cover
Contact Name
Teguh Pribadi
Contact Email
teguh@malahayati.ac.id
Phone
+6282282204653
Journal Mail Official
holistik@malahayati.ac.id
Editorial Address
Jalan Pramuka No.27 Kemiling Bandar Lampung -Indonesia.
Location
Kota bandar lampung,
Lampung
INDONESIA
Holistik Jurnal Kesehatan
Published by Universitas Malahayati
ISSN : 19783337     EISSN : 26207478     DOI : https://doi.org/10.33024/hjk.v18i10
Core Subject : Health,
Berisi kumpulan karya ilmiah dari peneliti diberbagai perguruan tinggi di Indonesia, di bidang ilmu kesehatan khususnya bidang ilmu keperawatan yang berdasarkan kepada kebutuhan pasien secara total meliputi: kebutuhan fisik, emosi, sosial, ekonomi dan spiritual. Adapun penelitiannya mencakup 4 aspek pokok, yakni: promotif, preventif, kuratif, dan rehabilitatif. Jurnal terbit setiap bulan dan artikel ditulis dalam bahasa Indonesia, untuk abstrak artikel ditulis dengan dua bahasa yaitu bahasa Inggris dan bahasa Indonesia.
Articles 329 Documents
Hubungan antara body image dan body dysmorphic disorder pada member fitness center Wenur, Claudeo Primus; Kalesaran, Angela Fitriani Clementine; Asrifuddin, Afnal
Holistik Jurnal Kesehatan Vol. 19 No. 6 (2025): Volume 19 Nomor 6
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawatan-fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v19i6.929

Abstract

Background: Body Dysmorphic Disorder (BDD) is a mental disorder characterized by an excessive obsession with physical defects that often go unnoticed by others. The prevalence of BDD varies between 0.5 and 3.2% and can affect individuals aged 5 to 80 years, with a slightly higher prevalence in women. BDD often emerges in adolescence and significantly impacts daily life, particularly among gym members. Research suggests that factors such as a history of abuse and stigma contribute to BDD. Purpose: To explore the relationship between body image and body dysmorphic disorder among gym members. Method: This was an observational analytical study with a cross-sectional design. A sample of 96 respondents was selected using simple random sampling. The research instruments used the MDDI questionnaire to assess BDD and the MBSRQ-AS to assess body image. Univariate analysis was conducted to describe the characteristics of the respondents and each variable. Bivariate analysis was performed using the chi-square test. Results: The bivariate analysis using the chi-square test between the independent variable of body image and the dependent variable of BDD yielded a p-value <0.05. Conclusion: There is a significant relationship between body image and body dysmorphic disorder in fitness center members.   Keywords: Body Dysmorphic Disorder; Body Image; Fitness Center; Members.   Pendahuluan: Body Dysmorphic Disorder (BDD) adalah gangguan mental yang ditandai oleh obsesi berlebihan terhadap cacat fisik yang sering tidak diperhatikan orang lain. Prevalensi BDD bervariasi antara 0.5-3.2% dan dapat memengaruhi individu dari usia 5-80 tahun dengan kecenderungan sedikit lebih tinggi pada perempuan. BDD sering muncul pada masa remaja dan berdampak signifikan pada kehidupan sehari-hari, terutama di kalangan anggota fitness center. Penelitian menunjukkan bahwa factor, seperti riwayat penyalahgunaan dan stigma berkontribusi terhadap BDD. Tujuan: Untuk mengeksplorasi hubungan antara body image dan body dysmorphic disorder pada member fitness center. Metode: Penelitian observasional analitik dengan desain potong lintang. Jumlah sampel sebanyak 96 responden yang dipilih secara simple random sampling. Instrumen penelitian menggunakan kuesioner MDDI untuk menilai adanya BDD dan MBSRQ-AS untuk menilai body image. Analisis univariat dilakukan untuk mendeskripsikan karakteristik responden dan setiap variabel. Sementara analisis bivariat dilakukan dengan uji chi-square. Hasil: Analisis bivariat menggunakan uji chi square antara variabel bebas body image dan variabel terikat BDD didapatkan nilai p < 0.05. Simpulan: Terdapat hubungan yang signfikan antara body image dengan body dysmorphic disorder pada member fitness center.   Kata Kunci: Body Dysmorphic Disorder; Body Image; Fitness Center; Member.
Faktor-faktor yang berkontribusi terhadap akses pelayanan kesehatan Sunarsih, Tri; Astuti, Endah Puji; Shanti, Elvika Fit Ari
Holistik Jurnal Kesehatan Vol. 19 No. 6 (2025): Volume 19 Nomor 6
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawatan-fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v19i6.943

Abstract

Background: Equitable access to health services is a crucial factor in improving public welfare. However, obstacles remain in the distribution of health services, especially for marginalized groups and communities in remote areas. Purpose: To analyze factors contributing to access to health services. Method: Quantitative research using a multiple regression analysis approach was used to analyze the influence of government policies and regulations, as well as social support, on access to health services. Data were collected through questionnaires from mothers of toddlers in Ngalang Village, Gunungkidul, using a simple random sampling technique. Data analysis included descriptive statistics, classical assumption tests (normality, multicollinearity, heteroscedasticity, autocorrelation), and multiple regression. F-tests, t-tests, and the coefficient of determination (R²) were used to test the significance of the influence and the ability of the independent variables to explain the dependent variable. Results: Government policies and social support significantly influence access to health services, with a significance value of 0.000 and a variable contribution of 58.2%. Conclusion: A combination of effective policies and strong social support can improve public access to health services. Therefore, more adaptive policies and collaboration between the government, communities, and the private sector are needed to support a more inclusive and sustainable health system. Suggestion: The government needs to develop more adaptive policies based on community needs and optimize the health care administration system to make it more efficient and accessible. Increasing the number of medical personnel and developing health care infrastructure, especially in underdeveloped areas, must be a top priority to ensure equitable and quality health care.   Keywords: Access; Government Policy; Health Services; Social Support.   Pendahuluan: Akses terhadap pelayanan kesehatan yang merata merupakan faktor penting dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Namun, masih terdapat tantangan dalam pemerataan layanan kesehatan, terutama bagi kelompok marginal dan masyarakat di daerah terpencil. Tujuan: Untuk menganalisis faktor-faktor yang berkontribusi terhadap akses pelayanan kesehatan. Metode: Penelitian kuantitatif dengan pendekatan analisis regresi berganda untuk menganalisis pengaruh kebijakan dan regulasi pemerintah serta dukungan sosial terhadap akses pelayanan kesehatan. Data dikumpulkan melalui kuesioner dari ibu yang memiliki anak usia dini di Desa Ngalang, Gunungkidul, dengan teknik simple random sampling. Analisis data meliputi statistik deskriptif, uji asumsi klasik (normalitas, multikolinearitas, heteroskedastisitas, autokorelasi), serta regresi berganda. Uji F, uji t, dan koefisien determinasi (R²) digunakan untuk menguji signifikansi pengaruh dan kemampuan variabel independen dalam menjelaskan variabel dependen. Hasil: Kebijakan pemerintah dan dukungan sosial berpengaruh signifikan terhadap akses pelayanan kesehatan dengan nilai signifikansi 0.000 dan kontribusi variabel sebesar 58.2%. Simpulan: Kombinasi kebijakan yang efektif dan dukungan sosial yang kuat dapat meningkatkan akses masyarakat terhadap layanan kesehatan. Oleh karena itu, diperlukan kebijakan yang lebih adaptif dan kolaborasi antara pemerintah, komunitas, serta sektor swasta dalam mendukung sistem kesehatan yang lebih inklusif dan berkelanjutan. Saran: Pemerintah perlu mengembangkan kebijakan yang lebih adaptif dan berbasis kebutuhan masyarakat serta mengoptimalkan sistem administrasi layanan kesehatan agar lebih efisien dan mudah diakses. Peningkatan jumlah tenaga medis dan pengembangan infrastruktur kesehatan, terutama di daerah tertinggal, harus menjadi prioritas utama guna memastikan layanan kesehatan yang merata dan berkualitas   Kata Kunci: Akses; Dukungan Sosial; Kebijakan Pemerintah; Layanan Kesehatan.
Hubungan kelelahan dengan kualitas hidup caregiver merawat anggota keluarga dengan skizofrenia Fadhila, Filza; Marlindawani, Jenny; Daulay, Wardiyah
Holistik Jurnal Kesehatan Vol. 19 No. 6 (2025): Volume 19 Nomor 6
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawatan-fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v19i6.977

Abstract

Background: Schizophrenia is a chronic mental disorder that broadly affects not only the patients but also the caregivers who provide direct care. The high caregiving burden often leads to both physical and psychological fatigue, which negatively impacts the caregivers' quality of life. Purpose: To determine the relationship between fatigue and quality of life of caregivers caring for family members with schizophrenia. Method: A quantitative correlational study with a cross-sectional design was conducted. The sample consisted of 76 caregivers selected through purposive sampling. Data were collected using demographic questionnaires, the Maslach Burnout Inventory (MBI), and the Schizophrenia Caregiver Quality of Life (ScQoL) questionnaire. Data analysis was performed using Spearman’s rho test with a significance level of p < 0.05. Results: The majority of caregivers were female (52.6%) and aged between 50-59 years (47.4%). Most caregivers experienced mild fatigue (85.5%), yet more than half (55.3%) reported poor quality of life. Bivariate analysis revealed a significant relationship between fatigue and caregivers’ quality of life (p = 0.044), indicating that caregivers with severe fatigue tend to have poorer quality of life. Conclusion: The findings suggest that higher levels of fatigue among caregivers are associated with lower quality of life. Mental health nurses should pay attention not only to individuals with schizophrenia but also develop psychosocial interventions to help caregivers manage fatigue and improve their quality of life in caring for family members with schizophrenia.   Keywords: Caregiver; Fatigue; Quality of Life; Schizophrenia.   Pendahuluan: Skizofrenia merupakan gangguan mental kronis yang berdampak luas tidak hanya pada pasien, tetapi juga pada caregiver yang memberikan perawatan secara langsung. Beban perawatan yang tinggi sering menyebabkan kelelahan baik fisik dan psikologis yang berpengaruh terhadap penurunan kualitas hidup caregiver. Tujuan: Untuk mengetahui hubungan antara kelelahan dan kualitas hidup pengasuh yang merawat anggota keluarga dengan skizofrenia. Metode: Penelitian ini menggunakan desain kuantitatif korelasional dengan pendekatan studi cross sectional. Sampel terdiri dari 76 caregiver yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Instrumen penelitian terdiri dari kuesioner data demografi, the Maslach Burnout Inventory (MBI) dan the Schizophrenia Caregiver Quality of Life questionnaire (S-CGQoL). Data dianalisis menggunakan uji Spearman’s rho dengan tingkat signifikansi (p-0.05). Hasil: Mayoritas caregiver adalah perempuan (52.6%) dengan rentang usia 50-59 tahun (47.4%). Sebagian besar caregiver mengalami kelelahan ringan (85.5%), namun lebih dari setengahnya (55.3%) melaporkan kualitas hidup yang buruk. Analisis bivariat menunjukkan, terdapat hubungan yang signifikan antara kelelahan dengan kualitas hidup caregiver (p = 0.044), di mana caregiver dengan kelelahan berat cenderung memiliki kualitas hidup yang lebih buruk. Simpulan: Semakin tinggi tingkat kelelahan yang dirasakan oleh caregiver, maka kualitas hidupnya semakin buruk. Perawat kesehatan jiwa perlu memberikan perhatian, tidak hanya kepada orang dengan skizofrenia, tetapi juga dapat mengembangkan suatu intervensi psikososial yang dapat membantu caregiver mengatasi kelelahan dan meningkatkan kualitas hidup dalam merawat anggota keluarga dengan skizofrenia.   Kata Kunci: Caregiver; Kelelahan; Kualitas Hidup; Skizofrenia.
Pengaruh rational emotive behaviour therapy (REBT) terhadap kemampuan remaja dalam mengelola emosi Naibaho, Amelia Elisabeth; Daulay, Wardiyah; Purba, Jenny Marlindawani
Holistik Jurnal Kesehatan Vol. 19 No. 6 (2025): Volume 19 Nomor 6
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawatan-fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v19i6.978

Abstract

Background: Introduction: Adolescence is a transitional period from childhood to adulthood. During adolescence, hormonal, physical, and psychological changes occur gradually. The ability to control emotions differs from suppressing them. Rational emotive behavior therapy (REBT) focuses on how people think, feel, and act to cope with emotions. Purpose: To identify the effect of rational emotive behavior therapy (REBT) on adolescents' ability to manage emotions. Method: A quantitative, quasi-experimental, pre-post control group approach was used. The sampling technique used purposive sampling, with a total sample of 80 participants divided into 40 intervention groups and 40 control groups. Data were analyzed using univariate and bivariate analyses (dependent t-test). Results: Before the intervention, the majority of adolescents in the intervention group were in the moderate (34 (85%), high (4 (10%), and low (2 (5%).) After the intervention, there was a significant improvement, with 31 (77.5%) adolescents in the high category of emotional management skills and 9 (22.5%) in the moderate category. In the control group, which only received counseling from guidance counselors, there was no significant improvement. The number of adolescents with high emotional management skills decreased from 7.5% to 0%, while the majority remained in the moderate category. Statistical tests showed a highly significant difference between the intervention and control groups (p = 0.001), with the average emotional management skill score being significantly higher in the group receiving REBT. Conclusion: There was a difference in emotional management in the intervention group before and after REBT (p-value = 0.001). There was no difference in emotional management in the control group before and after receiving counseling from guidance counselors (p-value = 0.766). REBT can have a significant impact on emotional management in adolescents. Suggestion: Implement REBT in groups can be an effective intervention strategy in helping adolescents manage their emotions in healthier, more rational, and adaptive ways.   Keywords: Adolescents; Emotions; Rational Emotional Behavior Therapy (REBT).   Pendahuluan: Masa remaja adalah masa yang ditandai dengan adanya proses transisi dari masa kanak-kanak menuju masa dewasa. Pada usia remaja terjadi perubahan hormon, fisik, dan psikis yang berlangsung secara berangsur-angsur. Kemampuan mengendalikan emosi berbeda dengan meredam emosi. Rational emotive behaviour therapy (REBT) berfokus pada bagaimana orang berpikir, merasa dan bertindak untuk mengatasi emosional. Tujuan: Untuk mengidentifikasi pengaruh rational emotive behaviour therapy (REBT) terhadap kemampuan remaja dalam mengelola emosi. Metode: Pendekatan kuantitatif Quasi eksperimental pre-post with control group. Teknik pengambilan sampel menggunakan purposive sampling dengan total sampel sebanyak 80 partisipan yang terbagi menjadi 40 partisipan kelompok intervensi dan 40 kelompok kontrol. Analisis data menggunakan analisis univariat dan bivariat (uji dependent t-test). Hasil: Sebelum diberikan intervensi, mayoritas remaja dalam kelompok intervensi berada pada kategori sedang sebanyak 34 (85%), tinggi sebanyak 4 (10%), dan rendah sebanyak 2 (5%). Setelah intervensi, terjadi peningkatan yang signifikan yaitu dengan kategori tinggi kemampuan remaja mengelola emosi sebanyak 31 (77.5%) dan sedang sebanyak 9 (22.5%). Pada kelompok kontrol yang hanya mendapatkan bimbingan konseling dari guru BK, tidak terjadi peningkatan yang signifikan. Jumlah remaja dengan kemampuan tinggi menurun dari 7.5% menjadi 0%, sementara mayoritas tetap berada dalam kategori sedang. Hasil uji statistik perbedaan yang sangat signifikan antara kelompok intervensi dan kontrol (p=0.001), dengan rata-rata skor kemampuan mengelola emosi yang lebih tinggi secara bermakna pada kelompok yang mendapat intervensi REBT. Simpulan: Ada perbedaan mengelola emosi pada kelompok intervensi sebelum dan sesudah diberikan REBT dengan p-value = 0.001. Tidak ada perbedaan mengelola emosi pada kelompok kontrol sebelum dan sesudah mendapatkan bimbingan konseling dari guru BK dengan p-value = 0.766. Pemberian REBT dapat memberikan dampak yang signifikan dalam mengelola emosi pada remaja. Saran: Penerapan REBT secara kelompok dapat menjadi strategi intervensi yang efektif dalam membantu remaja mengelola emosi secara lebih sehat, rasional, dan adaptif.   Kata Kunci: Emosi; Remaja; Rational Emotive Behaviour Therapy (REBT).
Gambaran kebutuhan perawatan suportif pada pasien kanker payudara yang menjalani kemoterapi Hijriani, Nadifa; Pahria, Tuti; Harun, Hasniatisari
Holistik Jurnal Kesehatan Vol. 19 No. 6 (2025): Volume 19 Nomor 6
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawatan-fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v19i6.1004

Abstract

Background: Breast cancer is the most common cancer in women, with a global incidence of 2.3 million cases and the fourth highest mortality rate. In Indonesia, 66,271 new cases were recorded in 2022, while West Java Province saw an increase from 594 cases in 2019 to 973 referrals in 2023. Chemotherapy, while effective in destroying cancer cells systemically, often reduces patients' quality of life due to physical, psychological, and social side effects. Supportive care can alleviate this burden, but providing and meeting patient needs in facilities remains suboptimal. Purpose: To identify supportive care needs in breast cancer patients undergoing chemotherapy. Method: This quantitative descriptive study was conducted on patients undergoing chemotherapy in January 2025 at Al-Ihsan Regional General Hospital, Bandung. Sampling was conducted consecutively to select 105 breast cancer patients. The instrument used was the Supportive Care Needs-Short Form 34 (SCNS-SF34), and univariate analysis was performed. Results: Most respondents (52.3%) required supportive care. The highest level of need was in the health systems and information domain (58%), followed by the physical and daily activities domain (56.1%), the psychological domain (53.3%), and the support and care domain (52.3%). Most respondents (61%) did not require supportive care in the sexuality domain. Conclusion: Breast cancer patients undergoing chemotherapy at Al-Ihsan Regional Hospital, Bandung, require supportive interventions, particularly in the form of health information, physical and psychological support, with nurses playing a key role in improving quality of life. Suggestion: Expand outpatient consultations and utilize print and digital media for therapy information, implement self-education at home, provide structured psychological counseling, develop a protocol for interventions related to sexual side effects, and train healthcare workers in empathy and sensitive communication.   Keywords: Breast Cancer; Chemotherapy; Supportive Care.   Pendahuluan: Kanker payudara menjadi kanker paling umum pada wanita dengan insiden global mencapai 2.3 juta kasus dan menempati peringkat ke-4 kematian tertinggi. Di Indonesia, tercatat 66.271 kasus baru pada 2022, sementara Provinsi Jawa Barat mencatat peningkatan dari 594 kasus pada 2019 menjadi 973 rujukan pada 2023. Kemoterapi, meski efektif secara sistemik dalam menghancurkan sel kanker, sering menurunkan kualitas hidup pasien karena efek samping fisik, psikologis, dan sosial. Perawatan suportif dapat meringankan beban ini, tetapi identifikasi dan pemenuhan kebutuhan pasien di fasilitas masih belum optimal. Tujuan: Untuk mengidentifikasi kebutuhan perawatan suportif pada pasien kanker payudara yang menjalani kemoterapi. Metode: Penelitian deskriptif kuantitatif yang dilakukan kepada pasien yang menjalani kemoterapi pada bulan Januari 2025 di RSUD Al-Ihsan Bandung. Pengumpulan sampel menggunakan teknik consecutive sampling dan mendapatkan 105 pasien kanker payudara untuk menjadi responden. Instrumen yang digunakan adalah Supportive Care Needs-Short Form 34 (SCNS-SF34) dan dianalisis menggunakan univariat. Hasil: Sebagian besar responden (52.3%) membutuhkan perawatan suportif. Tingkat kebutuhan tertinggi berada pada domain sistem dan informasi kesehatan (58%), dilanjut domain fisik dan aktivitas sehari-hari (56.1%), domain psikologis (53.3%), dan domain dukungan dan perawatan (52.3%). Sebagian besar responden (61%) tidak membutuhkan perawatan suportif pada domain seksualitas. Simpulan: Pasien kanker payudara yang menjalani kemoterapi memerlukan intervensi suportif, terutama informasi kesehatan, dukungan fisik dan psikologis dengan perawat sebagai kunci peningkatan kualitas hidup. Saran: Perluas konsultasi rawat jalan dan dapat memanfaatkan media cetak/digital untuk informasi terapi. Selain itu, dapat dilakukan edukasi mandiri di rumah, adanya ketersediaan konseling psikologis terstruktur, mengembangkan protokol intervensi efek samping seksual, serta melatih empati dan komunikasi sensitif bagi tenaga kesehatan.   Kata Kunci: Kanker Payudara; Kemoterapi; Perawatan Suportif.
Analisis peran senam otak terhadap fungsi kognitif lansia: A literature review Juwari, Juwari; Ardian, Iwan; Luthfa, Iskim; Setyowati, Wahyu Endang
Holistik Jurnal Kesehatan Vol. 19 No. 6 (2025): Volume 19 Nomor 6
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawatan-fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v19i6.1013

Abstract

Background: The elderly are an age group vulnerable to cognitive decline due to degenerative processes. Impaired cognitive function can impact quality of life, independence, and the risk of dementia. One non-pharmacological intervention considered effective in maintaining and improving cognitive function in the elderly is brain gym, which combines simple physical movements with mental stimulation. Purpose: To analyze the role of brain gym on cognitive function in the elderly. Method: Literature review research of scientific articles through research journal databases and internet searches related to the role of brain gymnastics on cognitive function in the elderly for the period 2018 to 2025. The literature review process begins with topic selection, followed by a study search through Google Scholar, PubMed, Scopus, and EBSCO sites, with the search keywords "Brain Gym", OR "Brain Gym" AND "Cognitive Function", OR "cognitive" AND "Elderly". The selection of article eligibility is carried out systematically following the PRISMA format, including the stages of identification, screening, and selection of articles for further analysis. Results: An analysis based on a review of 10 articles shows that brain gymnastics has an impact on improving cognitive function in the elderly. Brain gymnastics is effective when performed at least once a week for 15 minutes over a period of 6 weeks or more. This duration can improve blood flow and oxygen supply to organs, especially the brain, resulting in improved concentration and cognitive function. Conclusion: Increased physical activity such as aerobics, strength training, or brain gymnastics has been shown to significantly impact cognitive function. Performing gymnastics for at least 15 minutes once a week within 6 weeks can improve cognitive function in the elderly and provide health benefits, including increased alertness, concentration, and memory. Suggestion: It is hoped that brain gymnastics will become a mandatory program for the elderly in community health centers throughout Indonesia to support the quality of life of the increasing number of elderly. Furthermore, community health centers can also serve as educational centers for families and caregivers about the importance of maintaining brain health in old age.   Keywords: Brain Gymnastics; Cognitive Function; Elderly.   Pendahuluan: Lansia merupakan kelompok usia yang rentan mengalami penurunan fungsi kognitif akibat proses degeneratif. Fungsi kognitif yang terganggu dapat berdampak pada kualitas hidup, kemandirian, serta risiko terjadinya demensia. Salah satu intervensi non-farmakologis yang dinilai efektif dalam mempertahankan dan meningkatkan fungsi kognitif lansia adalah senam otak (brain gym), yang menggabungkan gerakan fisik sederhana dengan stimulasi mental Tujuan: Untuk menganalisis peran senam otak terhadap fungsi kognitif lansia. Metode: Penelitian literature review artikel ilmiah melalui database jurnal penelitian, pencarian di internet terkait dengan peran senam otak terhadap fungsi kognitif pada lansia dalam rentang waktu 2018 hingga 2025. Proses literature review dimulai dengan pemilihan topik, dilanjutkan dengan penelusuran studi melalui situs Google Scholar, PubMed, Scopus dan EBSCO, menggunakan kata kunci dalam pencarian adalah “Senam Otak”,OR ”Brain Gym” AND ”Fungsi Kognitif” OR “cognitive”AND “Lansia” OR “Elderly”. Seleksi kelayakan artikel dilakukan secara sistematis mengikuti format PRISMA, mencakup tahap identifikasi, penyaringan, dan pemilihan artikel untuk analisis lebih lanjut. Hasil: Analisis berdasar telaah pada 10 artikel menunjukkan bahwa, senam otak memiliki pengaruh terhadap peningkatan fungsi kognitif pada lansia, senam otak efektif dilakukan minimal 1 kali dalam seminggu dengan durasi 15 menit dalam jangka waktu 6 minggu atau lebih dengan durasi ini dapat melancarkan aliran dan volume pasukan darah yang membawa oksigen ke organ tubuh terutama otak, sehingga terjadi peningkatan konsentrasi dan fungsi kognitif. Simpulan: Peningkatan aktivitas fisik, seperti aerobik, latihan kekuatan, atau senam otak telah telah terbukti signifikan memiliki hubungan dengan fungsi kognitif. Senam selama minimal 15 menit dengan durasi 1 minggu sekali dalam 6 minggu dapat terjadi peningkatan fungsi kognitif pada lansia dan memperoleh manfaat kesehatan antara lain dapat meningkatkan kewaspadaan, konsentrasi, dan memori. Saran: Diharapkan agar senam otak dijadikan program wajib bagi para lansia di puskesmas di seluruh Indonesia sebagai upaya mendukung kualitas hidup lansia yang semakin meningkat jumlahnya. Selain itu, puskesmas juga dapat berperan sebagai pusat edukasi bagi keluarga dan caregiver tentang pentingnya menjaga kesehatan otak pada usia lanjut.   Kata Kunci: Fungsi Kognitif; Lansia; Senam Otak.
Analisis hubungan pengetahuan dan dukungan keluarga dengan kejadian stunting: A literature review Harno, Harno; Ardian, Iwan; Setyowati, Wahyu Endang; Luthfa, Iskim
Holistik Jurnal Kesehatan Vol. 19 No. 6 (2025): Volume 19 Nomor 6
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawatan-fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v19i6.1014

Abstract

Background: Stunting is a chronic nutritional problem that impacts children's physical growth and cognitive development and contributes to increased long-term morbidity and mortality. Determinants such as parental knowledge, especially maternal knowledge, and family support play a crucial role in stunting prevention. Purpose: To analyze the relationship between knowledge and family support levels and stunting incidence. Method: This study employed a literature review design approach using searchable databases including Scopus, PubMed, EBSCO, and Science Direct. The search was conducted in May 2025. Article inclusion criteria included articles published between 2019 and 2025 that discussed the relationship between knowledge and family support and stunting incidence, in both English and Indonesian. The search terms used were "Stunting" AND "Knowledge" OR "Knowledge" AND "Family Support" OR "Family Support" AND "Baby" OR "Baby" OR "Children". Results: Analysis based on a review of 12 articles showed a significant relationship between maternal knowledge and family support and stunting prevention. Interventions that include nutrition education, family involvement, and support from health workers have proven effective in reducing the prevalence of stunting. Conclusion: Adequate knowledge and strong family support are crucial factors in reducing the prevalence of stunting. Therefore, educational interventions and family empowerment need to be prioritized in a holistic and sustainable stunting prevention strategy.   Keywords: Family; Knowledge; Stunting; Support.   Pendahuluan: Stunting merupakan masalah gizi kronis yang berdampak pada pertumbuhan fisik dan perkembangan kognitif anak, serta berkontribusi terhadap peningkatan morbiditas dan mortalitas jangka panjang. Faktor-faktor determinan seperti pengetahuan orang tua, terutama ibu, dan dukungan keluarga memegang peranan penting dalam pencegahan stunting. Tujuan: Untuk menganalisis hubungan antara tingkat pengetahuan dan dukungan keluarga dengan kejadian stunting. Metode: Penelitian ini melakukan pendekatan desain literature review dengan databased pencarian yaitu Scopus, PubMed, EBSCO, dan Science Direct, pencarian dilakukan bulan Mei 2025. Kriteria inklusi artikel yakni, artikel yang terbit pada tahun 2019-2025, membahas terkait hubungan pengetahuan dan dukungan keluarga dengan kejadian stunting, bahasa inggris dan bahasa Indonesia. Kata kunci dalam pencarian adalah “Stunting” AND ”Pengetahuan” OR “Knowledge” AND ”Dukungan Keluarga” OR “Family support”AND “Balita” OR “Toddler” OR “Children”. Hasil: Analisis berdasar telaah pada 12 artikel menunjukkan bahwa hubungan signifikan antara pengetahuan ibu serta dukungan keluarga dengan pencegahan stunting. Intervensi yang melibatkan edukasi gizi, keterlibatan keluarga, dan dukungan tenaga kesehatan terbukti efektif dalam menurunkan prevalensi stunting. Simpulan: Pengetahuan yang memadai dan dukungan keluarga yang kuat merupakan faktor penting dalam menurunkan prevalensi stunting. Oleh karena itu, intervensi edukatif dan pemberdayaan keluarga perlu menjadi prioritas dalam strategi pencegahan stunting secara holistik dan berkelanjutan.   Kata Kunci: Dukungan; Keluarga; Pengetahuan; Stunting.
Analisis interaksi antara paparan asap rokok dan gizi dalam kejadian stunting di Indonesia: A literature review Triswati, Triswati; Aji, Budi; Suratman, Suratman
Holistik Jurnal Kesehatan Vol. 19 No. 6 (2025): Volume 19 Nomor 6
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawatan-fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v19i6.1038

Abstract

Background: Stunting is a global health problem rooted in various factors, including poor nutrition and unhealthy household environments, one of which is exposure to cigarette smoke. This condition affects child growth, reduces immunity, and impacts future productivity. Purpose: To analyze the interaction between cigarette smoke exposure and nutrition on the incidence of stunting. Method: Literature review research followed the Preferred Reporting Items for Systematic Reviews and Meta-Analyses (PRISMA) guidelines. Articles were retrieved from Scopus, PubMed, Google Scholar, ResearchGate, and the Directory of Open Access Journals (DOAJ). After screening and evaluation, eight articles met the inclusion criteria. Results: Results: Exposure to household cigarette smoke and poor nutrition synergistically increase the risk of stunting in children. Cigarette smoke impairs nutrient absorption and the immune system, while poor nutrition exacerbates these effects. Conclusion: Stunting prevention requires a combination of adequate nutritional interventions and smoking control in the family environment.   Keywords: Children; Cigarette Smoke; Nutrition; Family; Stunting.   Pendahuluan: Stunting merupakan masalah kesehatan global yang berakar pada berbagai faktor, termasuk gizi buruk dan lingkungan rumah tangga yang tidak sehat, salah satunya paparan asap rokok. Kondisi ini berdampak pada pertumbuhan anak, menurunkan daya tahan tubuh, serta memengaruhi produktivitas di masa depan.Tujuan: Untuk menganalisis interaksi antara paparan asap rokok dan gizi dalam kejadian stunting di Indonesia.Metode: Penelitian literature review ini mengikuti pedoman PRISMA (Preferred Reporting Items for Systematic Reviews and Meta-Analyses). Artikel diperoleh dari Google Scholar, Science Direct, PubMed, dan Directory of Open Access Journals (DOAJ). Setelah melalui proses penyaringan dan evaluasi, delapan artikel memenuhi kriteria inklusi.Hasil: Paparan asap rokok dalam rumah tangga dan gizi buruk secara sinergis meningkatkan risiko stunting pada anak. Asap rokok mengganggu penyerapan nutrisi dan sistem imun, sedangkan gizi buruk memperparah dampaknya.Simpulan: Pencegahan stunting perlu dilakukan melalui kombinasi intervensi gizi yang memadai dan pengendalian perilaku merokok di lingkungan keluarga. Kata Kunci: Anak; Asap Rokok; Gizi; Keluarga; Stunting.
Gambaran kejadian postoperative nausea vomiting (PONV) pada pasien general dan regional anestesi Apriyanti, Meli; Sukmaningtyas, Wilis; Safitri, Maya
Holistik Jurnal Kesehatan Vol. 19 No. 6 (2025): Volume 19 Nomor 6
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawatan-fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v19i6.1044

Abstract

Background: Postoperative nausea and vomiting (PONV) is a common complication after anesthetic procedures, both general and regional. This condition can cause discomfort, prolong recovery time, and increase healthcare costs. Purpose: To determine the incidence of postoperative nausea and vomiting (PONV) in patients undergoing surgery under general and regional anesthesia. Method: This was a quantitative descriptive study with a cross-sectional approach. The sample consisted of 75 patients undergoing surgery under general or regional anesthesia. Data were collected through observation and questionnaires regarding patient characteristics and the incidence of PONV within 24 hours after surgery. Results: Most respondents were aged 26–45 years (34.7%), predominantly female (62.7%), undergoing major surgery (77.3%) lasting 30–60 minutes (89.3%), and were non-smokers (73.3%). PONV occurred in 39 respondents (52.0%). Regional anesthesia was the most commonly used type of anesthesia (50.7%). Conclusion: PONV occurs more frequently in patients undergoing surgery under general anesthesia compared to patients undergoing regional anesthesia. This may be due to various factors, such as age, gender, type of surgery, duration of surgery, smoking history, and type of anesthesia. Suggestion: More effective prevention and management of PONV is needed, especially in patients undergoing general anesthesia, through the administration of prophylactic antiemetics and preoperative education.   Keywords: Anesthesia; General; Postoperative Nausea and Vomiting (PONV); Regional.   Pendahuluan: Postoperative Nausea and Vomiting (PONV) merupakan komplikasi umum setelah prosedur anestesi, baik general maupun regional. Kondisi ini dapat menyebabkan ketidaknyamanan, memperpanjang waktu pemulihan, dan meningkatkan biaya perawatan. Tujuan: Untuk mengetahui gambaran kejadian postoperative nausea and vomiting (PONV) pada pasien yang menjalani operasi dengan general anestesi dan regional anestesi. Metode: Penelitian desain deskriptif kuantitatif dengan pendekatan cross-sectional. Sampel terdiri dari 75 pasien yang menjalani operasi dengan general atau regional anestesi. Data dikumpulkan melalui observasi dan kuesioner mengenai karakteristik pasien serta kejadian PONV dalam 24 jam pascaoperasi. Hasil: Sebagian besar responden berusia 26–45 tahun (34.7%), mayoritas berjenis kelamin perempuan (62.7%), menjalani bedah mayor (77.3%) dengan durasi operasi 30–60 menit (89.3%), dan tidak merokok (73.3%). Kejadian PONV terjadi pada 39 responden (52.0%). Regional anestesi merupakan jenis anestesi yang paling banyak digunakan (50.7%). Simpulan: Kejadian PONV lebih banyak terjadi pada pasien yang menjalani operasi dengan general anestesi dibandingkan regional anestesi. Hal ini dapat disebabkan karena berbagai faktor, seperti faktor usia, jenis kelamin, jenis operasi, lama pembedahan, riwayat perokok, dan jenis anestesi. Saran: Diperlukan upaya pencegahan dan penanganan PONV yang lebih efektif, terutama bagi pasien dengan general anestesi, melalui pemberian antiemetik profilaksis dan edukasi praoperatif.   Kata Kunci: Anestesi; General; Post Operative Nausea and Vomiting (PONV); Regional.
Analisis perilaku pencegahan keputihan berdasarkan teori health promotion model (HPM) pada siswi kelas SMA Marwiyah, Siti Wahidah; Siregar, Sri Astuti; Kasyani, Kasyani
Holistik Jurnal Kesehatan Vol. 19 No. 7 (2025): Volume 19 Nomor 7
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawatan-fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v19i7.1061

Abstract

Background: Reproductive health is a major concern among adolescents. According to Word Health Organization (WHO) 45% of women experience vaginal discharge at least twice, and 90% of Indonesian women are at risk, highlighting the need for prevention. Purpose: To analyze vaginal discharge prevention behavior based on the health promotion model (HPM) theory in high school female students. Method: A cross-sectional design involving 152 students selected through simple random sampling. Primary data are collected using questionnaires measuring vaginal discharge prevention behavior and HPM-related factors. Data analysis uses the Chi-Square test. Results: Most respondents are 17 years old, with an even distribution across classes. A significant relationship exists between self-motivation, perceived benefits, and self-commitment with preventive behavior (