cover
Contact Name
Teguh Pribadi
Contact Email
teguh@malahayati.ac.id
Phone
+6282282204653
Journal Mail Official
holistik@malahayati.ac.id
Editorial Address
Jalan Pramuka No.27 Kemiling Bandar Lampung -Indonesia.
Location
Kota bandar lampung,
Lampung
INDONESIA
Holistik Jurnal Kesehatan
Published by Universitas Malahayati
ISSN : 19783337     EISSN : 26207478     DOI : https://doi.org/10.33024/hjk.v18i10
Core Subject : Health,
Berisi kumpulan karya ilmiah dari peneliti diberbagai perguruan tinggi di Indonesia, di bidang ilmu kesehatan khususnya bidang ilmu keperawatan yang berdasarkan kepada kebutuhan pasien secara total meliputi: kebutuhan fisik, emosi, sosial, ekonomi dan spiritual. Adapun penelitiannya mencakup 4 aspek pokok, yakni: promotif, preventif, kuratif, dan rehabilitatif. Jurnal terbit setiap bulan dan artikel ditulis dalam bahasa Indonesia, untuk abstrak artikel ditulis dengan dua bahasa yaitu bahasa Inggris dan bahasa Indonesia.
Articles 487 Documents
Penerapan pelayanan complementary alternative medicine (CAM) terhadap kesehatan ibu hamil Aryani, Roza; Fuady, Khairul; Suriani, Suriani
Holistik Jurnal Kesehatan Vol. 19 No. 8 (2025): Volume 19 Nomor 8
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawatan-fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v19i8.1329

Abstract

Background: During pregnancy, a pregnant woman's body adapts to the growth and development of the fetus in the womb, thus undergoing both physical and psychological changes. These physical and psychological changes during pregnancy can cause discomfort in pregnant women. Responses to discomfort can be mild complaints that require appropriate treatment from midwives as the primary care providers in the community to prevent serious complaints. Midwifery services are currently experiencing a shift and dynamics, where this shift is the return to implementing complementary therapies in midwifery services. For many midwives and women, complementary midwifery services are an option to reduce medical interventions during pregnancy and childbirth, and based on experience, this is quite helpful. Purpose: To determine the application of complementary and alternative medicine (CAM) services to the health of pregnant women. Method: This type of research is quantitative, this research design is an analytical survey. This study used a cross-sectional method. The population in this study were all midwives working in Community Health Centers in Banda Aceh City, totaling 179 midwives in 2024 with a total of 11 Community Health Centers. The sampling technique in this study used accidental sampling with univariate and bivariate analysis using the Chi-square test via SPSS software. Results: There is a relationship between the type of complementary midwifery services and maternal health, with a p-value of 0.001. The application of CAM in pregnant women has significant potential to improve holistic health, both physically and emotionally Conclusion: However, standardization, medical supervision, and increased awareness of the appropriate use of CAM are needed to avoid risks.   Keywords: Complementary and Alternative Medicine (CAM); Midwifery; Pregnant Women.   Pendahuluan: Selama masa kehamilan, tubuh ibu hamil menyesuaikan diri dengan tumbuh kembang janin di dalam kandungan sehingga mengalami perubahan baik fisik maupun psikologis. Perubahan fisik dan psikologis yang dialami pada masa kehamilan dapat menimbulkan ketidaknyamanan pada ibu hamil. Respon terhadap ketidaknyamanan dapat berupa keluhan ringan sehingga memerlukan penanganan secara tepat dari bidan sebagai pemberi pelayanan terdepan di masyarakat agar tidak menjadi keluhan yang berat. Pelayanan kebidanan saat ini mengalami pergeseran dan dinamika dimana pergesaran tersebut yaitu kembalinya menerapkan terapi komplementer dalam aplikasi pelayanan kebidanan. Bagi banyak bidan dan wanita, pelayanan kebidanan komplementer adalah pilihan untuk mengurangi intervensi medis saat hamil dan melahirkan, dan berdasarkan pengalaman hal tersebut cukup membantu. Tujuan: Untuk mengetahui penerapan pelayanan complementary and alternatif medicine (CAM) terhadap kesehatan pada ibu hamil. Metode: Jenis penelitian ini bersifat kuantitatif, desain penelitian ini adalah survei analitik. Penelitian ini menggunakan metode cross sectional. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh bidan yang bekerja di Puskesmas wilayah Kota Banda Aceh yang berjumlah 179 bidan pada tahun 2024 dengan jumlah 11 Puskesmas. teknik pengambilan sampel dalam penelitian ini menggunakan accidental sampling. Analisis data yang digunakan univariat dalam bentuk distribusi frekuensi dan bivariat menggunakan uji chi square. Hasil: Ada hubungan jenis pelayanan kebidanan komplementer terhadap kesehatan pada ibu hamil dengan nilai p value 0.001 Simpulan: Penerapan CAM pada ibu hamil memiliki potensi besar dalam meningkatkan kesehatan secara holistik, baik dari aspek fisik maupun emosional. Namun, perlu adanya standarisasi, pengawasan medis, dan peningkatan kesadaran tentang penggunaan CAM yang tepat agar tidak menimbulkan risiko.   Kata Kunci: Complementary and Alternative Medicine (CAM); Ibu Hamil; Kebidanan; Kesehatan.
Prediksi dukungan sosial terhadap kesepian pada lansia Putri, Audy Oktavioni Tiara; Kholidah, Nurilla; Hasbiah, Isratul; Ulum, Marsal Nafisa
Holistik Jurnal Kesehatan Vol. 19 No. 8 (2025): Volume 19 Nomor 8
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawatan-fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v19i8.1332

Abstract

Background: Over time, older adults experience both physical and psychological changes, making them vulnerable to loneliness. Adequate social support, whether from friends, family, or significant others, is a key strategy for overcoming loneliness. Purpose: To analyze the role of social support in reducing loneliness in older adults. Method: This observational, analytical study employed a cross-sectional approach. A sample size of 74 respondents at the Husnul Khatimah Elderly Home in Malang, selected using purposive sampling, was selected. Data were collected using the Multidimensional Scale of Perceived Social Support (MSPSS) questionnaire to measure social support and the UCLA Loneliness Scale version 3 questionnaire to measure loneliness. Data were analyzed using the Spearman Rank correlation test using SPSS version 27 software. Results: A total of 36 respondents (48.6%) reported moderate levels of social support, and the majority also reported moderate levels of loneliness (45.9%). The Spearman Rank correlation test yielded a p-value of 0.001 (<0.05). Conclusion: There is a negative relationship between social support and loneliness levels in the elderly.   Keywords: Elderly; Loneliness; Social Support.   Pendahuluan: Seiring berjalannya waktu, lansia akan mengalami perubahan baik dari segi fisik maupun psikologis sehingga dapat menjadikan lansia rentan mengalami kesepian. Dukungan sosial yang memadai, baik dari teman, keluarga atau orang penting lainnya menjadi strategi utama dalam mengatasi kesepian. Tujuan: Untuk menganalisis prediksi dukungan sosial terhadap kesepian pada lansia. Metode: Penelitian observasional analitik menggunakan pendekatan cross-sectional dengan jumlah sampel sebanyak 74 responden di Panti Griya Lansia Husnul Khatimah, Malang, dipilih menggunakan purposive sampling. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner Multidimensional Scale of Perceived Social Support (MSPSS) untuk mengukur tingkat dukungan sosial dan kuesioner UCLA Loneliness Scale version 3 untuk mengukur tingkat kesepian. Data dianalisis menggunakan uji korelasi Spearman Rank dengan bantuan perangkat lunak SPSS versi 27. Hasil: Sebanyak 36 responden (48.6%) memiliki dukungan sosial dalam kategori sedang dan mayoritas responden juga memiliki tingkat kesepian dalam kategori sedang 45.9 (45.9%). Berdasarkan hasil uji korelasi Spearman Rank didapatkan nilai p 0.001 (<0.05). Simpulan: Terdapat hubungan negatif antara dukungan sosial dengan tingkat kesepian pada lansia.   Kata Kunci: Dukungan Sosial; Kesepian; Lansia.
Pendekatan manajerial bidan dalam penerapan asuhan: A literature review Aulia, Devy Lestari Nurul; Anjani, Arum Dwi; Windari, Anggun; Romania, Dwi; Octafera, Nasywa Putri; Novira, Selvi; Syaira, Marchellya; Zahra, Ikqlima; Kurniasari, Zeti; Susanti, Nora Elvi; Tambunan, Lidia Martianna
Holistik Jurnal Kesehatan Vol. 19 No. 8 (2025): Volume 19 Nomor 8
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawatan-fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v19i8.1341

Abstract

Background: The identified phenomenon is that midwives are required to provide evidence-based, standardized, and professional care to ensure the health and quality of life of infants and mothers. Improving the quality of midwifery services can be achieved through strategic steps, including a midwifery managerial approach to midwifery care. This managerial approach can provide clear direction, especially in the context of midwifery services, such as practice in hospitals, community health centers, or independent practice. Purpose: To examine the midwifery managerial approach to midwifery care. Method: A literature review and search were conducted using databases such as Google Scholar Garuda (Garba Digital Reference), PubMed, and ResearchGate, using keywords such as "midwifery managerial approach," "midwifery care," "midwifery care management," "midwives and reproductive education," and "management-based midwifery services." After searching, filtering and synthesis were conducted in accordance with PRIMA guidelines. Results: The midwife's managerial approach to care delivery is the process of providing care to clients (families, infants, or mothers) through responsible, organized, and systematic nursing services. Generally, there are three steps in implementing the midwife's managerial approach to care delivery: supporting appropriate clinical decision-making, ensuring continuity of individualized and holistic care, and providing safe, efficient, and effective care. Conclusion: The steps in the midwife's managerial approach to care delivery include reviewing data, formulating the problem or diagnosis, establishing success criteria and objectives, planning actions, implementing actions, and evaluating actions.   Keywords: Midwife; Managerial Approach; Midwifery Care.   Pendahuluan: Fenomena yang ditemukan, bidan memiliki tuntutan dalam pemberian asuhan berbasis bukti guna, terstandar, serta professional dalam menjamin kesehatan serta kualitas hidup bayi dan ibu. Dalam peningkatan mutu pelayanan kebidanan dapat dilakukan melalui langkah strategis melalui pendekatan manajerial bidan dalam penerapan asuhan kebidanan. Pendekatan manajerial yang dilakukan tersebut dapat memberikan arahan yang jelas, khsusunya pada konteks pelayanan kebidanan, misalnya pada praktik rumah sakit, puskesmas, ataupun praktik mandiri. Tujuan: Untuk mengkaji pendekatan manajerial bidan dalam penerapan asuhan. Metode: Penelitian literature review dan pencarian dilakukan menggunakan database, seperti Google Scholar Garuda (Garba Rujukan Digital), PubMed, dan ResearchGate dengan penggunaan kata kunci “pendekatan manajerial bidan”, “asuhan kebidanan”, “manajemen asuhan kebidanan”, “bidan dan edukasi reproduksi”, serta “pelayanan kebidanan berbasis manajemen”. Setelah dilakukan pencarian, proses screening dan sintesa dilakukan menurut PRIMA guideline. Hasil: Pendekatan manajerial bidan dalam penerapan asuhan adalah salah satu proses dalam memberikan asuhan terhadap klien (keluarga, bayi, atau ibu) melalui pemberian pelayanan kebinanan dengan tanggung jawab, terorganisir, serta sistematis. Secara umum terdapat tiga langkah dalam menerapkan pendekatan manajerial bidan dalam penerapan asuhan diantaranya adalah mendukung proses pengambilan keputusan klinis yang tepat, menjamin kontinuitas pelayanan secara individual dan holistik, serta memberikan asuhan yang aman, efisien, dan efektif. Simpulan: Langkah-langkah dalam pendekatan manajerial bidan dalam penerapan asuhan diantaranya adalah mengkaji data, merumuskan masalah atau diagnosa, menetapkan kriteria keberhasilan dan tujuan, merencanakan tindakan, melaksanakan tindakan, serta dilakukan evaluasi.   Kata Kunci: Asuhan Kebidanan; Bidan; Pendekatan Manajerial.
Hubungan antara kebiasaan menyikat gigi dan konsumsi makanan tinggi gula dengan kejadian karies gigi pada anak sekolah dasar Lumintang, Fredlen Christo Sampouw; Asrifuddin, Afnal; Kalesaran, Angela Fitriani Clementine
Holistik Jurnal Kesehatan Vol. 19 No. 8 (2025): Volume 19 Nomor 8
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawatan-fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v19i8.1343

Abstract

Background: Dental caries is a condition of tooth tissue damage caused by bacterial activity triggered by poor oral hygiene and consumption of high-sugar foods. Dental caries in school-age children can disrupt learning activities by causing pain and reducing self-confidence. In Indonesia, the incidence of dental caries remains high, including in North Sulawesi. Irregular tooth brushing habits and consumption of sweet foods are the main factors causing caries in elementary school students. Purpose: To determine the relationship between tooth brushing habits and consumption of high-sugar foods with the incidence of dental caries in elementary school children. Method: An analytical survey study with a cross-sectional design was conducted to analyze the relationship between risk factors and the incidence of dental caries in elementary school children. Results: The bivariate analysis yielded a p-value of 0.000 (p<0.05), meaning H0 was rejected and the hypothesis was accepted. This indicates a relationship between tooth brushing habits and consumption of high-sugar foods with the incidence of dental caries in elementary school children. Conclusion: There is a significant relationship between poor tooth brushing habits and consumption of high-sugar foods with an increased risk of dental caries. Suggestion: For future researchers, these results can be used as a reference, but by adding other methods or variables that are not yet in this study.   Keywords: Consumption of High-Sugar Foods; Dental Caries; Toothbrushing Habits.   Pendahuluan: Karies gigi adalah kondisi rusaknya jaringan gigi akibat aktivitas bakteri yang dipicu oleh kebersihan mulut yang buruk dan konsumsi makanan tinggi gula. Karies gigi yang terjadi pada anak usia sekolah dapat mengganggu aktivitas belajar karena menimbulkan rasa sakit dan menurunkan kepercayaan diri. Di Indonesia, angka kejadian karies gigi masih tinggi, termasuk di Sulawesi Utara. Kebiasaan menyikat gigi yang tidak teratur dan konsumsi makanan manis menjadi faktor utama penyebab karies pada siswa sekolah dasar. Tujuan: Untuk mengetahui hubungan antara kebiasaan menyikat gigi dengan konsumsi makanan tinggi gula terhadap kejadian karies gigi pada anak sekolah dasar. Metode: Penelitian survei analitik dengan desain potong lintang untuk menganalisis hubungan faktor risiko dengan kejadian karies gigi pada anak sekolah dasar. Hasil: Analisis bivariat diperoleh p value sebesar 0.000 (p<0.05), artinya H0 ditolak maka hipotesis diterima. Hal ini menunjukkan terdapat hubungan kebiasaan menyikat gigi dan konsumsi makanan tinggi gula terhadap kejadian karies gigi pada anak sekolah dasar. Simpulan: Terdapat hubungan signifikan antara kebiasaan menyikat gigi yang buruk dan konsumsi makanan tinggi gula dengan peningkatan risiko karies gigi. Saran: Bagi peneliti selanjutnya dapat menggunakan hasil ini sebagai referensi, namun dengan menambah metode lain atau dengan menambahkan variabel yang belum ada pada penelitian ini.   Kata Kunci: Karies Gigi; Kebiasaan Menyikat Gigi; Konsumsi Makanan Tinggi Gula.
Hubungan antara penggunaan konten kuliner di media sosial dengan peningkatan nafsu makan pada lansia Nuriana, Aziz Anugerah; Iklimah, Siti
Holistik Jurnal Kesehatan Vol. 19 No. 8 (2025): Volume 19 Nomor 8
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawatan-fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v19i8.1375

Abstract

Background: Decreased appetite is a common problem among the elderly due to physiological changes such as decreased sensitivity to taste and smell, as well as psychological factors such as stress or loneliness. This condition can lead to decreased nutritional intake, which can lead to malnutrition and other health problems. Furthermore, the development of digital technology and the widespread use of social media have changed interaction and information consumption patterns across various age groups, including the elderly. One popular form of content is culinary content, which generally displays food visuals with attractive displays, appetizing colors, and aesthetic presentation. Exposure to this type of content has the potential to stimulate the brain's appetite-related centers, thereby increasing the desire to consume food. Purpose: To analyze the relationship between the use of culinary content on social media and increased appetite in the elderly.Method: The study used an observational cross-sectional approach, involving elderly people who actively use social media at Sari Asih Hospital, Serang. Results: The Spearman test showed a correlation coefficient (r) of 0.24 with a p-value of 0.03, indicating a statistically significant relationship between social media use and increased appetite in the elderly. Conclusion: There is a significant relationship between exposure to culinary content on social media and increased appetite in the elderly population. This finding suggests that social media has the potential to be a non-pharmacological tool to support improved nutritional intake and quality of life in the elderly.   Keywords: Appetite; Culinary Content; Elderly; Social Media.   Pendahuluan: Penurunan nafsu makan merupakan salah satu masalah yang sering dialami oleh lansia akibat perubahan fisiologis seperti penurunan sensitivitas indera pengecap dan penciuman, serta faktor psikologis seperti stres atau kesepian. Kondisi ini dapat berdampak pada penurunan asupan nutrisi, yang berisiko menimbulkan malnutrisi dan gangguan kesehatan lainnya. Di sisi lain, perkembangan teknologi digital dan maraknya penggunaan media sosial telah mengubah pola interaksi dan konsumsi informasi di berbagai kelompok usia, termasuk lansia. Salah satu konten yang banyak diminati adalah konten kuliner, umumnya menampilkan visual makanan dengan tampilan menarik, warna yang menggugah selera, serta penyajian yang estetik. Paparan terhadap konten semacam ini berpotensi merangsang pusat otak yang berhubungan dengan nafsu makan, sehingga dapat mendorong keinginan untuk mengonsumsi makanan. Tujuan: Untuk menganalisis hubungan antara penggunaan konten kuliner di media sosial dengan peningkatan nafsu makan pada lansia. Metode: Desain observasional menggunakan pendekatan cross-sectional dengan melibatkan lansia yang aktif menggunakan media sosial di Rumah Sakit Sari Asih, Serang. Hasil: Uji Spearman menunjukkan koefisien korelasi (r) = 0.24 dengan nilai p = 0.03, mengindikasikan adanya hubungan yang signifikan secara statistik antara penggunaan media sosial dan peningkatan nafsu makan pada lansia. Simpulan: Adanya hubungan yang signifikan antara paparan konten kuliner di media sosial dan peningkatan nafsu makan pada populasi lanjut usia. Temuan ini menunjukkan bahwa media sosial berpotensi menjadi salah satu sarana nonfarmakologis untuk mendukung peningkatan asupan gizi dan kualitas hidup lansia.   Kata Kunci:  Konten Kuliner; Lansia; Media Sosial; Nafsu Makan.
Hubungan perilaku hidup bersih dan sehat dengan kejadian diare pada mahasiswa Maramis, Putri Anggelina Sofyan; Drew, Clement
Holistik Jurnal Kesehatan Vol. 19 No. 8 (2025): Volume 19 Nomor 8
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawatan-fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v19i8.1377

Abstract

Background: Diarrhea is a common illness in the community, especially among college students. This condition can cause decreased appetite, abdominal pain, fatigue, and weight loss. Rapid fluid and electrolyte loss can also lead to dehydration, organ damage, and even coma. One effective way to prevent diarrhea is by implementing clean and healthy living behaviors. Purpose: To determine the relationship between clean and healthy living behaviors and the incidence of diarrhea in college students. Method: This is an observational analytical study with a cross-sectional design. Data were collected through questionnaires distributed to students of the Faculty of Medicine, Tarumanagara University, intake of 2022 during February–March 2024. The sampling technique used quota-based sampling with a minimum of 194 respondents. The relationship analysis was performed using the Mann-Whitney test. Results: There was no significant relationship between the implementation of clean and healthy living behaviors and the incidence of diarrhea in respondents. Conclusion: Students' behavior and knowledge regarding clean and healthy living behaviors are quite good and have been implemented in their daily lives. However, to prevent diarrhea more effectively, regarding clean and healthy living behaviors implementation still needs to be improved.   Keywords: Diarrhea; Clean and Healthy Living Behavior; Knowledge.   Pendahuluan: Diare merupakan salah satu penyakit yang umum terjadi di masyarakat, terutama di kalangan mahasiswa. Kondisi ini dapat menyebabkan penurunan nafsu makan, nyeri perut, kelelahan, hingga penurunan berat badan. Kehilangan cairan dan elektrolit secara cepat juga dapat menimbulkan dehidrasi, kerusakan organ, bahkan koma. Salah satu upaya pencegahan diare yang efektif adalah dengan menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS). Tujuan: Untuk mengetahui hubungan perilaku hidup bersih dan sehat dengan kejadian diare pada mahasiswa. Metode: Penelitian analitik observasional dengan desain cross-sectional. Data dikumpulkan melalui penyebaran kuesioner pada mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara angkatan 2022 selama Februari–Maret 2024. Teknik pengambilan sampel menggunakan metode quota-based sampling dengan jumlah minimum 194 responden. Analisis hubungan dilakukan menggunakan uji Mann-Whitney. Hasil: Tidak terdapat hubungan yang signifikan antara penerapan perilaku hidup bersih dan sehat dengan kejadian diare pada responden. Simpulan: Perilaku dan pengetahuan mahasiswa terkait perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) sudah cukup baik dan telah diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Namun, untuk mencegah kejadian diare secara lebih efektif, penerapan PHBS masih perlu ditingkatkan.   Kata Kunci: Diare; Pengetahuan; Perilaku Hidup Bersih Dan Sehat (PHBS).
Hubungan muniru (api-apian) dengan tingkat keparahan pasien tuberkulosis paru Kartini, Kartini; Fahdhienie, Farrah; Hermansyah, Hermansyah
Holistik Jurnal Kesehatan Vol. 19 No. 8 (2025): Volume 19 Nomor 8
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawatan-fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v19i8.1389

Abstract

Background: Pulmonary tuberculosis (TB) remains a public health problem in Indonesia, particularly in areas with specific cultural practices that can worsen patient conditions. One common cultural practice in highland areas such as Bener Meriah Regency is Muniru (burning fire), which involves burning wood indoors to warm the body, resulting in continuous exposure to household smoke. This practice is thought to contribute to the severity of TB in patients. Purpose: To determine the relationship between the habit of muniru (burning fire) and the severity of pulmonary TB in patients. Method: This study used a mixed methods approach combining quantitative and qualitative data. Quantitative data were obtained from 96 patients with smear-positive pulmonary TB selected through purposive sampling and analyzed using chi-square tests and logistic regression. Qualitative data were collected through in-depth interviews with three patients and three healthcare workers. Results: The habit of muniru was significantly associated with TB severity (p=0.000; OR=1.40) and was the most dominant factor in the multivariate model. Respondents who frequently experienced muniru were more likely to develop severe TB. Meanwhile, education level also had a significant influence; Low education increases the risk of TB severity. Conclusion: Exposure to smoke from muniru significantly increases the severity of pulmonary tuberculosis. Culturally based educational interventions and improvements to the household environment are needed as preventative strategies.   Keywords: Fire; Muniru Habits; Severity; Pulmonary Tuberculosis.   Pendahuluan: Tuberkulosis (TB) paru masih menjadi masalah kesehatan masyarakat di Indonesia, terutama di daerah dengan kebiasaan budaya tertentu yang dapat memperburuk kondisi pasien. Salah satu praktik budaya yang masih umum dilakukan di dataran tinggi seperti Kabupaten Bener Meriah adalah Muniru (api-apian), yaitu kegiatan membakar kayu di dalam ruangan untuk menghangatkan tubuh, sehingga menghasilkan paparan asap rumah tangga secara terus-menerus. Kebiasaan ini diduga berkontribusi terhadap tingkat keparahan TB pada penderita. Tujuan: Untuk mengetahui hubungan antara kebiasaan muniru (api-apian) dengan tingkat keparahan pasien tuberkulosis paru. Metode: Penelitian menggunakan pendekatan mix method yang menggabungkan data kuantitatif dan kualitatif. Data kuantitatif diperoleh dari 96 pasien TB paru BTA (+) yang dipilih secara purposive sampling dan dianalisis menggunakan uji chi-square dan regresi logistik. Sementara itu, data kualitatif dikumpulkan melalui wawancara mendalam terhadap 3 pasien dan 3 tenaga kesehatan. Hasil: Kebiasaan muniru memiliki hubungan signifikan dengan keparahan TB (p=0.000; OR=1.40), dan menjadi faktor paling dominan dalam model multivariat. Responden yang sering muniru cenderung mengalami TB berat. Sementara itu, tingkat pendidikan juga memiliki pengaruh signifikan, pendidikan rendah meningkatkan risiko keparahan TB. Simpulan: Paparan asap dari kebiasaan muniru secara signifikan meningkatkan tingkat keparahan tuberkulosis paru. Diperlukan intervensi edukatif berbasis budaya lokal dan perbaikan lingkungan rumah tangga sebagai strategi pencegahan.   Kata Kunci: Api-Apian; Kebiasaan Muniru; Tingkat Keparahan; Tuberkulosis Paru.
Hubungan antara stres dengan kualitas tidur pada peserta didik di SMA Zendrato, Lastri Ningsih; Adam, Hilman; Malonda, Nancy Swanida Henriette
Holistik Jurnal Kesehatan Vol. 19 No. 8 (2025): Volume 19 Nomor 8
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawatan-fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v19i8.1393

Abstract

Background: Sleep plays a vital role in maintaining a person’s physical, cognitive, and psychological health. Globally, the prevalence of sleep disorders ranges from 15.3% to 39.2%. In Indonesia, around 10% of the population, equivalent to approximately 23 million people, are estimated to experience sleep disturbances. Based on data from Basic Health Research (Riskesdas), 43.7% of individuals aged 12–18 years reported sleep problems. Moreover, previous studies have shown that 71.3% of adolescent girls experience inadequate sleep compared to 66.4% of boys. Purpose: To determine the correlation between stress levels and sleep quality among high school students. Method: A quantitative analytical observational design with a cross-sectional approach. The study was conducted at State Senior High School 9 Manado from May to July 2025. The sampling technique used was total sampling, with a total of 285 respondents who met the inclusion criteria. Data were collected online using a structured questionnaire distributed via Google Forms through WhatsApp. The data were analyzed using univariate and bivariate methods, and the Spearman Rank correlation test was applied to identify the relationship between variables. Results: The majority of respondents were aged 18 years (48.4%) with a standard deviation of 0.7332. Most participants were female (157 respondents or 55.1%). Regarding sleep quality, 221 respondents (77.5%) reported poor sleep quality, and 225 respondents (78.9%) experienced stress. The analysis showed an r value of 0.215 and a p value of 0.000, indicating a significant positive relationship between stress and poor sleep quality among respondents. Conclusion: The findings indicate that higher stress levels are significantly associated with poor sleep quality among students. It is suggested that schools and health professionals provide stress management programs, promote awareness of healthy sleep patterns, and encourage balanced academic workloads to enhance students’ overall well-being. Suggestion: Future studies are recommended to include other factors that may influence sleep quality, such as anxiety levels, social media habits, and peer support. In addition, the use of qualitative or mixed-methods approaches is encouraged to explore adolescents’ subjective experiences related to stress and sleep disturbances in more depth.   Keywords: Adolescents; High School Students; Mental Health; Sleep Quality; Stress.   Pendahuluan: Tidur merupakan suatu hal yang sangat esensial karena dapat memengaruhi kondisi fisik, kognitif, dan psikologis manusia. Secara global, prevalensi gangguan kualitas tidur sangat bervariasi mulai 15.3-39.2%. Indonesia memiliki tingkat penderita gangguan tidur yang diperkirakan mencapai 10% yang berjumlah sekitar 23 juta penduduk. Menurut data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas), sekitar 43.7% penduduk yang berusia 12-18 tahun mengalami gangguan pola kualitas tidur. Selain itu, sebuah hasil penelitian menunjukkan bahwa remaja putri kurang tidur sebesar  71.3%, dibandingkan remaja laki-laki sebesar 66.4%. Tujuan: Untuk menganalisis hubungan antara stres dengan kualitas tidur pada peserta didik di SMA. Metode: Penelitian kuantitaif dengan desain studi observasional analitik menggunakan pendekatan cross sectional study. dilaksanakan di SMA Negeri 9 Manado, pada bulan Mei - Juli 2025. Teknik  pengambilan sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah total sampling. Dari total sampel yang telah ditentukan, sampel yang memenuhi kriteria yaitu sebanyak 285 responden. Penelitian dilakukan secara online dengan membagikan kuesioner dalam bentuk google form kepada responden melalui Whatssap. Analisis data yang digunakan adalah analisis univariat dan analisis bivariat menggunakan uji korelasi Spearman Rank. Hasil: Rata-rata responden yang berusia 16 tahun berjumlah 138 (48.4%) dengan nilai standar deviasi 0.7332. Sebagian besar responden berjenis kelamin perempuan sebanyak 157 responden (55.1%). Distribusi kualitas tidur, dapat diketahui bahwa sebagian responden memiliki kualitas tidur buruk berjumlah 221 responden (77.5%) dan megalami stres sebanyak 225 responden (78.9%) dengan perolehan nilai r sebesar 0.215 dan p-value 0.000. Hal ini menunjukkan bahwa kualitas tidur berpengaruh terhadap tingkat stres yang dialami oleh responden. Simpulan: Stres yang dialami oleh peserta didik memiliki hubungan yang signifikan terhadap kualitas tidur yang buruk. Oleh karena itu, diperlukan intervensi yang mencakup manajemen stres, edukasi pola tidur sehat, serta pengaturan akademik yang proporsional agar kesejahteraan siswa secara fisik dan psikologis dapat di tingkatkan. Saran: Peneliti selanjutnya dapat meneliti variabel lain yang dapat memengaruhi kualitas tidur, seperti kecemasan, kebiasan penggunaan media sosial, atau dukungan sosial dari teman sebaya. Selain itu, pendekatan kualitatif atau campuran (mixed-method) dapat memberikan pemahaman yang terkait pengalaman subjektif dan gangguan tidur pada remaja.   Kata Kunci: Kesehatan Mental; Kualitas Tidur; Remaja; Siswa Sekolah Menengah; Stres.
Program intervensi pencegahan penyalahgunaan narkotika di Indonesia: A literature review Febriyaningsih, Laeli; Intiasari, Arih Diyaning; Gamelia, Elviera
Holistik Jurnal Kesehatan Vol. 19 No. 8 (2025): Volume 19 Nomor 8
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawatan-fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v19i8.1411

Abstract

Background: Drug abuse among adolescents in Indonesia remains a serious public health issue. In response to this phenomenon, the government has implemented various forms of preventive interventions, such as mandatory rehabilitation programs, school counseling activities, and the involvement of religious institutions in anti-drug campaigns. Purpose: To review drug abuse prevention intervention programs in Indonesia. Method: This systematic literature review (SLR) examined seven primary articles published between 2015 and 2025, analyzed from Google Scholar, Scopus, PubMed, and ResearchGate. Results: The most common interventions were peer education in schools, community cadre training, and culture-based approaches. All programs demonstrated significant increases in knowledge and decreases in risky behaviors (p < 0.05). Internal factors such as participatory methods and contextual delivery contributed to success, while external challenges included social stigma and lack of family support. Conclusion: The most common and effective drug abuse prevention intervention in Indonesia is school-based education programs. The success of the program depends heavily on contextual delivery methods, active participant engagement, and supportive social environments. However, challenges such as stigma, lack of participation, and structural barriers remain limiting factors, necessitating adaptive, participatory, and community-based interventions to ensure the sustainability of their impact.   Keywords: Abuse; Narcotics; Preventio.   Pendahuluan: Penyalahgunaan narkotika di kalangan remaja di Indonesia masih menjadi isu kesehatan masyarakat yang serius. Sebagai bentuk tanggapan terhadap fenomena ini, pemerintah telah menerapkan berbagai bentuk intervensi pencegahan, seperti program rehabilitasi wajib, kegiatan penyuluhan di lingkungan sekolah, serta pelibatan lembaga keagamaan dalam kampanye anti narkoba. Tujuan: Untuk meninjau program intervensi pencegahan penyalahgunaan narkotika di Indonesia. Metode: Penelitian systematic literature review (SLR) yang meninjau tujuh artikel primer terbitan tahun 2015–2025, dianalisis dari Google Scholar, Scopus, PubMed, dan ResearchGate. Hasil: Intervensi yang paling umum adalah edukasi teman sebaya di sekolah, pelatihan kader komunitas, dan pendekatan berbasis budaya. Seluruh program menunjukkan peningkatan pengetahuan dan penurunan perilaku berisiko secara signifikan (p < 0.05). Faktor internal seperti metode partisipatif dan penyampaian kontekstual mendukung keberhasilan, sedangkan tantangan eksternal mencakup stigma sosial dan minimnya dukungan keluarga. Simpulan: Intervensi pencegahan penyalahgunaan narkotika yang paling umum dan efektif di Indonesia adalah program edukasi berbasis sekolah. Keberhasilan program sangat bergantung pada metode penyampaian yang kontekstual, keterlibatan aktif peserta, dan dukungan lingkungan sosial. Namun, tantangan seperti stigma, kurangnya partisipasi, dan hambatan struktural masih menjadi faktor penghambat, sehingga diperlukan intervensi yang adaptif, partisipatif, dan berbasis komunitas untuk memastikan keberlanjutan dampaknya.   Kata Kunci: Narkotika; Pencegahan; Penyalahgunaan.
Kebiasaan dan pola makan sebagai faktor penentu kesehatan mental remaja: Sebuah tinjauan sistematis Fiohana, Puput
Holistik Jurnal Kesehatan Vol. 19 No. 8 (2025): Volume 19 Nomor 8
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawatan-fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v19i8.1413

Abstract

Background: Mental health is an essential aspect of overall well-being, especially during adolescence when individuals experience rapid physical, emotional, and social development. Adolescents are particularly vulnerable to mental health problems such as anxiety and depression. It is increasingly acknowledged that dietary habits significantly influence mental health outcomes among youth. Therefore, this study aims to explore how diet and eating habits affect the mental health of adolescents. Purpose: To examine and synthesize research findings that investigate the correlation between adolescents’ dietary patterns and mental health disorders, particularly anxiety and depression. Method: A systematic review using a descriptive analytical approach. The selection of articles followed inclusion and exclusion criteria in accordance with the Preferred Reporting Items for Systematic Reviews and Meta-Analyses (PRISMA) guidelines. Eleven quantitative studies published between 2015 and 2025 were reviewed. The analysis focused on identifying common patterns linking eating behaviors and mental health outcomes among adolescents. Results: Unhealthy dietary practices, such as excessive consumption of sugar and saturated fats, were consistently associated with higher levels of anxiety. Conversely, adolescents with higher intake of fiber-rich foods, especially fruits and vegetables, showed lower risks of depression. In addition, several studies emphasized the positive impact of micronutrients including vitamin D, B vitamins, and omega-3 fatty acids in maintaining and improving adolescents’ mental health status. Conclusion: There is a strong relationship between dietary habits and adolescent mental health. Promoting healthy eating behaviors and supportive food environments may help reduce the risk of anxiety and depression among youth. To gain a better understanding of the long-term effects, further longitudinal studies are recommended to examine the connection between diet and mental health across adolescence and into adulthood.   Keywords: Adolescents; Eating Habits; Mental Health.   Pendahuluan: Kesehatan mental merupakan aspek penting dari kesejahteraan secara keseluruhan, terutama pada masa remaja ketika individu mengalami perkembangan fisik, emosional, dan sosial yang pesat. Remaja tergolong rentan terhadap berbagai gangguan kesehatan mental seperti kecemasan dan depresi. Saat ini, semakin diakui bahwa kebiasaan makan memiliki pengaruh yang signifikan terhadap kondisi kesehatan mental di kalangan remaja. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi bagaimana pola makan dan kebiasaan makan dapat memengaruhi kesehatan mental remaja. Tujuan: Untuk menelaah dan mensintesis hasil penelitian yang mengkaji korelasi antara pola makan remaja dan gangguan kesehatan mental, khususnya kecemasan dan depresi. Metode: Penelitian desain systematic review dengan pendekatan deskriptif analitis. Pemilihan artikel dilakukan berdasarkan kriteria inklusi dan eksklusi yang telah ditetapkan, mengacu pada pedoman Preferred Reporting Items for Systematic Reviews and Meta-Analyses (PRISMA). Sebanyak sebelas penelitian kuantitatif yang diterbitkan antara tahun 2015 hingga 2025 ditinjau. Analisis difokuskan pada pengidentifikasian pola umum yang menghubungkan perilaku makan dengan hasil kesehatan mental pada remaja. Hasil: Pola makan yang tidak sehat, seperti tingginya konsumsi gula dan lemak jenuh, secara konsisten dikaitkan dengan peningkatan tingkat kecemasan. Sebaliknya, asupan tinggi serat, terutama dari buah dan sayuran, berhubungan dengan risiko depresi yang lebih rendah. Selain itu, beberapa penelitian menyoroti manfaat mikronutrien seperti vitamin D, vitamin B kompleks, dan asam lemak omega-3 dalam menjaga dan meningkatkan kesehatan mental remaja. Simpulan: Terdapat hubungan yang kuat antara kebiasaan makan dan kesehatan mental remaja. Upaya untuk mempromosikan pola makan sehat serta menciptakan lingkungan makan yang mendukung dapat membantu mengurangi risiko kecemasan dan depresi pada remaja. Untuk memperoleh pemahaman yang lebih mendalam mengenai efek jangka panjang, penelitian longitudinal lebih lanjut diperlukan guna menelusuri hubungan antara pola makan dan kesehatan mental dari masa remaja hingga dewasa.   Kata Kunci: Kebiasaan Makan; Kesehatan Mental; Remaja.