cover
Contact Name
Teguh Pribadi
Contact Email
teguh@malahayati.ac.id
Phone
+6282282204653
Journal Mail Official
holistik@malahayati.ac.id
Editorial Address
Jalan Pramuka No.27 Kemiling Bandar Lampung -Indonesia.
Location
Kota bandar lampung,
Lampung
INDONESIA
Holistik Jurnal Kesehatan
Published by Universitas Malahayati
ISSN : 19783337     EISSN : 26207478     DOI : https://doi.org/10.33024/hjk.v18i10
Core Subject : Health,
Berisi kumpulan karya ilmiah dari peneliti diberbagai perguruan tinggi di Indonesia, di bidang ilmu kesehatan khususnya bidang ilmu keperawatan yang berdasarkan kepada kebutuhan pasien secara total meliputi: kebutuhan fisik, emosi, sosial, ekonomi dan spiritual. Adapun penelitiannya mencakup 4 aspek pokok, yakni: promotif, preventif, kuratif, dan rehabilitatif. Jurnal terbit setiap bulan dan artikel ditulis dalam bahasa Indonesia, untuk abstrak artikel ditulis dengan dua bahasa yaitu bahasa Inggris dan bahasa Indonesia.
Articles 329 Documents
Analisis efektivitas pemberian makanan tambahan terhadap indeks bb/u balita underweight Desiana, Zahra Ratnawati; Rakhma, Luluk Ria; Kisnawaty , Sudrajah Warajati
Holistik Jurnal Kesehatan Vol. 19 No. 6 (2025): Volume 19 Nomor 6
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawatan-fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v19i6.1211

Abstract

Background: Nutritional issues related to underweight remain a public health issue that impacts child growth and development. Supplemental feeding is one intervention taken to address underweight, particularly in early childhood, who are in a critical growth phase. The prevalence of underweight children in Indonesia reached 17.1%, while in Central Java the figure was 17.6% in 2022. In Sukoharjo Regency, the prevalence of underweight was recorded at 11.8%, with 228 cases reported in the Mojolaban Community Health Center area. This situation indicates the need for intervention to address the nutritional challenges faced by children. Purpose:  To analyze the effectiveness of supplementary feeding on the weight/age index of underweight toddlers. Method: A quasi-experimental study involving 100 underweight toddlers aged 12–60 months. Sampling was carried out through random sampling at the integrated service post within the Mojolaban Community Health Center area. Weight measurements were carried out using a digital scale specifically for children with an accuracy of 0.1 kg. The data obtained were analyzed using a weight-for-age (BW/A) z-score based on WHO guidelines. Normality testing was performed using the Shapiro-Wilk method, while differences were assessed using the Wilcoxon Signed Ranks Test with a significance level of p < 0.05. Results: There was an increase in BW/A in early childhood after a month-long (30-day) supplementary feeding intervention program. Children with normal nutritional status experienced an increase from 9.6% to 19.2%, while those in the severely malnourished category decreased from 14.4% to 10.6%. The nutritional status of underweight toddlers also decreased from 76% to 70.2%. Statistical analysis using the Wilcoxon Signed Ranks Test showed a p-value of 0.000 (p < 0.05), indicating a significant difference between BW/A values ​​before and after the supplementary feeding program. Conclusion: Supplemental feeding has an impact on the nutritional status of underweight toddlers, although the impact is not optimal and has not reached all targets equally. This supplemental nutrition intervention has the potential to increase its effectiveness through improvements in timing, quality, and family involvement in its implementation. Suggestion: Future research is recommended to extend the supplemental feeding period to observe the medium-term effects on the nutritional status of toddlers. Furthermore, a more in-depth review is needed, incorporating other variables, such as health background, eating habits, and environmental conditions that may influence nutritional status.   Keywords: Supplemental; Toddlers; Underweight; Weight/Age Index.   Pendahuluan: Masalah gizi terkait underweight masih tetap menjadi isu kesehatan masyarakat yang memengaruhi pertumbuhan dan perkembangan anak. Pemberian Makanan Tambahan (PMT) adalah salah satu langkah intervensi yang diambil untuk menangani masalah underweight, khususnya pada anak usia dini yang berada dalam fase pertumbuhan penting. Angka prevalensi anak underweight di Indonesia mencapai 17.1%, sementara di Jawa Tengah angkanya sebesar 17.6% pada tahun 2022. Di Kabupaten Sukoharjo, prevalensi underweight tercatat sebesar 11.8%, dengan 228 kasus yang dilaporkan di area Puskesmas Mojolaban. Situasi ini menandakan perlunya intervensi untuk menyelesaikan masalah gizi yang dihadapi oleh anak-anak. Tujuan: Untuk menganalisis efektivitas pemberian makanan tambahan terhadap indeks bb/u balita underweight. Metode: Penelitian kuasi eksperimen yang melibatkan 100 balita underweight berusia 12–60 bulan. Pengambilan sampel melalui random sampling di posyandu wilayah kerja Puskesmas Mojolaban. pengukuran berat badan menggunakan timbangan digital khusus anak dengan tingkat akurasi 0.1 kg. Data yang diperoleh dianalisis dengan z-score berat badan menurut umur (BB/U) berdasarkan pedoman dari WHO. Pengujian normalitas dilakukan menggunakan metode Shapiro-Wilk, sedangkan perbedaan data diuji menggunakan uji Wilcoxon Signed Ranks Test dengan tingkat signifikansi p < 0.05. Hasil: Adanya peningkatan berat badan berdasarkan usia (BB/U) pada anak-anak usia dini setelah program intervensi PMT selama sebulan (30 hari). Anak-anak dengan status gizi normal mengalami kenaikan dari 9.6% menjadi 19.2%, sedangkan kategori gizi sangat kurang mengalami penurunan dari 14.4% menjadi 10.6%. Status gizi balita gizi kurang juga turun dari 76% menjadi 70.2%. Analisis statistik menggunakan uji Wilcoxon Signed Ranks Test menunjukkan nilai p = 0.000 (p < 0.05), sehingga adanya perbedaan signifikan antara nilai BB/U sebelum dan sesudah program PMT dilaksanakan. Simpulan: Pemberian makanan tambahan (PMT) memengaruhi perubahan status gizi balita underweight, meskipun dampaknya belum optimal dan belum menjangkau semua sasaran secara merata. Intervensi gizi tambahan ini memiliki potensi untuk meningkatkan efektivitasnya melalui perbaikan dalam waktu, kualitas, dan keterlibatan keluarga dalam pelaksanaanya. Saran: Penelitian selanjutnya dianjurkan untuk memperpanjang periode PMT, sehingga dapat mengamati efek dalam jangka menengah pada status gizi anak balita. Selain itu, diperlukan tinjauan yang lebih mendalam dengan memasukkan variabel lain, seperti latar belakang kesehatan, kebiasaan makan, dan kondisi lingkungan yang bisa berpengaruh pada status gizi.   Kata Kunci: Balita; Indeks BB/U; Pemberian Makanan Tambahan (PMT); Underweight.
Survei kepuasan terhadap penggunaan aplikasi “Sepekan” Indarto, Tomi; Kholifah, Anik Nur; Widiyawati, Wiwik; Mulyani, Endah; Musfara, Deah Dwi
Holistik Jurnal Kesehatan Vol. 19 No. 6 (2025): Volume 19 Nomor 6
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawatan-fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v19i6.1218

Abstract

Background: The use of information technology and digitalization to develop public services is known as e-government. One example is the "Sepekan" application, a technological advancement designed to facilitate user access to services or information related to specific systems, such as public services, education, or data management. Purpose: To gather user feedback regarding the "Sepekan" application user experience. Method: This quantitative research used an analytical observational design and a cross-sectional approach. The study population consisted of 453 respondents from all "Sepekan" application users during 2024, collected using a sampling technique. Results: Based on statistical tests conducted using chi-square and somer db on the "Sepekan" application user satisfaction variable, none were significant. Conclusion: The level of satisfaction with the application is highly dependent on its capacity and level of need.   Keywords: Application; Satisfaction; Sepekan.   Pendahuluan: Penggunaan  teknologi  informasi  dan digitalisasi guna  pengembangan  layanan  publik  kepada  masyarakat  dikenal  sebagai  e-government, salah satunya yaitu aplikasi “Sepekan” yaitu salah satu jenis kemajuan teknologi dalam bentuk aplikasi yang dirancang untuk memudahkan pengguna dalam mengakses layanan atau informasi yang terkait dengan sistem tertentu, seperti pelayanan publik, pendidikan, atau manajemen data. Tujuan: Untuk mengumpulkan umpan balik dari pengguna mengenai pengalaman menggunakan aplikasi “Sepekan”. Metode: Penelitian kuantitatif dengan desain observasional analitik serta pendekatan cross sectional dengan jumlah populasi yaitu seluruh pengguna aplikasi “Sepekan” selama tahun 2024 sebanyak 453 responden yang dikumpulkan menggunakan teknik sampling. Hasil: Berdasarkan uji statistis yang dilakukan dengan chi-Square dan somer db pada varibel pengguna aplikasi “Sepekan” terhadap kepuasan,  tidak ada yang signifikan. Simpulan: Tingkat kepuasan terhadap aplikasi “Sepekan” sangat bergantung pada kapasitas tingkat kebutuhan.   Kata Kunci: Aplikasi; Kepuasan; Sepekan.
Effectiveness of islamic value-based husband's assistance to reduce anxiety of third trimester pregnant women Diana, Sirlii; Mufidah, Mufidah; Fatimah, Wahyu Dwi; Dewi, Nina Artika
Holistik Jurnal Kesehatan Vol. 19 No. 6 (2025): Volume 19 Nomor 6
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawatan-fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v19i6.1224

Abstract

Background: Anxiety levels in pregnant women during the third trimester often increase due to complex physical, hormonal, and psychological changes. If left untreated, this can negatively impact pregnancy and childbirth. Islam regulates the husband's role in various aspects, one of which is psychological and spiritual support. Purpose: To analyze the effectiveness of Islamic-based husband support in reducing anxiety in pregnant women during the third trimester. Method: This quasi-experimental study, with a pre-test-post-test design with a control group, was conducted from November 2024 to February 2025 at the Rejosari Community Health Center, Pringsewu Regency. The study population consisted of 60 pregnant women in their third trimester who met the inclusion and exclusion criteria, who were randomly divided into the intervention and control groups. The Perinatal Anxiety Screening Scale (PASS) was used to measure anxiety. Data were analyzed using the chi-square test for categorical data and the independent t-test for numerical data. Results: There were no differences in knowledge, husband support, and anxiety among pregnant women before the study between the two groups (p value >0.05; 95% CI). However, there were significant differences in knowledge, husband support, and a significant decrease in anxiety in the intervention group compared to the control group (p = 0.001; 95% CI). Conclusion: Husband support based on Islamic values ​​was statistically effective in increasing husbands' knowledge and support for pregnant women in the third trimester, resulting in a significant decrease in anxiety. Husband support based on Islamic values ​​needs to be integrated into antenatal care programs to strengthen family support for pregnant women. Suggestion: Further research with a larger sample size is recommended to develop a maternal health intervention model based on religious values.   Keywords: Husband Support; Islamic Values; Pregnant Women's Anxiety.   Pendahuluan: Tingkat kecemasan ibu hamil trimester III sering meningkat akibat perubahan fisik, hormonal, dan psikologis yang kompleks, jika tidak ditangani dapat berdampak negatif pada kehamilan dan persalinan. Islam mengatur peran suami dalam berbagai aspek, salah satunya adalah dukungan psikologis dan spiritual. Tujuan: Untuk menganalisis efektivitas pendampingan suami berbasis nilai-nilai islam dalam mengurangi kecemasan pada ibu hamil trimester III. Metode: Penelitian quasi eksperimen dengan desain pretest-posttest with control group, dilakukan pada November 2024 hingga Februari 2025, di Puskesmas Rejosari Kabupaten Pringsewu. Populasi penelitian ini adalah ibu hamil trimester III yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi sebanyak 60 partisipan yang terbagi secara acak menjadi kelompok intervensi dan kontrol. Instrumen pengukuran kecemasan menggunakan Perinatal Anxiety Screening Scale (PASS). Data dianalisis menggunakan uji chi square untuk data kategori dan uji T independent test untuk data numerik. Hasil: Tidak terdapat perbedaan pengetahuan, dukungan suami, dan kecemasan ibu hamil sebelum penelitian pada kedua kelompok (p-value  >0.05; CI 95%).  Namun, terdapat perbedaan signifikan pengetahuan, dukungan suami, dan penurunan kecemasan yang signifikan pada kelompok intervensi, dibandingkan dengan kelompok kontrol (p = 0.001; CI 95%). Simpulan: Pendampingan suami berbasis nilai-nilai Islam terbukti efektif secara statistik dalam meningkatkan pengetahuan dan dukungan suami terhadap ibu hamil trimester III yang berdampak pada penurunan kecemasan secara signifikan. Pendampingan suami berbasis nilai-nilai Islam perlu diintegrasikan dalam program pelayanan antenatal untuk memperkuat dukungan keluarga terhadap ibu hamil. Saran: Penelitian lanjutan dengan cakupan sampel lebih luas disarankan untuk mengembangkan model intervensi berbasis nilai keagamaan dalam kesehatan maternal.   Kata Kunci: Dukungan Suami; Nilai Islam; Kecemasan Ibu Hamil.
Hubungan kepatuhan konsumsi pemberian makanan tambahan (PMT) dengan status gizi berat badan menurut umur (BB/U) pada balita underweight Wilujeng, Sindy; Rakhma, Luluk Ria; Kisnawaty, Sudrajah Warajati
Holistik Jurnal Kesehatan Vol. 19 No. 7 (2025): Volume 19 Nomor 7
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawatan-fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v19i7.1244

Abstract

Background: Nutritional problems in children under five, particularly underweight cases, remain a major public health challenge in Indonesia with significant impacts on child development. In 2019, the prevalence of underweight (weight-for-age) among children under five in Indonesia reached 17.1%, while in Sukoharjo Regency it was recorded at 11.8%. Compliance with the supplementary feeding program is an important strategy to address this issue. Purpose: To analyze the relationship between compliance with consumption of supplementary feeding and nutritional status (W/A) in underweight toddlers. Method: A cross-sectional design was used, involving 104 underweight children under five from a total population of 228, selected by simple random sampling. Primary data were collected through interviews with parents, while secondary data were obtained from Mojolaban Health Center. Body weight was measured using a digital scale and calculated into weight-for-age Z-scores (W/A), while compliance was assessed using weekly comstock monitoring. Data were analyzed using the Chi-Square test with a significance level of p < 0.05. Results: The majority of mothers were aged 26–35 years (69.2%), unemployed (73.1%), had incomes above the minimum wage (52.9%), and had a high school education (57.7%). Compliance with supplementary feeding was low (17.3%). After the intervention, 60.6% of toddlers gained weight and 19.3% had normal nutritional status, but statistical analysis (p=0.101) showed no significant relationship between compliance with supplementary feeding and nutritional status. Conclusion: There was no significant relationship between compliance with supplementary feeding and nutritional status (weight-for-age) in underweight toddlers. Suggestion: The quality of additional food consumed, frequency of illness, and daily food consumption are several other factors that can influence the nutritional status of toddlers and need to be included in further research.   Keywords: Adherence; Nutritional Status; Supplementary Feeding; Underweight.   Pendahuluan: Masalah gizi pada balita, khususnya kasus underweight, masih menjadi tantangan kesehatan masyarakat di Indonesia dengan dampak signifikan terhadap perkembangan anak. Pada tahun 2019, prevalensi balita underweight (berat badan menurut umur) di Indonesia mencapai 17.1%, sementara di Kabupaten Sukoharjo tercatat sebesar 11.8%. Kepatuhan terhadap program Pemberian Makanan Tambahan (PMT) menjadi strategi penting untuk mengatasi masalah ini. Tujuan: Untuk menganalisis hubungan kepatuhan konsumsi PMT dan status gizi (BB/U) pada balita underweight. Metode: Penelitian dengan desain cross-sectional yang melibatkan 104 balita underweight dari populasi 228, dipilih secara simple random sampling. Data primer diperoleh melalui wawancara orang tua, sedangkan data sekunder dari Puskesmas Mojolaban. Berat badan diukur dengan timbangan digital dan dihitung Z-score BB/U, kepatuhan dinilai dari comstock mingguan. Analisis menggunakan uji Chi-Square dengan p < 0.05. Hasil: Mayoritas ibu berusia 26–35 tahun (69.2%), tidak bekerja (73.1%), berpendapatan di atas UMR (52.9%), dan berpendidikan SMA (57.7%). Tingkat kepatuhan konsumsi PMT rendah (17.3%). Setelah intervensi, 60.6% balita naik berat badan dan 19.3% berstatus gizi normal, namun uji statistik (p=0.101) menunjukkan tidak ada hubungan signifikan antara kepatuhan PMT dan status gizi. Simpulan: Tidak terdapat hubungan yang signifikan antara kepatuhan mengonsumsi PMT dengan status gizi berat badan menurut umur (BB/U) pada balita underweight. Saran: Kualitas makanan tambahan yang dikonsumsi, frekuensi sakit, dan konsumsi makanan sehari-hari merupakan beberapa faktor lain yang dapat memengaruhi status gizi balita dan perlu diikutsertakan dalam penelitian selanjutnya. Kata Kunci: Kepatuhan; Pemberian Makanan Tambahan (PMT); Status Gizi; Underweight.
Hubungan aktivitas fisik dengan status gizi pada peserta didik SMP Hullah, Muhammad Rosyad; Punuh, Maureen Irinne; Sanggelorang, Yulianty
Holistik Jurnal Kesehatan Vol. 19 No. 7 (2025): Volume 19 Nomor 7
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawatan-fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v19i7.1246

Abstract

Background: Adolescents are a group vulnerable to nutritional problems. The main factor behind this is that adolescence is a period of accelerated growth and development, often accompanied by changes in eating habits and lifestyle. Although each adolescent has different demands, activity levels begin to increase significantly as they approach junior high school. Adolescents' nutritional status is influenced by various factors, including eating habits, economic conditions, cultural background, and physical activity levels. Physical activity is defined as any form of bodily movement that increases energy expenditure, thus playing a role in maintaining energy balance and preventing the risk of excess weight. Purpose: To analyze the relationship between physical activity and nutritional status of students in junior high school. Method: This quantitative research with an analytical observational design employed a cross-sectional approach. The study was conducted from March to July 2025 at Pineleng 2 Public Junior High School, involving 77 respondents in grades VII and VIII. The research instruments included the International Physical Activity Questionnaire (IPAQ) and the SECA height and weight measurement tool. Data were analyzed using univariate and bivariate methods, with Fisher's exact test for correlation between variables. Results: some respondents had active physical activity totaling 69 respondents and for good nutritional status totaling 58 respondents. Conclusion: There is a relationship between physical activity and nutritional status with a p value = 0.019 (p<0.05).   Keywords: Adolescents; Nutritional Status; Physical Activity.   Pendahuluan: Remaja termasuk dalam kelompok yang rentan terhadap masalah gizi. Faktor utama yang melatarbelakangi hal ini adalah masa remaja merupakan periode percepatan pertumbuhan dan perkembangan, yang sering kali diiringi dengan perubahan kebiasaan makan dan pola hidup. Meskipun setiap remaja mempunyai tuntutan yang berbeda, tingkat aktivitas pada usia remaja akan mulai cukup meningkat ketika mendekati usia Sekolah Menengah Pertama. Status gizi remaja dipengaruhi oleh berbagai faktor, antara lain kebiasaan makan, kondisi ekonomi, latar belakang budaya, dan tingkat aktivitas fisik. Aktivitas fisik didefinisikan sebagai segala bentuk gerakan tubuh yang meningkatkan pengeluaran energi, sehingga berperan dalam menjaga keseimbangan energi dan mencegah risiko kelebihan berat badan. Tujuan: Untuk menganalisis hubungan antara aktivitas fisik dan status gizi peserta didik di SMP. Metode: Penelitian kuantitatif dengan desain observasional analitik menggunakan pendekatan cross sectional study. Penelitian dilaksanakan pada Maret–Juli 2025 di SMP Negeri 2 Pineleng dengan melibatkan 77 responden kelas VII dan VIII. Instrumen penelitian meliputi kuesioner International Physical Activity Questionnaire (IPAQ) serta alat ukur tinggi badan dan berat badan merk SECA. Analisis data dilakukan secara univariat dan bivariat, dengan uji hubungan antar variabel menggunakan uji Fisher’s Exact Test. Hasil: Sebagian responden memiliki aktivitas fisik aktif berjumlah 69 responden dan untuk status gizi baik berjumlah 58 responden. Simpulan: Terdapat hubungan antara aktivitas fisik dengan status gizi dengan nilai p = 0.019 (p<0.05).   Kata Kunci: Aktivitas Fisik; Remaja; Status Gizi.
Hubungan asupan zat gizi makro dan kebiasaan olahraga dengan kejadian dismenore pada remaja putri Tantri, Magalih Prestiana; Puspitasari, Dyah Intan; Muwakhidah, Muwakhidah
Holistik Jurnal Kesehatan Vol. 19 No. 6 (2025): Volume 19 Nomor 6
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawatan-fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v19i6.1257

Abstract

Background: Primary dysmenorrhea is a common menstrual pain complaint experienced by adolescent girls and can disrupt daily activities. Several factors suspected of being associated with dysmenorrhea include macronutrient intake and exercise habits. Regular exercise habits have the potential to reduce pain intensity through physiological mechanisms, one of which is increased endorphin release. Purpose: To determine the relationship between macronutrient intake and exercise habits with the incidence of dysmenorrhea in adolescent girls. Method: A descriptive correlational design with a cross-sectional approach. A sample of 80 female students in grades 10 and 11 were selected using purposive and stratified random sampling techniques. Data were collected through 3x24-hour recall questionnaires, an exercise habits questionnaire, and the WaLIDD questionnaire to assess dysmenorrhea levels. Univariate and bivariate analyses were performed using the Chi-Square test. Results: There was no significant association between protein (p=0.330) and carbohydrate (p=0.639) intake and dysmenorrhea levels. However, there was a significant association between fat intake (p=0.005) and exercise habits (p=0.002) and the incidence of dysmenorrhea. Conclusion: Fat intake and exercise habits were statistically significant in relation to the severity of dysmenorrhea. Respondents with adequate fat intake and who exercised regularly experienced less severe dysmenorrhea compared to respondents with a fat deficit and those who did not exercise regularly. Suggestion: It is recommended that female students practice regular exercise, at least three times a week for 30–60 minutes, to help reduce dysmenorrhea symptoms.   Keywords: Adolescent Girls; Exercise Habit; Macronutrients; Primary Dysmenorrhea.   Pendahuluan: Dismenore primer merupakan keluhan nyeri menstruasi yang umum dialami remaja putri dan dapat mengganggu aktivitas sehari-hari. Beberapa faktor yang diduga berhubungan dengan kejadian dismenore antara lain asupan zat gizi makro dan kebiasaan olahraga. Kebiasaan olahraga teratur berpotensi menurunkan intensitas nyeri melalui mekanisme fisiologis, salah satunya dengan peningkatan pelepasan endorfin. Tujuan: Untuk mengetahui hubungan asupan zat gizi makro dan kebiasaan olahraga dengan kejadian dismenore pada remaja putri. Metode: Desain deskriptif korelatif dengan pendekatan cross-sectional. Sampel berjumlah 80 siswi kelas X dan XI yang dipilih dengan teknik purposive dan stratified random sampling. Data dikumpulkan melalui kuesioner recall 3x24 jam, kuesioner kebiasaan olahraga, dan kuesioner WaLIDD untuk menilai tingkat dismenore. Analisis dilakukan secara univariat dan bivariat menggunakan uji Chi Square. Hasil: Tidak terdapat hubungan signifikan antara asupan protein (p=0.330) dan karbohidrat (p=0.639) dengan tingkat dismenore. Namun, terdapat hubungan signifikan antara asupan lemak (p=0.005) dan kebiasaan olahraga (p=0.002) dengan kejadian dismenore. Simpulan: Asupan lemak dan kebiasaan olahraga memiliki hubungan yang signifikan secara statistik dengan tingkat keparahan dismenore. Responden dengan asupan lemak adekuat dan yang rutin berolahraga mengalami tingkat dismenore yang lebih ringan dibandingkan dengan responden dengan asupan lemak defisit dan yang tidak rutin berolahraga. Saran: Siswi remaja membiasakan diri berolahraga secara rutin, minimal tiga kali seminggu dengan durasi 30–60 menit, guna membantu mengurangi gejala dismenore.   Kata Kunci: Dismenore Primer; Kebiasaan Olahraga; Remaja Putri; Zat Gizi Makro.
Analisis faktor prediktor kepatuhan dalam menjalani pengobatan pasien hipertensi: A literature review Alghozali, Rasyid Ardan; Rochmawati, Dwi Heppy; Setyowati, Wahyu Endang; Luthfa, Iskim
Holistik Jurnal Kesehatan Vol. 19 No. 6 (2025): Volume 19 Nomor 6
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawatan-fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v19i6.1304

Abstract

Background: Adherence is crucial for people with hypertension because it offers significant potential for effective hypertension control through various therapies. Purpose: To explore factors influencing medication adherence in hypertensive patients. Method: This literature review included 10 articles retrieved from databases such as Scopus, PubMed, Web of Science, and Science Direct. The keywords used were hypertension, medication adherence, factors influencing adherence, and family support published between 2021 and 2025. Furthermore, this literature focused on several factors: predisposing, reinforcing, and supporting factors. Results: Based on the review of 10 articles, it was found that factors influencing hypertension medication adherence include knowledge, motivation, family support, access to healthcare services, and the role of healthcare professionals. Conclusion: Hypertension medication adherence is influenced by several factors, including predisposing factors (knowledge, motivation), reinforcing (family support), and supporting factors (access to healthcare services and the role of healthcare professionals). Therefore, it is important to consider these factors when developing strategies to improve adherence to hypertension medication.   Keywords: Adherence; Hypertension; Patients; Predictors; Treatment.   Pendahuluan: Kepatuhan merupakan hal yang sangat penting bagi penderita hipertensi karena merupakan potensi besar untuk pengendalian hipertensi melalui berbagai terapi yang dilakukan, sehingga pengendalian tersebut menjadi efektif. Tujuan: Untuk mengeksplorasi faktor-faktor yang memengaruhi kepatuhan dalam menjalani pengobatan pada pasien dengan hipertensi. Metode: Studi literature review terhadap 10 artikel yang diperoleh dari database seperti Scopus, Pubmed, Web of Science, dan Science Direct. Kata kunci yang digunakan yakni, hipertensi, kepatuhan pengobatan, faktor-faktor yang memengaruhi kepatuhan, dan dukungan keluarga yang diterbitkan antara tahun 2021 dan 2025. Selain itu, literature ini fokus pada beberapa faktor yaitu predisposing, reinforcing, dan enabling. Hasil: Berdasarkan review terhadap 10 artikel, diketahui bahwa faktor-faktor yang memengaruhi kepatuhan pengobatan hipertensi, meliputi pengetahuan, motivasi, dukungan keluarga, akses pelayanan kesehatan, dan peran tenaga kesehatan. Simpulan: Kepatuhan pengobatan hipertensi dipengaruhi oleh beberapa faktor, termasuk predisposing factors (pengetahuan, motivasi), reinforcing (dukungan keluarga), dan enabling (akses pelayanan kesehatan dan peran tenaga kesehatan). Oleh karena itu, penting untuk mempertimbangkan faktor-faktor tersebut dalam mengembangkan strategi untuk meningkatkan kepatuhan pengobatan hipertensi.   Kata Kunci: Hipertensi; Kepatuhan; Pasien; Pengobatan; Prediktor.
Identifikasi gejala, faktor risiko, dan pola paparan suhu rendah terhadap alergi dingin pada masyarakat tropis Ledo, Naldi; Setyawan, Yuswanto
Holistik Jurnal Kesehatan Vol. 19 No. 6 (2025): Volume 19 Nomor 6
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawatan-fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v19i6.1306

Abstract

Background: Cold allergy, or cold urticaria, is commonly reported in subtropical countries during extreme winter seasons. However, in tropical areas such as Indonesia, with increasing climate variability, there is a rising tendency of cold allergy symptoms in highland regions. The lack of adaptation to low temperatures in tropical populations may result in immunological hypersensitivity responses. Purpose: To identify symptoms, risk factors, and patterns of low temperature exposure to cold allergy in tropical communities. Method: This study used a cross-sectional design involving 200 respondents from Trawas, Prigen, and Pandaan. Cold exposure was assessed through questionnaires, categorized as high or low exposure. The dominant allergic symptoms, risk factors, and cold exposure patterns were identified. Chi-Square analysis tested the association between location and cold exposure, while Spearman correlation examined the relationship between exposure level and number of symptoms. Results: Chi-Square test showed a significant association between location and cold exposure (p = 0.0125), while Spearman correlation showed a moderate positive correlation between cold exposure and number of symptoms (ρ = 0.421; p = 0.0031). Trawas showed the highest rate of cold exposure with dominant symptoms being urticaria and itching, while Prigen showed prolonged exposure and symptoms like rash due to high humidity. Conclusion: There is a significant association between location and level of cold exposure, and a moderate positive correlation between cold exposure and number of allergic symptoms. Cold allergy is present even in tropical climates, especially in highland areas, indicating the need for clinical attention and climate-adaptive public health strategies. Suggestion: Further research should be conducted by adding more specific environmental variables such as air humidity, actual temperature in objective units, and the level of chronic exposure to low temperatures.   Keywords: Cold Allergy; Exposure to Low Temperatures; Symptoms; Tropical Communities.   Pendahuluan: Alergi dingin atau urtikaria dingin umumnya terjadi di negara subtropis saat musim dingin ekstrem. Namun, di wilayah tropis seperti Indonesia, khususnya daerah dataran tinggi, fluktuasi suhu akibat perubahan iklim mulai memicu peningkatan kasus alergi dingin. Kurangnya adaptasi tubuh terhadap suhu rendah dapat menimbulkan reaksi imun berupa hipersensitivitas. Tujuan: Untuk mengidentifikasi gejala, faktor risiko, dan pola paparan suhu rendah terhadap alergi dingin pada masyarakat tropis. Metode: Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain cross-sectional, melibatkan 200 responden dari Trawas, Prigen, dan Pandaan. Data dikumpulkan melalui kuesioner yang mencakup tingkat paparan suhu, jumlah gejala alergi, dan lokasi tempat tinggal. Uji Chi-Square digunakan untuk menguji hubungan antar variabel kategori, sedangkan uji Spearman digunakan untuk melihat korelasi antara paparan dan gejala. Hasil: Uji Chi-Square menunjukkan hubungan signifikan antara lokasi dan paparan suhu dingin (p = 0.0125). Uji Spearman menunjukkan korelasi positif sedang antara tingkat paparan suhu dan jumlah gejala alergi (ρ = 0.421; p = 0.0031). Trawas memiliki tingkat paparan tertinggi dengan gejala dominan berupa gatal dan biduran, sedangkan Prigen menunjukkan paparan dingin berkepanjangan dengan gejala berupa ruam karena kelembaban tinggi.Simpulan: Terdapat hubungan signifikan antara lokasi dan tingkat paparan suhu dingin, serta korelasi positif sedang antara paparan dan gejala alergi. Fenomena alergi dingin dapat terjadi pada masyarakat tropis, terutama di dataran tinggi, sehingga diperlukan perhatian klinis dan strategi kesehatan berbasis adaptasi iklim. Saran: Penelitian lanjutan sebaiknya dilakukan dengan menambahkan variabel lingkungan yang lebih spesifik seperti kelembaban udara, suhu aktual dalam satuan objektif, serta tingkat paparan kronis terhadap suhu rendah.   Kata Kunci: Alergi Dingin; Gejala; Masyarakat Tropis; Paparan Suhu Rendah.
Aktivitas fisik dan psikologis pada pasien chronic kidney disease yang menjalani hemodialisis: A literature review Pangaribuan, Resmi; Tarigan, Almina Rospitaria; Anggeria, Elis; Girsang, Ermi; Gea, Saharman
Holistik Jurnal Kesehatan Vol. 19 No. 7 (2025): Volume 19 Nomor 7
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawatan-fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v19i7.1315

Abstract

Background: Chronic kidney disease (CKD) is a condition in which kidney function gradually declines or is even lost completely. This decline in kidney function can lead to fluid and metabolic waste accumulation in the body, which, if not properly managed, can progress to end-stage kidney failure, requiring renal replacement therapy in the form of dialysis or a kidney transplant. For patients with chronic kidney disease (CKD), the presence of caregivers and family members is the most important source of support. Purpose: To determine the physical and psychological impact of CKD on patients undergoing hemodialysis. Method: This literature review utilized databases such as PubMed, Google Scholar, and Science Direct and included articles published between 2020 and 2024. Inclusion criteria included studies discussing physical activity, quality of life, and psychological aspects in CKD patients undergoing hemodialysis. Studies not available in English or Indonesian, as well as studies not relevant to the topic, were assessed in this review. The search yielded 14 articles, which were selected through keyword selection. Results: Physical activity is an important treatment and prevention measure for chronic kidney disease. The concept of "exercise as medicine" emphasizes that exercise not only helps improve physical function and muscle strength but also provides positive benefits in slowing the progression of chronic diseases. Conclusion: Physical activity such as aerobic exercise, resistance training, and other light exercise can reduce levels of depression and anxiety, improve sleep quality, and enhance perceived quality of life. Suggestion: More longitudinal studies and randomized controlled trials (RCTs) are needed in Indonesia or other developing countries to assess the effectiveness of physical activity-based programs on the psychological aspects of CKD patients.   Keywords: Chronic Kidney Disease; Hemodialysis; Psychological; Physical Activity.   Pendahuluan: Gagal ginjal kronis adalah suatu kondisi ketika fungsi ginjal secara bertahap menurun atau bahkan hilang sepenuhnya. Turunnya fungsi ginjal dapat menyebabkan penumpukan cairan dan sisa metabolisme dalam tubuh yang apabila tidak ditangani dengan baik akan berkembang menjadi gagal ginjal stadium akhir, membutuhkan terapi pengganti ginjal berupa dialisis atau transplantasi ginjal. Bagi pasien gagal ginjal kronis, kehadiran perawat dan keluarga merupakan sumber dukungan yang paling utama. Tujuan: Untuk mengetahui aktivitas fisik  dan psikologis pada pasien chronic kidney disease yang menjalani hemodialisis. Metode: Penelitian literature review menggunakan database dari pubmed, google scholar dan science direct, artikel diterbitkan antara 2020-2024. Kriteria inklusi yang digunakan mencakup studi yang membahas aktivitas fisik, kualitas hidup, dan aspek psikologis pada pasien PGK yang menjalani hemodialisis. Studi yang tidak tersedia dalam bahasa Inggris atau Indonesia, serta yang tidak relevan dengan topik, dikecualikan dari review ini. Pencarian yang diperoleh dari seleksi penilaian dan kata kunci sebanyak 14 artikel. Hasil: Aktivitas fisik merupakan pengobatan dan tindakan pencegahan yang penting untuk penyakit. Konsep “olahraga sebagai obat” menekankan bahwa olahraga tidak hanya membantu meningkatkan fungsi fisik dan kekuatan otot, tetapi juga memberikan manfaat positif untuk memperlambat perkembangan penyakit kronis. Simpulan: Aktivitas fisik seperti latihan aerobik, resistensi, dan latihan ringan lainnya mampu menurunkan tingkat depresi dan kecemasan, meningkatkan kualitas tidur serta persepsi kualitas hidup. Saran: Diperlukan lebih banyak studi longitudinal dan uji coba terkontrol secara acak (RCT) di Indonesia atau negara berkembang lainnya untuk menilai efektivitas program berbasis aktivitas fisik pada aspek psikologis pasien CKD.   Kata Kunci: Aktivitas Fisik; Chronic Kidney Disease; Hemodialisis; Psikologis.
Terapi musik lullaby dan parental holding pendekatan kombinatif untuk mengurangi nyeri skrining hipotiroid kongenital (SHK) pada neonatus Kusuma, Galuh Jatra; Annisa, Rahma; Nafratilova, Mercy
Holistik Jurnal Kesehatan Vol. 19 No. 6 (2025): Volume 19 Nomor 6
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawatan-fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v19i6.1358

Abstract

Background: Congenital hypothyroidism (CH) is a hormonal disorder in newborns that can lead to delayed mental and physical development if not detected early. One important procedure for detecting CH is the heel prick method, which involves taking a blood sample from the baby's heel. However, this procedure is invasive and can be painful, negatively impacting the baby's physiological and psychological well-being. Effective and atraumatic pain management in newborns is crucial, including non-pharmacological interventions such as lullaby music therapy and parental holding. Purpose: To determine the effect of lullaby music therapy and parental holding, a combined approach, on reducing pain during neonatal congenital hypothyroidism (CH) screening. Method: This quantitative study used a quasi-experimental approach with a post-test-only control group design. The study was conducted at the PBM Bengkulu City from March to May 2025. The study population was newborns undergoing invasive congenital hypothyroidism screening. The sample was selected using a purposive sampling technique, resulting in 38 infants. The intervention group received lullaby music and parental carrying, while the control group received 10 minutes of swaddling. The FLACC scale was used as the instrument. Data were analyzed using univariate and bivariate Wilcoxon tests. Results: The mean pain score during congenital hyperthyroidism screening in the intervention group was 3.05 with a mean SD of 0.970 and a 95% CI of 2.58–3.52 (mild pain category), while the mean pain score during congenital hyperthyroidism screening in the control group was 6.68 with a mean SD of 1.204 and a 95% CI of 6.10–7.26 (moderate pain category). The Mann-Whitney test showed a p-value of 0.000 for the effect of lullaby music and parental carrying on pain during the heel prick procedure. Conclusion: The combination of lullaby music and parental carrying significantly reduced pain scores during the CHC procedure in infants during blood sampling. Providing lullabies and parent carrying as non-pharmacological therapies to reduce pain in infants is an effective approach for parents. Suggestion: This finding also serves as a basis for further research evaluating the effectiveness of providing lullabies and parent carrying in reducing pain during heel punctures or other invasive procedures.   Keywords: Combination Approach; Congenital Hypothyroidism (CHP) Screening; Lullaby Music Therapy; Neonate; Pain; Parent Holding.   Pendahuluan: Hipotiroid kongenital (HK) merupakan gangguan hormonal pada bayi baru lahir yang dapat menyebabkan keterlambatan perkembangan mental dan fisik apabila tidak dideteksi sejak dini. Salah satu prosedur penting untuk mendeteksi HK adalah dengan metode heel stick, yaitu pengambilan sampel darah dari tumit bayi. Namun, tindakan ini bersifat invasif dan dapat menimbulkan nyeri, yang berdampak negatif pada kondisi fisiologis dan psikologis bayi. Penanganan nyeri pada bayi baru lahir penting dilakukan secara efektif dan atraumatik, salah satunya melalui intervensi non farmakologis seperti terapi musik lullaby dan parental holding. Tujuan: Untuk mengetahui pengaruh terapi musik lullaby dan parental holding pendekatan kombinatif untuk mengurangi nyeri skrining hipotiroid kongenital (SHK) pada neonatus. Metode: Penelitian kuantitatif dengan pendekatan quasi eksperimen menggunakan rancangan post test only control group design. Penelitian dilaksanakan di PBM Kota Bengkulu pada bulan Maret-Mei 2025. Populasi dalam penelitian ini adalah bayi baru lahir yang akan di lakukan skrining hipotiroid kongenital tindakan invasif.  Pemilihan sampel menggunakan teknik perposive sampling, mendapatkan sejumlah 38 bayi. Kelompok intervensi menerima perlakuan metode musik lullaby dan metode parental holding, sedangkan kelompok kontrol menerima perlakuan metode pembedongan dalam rentang 10 menit. Instrumen yang digunakan adalah skala FLACC, Analisis data menggunakan univariat dan bivariat (uji Wilcoxon). Hasil: Skor rata-rata nyeri pada skrining hipertiroid kongenital pada kelompok intervensi sebesar 3.05 dengan SD=0.970 dan CI 95% = 2.58 – 3.52 (kategori nyeri ringan), sedangkan skor rata-rata nyeri pada skrining hipertiroid kongenital pada kelompok kontrol sebesar 6.68 dengan SD=1.204 dan CI 95% = 6.10 – 7.26 (kategori nyeri sedang). Berdasarkan uji Mann Whitney pengaruh metode musik lullaby dan parental holding terhadap nyeri saat tindakan heel stick mendapatkan p-value sebesar 0.000. Simpulan: Memberikan perlakuan kombinasi musik lullaby dan parental holding memiliki pengaruh dalam menurunkan skor nyeri tindakan SHK pada bayi saat pengambilan sampel darah. Pemberian musik lullaby dan parental holding sebagai terapi non farmakologis dalam menurunkan nyeri pada bayi merupakan tindakan efektif yang bisa dilakukan oleh orangtua. Saran: Hal ini juga menjadi landasan bagi penelitian di masa mendatang dalam mengevaluasi efektivitas pemberian musik lullaby dan parental holding untuk mengurangi nyeri selama prosedur tindakan invansif heel stick atau lainnya.   Kata Kunci: Neonatus; Nyeri; Parental Holding; Pendekatan Kombinatif; Skrining Hipotiroid Kongenital (SHK); Terapi Musik Lullaby.