cover
Contact Name
Teguh Pribadi
Contact Email
teguh@malahayati.ac.id
Phone
+6282282204653
Journal Mail Official
holistik@malahayati.ac.id
Editorial Address
Jalan Pramuka No.27 Kemiling Bandar Lampung -Indonesia.
Location
Kota bandar lampung,
Lampung
INDONESIA
Holistik Jurnal Kesehatan
Published by Universitas Malahayati
ISSN : 19783337     EISSN : 26207478     DOI : https://doi.org/10.33024/hjk.v18i10
Core Subject : Health,
Berisi kumpulan karya ilmiah dari peneliti diberbagai perguruan tinggi di Indonesia, di bidang ilmu kesehatan khususnya bidang ilmu keperawatan yang berdasarkan kepada kebutuhan pasien secara total meliputi: kebutuhan fisik, emosi, sosial, ekonomi dan spiritual. Adapun penelitiannya mencakup 4 aspek pokok, yakni: promotif, preventif, kuratif, dan rehabilitatif. Jurnal terbit setiap bulan dan artikel ditulis dalam bahasa Indonesia, untuk abstrak artikel ditulis dengan dua bahasa yaitu bahasa Inggris dan bahasa Indonesia.
Articles 329 Documents
Effectiveness of smartphone and virtual reality based exergaming on mobility of stroke patients: A systematic review Triensya, Rafiana; Kariasa, I Made; Arista, Liya; Waluyo, Agung
Holistik Jurnal Kesehatan Vol. 19 No. 4 (2025): Volume 19 Nomor 4
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawatan-fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v19i4.1010

Abstract

Background: Stroke is a leading cause of long-term disability and death worldwide. Recent advances in rehabilitation technology have introduced exergaming, a form of interactive physical therapy using digital games, as a promising intervention to enhance motor recovery. Purpose: To evaluate the effectiveness of smartphone and virtual reality based exergaming on mobility of stroke patients. Method: Systematic review research and article search were conducted through ScienceDirect, ProQuest, EBSCOhost (Medline), SAGE Journals, and PubMed databases. The review and synthesis process used the PRISMA diagram guide. Results: Based on the review of 7 literatures obtained, it shows that the majority reported significant improvements in patient mobility after exergaming interventions, especially those using smartphone applications and virtual reality (VR) platforms. Conclusion: Smartphone-based exergaming and virtual reality (VR) are effective and attractive therapeutic approaches to improve mobility in stroke rehabilitation.   Keywords: Exergaming; Mobility;  Smartphone; Stroke Patients; Virtual Reality.   Pendahuluan: Stroke adalah penyebab utama kecacatan dan kematian jangka panjang di seluruh dunia. Kemajuan terbaru dalam teknologi rehabilitasi telah memperkenalkan exergaming bentuk terapi fisik interaktif menggunakan permainan digital sebagai intervensi yang menjanjikan untuk meningkatkan pemulihan motorik. Tujuan: Untuk mengevaluasi efektivitas latihan berbasis telepon pintar dan realitas virtual terhadap mobilitas pasien stroke. Metode: Penelitian systematic review dan pencarian artikel dilakukan melalui database ScienceDirect, ProQuest, EBSCOhost (Medline), SAGE Journals, dan PubMed. Proses review dan sintesis menggunakan panduan diagram PRISMA. Hasil: Berdasarkan review dari 7 literatur yang didapatkan, menunjukkan bahwa mayoritas melaporkan peningkatan yang signifikan dalam mobilitas pasien setelah intervensi exergaming, terutama yang menggunakan aplikasi ponsel pintar dan platform realitas virtual. Simpulan: Exergaming berbasis smartphone dan virtual reality (VR) merupakan pendekatan terapi yang efektif dan menarik untuk meningkatkan mobilitas dalam rehabilitasi stroke.   Kata Kunci: Exergaming; Mobility;  Smartphone; Stroke Patients; Virtual Reality.
Efektivitas program latihan fisik terstruktur dalam meningkatkan kualitas hidup pasien tuberkulosis: A systematic review Putri, Rini Pratiwi; Nursasi, Astuti Yuni; Sari, Indah Permata; Permatasari, Henny
Holistik Jurnal Kesehatan Vol. 19 No. 4 (2025): Volume 19 Nomor 4
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawatan-fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v19i4.1012

Abstract

Background: Tuberculosis (TB) remains one of the biggest health problems in society. TB is caused by bacteria (Mycobacterium tuberculosis) and most often attacks the lungs. TB is transmitted through the air, when someone with pulmonary TB coughs, sneezes, or spits. A person only needs to inhale a few germs to become infected. Each year, 10 million people are infected with TB. Although the disease is preventable and curable, 1.5 million people die from TB each year, making it the world's biggest infectious killer. Purpose: To determine the effectiveness of the structured physical exercise program in improving the quality of life of tuberculosis patients. Method: Literature search in several databases Science Direct, Proquest, Scopus, and francis & taylor. The articles used are the results of research published between 2020 - 2024 with the search technique using the PRISMA method. Results: This review highlights the importance of a planned and targeted physiotherapy protocol in supporting the recovery of tuberculosis patients. Protocols that include breathing exercises, muscle strengthening, mobility, and patient education have shown effectiveness in reducing physical symptoms, increasing functional capacity, and improving quality of life. Evidence-based physiotherapy protocols show that a structured, targeted, and patient-tailored approach is very effective in accelerating physical and psychosocial recovery in tuberculosis patients. This systematic review also underlines the need for comprehensive management to ensure long-term recovery and improved quality of life. Conclusion: Evidence-based physiotherapy protocols show that a structured, targeted, and patient-tailored approach is very effective in accelerating physical and psychosocial recovery in tuberculosis patients. Suggestion: Hospital-based or community-based pulmonary rehabilitation programs need to be improved, especially in areas with high tuberculosis prevalence, by conducting professional training for health workers, especially on specific protocols for tuberculosis patients to ensure high quality of care.   Keywords: Quality of Life; Structured Physical Exercise; Tuberculosis Patients.   Pendahuluan: Tuberculosis (TB) masih menjadi salah satu masalah kesehatan terbesar di masyarakat. TB atau TBC disebabkan oleh bakteri (Mycobacterium tuberculosis) dan paling sering menyerang paru-paru. TBC menular melalui udara, ketika penderita TBC paru-paru batuk, bersin, atau meludah. Seseorang hanya perlu menghirup sedikit kuman untuk terinfeksi. Setiap tahunnya, 10 juta orang terjangkit TB. Meskipun penyakit ini dapat dicegah dan disembuhkan, 1.5 juta orang meninggal karena TBC setiap tahunnya, menjadikannya penyakit menular pembunuh terbesar di dunia. Tujuan: Untuk mengetahui efektivitas program latihan fisik terstruktur dalam meningkatkan kualitas hidup pasien dengan tuberkulosis. Metode: Penelusuran literatur pada beberapa database Science Direct, Proquest, Scopus, dan francis & taylor. Artikel yang digunakan adalah hasil penelitian yang terbit antara tahun 2020 – 2024 dengan teknik pencarian menggunakan metode PRISMA. Hasil: Tinjauan ini menyoroti pentingnya protokol fisioterapi yang terencana dan terfokus dalam mendukung pemulihan pasien dengan tuberkulosis. Protokol yang mencakup latihan pernapasan, penguatan otot, mobilitas, dan edukasi pasien menunjukkan efektivitas dalam mengurangi gejala fisik, meningkatkan kapasitas fungsional dan meningkatkan kualitas hidup. Protokol fisioterapi berbasis bukti menunjukkan bahwa pendekatan yang terstruktur, terarah, dan disesuaikan dengan kebutuhan pasien sangat efektif dalam mempercepat pemulihan fisik dan psikososial pasien tuberkulosis. Systematic review ini juga menggaris bawahi perlunya pengelolaan yang komprehensif untuk memastikan pemulihan jangka panjang dan peningkatan kualitas hidup. Simpulan: Protokol fisioterapi berbasis bukti menunjukkan bahwa pendekatan yang terstruktur, terarah, dan disesuaikan dengan kebutuhan pasien sangat efektif dalam mempercepat pemulihan fisik dan psikososial pasien tuberkulosis. Saran: Program rehabilitasi pulmoner berbasis rumah sakit atau komunitas harus ditingkatkan, khususnya di daerah dengan prevalensi tinggi tuberculosis, melakukan pelatihan profesional kesehatan terhadap tenaga kesehatan terlebih tentang protokol khusus untuk pasien dengan tuberkulosis guna memastikan pelayanan berkualitas tinggi.   Kata Kunci: Kualitas Hidup; Latihan Fisik Terstruktur; Pasien Tuberculosis.
Analisis faktor yang memengaruhi produksi ASI pada ibu melahirkan sectio caesar dan normal Cahayani, Julia Annisa; Amalia, Linda; Suparto, Tirta Adikusuma
Holistik Jurnal Kesehatan Vol. 19 No. 4 (2025): Volume 19 Nomor 4
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawatan-fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v19i4.1024

Abstract

Background: Breastfeeding is a fundamental aspect of maternal and infant health, playing a crucial role in preventing stunting and supporting optimal child development. Even though the primary dietary source during the first half-year of life, infants should receive only breast milk to meet their nutritional needs, various factors can affect its production. One such factor is the mode of delivery, where mothers who undergo cesarean section tend to face more breastfeeding challenges compared to those with vaginal delivery. In addition, nutritional intake, psychological condition, rest patterns, and breastfeeding frequency also significantly influence successful lactation. Understanding these factors is essential to support effective interventions for improving breastfeeding outcomes. Purpose: To analyze the factors that influence breast milk production in mothers who give birth by caesarean section and normal delivery. Method: This study used a quantitative approach with a cross-sectional design. The research sample was 134 breastfeeding mothers with babies aged 0-1 months in the Jonggol Health Center working area, using quota sampling (67 mothers gave birth normally and 67 mothers gave birth by caesarean section). Data collection was carried out through questionnaires and analyzed using the chi-square test. Results: There was a substantial correlation between moms' breast milk output and their dietary consumption who had vaginal deliveries (p = 0.008) and those who underwent cesarean sections (p = 0.027). Psychological condition was also significantly associated with breast milk production in both vaginal delivery (p = 0.036) and cesarean section groups (p = 0.016). Similarly, rest patterns showed a significant relationship with the production of breast milk during cesarean sections (p = 0.003) and vaginal deliveries (p = 0.015). Furthermore, in both vaginal delivery (p = 0.003) and cesarean surgery (p = 0.021), a high link between the frequency of nursing and the supply of breast milk was found. Additionally, there was a strong correlation between the technique of delivery and the production of breast milk (p = 0.035), with mothers who delivered vaginally tending to have more adequate and smoother milk production compared to those who had cesarean sections Conclusion: Nutritional intake, psychological condition, rest patterns, breastfeeding frequency, and mode of delivery were significantly associated with breast milk production. Mothers with vaginal delivery and supportive lifestyle factors were more likely to experience optimal lactation.   Keywords: Breast Milk Production; Breastfeeding Mothers; Cesarean Section; Vaginal Delivery.   Pendahuluan: Pemberian ASI merupakan aspek mendasar dari kesehatan ibu dan anak, yang berperan penting dalam mencegah terhambatnya pertumbuhan dan memastikan tumbuh kembang anak yang optimal. Meskipun Selama enam bulan pertama kehidupan bayi, ASI disarankan sebagai makanan utama mereka, beberapa faktor dapat memengaruhi kelancaran produksi ASI. Salah satunya adalah jenis persalinan, karena Ibu yang menjalani persalinan secara sectio caesarea memiliki kecenderungan tingkat kesulitan menyusui yang lebih besar dibandingkan ibu dengan persalinan normal. Selain itu, pola menyusui, status psikologis, pola tidur, dan frekuensi menyusui juga memengaruhi keberhasilan produksi ASI. Memahami faktor-faktor tersebut diperlukan untuk mendukung intervensi yang tepat guna meningkatkan kualitas pemberian ASI. Tujuan: Untuk menganalisis faktor yang memengaruhi produksi ASI pada ibu melahirkan sectio caesar dan normal. Metode: Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain cross-sectional. Sampel terdiri dari 134 ibu menyusui dengan bayi usia 0-1 bulan di wilayah kerja Puskesmas Jonggol, menggunakan quota sampling (67 ibu melahirkan normal dan 67 ibu sectio caesarea). Data dikumpulkan melalui kuesioner dan dianalisis dengan uji chi-square. Hasil: Terdapat hubungan yang signifikan antara pola makan dan produksi ASI pada persalinan normal (p = 0.008) dan sectio caesarea (p = 0.027). Terdapat hubungan signifikan terhadap psikologis dan produksi ASI pada persalinan normal (p = 0.036) dan sectio caesarea (p = 0.016). Terdapat hubungan signifikan pola istirahat dan produksi ASI pada persalinan normal (p = 0.015) dan sectio caesarea (p = 0.003). Terdapat hubungan signifikan terhadap frekuensi menyusui dan produksi ASI pada persalinan normal (p = 0.003) dan sectio caesarea (p = 0.021). Selain itu, terdapat hubungan yang signifikan antara jenis persalinan terhadap produksi ASI dengan nilai     p = 0.035 (p < 0.05). Ibu yang melahirkan secara normal cenderung memiliki produksi ASI yang lebih lancar dibandingkan ibu yang melahirkan secara sectio caesarea. Simpulan: Pola makan, psikologis, pola istirahat, frekuensi menyusui, dan jenis persalinan memiliki hubungan yang signifikan terhadap kelancaran produksi ASI. Ibu yang melahirkan secara normal, memiliki pola makan baik, kondisi psikologis stabil, istirahat cukup, dan frekuensi menyusui tinggi, cenderung memiliki produksi ASI yang lebih lancar.   Kata Kunci: Ibu Menyusui; Persalinan Normal; Produksi ASI; Sectio Caesarea.
Hubungan dukungan keluarga dengan kualitas hidup lansia penderita diabetes mellitus Blegur, Elentina; Tandilangi, Abigail Asfas
Holistik Jurnal Kesehatan Vol. 19 No. 4 (2025): Volume 19 Nomor 4
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawatan-fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v19i4.1074

Abstract

Background: Diabetes mellitus (DM) is a chronic disease that affects the quality of life of the elderly, especially if not managed properly. Family support is considered an important factor in helping elderly DM undergo treatment and adapt to a healthy life. Purpose: To determine the relationship between family support and the quality of life of elderly people with diabetes mellitus. Method: Quantitative research with a cross-sectional approach. The study sample consisted of 78 elderly people selected using a purposive sampling technique. Data were collected using the Hensarling Diabetes Family Support Scale (HFSS) questionnaire for family support and Diabetes Quality of Life (DQOL) for quality of life. Results: Showed that 100% of respondents had a high quality of life and 97.4% had high family support. However, statistical tests showed no significant relationship between family support and the quality of life of respondents (p-value 0.200; r = 0.223). Conclusion: There was no relationship between family support and quality of life in DM respondents. Suggestion: Health services can provide education to patient families regarding the importance of family support in improving the quality of life, especially for elderly people with DM, as well as forming support groups for the elderly.   Keywords: Diabetes Mellitus; Elderly; Family Support; Quality of Life.   Pendahuluan: Diabetes melitus (DM) merupakan penyakit kronis yang memengaruhi kualitas hidup lansia, terutama jika tidak dikelola dengan baik. Dukungan keluarga dianggap sebagai faktor penting dalam membantu lansia DM menjalani pengobatan dan beradaptasi dengan kehidupan yang sehat. Tujuan: Untuk mengetahui hubungan antara dukungan keluarga dengan kualitas hidup lansia diabetes melitus. Metode: Penelitian kuantitatif dengan pendekatan cross sectional. Sampel penelitian berjumlah 78 lansia yang dipilih dengan teknik purposive sampling. Data dikumpulkan dengan menggunakan kuesioner Hensarling Diabetes Family Support Scale (HFSS) untuk dukungan keluarga dan Diabetes Quality of Life (DQOL) untuk kualitas hidup. Hasil: Menunjukkan bahwa 100% responden memiliki kualitas hidup yang tinggi dan 97.4% memiliki dukungan keluarga yang tinggi. Namun, uji statistik menunjukkan tidak ada hubungan yang signifikan antara dukungan keluarga dengan kualitas hidup responden (p-value=0.200; r=0.223). Simpulan: Tidak terdapat hubungan antara dukungan keluarga dengan kualitas hidup pada responden DM. Saran: Layanan kesehatan dapat memberikan edukasi kepada keluarga pasien mengenai pentingnya dukungan keluarga terhadap peningkatan kualitas hidup, khususnya bagi lansia penderita DM sekaligus membentuk kelompok pendukung bagi lansia.   Kata Kunci: Diabetes Melitus; Dukungan Keluarga; Kualitas Hidup; Lansia.
Analisis karakteristik dan pengetahuan terhadap kepatuhan minum obat pada pasien penyakit jantung koroner Budihardjo, Rosevelina Sintaasih
Holistik Jurnal Kesehatan Vol. 19 No. 5 (2025): Volume 19 Nomor 5
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawatan-fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v19i5.1099

Abstract

Background: According to data from the World Health Organization, it is estimated that more than 17 million people worldwide die each year from heart and vascular diseases, with around 85% of them caused by coronary heart disease. Efforts to prevent complications of this disease are through medication compliance. Patient compliance remains a problem that is influenced by various factors, including individual characteristics and knowledge level. Purpose: To analyze between characteristics and knowledge on medication adherence for coronary heart disease. Method: Quantitative research with cross sectional method, conducted at Pulang Pisau Regional General Hospital in January-March 2025. Independent variables included age, gender, length of illness, employment status and level of knowledge, while the dependent variable was medication adherence. The sampling technique used purposive sampling and the taro yamane formula resulted in a sample size of 60 respondents with inclusion and exclusion criteria. Data analysis used univariate in the form of frequency distribution and bivariate using chi square test. Results: There was a significant association between age, gender, employment status, length of illness, and level of knowledge with medication compliance. Age ≥ 60 years was 2 times more likely to be non-adherent (p = 0.001; OR = 2.068). Females were 1.7 times more likely to be compliant than males (p = 0.003; OR = 1.695). Respondents who worked were 2.5 times more likely to adhere (p = 0.001; OR = 2,.465). Disease duration > 5 years increased the odds of being compliant by 2.5 times (p = 0.001; OR = 2.465). Good knowledge increased the odds of adherence by 1.6 times (p = 0.006; OR = 1.587). Conclusion: Age, gender, employment status, length of illness, and level of knowledge significantly influence medication adherence in patients, with the risk magnitude varying according to the characteristics of each factor.   Keywords: Coronary Heart Disease; Knowledge; Medication Adherence.   Pendahuluan:  Menurut data dari Organisasi Kesehatan Dunia, diperkirakan lebih dari 17 juta orang di seluruh dunia meninggal setiap tahunnya akibat penyakit jantung dan pembuluh darah, dengan sekitar 85% di antaranya disebabkan oleh penyakit jantung koroner. Upaya pencegahan komplikasi penyakit ini adalah melalui kepatuhan minum obat. Tingkat kepatuhan pasien masih menjadi permasalahan yang dipengaruhi oleh berbagai faktor, termasuk karakteristik individu dan tingkat pengetahuan. Tujuan: Untuk menganalisis hubungan karakteristik dan pengetahuan terhadap kepatuhan minum obat penyakit jantung koroner. Metode: Penelitian kuantitatif dengan metode cross sectional, dilaksanakan di Rumah Sakit Umum Daerah Pulang Pisau pada bulan Januari-Maret 2025. Variabel independen mencakup usia, jenis kelamin, lama menderita, status pekerjaan dan tingkat pengetahuan, sedangkan variabel dependen ialah kepatuhan minum obat. Teknik pengambilan sampel menggunakan purposive sampling dan rumus taro yamane didapatkan jumlah sampel sebanyak 60 responden dengan kriteria inklusi dan eksklusi. Analisis data yang digunakan univariat dalam bentuk distribusi frekuensi dan bivariat menggunakan uji chi square. Hasil: Terdapat hubungan signifikan antara usia, jenis kelamin, status pekerjaan, lama menderita penyakit, dan tingkat pengetahuan dengan kepatuhan minum obat. Usia ≥ 60 tahun berisiko 2 kali lebih besar tidak patuh (p = 0.001; OR = 2.068). Perempuan 1.7 kali lebih besar kemungkinan patuh dibanding laki-laki (p = 0.003; OR = 1.695). Responden yang bekerja 2.5 kali lebih besar kemungkinan patuh (p = 0.001; OR = 2,.465). Durasi penyakit > 5 tahun meningkatkan peluang patuh 2.5 kali (p = 0.001; OR = 2.465). Pengetahuan baik meningkatkan peluang patuh sebesar 1.6 kali (p = 0.006; OR = 1.587). Simpulan: Faktor usia, jenis kelamin, status pekerjaan, lama menderita penyakit, dan tingkat pengetahuan secara signifikan memengaruhi kepatuhan minum obat pada pasien, dengan besaran risiko yang bervariasi sesuai dengan karakteristik masing-masing faktor.   Kata Kunci: Kepatuhan Minum Obat; Pengetahuan; Penyakit Jantung Koroner.
Hubungan antara kualitas tidur dengan kesejahteraan psikologis pada keluarga dengan lansia Saputri, Dea Sefi; Amelia, Vivi Leona; Riyaningrum, Wahyu; Angelia, Nunik
Holistik Jurnal Kesehatan Vol. 19 No. 5 (2025): Volume 19 Nomor 5
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawatan-fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v19i5.556

Abstract

Background: The aging process in older adults results in physiological decline, increasing their dependence on family support. In addition to physiological decline, older adults often experience cognitive impairment, including dementia, a chronic or progressive syndrome that causes cognitive decline, affecting memory, thinking, orientation, comprehension, calculation, learning capacity, language, and judgment. One impact that families can experience when caring for older adults with a high care burden is a decline in the caregiver's sleep quality. Purpose: To determine the relationship between sleep quality and psychological well-being in families with older adults. Method: This quantitative study used a cross-sectional approach. The population was 19,934 families with older adults in Cilongok District. The sample size was calculated using the Slovin formula with a 5% margin of error (0.05), and a purposive sampling technique resulted in a sample of 392 respondents. The measurement instruments used were the Pittsburgh Sleep Quality Index (PSQI), the Ryff Psychological Well-Being Scale (RPWB), and the Mini-Mental State Examination (MMSE). Data were analyzed using the Spearman test. Results: Dementia data showed the mean age of elderly care recipients was 71.90 years with a standard deviation of ±6.91. The majority of elderly patients suffered from hypertension and moderate dementia. Analysis revealed marital status (p=0.038), sources of health information (p=<0.001), elderly health problems (p<0.001), subjective sleep quality dimensions (p=0.003), sleep latency (p=0.014), and total PSQI score (0.025). Conclusion: Sleep quality is positively correlated with psychological well-being. The better the sleep quality, the higher the psychological well-being score. Suggestion: Future researchers can combine data collection through questionnaires and in-depth interviews to further explore psychological well-being and sleep quality in elderly patients.    Keywords: Caregivers; Elderly; Psychological Well-Being; Sleep Quality.    Pendahuluan: Proses penuaan pada lansia mengakibatkan penurunan fisiologis yang meningkatkan ketergantungan lansia pada keluarga untuk membantunya. Selain penurunan fisiologis, fungsi kognitif juga sering dialami oleh lansia yaitu demensia, salah satu sindrom bersifat kronis atau progresif yang menyebabkan penurunan fungsi kognitif, sehingga memengaruhi memori, pemikiran, orientasi, pemahaman, perhitungan, kapasitas belajar, bahasa dan penilaian. Salah satu dampak yang dapat dirasakan keluarga ketika merawat lansia dengan kondisi beban perawatan yang tinggi adalah dapat menurunkan tingkat kualitas tidur caregiver. Tujuan: Untuk mengetahui hubungan kualitas tidur dengan kesejahteraan psikologis pada keluarga dengan lansia. Metode: Penelitian kuantitatif dengan pendekatan cross sectional. Populasi dalam penelitian ini adalah keluarga dengan lansia di Kecamatan Cilongok yang berjumlah 19,934 jiwa. Sampel dihitung dengan rumus Slovin dengan margin of error 5% (0.05) dan dengan teknik purposive sampling mendapatkan sampel sebanyak 392 responden. Instrumen pengukuran yang digunakan yaitu Pittsburgh Sleep Quality Index (PSQI), Ryff's Psychological Well-Being Scale (RPWB), dan Mini Mental State Exam (MMSE). Selanjutnya data dianalisis menggunakan Uji Spearman. Hasil: Data demensia menunjukkan usia rata-rata lansia yang dirawat adalah 71.90 tahun dengan standar deviasi ±6.91. Sebagian besar gangguan kesehatan yang dimiliki lansia adalah hipertensi dan mengalami tingkat demensia dalam kategori sedang. Hasil analisis didapatkan status perkawinan (p=0.038), sumber informasi kesehatan (p=<0.001), gangguan kesehatan lansia (p<0.001), dimensi kualitas tidur subjektif (p=0.003), latensi tidur (p=0.014), dan total skor PSQI (0.025). Simpulan: Kualitas tidur berkorelasi positif terhadap kesejahteraan psikologi. Semakin baik kualitas tidur yang dimiliki, akan semakin tinggi nilai kesejahteraan psikologis seseorang. Saran: Peneliti selanjutnya dapat mengombinasikan pengambilan data melalui kuesioner dan wawancara mendalam untuk memungkinkan menggali lebih dalam kondisi kesejahteraan psikologis dan kualitas tidur pada lansia.   Kata Kunci: Kesejahteraan Psikologis; Kualitas Tidur; Lansia; Pengasuh.
Continuous glucose monitor sebagai alat pemantau glukosa real-time pada pasien diabetes mellitus: Sebuah tinjauan sistematis Nugroho, Yohanes Wahyu; Nani, Desiyani
Holistik Jurnal Kesehatan Vol. 19 No. 5 (2025): Volume 19 Nomor 5
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawatan-fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v19i5.583

Abstract

Background: Diabetes Mellitus (DM) is a global health problem with a prevalence that continues to increase annually. One of the main strategies to reduce the negative impact of DM is through blood glucose monitoring. Continuous glucose monitoring (CGM) technology is a potential tool to improve glycemic control and prevent diabetes complications. Purpose: To evaluate the effectiveness of continuous glucose monitoring (CGM) in monitoring blood glucose levels and to identify the safety and convenience aspects of CGM in the long-term management of patients with diabetes mellitus. Method: This systematic literature review (SLR) followed the Preferred Reporting Items for Systematic Reviews and Meta-Analyses (PRISMA) guidelines. Data in this study were obtained from scientific journals, conferences, and research reports accessible through electronic databases such as PubMed, Scopus, and Google Scholar, published within the last five years (2020–2024). Data analysis was conducted using a qualitative descriptive approach. Results: CGM has been shown to be effective in monitoring blood glucose levels in patients with diabetes mellitus. This technology provides real-time glucose data, enabling early detection of hypoglycemia and hyperglycemia, thus supporting faster and more accurate decision-making in diabetes management. Furthermore, CGM contributes to improved glycemic control, significantly helping prevent long-term complications. Research also shows that CGM provides additional benefits for certain patient groups, such as those undergoing intensive insulin therapy or at high risk of glucose fluctuations. In terms of safety and convenience, CGM demonstrates its superiority as a long-term monitoring tool. Safety is assured with minimal risk, while convenience is enhanced by eliminating the need for repeated finger-prick tests. Although some challenges exist, such as skin irritation and inaccuracy under certain conditions, technological innovation continues to improve the user experience. Conclusion: CGM is effective in monitoring blood glucose levels, improving glycemic control, and providing significant benefits and convenience for patients with diabetes mellitus, although some challenges continue to be addressed through technological innovation.   Keywords: Continuous Glucose Monitor; Diabetes Mellitus Patients; Real-Time Glucose Monitor.   Pendahuluan: Diabetes Mellitus (DM) merupakan salah satu masalah kesehatan global dengan prevalensi yang terus meningkat setiap tahun. Salah satu strategi utama dalam menekan dampak negatif DM adalah dengan melakukan pengelolaan melalui pemantauan kadar glukosa darah. Teknologi continuous glucose monitoring (CGM) menjadi alat yang potensial dalam meningkatkan kontrol glikemik dan mencegah komplikasi diabetes. Tujuan: Untuk mengevaluasi efektivitas penggunaan continuous glucose monitoring (CGM) dalam memantau kadar glukosa darah dan mengidentifikasi aspek keamanan dan kenyamanan CGM dalam pengelolaan jangka panjang pasien diabetes mellitus. Metode: Penelitian systematic literature review (SLR) dengan mengikuti pedoman Preferred Reporting Items for Systematic Reviews and Meta-Analyses (PRISMA). Data dalam penelitian ini diperoleh dari jurnal ilmiah, konferensi, dan laporan penelitian yang dapat diakses melalui database elektronik, seperti PubMed, Scopus, dan Google Scholar, diterbitkan dalam 5 tahun terakhir (2020–2024) dan analisis data dilakukan dengan pendekatan deskriptif kualitatif. Hasil: CGM terbukti efektif dalam memantau kadar glukosa darah pada pasien diabetes mellitus. Teknologi ini mampu memberikan data glukosa secara real-time, memungkinkan deteksi dini kondisi hipoglikemia, dan hiperglikemia, sehingga mendukung pengambilan keputusan yang lebih cepat dan akurat dalam pengelolaan diabetes. Selain itu, CGM berkontribusi pada peningkatan kontrol glikemik yang secara signifikan membantu mencegah komplikasi jangka panjang. Penelitian juga menunjukkan bahwa CGM memberikan manfaat tambahan bagi kelompok pasien tertentu, seperti mereka yang menjalani terapi insulin intensif atau memiliki risiko tinggi fluktuasi kadar glukosa. Dari aspek keamanan dan kenyamanan, CGM menunjukkan keunggulan sebagai alat pemantauan jangka panjang. Keamanannya terjamin dengan risiko minimal, sedangkan kenyamanannya meningkat karena mengurangi kebutuhan akan tes tusukan jari yang berulang. Meskipun beberapa kendala, seperti iritasi kulit dan ketidakakuratan pada kondisi tertentu masih ditemukan, inovasi teknologi terus memperbaiki pengalaman pengguna. Simpulan: CGM efektif dalam memantau kadar glukosa darah, meningkatkan kontrol glikemik, dan memberikan manfaat serta kenyamanan signifikan bagi pasien diabetes mellitus, meskipun terdapat beberapa kendala yang terus diperbaiki melalui inovasi teknologi.   Kata Kunci: Alat Pemantau Glukosa Real-Time; Continuous Glucose Monitor; Pasien Diabetes Mellitus.
Potensi buah delima (punica granatum) sebagai terapi adjuvan preeklampsia: A scoping review Wahyuni, Endang Sri; Firrahmawati, Lely; Mahmudah, Irvina Nurul; Handayani, Juleha Duwi
Holistik Jurnal Kesehatan Vol. 19 No. 5 (2025): Volume 19 Nomor 5
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawatan-fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v19i5.616

Abstract

Background: Preeclampsia is a leading cause of maternal mortality and a global health problem. Preeclampsia can be triggered by increased free radicals, which cause oxidative stress, endothelial dysfunction, and other organ damage. However, to date, no therapy has been proven to prevent preeclampsia other than pregnancy termination. A scoping review is needed to gather evidence related to the use of pomegranate and its derivatives for preeclampsia therapy as a basis for further basic and applied research. Purpose: To identify, evaluate, and summarize previous research evidence on the potential of pomegranate as an adjuvant therapy for preeclampsia. Method: A systematic review of literature published between January 2014 and June 2024 was conducted using the Preferred Reporting Items for Systematic Reviews and Meta-Analyses (PRISMA) guidelines. Articles were searched through Scopus, Sciencedirect, Proquest, and PubMed databases. The search used the keywords "punica granatum" OR "pomegranate" AND "preeclampsia" OR "gestational hypertension." Results: Five articles were identified, and it was found that pomegranate has potential as an adjuvant therapy for preeclampsia and may be a valuable adjunct in preeclampsia management. The rich content of antioxidant, anti-inflammatory, and vasodilatory bioactive compounds in pomegranate may contribute to risk reduction and symptom management of preeclampsia. Conclusion: Pomegranate has potential as an adjuvant therapy for preeclampsia. Suggestion: Further in vitro and in vivo studies with more robust designs, including controlled clinical trials, are needed to confirm the efficacy and safety of pomegranate. The optimal dosage and underlying mechanism of action of pomegranate in preeclampsia are also needed.   Keywords: Adjuvant Therapy; Pomegranate; Preeclampsia; Pregnant Women.   Pendahuluan: Preeklampsia menjadi penyebab utama kematian dan masalah kesehatan ibu di dunia. Preeklampsia dapat dipicu oleh peningkatan radikal bebas yang menyebabkan stres oksidatif, disfungsi endotel, dan kerusakan organ lainnya. Namun, hingga kini belum ada terapi yang mampu menghentikan preeklampsia  kecuali dengan mengakhiri kehamilan. Diperlukan scoping review untuk mengumpulkan bukti terkait penggunaan buah delima dan turunannya untuk terapi preeklampsia sebagai pijakan penelitian dasar dan terapan selanjutnya. Tujuan: Untuk mengidentifikasi, mengevaluasi, dan merangkum bukti hasil penelitian sebelumnya tentang potensi buah delima sebagai terapi adjuvan preeklampsia. Metode: Penelitian literatur sistematis yang diterbitkan antara Januari 2014 - Juni 2024 menggunakan pedoman Preferred Reporting Items for Systematic reviews and Meta-Analyses (PRISMA). Pencarian artikel melalui database Scopus, Sciencedirect, Proquest, dan PubMed. Pencarian artikel menggunakan kata kunci “punica granatum” OR “pomegranate” AND “preeclampsia” OR “gestational hypertension.” Hasil: 5 artikel diidentifikasi dan ditemukan bahwa buah delima memiliki potensi sebagai terapi adjuvan untuk preeklampsia dan berpotensi juga menjadi terapi tambahan yang berharga dalam manajemen preeklampsia. Buah delima yang kaya zat antioksidan, antiinflamasi, dan efek vasodilator dari senyawa bioaktif dapat berkontribusi pada pengurangan risiko dan pengelolaan gejala preeklampsia. Simpulan: Buah delima memiliki potensi sebagai terapi adjuvan untuk preeklampsia. Saran: Diperlukan untuk melakukan penelitian, baik in vitro dan in vivo lebih lanjut dengan desain yang lebih kuat, termasuk uji klinis yang terkontrol untuk mengkonfirmasi efektivitas dan keamanan penggunaan buah delima dan juga diperlukan untuk menentukan dosis yang optimal dan mekanisme kerja yang mendasari efek terapeutik buah delima pada preeklampsia.   Kata Kunci: Buah Delima; Ibu Hamil; Preeklampsia; Terapi Adjuvan.
Hubungan tingkat pengetahuan dengan self care management pada lansia penderita hipertensi Arianti, Sindi; Sudaryanto, Agus
Holistik Jurnal Kesehatan Vol. 19 No. 5 (2025): Volume 19 Nomor 5
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawatan-fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v19i5.674

Abstract

Background: Hypertension, also known as high blood pressure, is a chronic condition characterized by blood pressure exceeding the standard blood pressure limit of 140/90 mmHg. The prevalence of hypertension is predominantly among the elderly due to factors such as age, genetics, lifestyle, and knowledge, making them vulnerable to complications. Given the large elderly population and high prevalence of hypertension, attention to the health of the elderly is crucial. Purpose: To determine the relationship between knowledge and self-care management in the elderly with hypertension. Method: This quantitative descriptive correlation study used a cross-sectional approach and cluster sampling. The study was conducted in various villages within the Kartasura Community Health Center working area in December 2024, at seven of the 15 Integrated Health Posts across four villages. The study population comprised all elderly (2,438 people), and 120 respondents were elderly with hypertension. Univariate and bivariate data analysis was performed using the chi-square correlation test with a p-value of 0.05. Results: The chi-square analysis showed a relationship between knowledge and self-care management, with a correlation value of 0.704 for X2 and a p-value of 0.0001 (<0.05). Therefore, hypothesis (Ho) was rejected and hypothesis (Ha) was accepted, indicating a significant relationship between knowledge and self-care management in elderly with hypertension. Conclusion: There was a correlation between hypertension knowledge and self-care management in elderly hypertensive patients, with a p-value of 0.0001. Suggestion: Future researchers can monitor long-term changes in self-care management. Furthermore, the development of technological interventions, such as health apps, can improve adherence to self-care management in older adults.   Keywords: Blood Pressure; Elderly; Hypertension; Knowledge Level; Self-Care.   Pendahuluan: Hipertensi atau disebut dengan tekanan darah tinggi merupakan penyakit kronis yang dapat dilihat dengan adanya tekanan dalam darah yang melebihi batas standar tekanan darah yaitu lebih dari 140/90 mmHg. Prevalensi penyakit hipertensi ini mayoritas diderita lansia karena faktor usia, genetik,gaya hidup, dan tingkat pengetahuan, sehingga rentan terjadi komplikasi. Dengan adanya jumlah populasi lansia dan prevalensi hipertensi yang tinggi, maka perlunya perhatian terhadap kesehatan lansia. Tujuan: Untuk mengetahui hubungan antara tingkat pengetahuan dengan self care management terhadap lansia penderita hipertensi. Metode: Penelitian kuantitatif deskriptif correlation menggunakan pendekatan cross-sectional dan pemilihan sampel menggunakan teknik cluster sampling. Studi ini dilaksanakan di berbagai desa yang terdapat di lingkup UPTD Puskesmas Kartasura pada Bulan Desember 2024, di 7 posyandu dari 15 posyandu yang diadakan di 4 desa. Populasi pada penelitian ini semua masyarakat yang masuk ke dalam kategori usia lanjut sejumlah 2,438 orang dan sampel dari lansia dengan hipertensi sejumlah 120 responden. Analisis data yang digunakan adalah univariat dan bivariat menggunakan tes statistik korelasi chi square pada ketetapan p-value ˂ 0.05. Hasil: Analisis chi square menunjukkan adanya hubungan antara pengetahuan dan self care dengan nilai korelasi X2 sebesar 0.704, sedangkan p-value yang diperoleh 0.0001 (<0.05), sehingga hipotesis (Ho) ditolak dan (Ha) diterima, menunjukkan korelasi yang signifikan antara tingkat pengetahuan dan self care manajemen terhadap lansia penderita hipertensi. Simpulan: Terdapat korelasi antara tingkat pengetahuan hipertensi terhadap self care manajemen pada lansia penderita hipertensi dengan perolehan p-value 0.0001. Saran: Peneliti selanjutnya dapat memantau perubahan dalam pengelolaan self-care pada jangka panjang. Selain itu, pengembangan intervensi teknologi, seperti aplikasi kesehatan dapat meningkatkan kepatuhan lansia terhadap pengelolaan self-care.   Kata Kunci: Hipertensi; Lansia; Self Care; Tekanan Darah; Tingkat Pengetahuan.
Efektivitas rehabilitasi medik terhadap fungsi motorik penderita pasca stroke iskemik Daulima, Shaula Vaganza; Safei, Imran; Hidayati, Prema Hapsari; Rachman, Mochammad Erwin; Mubarak, Andi Firman
Holistik Jurnal Kesehatan Vol. 19 No. 5 (2025): Volume 19 Nomor 5
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawatan-fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v19i5.683

Abstract

Background: Stroke is a leading cause of death and disability globally, with a significant prevalence in Indonesia. It occurs due to atherosclerosis or heart disease and has significant physical and psychological impacts, including hemiparesis, impaired balance, and impaired motor function. Medical rehabilitation is a crucial part of post stroke recovery to reduce disability and improve patients quality of life. Purpose: Analyzing the effectiveness of medical rehabilitation on motor function in post ischemic stroke patients. Method: This observational analytical study used a cross sectional design with a retrospective approach. The population in this study were ischemic stroke patients undergoing medical rehabilitation at Ibnu Sina General Teaching Hospital, Panakkukang District, South Sulawesi Province, conducted from August to November 2024 with a sample size of 32 patients. Bivariate analysis used the Wilcoxon signed rank test by comparing motor function values before and after physiotherapy. Significance was determined at p ≤ 0.05. Results: The majority of patients were male at 62.5%, patients under 65 years old were 68.8% and patients with right hemiparesis were 59.4%, there was no direct relationship between the frequency of visits and the increase in motor function or MMT of patients undergoing medical rehabilitation, there was an influence of medical rehabilitation carried out for 6 months on the MMT value or motor function of patients. It was found that medical rehabilitation was effective at 33.63% in post-ischemic stroke patients in the first month to the sixth month of rehabilitation. Conclusion: Six months of medical rehabilitation effectively improved motor function by 33.63% in post-ischemic stroke patients, although no direct correlation was found between the frequency of visits and increased MMT scores. The majority of patients undergoing rehabilitation were male, under 65 years of age, and had right hemiparesis.   Keywords: Ischemic Stroke; Medical Rehabilitation; Motor Function.   Pendahuluan: Stroke merupakan salah satu penyebab utama kematian dan disabilitas global dengan angka prevalensi yang signifikan di Indonesia, terjadi akibat aterosklerosis atau penyakit jantung, menimbulkan dampak fisik dan psikologis yang besar, termasuk hemiparesis, gangguan keseimbangan, dan fungsi motorik. Rehabilitasi medik menjadi bagian penting dalam pemulihan pasca-stroke untuk mengurangi disabilitas dan meningkatkan kualitas hidup pasien. Tujuan: Untuk menganalisis efektivitas rehabilitasi medik terhadap fungsi motorik penderita pasca stroke iskemik. Metode: Penelitian observasional analitik desain cross-sectional pendekatan retrospektif. Populasi dalam penelitian ini adalah penderita stroke iskemik yang melakukan rehabilitasi medik di Rumah Sakit Umum Pendidikan Ibnu Sina, Kecamatan Panakkukang, Provinsi Sulawesi Selatan, dilakukan pada bulan Agustus – November 2024 dengan jumlah sampel sebanyak 32 pasien. Analisis bivariat menggunakan uji Wilcoxon signed rank dengan membandingkan nilai fungsi motorik sebelum dan sesudah dilakukannya fisioterapi. Signifikansi ditentukan pada p ≤ 0.05. Hasil: Mayoritas pasien berjenis kelamin laki-laki sebesar 62.5% pasien yang berumur dibawah 65 tahun yaitu 68.8% dan pasien dengan hemiparesis dextra sebesar 59.4%, tidak adanya hubungan langsung antara frekuensi kedatangan dengan kenaikan fungsi motorik atau MMT pasien yang menjalani rehabilitasi medik, adanya pengaruh rehabilitasi medik yang dilakukan selama 6 bulan terhadap  nilai MMT atau fungsi motorik  pasien. Didapatkan bahwa rehabilitasi medik efektif sebesar 33.63% pada pasien pasca stroke iskemik di bulan pertama hingga bulan keenam rehabilitasi. Simpulan: Rehabilitasi medik selama enam bulan efektif meningkatkan fungsi motorik sebesar 33.63% pada pasien pasca stroke iskemik, meskipun tidak ditemukan hubungan langsung antara frekuensi kedatangan dan peningkatan nilai MMT. Mayoritas pasien yang menjalani rehabilitasi berjenis kelamin laki-laki, berusia di bawah 65 tahun, dan mengalami hemiparesis dextra.   Kata Kunci: Fungsi Motorik; Rehabilitasi Medik; Stroke Iskemik.