cover
Contact Name
Teguh Pribadi
Contact Email
teguh@malahayati.ac.id
Phone
+6282282204653
Journal Mail Official
holistik@malahayati.ac.id
Editorial Address
Jalan Pramuka No.27 Kemiling Bandar Lampung -Indonesia.
Location
Kota bandar lampung,
Lampung
INDONESIA
Holistik Jurnal Kesehatan
Published by Universitas Malahayati
ISSN : 19783337     EISSN : 26207478     DOI : https://doi.org/10.33024/hjk.v18i10
Core Subject : Health,
Berisi kumpulan karya ilmiah dari peneliti diberbagai perguruan tinggi di Indonesia, di bidang ilmu kesehatan khususnya bidang ilmu keperawatan yang berdasarkan kepada kebutuhan pasien secara total meliputi: kebutuhan fisik, emosi, sosial, ekonomi dan spiritual. Adapun penelitiannya mencakup 4 aspek pokok, yakni: promotif, preventif, kuratif, dan rehabilitatif. Jurnal terbit setiap bulan dan artikel ditulis dalam bahasa Indonesia, untuk abstrak artikel ditulis dengan dua bahasa yaitu bahasa Inggris dan bahasa Indonesia.
Articles 329 Documents
Hubungan motivasi dan beban kerja dengan kinerja perawat pelaksana di rumah sakit Siregar, Sakti Perdana; Nurhidayah, Rika Endah; Siregar , Farida Linda Sari
Holistik Jurnal Kesehatan Vol. 19 No. 6 (2025): Volume 19 Nomor 6
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawatan-fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v19i6.970

Abstract

Background: Nurse performance is crucial in determining the quality of nursing care in hospitals. Low motivation and high workload are factors contributing to decreased performance. This occurs at Rasyida Kidney Specialist Hospital, Medan, characterized by a lack of appreciation, high workload, and patient complaints regarding services. Purpose: To analyze the relationship between motivation and workload and nurse performance. Method: This study used a correlational analytical design with a cross-sectional approach. The study population was all nurses at Rasyida Kidney Specialist Hospital, Medan. The sample size was 69. The research instrument was developed by the researcher and has undergone validity and reliability testing. Data analysis was conducted using univariate, bivariate, and multivariate methods. Results: Univariate analysis showed that the majority of nurses (45%, 65.2%) had good motivation, 48 (69.6%) had a high workload, and 46 (66.7%) had adequate performance. The analysis of the relationship between motivation and performance yielded a p-value of 0.001 and an r-value of 0.507, while the analysis of the relationship between workload and nurse performance yielded a p-value of 0.012 and an r-value of 0.301. Conclusion: There is a relationship between motivation, workload, and nurse performance, with a coefficient of determination of R2 = 0.357, indicating a 35.7% effect of the independent variable on the dependent variable. Suggestion: This finding is expected to serve as a basis for evaluating hospital policies related to nurse motivation and workload. Strategies are needed to create a workload balance to support sustainable nurse performance.   Keywords: Hospital; Motivation; Nurses; Performance; Workload.   Pendahuluan: Kinerja perawat penting dalam menentukan kualitas pelayanan keperawatan di rumah sakit. Rendahnya motivasi dan tingginya beban kerja menjadi faktor penurunan kinerja. Ini terjadi di Rumah Sakit Khusus Ginjal Rasyida Medan, ditandai kurangnya penghargaan, tingkat kerja tinggi, adanya keluhan pasien terhadap pelayanan. Tujuan: Untuk menganalisis hubungan motivasi dan beban kerja dengan kinerja perawat pelaksana di rumah sakit. Metode: Penelitian menggunakan desain analitik korelasional dengan pendekatan cross sectional. Populasi penelitian adalah seluruh perawat pelaksana di Rumah Sakit Khusus Ginjal Rasyida Medan. Sampel merupakan populasi (total sampling) berjumlah 69. Instrumen penelitian dikembangkan sendiri oleh peneliti dan telah dilakukan uji validitas dan reliabilitas. Analisis data dilakukan secara univariat, bivariat, dan multivariat. Hasil: Mayoritas motivasi cukup baik 45 (65.2%), beban kerja tinggi 48 (69.6%), dan kinerja perawat cukup 46 (66.7%). Hasil analisis hubungan motivasi dengan kinerja didapatkan p-value 0.001 dan nilai r  0.507, sedangkan hasil analisis hubungan beban kerja dengan kinerja perawat didapatkan p-value 0.012 dan nilai r 0.301. Simpulan: Terdapat hubungan antara motivasi dan beban kerja dengan kinerja perawat pelaksana dengan koefisien determinasi R2= 0.357 yang berarti besarnya pengaruh variabel independen terhadap variabel dependen adalah sebesar 35.7%. Saran: Diharapkan menjadi dasar evaluasi kebijakan rumah sakit terkait motivasi dan beban kerja perawat, diperlukan strategi untuk menciptakan keseimbangan beban kerja guna mendukung kinerja perawat secara berkelanjutan.   Kata Kunci: Beban Kerja; Kinerja; Motivasi; Perawat; Rumah Sakit.
Kecemasan akademik yang dialami oleh remaja Putri, Nazela Nanda; Daulay, Wardiyah; Marlindawani, Jenni
Holistik Jurnal Kesehatan Vol. 19 No. 6 (2025): Volume 19 Nomor 6
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawatan-fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v19i6.972

Abstract

Background: Academic anxiety is one of the issues often faced by teenagers, especially high school students. This anxiety can arise due to high academic demands, parental expectations, competition among students, and pressure to achieve good academic performance. Purpose: To determine academic anxiety among adolescents. Method: This quantitative descriptive study involved all 363 12th-grade students at Kutacane 1 State Senior High School in 2024. Purposive sampling was used to select 50 respondents who met the inclusion and exclusion criteria. Data collection was conducted using a questionnaire and univariate analysis. Results: Academic anxiety in adolescents was mostly categorized as severe anxiety (37 respondents (74.0%) and moderate anxiety (13 respondents (26.0%). Conclusion: The majority of respondents experienced emotional symptoms in the form of worry about learning outcomes and fear of bad grades, cognitive disorders such as confusion and doubt during exams, as well as physical manifestations in the form of sweaty hands and a pounding heart. Suggestion: Schools are expected to provide psychological support programs such as regular counseling, stress management training, and coping skills to help students manage academic anxiety, especially before exams or other important evaluation moments.   Keywords: Academic; Anxiety; Adolescents; High School Students; Academic Pressure.   Pendahuluan: Kecemasan akademik salah satu masalah yang sering dihadapi oleh remaja, terutama siswa sekolah menengah atas. Kecemasan ini dapat muncul akibat tuntutan akademik yang tinggi, ekspektasi orang tua, kompetisi antar siswa, hingga tekanan untuk meraih prestasi akademik yang baik. Tujuan: Untuk mengetahui kecemasan akademik pada remaja. Metode: Penelitian kuantitatif deskriptif dengan populasi penelitian yaitu seluruh siswa/siswi kelas XII di MAN 1 Kutacane tahun 2024 sebanyak 363 siswa/siswi. Teknik pengambilan sampel menggunakan purposive sampling dan diperoleh sebanyak 50 responden sebagai sampel, sesuai kriteria inklusi dan eksklusi. Pengambilan data menggunakan kuesioner dan analisis univariat. Hasil: Kecemasan akademik pada remaja mayoritas dalam kategori kecemasan berat sebanyak 37 responden (74.0%) dan kecemasan sedang sebanyak 13 responden (26.0%). Simpulan: Mayoritas responden mengalami gejala emosional berupa kekhawatiran terhadap hasil belajar dan ketakutan terhadap nilai buruk, gangguan kognitif seperti kebingungan dan keraguan saat ujian, serta manifestasi fisik berupa tangan berkeringat dan jantung berdebar. Saran: Pihak sekolah diharapkan dapat menyediakan program pendampingan psikologis seperti konseling rutin, pelatihan manajemen stres, dan keterampilan coping untuk membantu siswa mengelola kecemasan akademik, khususnya menjelang ujian atau momen evaluasi penting lainnya.   Kata Kunci : Akademik; Kecemasan; Remaja.
Media e-komik strip “gege & gizi” terhadap pengetahuan dan sikap remaja tentang gizi seimbang Diastuti, Putri Permata; Hardini, Deisy Sri
Holistik Jurnal Kesehatan Vol. 19 No. 6 (2025): Volume 19 Nomor 6
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawatan-fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v19i6.1095

Abstract

Background: Improper implementation of balanced nutrition is a major problem that occurs among adolescents. Nutritional problems in adolescents can arise due to incorrect attitudes or eating patterns. Inadequate nutritional fulfillment with nutritional intake below the recommended normal. While excessive nutrition is caused by nutrition that exceeds normal. Purpose: To determine the effect of the comic strip "gege & gizi" on adolescents' knowledge and attitudes about balanced nutrition. Method: This quantitative quasi-experimental study used a pretest-posttest design with a control group. The study was conducted on 80 10th-grade students at Purwokerto State Senior High School 3. Data analysis used univariate and bivariate paired t-tests. Results: The majority of respondents were aged 15-16, female, and severely underweight. Eleven respondents were in the intervention group and five respondents were in the control group. The mean knowledge and attitude scores of the intervention group before the comic strip were 5,050 and 30.70, respectively. After the intervention, these scores increased to 7,255 and 40.80, respectively. The mean knowledge and attitude scores of the control group before the treatment were 3.520 and 29.28, respectively. After the intervention, the number of respondents increased to 5,605 and 31.50, respectively. The level of knowledge and attitude of respondents in the intervention group improved after the treatment. Meanwhile, the control group, after receiving the treatment, remained in the "poor knowledge" category, but the number of respondents in the "adequate" category increased. Conclusion: Electronic comic strips are effective in improving knowledge and attitudes about implementing a balanced diet (p-value 0.000).   Keywords: Attitude; Balanced Nutrition; E-Comic Strip; Knowledge; Teenagers.   Pendahuluan: Penerapan gizi seimbang yang tidak tepat menjadi masalah utama yang terjadi di kalangan remaja. Persoalan gizi pada remaja muncul dapat disebabkan oleh sikap atau pola makan yang keliru. Pemenuhan gizi yang kurang diakibatkan oleh asupan gizi dibawah normal yang sudah dianjurkan. Sedangkan gizi yang berlebih diakibatkan oleh gizi yang melebihi normal. Tujuan: Untuk mengetahui pengaruh media e-komik strip “gege & gizi” terhadap pengetahuan dan sikap remaja tentang gizi seimbang. Metode: Penelitian kuantitatif quasy eksperiment dengan rancangan pretest-posttest with control group design. Penelitian dilakukan pada 80 siswa kelas 10, di SMA Negeri 3 Purwokerto. Analisis data menggunakan univariat dan bivariat paired t-test. Hasil: Responden penelitian ini mayoritas berusia 15-16 tahun, berjenis kelamin perempuan, berstatus gizi kurus tingkat berat di kelompok intervensi sebanyak 11 responden, di kelompok kontrol sebanyak 5 responden. Nilai rata-rata pengetahuan dan sikap kelompok intervensi sebelum diberikan perlakuan menggunakan media e-komik strip adalah 5.050 dan 30.70, setelah diberikan intervensi meningkat menjadi 7.255 dan 40.80. Nilai rata-rata pengetahuan dan sikap kelompok kontrol sebelum diberikan perlakuan adalah 3.520 dan 29.28, setelah intervensi menjadi 5.605 dan 31.50. Tingkat pengetahuan dan sikap responden kelompok intervensi setelah diberikan perlakuan meningkat. Sedangkan kelompok kontrol setelah diberikan perlakuan pada pengetahuan masih berada di kategori kurang, namun jumlah responden pada kategori cukup meningkat. Simpulan: Media e-komik strip berpengaruh dalam upaya meningkatkan pengetahuan dan sikap tentang penerapan gizi seimbang (p-value 0.000).   Kata Kunci: E-Komik Strip; Gizi Seimbang; Pengetahuan; Remaja; Sikap.  
Analisis teknik edukasi untuk meningkatkan keterampilan bantuan hidup dasar pada orang awam: A literature review Mulyati, Pipit Sri; Melastuti, Erna; Wahyuningsih, Indah Sri; Rochmati, Dwi Heppy
Holistik Jurnal Kesehatan Vol. 19 No. 6 (2025): Volume 19 Nomor 6
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawatan-fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v19i6.1127

Abstract

Background: Basic Life Support (BLS) skills play a crucial role in emergency situations, such as sudden cardiac arrest and accidents, where timely and appropriate first aid can save lives. Although public awareness of the importance of BLS has increased, many laypeople still lack adequate knowledge and practical skills to perform BLS effectively. Purpose: To formulate effective educational techniques to improve basic life support skills in the general public. Method: A literature review was conducted by searching articles from Scopus, PubMed, and Google Scholar databases using a combination of keywords such as "Basic Life Support education," "CPR training for the general public," "Basic Life Support," "BLS education for the general public," and "non-medical first aid training." The articles analyzed were full-text articles in Indonesian and English, published between 2014 and 2024, specifically addressing BLS educational methods for the non-medical population. Twenty-five articles meeting the inclusion criteria were analyzed using a thematic analysis approach. Results: Educational methods such as lectures, simulations, educational videos, and comic-based media were proven effective in improving BLS skills in the general public. These findings were consistent across various groups, including students, teachers, parents, and the general public, indicating that a structured educational approach can improve community preparedness. Conclusion: Education on basic life support (BLS) skills plays a very important role in increasing community preparedness in dealing with emergency situations, especially cardiac arrest and accidents.   Keywords: Basic Life Support; Education; Lay People.   Pendahuluan: Keterampilan bantuan hidup dasar (BHD) memiliki peran penting dalam situasi darurat, seperti henti jantung mendadak dan kecelakaan, di mana tindakan pertolongan pertama yang cepat dan tepat dapat menyelamatkan nyawa. Meskipun kesadaran masyarakat terhadap pentingnya BHD terus meningkat, banyak orang awam masih belum memiliki pengetahuan dan keterampilan yang memadai untuk melakukan tindakan BHD secara efektif. Tujuan: Untuk merumuskan teknik edukasi yang efektif dalam meningkatkan keterampilan bantuan hidup dasar pada orang awam. Metode: Penelitian literature review dengan penelusuran artikel dari basis data Scopus, PubMed, dan Google Scholar menggunakan kombinasi kata kunci seperti “Basic Life Support education”, “CPR training for lay people”, “Bantuan Hidup Dasar”, “edukasi BHD untuk masyarakat awam”, dan “pelatihan pertolongan pertama non-medis”. Artikel yang dianalisis adalah artikel full-text berbahasa Indonesia dan english, diterbitkan dalam rentang waktu 2014–2024, dan secara khusus membahas metode edukasi BHD pada populasi non-medis. Sebanyak 25 artikel yang memenuhi kriteria inklusi dianalisis menggunakan pendekatan thematic analysis. Hasil: Edukasi seperti ceramah, simulasi, video edukasi, dan media berbasis komik telah terbukti efektif dalam meningkatkan keterampilan BHD pada masyarakat umum. Temuan ini konsisten di berbagai kelompok, termasuk siswa, guru, orang tua, dan masyarakat umum yang menunjukkan bahwa pendekatan edukasi yang terstruktur dapat meningkatkan kesiapsiagaan masyarakat. Simpulan: Edukasi tentang keterampilan bantuan hidup dasar (BHD) memiliki peranan yang sangat penting dalam meningkatkan kesiapsiagaan masyarakat dalam menghadapi situasi darurat, khususnya henti jantung dan kecelakaan.   Kata Kunci: Bantuan Hidup Dasar; Edukasi; Orang Awam.
Dampak kejang terhadap keterlambatan perkembangan pada balita: A systematic review Afianti, Sefi Rachma; Ramawati, Dian
Holistik Jurnal Kesehatan Vol. 19 No. 6 (2025): Volume 19 Nomor 6
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawatan-fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v19i6.1199

Abstract

Background: Developmental delays in toddlers are a significant health concern, and seizures, including febrile seizures and epilepsy, have been identified as contributing risk factors. This study aims to explore the relationship between seizures and developmental delays in children aged 1-5 years. Purpose: To analyze the impact of seizures on developmental delays in toddlers. Method: A systematic review that refers to the Preferred Reporting Items for Literature Review and Meta-Analysis (PRISMA) using the PICOS framework. Journal article searches were sourced from Google Scholar, PubMed/NCBI, BioMed Central (BMC) databases published in 2006-2024 in English and Indonesian. The keywords used were “Seizures In Toddlers AND Child Developmental Delay”. Researchers found 29.490 articles, after selection, 7 articles were obtained to be reviewed using JBI Quality Appraisal. Results: The 7 selected results indicate that children with a history of seizures are at a higher risk of experiencing delays in cognitive, motor, and language development. The impact varies depending on the frequency and type of seizures experienced, as well as the age at which the first seizure occurs. Monitoring development and early intervention are crucial in mitigating the negative effects of seizures on child development. Conclusion: Seizures in toddlers have a significant impact on developmental delays.   Keywords: Developmental Delays; Seizures; Toddler.   Pendahuluan: Keterlambatan perkembangan pada balita merupakan masalah kesehatan yang signifikan, dan kejang, baik kejang demam maupun epilepsi, telah diidentifikasi sebagai faktor risiko yang berkontribusi. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi hubungan antara kejang dan keterlambatan perkembangan pada anak usia 1-5 tahun. Tujuan: Untuk menganalisis dampak kejang terhadap keterlambatan perkembangan pada balita. Metode: Systematic review yang mengacu kepada Preferred Reporting Items for Literature Review and Meta-Analysis (PRISMA) menggunakan framework PICOS. Pencarian artikel jurnal bersumber dari database Google Scholar, PubMed/NCBI, BioMed Central (BMC) yang diterbitkan pada tahun 2006-2024 berbahasa Inggris dan Indonesia. Kata kunci yang digunakan adalah “seizures in toddlers AND child developmental delay”. Peneliti menemukan 29,490 artikel, setelah dilakukan seleksi didapatkan sebanyak 7 artikel untuk di tinjau menggunakan quality appraisal JBI. Hasil: Sebanyak 7 artikel yang terpilih memiliki gambaran bahwa. anak-anak dengan riwayat kejang, terutama kejang demam, memiliki risiko yang lebih tinggi untuk mengalami keterlambatan perkembangan dalam aspek motorik, bahasa, dan kognitif. Penelitian juga mengidentifikasi bahwa intervensi dini dapat mengurangi dampak negatif kejang terhadap perkembangan anak. Simpulan: Kejang pada balita memiliki dampak signifikan terhadap keterlambatan perkembangan.   Kata Kunci: Balita; Kejang; Keterlambatan Perkembangan.
Harapan anak usia sekolah penyandang talasemia yang bergantung pada transfusi Yanti, Silvya Dwi; Mardhiyah, Ai; Hendrawati, Sri
Holistik Jurnal Kesehatan Vol. 19 No. 6 (2025): Volume 19 Nomor 6
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawatan-fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v19i6.646

Abstract

Background: Children with transfusion-dependent thalassemia require lifelong blood transfusion and iron chelation treatment, resulting in stressful conditions that interfere with the child's psychosocial well-being and may lead to hopelessness. Hopelessness leads to loss of hope and non-compliance with treatment. Purpose: To identify the expected picture of school-age children with thalassemia who are dependent on transfusions. Method: This study is a quantitative descriptive study with univariate analysis. This study used a total sampling technique totaling 44 school-age children with transfusion-dependent thalassemia with parents who are POPTI members. This study used the Child Hope Scale instrument which has been translated and has been tested valid and reliable. Results: That the level of expectations of respondents was in the moderate category as many as 29 people (65.9%). Likewise, the pathway dimension as many as 25 people (56.8%) and the agency dimension as many as 28 people (63.6%) are in the moderate category. Conclusion: The expectancy level of children with transfusion-dependent thalassemia is mostly in the moderate category. Suggestion: Future researchers can further examine the influence of hope on children with thalassemia and relate it to other variables such as quality of life or factors related to hope in school-age children with thalassemia who depend on transfusions.   Keywords: Children; Hope; School Age; Thalassemia; Transfusion.   Pendahuluan: Anak penyandang talasemia yang bergantung pada transfusi membutuhkan pengobatan transfusi darah dan kelasi besi seumur hidupnya sehingga mengalami kondisi stres yang mengganggu psikososial anak dan dapat terjadi keputusasaan. Keputusasaan menyebabkan penyandang kehilangan harapan dan tidak mematuhi pengobatan. Tujuan: Untuk mengidentifikasi gambaran harapan anak usia sekolah penyandang talasemia yang bergantung pada transfusi. Metode: Penelitian deskriptif kuantitatif dengan analisis univariat. Penelitian ini menggunakan teknik total sampling berjumlah 44 anak usia sekolah penyandang talasemia yang bergantung pada transfusi dengan orang tua anggota POPTI. Penelitian ini menggunakan instrumen Child Hope Scale yang sudah diterjemahkan dan sudah teruji valid serta reliabel. Hasil: Tingkat harapan responden berada dalam kategori sedang sebanyak 29 penyandang (65.9%). Begitu pula dimensi pathway sebanyak 25 penyandang (56.8%) dan dimensi agency sebanyak 28 penyandang (63.6%) berada pada kategori sedang. Simpulan: Tingkat harapan anak penyandang talasemia yang bergantung pada transfusi sebagian besar berada dalam kategori sedang. Saran: Bagi peneliti selanjutnya dapat meneliti lebih lanjut mengenai analisis pengaruh harapan pada anak penyandang talasemia dan menghubungkan dengan variabel lainnya seperti kualitas hidup ataupun mengenai faktor-faktor yang berhubungan dengan harapan anak usia sekolah penyandang talasemia yang bergantung pada transfusi.  
Hubungan peripheral artery disease (PAD) dengan tingkat stres dan kualitas hidup pada penderita diabetes melitus Arifah, Ninis Wahyu; Purwanti, Okti Sri
Holistik Jurnal Kesehatan Vol. 19 No. 6 (2025): Volume 19 Nomor 6
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawatan-fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v19i6.720

Abstract

Background: Diabetes mellitus is a global health problem. Diabetes mellitus is characterized by elevated blood sugar levels. Uncontrolled blood sugar levels can lead to various complications, one of which is Peripheral Artery Disease (PAD). PAD, characterized by symptoms of pain, tingling, and discomfort in the lower extremities, can cause psychological problems and stress and affect the quality of life of sufferers. Purpose: To determine the relationship between peripheral artery disease (PAD), stress levels, and quality of life in people with diabetes mellitus. Method: This cross-sectional, correlational analytic study was conducted from November 2024 to January 2025 at the Kartasura Community Health Center, Sukoharjo Regency. The study focused on the prolanis group of diabetes mellitus patients, with a population of 42 respondents using a total sampling technique. Data analysis used descriptive analysis for univariate analysis and the Spearman Rank test for bivariate analysis. Results: The correlation test between Peripheral Artery Disease (PAD) and stress levels showed a p-value of 0.307. This leads to the acceptance of hypothesis H0 and the rejection of Ha, indicating no relationship between PAD and stress levels. Meanwhile, the correlation test between Peripheral Artery Disease (PAD) and quality of life reached a p-value of 0.001, leading to the rejection of hypothesis H0 and the acceptance of Ha, indicating a relationship between PAD and quality of life.Conclusion: There is no relationship between the incidence of Peripheral Artery Disease (PAD) and stress levels, but there is a strong relationship between PAD and quality of life in people with diabetes mellitus. Suggestion: Community health centers, as primary healthcare facilities, must also expand coverage of chronic diseases and the prevention of their complications by providing health promotion and education, rather than solely focusing on the chronic disease itself. It is crucial for the community to consistently maintain good blood sugar management to prevent further complications and morbidity.  Keywords: Diabetes Mellitus; Quality of Life; Peripheral Artery Disease (PAD); Stress.    Pendahuluan: Salah satu masalah kesehatan yang menjadi perhatian secara global adalah diabetes melitus. Diabetes melitus ditandai dengan meningkatnya kadar gula darah dalam tubuh. Peningkatan kadar gula darah yang tidak terkontrol dapat menyebabkan berbagai komplikasi, salah satunya adalah Peripheral Artery Disease (PAD). PAD yang memiliki gejala nyeri, mati rasa, dan rasa tidak nyaman pada ekstremitas bawah dapat mengakibatkan masalah gangguan psikologis stres dan dapat memengaruhi kualitas hidup penderitanya. Tujuan: Untuk mengetahui hubungan peripheral artery disease (pad) dengan tingkat stres dan kualitas hidup pada penderita diabetes melitus. Metode: Penelitian analitik korelasional dengan rancangan cross-sectional, dilakukan pada periode November 2024 - Januari 2025 di wilayah kerja Puskesmas Kartasura Kabupaten Sukoharjo yang berfokus pada kelompok prolanis diabetes melitus dengan jumlah populasi 42 responden dengan teknik pengambilan total sampling. Analisis data dilakukan analisis deskriptif untuk analisis univariat dan menggunakan uji Spearman Rank untuk analisis bivariat. Hasil: Uji korelasi antara Peripheral Artery Disease (PAD) dengan p value tingkat stres sebesar 0.307. Hal tersebut memunculkan hipotesis H0 diterima dan Ha ditolak, yang artinya tidak ada hubungan antara PAD dengan tingkat stres. Sementara uji korelasi antara Peripheral Artery Disease (PAD) dengan kualitas hidup sebesar p value 0.001, di mana hal tersebut memunculkan hipotesis H0 ditolak dan Ha diterima, yang artinya ada hubungan antara PAD dengan kualitas hidup. Simpulan: Tidak ada hubungan antara kejadian Peripheral Artery Disease (PAD) dengan tingkat stres, namun terdapat hubungan kuat antara PAD dengan kualitas hidup pada penderita diabetes melitus. Saran: Puskesmas, sebagai fasilitas pelayanan kesehatan primer, juga harus memperluas cakupan penyakit kronis dan pencegahan komplikasinya dengan memberikan promosi dan edukasi kesehatan, alih-alih hanya berfokus pada penyakit kronis itu sendiri. Sangat penting bagi masyarakat untuk secara konsisten menjaga manajemen gula darah yang baik guna mencegah komplikasi dan morbiditas lebih lanjut.    Kata Kunci: Diabetes Melitus; Kualitas Hidup; Peripheral Artery Disease (PAD); Stres.
Pengaruh waiting time pre anestesi terhadap tingkat kecemasan pasien pre operasi Kaharudin, Endang; Futriani, Elfira Sri
Holistik Jurnal Kesehatan Vol. 19 No. 6 (2025): Volume 19 Nomor 6
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawatan-fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v19i6.721

Abstract

Background: Long waiting times before anesthesia often exacerbate patient anxiety, as they have more time to think about the risks and potential complications. The impact of prolonged waiting time increases the risk of dehydration due to fasting, changes in patient condition, increased anxiety, and patient discomfort. Purpose: To determine the effect of pre-anesthesia waiting time on the anxiety level of pre-operative patients. Method: Quantitative research, using the cross sectional method, was carried out at Karawang Regional General Hospital in November 2024 - January 2025. The sampling technique used purposive sampling with the number of samples used as many as 87 respondents. The independent variable in this study was preoperative waiting time, while the dependent variable was anxiety level. Data analysis used univariate in the form of frequency distribution and bivariate using Spearman Rank. Results: The correlation between waiting time and anxiety level was significant (p=0.000, r=0.854). The value of r contains a positive relationship that is if the long waiting time for surgery will cause anxiety. Conclusion: Anesthesia, long waiting time, and lack of medical information increase the anxiety of pre-operative patients and their families. Adequate education is needed to reduce anxiety and improve family readiness.   Keywords: Anxiety; Pre-Anesthesia; Waiting Time.   Pendahuluan: Waktu tunggu yang lama sebelum tindakan anestesi seringkali memperburuk kecemasan pasien, karena mereka memiliki lebih banyak waktu untuk memikirkan risiko dan kemungkinan komplikasi. Dampak waiting time yang panjang meningkatkan risiko dehidrasi karena puasa, perubahan kondisi pasien, peningkatan kecemasan, dan ketidaknyamanan pasien. Tujuan: Untuk mengetahui pengaruh waiting time pre anestesi terhadap tingkat kecemasan pasien pre-operasi. Metode: Penelitian kuantitatif, menggunakan metode cross sectional, dilaksanakan di Rumah Sakit Umum Daerah Karawang pada bulan November 2024 - Januari 2025. Teknik pengambilan sampel menggunakan purposive sampling dengan jumlah sampel yang digunakan sebanyak 87 responden. Variabel independen dalam penelitian ini adalah waiting time pre operasi, sedangkan variabel dependen adalah tingkat kecemasan. Analisis data yang digunakan univariat dalam bentuk distribusi frekuensi dan bivariat menggunakan Spearman Rank. Hasil: Menunjukkan korelasi lama waktu tunggu dan tingkat kecemasan memiliki hubungan yang signifikan (p=0.000, r=0.854). Nilai r mengandung hubungan yang positif, yaitu jika lamanya waktu tunggu operasi dapat menimbulkan kecemasan. Simpulan: Anestesi, waktu tunggu lama, dan kurangnya informasi medis meningkatkan kecemasan pasien pre-operasi dan keluarganya. Edukasi yang memadai diperlukan untuk mengurangi kecemasan dan meningkatkan kesiapan keluarga.   Kata Kunci: Kecemasan; Pre-Anestesi; Waiting Time.
Hubungan penyakit kecacingan dengan prestasi belajar pada anak sekolah dasar Magfirah, Innaia; Hadi, Santriani; Nurhikmawati, Nurhikmawati; Rasfayanah, Rasfayanah; Samosir, Abdi Dwiyanto Putra
Holistik Jurnal Kesehatan Vol. 19 No. 6 (2025): Volume 19 Nomor 6
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawatan-fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v19i6.746

Abstract

Background: Intestinal parasitic infections caused by intestinal worms remain a significant health issue in Indonesia, particularly among elementary school-aged children. These infections can lead to anemia, malnutrition, and reduced concentration, which can negatively impact academic performance. South Sulawesi, especially the city of Makassar, has a relatively high incidence of intestinal parasitic infections. Children infected with worms often experience fatigue, difficulty concentrating, and a lack of enthusiasm for learning, which can lower their academic performance. Purpose: To determine the relationship between intestinal worms and academic achievement in elementary school children. Method: A quantitative cross-sectional study was conducted at Mallengkeri 2 public elementary school, South Sulawesi, from October to November 2024. The independent variable was worm infestation, while the dependent variable was academic achievement. Purposive sampling was used to select 50 participants who met the predetermined inclusion criteria. Subsequently, data were analyzed using univariate frequency distribution and bivariate chi-square tests. Results: The analysis yielded a p-value of 0.003 (<0.05), indicating a significant association between worm infestation and academic achievement. The odds ratio (OR) of 0.829 indicates that participants with worm infestation were less likely to achieve good academic achievement compared to those without. Conclusion: Children infected with intestinal worms tending to have poorer academic performance than children who are not infected. Prevention and treatment of intestinal worms need to be carried out to improve children's health and academic performance.   Keywords: Academic Achievement; Elementary Children; Intestinal Worms.   Pendahuluan: Kecacingan merupakan penyakit infeksi akibat cacing parasit usus yang masih menjadi masalah kesehatan di Indonesia, terutama pada anak-anak usia sekolah dasar. Infeksi ini dapat menyebabkan anemia, malnutrisi, serta penurunan daya konsentrasi yang berdampak pada prestasi belajar. Sulawesi Selatan, khususnya Kota Makassar, memiliki angka kejadian kecacingan yang cukup tinggi. Anak-anak yang terinfeksi cacing sering mengalami kelelahan, sulit berkonsentrasi, dan kurang bersemangat dalam belajar, sehingga dapat menurunkan hasil akademik mereka. Tujuan: Untuk mengetahui hubungan penyakit kecacingan dengan prestasi belajar pada anak sekolah dasar. Metode: Penelitian kuantitatif dengan metode cross sectional, dilaksanakan di Sekolah Dasar Inpres Mallengkeri 2, Sulawesi Selatan pada bulan Oktober–November 2024. Variabel independen dalam penelitian ini adalah kecacingan, sedangkan variabel dependen adalah prestasi belajar. Teknik pengambilan sampel menggunakan purposive sampling didapatkan jumlah sampel sebanyak 50 partisipan sesuai dengan kriteria inklusi yang telah ditentukan. Selain itu, analisis data yang digunakan univariate dalam bentuk distribusi frekuensi dan bivariat menggunakan chi square. Hasil: Berdasarkan analisis, diperoleh p-value sebesar 0.003 (<0.05), menunjukkan bahwa kecacingan memiliki hubungan signifikan dengan prestasi belajar. Odds Ratio (OR) sebesar 0.829 mengindikasikan bahwa partisipan yang mengalami kecacingan memiliki kemungkinan lebih kecil untuk meraih prestasi baik dibandingkan dengan mereka yang tidak terinfeksi. Simpulan: Anak yang terinfeksi kecacingan cenderung memiliki prestasi belajar yang lebih rendah dibandingkan dengan anak yang tidak terinfeksi. Pencegahan dan pengobatan kecacingan perlu dilakukan untuk meningkatkan kesehatan dan prestasi belajar anak.   Kata Kunci: Anak Sekolah Dasar; Kecacingan; Prestasi Belajar.
Transformasi strategis sistem informasi keperawatan di rumah sakit X menuju smart garden hospital Wea, Maria Eka Brigida Wonga; Septirini, Maria Indah; Suhani, Nini; Perdana, Riska Rusfita; Septianata, Viesca; Hariyati, Roro Tutik Sri
Holistik Jurnal Kesehatan Vol. 19 No. 6 (2025): Volume 19 Nomor 6
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawatan-fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v19i6.928

Abstract

Background: A smart garden hospital is an approach that prioritizes not only smart technology but also environmental sustainability, patient comfort, humanization of services, and operational efficiency based on information technology. Information and communication technology supports evidence-based nursing practice, strengthens patient safety, and meets global healthcare standards. Purpose: To describe the strategic transformation of X hospital nursing information system toward a smart garden hospital. Method: The field study used a Strengths, Weaknesses, Opportunities, and Threats (SWOT) analysis approach. Data were analyzed using Internal Factor Evaluation (IFE) and External Factor Evaluation (EFE) matrices, and mapped onto an Internal-External (IE) matrix to determine the organization's strategic position. Results: The analysis yielded an IFE score of 2.61 and an EFE score of 3.15, placing Hospital X in the "growth and development" quadrant, representing an organization with adequate internal strengths and strong external opportunities, making an aggressive growth strategy an appropriate choice. Conclusion: The transformation of X hospital nursing information system emphasizes the importance of a comprehensive strategy involving strengthening human resource capacity, optimizing technology, and responsive risk management. Suggestion: Hospitals can formulate strategies based on the Balanced Scorecard (BSC) perspective and key performance indicators (KPIs) linked to the TOWS strategy in developing their nursing management information systems.   Keywords: Information; Hospital; Nursing; Smart Garden Hospital; Strategy; System; Transformation.   Pendahuluan: Smart garden hospital merupakan sebuah pendekatan yang tidak hanya mengedepankan teknologi cerdas, tetapi juga memperhatikan keberlanjutan lingkungan, kenyamanan pasien, dan humanisasi pelayanan serta efisiensi operasional berbasis teknologi informasi. Teknologi informasi dan komunikasi untuk mendukung praktik keperawatan berbasis bukti, memperkuat keselamatan pasien, serta menjawab standar global pelayanan kesehatan. Tujuan: Untuk mendeskripsikan transformasi strategis sistem informasi keperawatan di rumah sakit X menuju smart garden hospital. Metode: Studi lapangan dengan pendekatan analisis Strength, Weakness, Opportunity, and Threat (SWOT). Data dianalisis menggunakan matriks internal faktor evaluasi (IFE) dan eksternal faktor evaluasi (EFE), serta dipetakan ke dalam matriks internal-eksternal (IE) untuk menentukan posisi strategis organisasi. Hasil: Analisis didapatkan skor IFE = 2.61 dan Skor EFE = 3.15, menempatkan rumah sakit X pada kuadran "growth and build" yang merepresentasikan organisasi dengan kekuatan internal yang cukup dan peluang eksternal yang kuat, sehingga strategi pertumbuhan agresif menjadi pilihan yang sesuai. Simpulan: Transformasi sistem informasi keperawatan rumah sakit X menegaskan pentingnya strategi komprehensif yang melibatkan penguatan kapasitas sumber daya manusia, optimalisasi teknologi, dan manajemen risiko yang responsif. Saran: Rumah sakit dapat melakukan perumusan strategis yang ditetapkan melalui perspektif balance scorecard (BSC) dan key performance indicators (KPI) yang dikaitkan dengan strategi TOWS dalam pengembangan sistem informasi manajemen keperawatan.   Kata Kunci: Informasi; Keperawatan; Rumah Sakit; Smart Garden Hospital; Strategis; Sistem; Transformasi.