kelas II SD. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode fenomenologi. Pengumpulan data dilakukan melalui observasi partisipan pasif dan wawancara mendalam secara semi-terstruktur terhadap 8 siswa kelas II SD yang dipilih dengan teknik purposive sampling. Data dianalisis menggunakan teknik analisis data model Miles dan Huberman (reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan). Temuan penelitian mengungkap tiga tema utama. Pertama, teman belajar dimaknai sebagai "partner dalam kesulitan" yang hadir untuk saling membantu mengerjakan tugas. Kedua, teman belajar sebagai "sumber semangat" melalui perilaku mengajak, menunggu, dan memberikan motivasi verbal. Ketiga, teman belajar sebagai "teman bermain" yang menjadikan proses belajar terasa menyenangkan dan tidak membosankan. Bagi siswa kelas II SD, "teman belajar" bukan hanya sekadar individu yang berada di dekatnya, melainkan sebuah figur yang memberikan dukungan akademik, emosional, dan sosial. Keberadaan teman belajar menciptakan lingkungan belajar yang aman, menyenangkan, dan saling mendukung, yang pada akhirnya secara signifikan membangun dan menjaga semangat belajar mereka. Implikasi dari penelitian ini dapat menjadi pertimbangan bagi guru untuk lebih mendorong dan merancang aktivitas pembelajaran kolaboratif.
ETIKA KEILMUAN DAN TANGGUNG JAWAB INTELEKTUAL GURU: ANALISIS KRITIS TERHADAP KODE ETIK PENDIDIK Setianingsih, Setianingsih; Mas’ula, Siti; Arifin, Slamet
EDUCATIONAL : Jurnal Inovasi Pendidikan & Pengajaran Vol. 5 No. 4 (2025)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/educational.v5i4.7840

Abstract

This study aims to critically analyze the Indonesian Teacher's Code of Ethics in relation to scientific ethics and the intellectual responsibility of teachers. As central figures in the nation's intellectual development, teachers are required not only to possess pedagogical competence but also high moral and intellectual integrity. This research uses a literature study method with a qualitative analysis approach. The results indicate that the Indonesian Teacher's Code of Ethics has covered the basic principles of professional ethics, yet several aspects related to scientific ethics and intellectual responsibility have not been explicitly and thoroughly articulated. Some identified weaknesses include a lack of emphasis on a research culture, scientific publications, and the moral courage to convey scientific truths that may be unpopular. This study recommends the strengthening and continuous socialization of the importance of scientific ethics and intellectual responsibility for teachers, as well as the need to review the Indonesian Teacher's Code of Ethics to be more adaptive to the challenges of the times and the development of science. ABSTRAKPenelitian ini bertujuan untuk menganalisis secara kritis Kode Etik Guru Indonesia dalam kaitannya dengan etika keilmuan dan tanggung jawab intelektual guru. Sebagai pemegang peran sentral dalam pencerdasan bangsa, guru tidak hanya dituntut memiliki kompetensi pedagogik, tetapi juga integritas moral dan intelektual yang tinggi. Penelitian ini menggunakan metode studi literatur dengan pendekatan analisis kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Kode Etik Guru Indonesia telah mencakup prinsip-prinsip dasar etika profesi, namun beberapa aspek terkait etika keilmuan dan tanggung jawab intelektual belum terartikulasi secara eksplisit dan mendalam. Beberapa kelemahan yang teridentifikasi antara lain kurangnya penekanan pada budaya meneliti, publikasi ilmiah, dan keberanian moral dalam menyampaikan kebenaran ilmiah yang mungkin tidak populer. Penelitian ini merekomendasikan adanya penguatan dan sosialisasi berkelanjutan mengenai pentingnya etika keilmuan dan tanggung jawab intelektual bagi guru, serta perlunya peninjauan kembali Kode Etik Guru Indonesia agar lebih adaptif dengan tantangan zaman dan perkembangan ilmu pengetahuan.

Page 1 of 3 | Total Record : 21