cover
Contact Name
Teguh Pribadi
Contact Email
teguh@malahayati.ac.id
Phone
+6282282204653
Journal Mail Official
holistik@malahayati.ac.id
Editorial Address
Jalan Pramuka No.27 Kemiling Bandar Lampung -Indonesia.
Location
Kota bandar lampung,
Lampung
INDONESIA
Holistik Jurnal Kesehatan
Published by Universitas Malahayati
ISSN : 19783337     EISSN : 26207478     DOI : https://doi.org/10.33024/hjk.v18i10
Core Subject : Health,
Berisi kumpulan karya ilmiah dari peneliti diberbagai perguruan tinggi di Indonesia, di bidang ilmu kesehatan khususnya bidang ilmu keperawatan yang berdasarkan kepada kebutuhan pasien secara total meliputi: kebutuhan fisik, emosi, sosial, ekonomi dan spiritual. Adapun penelitiannya mencakup 4 aspek pokok, yakni: promotif, preventif, kuratif, dan rehabilitatif. Jurnal terbit setiap bulan dan artikel ditulis dalam bahasa Indonesia, untuk abstrak artikel ditulis dengan dua bahasa yaitu bahasa Inggris dan bahasa Indonesia.
Articles 329 Documents
Hubungan usia dan tingkat pengetahuan calon pengantin wanita dengan persiapan kehamilan pertama Ariani, Lidya; Miskiyah, Miskiyah; Virgian, Kharima; Nurayuda, Nurayuda
Holistik Jurnal Kesehatan Vol. 19 No. 5 (2025): Volume 19 Nomor 5
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawatan-fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v19i5.1104

Abstract

Background: Prospective brides and grooms are a strategic target group in efforts to improve their health before pregnancy. Before the wedding, many prospective brides and grooms do not have enough knowledge and information about reproductive health in a family, so that after marriage pregnancies are often not planned well and are not supported by optimal health status. Purpose: To determine the relationship between age and knowledge level of prospective brides with first pregnancy preparation. Method: This descriptive analytical study used a cross-sectional approach and was conducted in April-May 2024. The study population was all prospective brides and grooms visiting the Tanjung Enim Community Health Center, Lawang Kidul District, Muara Enim Regency. A sample of 30 prospective brides and grooms was selected using accidental sampling. Data analysis used univariate and bivariate methods (Chi-Square correlation formula). Results: The chi-square test for age yielded a significance level of 0.012 (<0.05), thus rejecting Ho, indicating a significant relationship between the bride's age and preparation for her first pregnancy. Furthermore, the chi-square test for knowledge yielded a significance level of 0.019, indicating a significant relationship between the bride's level of knowledge and preparation for her first pregnancy. Conclusion: There is a relationship between the bride's age and her knowledge regarding preparation for her first pregnancy, with a p-value of <0.05. Suggestion: Health workers should pay more attention to ensuring that each prospective bride understands the importance of information about her first pregnancy by providing counseling materials and health tests. Keywords: Age; Level of Knowledge; Pregnancy; Prospective Bride.   Pendahuluan: Calon pengantin merupakan kelompok sasaran yang strategis dalam upaya peningkatan kesehatan masa sebelum hamil. Menjelang pernikahan, banyak calon pengantin yang tidak mempunyai cukup pengetahuan dan informasi tentang kesehatan reproduksi dalam berkeluarga, sehingga setelah menikah kehamilan sering tidak direncanakan dengan baik serta tidak di dukung oleh status kesehatan yang optimal. Tujuan: Untuk mengetahui hubungan usia dan tingkat pengetahuan calon pengantin wanita dengan persiapan kehamilan pertama. Metode: Penelitian deskriptif analitik dengan pendekatan cross sectional, dilaksanakan pada bulan April-Mei 2024. Populasi studi penelitian ini adalah semua calon pengantin wanita yang berkunjung ke Puskesmas Tanjung Enim Kecamatan Lawang Kidul Kabupaten Muara Enim. Sampel diambil menggunakan accidental sampling dengan jumlah 30 catin wanita. Analisis data menggunakan univariate dan bivariate (rumus korelasi Chi-Square). Hasil: Uji chi square usia diperoleh signifikansi sebesar 0.012 (< 0.05) maka Ho ditolak, sehingga ada hubungan bermakna antara usia calon pengantin wanita dengan persiapan kehamilan pertama. Selain itu, hasil uji chi square pengetahuan diperoleh signifikansi sebesar 0.019, sehingga ada hubungan bermakna antara tingkat pengetahuan calon pengantin wanita dengan persiapan kehamilan pertama Simpulan: Adanya hubungan antara usia dan pengetahuan calon pengantin wanita terhadap persiapan kehamilan pertama dengan p-value < 0.05. Saran: Bagi tenaga kesehatan agar lebih memperhatikan setiap calon pengantin untuk memahami pentingnya informasi tentang kehamilan pertama dengan cara memberikan materi konseling dan tes kesehatan.   Kata Kunci: Calon Pengantin Wanita; Kehamilan; Tingkat Pengetahuan; Usia.
Pengalaman hidup pasien dengan stoma: A scoping review Maryati, Ida; Sarjono, Kalih; Miladi, Qonita Nur; Widaningsih, Ida; Saritesa, Nining; Ermaya, Asep; Anggraeni, Rina
Holistik Jurnal Kesehatan Vol. 19 No. 5 (2025): Volume 19 Nomor 5
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawatan-fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v19i5.1106

Abstract

Background: The lived experience of patients with a stoma is an important aspect that is often overlooked in health care. Patients with a stoma often face physical and emotional challenges that can affect their quality of life. The changes experienced after stoma surgery can lead to feelings of loss of control and challenges of adaptation. In addition, social support and education from health care providers play a significant role in helping patients adjust. Purpose: To identify patients' lived experiences with a stoma. Method: Scoping review using three databases, namely CINAHL, PubMed, and Scopus with the keywords of patient life experience with stoma, social support, and stoma adaptation. The initial articles found were 679, then 11 articles were included in the study. Results: Patients with stomas have difficulty adapting, but good social support and education from nurses can help improve a sense of control and quality of life. Appropriate interventions can help reduce anxiety and improve the patient's quality of life. Conclusion: The importance of ongoing psychosocial support and education by nurses to help patients manage physical and emotional changes. Suggestion: Further research is recommended to further explore the effectiveness of educational interventions and long-term social support in patients with stoma.   Keywords: Experiences; Patients; Stoma.   Pendahuluan: Pengalaman hidup pasien dengan stoma merupakan aspek penting yang sering diabaikan dalam perawatan kesehatan. Pasien dengan stoma sering menghadapi tantangan fisik dan emosional yang dapat memengaruhi kualitas hidup mereka. Perubahan yang dialami setelah operasi stoma dapat menyebabkan perasaan kehilangan kendali dan tantangan adaptasi. Selain itu, dukungan sosial dan edukasi dari tenaga kesehatan berperan signifikan dalam membantu pasien menyesuaikan diri. Tujuan: Untuk mengidentifikasi pengalaman hidup pasien dengan stoma. Metode: Scoping review menggunakan tiga database yaitu CINAHL, PubMed, dan Scopus dengan kata kunci pengalaman hidup pasien dengan stoma, dukungan sosial, dan adaptasi stoma. Artikel awal yang ditemukan adalah sebanyak 679, kemudian 11 artikel disertakan dalam penelitian. Hasil: Pasien dengan stoma mengalami kesulitan dalam beradaptasi, namun dukungan sosial yang baik dan edukasi dari perawat dapat membantu meningkatkan rasa kontrol dan kualitas hidup. Intervensi yang tepat dapat membantu mengurangi rasa cemas dan meningkatkan kualitas hidup pasien. Simpulan: Pentingnya dukungan psikososial dan edukasi berkelanjutan oleh perawat untuk membantu pasien mengelola perubahan fisik dan emosional. Saran: Penelitian selanjutnya disarankan untuk mengeksplorasi lebih lanjut tentang efektivitas intervensi edukatif dan dukungan sosial dalam jangka panjang pada pasien dengan stoma.   Kata Kunci: Pasien; Pengalaman; Stoma.
Efektivitas penggunaan alat pelindung diri (APD) pada petugas pemadam kebakaran: A literature review Azmi, Zahnia Nurul
Holistik Jurnal Kesehatan Vol. 19 No. 5 (2025): Volume 19 Nomor 5
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawatan-fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v19i5.1116

Abstract

Background: Occupational Safety and Health (OSH) is a critical aspect of high-risk professions such as firefighting. Firefighters face significant risks due to exposure to physical, chemical, and psychological hazards in the line of duty. The use of Personal Protective Equipment (PPE) is a fundamental component in preventing injuries and work-related illnesses. Purpose: To analyze the effectiveness of Personal Protective Equipment (PPE) usage among firefighters. Method: This study uses a literature review approach, with data sources obtained from various journals published in the last five years (2020-2025). The literature identification process was conducted through various scientific platforms such as Google Scholar, ResearchGate, ScienceDirect, and other academic search engines that provide access to relevant journals, research articles, and scientific publications. Results: Overall, various research findings emphasize that the effectiveness of PPE usage among firefighters is not solely determined by equipment availability. Other contributing factors include training, equipment condition, individual awareness, availability, and institutional supervision. Conclusion: The effectiveness of the use of personal protective equipment (PPE) by firefighters is greatly influenced by various interrelated factors.   Keywords: Firefighters; Occupational Safety and Health; Personal Protective Equipment (PPE).   Pendahuluan: Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) merupakan aspek penting dalam profesi berisiko tinggi seperti pemadam kebakaran. Petugas pemadam kebakaran merupakan profesi dengan tingkat risiko tinggi akibat paparan bahaya fisik, kimia, dan psikologis saat menjalankan tugas. Penggunaan Alat Pelindung Diri (APD) menjadi komponen utama dalam upaya perlindungan terhadap cedera dan penyakit akibat kerja. Tujuan: Untuk menganalisis efektivitas penggunaan Alat Pelindung Diri (APD) pada petugas pemadam kebakaran. Metode: Penelitian menggunakan pendekatan literature review dengan sumber data yang diperoleh dari berbagai jurnal yang dipublikasikan dalam lima tahun terakhir (2020-2025). Proses identifikasi literatur dilakukan melalui berbagai platform ilmiah seperti Google Scholar, ResearchGate, ScienceDirect, serta mesin pencari akademik lainnya yang menyediakan akses terhadap jurnal, artikel penelitian, dan publikasi ilmiah relevan. Hasil: Secara keseluruhan, berbagai temuan penelitian tersebut menegaskan bahwa efektivitas penggunaan APD pada petugas pemadam kebakaran tidak hanya ditentukan oleh ketersediaan alat semata. Namun, juga faktor-faktor lain, seperti pelatihan, kondisi peralatan, kesadaran individu, ketersediaan, dan pengawasan dari institusi. Simpulan: Efektivitas penggunaan alat pelindung diri (APD) pada petugas pemadam kebakaran sangat dipengaruhi oleh berbagai faktor yang saling berkaitan.   Kata Kunci: Alat Pelindung Diri (APD); Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3); Petugas Pemadam Kebakaran.
Efektivitas intervensi edukasi mobile phone terhadap penurunan tekanan darah pada pasien stroke Prasetya, Ganjar Kundi; Yunitri, Ninik; Agung, Rizki Nugraha; Rayasari, Fitrian
Holistik Jurnal Kesehatan Vol. 19 No. 5 (2025): Volume 19 Nomor 5
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawatan-fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v19i5.1128

Abstract

Background: Stroke is one of the causes of death, most of which is caused by high blood pressure. There are still many patients who are less concerned about hypertension cases resulting in strokes when being treated, it is felt that continuous education is needed regarding knowledge and compliance. Purpose: To determine the effect of mobile phone educational intervention on reducing blood pressure in stroke patients. Method: A literature study of meta-analyze articles using the AMSTAR checklist Based on the scimago journal ranking, it entered Q1 with an impact factor of 3.593. With the G Power application, 6 samples were obtained and Jamovi 2.3.28 software was used for data processing. There were 12 educational themes based on SHEMA delivered via WhatsApp Messenger for 5 days. Results: This education was able to reduce systolic from 182 to 171, diastolic 98 to 91 and mean arterial pressure (MAP) 127 to 121. This education at least increased confidence and had productivity in controlling high blood pressure. Conclusion: The changes in systolic, diastolic and MAP reduction rates were not significant, but could control the occurrence of no increase or readmission.   Keywords: Hypertension; Mobile Phone; Stroke.   Pendahuluan: Stroke salah satu penyebab kematian yang sebagian besar disebabkan oleh tekanan darah tinggi. Masih banyaknya pasien kurang peduli kasus hipertensi berakibat stroke saat dirawat dirasa perlu edukasi terus menerus terkait pengetahuan maupun kepatuhan. Tujuan: Untuk mengetahui pengaruh intervensi edukasi mobile phone terhadap penurunan tekanan darah pada pasien stroke. Metode: Studi literatur dari artikel meta analysis menggunakan AMSTAR checklist, berdasarkan scimago journal ranking masuk Q1 dengan impact factor 3,593.  Melalui aplikasi G Power mendapat 6 sampel dan software jamovi 2.3.28 untuk olah data. Ada 12 tema edukasi berdasar SHEMA yang disampaikan melalui whatsapp messenger selama 5 hari. Hasil: Edukasi mobile phone mampu menurunkan sistolik dari 182 menjadi 171, diastolik 98 menjadi 91, dan mean arterial pressure (MAP) 127 menjadi 121. Edukasi ini setidaknya menambah keyakinan dan memiliki produktivitas dalam pengendalian tekanan darah tinggi. Simpulan: Perubahan angka penurunan sistolik, diastolik, dan MAP tidak signifikan, tetapi dapat mengendalikan untuk tidak terjadinya peningkatan atau readmisi.   Kata Kunci: Hipertensi; Mobile Phone; Stroke.
Profil keselamatan pasien dalam penggunaan irigasi hangat perioperatif: A literature review Harlasgunawan, Alia Rahmi; Kosasih, Cecep Eli; Nur'aeni, Aan
Holistik Jurnal Kesehatan Vol. 19 No. 5 (2025): Volume 19 Nomor 5
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawatan-fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v19i5.1153

Abstract

Background: Perioperative hypothermia (core temperature < 36 °C) is a frequent complication during surgery and is associated with adverse outcomes such as myocardial ischemia, coagulopathy, surgical site infections, and delayed recovery. One of the contributing factors is the use of large volumes of room-temperature irrigation fluids. Warming irrigation fluids is a simple and effective strategy to maintain perioperative normothermia, but its implementation requires a thorough understanding of patient safety profiles to ensure safe and optimal practice. Purpose: To analyze the patient safety profile in the use of perioperative warm irrigation. Method: A literature review was conducted on relevant literature to analyze the effectiveness and safety profile of perioperative warmed irrigation fluids. The reviewed literature included clinical studies and research discussing the use of warmed irrigation fluids in various surgical procedures, focusing on hypothermia prevention, patient thermal comfort, and safety aspects. Data were analyzed descriptively to identify key findings regarding effectiveness, safety profile, and clinical practice recommendations. Results: Evidence from various clinical studies shows that warmed irrigation fluids improve thermal comfort, reduce the incidence of hypothermia and shivering, and support patient safety. The effectiveness is particularly notable in endoscopic and urologic procedures, and can be enhanced when combined with warmed intravenous fluids. However, the added value of combining multiple warming strategies in short-duration surgeries remains unclear. Importantly, the use of warmed irrigation fluids has not been linked to increased postoperative complications. Conclusion: Warmed irrigation fluids demonstrate an excellent safety profile when implemented optimally. Optimal implementation requires consistent temperature control, reliable warming equipment, and adherence to safety protocols. Further standardization of safety protocols and healthcare professional training in intraoperative fluid warming practices is needed to optimize patient safety outcomes and ensure safe implementation across various clinical settings.   Keywords: Hypothermia; Patient Safety; Perioperative Warm Irrigation.   Pendahuluan: Hipotermia perioperatif (suhu inti tubuh < 36 °C) merupakan komplikasi yang sering terjadi selama pembedahan dan berhubungan dengan berbagai efek merugikan, seperti iskemia miokard, gangguan koagulasi, infeksi luka operasi, serta pemulihan yang tertunda. Salah satu faktor yang berkontribusi adalah penggunaan cairan irigasi dalam volume besar dengan suhu ruang. Pemanasan cairan irigasi merupakan strategi yang sederhana dan efektif untuk mempertahankan normotermia selama perioperatif. Tujuan: Untuk menganalisis profil keselamatan pasien dalam penggunaan irigasi hangat perioperative. Metode: Tinjauan naratif dilakukan terhadap literatur yang relevan untuk menganalisis efektivitas dan profil keselamatan penggunaan cairan irigasi hangat perioperatif. Literatur yang dikaji mencakup studi klinis dan penelitian yang membahas penggunaan cairan irigasi hangat dalam berbagai prosedur pembedahan, dengan fokus pada pencegahan hipotermia, kenyamanan termal pasien, dan aspek keselamatan. Data dianalisis secara deskriptif untuk mengidentifikasi temuan utama terkait efektivitas, profil keselamatan, dan rekomendasi praktik klinis. Hasil: Bukti dari berbagai studi klinis menunjukkan bahwa cairan irigasi hangat meningkatkan kenyamanan termal, menurunkan kejadian hipotermia dan menggigil, serta mendukung keselamatan pasien. Efektivitasnya sangat menonjol pada prosedur endoskopi dan urologi, dan dapat ditingkatkan dengan kombinasi infus intravena hangat. Namun, manfaat tambahan dari penggabungan beberapa metode pemanasan pada pembedahan berdurasi pendek masih belum jelas. Penting untuk dicatat bahwa penggunaan cairan irigasi hangat tidak dikaitkan dengan peningkatan komplikasi pascaoperasi. Simpulan: Cairan irigasi hangat menunjukkan profil keselamatan yang sangat baik. Ketika diimplementasikan secara optimal membutuhkan kontrol suhu yang konsisten, peralatan pemanas yang andal, serta kepatuhan terhadap protokol. Standarisasi lebih lanjut dalam praktik pemanasan cairan intraoperatif diperlukan untuk mengoptimalkan luaran pasien.   Kata Kunci: Hipotermia; Irigasi Hangat Perioperative; Keselamatan Pasien.
Pengaruh adverse childhood experiences terhadap kecemasan pada siswa SMA di Kota Banda Aceh Novita, Novita; Abdullah, Asnawi; Marthoenis, Marthoenis
Holistik Jurnal Kesehatan Vol. 19 No. 5 (2025): Volume 19 Nomor 5
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawatan-fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v19i5.1154

Abstract

Background: Adolescent mental health is a strategic issue in public health development in Indonesia. One factor proven to have a strong association with anxiety disorders is adverse childhood experiences (ACEs). ACEs are negative experiences experienced by someone in childhood before the age of 18. This issue is important to address in educational settings because it can impact students' mental and academic well-being. Purpose: To analyze the influence of adverse childhood experiences on anxiety in high school students. Method: This quantitative study, with a cross-sectional design, was conducted from January to February 2025 in Banda Aceh City, with high school students as subjects. The sample was selected using stratified random sampling, resulting in 310 respondents. Data were analyzed using univariate and bivariate Chi-square tests. Results: Statistical analysis showed that ACEs had the most dominant influence on student anxiety (OR=52.16; 95% CI=9.22–295.24; p=0.0001). Other related factors were school environment (OR=4.28; p=0.0001), academic load (OR=2.24; p=0.012), and coping strategies (OR=2.22; p=0.0001). Multivariate analysis showed that individuals with high-risk adverse childhood experiences (ACEs) and family adaptation had a 35-fold higher risk of experiencing panic-level anxiety (pseudo-R2=0.1544), while individuals with a moderately supportive school environment had a 21-fold higher risk of experiencing panic-level anxiety (pseudo-R2=0.2191). Conclusion: Adverse childhood experiences (ACEs) were significantly associated with anxiety levels in high school students. The most dominant factor associated with student anxiety was high-risk ACEs, followed by a less supportive school environment and ineffective coping strategies. Suggestion: The results of this study are expected to be the basis for formulating promotive and preventive policies for adolescent mental health in the school environment, as well as being a reference for local governments and educational institutions in developing school-based counseling and psychosocial intervention programs.   Keywords: Adverse Childhood Experiences; Anxiety; High School Students; Mental Health.   Pendahuluan: Kesehatan mental remaja merupakan salah satu isu strategis dalam pembangunan kesehatan masyarakat Indonesia. Salah satu faktor yang terbukti memiliki hubungan kuat dengan gangguan kecemasan adalah adverse childhood experiences (ACEs). ACEs merupakan pengalaman negatif yang dialami seseorang di masa kanak-kanak sebelum usia 18 tahun. Masalah ini penting ditangani di lingkungan pendidikan karena dapat memengaruhi kesejahteraan mental dan akademik siswa. Tujuan:  Untuk menganalisis pengaruh adverse childhood experiences terhadap kecemasan pada siswa SMA. Metode: Penelitian kuantitatif dengan desain cross-sectional, dilakukan pada bulan Januari-Februari 2025 di wilayah Kota Banda Aceh dengan subjek penelitian siswa SMA. Sampel dipilih dengan stratified random sampling dan mendapatkan 310 responden. Analisis data menggunakan univariate dan bivariat Chi-square. Hasil: Analisis statistik menunjukkan bahwa ACEs memiliki pengaruh paling dominan terhadap kecemasan siswa (OR=52.16; 95% CI=9.22–295.24; p=0.0001). Faktor lain yang berhubungan adalah lingkungan sekolah (OR=4.28; p=0.0001), beban akademik (OR=2.24; p=0.012), dan strategi coping (OR=2.22; p=0.0001). Berdasarkan analisis multivariat menunjukkan bahwa pada adaptasi diri dan keluarga adverse childhood experiences (ACEs) risiko tinggi berpeluang 35 kali mengalami kecemasan tingkat panik (nilai pseudo R2=0.1544), sedangkan adaptasi lingkungan sekolah yang cukup mendukung berpeluang 21 kali mengalami kecemasan tingkat panik (nilai pseudo R2=0.2191). Simpulan: Adverse Childhood Experiences (ACEs) memiliki hubungan yang signifikan dengan tingkat kecemasan pada siswa SMA. Faktor yang paling dominan berhubungan dengan kecemasan siswa adalah ACEs risiko tinggi, diikuti oleh lingkungan sekolah yang kurang mendukung serta strategi coping yang tidak efektif. Saran: Diharapkan hasil penelitian ini dapat menjadi dasar dalam penyusunan kebijakan promotif dan preventif kesehatan mental remaja di lingkungan sekolah, serta menjadi rujukan bagi pemerintah daerah dan instansi pendidikan dalam mengembangkan program konseling dan intervensi psikososial berbasis sekolah.   Kata Kunci: Adverse Childhood Experiences; Kecemasan; Kesehatan Mental; Siswa.
Analisis faktor psikososial terhadap tingkat distres pada karyawan PT XX Saputra, Riyan; Erwandi, Dadan
Holistik Jurnal Kesehatan Vol. 19 No. 5 (2025): Volume 19 Nomor 5
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawatan-fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v19i5.1160

Abstract

Background: Psychosocial risks and their impact on mental and physical health are among the most challenging issues in occupational safety and health. In addition to their negative impact on individual health, psychosocial risks can also negatively impact organizational efficiency and the national economy. XX Limited Liability Company is a company operating in the mining industry. Through a comprehensive, evidence-based approach, organizations can optimize employee performance while maintaining their health and safety, thereby driving sustained productivity and job satisfaction. Purpose: To identify psychosocial risk factors and analyze employee stress levels. Method: This research is a quantitative, descriptive cross-sectional study conducted on employees of the XX limited liability company in East Kalimantan from October to November 2024. Primary data were collected through a Likert-scale questionnaire in accordance with Ministerial Regulation No. 5/2018 to measure psychosocial factors, as well as through Focus Group Discussions (FGDs). The target sample size was 102 individuals, with representatives from various job levels. Data analysis was performed using SPSS with univariate analysis. Results: The average total scores for psychosocial factors were role ambiguity 8.64 (low risk), role conflict 9.88 (low risk), quantitative burden 10.35 (moderate risk), qualitative burden 12 (moderate risk), career development 10.31 (moderate risk), and responsibility towards others 16.33 (moderate risk). Conclusion: Psychosocial conditions or descriptions indicate a moderate level of risk, with responsibility towards others being the highest risk factor, and the majority of respondents experienced moderate distress. Suggestion: Companies can improve the positive assessment of qualitative burden by recalculating workload and workforce availability, and strengthening existing telecounseling programs.   Keywords: Employees; Psychosocial Factors; Work Distress.   Pendahuluan: Risiko psikososial dan dampaknya terhadap kesehatan mental dan fisik merupakan salah satu permasalahan paling menantang dalam keselamatan dan kesehatan kerja (K3). Selain dampak buruknya terhadap kesehatan individu, risiko psikososial juga dapat berdampak negatif terhadap efisiensi organisasi dan perekonomian nasional. PT XX merupakan perusahaan yang bergerak di Industri pertambangan. Melalui pendekatan yang komprehensif dan berbasis bukti, organisasi dapat mengoptimalkan kinerja karyawan sambil menjaga kesehatan dan keselamatan mereka, sehingga mendorong produktivitas dan kepuasan kerja yang berkelanjutan. Tujuan: Untuk mengidentifikasi faktor risiko psikososial dan menganalisis tingkat distres pada karyawan. Metode: Penelitian deskriptif kuantitatif dengan pendekatan potong lintang (cross-sectional), dilakukan pada karyawan PT. XX di Kalimantan Timur dari Oktober-November 2024. Data primer dikumpulkan melalui kuesioner dengan skala Likert sesuai Permenaker No. 5/2018 untuk mengukur faktor psikososial, serta melalui Focus Group Discussion (FGD). Jumlah sampel yang ditargetkan adalah 102, dengan perwakilan dari berbagai tingkat jabatan. Analisis data akan dilakukan menggunakan SPSS dengan analisis univariat. Hasil: Rata-rata total skor faktor psikososial adalah ketidakjelasan peran 8.64 (low risk), konflik peran 9.88 (low risk), beban kuantitatif 10.35 (medium risk), beban kualitatif 12 (medium risk), pengembangan karir 10.31 (medium risk), dan tanggung jawab terhadap orang lain 16.33 (medium risk). Simpulan: Kondisi atau gambaran psikososial menunjukkan tingkat medium risk dan yang memiliki nilai dengan resiko tertinggi adalah tanggung jawab terhadap orang lain serta mayoritas responden mengalami distress tingkat sedang. Saran: Perusahaan dapat meningkatkan penilaian positif pada aspek beban kualitatif dengan menghitung kembali beban kerja dan ketersediaan man power serta memperkuat program telekonseling yang telah disediakan.   Kata Kunci: Distres Kerja; Faktor Psikososial; Karyawan.
Analisis spasial terhadap kejadian demam berdarah dengue (DBD) di Indonesia: A systematic review Ho, Veronika Angellina Hiberto; Wijayanti, Siwi Pramatama Mars; Rejeki, Dwi Sarwani Sri
Holistik Jurnal Kesehatan Vol. 19 No. 5 (2025): Volume 19 Nomor 5
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawatan-fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v19i5.1180

Abstract

Background: Dengue Hemorrhagic Fever (DHF) is a major public health problem in Indonesia, with significant regional variations in incidence. Despite the government's implementation of various control programs, DHF cases continue to exhibit specific spatial clustering patterns influenced by environmental and demographic factors. Purpose: To analyze the spatial distribution of dengue fever cases in Indonesia and identify environmental and climatic factors associated with dengue fever incidence through a spatial analysis approach. Method: This study followed the PRISMA guidelines and included articles published between January 2020 and December 2024. A literature search was conducted through the PubMed and SINTA databases using the keywords "spatial analysis," "dengue hemorrhagic fever," "DHF," and "Indonesia." Articles meeting the inclusion criteria were analyzed narratively and grouped based on similar findings. Results: Six articles met the inclusion criteria. Most studies used spatial analysis tools such as ArcGIS, Moran's I, and LISA to map clustering and autocorrelation patterns of dengue cases. The results showed that dengue cases tended to be concentrated in areas with high population density. Environmental factors such as temperature (25°C–30°C) and humidity were strongly associated with mosquito behavior and dengue transmission risk, while rainfall showed a weaker relationship. One study demonstrated a dispersed pattern of cases. Conclusion: Spatial analysis methods have proven effective in identifying high-risk dengue clusters and understanding the influence of environmental variables on transmission dynamics. The results of this review emphasize the importance of geographically focused public health interventions and the need for continuous monitoring and mapping of dengue cases in endemic areas.   Keywords: Air Humidity; Dengue Hemorrhagic Fever; Spatial Analysis.   Pendahuluan: Demam Berdarah Dengue (DBD) merupakan salah satu masalah kesehatan masyarakat utama di Indonesia dengan variasi kejadian yang signifikan antar wilayah. Meskipun pemerintah telah menjalankan berbagai program pengendalian, kasus DBD tetap menunjukkan pola pengelompokan spasial tertentu yang dipengaruhi oleh faktor lingkungan dan demografis. Tujuan: Untuk menganalisis pola distribusi spasial kasus demam berdarah di Indonesia dan mengidentifikasi faktor lingkungan dan iklim yang terkait dengan kejadian demam berdarah melalui pendekatan analisis spasial. Metode: Penelitian tinjauan pustaka menggunakan pedoman PRISMA dan mencakup artikel yang diterbitkan pada periode Januari 2020 hingga Desember 2024. Pencarian literatur dilakukan melalui database PubMed dan SINTA dengan kata kunci "analisis spasial", "demam berdarah dengue", "DBD" dan “Indonesia”. Artikel yang memenuhi kriteria inklusi dianalisis secara naratif dan dikelompokkan berdasarkan kesamaan hasil. Hasil: 6 artikel memenuhi kriteria inklusi dan sebagian besar penelitian menggunakan alat analisis spasial, seperti ArcGIS, Moran's I, dan LISA untuk memetakan pola pengelompokan dan autokorelasi kasus demam berdarah. Kasus demam berdarah cenderung terkonsentrasi di daerah dengan kepadatan penduduk tinggi. Faktor lingkungan seperti suhu (25–30°C) dan kelembaban udara memiliki hubungan yang kuat dengan perilaku nyamuk dan risiko penularan demam berdarah, sedangkan curah hujan menunjukkan hubungan yang lemah. Simpulan: Metode analisis spasial telah terbukti efektif dalam mengidentifikasi klaster demam berdarah berisiko tinggi dan memahami pengaruh variabel lingkungan terhadap dinamika penularan. Hasil tinjauan ini menekankan pentingnya intervensi kesehatan masyarakat yang berfokus secara geografis dan perlunya pemantauan dan pemetaan kasus demam berdarah secara berkelanjutan di daerah endemik.   Kata Kunci: Analisis Spasial; Demam Berdarah Dengue; Kelembaban Udara.
Analisis komprehensif peran ehealth dalam model bisnis pelayanan kesehatan modern: Tinjauan sistematis literatur Putri, Adhisa Restu; Sukamto, Sukamto
Holistik Jurnal Kesehatan Vol. 19 No. 5 (2025): Volume 19 Nomor 5
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawatan-fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v19i5.1185

Abstract

Background: The integration of eHealth technologies supports this shift by improving data management, patient engagement, and real-time communication between stakeholders. Healthcare organizations are increasingly adopting digital tools to simplify operations, reduce costs, and improve clinical outcomes. Furthermore, eHealth solutions facilitate prevention and chronic disease management, which align with the long-term sustainability goals of healthcare systems. The flexibility of eHealth also supports remote services and personalized care, which are core to emerging business strategies. Purpose: To assess the strategic role of eHealth in the transformation of modern healthcare business models. Method: The literature review used PubMed, Cochrane Library, and Google Scholar databases with the keywords "eHealth" OR "eHealth" AND "Business Model." Inclusion criteria for reviewed articles included articles in English, published between 2020 and 2025, and accessible in full-text form. Results: One of the key strengths of eHealth is its ability to leverage real-time data to create more personalized and responsive services. Digitized patient data enables the system to recognize individual needs and provide tailored interventions. This approach supports the patient-centered care paradigm, where the patient is at the center of the entire care process. With eHealth, patients are also empowered to participate in their health management through applications that allow them to monitor their condition independently. Conclusion: eHealth plays an increasingly central role in guiding the evolution of modern healthcare business models.   Keywords: Business Models; Electronic Health; Healthcare; Technology Integration.   Pendahuluan: Integrasi teknologi eHealth mendukung pergeseran ini dengan meningkatkan manajemen data, keterlibatan pasien, dan komunikasi real-time antar pemangku kepentingan. Organisasi layanan kesehatan semakin banyak mengadopsi alat digital untuk menyederhanakan operasional, menurunkan biaya, dan meningkatkan hasil klinis. Selain itu, solusi eHealth memfasilitasi layanan pencegahan dan manajemen penyakit kronis, yang sejalan dengan tujuan keberlanjutan jangka panjang sistem kesehatan. Fleksibilitas eHealth juga mendukung layanan jarak jauh dan perawatan yang dipersonalisasi yang menjadi inti dari strategi bisnis yang sedang berkembang. Tujuan: Untuk menilai peran strategis eHealth dalam transformasi model bisnis layanan kesehatan modern. Metode: Penelitian literature review menggunakan database PubMed, Cochrane Library, dan Google Scholar dengan kata kunci "Electronic Health" OR "eHealth" AND "Business Models". Kriteria inklusi artikel yang direview meliputi artikel berbahasa Inggris, terbit pada tahun 2020 hingga 2025, dan dapat diakses secara full text. Hasil: Salah satu kekuatan utama eHealth adalah kemampuannya dalam memanfaatkan data secara real-time untuk menciptakan layanan yang lebih personal dan responsif. Data pasien yang terdigitalisasi memungkinkan sistem mengenali kebutuhan spesifik individu dan memberikan intervensi yang disesuaikan. Pendekatan ini mendukung paradigma patient-centered care, di mana pasien menjadi pusat perhatian dalam seluruh proses pelayanan. Dengan adanya eHealth, pasien juga diberdayakan untuk ikut serta dalam pengelolaan kesehatannya melalui aplikasi yang dapat memantau kondisi secara mandiri. Simpulan: eHealth memainkan peran yang semakin sentral dalam mengarahkan evolusi model bisnis layanan kesehatan modern   Kata Kunci: Electronic Health; Integrasi Teknologi; Layanan Kesehatan; Model Bisnis.
Baby massage dan sensory play meningkatkan motorik kasar bayi usia 6-12 bulan Wiedyaningtyas, Chintya Kartika Putry; Yulianti, Atika; Rahmawati, Nurul Aini
Holistik Jurnal Kesehatan Vol. 19 No. 6 (2025): Volume 19 Nomor 6
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawatan-fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v19i6.782

Abstract

Background: During the golden age, various stimulations must be optimized, especially gross motor development. If the baby experiences gross motor delays, it can cause long-term effects, such as coordination disorders and decreased ability to adapt to the environment. Motor delays can occur due to several factors, including parenting patterns, maternal knowledge, health and nutritional status, environmental culture, and socio-economic status. Baby massage and sensory play are alternatives that can be used to stimulate infant growth and development. Purpose: To determine the effect of a combination of baby massage and sensory play on gross motor development in infants aged 6-12 months. Method: This study used a quasi-experimental design with a non-equivalent group design approach. The number of research samples was 30 infants aged 6-12 months who were taken using purposive sampling techniques according to the inclusion and exclusion criteria. The influence test used was the wilcoxon test for the experimental group and the paired sample t test for the control group, then both groups were compared using the Mann Whitney test. Results: The significance value for the intervention group was 0.010 (<0.05), indicating that the data were not normally distributed. The significance value for the control group was 0.006 (<0.05), indicating that the data were normally distributed. The criteria for assessing the effect of these significance values ​​indicate that the combination of infant massage and sensory play exercises has an effect on gross motor development in infants aged 6-12 months. The comparison test showed an Asymp. Sig. (2-tailed) of 0.690 (>0.05). The criteria for assessing the comparison test indicate that there is no comparison between the effect of the combination of infant massage and sensory play exercises on gross motor development in infants aged 6-12 months. Conclusion: The combination of infant massage and sensory play exercises has an effect on gross motor development in infants. Stimulation is necessary to optimize infants' gross motor skills; otherwise, their gross motor development will be delayed.                   Keywords: Baby; Baby Massage; Gross Motor; Sensory Play.   Pendahuluan: Pada masa golden age berbagai stimulasi harus dioptimalkan, terutama perkembangan motorik kasar. Apabila bayi mengalami keterlambatan motorik kasar, dapat menimbulkan efek jangka panjang, seperti gangguan koordinasi dan penurunan kemampuan adaptasi terhadap lingkungan. Keterlambatan motorik dapat terjadi karena beberapa faktor antara lain, pola asuh orang tua, pengetahuan ibu, status kesehatan dan gizi, budaya lingkungan, dan status sosial ekonomi. Baby massage dan sensory play merupakan salah satu alternatif yang dapat digunakan untuk menstimulasi tumbuh kembang bayi. Tujuan: Untuk mengetahui pengaruh kombinasi baby massage dan sensory play terhadap perkembangan motorik kasar pada bayi usia 6-12 bulan. Metode:  Penelitian ini menggunakan rancangan quasi experimental design dengan pendekatan non-equivalent group design. Jumlah sampel penelitian sebanyak 30 bayi berusia 6-12 bulan yang diambil menggunakan teknik purposive sampling sesuai dengan kriteria inklusi dan eksklusi. Uji pengaruh yang digunakan adalah uji wilcoxon untuk kelompok intervensi dan uji paired sample t test untuk kelompok kontrol, kemudian kedua kelompok dilakukan uji perbandingan menggunakan uji mann whitney. Hasil: Berdasarkan nilai signifikansi pada kelompok intervensi didapatkan sebesar 0.010 (< 0.05), berarti data tidak berdistribusi normal, sedangkan nilai signifikansi kelompok kontrol 0.006 (<0.05), berarti data berdistribusi normal. Kriteria penilaian uji pengaruh nilai signifikansi tersebut memiliki arti terdapat pengaruh kombinasi baby massage dengan sensory play terhadap perkembangan motorik kasar pada bayi usia 6-12 bulan. Pada uji perbandingan, menunjukkan Asymp. Sig. (2-tailed) sebesar 0.690 (>0.05). Kriteria penilaian uji perbandingan nilai signifikansi tersebut, memiliki arti tidak ada perbandingan pengaruh kombinasi baby massage dengan sensory play exercise terhadap perkembangan motorik kasar pada bayi usia 6-12 bulan. Simpulan: Ada pengaruh kombinasi baby massage dan sensory play terhadap perkembangan motorik kasar pada bayi. Pemberian stimulasi diperlukan untuk mengoptimalkan motorik kasar bayi, jika tidak perkembangan motorik kasar bayi akan mengalami keterlambatan.   Kata Kunci: Bayi; Baby Massage; Motorik Kasar; Sensory Play.