cover
Contact Name
Andri Putra Kesmawan
Contact Email
journal@idpublishing.org
Phone
+628111304014
Journal Mail Official
journal@idpublishing.org
Editorial Address
Perumahan Sidorejo, Jl. Sidorejo Gg. Sadewa No.D3, Sonopakis Kidul, Ngestiharjo, Kapanewon Kasihan, Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta 55184
Location
Kab. bantul,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia
ISSN : -     EISSN : 30893968     DOI : https://doi.org/10.47134/jpbsi
Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia is a forum for researchers, students, and professionals who want to publish their writing or research. The focus and scope of Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia include: Indonesian language for foreigners, Indonesian language, Indonesian language teaching; Linguistics; Applied Linguistics, and; Literature Teaching.
Articles 28 Documents
Analisis Kebutuhan: Komunikasi Terapeutik dalam Kurikulum Mata Kuliah Bahasa Indonesia untuk Mahasiswa Keperawatan Wati, Eti; Sofyan, Wini; Hijriani, Hera; Shiamullaeli, Meina
Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Vol. 1 No. 3 (2025): July
Publisher : Indonesian Journal Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47134/jpbsi.v1i3.1831

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kebutuhan mahasiswa keperawatan mengenai komunikasi terapeutik dalam mata kuliah Bahasa Indonesia. Metode yang digunakan adalah kualitatif deskriptif dengan pendekatan 10 pertanyaan Harden yang berfokus pada aspek-aspek penting dalam pembelajaran komunikasi terapeutik yang dapat meningkatkan keterampilan komunikasi mahasiswa. Penelitian ini menggunakan ADDIE, yaitu fase satu yakni fase analisis kebutuhan mahasiswa. Penelitian ini menggunakna total sampling, dimana sampel sama dengan populasi, yakni 134 mahasiswa tingkat empat semester tujuh program studi S1 Keperawatan di sebuah universitas di Majalengka Jawa Barat. Teknik pengumpulan data adalah kuesioner. Hasil menunjukkan bahwa pembelajaran komunikasi terapeutik dan Bahasa Indonesia harus saling berkorelasi. Mayoritas mahasiswa menganggap keterampilan mendengarkan aktif, empati, dan komunikasi nonverbal sebagai kebutuhan utama, serta memerlukan pemahaman budaya dan terminologi medis yang sesuai. Mereka juga menginginkan metode pembelajaran interaktif, didukung bimbingan dan umpan balik dari dosen. Hambatan utama adalah kurangnya keterkaitan materi perkuliahan dengan praktik lapangan. dan penilaian berbasis observasi klinis diperlukan untuk menjaga keterampilan. Kurikulum terintegrasi dan sumber daya pembelajaran modern sangat diharapkan guna mencapai kompetensi komunikasi terapeutik yang optimal. Temuan ini diharapkan dapat memberikan wawasan untuk pengembangan kurikulum yang lebih relevan dan aplikatif, serta meningkatkan kemampuan komunikasi terapeutik mahasiswa keperawatan dalam praktik klinis).
An Eco-critical Study of the Lio Tribe's Oral Literature in Ende Regency, East Nusa Tenggara Mboka, Idris; Anshari; Sultan
Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Vol. 1 No. 3 (2025): July
Publisher : Indonesian Journal Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47134/jpbsi.v1i3.1988

Abstract

This study aims to identify, describe, and explain the pastoral literary narrative study model in the Lio oral literature of Ende Regency, East Nusa Tenggara; identify, describe, and explain the pastoral and apocalyptic literary narratives in the Lio oral literature of Ende Regency, East Nusa Tenggara. Based on the results of research and data analysis on the Lio oral literature in Ende Regency, East Nusa Tenggara, several legends were discovered, including the Legend of Lake Lopi, the Legend of Lake Mbata, the Legend of Lake Sora, the Legend of Lake Kelimutu, the fairy tale of Queen Ji'e and Queen Re'e, and the myth of Bobi and Nombi (the goddess of rice). Based on the results of data identification using the Environmental Literature Study Model, the pastoral narrative study model and the apocalyptic narrative study model were found. The results of this analysis indicate that the pastoral narrative study model in the Lio folklore of Ende Regency, East Nusa Tenggara, ecological representation contains elements of environmental wisdom as follows. First, pastoral literature in the oral literature of the Lio Tribe represents the livelihood of village communities in Ende Regency, East Nusa Tenggara, who are generally farmers. In addition, the idyll element shows ideal behavior that refers to village environmental wisdom, namely the harmonious relationship between humans and God, the relationship between humans and other humans, and the harmonious relationship between humans and nature. The connection between humans and God in relation to environmental wisdom in the Lio Tribe is shown through the principles of life, mindset, and perspective of the community that always includes God in every activity they do that is closely related to the environment. Second, the form of nostalgia represents past memories experienced by several characters in Lio tribal folklore related to the prosperity of a region or an event. Third, the georgic element that shows the process of working in harmony with nature as something comfortable represents comfortable farming work and enjoying agricultural products. Fifth, the form of retreat and return that depicts the escape of city people to the village due to natural disasters, avoiding natural disasters, seeking a better life and colonial motives that want to control areas rich in natural resources.
Analisa Penggunaan Kata Sarkasme dalam Perspektif Komunikasi Kelompok (Studi Kasus pada Remaja Desa Paldas Kec. Rantau Bayur Kab. Banyuasin) Azis, Abdul; Hasmawati, Fifi; Muzaiyanah
Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Vol. 1 No. 1 (2025): January
Publisher : Indonesian Journal Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47134/jpbsi.v1i1.2093

Abstract

Kelompok atau teman sebaya memiliki pengaruh kuat terhadap gaya bahasa remaja, termasuk dalam penggunaan kata-kata sarkasme. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis bentuk penggunaan kata sarkasme pada remaja di Desa Paldas, Kecamatan Rantau Bayur, Kabupaten Banyuasin, serta mengetahui faktor penyebabnya. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan teknik pengumpulan data berupa observasi dan wawancara. Informan penelitian adalah sekelompok remaja di Desa Paldas. Hasil penelitian menunjukkan bahwa bentuk sarkasme yang digunakan remaja meliputi sarkasme sifat, tindakan, himbauan, dan sebutan. Sarkasme sifat ditunjukkan dengan merendahkan lawan bicara atau kesombongan, misalnya ungkapan “doson lah”. Sarkasme tindakan muncul sebagai respon terhadap perbuatan yang menimbulkan kekesalan. Sarkasme sebutan banyak ditemukan dalam kata-kata seperti “anjing”, “babi”, atau “kampang”. Faktor penyebab penggunaan kata sarkasme antara lain emosi, bercanda, spontanitas, kekecewaan, serta pengaruh lingkungan pergaulan. Remaja dengan tingkat emosional yang tinggi cenderung meluapkan amarah melalui kata-kata kasar. Selain itu, kebiasaan bercanda dengan sarkasme dianggap lumrah, sehingga memperkuat praktik ini. Spontanitas dan rasa kecewa juga mendorong penggunaan sarkasme, sedangkan lingkungan pergaulan—baik teman sebaya, saudara, maupun keluarga menjadi faktor penting dalam membentuk kebiasaan berbahasa tersebut.
Tindak Tutur Direktif dalam Pembelajaran Bahasa Indonesia di SMAN 1 Batang Cenaku Kabupaten Indragiri Hulu Nurlita, Lia; Alber
Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Vol. 1 No. 4 (2025): October
Publisher : Indonesian Journal Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47134/jpbsi.v1i4.2163

Abstract

Tindak tutur direktif merupakan bagian krusial dari interaksi sosial, termasuk dalam komunikasi pembelajaran di sekolah, yang ditunjukkan oleh beragamnya tuturan antara guru dan siswa di kelas. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan dan menganalisis bentuk-bentuk tindak tutur direktif yang digunakan dalam pembelajaran Bahasa Indonesia di SMAN 1 Batang Cenaku, Kabupaten Indragiri Hulu, dengan mengacu pada teori Ibrahim (1993). Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode deskriptif, di mana data tuturan direktif dikumpulkan dari guru dan siswa kelas XI melalui teknik dokumentasi, menyimak, dan mencatat. Hasil penelitian menemukan enam bentuk tindak tutur direktif, dengan total 50 data, meliputi: perintah (14 data), permintaan (12 data), izin (7 data), nasihat (7 data), pertanyaan (5 data), dan larangan (5 data). Secara keseluruhan, tindak tutur perintah (memesan, memerintah, mengharuskan, memaksa, dan menginstruksikan) adalah yang paling dominan digunakan. Kesimpulan menunjukkan dominansi tindak tutur perintah disebabkan oleh peran guru sebagai pengelola kelas yang sering memberikan arahan dan instruksi guna mengelola jalannya pembelajaran dan mendorong partisipasi aktif siswa.
Studi Kasus Produksi Bahasa Pada Anak Usia Dini: Perbandingan Aspek Morfologis Antara Anak dengan Perkembangan Normal dan Keterlambatan Bicara Fariska Putri Rahayu; Insyiroh, Iin; Nugroho, Bivit Anggoro Prasetyo
Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Vol. 1 No. 4 (2025): October
Publisher : Indonesian Journal Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47134/jpbsi.v1i4.2276

Abstract

Penelitian ini bertujuan menganalisis perbedaan produksi bahasa dalam aspek morfologis, khususnya afiksasi, antara anak dengan perkembangan bahasa normal dan anak dengan keterlambatan bicara pada usia 5-6 tahun, serta mengidentifikasi faktor-faktor yang memengaruhi keterlambatan produksi morfologis tersebut. Metode penelitian yang digunakan adalah studi kasus kualitatif dengan dua subjek: CD (anak dengan perkembangan normal) dan FZ (anak dengan keterlambatan bicara). Data dikumpulkan melalui observasi tuturan spontan, tes gambar dan video, serta wawancara orang tua untuk mengidentifikasi pola penggunaan afiksasi dalam konteks natural. Hasil penelitian menunjukkan CD mampu memproduksi 11 dari 11 kata berimbuhan dengan tepat, menguasai prefiks ber-, me-, dan ter- secara konsisten dalam berbagai konteks komunikasi. Sebaliknya, FZ hanya menghasilkan 3 dari 11 kata berimbuhan dengan ketergantungan penuh pada stimulus orang tua, cenderung menggunakan bentuk dasar seperti "sapu", "masak", "lari", dan "lompat" tanpa variasi morfologis. Faktor internal yang memengaruhi meliputi kepribadian pemalu, kemampuan kognitif linguistik belum matang, dan ketergantungan pada imitasi. Faktor eksternal meliputi minimnya stimulasi verbal, keterbatasan interaksi sosial, pola asuh kurang mendorong eksplorasi bahasa, dan terbatasnya model bahasa di lingkungan. Penelitian ini memberikan implikasi pentingnya intervensi dini yang berfokus pada pengayaan stimulasi verbal dan interaksi komunikatif untuk mendukung perkembangan morfologis anak dengan keterlambatan bicara.
Analisis Perbandingan Makna dan Simbol dalam Puisi Hujan Bulan Juni dan Yang Fana Adalah Waktu Aini, Auralia; Salsabila, Alya; Lulua, Lisa; Hermawan, Wawan
Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Vol. 1 No. 4 (2025): October
Publisher : Indonesian Journal Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47134/jpbsi.v1i4.2359

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi dan membandingkan arti serta lambang yang ada dalam dua puisi oleh Sapardi Djoko Damono, yaitu Hujan Bulan Juni dan Yang Fana Adalah Waktu. Pemilihan kedua puisi ini didasarkan pada penonjolan ciri estetika khas Sapardi, yang melibatkan penggunaan elemen alam dan fenomena seharihari sebagai sarana untuk menyampaikan ide-ide tentang cinta, ketahanan, waktu, dan kefanaan. Metode yang diterapkan dalam penelitian ini adalah kualitatif deskriptif dengan acuan teori semiotika dari Charles Sanders Peirce dan Roland Barthes. Analisis yang menggunakan model trikotomi Peirce (ikon, indeks, dan simbol) diterapkan untuk mengenali jenis tanda yang muncul dalam kedua puisi, sedangkan pendekatan Barthes berfungsi untuk mengungkap arti denotatif, konotatif, dan mitos yang terdapat di dalamnya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Hujan Bulan Juni didominasi simbol alam yang merepresentasikan cinta yang sabar dan ikhlas, sementara Yang Fana Adalah Waktu menonjolkan simbol abstrak yang merefleksikan kefanaan waktu dan keabadian makna manusia. Temuan ini menegaskan bahwa puisi Sapardi tidak hanya bernilai estetis, tetapi juga memuat refleksi filosofis yang mendalam tentang kehidupan dan kemanusiaan.
Representasi Konflik Keluarga dan Dinamika Hubungan Ayah–Anak dalam Naskah Drama Langkah Ayah di Ujung Senja Aini, Auralia Qurrota; Salsabila, Alya Nadhifa; Lulua, Lisa; Fatoni, Akhmad
Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Vol. 2 No. 1 (2026): January
Publisher : Indonesian Journal Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47134/jpbsi.v2i1.2410

Abstract

Penelitian ini bertujuan menganalisis representasi konflik keluarga dan dinamika hubungan ayah–anak dalam naskah drama Langkah Ayah di Ujung Senja melalui pendekatan apresiasi drama dan sosiologi pengarang dengan landasan teori Strukturalisme Profetik. Drama ini menggambarkan relasi ayah dan anak yang mengalami ketegangan akibat perbedaan habitus, kesibukan kerja, serta melemahnya adab dalam kehidupan keluarga modern. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif deskriptif dengan teknik analisis teks terhadap dialog, alur, tokoh, dan petunjuk pementasan. Analisis dilakukan dengan memanfaatkan konsep amil, amal, dan amul untuk mengungkap peran agen, praktik sosial, serta proses pembentukan kesadaran etis dan transendental dalam naskah drama. Hasil penelitian menunjukkan bahwa konflik keluarga dalam drama tidak hanya berfungsi sebagai unsur dramatik, tetapi juga sebagai sarana refleksi moral yang mengarahkan tokoh utama pada kesadaran akan pentingnya menghormati orang tua. Transformasi tokoh Irwan dari sikap abai menuju penyesalan dan komitmen moral menegaskan bahwa adab kepada orang tua merupakan nilai fundamental yang tidak dapat ditunda. Penelitian ini menegaskan bahwa pendekatan Strukturalisme Profetik efektif digunakan untuk membaca karya sastra sebagai praktik sosial yang mengintegrasikan dimensi estetika, sosial, dan etis, serta relevan sebagai rujukan dalam kajian sastra dan pendidikan karakter.
Representasi Identitas Multikultural dalam Monolog “Aji” yang Ditampilkan SMAN 1 Gondang, Mojokerto Fatoni, Akhmad; Laili Dwi Rohmah; Sanctity , Nixie
Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Vol. 2 No. 1 (2026): January
Publisher : Indonesian Journal Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47134/jpbsi.v2i1.2433

Abstract

Indonesia sebagai bangsa yang multikultural menghadirkan dinamika identitas yang kompleks akibat perjumpaan, percampuran, dan pertentangan antarbudaya. Kondisi tersebut tercermin dalam karya sastra, salah satunya drama monolog Aji karya Gabrielle Abogado. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan representasi identitas multikultural tokoh Aji, mengungkap konflik budaya yang melatarinya, serta memaknai pesan sosial yang disampaikan melalui naskah dan pementasan drama monolog tersebut. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan pendekatan sosiologi sastra dan psikologi sastra. Analisis didasarkan pada teori hibriditas dan third space Homi K. Bhabha (1994), serta didukung konsep identitas Stuart Hall dan multikulturalisme James A. Banks. Data penelitian berupa kutipan naskah monolog, dokumentasi pementasan, hasil observasi elemen teatrikal, dan sumber pustaka yang relevan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tokoh Aji merepresentasikan identitas hibrida yang lahir dari perjumpaan tiga budaya, yaitu Jawa, Batak, dan Minangkabau. Identitas Aji tidak bersifat tunggal dan statis, melainkan cair dan terus dinegosiasikan melalui pengalaman personal, konflik keluarga, serta interaksi sosial. Konflik antara sistem patrilineal Batak dan matrilineal Minangkabau menjadi sumber utama krisis identitas yang berdampak pada kebingungan jati diri, trauma emosional, dan keterasingan sosial. Namun demikian, melalui seni ludruk, Aji menemukan ruang penerimaan dan pembebasan dari tekanan identitas kultural yang kaku. Seni berfungsi sebagai ruang ketiga yang memungkinkan terbentuknya identitas baru yang lebih reflektif, inklusif, dan humanis. Penelitian ini menyimpulkan bahwa drama monolog Aji tidak hanya merepresentasikan multikulturalisme, tetapi juga menyampaikan kritik terhadap fanatisme budaya serta menegaskan pentingnya toleransi dan dialog dalam masyarakat majemuk.

Page 3 of 3 | Total Record : 28