J-Sil (Jurnal Teknik Sipil dan Lingkungan)
J-Sil (Jurnal Teknik Sipil dan Lingkungan) was established in 2016 and is managed by the Department of Civil and Environmental Engineering, IPB University, and the Institute of Engineering Indonesia (PII), Bogor. The journal aims to disseminate original and quality academic papers that have the potential to contribute to the advancement of science and technology in the field of civil and environmental engineering to support sustainable development. The journal covers any scopes within civil and environmental engineering, such as structure, irrigation, drainage, water quality, water construction, hydrology, water management, groundwater conservation, soil mechanics, foundation, soil improvement, slope stability, liquefaction, and soil modeling, road engineering, transportation management, construction management, environmental atmosphere and climate change environment (control of greenhouse gases, air quality models, climate change locally and globally), renewable energy and waste management (recovery of energy from waste, incineration, landfills, and green energy, biotechnology environment (nano-bio sensors, bioenergy, environmental eco-engineering), technology, physical, biological, and chemical (membrane technology, the process of advanced oxidation technology Physico-chemical, biological treatment of water), engineering environmental control (desalination, ICA (instruments, power, and automation), and water reuse technologies) and Applied Geomatics. The journal receives original papers from various contributors, such as academicians, scientists, researchers, practitioners, and students worldwide.
Articles
198 Documents
Perencanaan Konsep Zero Runoff dengan Menggunakan Sumur Resapan di Perumahan X, Kabupaten Bandung
Alsadilla, Syelfa;
Wardhani, Eka
Jurnal Teknik Sipil dan Lingkungan Vol. 9 No. 2: Oktober 2024
Publisher : Departemen Teknik Sipil dan Lingkungan IPB
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.29244/jsil.9.2.147-156
Pembagunan Perumahan X di Kabupaten Bandung mengakibatkan perubahan fungsi lahan dari persawahan menjadi permukiman sehingga mengurangi daerah resapan air. Hal ini mengakibatkan terjadinya banjir. Penggunaan air tanah berlebih di perumahan ini dapat mengakibatkan berkurangnya volume air tanah dan turunnya permukaan tanah. Penelitian ini bertujuan untuk merencanakan sumur resapan untuk mengendalikan limpasan air hujan dan konservasi air tanah. Acuan yang digunakan dalam perencanaan sumur resapan adalah SNI 8456:2017 tentang sumur dan parit resapan air hujan. Hasil penelitian menunjukkan penerapan sumur resapan di Perumahan X dapat dilakukan karena nilai permeabilitas tanah, jarak minimum bangunan, dan kedalaman air tanah yang memenuhi persyaratan. Perencanaan sumur resapan terbagi menjadi enam zona pelayanan dengan menggunakan tipe IV beton porous. Sumur resapan yang direncanakan merupakan sumur komunal dengan kedalaman 4 m dan diameter 1. Jumlah sumur resapan yang diperlukan adalah 67 unit yang tersebar di semua area perumahan. Perencanaan sumur resapan memiliki efektivitas reduksi debit limpasan 94,81%. Biaya yang diperlukan adalah Rp283.611.000. Penelitian ini menunjukkan bahwa perencanaan sumur resapan dapat mengandalikan debit limpasan air hujan dan konservasi air tanah.
Mengoptimalkan Pemeliharaan Infrastruktur melalui Analisis Genangan Banjir di Graha Artha Residence Menggunakan Storm Water Management Model (SWMM)
Nanda, Mahdika Putra;
Rochman, Fatkhur;
Abdulgani, Hamdani
Jurnal Teknik Sipil dan Lingkungan Vol. 9 No. 1: April 2024
Publisher : Departemen Teknik Sipil dan Lingkungan IPB
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.29244/jsil.9.1.71-82
Kecamatan Sindang yang terletak di Kabupaten Indramayu, secara berulang mengalami genangan saat hujan terjadi, terutama di sepanjang saluran drainase di Perumahan Graha Artha Residence. Faktor utama pemicunya adalah perubahan lingkungan yang awalnya pada tahun 2015 merupakan lahan rawa yang berfungsi sebagai resapan air, mengakibatkan sistem drainase yang ada saat ini tidak dapat mengatasi secara efisien aliran air hujan yang tinggi dan sering mengakibatkan genangan, berdasarkan hal itu tujuan dari penelitian ini yaitu untuk menganalisi saluran yang terdampak untuk periode 5 tahun dan 10 tahun kedepan mengunakan software SWMM. Berdasarkan hasil analisis data periode 5 tahun pada saluran di perumahan Graha Artha, terlihat bahwa genangan air mengalami variasi yang signifikan di berbagai lokasi, dengan durasi dan volume genangan yang berbeda-beda. Langkah-langkah pencegahan dan perbaikan dapat diambil, seperti perbaikan pada sistem drainase dan penerapan sistem retensi air. Selain itu, data periode ulang 5 dan 10 tahun menunjukkan temuan menonjol, seperti tinggi genangan yang signifikan di Blok E3, Blok E6, dan JL. Cendrawasih, serta potensi risiko banjir lebih besar di lokasi tersebut selama periode ulang 10 tahun. Meskipun Blok B1 memiliki total runoff yang lebih rendah, lama genangan yang cukup lama menunjukkan potensi masalah drainase. Oleh karena itu, penanganan yang terfokus dan adaptasi solusi yang sesuai dengan kondisi setiap lokasi sangat penting untuk mengurangi dampak banjir di wilayah Graha Artha Residence.
Analisis Metode Penggalian Terowongan Pengelak Pada Lapisan Tanah Pasir Di Bendungan Tiga Dihaji
Pranata, Maulana Septian Dwi;
Suharyanto;
Hidajat, Wahju Krisna
Jurnal Teknik Sipil dan Lingkungan Vol. 9 No. 1: April 2024
Publisher : Departemen Teknik Sipil dan Lingkungan IPB
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.29244/jsil.9.1.61-70
Pada pelaksanaan pembangunan Bendungan Tiga Dihaji yang terletak diKabupaten Ogan Komering Ulu (OKU) Selatan, Provinsi Sumatera Selatan, terdapat pekerjaan terowongan pengelak. Terowongan pengelak memiliki fungsi untuk mengalirkan air sungai selama masa pelaksanaan konstruksi bendungan. Pekerjaan terowongan tersebut sempat terhenti akibat terjadi cave-in dan sinkhole yang diindikasikan terjadi pada lapisan pasir lepas, tepatnya berada pada terowongan pengelak STA 0+318 s/d 0+347,8. Indikasi tersebut diperkuat berdasarkan hasil pemetaan geologi.Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis metode penggalian berdasarkan ketentuan Pettifier dan Fooker (1994), metode bukaan dan perkuatan terowongan berdasarkan Japan Society of Engineers (JSCE, 2007) serta mengevaluasi penanganan cave-in dan sinkhole yang dilakukan di lapangan sehingga pekerjaan penggalian terowongan pengelak dapat kembali dilanjutkan. Hasil dari penelitian ini didapatkan metode penggalian yang tepat adalah Hard Digging. Metode bukaan berdasarkan JSCE adalah heading dan bench dengan alat penggalian yang digunakan adalah excavator. Metode perkuatan bukaan terowongan yang direkomendasikan menggunakan shotcrete, rockbolts, steel ribs dan invert. Pekerjaan penanganan cave-in dan sinkhole yaitu dengan melakukan modifikasi steel rib membentuk kanopi, melakukan pengisian cave-in dengan mortar foam dengan kuat tekan minimum 0,8 Mpa dan pengisian sinkhole dengan mortarbiasa dengan kuat tekan minimum 5 Mpa.
Penentuan Diameter Pipa pada Jaringan Perpipaan Sistem Intake Tambak Garam
Fachrudin, Muhammad;
Purwanto, Mohammad Yanuar J;
Prastowo;
Saptomo, Satyanto K
Jurnal Teknik Sipil dan Lingkungan Vol. 9 No. 1: April 2024
Publisher : Departemen Teknik Sipil dan Lingkungan IPB
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.29244/jsil.9.1.31-40
Irigasi tambak garam di Indonesia masih tradisional, sehingga berdampak terhadap rendahnya mutu garam yang diproduksi oleh petani. Oleh karena itu perlu direncang irigasi teknis yang dapat mengambil air laut yang memiliki salinitas yang baik, terhindar dari run off aliran sungai berdasarkan fluktuasi pasang surut. Penelitan ini bertujuan untuk melakukan perancangan sistem intake tambak garam berdasarkan kondisi salinitas dan fluktuasi pasang surut air laut. Perancangan hidrolika pipa yang akan dilakukan meliputi penentuan diameter pipa yang efektif (dalam bentuk diagram) untuk mengisi air laut kedalam tambak, yang sesuai dengan perubahan ketinggian akibat fluktasi pasang surut dan panjang pipa berdasarkan penentuan titik pengambilan air laut (inlet). Salinitas air laut yang baik untuk bahan baku garam berada pada jarak 1.585,8 meter dari pintu masuk air tambak exsisting. Pada titik tersebut Elevation Head dari muka air laut yang efektif setinggi 0,4 meter sampai dengan 1 meter. Hasil simulasi menujukan bahwa diameter pipa yang dapat digunakan adalah 14“, 16“, 18“ dan 20“. Untuk mengisi storage tambak telah dapat dikembangkan nomogram untuk menentukan diameter pipa intake berdasarkan debit yang diperlukan sesuai dengan fluktuasi pasang surut dan posisi inlet. Dari nomogram tersebut ditentukan bahwa diameter yang efektif untuk memenuhi kebutuhan air laut selama dua minggu sebagai bahan baku adalah diameter 20“.
Rancangan Sumur Resapan pada Bangunan Hunian Vertikal sebagai Implementasi kriteria Greenbuilding
Manik, Ayu Sartika Imia;
Saptomo, Satyanto Krido;
Chadirin, Yudi
Jurnal Teknik Sipil dan Lingkungan Vol. 9 No. 1: April 2024
Publisher : Departemen Teknik Sipil dan Lingkungan IPB
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.29244/jsil.9.1.93-104
Land-use change due to development continues to increase so that it impacts decreasing infiltration area and increasing surface water runoff. One of the solutions to merahuce runoff is to apply green building concepts using infiltration wells. This study aims to design infiltration wells based on greenship new building 1.2 to merahuce the volume of rainwater runoff and STP runoff water that has met the quality standards at vertical residential buildings, as well as assessing the green building category of land use at design recognition stage. The results of planning rainwater absorption wells in accordance with the greenship new building version 1.2 showed that it is necessary to make circular infiltration wells with a diameter of 1,5 m and a depth of 5 m. It takes as many as 34 units with an effectiveness value of 99.1%. While the infiltration well for STP effluent water is required as many as 44 units with 100% effectiveness. The result of green building assessment in this apartment plan for appropiate site development category has reached 64% (11 out of 17 points)
Analisis Pengukuran Kecepatan Aliran Permukaan Sungai Dengan Metode “Large Scale Particle Image Velocimetry” Menggunakan Fotogrametri Terestris, Studi Kasus : Sungai Mungkung, Kabupaten Sragen
Sheehan Maladzi, Havi;
Bashit, Nurhadi;
Sasmito, Bandi
Jurnal Teknik Sipil dan Lingkungan Vol. 9 No. 1: April 2024
Publisher : Departemen Teknik Sipil dan Lingkungan IPB
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.29244/jsil.9.1.83-92
Purpose – The infeasibility and impracticality of using intrusive measurement equipment to collect information on flow velocities in complex environments created a compelling need for alternative, nonintrusive velocimetry approaches. Several studies have already demonstrated that drone-borne imaging techniques allow for quick, safe and comprehensive quantification of surface flow velocities. Despite the efforts of the existing studies, there is still limited experience in using such techniques. Within this context, this research aimed to assess the feasibility of using drone-borne imaging techniques and large-scale particle image velocimetry (LSPIV) to infer surface flow velocities within large-scale fluvial applications. This research also aimed to provide a process-based explanation as to why or how certain methods are effective or ineffective when applying LSPIV. A fundamental requirement in LSPIV is that the surface of the flow must be seeded with tracers. This research investigated whether it is feasible to apply LSPIV in flows seeded by naturally occurring features, such as foam and air bubbles generated by turbulent activities in the flow. Methods and materials – A detailed workflow was developed to guide the LSPIV analyses performed in this study. The LSPIV workflow can be characterised by four main stages, including (1) data acquisition and preparatory work; (2) image pre-processing; (3) image evaluation; and (4) post-processing. The first stage involved the collection of video recordings of the flowing water near hydraulic structures at two study areas in the Netherlands, namely the Dinkel River at Lattrop-Breklenkamp and Meuse River at Sambeek. These recordings were collected by both a drone and terrestrial camera system. In the second stage, images obtained from the field campaign were processed through the application of image stabilisation and orthorectification to reduce the effects of image distortions, deformations and instabilities; the imagery was also enhanced with various filters to improve the detectability and traceability of features on the water surface. Subsequently, the LSPIV algorithm was applied to the pre-processed imagery to obtain a vector field representing the surface water flow velocities at both study areas. The LSPIV algorithm essentially attempts to estimate the displacement of distinct features on the water surface through the application of a statistical pattern matching technique; more specifically, the cross-correlation function is computed to achieve this. The algorithm then relates therecorded displacements to the velocity field of the observed flow. In the final stage, spurious vectors in the vector field were corrected, and an accuracy assessment was performed using reference velocity measurements obtained from the so-called float method. This research further explored the influence of various experimental configurations and image processing parameters on the LSPIV outputs through an extensive sensitivity analysis. Finally, this study performed a comparative analysis of drone-based LSPIV with conventional, fixed camera LSPIV implementations. Results and discussion – Naturally occurring features on the water surface were found to be omnipresent in the Dinkel River study area at the time of the field campaign; the seeding density was estimated to be around 10%, and overall adequate seeding homogeneity was observed. The LSPIV derived surface water flow velocities for the Dinkel River case were in relatively good agreement with the reference velocity measurements, with mean absolute velocity deviations in the order of 10-2 m/s and normalised root mean squared values ranging between 5% and 9%. The velocity fields could accurately describe the bulk flow behaviour and capture horizontal flow structures at different spatial scales. The LSPIV analysis in the case of the Meuse River study area yielded comparatively worse agreement with the reference measurements; the accuracy assessment revealed mean absolute deviations from the reference values in the order of 10-1 m/s and a normalised root mean squared error value around 35%; the poor performance was attributed to the low seeding densities (±5%) and strong seeding inhomogeneity. The sensitivity analysis highlighted the importance of specifying the appropriate sampling frequency at which the images are collected. In low flow conditions, it was required to resample the data to lower sampling frequencies (2-5 Hz) to achieve adequate LSPIV performance. Other key parameters in LSPIV implementations are the image sequence duration, interrogation area size and image resolution. The appropriate image sequence duration is highly case-specific and should be selected with extreme care prior to the LSPIV analysis; durations of only several seconds may not be sufficient to obtain satisfactory results. The interrogation area size and image resolution are particularly important for flows that contain relatively large surface features. Based on experimental observations, the inclination of the camera axis with respect to the water surface must be kept as small as possible to minimise error associated with perspective distortions. Furthermore, the comparative analysis of drone-based LSPIV with fixed camera LSPIV implementations strongly favoured the use of drones in large-scale fluvial applications; the significant inclination of the camera axis and improper positioning of the stationary camera setup resulted in significant measurement error. Above all, low seeding densities (<10%) and seeding inhomogeneity were found to be detrimental for the measurement accuracy. Inthe case of tracer scarcity and seeding inhomogeneity, it is recommended that the LSPIV analysis is performed on the video portions that exhibit the best seeding conditions instead of the full video. Conclusion – Based on the findings of this research, it can be argued that drone-based LSPIV offers a promising method for capturing the spatial and temporal structure of fluid motions without the need for artificial flow seeding. However, one must realise that the successful application of LSPIV requires a thorough understanding of its underlying principles and the parameters associated with data collection and image processing. Under the right conditions and by carefully selecting the appropriate experimental configurations and input parameters, accurate surface water flow velocity estimations may be obtained. Future research should focus attention on further establishing the validity of drone-based LSPIV; this can done by rigorously testing drone-based LSPIV implementations in different environments at different spatial scales under varying seeding and flow conditions.
Identifikasi Struktur Bawah Permukaan Tanah Menggunakan Survei Geolistrik dan Geoteknik Untuk Perencanaan Pembangunan Infrastruktur Areal Selatan Politeknik Pertanian Negeri Samarinda
SM, A. Arifin Itsnani;
Muhammad Tahrir;
Haryo Wicaksono;
Yuniar Artati
Jurnal Teknik Sipil dan Lingkungan Vol. 9 No. 1: April 2024
Publisher : Departemen Teknik Sipil dan Lingkungan IPB
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.29244/jsil.9.1.105-114
Sesuai dengan rencana pembangunan infrastruktur di areal selatan akan dibangun jalan lingkar dalam kampus sejauh ± 1.5 km sebagai penghubung dengan jaringan jalan lainnya, penambahan gedung baru, dan fasilitas sumber air tanah. Oleh sebab itu, terlebih dahulu diperlukan data geolistrik dan geoteknik sebagai dasar perencanaan pembangunan infrastruktur baru. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk memetakan struktur bawah permukaan tanah menggunakan metode geolistrik tahanan jenis (resistivitas) dan mengidentifikasi stabilitas tanah di areal selatan rencana pembangunan infrastruktur baru. Survei geolistrik menggunakan konfigurasi Wenner Schlumberger sebanyak 4 lintasan memanjang ±100 m per lintasan spasi (a) 5 m dan 3 lintasan melintang ±21 m per lintasan spasi (a) 3 m. Metode ini dapat mengidentifikasi sebaran nilai resistivitas bawah permukaan secara lateral. Nilai resitivitas yang diperoleh dari inversi geolistrik 2D dan 3D adalah nilai terendah 0.233 ohm.m yang diduga sebagai air tanah dangkal, menengah 1-20 ohm.m yang diduga sebagai lanau dan lempung, dan tertinggi 11413 ohm.m yang diduga sebagai batupasir dan dijadikan acuan dalam mengidentifikasi struktur bawah permukaan tanah. Selanjutnya dilakukan pengambilan sampel tanah di 2 titik lintasan untuk pengujian sifat-sifat fisik tanah di areal tersebut yang hasilnya diperoleh tanah jenis pasir (SM) dan lempung lanau (MH) berdasarkan uji laboratorium dan klasifikasi USCS. Hasil identifikasi struktur bawah permukaan tanah dari survei geolistrik dan kekuatan stabilitas tanah dari uji geoteknik terhadap pembangunan infrastruktur memiliki potensi yang signifikan untuk dilakukan pembangunan jalan yang memadai karena top soil berupa lanau, lempung, pasir yang sebagian lapisan dibawahnya berupa batupasir yang kuat menahan beban konstruksi jalan
Analisis Serangan Sulfat pada Self Compacting Concrete (SCC) menggunakan Variasi Penambahan Silica fume dengan Metode Perubahan Panjang
Solikin, Mochamad;
Setiawan, Budi;
Iqbal Rahmad Afani;
Habdan Rizki Perdana;
Nindya Sabrina;
Rois Fatoni;
Indah Pratiwi
Jurnal Teknik Sipil dan Lingkungan Vol. 9 No. 1: April 2024
Publisher : Departemen Teknik Sipil dan Lingkungan IPB
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.29244/jsil.9.1.115-126
Beton adalah salah satu material yang sering dijumpai pada struktur konstruksi. Hal ini menjadikan beton harus memiliki ketahanan terhadap kondisi lingkungan sekitar, baik dalam kondisi kering maupun basah. Tak sedikit di lingkungan sekitar terdapat bahan agresif seperti sulfat yang dapat menurunkan durabilitas dan sifat mekanis beton. Dalam rangka mengatasi permasalahan tersebut peneliti menggunakan bahan tambah silica fume untuk meningkatkan ketahanan pada beton terhadap serangan sulfat. Dalam penelitian ini, rancangan campuran beton dibuat menurut metode ACI dengan kuat tekan rencana 25 MPa. Pengujian ketahanan beton terhadap serangan sulfat dilakukan dengan perendaman benda uji siklus kering-basah pada larutan Natrium Sulfate (Na2SO4) dengan konsentrasi 5% dengan variasi penambahan silica fume 0%, 8%, dan 10%. Benda uji berupa silinder beton berdiameter 15 cm dan tinggi 30 cm untuk menguji kuat tekan beton dan kehilangan berat setelah direndam dalam larutan sulfat. Sedangkan untuk pengujian perubahan panjang menggunakan benda uji balok mortar dimensi 285 mm x 25 mm x 25 mm. Hasil pengujian didapatkan kadar optimum penambahan silica fume sebesar 8% pada beton dengan perendaman larutan sulfat yang berkontribusi meningkatkan nilai kuat tekan beton sebesar 44,91% dan mengurangi efek ekspansi pada mortar hingga 53,39%, sedangkan kadar 10% mengurangi kehilangan berat hingga 0,15% dibandingkan beton tanpa bahan tambah silica fume.
Pengembangan Standar Work Breakdown Structure (WBS) Pekerjaan Pemeliharaan dan Perawatan Struktur Atas Jembatan Beton Berbasis Risiko untuk Meningkatkan Kinerja Keselamatan Konstruksi
Laksono, Naufal;
Hasiholan, Yosua Togar;
Latief, Yusuf;
Saputro, Danang Eko
Jurnal Teknik Sipil dan Lingkungan Vol. 9 No. 1: April 2024
Publisher : Departemen Teknik Sipil dan Lingkungan IPB
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
Kondisi kritis jembatan indonesia dimana hanya 1,2% dari total 18.990 jembatan nasional yang berada dalam kondisi baik di Indonesia, menunjukkan tingginya urgensi pemeliharaan infrastruktur jembatan. Pekerjaan pemeliharaan dan perawatan menjadi aspek krusial untuk memastikan kualitas dan kelangsungan jembatan. Dalam konteks proyek konstruksi, pengembangan Work Breakdown Structure (WBS) pada tahap perencanaan dianggap sebagai elemen penting untuk menjamin kesuksesan proyek. Standar WBS berbasis risiko menjadi alat kunci dalam mengidentifikasi risiko pekerjaan dengan merinci setiap tahap hingga paket pekerjaan, efektif mengurangi dan mengendalikan potensi risiko kecelakaan kerja.Penelitian ini bertujuan mengembangkan standar WBS berbasis risiko khusus untuk pekerjaan pemeliharaan struktur atas jembatan beton. Standar yang dihasilkan terdiri dari 6 level, mencakup 27 variabel risiko dominan, dan menyajikan 3 rekomendasi respons risiko yang dapat diadopsi. Implementasi standar WBS ini diharapkan dapat meningkatkan kinerja keselamatan konstruksi, terutama dalam pengelolaan sumber daya dan pelaksanaan monitoring yang lebih baik. Sebagai panduan holistik, standar ini menjadi landasan untuk optimalisasi pekerjaan pemeliharaan, menjaga kualitas infrastruktur, dan mengurangi risiko potensial dalam proyek konstruksi. Dengan demikian, standar ini diharapkan dapat menjadi kontribusi signifikan dalam memperkuat keselamatan konstruksi, memajukan kualitas infrastruktur, dan menekan risiko potensial dalam proyek konstruksi di Indonesia.
Implementasi Aspek Green Building Berdasarkan Kenyamanan Ruang di Kawasan Pusat Penelitian Kelapa Sawit Medan
Fadillah, Andy;
Febrita, Joana
Jurnal Teknik Sipil dan Lingkungan Vol. 9 No. 1: April 2024
Publisher : Departemen Teknik Sipil dan Lingkungan IPB
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.29244/jsil.9.1.41-50
PPKS (Pusat Penelitian Kelapa Sawit) Medan merupakan unit kerja dari PT. Riset Perkebunan Nusantara yang merupakan anak perusahaan dari Holding PT. Perkebunan Nusantara III (Persero). Penelitian ini dilakukan untuk memberikan penilaian pada gedung PPKS Medan berdasarkan kriteria greenship rating tools untuk bangunan terbangun versi 1.1 dan membandingkan kenyamanan ruang menggunakan simulasi Ecotect Analysis. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Februari 2023 hingga Mei 2023. Hasil assessment kategori energy efficiency and conservation (EEC) menunjukkan bahwa gedung PPKS telah memenuhi 5,5% dari kriteria greenship atau mendapatkan 2 dari 36 poin. Hasil assessment kategori indoor health and comfort (IHC) menunjukkan bahwa gedung PPKS telah memenuhi 35% dari kriteria greenship atau mendapatkan 7 dari 20 poin. Pengukuran pada 12 ruang PPKS Medan mendapatkan nilai rata-rata suhu sebesar 23,30 ℃, kelembaban relatif sebesar 56,39 %, kebisingan sebesar 52,55 dB(A) yang memenuhi standar, dan intensitas cahaya sebesar 201,38 lux yang tidak memenuhi standar. Simulasi software Ecotect Analysis menghasilkan intensitas cahaya yang lebih baik dengan nilai antara 180-684 lux dibandingkan pengukuran langsung antara 158,82-247,73 lux, dikarenakan analisis simulasi mengganti bahan material kaca dan jendela dengan single glazed alumunium frame blind sehingga Gedung PPKS Medan dapat memenuhi standar kenyamanan visual.