cover
Contact Name
Teguh Pribadi
Contact Email
teguh@malahayati.ac.id
Phone
+6282282204653
Journal Mail Official
holistik@malahayati.ac.id
Editorial Address
Jalan Pramuka No.27 Kemiling Bandar Lampung -Indonesia.
Location
Kota bandar lampung,
Lampung
INDONESIA
Holistik Jurnal Kesehatan
Published by Universitas Malahayati
ISSN : 19783337     EISSN : 26207478     DOI : https://doi.org/10.33024/hjk.v18i10
Core Subject : Health,
Berisi kumpulan karya ilmiah dari peneliti diberbagai perguruan tinggi di Indonesia, di bidang ilmu kesehatan khususnya bidang ilmu keperawatan yang berdasarkan kepada kebutuhan pasien secara total meliputi: kebutuhan fisik, emosi, sosial, ekonomi dan spiritual. Adapun penelitiannya mencakup 4 aspek pokok, yakni: promotif, preventif, kuratif, dan rehabilitatif. Jurnal terbit setiap bulan dan artikel ditulis dalam bahasa Indonesia, untuk abstrak artikel ditulis dengan dua bahasa yaitu bahasa Inggris dan bahasa Indonesia.
Articles 329 Documents
Analisis kecepatan dengan chronic ankle instabilitypada pemain bola basket dan futsal di SMA Kota Malang Syahputra, Erwanico; Irawan, Dimas Sondang; Rahmanto, Safun
Holistik Jurnal Kesehatan Vol. 19 No. 6 (2025): Volume 19 Nomor 6
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawatan-fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v19i6.1062

Abstract

Background: Ankle sprains are a common injury among athletes. If left untreated, this condition can lead to further symptoms such as pain, instability, weakness, and recurrent injury. This condition is known as chronic ankle instability (CAI). Chronic ankle instability is closely related to the control components of walking, running, and jumping. Playing basketball and futsal requires several components of physical ability, such as strength, acceleration, speed, balance, and endurance. The more fit a player is, the greater the impact on individual and team technique and tactics. Purpose: To analyze the level of speed associated with chronic ankle instability in basketball and futsal players. Method: A quasi-experimental study with a two-group design, namely the CAI group and the normal group, was conducted in December 2024 in Malang City, East Java. The study population was basketball and futsal players at State Senior High School 3 Malang and Muhammadiyah Senior High School 1 Malang. Sample collection used a purposive sampling technique and obtained 30 participants. Furthermore, the data were analyzed using univariate and bivariate Shapiro-Wilk normality tests and Independent T-tests to determine correlations. Results: The mean age of respondents was 16.9 years with a standard deviation of 1.47, with an age range of 12-20 years. The majority of participants were male, with 10 (66.7%) participants in the normal and CAI groups. The most common sport in both the normal and CAI groups was basketball, with 10 (66.7%) participants. The BMI status of respondents in the normal group was predominantly underweight (10% of respondents in the normal group), and 9 (60.0%) in the CAI group. A two-tailed independent t-test between the control and CAI groups yielded a significant two-sided p-value of 0.746 (p > 0.05). Conclusion: There was no significant difference between the levels of speed and chronic ankle instability in basketball and futsal players. Suggestion: This research can be developed as a scientific extension and focused on specific sports with more specific research instruments, so that more in-depth data can be obtained regarding the physical condition of chronic ankle instability.   Keywords: Basketball; Chronic Ankle Instability; Futsal; Speed.   Pendahuluan: Ankle sprain merupakan cedera yang tak asing lagi bagi seorang atlet, jika cedera ini tidak ditangani dengan baik dapat menyebabkan gejala lanjutan seperti nyeri, ketidakstabilan, kelemahan, dan cedera berulang, kondisi tersebut didefinisikan sebagai chronic ankle instability (CAI). Akibat dari ketidakstabilan pergelangan kaki kronis, maka berkaitan erat dengan komponen kontrol berjalan, berlari, dan melompat. Bermain bola basket dan futsal memerlukan beberapa komponen kemampuan fisik yang memadai, seperti kekuatan, akselerasi, kecepatan, keseimbangan dan kekuatan tubuh. Semakin bugar seorang pemain, semakin besar pengaruhnya terhadap teknik dan taktik pribadi dan tim. Tujuan: Untuk menganalisis tingkat kecepatan dengan chronic ankle instability pada pemain bola basket dan futsal. Metode: Penelitian quasi eksperimental dengan desain dua grup yaitu kelompok CAI dan kelompok normal, dilakukan pada Desember 2024 di Kota Malang, Jawa Timur. Populasi penelitian adalah pemain bola basket dan pemain futsal di SMAN 3 Malang dan SMA Muhammadiyah 1 Malang. Pengumpulan sampel menggunakan teknik  purposive sampling dan mendapatkan 30 partisipan. Selanjutnya data dianalisis univariat dan bivariat uji normalitas Shapiro wilk dan Independent T-test untuk melihat korelasinya. Hasil: Rata-rata usia responden adalah 16.9 tahun dengan standar deviasi 1.47 pada rentang usia 12-20 tahun. Mayoritas partisipan berjenis kelamin laki-laki, baik pada kelompok normal maupun kelompok CAI, masing-masing sebanyak 10 (66.7%). Sebagian besar jenis olahraga kelompok normal dan kelompok CAI adalah permainan basket, yaitu masing-masing sebanyak 10 (66.7%). Status IMT responden kelompok normal sebagian besar dalam kategori under-weight sebanyak 10 (66.7%) dan kelompok CAI sebagian besar dalam kategori normal sebanyak 9 (60.0%). Berdasarkan independent sample T-test antara kelompok kontrol dan kelompok CAI mendapatkan nilai Sig. Two-Sided p sebesar 0.746 (p >0.05). Simpulan: Tingkat kecepatan dengan kondisi fisik chronic ankle instability pada pemain bola basket dan pemain futsal tidak menunjukkan adanya perbedaan yang signifikan. Saran: Penelitian ini dapat dikembangkan sebagai kemajuan ilmu pengetahuan dan difokuskan ke salah satu cabang olahraga tertentu dengan instrumen penelitian yang lebih spesifik, sehingga mendapatkan data yang berpengaruh lebih dalam terkait kondisi fisik chronic ankle instability.   Kata Kunci: Basket; Chronic Ankle Instability; Futsal; Kecepatan.
Analisis obat yang berpotensi tidak tepat terhadap reaksi obat yang tidak diinginkan (ROTD) pada pasien lansia Fauziah, Nur; Andrajati, Retnosari; Puspitasari, Atika Wahyu
Holistik Jurnal Kesehatan Vol. 19 No. 7 (2025): Volume 19 Nomor 7
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawatan-fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v19i7.1103

Abstract

Background: The elderly population is a vulnerable group due to physiological changes, including decreased organ function. In Depok City, the number of elderly people is expected to increase to 202,194 by 2023. Potentially inappropriate medication use (PDR) in the elderly is associated with an increased risk of adverse drug reactions (ADRs). STOPP_INA is a tool for identifying PDRs and can help reduce the incidence of PDRs. Purpose: To analyze potentially inappropriate medication use associated with adverse drug reactions (ADRs) in elderly patients. Method: This was a descriptive observational study with a cross-sectional design. Data were collected retrospectively from electronic prescriptions and electronic medical records of elderly inpatients at RSUI. The minimum sample size was 52. Results: Of 528 medications prescribed to 52 patients, 90 PDRs (17.04%) were identified. The most common medications included in the STOPP_INA criteria were aspirin, ramipril, clopidogrel, spironolactone, clonidine, and amlodipine. Twenty-two patients (42.3%) experienced ADRs, with the most common adverse effects being hypotension (12 cases), followed by cognitive impairment, gastric ulcer recurrence, bleeding, and decreased renal function (3 cases each). Conclusion: There was a very strong correlation between the number of PIMs and ADRs (r = 0.758; p < 0.01) in patients with polypharmacy.   Keywords: Adverse Drug Reactions (ADRs); Elderly; Potentially Inappropriate Medications.   Pendahuluan: Populasi lanjut usia merupakan kelompok rentan karena mengalami perubahan fisiologis, termasuk penurunan fungsi organ. Di Kota Depok, jumlah lansia meningkat mencapai 202,194 jiwa pada tahun 2023. Penggunaan obat yang berpotensi tidak tepat atau potentially inappropriate medications (PIMs) pada lansia dikaitkan dengan peningkatan risiko reaksi obat yang tidak diinginkan (ROTD). STOPP_INA merupakan salah satu instrumen untuk mengidentifikasi PIMs dan dapat membantu mengurangi kejadian ROTD. Tujuan: Untuk menganalisis obat yang berpotensi tidak tepat terhadap reaksi obat yang tidak diinginkan (ROTD) pada pasien lansia. Metode: Studi observasional deskriptif dengan desain cross-sectional. Data dikumpulkan secara retrospektif dari resep elektronik dan catatan rekam medis elektronik pasien lansia rawat inap di RSUI. Jumlah sampel minimal berdasarkan perhitungan adalah 52 sampel. Hasil: Dari total 528 obat yang diresepkan kepada 52 pasien, ditemukan 90 PIMs (17.04%). Obat yang paling sering termasuk dalam kriteria STOPP_INA adalah aspirin, ramipril, klopidogrel, spironolakton, klonidin, dan amlodipin. Sebanyak 22 pasien (42.3%) mengalami kejadian ROTD, dengan efek samping terbanyak berupa hipotensi (12 kasus), diikuti gangguan kognitif, kekambuhan tukak peptik, perdarahan, dan penurunan fungsi ginjal (masing-masing 3 kasus). Simpulan: Terdapat korelasi yang sangat kuat antara jumlah PIMs dan ROTD (r = 0.758; p < 0.01) pada pasien dengan polifarmasi.   Kata Kunci: Lansia; Obat yang Berpotensi Tidak Tepat; Reaksi Obat yang tidak Diinginkan (ROTD).
Pengaruh status nutrisi terhadap kualitas hidup pada pasien hemodialisis Putri, Zahira Sukma Yulia; Fikri, Zahid; Setyowati, Lilis; Sunardi, Sunardi
Holistik Jurnal Kesehatan Vol. 19 No. 6 (2025): Volume 19 Nomor 6
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawatan-fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v19i6.1138

Abstract

Background: The quality of life of patients with HD is often affected by physical and psychological conditions, which are influenced by various factors, including nutritional status. Decreased nutritional status in HD patients can have a significant impact on their quality of life. However, the influence of nutritional status on quality of life in HD patients in Indonesia has not been widely explored. Purpose: To analyze the effect of nutritional status on quality of life in hemodialysis patients Method: This study was an observational study with a cross-sectional approach involving 184 HD patients who met the inclusion criteria, namely patients who had undergone HD for ≥ 6 months. Nutritional status was measured using the Dialysis Malnutrition Score (DMS), while quality of life was measured using the Kidney Disease Quality of Life-36 (KDQOL-36). Data were analyzed using simple linear regression with the IBM SPSS version 27 application with a significance level (p-value <0.05). Results: The results showed that the average respondent had good nutritional status (83.0%), while the rest had mild malnutrition (16.30%) and severe malnutrition (0.50%). For the level of quality of life, the average respondent has a good quality of life (54.9%), while the rest of the quality of life is very good (40.8%) and moderate (4.3%). Statistical tests showed a significant relationship between nutritional status and quality of life with (p-value 0.001), with a negative relationship direction and a strong coefficient level. Conclusion: This study confirms that nutritional status has a significant influence on quality of life in HD patients.   Keywords: Hemodialysis; Quality of Life; Nutritional Status.   Pendahuluan:Kualitas hidup pasien hemodialisis (HD) sering kali terpengaruh oleh kondisi fisik dan psikologis, yang dipengaruhi oleh berbagai faktor, termasuk status nutrisi. Penurunan status gizi pada pasien HD dapat berdampak signifikan pada kualitas hidup mereka. Namun, pengaruh status nutrisi terhadap kualitas hidup pada pasien HD di Indonesia belum banyak dieksplorasi. Tujuan:Untuk menganalisis pengaruh status nutrisi terhadap kualitas hidup pada pasien hemodialisis. Metode: Penelitian studi observasional dengan pendekatan cross-sectional yang melibatkan 184 pasien HD yang memenuhi kriteria inklusi, yaitu pasien yang telah menjalani HD selama ≥ 6 bulan. Status nutrisi diukur menggunakan Dialysis Malnutrition Score (DMS), sedangkan kualitas hidup diukur dengan Kidney Disease Quality of Life-36 (KDQOL-36). Data dianalisis menggunakan regresi linier sederhana dengan aplikasi IBM SPSS versi 27 dengan tingkat signifikansi (p-value <0.05). Hasil: Responden rata-rata memiliki status gizi baik (83.0%), sedangkan sisanya mengalami malnutrisi ringan (16.30%) dan malnutrisi berat (0.50%). Untuk tingkat kualitas hidup rata-rata responden memiliki kualitas hidup baik (54.9%), sedangkan sisanya kualitas hidup sangat baik (40.8%) dan sedang (4.3%). Uji statistik menunjukkan adanya hubungan signifikan antara status nutrisi terhadap kualitas hidup dengan p-value 0.001 dan arah hubungan yang negatif serta tingkat koefisien yang tergolong kuat. Simpulan: Status nutrisi memiliki pengaruh signifikan terhadap kualitas hidup pada pasien HD.   Kata Kunci: Hemodialisis; Kualitas Hidup; Status Nutrisi.
Gambaran hemoglobin pada pasien menometroragia menggunakan metode impedance di salah satu rumah sakit Cimahi Afrina, Sholu Widi; Kusdiantini, Andini
Holistik Jurnal Kesehatan Vol. 19 No. 6 (2025): Volume 19 Nomor 6
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawatan-fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v19i6.1151

Abstract

Background: Hemoglobin (Hb) is an important parameter in assessing the blood condition of patients with menometrorrhagia, a disorder characterized by excessive and prolonged menstrual bleeding. This condition can cause a significant decrease in Hb levels and lead to anemia if not monitored regularly. Anemia due to chronic bleeding can worsen the patient's health and increase the risk of complications. Purpose: To provide an overview of hemoglobin levels in patients with menometrorrhagia using the impedance method. Method: A descriptive analytical study using a cross-sectional approach was conducted on menometrorrhagia patients at Dustira Hospital, Cimahi. The study population included all female patients of reproductive age (20–45 years) undergoing hemoglobin examination in the hospital laboratory during the period of January–December 2024. The study sample was taken using purposive sampling with a total of 120 patients. Results: Most patients experienced a significant decrease in hemoglobin levels, indicating anemia due to excessive and prolonged menstrual bleeding. The impedance method demonstrated good ability to detect Hb levels quickly and accurately. Conclusion: Most patients with menometrorrhagia had anemia. The impedance method proved accurate and efficient in assessing hemoglobin levels and can be used as a reference in diagnosis and medical decision-making.   Keywords: Hemoglobin; Impedance Method; Menometrorrhagia.   Pendahuluan: Hemoglobin (Hb) merupakan parameter penting dalam menilai kondisi darah pasien dengan menometroragia, yaitu gangguan perdarahan menstruasi yang berlebihan dan berkepanjangan. Kondisi ini dapat menyebabkan penurunan kadar Hb yang signifikan dan berujung pada anemia, apabila tidak dilakukan pemantauan secara berkala. Anemia akibat perdarahan kronis dapat memperburuk kondisi kesehatan pasien dan meningkatkan risiko komplikasi. Tujuan: Untuk memberikan gambaran kadar hemoglobin pada pasien menometroragia menggunakan metode impedance. Metode: Penelitian deskriptif analitik dengan pendekatan cross-sectional, dilakukan pada pasien menometroragia di Rumah Sakit Dustira, Cimahi. Populasi penelitian mencakup seluruh pasien wanita usia reproduksi (20 – 45 tahun) menjalani pemeriksaan hemoglobin di laboratorium rumah sakit selama periode Januari-Desember 2024. Sampel penelitian diambil secara purposive sampling dengan jumlah total 120 pasien. Hasil: Sebagian besar pasien mengalami penurunan kadar hemoglobin yang signifikan, yang mengindikasikan kondisi anemia akibat perdarahan menstruasi yang berlebihan dan berkepanjangan. Metode impedance menunjukkan kemampuan yang baik dalam mendeteksi kadar Hb secara cepat dan tepat. Simpulan: Sebagian besar pasien menometroragia mengalami anemia. Metode impedance terbukti akurat dan efisien dalam menilai kadar hemoglobin dan dapat dijadikan acuan dalam diagnosis serta pengambilan keputusan medis.   Kata Kunci: Hemoglobin; Menometroragia; Metode Impedance.
Pengaruh latihan fonasi vokal “a” berdasarkan lee silverman voice treatment loud terhadap kejelasan bicara pasien stroke iskemik Rahayu, Sisri; Sujianto, Untung; Husna, Elfira; Ashra, Fauzi; Putra, Yuhendri; Liza, Fera
Holistik Jurnal Kesehatan Vol. 19 No. 6 (2025): Volume 19 Nomor 6
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawatan-fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v19i6.1186

Abstract

Background: Speech nerve disorders due to stroke cause slurred speech. Lee Silverman Loud Voice Therapy can be applied using the Swanson technique to help stimulate the speech muscles. Purpose: To determine the effect of "a" vowel phonation training based on Lee Silverman Loud Voice Therapy on speech intelligibility in ischemic stroke patients. Method: This quasi-experimental study used a pretest-posttest non-equivalent control group approach, conducted from September to November 2024 at Dr. Achmad Mochtar Regional General Hospital, Bukittinggi. A purposive sampling method was used to select 22 participants, who were divided into intervention and control groups. Data were analyzed using a paired t-test with α ≤ 0.05. Results: In the intervention group, the average pretest score was 15 and the posttest score was 4.82. In the control group, the average pretest score was 16.91 and the posttest score was 16.45. A decrease in the average score indicates an improvement. The analysis showed an effect of "a" vowel phonation training with p = 0.001 (p ≤ 0.05). Conclusion: There is an effect of "a" vowel phonation training based on the Lee Silverman Voice Treatment Loud on speech intelligibility in ischemic stroke patients. A decrease in the mean speech intelligibility score indicates an increase in speech intelligibility. A lower score indicates better speech intelligibility. Suggestion: Future researchers should conduct further research with a larger sample size and implement the full training procedure, as well as considering other variables, such as severity, initial treatment time, stroke phase, other rehabilitation provided by healthcare facilities, comorbidities, family and friend support, and motivation.   Keywords: Ischemic Stroke; Lee Silverman Voice Treatment Loud; Speech Clarity; Vocal Phonation.   Pendahuluan: Gangguan saraf bicara akibat stroke menyebabkan ketidakjelasan bicara. lee silverman voice treatment loud dapat diterapkan dengan caring Swanson untuk membantu menstimulasi otot bicara. Tujuan: Untuk mengetahui pengaruh latihan fonasi vokal “a” berdasarkan lee silverman voice treatment loud terhadap kejelasan bicara pasien stroke iskemik. Metode: Penelitian quasi-eksperimen menggunakan pendekatan pretest posttest nonequivalent control group, dilakukan pada September-November 2024 di RSUD Dr. Achmad Mochtar Bukittinggi. Sampel diambil menggunakan purposive sampling dengan jumlah 22 partisipan yang terbagi dalam kelompok intervensi dan kontrol. Data dianalisis dengan T-Test (Paired-Test) α≤ 0.05. Hasil: Pada kelompok intervensi rata-rata ketika pre-test 15 dan post-test yaitu 4.82. Pada kelompok kontrol ketika pre-test yaitu 16.91 dan post-test yaitu 16.45. Nilai rata-rata yang menurun, menunjukkan perubahan yang membaik. Analisis menunjukkan terdapat pengaruh latihan fonasi vokal “a” dengan p = 0.001 (p ≤ 0.05). Simpulan: Terdapat pengaruh latihan fonasi vokal “a” berdasarkan Lee Silverman Voice Treatment Loud terhadap kejelasan bicara pasien stroke iskemik. Penurunan rata-rata menunjukkan nilai kejelasan yang membaik. Semakin turun nilai, maka semakin baik kejelasan bicara yang dialami. Saran: Bagi peneliti selanjutnya, dapat melakukan penelitian lebih lanjut dengan sampel yang lebih besar dan melakukan seluruh prosedur latihan serta memperhatikan variabel lain, seperti tingkat keparahan, waktu penanganan awal, fase stroke, rehabilitasi lain yang didapat dari faskes, penyakit komorbid, dukungan keluarga dan teman serta motivasi.   Kata Kunci: Fonasi Vokal; Kejelasan Bicara; Lee Silverman Voice Treatment Loud; Stroke Iskemik.
Hubungan antara pola asuh dengan status gizi pada balita Payuk, Aprilyana Tandi; Sanggelorang, Yulianty; Punuh, Maureen Irinne
Holistik Jurnal Kesehatan Vol. 19 No. 6 (2025): Volume 19 Nomor 6
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawatan-fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v19i6.1193

Abstract

Background: Nutritional problems remain a crucial public health challenge in Indonesia, including in the working area of Remboken Public Health Center, Minahasa Regency. Parenting practices, particularly feeding behavior and child care, are known to influence the nutritional status of toddlers. Purpose: To analyze the relationship between parenting patterns and the nutritional status of toddlers. Method: A cross-sectional study was conducted involving 91 toddlers selected through simple random sampling. Data were collected using a structured questionnaire to assess feeding and caregiving practices, and anthropometric measurements were performed to determine nutritional status based on z-scores: weight-for-age (W/A), height-for-age (H/A), and weight-for-height (W/H). Data were analyzed using Fisher's Exact Test and Chi-square test. Results: There was a significant relationship between feeding practices and nutritional status based on W/A (p = 0.044) and H/A (p = 0.000), but no significant relationship with W/H (p = 1.000). Similarly, caregiving practices were significantly associated with W/A (p = 0.030) and H/A (p = 0.000), but not with W/H (p = 0.092). Conclusion: The results highlight the importance of improving feeding and caregiving practices to enhance children's nutritional status, particularly in addressing underweight and stunting among toddlers. Suggestion: Parents, especially mothers, need to adopt more responsive feeding and caregiving practices. Meanwhile, public health centers are expected to enhance education and provide support to families at risk of stunting, focusing on nutrition, hygiene, immunization, and psychosocial support.   Keywords: Feeding Practices; Parenting Patterns; Toddler Nutritional Status   Pendahuluan: Masalah gizi masih menjadi tantangan kesehatan masyarakat yang krusial di Indonesia, termasuk di wilayah kerja Puskesmas Remboken, Kabupaten Minahasa. Praktik pengasuhan, khususnya perilaku pemberian makan dan pengasuhan, diketahui memengaruhi status gizi balita. Tujuan: Untuk menganalisis hubungan antara pola asuh dan status gizi balita. Metode: Studi cross-sectional yang melibatkan 91 balita yang dipilih melalui pengambilan sampel acak sederhana. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner terstruktur untuk menilai praktik pemberian makan dan praktik merawat balita, juga dilakukan pengukuran antropometri untuk menentukan status gizi berdasarkan z-score berat badan menurut usia (BB/U), z-score tinggi badan menurut usia (TB/U), dan z-score berat badan menurut tinggi badan (BB/TB). Analisis data dilakukan dengan menggunakan uji Fisher-exact dan uji Chi-kuadrat. Hasil: Menunjukkan hubungan yang signifikan antara praktik pemberian makan dan status gizi berdasarkan BB/U (p value = 0.044) dan TB/U atau PB/U (p value = 0.000), tetapi tidak ada hubungan yang signifikan dengan BB/TB atau BB/PB (p value = 1.000). Demikian pula, praktik merawat anak secara signifikan berhubungan dengan BB/U (p value = 0,030) dan TB/U atau PB/U (p value = 0.000), tetapi tidak dengan BB/TB atau BB/PB (p value = 0.092). Simpulan: Hasil penelitian ini menegaskan pentingnya peningkatan praktik pemberian makan dan merawat anak untuk meningkatkan status gizi, terutama dalam mengurangi masalah underweight dan stunting pada balita. Saran: Orang tua, terutama ibu, perlu meningkatkan praktik pemberian makan responsif dan perawatan untuk balita, sementara pusat kesehatan masyarakat diharapkan meningkatkan pendidikan dan memberikan dukungan bagi keluarga yang berisiko stunting dengan fokus pada nutrisi, kebersihan, imunisasi, dan dukungan psikososial.   Kata Kunci: Pola Asuh; Praktik Pemberian Makan; Status Gizi Balita.
Hubungan ketahanan pangan rumah tangga dengan status gizi pada balita Safkaur, Thalia Chelsea Putri Wangloan; Sanggelorang, Yuliana; Musa, Ester Candrawati
Holistik Jurnal Kesehatan Vol. 19 No. 6 (2025): Volume 19 Nomor 6
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawatan-fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v19i6.1197

Abstract

Background: Food security carries out a crucial role in meeting nutritional needs because the nutrients contained in food serve to maintain health and support growth, especially in toddlers. Low food security at the household level can result in a decline in the nutritional status of toddlers, thereby increasing the risk of medical problems in this vulnerable age group. Purpose: Analyzing the relationship between household food security and nutritional status of toddlers. Method: The study design was an observational study with a cross-sectional approach. The population was 560 toddlers aged 12-59 months with a sample size of 91 toddlers selected through probability sampling and simple random sampling techniques in the Remboken Community Health Center (Puskesmas) work area, Minahasa Regency. Data were collected using the US Household Food Security Survey Module (US-HFSSM) instrument to measure household food security levels and anthropometric measurements to evaluate nutritional status based on weight-for-age (BW/A), height-for-age (H/A), and weight-for-height (BW/H). Data analysis was carried out using the Chi-square test and Fisher's exact test. Results: There was a significant relationship between household food security and nutritional status of toddlers based on the weight/age index (p value = 0.021) and height/age index (p value = 0.001). However, no significant relationship was found between household food security and nutritional status based on the weight/age index (p value = 0.221). Conclusion: Household food security in Remboken Health Center shows a significant association with nutritional status based on the weight-for-age z-score (WAZ) and height-for-age z-score (HAZ) indices, but no meaningful association with the weight-for-height z-score (WHZ) index. Suggestion: Families with toddlers should be able to utilize local foods that are more affordable, readily available, and nutritious, such as corn and freshwater fish, which are readily available. The Remboken Community Health Center (Puskesmas) can collaborate with integrated health post (Posyandu) cadres to conduct outreach activities for the community on utilizing the area around their homes as a source of family food.                                                           Keywords: Food Security; Nutritional Status; Toddlers.   Pendahuluan: Ketahanan pangan memainkan peranan krusial dalam pemenuhan gizi sebab zat gizi yang terkandung dalam makanan berfungsi menjaga kesehatan dan mendukung pertumbuhan, terutama pada anak usia balita. Ketahanan pangan yang rendah di tingkat rumah tangga mampu berakibat pada penurunan status gizi balita, sehingga menghasilkan peningkatan risiko terjadinya permasalahan medis pada kelompok usia yang rentan ini. Tujuan: Untuk menganalisis hubungan antara ketahanan pangan rumah tangga dan status gizi balita. Metode: Penelitian desain observasional dengan pendekatan potong lintang. Populasi yang ditetapkan sebanyak 560 balita berusia 12-59 bulan dengan jumlah sampel sebanyak 91 balita yang dipilih melalui metode probability sampling, teknik simple random sampling di wilayah kerja Puskesmas Remboken, Kabupaten Minahasa. Data dihimpun dengan memanfaatkan instrumen US Household Food Security Survey Module (US-HFSSM) dalam rangka mengukur tingkat ketahanan pangan rumah tangga dan pengukuran antropometri dalam mengevaluasi status gizi berdasarkan indeks berat badan menurut umur (BB/U), tinggi badan menurut umur (TB/U), dan berat badan menurut tinggi badan (BB/TB). Analisis data dilakukan dengan pengujian Chi-square serta pengujian Fisher’s exact. Hasil: Adanya hubungan signifikan antara ketahanan pangan rumah tangga dan status gizi balita berdasarkan indeks BB/U (p value = 0.021) dan indeks TB/U (p value = 0.001). Namun, tidak ditemukan hubungan yang signifikan antara ketahanan pangan rumah tangga dan status gizi berdasarkan indeks BB/TB (p value = 0.221). Simpulan: Ketahanan pangan rumah tangga menunjukkan hubungan yang signifikan dengan status gizi berdasarkan indeks BB/U serta PB/U atau TB/U. Namun, tidak menunjukkan hubungan yang bermakna dengan indeks BB/PB atau BB/TB. Saran: Bagi keluarga balita, hendaknya dapat memanfaatkan pangan lokal yang lebih terjangkau, mudah untuk didapatkan dan memiliki nilai gizi seperti jagung dan ikan air tawar yang bisa didapatkan dengan mudah. Bagi instansi terkait, dapat membangun kerja sama bersama kader posyandu untuk mengadakan kegiatan penyuluhan kepada masyarakat agar dapat memanfaatkan area di sekitar rumah sebagai salah satu sumber bahan makanan keluarga.   Kata Kunci: Balita; Ketahanan Pangan Rumah Tangga; Status Gizi.
Peran terapi komplementer, budaya, dan edukasi dalam penatalaksanaan kanker payudara: Sebuah tinjauan literatur Obert, Hendra August; Uly, Nilawati; Alim, Andi
Holistik Jurnal Kesehatan Vol. 19 No. 6 (2025): Volume 19 Nomor 6
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawatan-fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v19i6.1198

Abstract

Background: Breast cancer is one of the leading causes of cancer-related deaths among women, especially in developing countries such as Indonesia. Its management is not solely dependent on medical interventions but is also influenced by cultural, psychosocial factors, and patient preferences for non-conventional therapies. Purpose: To examine the role of complementary therapies, culture, and education in the management of breast cancer. Method: A literature review approach was employed using a narrative systematic review. The data sources consisted of scientific articles published in nationally accredited journals, specifically those ranked 2 to 5 in the Science and Technology Index (SINTA). The articles were purposively selected based on their relevance to the study’s focus: the use of complementary and alternative medicine (CAM) in breast cancer patients, the influence of culture on health-seeking behavior and decision-making, and the effectiveness of community education interventions in enhancing knowledge and awareness of breast cancer. Results: CAM such as the use of herbal remedies, spiritual practices, yoga, and massage, has positive potential in improving the quality of life of breast cancer patients, particularly in physical and emotional aspects. Nevertheless, the application of CAM should be carried out cautiously and in integration with conventional medical treatment to avoid the risk of negative interactions. On the other hand, cultural aspects including beliefs in traditional medicine, stigma surrounding cancer, and the dominance of family decision making have been shown to be significant barriers to healthcare access and acceptance. Conclusion: Complementary therapies, cultural factors, and education significantly influence the management of breast cancer. The use of CAM can improve patients’ quality of life, while culture and education affect treatment-seeking behaviors and the success of early detection efforts. Suggestion: A holistic approach that integrates medical, cultural, and educational aspects is essential in breast cancer management to achieve more comprehensive health outcomes.   Keywords: Culture; Breast Cancer; Complementary Therapy; Early Detection; Education.   Pendahuluan: Kanker payudara merupakan salah satu penyebab utama kematian akibat kanker di kalangan perempuan, terutama di negara berkembang seperti Indonesia. Penatalaksanaannya tidak hanya bergantung pada intervensi medis, tetapi juga dipengaruhi oleh faktor budaya, psikososial, serta preferensi pasien terhadap terapi non-konvensional. Tujuan: Untuk mengkaji peran terapi komplementer, budaya, dan edukasi dalam penatalaksanaan kanker payudara melalui suatu tinjauan literatur. Metode: pendekatan literature review dengan jenis tinjauan sistematis naratif. Sumber data dalam tinjauan ini berasal dari artikel ilmiah yang dipublikasikan dalam jurnal nasional terakreditasi, yaitu jurnal yang termasuk dalam SINTA (Science and Technology Index) peringkat 2 hingga 5. Artikel-artikel ini dipilih secara purposif berdasarkan kesesuaian topik dengan fokus kajian, yaitu penggunaan terapi komplementer dan alternatif Complementary and Alternative Medicine (CAM) pada pasien kanker payudara, pengaruh budaya terhadap perilaku pencarian pengobatan dan pengambilan keputusan, serta efektivitas intervensi edukasi masyarakat dalam meningkatkan pengetahuan dan kesadaran terkait kanker payudara. Hasil: Terapi komplementer dan alternatif CAM, seperti penggunaan herbal, spiritual, yoga, dan pijat, memiliki potensi positif dalam meningkatkan kualitas hidup pasien kanker payudara, terutama dalam aspek fisik dan emosional. Meskipun demikian, penerapan CAM harus dilakukan secara hati-hati dan terintegrasi dengan pengobatan medis konvensional untuk menghindari risiko interaksi negatif. Di sisi lain, aspek budaya, termasuk kepercayaan terhadap pengobatan tradisional, stigma terhadap kanker, serta dominasi keputusan keluarga, terbukti menjadi hambatan signifikan dalam akses dan penerimaan layanan kesehatan. Simpulan: Terapi komplementer, faktor budaya, dan edukasi memiliki pengaruh yang signifikan terhadap penatalaksanaan kanker payudara. Penggunaan CAM dapat meningkatkan kualitas hidup pasien, sementara budaya dan edukasi memengaruhi perilaku pencarian pengobatan dan keberhasilan deteksi dini. Saran: Diperlukan pendekatan holistik yang menggabungkan aspek medis, kultural, dan edukatif dalam penatalaksanaan kanker payudara untuk meningkatkan hasil kesehatan yang lebih menyeluruh.   Kata Kunci: Budaya; Deteksi Dini; Edukasi; Kanker Payudara; Terapi Komplementer.
Perbedaan indeks berat badan menurut tinggi badan sebelum dan sesudah pemberian makanan tambahan balita underweight Anggraeni, Mulia; Rakhma, Luluk Ria; Kisnawaty, Sudrajah Warajati
Holistik Jurnal Kesehatan Vol. 19 No. 6 (2025): Volume 19 Nomor 6
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawatan-fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v19i6.1205

Abstract

Background: Nutritional problems in toddlers, particularly underweight, remain a public health challenge in Indonesia. This condition can be influenced by consumption patterns, infections, and indirect factors, such as food access, parenting, sanitation, and health services. Furthermore, mothers' low nutritional knowledge also contributes to children's nutritional status. Lack of supplementary feeding programs is a major factor in the high rates of stunting and wasting in Indonesia. Continuous improvement in the distribution, education, and supervision of supplementary feeding programs is crucial to producing a healthier and more productive generation. Purpose: To determine the difference in body mass index according to height before and after the supplementary feeding programs to underweight infants. Method: A quantitative study using a quasi-experimental method was conducted at the Mojolaban Community Health Center, Sukoharjo, in April 2025. The independent variable was supplementary feeding program, while the dependent variable was weight-for-height. The sampling technique used total sampling, resulting in a sample size of 104 participants based on inclusion and exclusion criteria. Data analysis was performed using univariate analysis in the form of frequency distribution and bivariate analysis using the Wilcoxon test. Results: The mean ± SD of BB/TB Before was −1.7±0.7, with a range of values between −4.90 and −0.30. The mean BB/TB after intervention was −1.69 ± 0.7, with a range of values between −4.76 and 0.28. The Wilcoxon test results showed a p-value of 0.015, indicating a statistically significant difference between BB/TB before and after the supplementary feeding program implementation. Conclusion: Supplementary feeding program for 30 days has been shown to have a significant effect on improving the nutritional status of underweight infants. There was an increase in the Z-score for weight-for-height and the proportion of infants with normal nutritional status, indicating that supplementary feeding program intervention is effective in improving the nutritional status of infants.   Keywords: Body Weight Index; Height; Supplementary Feeding; Toddler; Underweight.   Pendahuluan: Masalah gizi pada balita, khususnya underweight, masih menjadi tantangan kesehatan masyarakat di Indonesia. Kondisi ini dapat dipengaruhi oleh pola konsumsi, infeksi, dan faktor tidak langsung, seperti akses pangan, pola asuh, sanitasi, serta layanan kesehatan. Selain itu, rendahnya pengetahuan ibu tentang gizi juga berkontribusi terhadap status gizi anak. Kurangnya pemberian makanan tambahan (PMT) menjadi faktor utama tingginya angka stunting dan wasting di Indonesia. Perbaikan distribusi, edukasi, dan pengawasan program PMT secara berkelanjutan sangat diperlukan untuk menghasilkan generasi yang lebih sehat dan produktif. Tujuan: Untuk mengetahui perbedaan indeks berat badan menurut tinggi badan (BB/TB) sebelum dan sesudah pemberian makanan tambahan (PMT) pada balita underweight. Metode: Penelitian kuantitatif dengan metode quasi eksperimental, dilaksanakan di Puskesmas Mojolaban, Sukoharjo pada bulan April 2025. Variabel independen dalam penelitian ini adalah Pemberian Makanan Tambahan (PMT), sedangkan variabel dependen adalah berat badan menurut tinggi badan. Teknik pengambilan sampel menggunakan total sampling, didapatkan jumlah sampel sebanyak 104 partisipan. Analisis data yang digunakan adalah univariat dalam bentuk distribusi frekuensi dan bivariat menggunakan uji Wilcoxon. Hasil: Nilai rata-rata (Mean±SD) BB/TB sebelum adalah −1.7±0.7, dengan rentang nilai antara −4.90 hingga −0.30. Nilai rata-rata BB/TB sesudah adalah −1.69±0.7, dengan rentang nilai antara −4.76 hingga 0.28. Hasil uji Wilcoxon menunjukkan p-value sebesar 0.015, yang mengindikasikan adanya perbedaan yang signifikan secara statistik antara BB/TB sebelum dan sesudah pemberian PMT. Simpulan: PMT selama 30 hari terbukti berpengaruh signifikan terhadap perbaikan status gizi balita underweight. Terdapat peningkatan nilai Z-score BB/TB dan proporsi balita dengan status gizi normal, yang menunjukkan bahwa intervensi PMT efektif dalam meningkatkan status gizi balita.   Kata Kunci: Balita; Indeks Berat Badan; Makanan Tambahan; Tinggi Badan; Underweight.
Pengalaman ibu dalam merawat anak dengan thalassemia mayor di rumah singgah thalassemia Banda Aceh Novita, Nia Hairu; Usman, Said; Rani, Hafnidar A
Holistik Jurnal Kesehatan Vol. 19 No. 6 (2025): Volume 19 Nomor 6
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawatan-fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v19i6.1206

Abstract

Background: Thalassemia major is a chronic disease that, when diagnosed in children, can have significant emotional, cognitive, and daily impacts, especially on parents, and can also cause stress. Purpose: To explore mothers' experiences caring for children with thalassemia major at a thalassemia shelter in Banda Aceh. Method: This study used a qualitative design with a grounded theory approach. Interviews were conducted between August and September 2021 with six mothers caring for children with thalassemia major. Five main focus areas were explored: mothers' knowledge of thalassemia, concerns about their children's future, financial difficulties, family/social support received, and family resilience. Results: Parents believed that thalassemia major was not a hereditary disease, but they expressed concerns about their children's future, including the possibility of marriage. Finances were a major concern for families with children with thalassemia major, given that their children require routine monthly medication. Support from the surrounding community, both physical and material, was perceived to have a significant positive impact on mothers and families with children with thalassemia major. Families generally accept their child's condition. Conclusion: Caring for a child with thalassemia major requires time, effort, and expense. Mothers with more experience caring for children are generally more accepting of their child's condition. Suggestion: Healthcare workers in hospitals must be able to fulfill their roles broadly, not only as nurses but also as advocates for children and families concerned about thalassemia.   Keywords: Caregiving; Child; Maternal Experience; Thalassemia Major.   Pendahuluan: Thalassemia mayor merupakan penyakit kronik yang apabila terjadi pada anak dapat memberi dampak, khususnya terhadap orang tua dalam hal emosional, kognitif, dan kesehariannya dan juga dapat menimbulkan stress pada anak. Tujuan: Untuk mengeksplor pengalaman ibu dalam merawat anak dengan thalassemia mayor di rumah singgah thalassemia Banda Aceh Metode: Penelitian ini menggunakan rancangan kualitatif dengan pendekatan grounded theory pada 6 orang ibu yang merawat anak dengan thalasemia mayor dan dilaksanakan pada Agustus–September 2021. Adapun yang digali dalam penelitian ini menyangkut 5 hal yaitu pengetahuan ibu tentang thalasemia, kekhawatiran terhadap masa depan anak, kesulitan finansial, dukungan keluarga /sosial yang diterima, dan ketahanan keluarga. Hasil: Orang tua menganggap bahwa thalassemia mayor bukanlah penyakit keturunan, terdapat kecemasan terhadap masa depan anak, salah satunya adalah kemungkinan untuk bisa berumah tangga. Keuangan menjadi permasalahan utama bagi keluarga dengan anak thalassemia mayor mengingat bahwa anaknya membutuhkan pengobatan setiap bulan secara rutin, dukungan lingkungan sekitar baik secara real maupun materil dirasa sangat berdampak positif kepada ibu dan keluarga yang memiliki anak dengan thalassemia mayor, keluarga umumnya menerima kondisi penyakit anak mereka. Simpulan: Dibutuhkan waktu, tenaga, dan biaya dalam merawat anak dengan thalassemia mayor, biasanya ibu yang telah memiliki pengalaman lebih lama dalam merawat anaknya dapat lebih menerima kondisi penyakit anaknya. Saran: Tenaga kesehatan di tatanan rumah sakit agar dapat menjalankan perannya secara luas selain caring, namun juga mencakup peran sebagai advokasi bagi anak dan keluarga tentang penyakit thalassemia.   Kata Kunci: Anak; Merawat; Pengalaman Ibu; Thalassemia Mayor.