cover
Contact Name
Agus Dian Mawardi
Contact Email
yptbkalsel@gmail.com
Phone
+6285654963323
Journal Mail Official
yptbkalsel@gmail.com
Editorial Address
Jl. Pematon No.10 Komplek Pembangunam I RT.18 RW.02 Banjarmasin Barat, Kode Pos 70116
Location
Kota banjarmasin,
Kalimantan selatan
INDONESIA
Jurnal Ilmu Kesehatan
ISSN : -     EISSN : 2963069X     DOI : https://doi.org/10.71456/jik
Core Subject : Health,
JIKES : Jurnal Ilmu Kesehatan adalah media publikasi artikel penelitian yang diterbitkan oleh Yayasan Pendidikan Tanggui Baimbaian Kalimantan Selatan, sesuai SK. KEMENKUMHAM : AHU-0025509.AH.01.04. TAHUN 2022 TANGGAL 14 DESEMBER 2022, dengan Ruang lingkup artikel yang diterbitkan di jurnal kesehatan meliputi: keperawatan, kebidanan, kesehatan masyarakat, promosi kesehatan, kesehatan ibu dan anak, administrasi kesehatan, administrasi rumah sakit dan kesehatan umum lainnya.
Articles 221 Documents
Hubungan Pengetahuan, Sikap, Dukungan Keluarga dan Dukungan Teman Sebaya dengan Kepatuhan Konsumsi Tablet Tambah Darah pada Siswi SMPN 2 Berastagi Ade Risma; Wasiyem; Delfriana Ayu Astuty; Yulia Khairina Ashar; Aprilinda M Harahap
JIKES : Jurnal Ilmu Kesehatan Vol. 5 No. 1 (2026): Juli-Desember 2026
Publisher : Yayasan Pendidikan Tanggui Baimbaian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.71456/jik.v5i1.2571

Abstract

Kepatuhan konsumsi Tablet Tambah Darah (TTD) pada remaja putri merupakan salah satu faktor penting dalam keberhasilan program pencegahan anemia. Namun, tingkat kepatuhan konsumsi TTD pada remaja putri masih tergolong rendah sehingga dapat mengurangi efektivitas program suplementasi zat besi yang telah dilaksanakan termasuk di SMPN 2 Berastagi. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan pengetahuan, sikap, dukungan keluarga, dan dukungan teman sebaya dengan kepatuhan konsumsi Tablet Tambah Darah pada siswi SMP Negeri 2 Berastagi. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan desain cross sectional dengan sampel sebanyak 167 responden yang dipilih menggunakan teknik proportional stratified random sampling. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner dan dianalisis menggunakan uji Chi-Square pada tingkat kepercayaan 95%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar responden memiliki pengetahuan kurang (58,7%), sikap kurang (56,9%), dukungan keluarga kurang (61,7%), dukungan teman sebaya kurang (68,3%), dan tidak patuh mengonsumsi TTD (64,7%). Terdapat hubungan antara pengetahuan (p=0,001; PR=1,446), sikap (p=0,004; PR=2,165), dan dukungan keluarga (p=0,000; PR=1,864) dengan kepatuhan konsumsi TTD. Sementara itu, tidak terdapat hubungan antara dukungan teman sebaya dengan kepatuhan konsumsi TTD (p=0,255; PR=1,155). Disimpulkan bahwa pengetahuan, sikap, dan dukungan keluarga merupakan faktor yang perlu menjadi sasaran utama intervensi untuk meningkatkan kepatuhan konsumsi TTD, sedangkan dukungan teman sebaya pada penelitian ini belum terbukti berhubungan secara signifikan. Edukasi mengenai anemia dan manfaat TTD perlu diperkuat melalui keterlibatan keluarga serta sekolah sebagai pengingat konsumsi TTD pada siswi.
Analisis Faktor Risiko Kejadian Diabetes Melitus pada Masyarakat Indonesia Berdasarkan Data Survei Kesehatan Indonesia Tahun 2023 Dyva Patricia Siahaan; Delfriana Ayu Astuty; Sahrul; Wahyudi Wahyudi; Nadya Ulfa Tanjung
JIKES : Jurnal Ilmu Kesehatan Vol. 5 No. 1 (2026): Juli-Desember 2026
Publisher : Yayasan Pendidikan Tanggui Baimbaian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.71456/jik.v5i1.2574

Abstract

Diabetes melitus merupakan salah satu penyakit tidak menular yang menjadi masalah kesehatan masyarakat di Indonesia dengan prevalensi yang terus meningkat. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor risiko kejadian diabetes melitus pada masyarakat Indonesia berdasarkan data Survei Kesehatan Indonesia tahun 2023. Penelitian ini menggunakan desain cross sectional dengan pendekatan kuantitatif analisis melalui data sekunder SKI 2023. Sampel penelitian berjumlah 624.457 responden yang dipilih menggunakan teknik total sampling sesuai kriteria inklusi dan eksklusi penelitian. Analisis data dilakukan secara univariat, bivariat menggunakan uji Chi-Square , dan multivariat menggunakan regresi logistik ganda. Hasil penelitian menunjukkan terdapat hubungan yang signifikan antara usia ( p =0,000; PR = 9,603; 95% CI: 9,133–10,096), jenis kelamin ( p =0,000; PR = 1,365; 95% CI: 1,319–1,412), pendidikan ( p =0,012; PR = 1,044; 95% CI: 1,010–1,080), konsumsi makanan manis ( p =0,000; PR = 0,489; 95% CI: 0,469–0,511), status gizi ( p =0,000; PR = 1,474; 95% CI: 1,421–1,529), dan hipertensi ( p =0,000; PR = 7,082; 95% CI: 6,835–7,338) dengan kejadian diabetes melitus. Variabel yang paling dominan berhubungan dengan kejadian diabetes melitus adalah usia ( p =0,000; OR = 7,712; 95% CI: 7,322–8,123). Masyarakat diharapkan menerapkan pola hidup sehat dan melakukan deteksi dini diabetes melitus, terutama pada kelompok usia ≥45 tahun.
Analisis Faktor Risiko Kejadian Hipertensi di Provinsi Sumatera Utara Berdasarkan Data Survei Kesehatan Indonesia Tahun 2023 Fifia El Zuhra; Delfriana Ayu Astuty; Putra Apriadi Siregar; Nadya Ulfa Tanjung; Sahrul
JIKES : Jurnal Ilmu Kesehatan Vol. 5 No. 1 (2026): Juli-Desember 2026
Publisher : Yayasan Pendidikan Tanggui Baimbaian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.71456/jik.v5i1.2575

Abstract

Hipertensi masih menjadi salah satu masalah kesehatan masyarakat di Indonesia karena prevalensinya terus meningkat dan berkontribusi terhadap kejadian penyakit kardiovaskular. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor risiko kejadian hipertensi di Provinsi Sumatera Utara berdasarkan data Survei Kesehatan Indonesia (SKI) tahun 2023. Penelitian ini menggunakan desain cross-sectional dengan pendekatan kuantitatif analitik menggunakan data sekunder SKI 2023. Sampel penelitian berjumlah 35.067 responden usia ≥18 tahun yang diperoleh melalui teknik total sampling. Analisis data dilakukan secara univariat, bivariat menggunakan uji chi-square dengan prevalence ratio, dan multivariat menggunakan regresi logistik biner. Hasil penelitian menunjukkan proporsi hipertensi sebesar 28,7%. Terdapat hubungan antara usia (p<0,001; PR=2,232; 95% CI=2,155–2,311), pendidikan (p<0,001; PR=1,326; 95% CI=1,282–1,371), konsumsi natrium (p=0,001; PR=0,912; 95% CI=0,882–0,943), aktivitas fisik (p<0,001; PR=1,147; 95% CI=1,109–1,187), dan obesitas sentral (p<0,001; PR=1,397; 95% CI=1,351–1,445) dengan kejadian hipertensi. Tidak terdapat hubungan antara jenis kelamin (p=0,320; PR = 1,017; 95% CI: 0,984–1,051), dan merokok (p=0,539; PR=1,012; 95% CI=0,975–1,050) dengan kejadian hipertensi. Faktor paling dominan terhadap kejadian hipertensi adalah usia (OR=2,880; 95% CI=2,740–3,028). Penelitian ini menunjukkan bahwa usia, pendidikan, konsumsi natrium, aktivitas fisik, dan obesitas sentral berhubungan dengan kejadian hipertensi di Provinsi Sumatera Utara tahun 2023, dengan usia sebagai faktor paling dominan.
Hubungan Beban Kerja dengan Kelelahan Kerja pada Pekerja di Pabrik Opak Sun Jaya Mandiri Diani Sari Panggabean; Salianto; Aprilinda M. Harahap; Eliska; Syafran Arrazy
JIKES : Jurnal Ilmu Kesehatan Vol. 5 No. 1 (2026): Juli-Desember 2026
Publisher : Yayasan Pendidikan Tanggui Baimbaian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.71456/jik.v5i1.2576

Abstract

Kelelahan kerja merupakan salah satu masalah kesehatan kerja yang dapat menurunkan produktivitas dan meningkatkan risiko kecelakaan kerja. Beban kerja yang tinggi, baik secara fisik maupun mental, dapat mempengaruhi tingkat kelelahan pekerja. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara beban kerja dengan kelelahan kerja pada pekerja di Pabrik Opak Sun Jaya Mandiri. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan desain cross sectional . Sampel dalam penelitian ini berjumlah 32 responden dengan teknik total sampling . Pengumpulan data dilakukan menggunakan kuesioner beban kerja untuk menilai tingkat beban kerja dan kuesioner Alat Ukur Perasaan Kelelahan Kerja (KAUPK2) untuk mengukur tingkat kelelahan kerja responden. Analisis data dilakukan secara univariat dan bivariat menggunakan uji korelasi Spearman Rank . Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar responden memiliki beban kerja tinggi sebanyak 24 responden (75,0%) dan sebagian besar mengalami kelelahan kerja kategori sangat lelah sebanyak 16 responden (50,0%). Hasil uji statistik diperoleh nilai koefisien korelasi sebesar 0,877 dengan p-value sebesar 0,000 (p < 0,05) yang menunjukkan terdapat hubungan yang signifikan antara beban kerja dengan kelelahan kerja pada pekerja di Pabrik Opak Sun Jaya Mandiri.
Perbandingan Tren Penjualan dan Faktor-Faktor yang Berhubungan dengan Preferensi Antihistamin Generasi Pertama dan Generasi Kedua pada Konsumen Apotek Komunitas Friska Amalia; Sri Rachmi Firdausi; Ulyati Ulfah; Abdul Rozak
JIKES : Jurnal Ilmu Kesehatan Vol. 5 No. 1 (2026): Juli-Desember 2026
Publisher : Yayasan Pendidikan Tanggui Baimbaian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.71456/jik.v5i1.2577

Abstract

Penyakit alergi merupakan masalah kesehatan yang umum dijumpai di masyarakat sehingga penggunaan antihistamin terus meningkat. Penelitian ini bertujuan membandingkan tren penjualan antihistamin generasi pertama dan generasi kedua serta menganalisis hubungan faktor harga, efektivitas, efek samping, rekomendasi tenaga kesehatan, dan ketersediaan obat dengan preferensi konsumen dalam memilih antihistamin di sebuah apotek komunitas di Kabupaten Bekasi. Penelitian observasional analitik ini menggunakan desain cross-sectional dengan 64 konsumen pembeli antihistamin selama periode 18 Juni-7 Juli 2026 sebagai sampel, yang dipilih melalui purposive sampling. Data primer diperoleh melalui kuesioner skala Likert yang telah diuji validitas dan reliabilitasnya (Cronbach's Alpha 0,703), sedangkan data sekunder berupa catatan penjualan obat. Data dianalisis secara univariat dan bivariat menggunakan uji Chi-Square serta Fisher's Exact Test pada taraf signifikansi 5%. Hasil menunjukkan penjualan antihistamin generasi kedua lebih tinggi dibandingkan generasi pertama, yaitu 59 strip (71,1%) berbanding 24 strip (28,9%), dengan cetirizine sebagai produk terlaris (32 strip). Sebanyak 76,6% konsumen memilih antihistamin generasi kedua. Analisis bivariat menunjukkan hanya faktor efek samping yang berhubungan signifikan dengan pemilihan antihistamin (p=0,001), sedangkan harga, efektivitas, rekomendasi tenaga kesehatan, dan ketersediaan obat tidak menunjukkan hubungan signifikan (p>0,05). Antihistamin generasi kedua lebih banyak terjual dan dipilih konsumen, dengan efek samping sebagai satu-satunya faktor yang berhubungan bermakna terhadap pemilihan tersebut. Temuan ini dapat menjadi dasar pertimbangan bagi apotek dalam perencanaan pengadaan dan pengelolaan persediaan antihistamin.
Karakterisasi dan Profil Pelepasan Ampisilin-Sulbaktam dari Scaffold Hidroksiapatit Tulang Ikan Kakap Putih (Lates calcarifer) Retno Tri Anjani; Nurvidian Khasanah; Salma Hilmy Rusydi Hashim; Iin Hardiyati
JIKES : Jurnal Ilmu Kesehatan Vol. 5 No. 1 (2026): Juli-Desember 2026
Publisher : Yayasan Pendidikan Tanggui Baimbaian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.71456/jik.v5i1.2583

Abstract

Osteomielitis merupakan peradangan tulang dan sumsum tulang akibat infeksi bakteri yang membutuhkan sistem penghantaran obat lokal secara terkontrol untuk mencapai konsentrasi terapi optimal pada lokasi target. Penelitian ini bertujuan untuk memformulasikan scaffold hidroksiapatit tulang ikan kakap putih bermuatan ampisilin-sulbaktam serta mengetahui karakteristik morfologi, gugus fungsi, dan profil pelepasan obat pada berbagai konsentrasi. Metode pembuatan scaffold dilakukan melalui sintesis hidroksiapatit dari tulang ikan kakap putih dengan teknik replikasi spons poliretan, dilanjutkan pemuatan ampisilin-sulbaktam dalam tiga variasi bobot yaitu 1,5 g, 2 g, dan 2,5 g. Sediaan dikarakterisasi secara makroskopis, mikroskopis, dan Fourier Transform Infrared (FTIR), serta diuji pelepasannya dalam larutan Phosphate Buffer Saline (PBS) selama 24 jam menggunakan Spektrofotometer UV-Vis. Hasil pengamatan makroskopis menunjukkan sediaan padat berpori berwarna kuning, sedangkan evaluasi mikroskopis memperlihatkan struktur pori tidak beraturan di antara himpunan material hidroksiapatit. Karakterisasi spektroskopi mengonfirmasi keberhasilan pemuatan obat melalui munculnya serapan khas gugus amina, karbonil, dan amida tanpa mengubah struktur dasar hidroksiapatit. Persentase kumulatif pelepasan obat selama 24 jam mencapai rentang 57,81% hingga 74,20% yang mengikuti model kinetika Higuchi dengan mekanisme difusi. Uji one way ANOVA menunjukkan tidak terdapat perbedaan bermakna secara statistik pada profil pelepasan obat antavariasi konsentrasi (p = 0,497). Dapat disimpulkan bahwa limbah tulang ikan kakap putih berpotensi diformulasikan sebagai sediaan scaffold hidroksiapatit pembawa ampisilin-sulbaktam yang mampu melepaskan obat secara bertahap untuk mendukung terapi lokal infeksi tulang.
Teletherapy dalam Pelayanan Kesehatan Mental: Efektivitas, Perbandingan dengan Terapi Tatap Muka, dan Implikasi Klinis Rifqi Nurfadillah; Ni Kadek Andining Vidya; I Made Yahudi; Adelia Kartika Mutiarasari; Azizatul Adni
JIKES : Jurnal Ilmu Kesehatan Vol. 5 No. 1 (2026): Juli-Desember 2026
Publisher : Yayasan Pendidikan Tanggui Baimbaian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.71456/jik.v5i1.2590

Abstract

Gangguan kesehatan mental seperti depresi dan kecemasan terus meningkat secara global, sementara akses terhadap layanan kesehatan mental masih terbatas akibat hambatan geografis, biaya, dan keterbatasan tenaga profesional. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji efektivitas teletherapy, membandingkannya dengan terapi tatap muka, serta menganalisis implikasi klinisnya dalam pelayanan kesehatan mental. Penelitian menggunakan metode literature review dengan pendekatan deskriptif kualitatif. Data diperoleh dari PubMed, Scopus, dan Google Scholar menggunakan strategi pencarian berbasis PICO terhadap artikel tahun 2016–2026. Sebanyak 70 artikel teridentifikasi, kemudian diseleksi berdasarkan pedoman PRISMA 2020 hingga diperoleh 4 studi utama yang memenuhi kriteria inklusi. Instrumen penelitian berupa lembar ekstraksi data literatur, sedangkan analisis dilakukan secara deskriptif tematik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa teletherapy efektif menurunkan gejala depresi dan kecemasan dengan efektivitas yang setara dengan terapi tatap muka. Teletherapy juga meningkatkan akses layanan, fleksibilitas terapi, efisiensi biaya, serta keterlibatan pasien. Kesimpulan penelitian ini adalah teletherapy dapat menjadi alternatif maupun pelengkap layanan kesehatan mental konvensional, meskipun implementasinya masih menghadapi tantangan terkait teknologi, privasi data, dan kesenjangan akses digital.
Determinan Sosial dengan Dropout Imunisasi DPT pada Anak: Sistematic Review dan Meta-Analisis Afifah Hanum Harahap; Yessy Markolinda; Ratno Widoyo
JIKES : Jurnal Ilmu Kesehatan Vol. 5 No. 1 (2026): Juli-Desember 2026
Publisher : Yayasan Pendidikan Tanggui Baimbaian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.71456/jik.v5i1.2591

Abstract

Imunisasi DPT merupakan salah satu upaya penting dalam mencegah penyakit difteri, pertusis, dan tetanus pada anak. Namun, dropout imunisasi masih menjadi masalah di berbagai negara, dengan sekitar 6,2 juta anak telah menerima dosis pertama (DPT1) tapi tidak melanjutkan hingga dosis ketiga (DPT3). Hasil penelitian mengenai determinan sosial dropout imunisasi DPT masih beragam. Penelitian ini bertujuan menganalisis hubungan determinan sosial dengan dropout imunisasi DPT pada anak melalui systematic review dan meta-analisis. Penelitian ini merupakan kuantitatif observasional dengan desain systematic review dan meta-analisis. Literatur ditelusuri melalui database PubMed, EBSCO, dan ScienceDirect pada periode 2021-2026. Analisis dilakukan menggunakan RStudio dengan random-effects model. Sebanyak 27 studi masuk dalam systematic review dan 14 studi dianalisis secara kuantitatif. Hasil meta-analisis menunjukkan bahwa pendidikan ibu rendah (OR = 1,72; 95% CI: 1,44–2,07), status ekonomi keluarga rendah (OR = 1,65; 95% CI: 1,46–1,86), dan tempat tinggal di perdesaan (OR = 1,80; 95% CI: 1,21–2,69) berhubungan dengan dropout imunisasi DPT. Pendidikan ibu, status ekonomi keluarga, dan tempat tinggal berhubungan dengan dropout imunisasi DPT pada anak. Temuan ini menunjukkan perlunya perhatian terhadap faktor sosial dalam penguatan pelayanan imunisasi, terutama pada kelompok yang menghadapi hambatan akses.
Evaluasi Penggunaan Antibiotik Secara Gyssens dan ATC/DDD terhadap Outcome Klinis Pasien Rawat Inap Diare Anak di Salah Satu RS Kota Bekasi Alifa Lammima Adinda Riyadi; Nuzul Gyanata Adiwisastra; Masita Sari Dewi; Ulyati Ulfah
JIKES : Jurnal Ilmu Kesehatan Vol. 5 No. 1 (2026): Juli-Desember 2026
Publisher : Yayasan Pendidikan Tanggui Baimbaian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.71456/jik.v5i1.2606

Abstract

Penggunaan antibiotik yang rasional pada pasien anak dengan diare perlu diperhatikan untuk memastikan terapi sesuai indikasi dan mencegah penggunaan antibiotik yang tidak tepat. Penelitian ini bertujuan mengevaluasi penggunaan antibiotik secara kualitatif menggunakan metode Gyssens dan secara kuantitatif menggunakan metode Anatomical Therapeutic Chemical/Defined Daily Dose (ATC/DDD), serta menganalisis hubungannya dengan lama rawat inap dan outcome klinis pasien anak dengan diare di sebuah rumah sakit swasta di Kota Bekasi periode tahun 2025. Penelitian ini merupakan penelitian observasional analitik dengan desain retrospektif dan pendekatan cross-sectional menggunakan data rekam medis. Sampel penelitian berjumlah 115 pasien yang dipilih melalui teknik total sampling berdasarkan kriteria inklusi dan eksklusi. Hasil penelitian menunjukkan penggunaan antibiotik paling banyak termasuk kategori 0 sebanyak 65 pasien (56,5%), kategori I sebanyak 37 pasien (32,2%), kategori IIA sebanyak 3 pasien (2,6%), dan kategori IVA sebanyak 10 pasien (8,7%). Ceftriaxone merupakan antibiotik dengan konsumsi tertinggi sebesar 34,88 DDD/100 patient-days. Sebanyak 82 pasien (71,3%) sembuh dan 33 pasien (28,7%) membutuhkan perawatan lebih lama. Hasil uji Chi-Square dan Fisher's Exact tidak menemukan hubungan bermakna antara kategori Gyssens, jumlah antibiotik, maupun nilai ATC/DDD dengan lama rawat inap ataupun outcome klinis (p>0,05). Penelitian ini menyimpulkan bahwa sebagian besar penggunaan antibiotik telah rasional, dengan ceftriaxone sebagai antibiotik yang paling banyak digunakan, namun belum ditemukan hubungan statistik antara penggunaan antibiotik dengan luaran klinis pasien.
Hubungan Kondisi Fisik Rumah dan Asupan Makan dengan Kejadian Tuberkulosis Paru pada Usia Produktif di Wilayah Kerja Puskesmas X Kemala Sari Damanik; Rani Suraya; Delfriana Ayu Astuty; Susilawati; Zulkarnaen
JIKES : Jurnal Ilmu Kesehatan Vol. 5 No. 1 (2026): Juli-Desember 2026
Publisher : Yayasan Pendidikan Tanggui Baimbaian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.71456/jik.v5i1.2608

Abstract

Tuberkulosis paru merupakan salah satu masalah kesehatan masyarakat di Indonesia. Kondisi fisik rumah dan asupan makan merupakan faktor yang berhubungan dengan kejadian tuberkulosis paru. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan kondisi fisik rumah dan asupan makan dengan kejadian tb paru di wilayah kerja Puskesmas X. Desain penelitian ini adalah analitik observasional dengan pendekatan cross sectional. Sampel berjumlah 55 responden dipilih menggunakan simple random sampling. Data dikumpulkan melalui observasi pengukuran kondisi fisik rumah, dan kuesioner food recall 24 jam. Analisis data dilakukan secara univariat dan bivariat menggunakan uji Chi-Square dengan tingkat kemaknaan p≤0,05. Hasil penelitian menunjukkan terdapat hubungan antara kepadatan hunian (p=0,020), luas ventilasi (p=0,018), kelembapan (p=0,026), dan pencahayaan (p=0,026) dengan kejadian tuberkulosis paru. Sementara itu, asupan makan tidak berhubungan dengan kejadian tuberkulosis paru (p=0,739). Disimpulkan bahwa terdapat hubungan antara kondisi fisik rumah dengan kejadian tb paru, sedangkan tidak terdapat hubungan antara asupan makan kejadian tb paru di wilayah kerja Puskesmas X.