cover
Contact Name
Erick Erianto Arif
Contact Email
ariferickerianto@gmail.com
Phone
085214902659
Journal Mail Official
medilabumwkdi2025@gmail.com
Editorial Address
Jl. Jend. A.H. Nasution. No. 37, Kambu, Kota Kendari, Sulawesi Tenggara, Mandala Waluya Kendari
Location
Kota kendari,
Sulawesi tenggara
INDONESIA
Jurnal MediLab Mandala Waluya
ISSN : 25804073     EISSN : 26851113     DOI : https://doi.org/10.54883/
Core Subject : Science,
Jurnal Medilab merupakan media yang diharapkan dapat menjadi wadah bagi dosen baik di lingkup prodi Program studi D-IV Analis Kesehatan atau Teknologi Laboratorium Medik, institusi lokal maupun nasional untuk mempublikasikan hasil-hasil penelitiannya di berbagai disiplin ilmu khususnya dalam bidang Medical Sains dan Kesehatan. Penamaan jurnal Medilab ini diadopsi dari nama Laboratorium Medik. Laboratorium bermakna pemeriksaan atau pengujian baik secara biologi, kimia, fisika yang memberi informasi teliti dan akurat tentang aspek laboratoris terhadap spesimen atau sampel. Sedangkan medik bermakna hal-hal yang berhubungan dengan kedokteran/kesehatan, meliputi bidang Hematologi, Kimia klinik, Mikrobiologi, Imunoserologi, Parasitologi, Mikologi, Toksikologi, Kimia Air, Makanan dan minuman, dan lain-lain.
Articles 118 Documents
MUTASI GEN TMPRSS 6 TERHADAP KADAR HEMOGLOBIN PADA PETANI PADI YANG TERPAPAR PESTISIDA DI DESA TANGGONDIPO KECAMATAN UEPAI KABUPATEN KONAWE Titi Purnama; Tasman; Trisnawati
Jurnal MediLab Mandala Waluya Vol. 7 No. 1 (2023): Jurnal MediLab Mandala Waluya
Publisher : Prodi D4 Teknologi Laboratorium Medis, Universitas Mandala Waluya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54883.7.1.8

Abstract

Dinas Kesehatan Sulawesi Tenggara menggambarkan prevalensi anemia sebesar 67,3%, antara lain disebabkan oleh asupan gizi yang masih rendah. Jenis penelitian yang dilakukan adalah Kuantitatif dengan rancangan penelitian cross sectional. Populasi pada penelitian ini adalah 8 orang. Teknik pengambilan sampel dilakukan dengan pengukuran kadar hemoglobin dengan jumlah sampel 7 responden. Pada penelitian ini sampel yang digunakan terdiri dari darah EDTA untuk mengukur kadar hemoglobin dan serum petani padi untuk mendeteksi mutasi gen TMPRSS 6. Hasil penelitian mutasi gen TMPRSS 6 pada petani yang memiliki kadar hemoglobin rendah di Puskesmas Uepai adalah genotipe CC (0%). Genotipe CT (57%) terdapat pada sampel 1, 2, 3 dan 7 ditandai dengan munculnya pita berukuran 331 bp, 225 bp dan 151 bp. Genotipe TT (42.85%) terdapat pada sampel 4, 5 dan 6 yang ditandai dengan muncul pita berukuran 331 dan 151 bp. Berdasarkan penelitian ini dapat disimpulkan bahwa semua petani padi yang memiliki kadar hemoglobin rendah membawa alel T yang merupakan faktor resiko terjadinya anemia. Penelitian selanjutnya disarankan untuk melakukan sekuensing DNA untuk mengetahui jenis mutasi DNA gen TMPRSS 6 yang terjadi.
GAMBARAN HASIL PEMERIKSAAN ALBUMIN URIN PADA PASIEN DIABETES MELLITUS TIPE II DI RSU BHATERAMAS PROVINSI SULAWESI TENGGARA Sapril Kartini; Muh.Iksan Akbar; Wa Ode Silawati
Jurnal MediLab Mandala Waluya Vol. 7 No. 1 (2023): Jurnal MediLab Mandala Waluya
Publisher : Prodi D4 Teknologi Laboratorium Medis, Universitas Mandala Waluya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54883.7.1.9

Abstract

Diabetes mellitus (DM) merupakan kelompok penyakit metabolik dengan karakteristik hiperglikemia yang terjadi karena kelainan sekresi insulin, data dari RSU Bahteramas Sulawesi Tenggara pada tahun 2019 berjumlah 126 responden, pada tahun 2020 berjumlah 59 responden dan pada tahun 2021 berjumlah 73 responden. Albuminuria merupakan pertanda klinis terjadinya kerusakan fungsi ginjal pada bagian glomerulus. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui ada atau tidaknya kadar albumin urin pada pasien diabetes mellitus tipe II. Metode yang digunakan pada penelitian ini adalah metode deskriptif dari pengumpulan data mengunakan instrument penelitian dengan bahan urin dan alat urinanalyzer, populasi pada penelitian ini adalah responden pada penderita diabetes mellitus tipe II sebanyak 55 responden dengan teknik penentuan sampel menggunakan rumus lameshow diperoleh sebanyak 11 responden. Dari hasil penelitian yang telah dilakukan bahwa dari ke sebelas sampel penderita diabetes mellitus tipe II yang diperiksa mengunakan alat urin analyzer diperoleh 6 (54,55%) hasil normal albuminuria, 3 (27,27%) hasil mikroalbumin dan 2 (18,18%) klinis proteinuria. Sehingga dapat disimpulkan bahwa dari 11 responden 6 memiliki kadar albumin normal 3 responden memiliki kadar mikro albumin abnormal dan 2 responden memiliki kadar albumin klinis proteinuria. Dengan memperhatikan pola hidup sehat menjaga pola makan dan melakukan diet rendah garam sebagai pencegahan komplikasi dari penyakit DM tipe II yang lebih luas dan diharapkan hasil penelitian ini dapat bermanfaat sebagai pengetahuan, dan masukan pada penelitian selanjutnya terutama komplikasi penyakit DM tipe II.
DETEKSI BERAT MOLEKUL PROTEIN LITHOSTHATINE-1 β (REG-1B) PENANDA CEDERA USUS PADA ANAK PENDERITA STUNTING DI WILAYAH KERJA BLUD UPTD PUSKESMAS BENU-BENUA KOTA KENDARI Sanatang; Ulfah Khairul Nissa; Leniarti Ali
Jurnal MediLab Mandala Waluya Vol. 7 No. 2 (2023): JURNALMEDILAB MANDALA WALUYA
Publisher : Prodi D4 Teknologi Laboratorium Medis, Universitas Mandala Waluya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54883.7.2.11

Abstract

Stunting adalah masalah kurang gizi kronis yang disebabkan oleh asupan gizi yang kurang. Protein Lithostathine 1β (REG 1B) terbentuk jika terjadi cedera usus pada anak yang dapat disebabkan oleh adanya gangguan mikroorganisme yang merugikan. Tujuan diproduksinya protein Lithostathine 1β (REG 1B) adalah untuk memperbaiki sel-sel yang telah rusak pada usus. Tujuan dilakukannya penelitian ini untuk mengetahui adanya cedera usus pada anak stunting. Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian deskriptif untuk mengetahui berat molekul protein Lithostathine 1β (REG 1B) pada sampel serum anak penderita. Populasi dalam penelitian ini adalah 18 anak penderita stunting di BLUD UPTD Puskesmas Benu-Benua. Jumlah sampel yang digunakan adalah 8 anak. Metode penelitian berupa ekstraksi protein, pemurnian protein dan pengukuran kadar protein menggunakan metode SDS-PAGE. Berdasarkan hasil penelitian diperoleh karakteristik umur 12-23 bulan berjumlah 2 (25%) anak dan umur 24-59 bulan berjumlah 6 (75%) anak. Untuk karakteristik berdasarkan jenis kelamin laki-laki berjumlah 5 (62,5%) anak dan perempuan berjumlah 3 (37,5%) anak. Berdasarkan status stunting terdapat 2 (25%) anak dengan status sangat pendek dan 6 (75%) anak dengan status pendek. Pada 8 anak penderita stunting yang dilakukan terdapat 1 (12,5%) anak penderita stunting yang kemungkinan positif mengalami cedera usus dan 7 (87,5%) anak yang tidak mengalami cedera usus. Keadaan ini dibuktikan dengan terbentuknya pita protein lithostathine 1β (REG 1B) dengan berat molekul 16 kDa pada sampel ketiga. Kesimpulan berdasarkan hasil penelitian adalah pada anak penderita stunting bahwa dari 8 responden anak penderita stunting 1(12,5%) responden diperoleh kemungkinan mengalami cedera usus. Hal tersebut ditandai dengan ditemukannya Protein Lithostathine 1β (REG 1B) dengan berat molekul 16 kDa. Saran bagi peneliti selanjutnya untuk mendeteksi Protein Lithostathine 1β (REG 1B) pada pasien dengan kasus kanker kolon, diharapkan pula untuk membahas protein lain yang dapat berkaitan dengan kejadian stunting.
ANALISIS BILIRUBIN DAN PROTEIN PADA URINE PENDERITA TB PARU PASCA PENGOBATAN 6 BULAN DI PUSKESMAS POASIA Sugireng; Ria Ningsih; Tasman
Jurnal MediLab Mandala Waluya Vol. 7 No. 2 (2023): JURNALMEDILAB MANDALA WALUYA
Publisher : Prodi D4 Teknologi Laboratorium Medis, Universitas Mandala Waluya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54883.7.2.5

Abstract

Tuberkulosis (TB) adalah penyakit menular langsung yang disebabkan oleh kuman Mycobacterium tuberculosis. Pengobatan TB, yang dinamakan Obat Anti Tuberkulosis (OAT) harus dikonsumsi selama 6-8 bulan. Akan tetapi, OAT memiliki efek samping terutama menggangu fungsi hati dan ginjal. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui analisis bilirubin dan protein pada urine penderita TB paru pasca pengobatan 6 bulan. Jenis penelitian ini adalah deskriptif untuk melihat bilirubin dan protein pada urine penderita TB paru pasca pengobatan 6 bulan. Populasi sampel pada penelitian ini yaitu penderita TB paru pasca pengobatan 6 bulan sebanyak 20 orang. Jumlah sampel ditentukan dengan rumus Slovin sehingga di peroleh 16 sampel. Metode yang digunakan dalam pemeriksaan bilirubin dan protein pada urine yaitu menggunakan strip carik celup. Hasil penelitian dari 16 sampel yaitu pada pemeriksaan Bilirubin Urine di dapatkan sampel normal 12 (75%) dan sampel positif 4 (25%). Pada pemeriksan Protein Urine di dapatkan sampel normal 11 (68,75%), sampel trace 3 (18,75) dan sampel positif 2 (12,50%). Penyebab terjadinya kenaikan Bilirubin Urine yaitu karena penderita mengkonsumsi OAT secara terus menerus tanpa disertai dengan pola hidup sehat. Dan penyebab terjadinya kenaikan Protein Urine disebabkan oleh lamanya pengobatan, yang mana salah satu efek samping dari terapi OAT yaitu rifampisin dan streptomisin. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan pemeriksaan urine pada penderita TB paru pasca 6 bulan didapatkan Bilirubin urine didapatkah hasil normal 12 (75%) dan positif 4 (25%). Dan pada pemeriksaan protein urine didapatkan hasil normal 11 (68,75%), trace 3 (18,75%) dan positif 2 (12,50%). Adapun saran kepada peneliti selanjutnya adalah dapat melakukan pemeriksaan bilirubin dan protein pada urine penderita TB paru pengobatan 1 bulan dan 2 bulan (pengobatan fase awal).
PENGARUH HIPERTENSI TERHADAP KADAR PROTEIN URINE DAN GLUKOSA URINE IBU HAMIL TRIMESTER II DAN III PADA INDIKASI PREEKLAMSIA DI PUSKESMAS WONGGEDUKU Erick Erianto Arif; Rasdiana; Juslan
Jurnal MediLab Mandala Waluya Vol. 7 No. 2 (2023): JURNALMEDILAB MANDALA WALUYA
Publisher : Prodi D4 Teknologi Laboratorium Medis, Universitas Mandala Waluya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54883.7.2.12

Abstract

Preeklamsia adalah kelainan malfungsi endotel pembuluh darah yang menyebar luas sehingga terjadi vasospasme (penyempitan pembuluh darah) setelah usia kehamilan 20 minggu yang dapat mengakibatkan terjadinya penurunan fungsi organ dan pengaktifan endotel yang menimbulkan terjadinya hipertensi, edema, proteinuria dan glukosa urine. Preeklamsi umumnya terjadi pada usia kehamilan trimester II dan trimester III. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh hipertensi terhadap kadar protein urine dan glukosa urine ibu hamil trimester II dan III pada indikasi preeklamsia di Puskesmas Wonggeduku. Penelitian ini termasuk penelitian observasional analitik dengan desain Cross-sectional. penelitian ini telah dilaksanakan pada April-Mei 2023. Populasi dalam penelitian ini adalah ibu hamil trimester II dan trimester III dengan tekanan darah ≥ 140/90 mmHg di wilayah kerja Puskesmas Wonggeduku yang berjumlah 28 orang dengan sampel 28 responden dengan teknik total sampling. Pemeriksaan sampel dilakukan dengan menggunakan alat urine analyser. Metode analisis menggunakan uji statistik Mann Whitney. Berdasarkan hasil penelitian pada uji Mann Whitney. Menunjukkan bahwa ada pengaruh hipertensi terhadap kadar protein urine dan glukosa urine ibu hamil trimester III (protein urine p-value = 0,01, glukosa urine p-value = 0,000) dan tidak terdapat pengaruh hipertensi pada kadar protein uerine dan glukosa urine ibu hamil trimester II (protein urine p-value = 0,169. Glukosa urine p-value = 0,08). Dimana p-value < α menunjukkan ada pengaruh yang signifikan. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa ada pengaruh hipertensi terhadap kadar protein urine dan glukosa urine ibu hamil trimester III. Diharapkan bagi institusi pelayanan kesehatan dan tenaga kesehatan yang terkait agar melakukan skrining terhadap ibu hamil berupa pemeriksaan protein urine dan glukosa urine guna meminimalisir resiko terjadinya kasus preeklamsia.
PERBEDAAN SENSITIVITAS DAN SPESIFISITAS PEMERIKSAAN MALARIA METODE MIKROSKOPIS, RAPID DIAGNOSTIC TEST (RDT) DAN POLYMERASE CHAIN REACTION (PCR) Suwarny; La Ode Saafi; Riska Agustiyanti
Jurnal MediLab Mandala Waluya Vol. 7 No. 2 (2023): JURNALMEDILAB MANDALA WALUYA
Publisher : Prodi D4 Teknologi Laboratorium Medis, Universitas Mandala Waluya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54883/

Abstract

World Malaria Report melaporkan bahwa meningkatnya kasus malaria setiap tahun. Hal ini yang menyebabkan malaria menjadi masalah Kesehatan paling serius didunia yang membunuh setengah juta setiap tahunnya. Salah satu bentuk penegakan diagnosis tepat pemeriksaan malaria dilakukan dengan beberapa cara yaitu, metode mikroskopis, Rapid Diagnostic Test (RDT) dan Polymerase Chain Reaction (PCR). Berdasarkan ketiga metode pemeriksaan malaria maka ingin diketahui perbedaan antara sensitivitas dan spesifisitas dalam mendiagnosis malaria. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengkaji perbedaan pemeriksaan malaria menggunakan metode mikroskopis, Rapid Diagnostic Test (RDT) dan Polymerase Chain Reaction (PCR). Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian kuantitatif dengan pendekatan non eksperimental. Populasi pada penelitian ini adalah seluruh pasien suspect malaria yang berjumlah 5 orang dengan sampel darah pasien suspect yang berkunjung di RSUD Kab. Konawe Kepulauan. Metode yang digunakan adalah metode mikroskopis, Rapid Diagnostic Test (RDT) dan Polymerase Chain Reaction (PCR). Hasil penelitian ini adalah pada metode mikroskopis dan Rapid Diagnostic Test (RDT) ditemukan sensitivitas 100%, spesifisitas 100%, nilai duga positif 100% dan nilai duga negative 100%. Metode mikroskopis dan Polymerase Chain Reaction (PCR) ditemukan sensitivitas 0%, spesifisitas 100%, nilai duga positif 0% dan nilai duga negative 40%. Metode Polymerase Chain Reaction (PCR) dan Rapid Diagnostic Test (RDT) ditemukan sensitivitas 0%, spesifisitas 100%, nilai duga positif 0% dan nilai duga negative 40%. Berdasarkan dari hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa terdapat perbedaan sensitivitas dan spesifisitas pemeriksaan malaria menggunakan metode mikroskopis, Rapid Diagnostic Test (RDT) dan Polymerase Chain Reaction (PCR)
UJI STABILITAS PEMERIKSAAN JUMLAH LEUKOSIT DAN TROMBOSIT PADA SAMPEL DARAH YANG DIDIAMKAN PADA SUHU RUANG DENGAN MENGGUNAKAN HEMATOLOGI ANALYZER Sapril Kartin; Asni Ramayana Tina; La Ode Muhammad Ardiansyah
Jurnal MediLab Mandala Waluya Vol. 7 No. 2 (2023): JURNALMEDILAB MANDALA WALUYA
Publisher : Prodi D4 Teknologi Laboratorium Medis, Universitas Mandala Waluya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54883.7.2.6

Abstract

Leukosit merupakan sel darah putih yang diproduksi oleh jaringan hemopoetik untuk jenis bergranula (polimorfonuklear) dan jaringan limpatik untuk jenis tak bergarnula (mononuclear). Trombosit adalah sitoplasma pecahan dari megakariosit dengan diameter 3 hingga 5 m dan volume 4, 5 hingga 11 fL. Tujuan penelitian ini yaitu untuk mengetahui perbandingan uji stabilitas pemeriksaan jumlah leukosit dan trombosit pada sampel darah yang didiamkan pada suhu ruang dengan menggunakan hematologic analyzer. Jenis penelitian ini yaitu menggunakan metode eksperimental laboratorik dengan pendekatan Cross Sectional. Populasi dalam penelitian ini adalah Mahasiswi Fakultas Sains dan Teknologi Program Studi D-IV Teknologi Laboratorium Medik Universitas Mandala Waluya. Berdasarkan perhitungan didapatkan 10 responden. Analisis yang digunakan adalah uji Anova untuk mendeskripsikan nilai pemeriksaan jumlah leukosit dan trombosit. Hasil penelitan menunjukan pada pemeriksaan leukosit didapakan nilai signifikan = 0,96 dan trombosit didapatkan nilai signifikan = 0,91 0,05. Sehingga, pada penelitian ini H0 ditolak dan H1 diterima. Kesimpulan pada penelitian ini yaitu tidak ada perbandingan bermakna anatara pemeriksaan jumlah leukosit dan pemeriksaan jumlah trombosit. Saran pada penelitian ini yaitu harus dilakukan pemeriksaan segera tidak untuk dilakukan penundaan selama 3 jam dan 6 jam penundaan pemeriksaan.
KARATERISTIK INTERLEUKIN 17 ( IL - 17 ) PADA PENDERITA DIABETES MELLITUS TIPE 2 YANG MENGALAMI ULKUS DIABETIK MENGGUNAKAN METODE SODIUM DODECYL SULPHATE POLY ACRYLAMIDE GEL ELEKTROFORESIS (SDS-PAGE) DI RSUD KOTA KENDARI Satriani Syarif; Anisa Ramadan; Tasman
Jurnal MediLab Mandala Waluya Vol. 7 No. 2 (2023): JURNALMEDILAB MANDALA WALUYA
Publisher : Prodi D4 Teknologi Laboratorium Medis, Universitas Mandala Waluya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54883.7.2.16

Abstract

Diabetes Melitus adalah salah satu kelompok penyakit metabolik dengan karakteristik yang terjadi akibat kelainan sekresi insulin. Komplikasi kronis dari diabetes mellitus salah satunya adalah ulkus diabetik. Ulkus ini berupa luka di kulit kaki yang disertai kerusakan atau kematian jaringan. Diabetes mellitus seringkali dikaitkan dengan keadaan proinflamasi pada saat terjadi ulkus. Interleukin-17 merupakan jenis sitokin yang memiliki peran pada saat terjadi proinflamasi. Dengan memahami hubungan antara Interleukin-17 dan ulkus diabetik, penelitian ini dapat menghasilkan solusi medis yang lebih tepat sasaran untuk pasien di RSUD Kota Kendari dengan meningkatkan kualitas perawatan dan pengembangan terapi yang lebih efektif. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui karateristik jenis protein Interleukin-17 pada penderita diabetes mellitus tipe 2 yang mengalami ulkus diabetik. Jenis penelitian ini adalah deskriptif untuk melihat ada tidaknya jenis protein interleukin-17 yang terdapat pada plasma pasien penderita diabetes mellitus tipe 2 yang mengalami ulkus diabetik menggunakan metode Sodium Dodecyl Sulphate Poly Acrylamide Gel Elektroforesis (SDS-PAGE). Populasi pada penelitian ini yaitu 9 responden. Jumlah sampel ditentukan dengan rumus slovin sehingga diperoleh 7 sampel. Hasil penelitian dari 8 sampel yaitu 7 sampel protein dari penderita diabetes mellitus tipe 2 yang mengalami ulkus diabetik dan 1 sampel adalah kontrol yaitu penderita diabetes mellitus tipe 2 tanpa mengalami komplikasi ulkus diabetik menunjukkan bahwa sebanyak 7 sampel protein yang berhasil diidentifikasi dari pasien diabetes mellitus tipe 2 yang mengalami ulkus diabetik adalah IL-17F dengan berat molekul sekitar 44 kDa sedangkan protein-protein IL-17 yang lain tidak muncul. IL-17F pada penderita DM yang mengalami ulkus diabetik menandakan adanya peningkatan keparahan peradangan pada luka. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa yang berhasil diidentifikasi protein interleukin-17 pada pasien diabetes mellitus tipe 2 yang mengalami ulkus diabetik adalah interleukin-17F dengan berat molekul 44 kDa. Adapun saran kepada peneliti selanjutnya dapat melakukan penelitian mengidentifikasi jenis protein sitokin pada pasien diabetes mellitus tipe 2 menggunakan metode yang sama tetapi dengan kompikasi yang berbeda.
PERBEDAAN HASIL PEMERIKSAAN MIKROSKOPIS BTA (BAKTERI TAHAN ASAM) TEHADAP NILAI CT VALUE PADA PEMERIKSAAN TCM (TES CEPAT MOLEKULER) Titi Purnama; Efrianto; Muh Sainal Abidin; Amirah
Jurnal MediLab Mandala Waluya Vol. 7 No. 2 (2023): JURNALMEDILAB MANDALA WALUYA
Publisher : Prodi D4 Teknologi Laboratorium Medis, Universitas Mandala Waluya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54883.7.2.3

Abstract

Pemeriksaan Gold satandar untuk menegakkan diagnosis Tuberculosis adalah pemeriksaan media kultur sedangkan pemeriksaan BTA masih banyak digunakan pada beberapa faskes untuk penunjang. untuk pemeriksaan TCM lebih cepat dan spesifik dibandingkan dengan pemeriksaan BTA, namun pemeriksaan ini sangat terbatas di berbagai faskes dan rumah sakit. Jika nilai Ct value tinggi kemungkinan besar jumlah bakteri banyak. Tujuan umum penelitian ini adalah untuk mengetahui perbedaan hasil pemeriksaan mikroskopis BTA dan TCM terhadap bakteri Mycobacterium Tuberculosis. Jenis penelitian ini adalah kuantitatif dengan desain penelitian deskriptif observasional. Populasi dalam penelitian ini adalah pasien suspek Tuberculosis sebanyak 20 orang dengan menggunakan metode total sampling dimana jumlah sampel sama dengan jumlah populasi yaitu 20 sampel. Hasil penelitian dari 20 sampel pada pemeriksaan TCM dan BTA dari 20 sampel didapatkan hasil 14 (70 %) positif TCM, sedangkan 3+ BTA terdapat 8 (40 %), 1+ terdapat 6 (30 %) sampel, negatif TCM 6 (30 %) sampel, dan Negatif BTA 6 (30 %) sampel. Hasil dari uji anova berdasarkan nilai Ct Value skala medium, low, fery low dan negatif pada TCM dan BTA diperoleh nilai p Value 0,000 yang menunjukan adanya perbedaan metode tersebut. Pemeriksaan TCM baik untuk mendeteksi awal gejala pasien Tb sedangkan BTA baik untuk mendeteksi awal gejala dan pementauan pengobatan
IDENTIFIKASI PENGARUH LAMA WAKTU PERENDAMAN FIKSASI TERHADAP GAMBARAN HISTOPATOLOGI PANKREAS PADA MENCIT (Mus musculus) SETELAH INDUKSI ALOKSAN Sri Anggarini Rasyid; Elsa Sapitri; Marsidin
Jurnal MediLab Mandala Waluya Vol. 7 No. 2 (2023): JURNALMEDILAB MANDALA WALUYA
Publisher : Prodi D4 Teknologi Laboratorium Medis, Universitas Mandala Waluya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54883.7.2.14

Abstract

Aloksan merupakan bahan kimia yang digunakan untuk menginduksi diabetes pada hewan model hiperglikemik. Pemberian aloksan adalah cara yang cepat untuk menghasilkan kondisi diabetik eksperimental(hiperglikemik) pada hewan percobaan.. Fiksasi merupakan suatu perlakuan tertentu terhadap elemen-elemen jaringan, terutama inti sel atau nukleusnya, sehingga dapat di awetkan dalam kondisi aslinya. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui apakah pengaruh pewarnaan pada sediaan morfologi histologi pankreas pada sitoplasma akibat lama waktu perendaman fiksasi 5 jam dan 9 jam pada mencit setelah induksi aloksan. Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian eksperimen. Populasi yang digunakan adalah 3 ekor mencit, 1 ekor sebagai kontrol negatif dan 2 ekor yang telah induksi Aloksan Hasil penelitian idenfikasi gambaran histopatologi pankreas mencit dilakukan dengan menggunakan metode histoteknik dan pewarnaan hematoxyline eosin. dari 3 sampel pankreas mencit, 1 mencit yang tanpa perlakuan dan 2 mencit yang telah diberikan perlakuan menunjukkan gambaran sitoplasma, inti sel, dan sel asinar tampak normal. Hal ini menunjukkan bahwa fiksasi selama 5 jam dan 9 jam masih masuk kedalam waktu yang direkomendasikan untuk dipakai dalam melakukan fiksasi untuk histoteknik. Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan didapatkan hasil gambaran histopatologi pankreas mencit (Mus musculus) pasca induksi Aloksan adalah jaringan pankreas yang diamati di labolatorium klinik Universitas Mandala Waluya tidak mengalami kerusakan setelah fiksasi 5 jam dan 9 jam. Sehingga dapat disimpulkan bahwa penggunaan waktu fiksasi 5 jam dan 9 jam masih masuk kedalam waktu yang direkomendasikan untuk dipakai dalam melakukan fiksasi untuk histoteknik

Page 7 of 12 | Total Record : 118