Articles
107 Documents
Konsep Membela Allah dalam Al-Qur’an: Analisis Komparatif Penafsiran Ar-Razi, Ibn Al-Khathib dan Quraisy Shihab
Mulyaden, Asep;
Zulaiha, Eni
Mashadiruna Jurnal Ilmu Al-Qurân dan Tafsir Vol. 3 No. 1 (2024): Mashadiruna Jurnal Ilmu Al-Qurân dan Tafsir
Publisher : UIN Sunan Gunung Djati Bandung
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.15575/mjiat.v3i1.29979
Terdapat banyak konsep dalam al-Qur’an yang dijelaskan secara terpisah dalam berbagai ayatnya. Salah satu konsep yang sering kali menjadi polemik di khalayak umum adalah mengenai konsep membela Allah. Tujuan tulisan ini adalah untuk mengungkap konsep membela Allah dalam al-Qur’an yang mencakup makna dan bentuk dari membela Allah tersebut dengan menggunakan sudut pandang tiga mufasir, yaitu Ar-Razi, Ibn Al-Khathib dan Quraisy Shihab. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan kepustakaan serta merujuk pada kitab tafsir yang ditulis oleh tiga mufasir yang telah disebutkan. Hasil yang didapatkan adalah bahwa makna membela Allah dalam al-Qur’an adalah membela agama-Nya, rasul-Nya, golongan atau kelompok-Nya, ajaran atau pengajaran-Nya dan nilai-nilai yang ada di dalamnya. Sedangkan bentuk implementasi dari membela Allah tersebut dilakukan dengan beragam bentuk, seperti: seperti jihad, dakwah, menyampaikan dalil agama, memerintahkan pada kebaikan dan mencegah terjadinya kemunkaran. Semua bentuk tersebut disesuaikan dengan kebutuhan dan kondisi dari pelakunya masing-masing.
Perkembangan Tafsir Al-Qur’an Pada Abad Pertengahan
Nurhayat, Tasya Putri;
Komarudin, Edi
Mashadiruna Jurnal Ilmu Al-Qurân dan Tafsir Vol. 3 No. 2 (2024): Mashadiruna Jurnal Ilmu Al-Qurân dan Tafsir
Publisher : UIN Sunan Gunung Djati Bandung
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.15575/mjiat.v3i2.30381
Tafsir Al-Qur’an selalu berkembang dan ia adalah anak zamanyya. Namun orientalis mengatakan bahwa lahirnya tafsir dengan metode baru bukanlah perkembangan, melainkan adalah peperangan dan permusuhan atas tafsir sebelumnya. Akan tetapi, menurut intelektual muslim perbedaan dengan keunikannya masing-masing adalah tanda dari perkembangan tafsir itu sendiri. Oleh karena itu, tulisan ini bertujuan untuk membahas mengenai bagaimana hakikat perkembangan tafsir, khususnya perkembangan pada periode pertengahan. Karena pada periode tersebut telah terjadi pergeseran epistemologi yang sangat mendasar. Pedekatan yang digunakan adalah pendekatan kualitatif dengan menggunakan kajian pustaka dalam pengumpulan datanya. Adapun dari penelitian ini didapatkan beberapa hasil diantaranya: Pertama, periode pertengahan terjadi pada abad ke 9 sampai abad ke 19 M dengan kemajuan ilmu pengetahuan yang pesat dan maraknya forum diskusi sehingga memunculkan sikap fanatisme. Selain itu, juga terjadi perluasan wilayah sehingga banyak orang non Islam dan non Arab yang masuk kedalam agama Islam. Kedua, kemajuan abad pertengahan berimplikasi pada perkembangan tafsir Al-Qur’an sehingga memunculkan corak-corak tafsir yaitu corak bahasa, filsafat, teologi, ilmiah, fiqih, dan tasawuf. Ketiga, corak-corak tafsir tersebut memiliki karakteristik dan ciri masing-masing sebagai bukti nyata implikasi abad pertengahan.
Hak Politik Perempuan dalam Al-Quran
Rahman, Nida Al;
Malik, Nida Husna Abdul
Mashadiruna Jurnal Ilmu Al-Qurân dan Tafsir Vol. 2 No. 2 (2023): Mashadiruna Jurnal Ilmu Al-Qurân dan Tafsir
Publisher : UIN Sunan Gunung Djati Bandung
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.15575/mjiat.v2i2.30651
Artikel ini ditulis untuk menunjukkan penafsiran-penafsiran dengan analisa gender yang bertujuan untuk memberikan penjelasan mengenai hak-hak perempuan dalam ranah politik yang menuai pro kontra karena beredarnya penafsiran tekstual yang patriarkal. Metode yang digunakan adalah deskriptif analitis dengan teknik pencarian data yang bersumber dari kepustakaan, Adapun hasil dari penelitian ini menyimpulkan bahwa perempuan berhak mengikuti berbagai kegiatan politik seperti mengikuti baiat dan syura, menjadi kepala negara dan menjadi hakim, hal tersebut karena kebutuhan atas keberadaan perempuan dalam kegiatan politik pada zaman berperadaban saat ini menjadi wajib, terlebih jika tidak ada laki-laki yang menduduki jabatan tersebut, sebab tidak ada hukum yang melarang perempuan mengikuti kegiatan politik selama perempuan tersebut mumpuni dan memenuhi syarat dan ketentuan yang ditetapkan.
Kajian Metodologis dalam Kitab Tafsir Lathaif al-Isyarat Karya Imam al-Qusyairi
Ghoni, Abdul;
Fauji, Hari
Mashadiruna Jurnal Ilmu Al-Qurân dan Tafsir Vol. 2 No. 2 (2023): Mashadiruna Jurnal Ilmu Al-Qurân dan Tafsir
Publisher : UIN Sunan Gunung Djati Bandung
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.15575/mjiat.v2i2.30657
Tafsir Lathaif al-Isyarat, karya Imam al-Qusyairi, menciptakan harmoni antara ilmu syariat dan hakikat, mengklaim bahwa tidak ada kontradiksi di antara keduanya. Setiap tafsir tidak terlepas dari pengaruh latar belakang mufassir. Penelitian ini adalah kajian kepustakaan dengan fokus pada Tafsir Lathaif al-Isyarat sebagai sumber primer dan menggunakan buku serta jurnal sebagai referensi sekunder yang terfokus pada aspek metodologis. Tujuan penelitian adalah mengeksplorasi penafsiran Al-Qusyairi terhadap Lataif Al-Isyarat dan metodenya dalam penafsiran tersebut. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Al-Qusyairi, sebagai sufi, mencoba menafsirkan ayat-ayat Al-Quran dengan konsep tasawuf dan bahasa sastra, membimbing pembaca ke dalam perasaan jiwa sufi. Hal ini penting dalam konteks pembelaan terhadap tasawuf pada masa Sultan Thaghral. Dari segi metodologi, Al-Qusyairi menggunakan metode tahlili untuk menganalisis isi ayat Al-Quran dari berbagai aspek tasawuf. Sumbernya mencakup bacaan akal dan isyarat, walaupun isyarat akalnya tidak murni, tetapi digunakan untuk tetap berpegang pada nash Al-Quran. Dalam hal corak, Al-Qusyairi menggabungkan tasawuf dan psikologi dengan simbol sastra, menerapkan konsep maqamat dan ahwal secara kreatif. Komentar ulama menyatakan bahwa tafsir ini tidak memihak pada hakikat atau syariat, menjunjung tinggi keadilan, dan menentang kebid'ahan. Kesimpulannya, Tafsir Lathaif al-Isyarat bukan hanya karya sufi, tetapi juga hasil pemikiran kreatif yang mencoba menyatukan berbagai konsep dengan mempertahankan nilai-nilai Islam.
Urgensi Pendidikan Menurut Al-Qur’an dan Hadits
Idris, Idris;
Ridho, Abdul Rasyid
Mashadiruna Jurnal Ilmu Al-Qurân dan Tafsir Vol. 2 No. 3 (2023): Mashadiruna Jurnal Ilmu Al-Qurân dan Tafsir
Publisher : UIN Sunan Gunung Djati Bandung
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.15575/mjiat.v2i3.31325
Artikel ini dilatarbelakangi oleh pentingnya menguraikan pengertian pendidikan dan asal kata pendidikan, fungsi pendidikan terhadap setiap orang, dan juga ayat-ayat dan hadist yang berkaitan dengan pendidikan. Adapun tujuan penulisan artikel ini adalah mengetahui pengertian pendidikan, mengetahui asal kata dan fungsi pendidikan terhadap setiap orang, dan memahami ayat-ayat dan hadist yang berkaitan dengan pendidikan. Metode penelitian yang digunakan adalah metode kualitatif karena ingin menjelaskan fenomena alamiah. Hasil penelitian mengindentifikasi beberapa ayat Al-Quran dan hadits yang berkaitan dengan pendidikan. Urgensi pendidikan mengacu pada proses pembinaan dan pengarahan yang lebih luas dalam pembentukan kepribadian dan sikap mental kepada peserta didik sebagai bekal dalam menjalankan peran mereka sebagai hamba dan khalifah Allah di dunia ini.Â
Literasi Tafsir Tematik-Eklektik Dan Muatan Lokal Sunda: Transformasi pengetahuan Teoritis dan Praktis bagi Para Santri di Pesantren Riyadhat al-Muta’alimin Kecamatan Sukanagara di Cianjur Jawabarat)
Solehudin, Solehudin
Mashadiruna Jurnal Ilmu Al-Qurân dan Tafsir Vol. 2 No. 2 (2023): Mashadiruna Jurnal Ilmu Al-Qurân dan Tafsir
Publisher : UIN Sunan Gunung Djati Bandung
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.15575/mjiat.v2i2.31376
Dalam konteks transformasi pengetahuan Tafsir Alquran dalam format; Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) dilakukan dalam bentuk pengajian literasi tafsir. Lokusnya bisa dilakukan di mana saja sesuai kebutuhan masyarakat atau komunitas tertentu. Jika dalam konteks kepentingan lokus Pengabdian Kepada Masyarakat untuk UIN Bandung, maka scope Jawa-barat adalah pilihan yang terjangkau. Pengajian tafsir Alquran pada pesantren-pesantren di Jawa Barat mayoritas merujuk kepada tafsir-tafsir berbahasa Arab. Sebut saja misalnya TafsÄ«r JalÄlin karya Jalaluddin as-SuyÅ«thi dan al-Mahali, hasyiyah á¹¢Äwi ‘ala TafsÄ«r JalÄlain karya Syekh Ahmad á¹¢Äwi al-Miá¹£ri. Tafsir-tafsir tersebut popular dan banyak dikaji di pesantren-pesantren, khususnya di wilayah Jawa Barat. Trend masyarakat modern adalah menuntut sesuatu –termasuk memperoleh pengetahuan—dengan cara efektif dan efisien. Karenanya, kajian terhadap tafsir Alquran mesti mengikuti kebutuhan masyarakat kontemporer; baik pada aspek metode, referensi maupun tema-tema yang disajikan. Ini yang melatar-belakangi pentingnya metode tematik-elektik. Literasi tafsir akan difokuskan pada transformasi pengetahuan teoritis-praktis metode tafsir Alquran jenis tafsir tematik (mawá¸Å«â€™i) varian elektik. Selanjutnya akan dikemas dengan muatan kearifan lokal (Tafsir Tematik-Elektik dan Tradisi Lokal Sunda). Hasil dari prosesi transformasi literasi tafsir di wilayah Jawa barat dengan mengambil kasus di pesantren Riyadhat al-Muta’alimin Sukanagara adalah bahwa (1) Tafsir tematik-eklektik merupakan hal baru yang sebelumnya tidak dikenal di kalangan Masyarakat pesantren; baik tradisional maupun modern. Karenanya, proses transformasi literasi telah dilakukan dengan tahapan paling mendasar (2) pengajaran (transformasi) tafsir tematik eklektik lokal sunda memiliki kelebihan pada upaya memudahkan pemahaman makna al-Quran. Kemudahan itu didasarkan pada kenyataan bahwa; budaya bahasa dan tradisi lokal adalah hal-hal sudah akrab. Literasi tafsir menghasilkan pemahaman cukup signifikan atas makna ayat yang dikumpulkan pada tema tertentu. Realitas di lapangan, makna ayat akan lebih dapat difahami jika pemaknaannya dikomfirmasi oleh Bahasa dan budaya lokal, dalam hal ini adalah; Bahasa dan tradisi lokal sunda di Jawa barat.Â
Praktik Pembacaan Ayat-ayat Al-Qur’an sebagai Dzikir
Najib, Muhamad;
Rahtikawati, Yayan;
Rusmana, Dadan
Mashadiruna Jurnal Ilmu Al-Qurân dan Tafsir Vol. 2 No. 3 (2023): Mashadiruna Jurnal Ilmu Al-Qurân dan Tafsir
Publisher : UIN Sunan Gunung Djati Bandung
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.15575/mjiat.v2i3.31965
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui praktik serta pemaknaan masyarakat terhadap pembacaan ayat-ayat Al-Quran di majelis Safari Dzikir Muhibbatul Quran komplek Dwipapuri Residence Cipadung Cibiru Kota Bandung dalam perspektif living quran. Peneliti menggunakan metode dan pendekatan deskriptif kualitatif dengan pisau analisis teori sosiologi pengetahuan Karl Mannheim mengenai Tindakan manusia dibentuk oleh dua dimensi, yakni perilaku (behavior) dan makna (meaning). Karl Mannheim mengklasifikasikan makna perilaku dari suatu tindakan sosial menjadi tiga macam yaitu: makna objektif, makna ekspresif, dan makna documenter. Adapun hasil penelitian menunjukan bahwa 1) Praktik pembacaan ayat-ayat Al-Quran dilakukan rutin setiap awal bulan sebagai bentuk pemahaman terhadap Al-Quran itu sendiri. 2) pembacaan ayat-ayat Al-Quran jika dilihat dengan menggunakan makna suatu tindakan dalam teori sosiologi pengetahuan Karl Mannheim ada tiga kategori makna yang diperoleh. Pertama, makna Objektiif Safari Dzikir Muhibbatul Quran ini merupakan salah satu program kerja bulanan dari DKM Raudhatul Jannah sehingga harus diikuti oleh para jamaah. Kedua, makna Ekspresif yakni makna yang ada dalam setiap jamaah yang mengikuti praktik Safari Dzikir Muhibbatul Quran, yaitu: sebagai media silaturrahmi antar sesama, sebagai sarana mendekatkan diri kepada Allah swt, sebagai sarana do’a bersama memohon segala hajat dan keinginan, sebagai media untuk mendapatkan ketenangan jiwa, sebagai sarana berkumpul dan makan bersama. Ketiga, makna dokumenter yakni Safari Dzikir Muhibbatul Quran secara sadar dan tidak sadar telah menjadi kebiasaan yang dilakukan oleh mMasyarakat komplek Dwipapuri Residence.
Feminist Tafsir: Makiyyah and Madaniyyah's Significance for 'Ulumul Qur'an in the Thought of Husein Muhammad
Sartika, Ela
Mashadiruna Jurnal Ilmu Al-Qurân dan Tafsir Vol. 3 No. 1 (2024): Mashadiruna Jurnal Ilmu Al-Qurân dan Tafsir
Publisher : UIN Sunan Gunung Djati Bandung
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.15575/mjiat.v3i1.33874
The grand theory of makiyyah and madaniyyah according to classical scholars is seen from three aspects, namely time, place, and object of the speaker. However, Husein Muhammad perspektive makiyyah and madaniyyah from the aspect of time only. This view stems from Husayn's definition of the Qur'an as a guide that will always be relevant to human life. Through the Makiyyah and Madnaiyyah theories, he shows an interpretation that is not gender biased but has implications for the 'Ulumul Qur’an theory. This problem raises two questions about the concept of makiyyah and madaniyyah according to Husein Muhammad, and what are the implications of his views on the 'ulumul Qur'an. The results of this study indicate that Husein Muhammad has the view that makiyyah and madaniyyah are influenced by the social reality of Arab society. The Makiyyah verses show a universal meaning while the madaniyyah verses show a partikular meaning so that it has implications for the 'ulumul Qur'an aspect, namely the mansukh, muhkam, and mutasyabih texts.
Amtsalul Qur’an dan Konstruksi Surga
Farid, Ahmad
Mashadiruna Jurnal Ilmu Al-Qurân dan Tafsir Vol. 3 No. 1 (2024): Mashadiruna Jurnal Ilmu Al-Qurân dan Tafsir
Publisher : UIN Sunan Gunung Djati Bandung
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.15575/mjiat.v3i1.33924
Al-Qur’an memberi perhatian khusus terhadap pembahasan surga yang merupakan motivasi moral paling menonjol melalui amtsal (permisalan-permisalan). Di dalam Al-Qur’an surga tidak hanya diberi ciri-ciri, melainkan dilukiskan secara konkrit dan hidup. Turunnya al-Qur’an dengan bi lisanin arabiyyin mubin, menunjukkan bagaimana bahasa Arab (berikut budayanya) sebagai teropong utama untuk memahami Al-Qur’an. Untuk sampai pada pemahaman yang lebih baik, seorang pembaca Al-Qur’an tidak hanya bisa melihat Al-Qur’an dari sisi tekstualitasnya. Melainkan juga mesti menggunakan teropong kebudayaan penutur bahasanya. Di saat yang sama Ulumul Quran juga mengembangkan Amtsalul Quran untuk memahami ayat-ayat yang mengandung matsal, kemudian memberikan pilihan pemaknaan yang lebih mendalam. Adanya penggambaran surga secara deskriptif dan berasosiasi pada imajinasi surga bangsa Arab pra-Islam menunjukkan bagaimana Al-Qur’an memperhatikan objek penerima awalnya. Memahami duduk perkara amtsal sekaligus imajinasi orang arab pra-Islam terhadap surga akan membantu setiap generasi baru pembaca Al-Qur’an menemukan penalaran dan makna surga yang lebih akomodatif untuk diri mereka.
Ragam Corak Tafsir: Tafsir Sufi
Abdillah, Ihsan;
Baihaqi, Mochammad Rizky
Mashadiruna Jurnal Ilmu Al-Qurân dan Tafsir Vol. 3 No. 1 (2024): Mashadiruna Jurnal Ilmu Al-Qurân dan Tafsir
Publisher : UIN Sunan Gunung Djati Bandung
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.15575/mjiat.v3i1.33927
Karya-karya tafsir al-Qur’ân bercorak sufistik seperti halnya tasawuf sebagai disiplin ilmu, mendapat label plus-minus dari para pengkaji. Imam al-Thusiy mengomentari penafsiran sufi sebagai “Penafsiran seperti itu keliru (خطاء ) dan dusta (بهتان) kepada Allâhâ€. Imam al-Suyuthiy menyatakan bahwa pendapat para sufi dalam memaknai al-Qur’ân tidak dianggap sebagai tafsir. Ibn Shalah dalam Fatâwa-nya, Ia mengutip apa yang dikatakan oleh Imam Abi Hasan al-Wahidi; siapa yang menganggap bahwa kitab al-Sulami itu kitab tafsir maka ia telah menjadi kafir. Demikian juga penolakan dari Imam al-Zarkasyiy, Imam al-Nasafi dan Imam al-Rafi’iy. Sementara itu, banyak ulama yang memandang bahwa tafsir sufistik memiliki faidah untuk mengurai sisi esoterik al-Qur’ân dengan asumsi bahwa al-Qur’ân memiliki makna dzahir dan makna bathin. Jika demikian, maka tafsir sufistik memiliki kontribusi jelas pada pemaknaan dari aspek bathinnya dengan perangkat takwil atau isyarat-isyarat tertentu, sementara untuk makna zhâhir-nya sudah digarap oleh perangkat tafsir. Imam al-Ghazali menegaskan bahwa tidak ada larangan seseorang menafsirkan al-Qur’ân dengan penafsiran sufistik jika bermaksud untuk menampilkan kekayaan makna al-Qur’ân hingga batas-batas pemaknaan dengan simbol atau isyarat-isyarat tertentu. Perdebatan tentang status tafsir sufistik antara kebolehan membaca, memahami dan mengamalkannya seperti yang representasikan oleh Imam al-Ghazali versus beberapa ulama yang menolak karya-karya tafsir sufistik, me-niscayakan untuk mendefinisikan tafsir sufistik dan memetakan (mapping) tafsir sufistik dengan membuat kategori-kategori baik paradigma, karya-karya, kelebihan-kelebihan dan kekurangan-kekurangannya.