cover
Contact Name
Kusroni
Contact Email
Jurnal.kaca.alfithrah@gmail.com
Phone
+628563459899
Journal Mail Official
jurnal.kaca.alfithrah@gmail.com
Editorial Address
Jl. Kedinding Lor 30 Surabaya 60129
Location
Kota surabaya,
Jawa timur
INDONESIA
Jurnal KACA
ISSN : 23525890     EISSN : 25976664     DOI : https://doi.org/10.36781
KACA (Karunia Cahaya Allah) : Jurnal Dialogis Ilmu Ushuluddin diterbitkan oleh Jurusan Ushuluddin Sekolah Tinggi Agama Islam Al Fithrah Surabaya. Jurnal ini memuat kajian-kajian keislaman yang meliputi Tafsir, Hadis, Tasawuf, Pemikiran Islam, dan kajian Islam lainnya. Terbit dua kali setahun, yaitu bulan Februari-Agustus. Redaksi mengundang para akademisi, dosen, maupun peneliti untuk berkontribusi memasukkan artikel ilmiahnya yang belum pernah diterbitkan oleh jurnal lain. Naskah diketik dengan spasi 1 (satu) spasi pada kertas ukuran B5 dengan panjang tulisan antara 15-25 halaman, 5000-7000 kata. Naskah yang masuk dievaluasi oleh dewan redaksi. Redaktur dapat melakukan perubahan pada tulisan yang dimuat untuk keseragaman format, tanpa mengubah substansinya.
Arjuna Subject : Umum - Umum
Articles 8 Documents
Search results for , issue "Vol. 14 No. 1 (2024): Februari" : 8 Documents clear
Konstruksi Karakter Salaf Mahasantri: Peran Bu Nyai Pesantren dalam Pendampingan Pembelajaran Mahasantri di Kota Semarang Syakur, Moh
KACA (Karunia Cahaya Allah): Jurnal Dialogis Ilmu Ushuluddin Vol. 14 No. 1 (2024): Februari
Publisher : Fakultas Ushuluddin dan Dakwah Institut Al Fithrah Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36781/kaca.v14i1.579

Abstract

Studi ini mengeksplorasi peran ulama perempuan, atau yang sering disebut sebagai Bu Nyai, dalam konteks pesantren di Indonesia, dengan fokus pada pembentukan karakter mahasantri. Mahasantri dalam konteks ini merujuk pada para santri yang mengikuti pendidikan formal di bangku perkulian dan mengikuti pendidikan Islam di pesantren, yang menekankan pendalaman ajaran agama, pengembangan karakter, dan kehidupan yang sederhana. Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif untuk menjelaskan dan memberikan pemahaman yang mendalam tentang peran Bu Nyai dalam konstruksi karakter mahasantri selama menempuh pendidikan pesantren. Hasil penelitian menemukan bahwa peran Bu Nyai dalam pembentukan karakter santri di pesantren sangat signifikan. Mereka berfungsi sebagai penasehat, pembimbing, dan sumber dukungan emosional bagi santri. Melalui peran ini, Bu Nyai membantu santri dalam mengatasi konflik, menjaga keseimbangan emosi, dan mengarahkan santri dalam menerapkan ajaran Islam dalam kehidupan sehari-hari. Meskipun peran ulama perempuan sangat signifikan, mereka menghadapi berbagai tantangan, termasuk stereotip gender yang membatasi pengakuan mereka.
Kajian Asbāb Al-Wurūd Terhadap Hadis Al-Thaqalayn Rizaka, Maghza; Zahri, Ahmad Fauzan; Mahbubiati, Nadia Maulida; Achmadana Syachrizal M. F; Aan Darwati
KACA (Karunia Cahaya Allah): Jurnal Dialogis Ilmu Ushuluddin Vol. 14 No. 1 (2024): Februari
Publisher : Fakultas Ushuluddin dan Dakwah Institut Al Fithrah Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36781/kaca.v14i1.587

Abstract

Al-Thaqalayn adalah Al-Quran dan Ahlul Bayt, ditinggalkan oleh Nabi sebagai warisan berharga. Hadis ini memunculkan berbagai interpretasi dari ulama terkait konteks, signifikansi, dan implikasinya. Pendekatan kualitatif digunakan dalam penelitian ini, menelaah asbāb al-wurūd dan metode analisis konten dari kitab-kitab hadis utama serta literatur terkait. Pengertian asbāb al-wurūd menjadi krusial, memberi informasi tentang konteks sejarah hadis. Memahami hal ini membantu menjelaskan hadis al-Thaqalayn dan signifikansinya secara kontekstual. Konteks ini juga relevan bagi ahli hukum Islam (faqīh) dalam menerapkan ajaran dalam situasi aktual. Hadis ini merupakan pesan keselamatan yang disampaikan Nabi sebelum meninggalkan umatnya. Beliau ingin memastikan pesan Ilahi terpelihara dan tidak terdistorsi setelahnya. Pesan beliau tentang meninggalkan al-Thaqalayn di tengah-tengah umat merupakan panggilan untuk menjaga ajaran suci itu sendiri. Para ulama memberikan beragam interpretasi terhadap hadis ini. Sebagian besar menekankan pada beratnya tugas mengikuti dan menjaga al-Thaqalayn. Ada pula penekanan pada keagungan dan kesulitan dalam melaksanakan ajaran keduanya. Beberapa ulama menjelaskan istilah “al-Thaqalayn” sebagai penghormatan pada kedudukan Al-Quran dan Ahlul Bayt. Ada upaya untuk mengartikan pesan Nabi dalam konteks pemilihan pengganti untuk melanjutkan peran beliau setelah wafat. Semua interpretasi ini menegaskan pentingnya mengikuti dan menjaga Al-Quran serta Ahlul Bayt sebagai sumber ilmu agama, petunjuk syariat, dan warisan suci dari Nabi. Penelitian ini berfokus pada pemahaman mendalam terhadap konteks, signifikansi, dan implikasi dari hadis al-Thaqalayn, menyoroti urgensi pemahaman terhadap pesan Nabi dalam konteks kehidupan umat Islam.
Pesan Poligami dalam Kisah Nabi Ibrahim: Kajian Historis Komparatif Al-Quran dan Alkitab Masruchin, Masruchin; Muttaqin, Ahmad; Rohana, Selti
KACA (Karunia Cahaya Allah): Jurnal Dialogis Ilmu Ushuluddin Vol. 14 No. 1 (2024): Februari
Publisher : Fakultas Ushuluddin dan Dakwah Institut Al Fithrah Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36781/kaca.v14i1.588

Abstract

Poligami merupakan hal yang lumrah di kalangan para nabi pada berbagai masa, salah satu Nabi yang melakukan poligami ialah Nabi Ibrahim, poligami yang dilakukannya terdapat permasalahan yang kontroversial dalam ranah agama dan budaya. Adapun fokus pada penelitian ini terdapat pada dua kitab suci yaitu Al-Qur’an dan Alkitab, dimana keduanya memiliki pandangan yang berbeda dalam menceritakan poligami Nabi Ibrahim lalu alasan apa yang menyebabkan Nabi Ibrahim berpoligami. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif berbasis library research yang bertitik tolak memahami nilai komparatif historis yang mendasari poligami Nabi Ibrahim dalam pemaparan lintas agama. Berdasarkan hasil penelitian dari pesan poligami Nabi Ibrahim dalam Al-Qur’an dan Alkitab dapat disimpulkan bahwa poligami boleh dilakukan jika dalam keadaan darurat dengan mengikuti peraturan yang berlaku, Poligami sah karena seorang istri tidak dapat melahirkan anak sendirian, tetapi poligami yang dilakukan harus dengan izin seorang istri atau istri yang meminta suaminya untuk berpoligami. Dengan demikian Al-Qur’an dan Alkitab mengajarkan bahwa perkawinan yang ideal ialah perkawinan monogami, sebab poligami bukanlah suatu keharusan dan tidak boleh dilakukan sesuka hati tetapi dapat menjadi pilihan bagi mereka yang membutuhkannya, karena poligami menuntut pengabdian dan tanggung jawab yang utuh jika tidak akan menimbulkan konflik ketidakharmonisan didalam rumah tangganya.
Pola Asuh Toxic Parenting dalam Tinjauan Hadis Nabi: Upaya Spiritual Sebagai Langkah Preventif Atas Pola Asuh Toxic Parenting Pratama, Ferdy; Putri, Delfiani Safira Darminto; Rizaka, Maghza; Afifah, Alvin; Asaaf, M. Amil Hikam
KACA (Karunia Cahaya Allah): Jurnal Dialogis Ilmu Ushuluddin Vol. 14 No. 1 (2024): Februari
Publisher : Fakultas Ushuluddin dan Dakwah Institut Al Fithrah Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36781/kaca.v14i1.596

Abstract

Artikel ini mengkaji suatu permasalahan sosial di tengah masyarakat yang menjadi isu global, yaitu pola asuh toxic parenting. Pola asuh toxic parenting adalah pola asuh anak yang kekuasaan selalu ada pada orang tua, seperti mengekang anak, orang tua mendahulukan egonya dan anak tidak diberi kesempatan untuk mengutarakan keinginannya. Hal ini dapat berdampak negatif pada kondisi kesehatan mental anak, seperti anak selalu merasa rendah diri, memiliki sikap perfeksionis dan mengalami depresi. Hadis Nabi yang diriwayatkan oleh Tirmidhi: 1911  dijelaskan bahwa, sesama makhluk di muka bumi harus saling mengasihi dan mencintai. Begitu pula dengan perlakuan orang tua terhadap anaknya, yang harus memberikan kasih sayang dengan cara menunjukkannya secara baik dan benar, agar terjalin hubungan yang sehat antara orang tua dan anak. Tulisan ini bertujuan untuk menemukan korelasi antara pola asuh toxic parenting  dan hadis, serta mengeksplorasi tindakan preventif yang ditawarkan oleh Rasulullah. Metode yang digunakan adalah kualitatif-deskriptif melalui studi kepustakaan (library research) dengan pendekatan psikologi. Hasil atas kajian ini, 1) Hadis riwayat Tirmidhi: 1911 secara umum menjelaskan mengenai pandangan Nabi terhadap pola asuh toxic parenting. 2) Pemaknaan kandungan hadis di dalamnya mengenai pola asuh anak yang baik dan penuh kasih sayang. 3) Dampak bagi anak atas pola asuh toxic parenting dalam sudut pandang psikologi. 4) Tindakan preventif yang ditawarkan untuk mecegah pola asuh toxic parenting.  
Penafsiran Ruh Al-Qudus Menurut Abu Zahrah dan Hubungannya dengan Konsep Roh Kudus dalam Kristen Aditama, Rahmat Yusuf; Ramadhan, Ahnaf Gilang; Ach. Khoiri Nabiel; Sabiq Noor; Al Ayyubi, M. Sholahuddin
KACA (Karunia Cahaya Allah): Jurnal Dialogis Ilmu Ushuluddin Vol. 14 No. 1 (2024): Februari
Publisher : Fakultas Ushuluddin dan Dakwah Institut Al Fithrah Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36781/kaca.v14i1.607

Abstract

Selain lazim digunakan dalam teologi Kristen, kata Roh Kudus sendiri juga cukup populer dalam teologi Islam. Bahkan, menurut Fuad 'Abd al-Baqi dalam Al-Qur'an kata Roh Kudus (Ruh al-Qudus) terulang sampai 4 kali yang masing-masing terdapat pada QS. Al-Baqarah [2] : 87, 253, QS. Al-Maidah [5] : 110 dan QS. Al-Nahl [16] : 102. Namun, dalam praktiknya Abu Zahrah memberikan penafsiran yang beraneka ragam terkait kata tersebut. Artikel ini bertujuan untuk mengulik ragam pemaknaan Abu Zahrah terhadap terma (Ruh al-Qudus) yang dinilai berbeda dengan mayoritas mufassir yang hanya menafsirkan kata tersebut dengan Jibril. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dan termasuk ke dalam penelitian kepustakaan (library research).  Hasil dari penelitian ini menyebutkan,  bahwa makna dari Ruh al-Qudus Yang terdapat dalam Al-Qur'an ternyata tidak hanya terpaku pada Jibril sebagaimana yang banyak disinggung oleh para mufassir klasik. Lebih dari itu, makna Ruh al-Qudus yang terdapat dalam Al-Qur'an mempunyai makna yang beragam, seperti: Jibril, Injil, Mukjizat dan Anugerah.
Rekonstruksi Pendekatan Munāsabah Ayat dalam Metode Penafsiran Al-Qur’an Kharomen, Agus Imam; In’amuzzahidin, Muh.
KACA (Karunia Cahaya Allah): Jurnal Dialogis Ilmu Ushuluddin Vol. 14 No. 1 (2024): Februari
Publisher : Fakultas Ushuluddin dan Dakwah Institut Al Fithrah Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36781/kaca.v14i1.610

Abstract

Penelitian ini dilatarbelakangi masih minimnya kajian munāsabah makna dan perangkat munāsabah yang dijadikan alat analisa dalam metode tafsir yang saat ini masih terbatas pada mengungkap keterkaitan antar ayat yang berdekatan letaknya, bukan pada hubungan maknanya. Penelitian ini merupakan library research, dengan menggunakan metode deskriptif-analitik dan pendekatan interpretasi, dengan mengacu literatur ‘ulum Al-Qur’an dan kaidah tafsir, seperti al-Burhan fi ‘Ulum Al-Qur’an karya al-Zarkasyi, al-Itqan fi ‘Ulum Al-Qur’an karya al-Suyuthi, Qawa‘id al-Tafsir karya Khalid al-Sabt, ‘Ilm al-Munasabat fi al-Suwar wa al-Ayat karya Bazamul dan Kaidah Tafsir karya Quraish Shihab, penelitian ini mencoba merumuskan langkah-langkah dalam menerapkan munāsabah makna sebagai pendekatan penafsiran dan kontribusinya dalam penafsiran Al-Qur’an. Penelitian ini menawarkan empat langkah dalam menerapkan munāsabah makna sebagai pendekatan tafsir, yakni: menyimpulkan tema ayat yang sedang dikaji, mengidentifikasi ayat-ayat pendukung yang punya hubungan dengan tema utama, mendialogkan antar makna yang terdapat dalam ayat utama dan pendukung, merumuskan kesimpulan sebagai hasil temuan munāsabah makna ayat Al-Qur’an. Adapun kontribusi pendekatan munāsabah makna dapat menghasilkan penafsiran antar ayat yang memiliki hubungan makna secara komprehensif.
Etos Kerja Islami sebagai Karakter Muslim Perspektif Hadis Riwayat Ibnu Majah Nomor 4168 Rizqiyah, Afi; Nur, Zia Choirul Labib; A’rifah, Alda Nihayatul; Zuhri, Achmad Muhibin
KACA (Karunia Cahaya Allah): Jurnal Dialogis Ilmu Ushuluddin Vol. 14 No. 1 (2024): Februari
Publisher : Fakultas Ushuluddin dan Dakwah Institut Al Fithrah Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36781/kaca.v14i1.624

Abstract

Etos kerja berperan penting sebagai pendorong produksivitas dalam bekerja dan kualitas kinerja seseorang. Rendahnya etos kerja berdampak pada rendahnya kualitas kinerja. Terjadinya penyelewengan dalam pekerjaan merupakan dampak rendahnya etos kerja. Misalnya kasus korupsi yang hingga kini memiliki angka pelaporan yang cukup tinggi. Etos kerja rendah juga berdampak pada pola hidup. Misalnya masih maraknya pengemis dengan kondisi fisik layak bekerja. Problem ini mendorong dilakukannya penelitian yang bertujuan untuk menganalisis etos kerja Muslim perspektif HR. Ibnu Majah No. 4168. Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian kepustakaan. Sehingga sumber utama maupun sekunder penelitian berupa karya tulis yang berhubungan dengan topik penelitian. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan prosedur analisis Miles dan Huberman yang mencakup reduksi data, display data, dan pengambilan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa etos kerja yang termuat dalam kandungan HR. Ibnu Majah No. 4168 terdiri dari tekad kuat atau tekun dalam bekerja, menghadapi musibah dengan penuh kesabaran, berpikir kritis terhadap segala hal yang terjadi dalam kehidupan, bekerja secara mandiri (tidak meminta-minta), bersungguh-sungguh dalam bekerja, dan mempercayai takdir Allah Swt dalam setiap langkah. Secara garis besar, prinsip utama yang menjadi bingkai etos kerja dalam perspektif hadith ini adalah iman dan takwa.
Social Implications and Sectarian Divisions: Analyzing Bid‘ah and Tawhid Within Salafi Teachings A‘la, Abd; Bakar, Abu
KACA (Karunia Cahaya Allah): Jurnal Dialogis Ilmu Ushuluddin Vol. 14 No. 1 (2024): Februari
Publisher : Fakultas Ushuluddin dan Dakwah Institut Al Fithrah Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36781/kaca.v14i1.670

Abstract

This article examines the social implications of the Salafi understanding of bid‘ah as well as an analysis of bid‘ah in the Salafi teachings themselves. The Salafi movement often accuses Muslims outside their group of heresy, but the irony arises when their own doctrine of monotheism is the result of interpretations that are not explicitly found in the Quran and Sunnah. The Salafi concept of monotheism triggers excommunication and disbelief of other Islamic groups and deepens group fanaticism, which has a negative impact on the solidity and social cohesion of Muslims. Salafi Jami, for example, opposes Salafi Harakī or Surūrī, exposing fanaticism and divisions within Salafi itself. Using a descriptive-analytical approach, this study finds that unilateral truth claims and sectarian fanaticism within Salafi groups reinforce divisions and prolonged conflicts within the Muslim community. They also have heresy in the context of their tawhīd consisting of ulūhiyyah, rubūbiyyah, and al-asmā’ wa al-sifāt. This research underscores the importance of studying these groups’ interpretations within their social context and subjectivity. As a result, it is difficult for Salafi and other radical groups to unite solidly, and Muslims continue to face divergent views and prolonged conflict.

Page 1 of 1 | Total Record : 8