Articles
98 Documents
Kepemimpinan Perempuan dalam Tafsir At-Tabari dan Tafsir Al-MishbÄh
Putri, Deswanti Nabilah;
Taufiq, Wildan;
Izzan, Ahmad
Mashadiruna Jurnal Ilmu Al-Qurân dan Tafsir Vol. 3 No. 1 (2024): Mashadiruna Jurnal Ilmu Al-Qurân dan Tafsir
Publisher : UIN Sunan Gunung Djati Bandung
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.15575/mjiat.v3i1.33962
Penelitian ini dilatarbelakangi oleh munculnya kontroversi di kalangan intelektual perihal boleh tidaknya perempuan menduduki posisi kepemimpinan. Kepemimpinan merupakan bagian dari fitrah kehidupan manusia yang tidak bisa dihindari. Dalam realitas kepemimpinan di masyarakat, diskriminasi dan ketidakadilan terhadap perempuan masih kerap terjadi. Yang menjadi fokus penelitian ini ialah Qs. an-Nisa’ ayat 34. Ayat tersebut disoroti sebagai larangan perempuan menjadi pemimpin. Para mufassir baik klasik maupun kontemporer berusaha mencari makna dari ayat tersebut. Dalam penelitian ini penulis akan mengkomparasikan makna Qs. an-Nisa’ ayat 34 dari salah satu tafsir klasik yaitu tafsir At-Tabari dan salah satu tafsir kontemporer yaitu tafsir Al-Mishbah. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana pandangan At-Tabari dan pandangan Quraish Shihab terhadap kepemimpinan perempuan dalam Qs. an-Nisa’ ayat 34 serta mengetahui apa persamaan dan perbedaan pandangan keduanya. Metode yang digunakan dalam penelitian ini ialah metode kepustakaan (library research) dengan pendekatan deskriptif analisis komparasi. Kitab tafsir At-Tabari dan Al-Misbah menjadi sumber data primer. Adapun sumber data sekunder diambil dari buku-buku yang memiliki keterkaitan dengan pembahasan tersebut. Hasil dari penelitian ini ialah Tafsir At-Tabari berpandangan bahwa Qs. an-Nisa’ ayat 34 membicarakan konteks rumah tangga yang mana laki-lakilah yang menjadi pemimpinnya. Pemimpin dalam arti tanggungjawab berupa bimbingan dan didikan dari seorang suami kepada istrinya dalam melaksanakan kewajiban kepada Allah dan suami. Namun dalam tafsirnya tidak dijelaskan lebih jauh perihal kepemimpinan perempuan di luar konteks rumah tangga. Adapun Quraish Shihab berusaha hubungkan ayat tersebut pada kenyataan sosial dan budaya yang berlaku sehingga memberi kesan bahwa al-Qur’an menjadi solusi atas setiap persoalan. Dalam hal ini menghasilkan pandangan bolehnya perempuan menjadi pemimpin di luar rumah tangga dengan syarat tidak melalaikan kewajibannya sebagai seorang istri. Persamaan antar keduanya ialah bahwa kontek dalam ayat tersebut ialah kepemimpinan dalam ranah rumah tangga. Adapun perbedaan dari pandangan kedua mufassir tersebut ialah terletak pada sumber tafsir yang digunakan dan corak penafsirannya. Hal ini berdampak pada nilai substansi penafsiran tersebut yang mana At-Tabari menyimpulkan kemutlakan kepemimpian laki-laki atas perempuan karena sebab kelebihan yang telah Allah berikan dan nafkah darinya untuk istri. Sedangkan Qurais Shihab lebih fleksibel dengan melihat sisi kemampuan tanpa mengenyampingkan fitrahnya sebagai seorang perempuan.
Telaah atas Hermeneutika Kontekstual Abdullah Saeed
Firdaus, Muhamad Yoga;
Ahmad, Khader
Mashadiruna Jurnal Ilmu Al-Qurân dan Tafsir Vol. 3 No. 1 (2024): Mashadiruna Jurnal Ilmu Al-Qurân dan Tafsir
Publisher : UIN Sunan Gunung Djati Bandung
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.15575/mjiat.v3i1.34045
Penelitian ini bertujuan untuk memproyeksikan penafsiran kontekstual ala Abdullah Saeed yang dapat memberikan solusi dalam menjawab setiap permasalahan zaman. Penelitian kualitatif menggunakan tinjauan pustaka, metode deskriptif, dan analisis isi. Analisis ini menemukan kesimpulan tentang kesinambungan antara konsep penafsiran Fazlur Rahman dan Abdullah Saeed. Abdullah Saeed menyederhanakan proses penafsiran Al-Qur’an. Pendekatan tafsir kontekstual Saeed adalah yang terbaru dan paling dapat diterapkan pada isu-isu saat ini. Penelitian ini diharapkan memiliki manfaat besar untuk khazanah tafsir era kontemporer dan masa depan. Penelitian ini hanya memaparkan metode tafsir versi Abdullah Saeed semata. Kemudian, penelitian ini merekomendasikan agar penelitian selanjutnya dapat menelisik konsepsi dan implementasi penafsiran kontekstual yang up to date, sehingga dapat mengurangi kesalahpahaman tentang pemaknaan kontekstual pada teks Al-Qur’an.
Tafsir Surat Al-Fatihah KH Aceng Zakaria: Corak dan Metode Penafsiran
Anshari, Farhan Ahsan
Mashadiruna Jurnal Ilmu Al-Qurân dan Tafsir Vol. 3 No. 1 (2024): Mashadiruna Jurnal Ilmu Al-Qurân dan Tafsir
Publisher : UIN Sunan Gunung Djati Bandung
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.15575/mjiat.v3i1.34046
Al-Qur’an sebagai kitab suci petunjuk tidak pernah padam dari penafsiran. Tafsir Al-Qur’an merupakan cabang keilmuan yang terus ada dari zaman Rasulullah Saw sampai sekarang  tak terkecuali ulama Indonesia yang  mencoba hal demikian terhadap Al-Qur’an. Salah satu ulama Indonesia yang menafsirkan Al-Qur’an adalah KH Aceng Zakaria dengan kitabnya tafsir surat.al-Fatihah, Ia menafsirkan surat tersebut karena merasa surat tersebut penting untuk diketahui maknanya karena dibaca selama 17 kali dalam sehari. Tafsir Qs al-Fatihah merupakan tafsir dengan metode penyajian maudhu'i karena pembahasan berfokus pada surat tertentu. Tafsir Qs Al-Fatihah karya KH Aceng ini pun memiliki corak yang dominan yaitu corak al-adab al-Ijtima'i.
Karakteristik dan Model Tafsir Kontemporer
Fangesty, Maolidya Asri Siwi;
Ahmad, Nurwadjah;
Komarudin, R. Edi
Mashadiruna Jurnal Ilmu Al-Qurân dan Tafsir Vol. 3 No. 1 (2024): Mashadiruna Jurnal Ilmu Al-Qurân dan Tafsir
Publisher : UIN Sunan Gunung Djati Bandung
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.15575/mjiat.v3i1.34048
Tafsir modern-kontemporer memberikan angin segar bagi khazanah keilmuan tafsir Al-Qur’an. Ia berusaha untuk menyingkap makna Al-Qur’an dengan cara mengembalikan fungsi Al-Qur’an sebagai petunjuk hidup manusia dengan cara menerapkan prinsip al-ihtida bil qur’an, yakni menjadikan Al-Qur’an sebagai petunjuk hidup serta menjaga relevansi penafsiran dengan realitas kehidupan manusia. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk memaparkan sejarah munculnya tafsir modern-kontemporer, model dan karakteristik tafsir modern-kontemporer serta kitab-kitab tafsir modern-kontemporer. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan teknik pengumpulan data library research (studi kepustakaan). Tafsir modern-kontemporer lahir pada abad 19 M akhir sampai dengan 21 M diawali oleh pemikiran Muhammad Abduh yang gencar menyebarkan paham pembaharuan atau tajdid. Ia juga melihat tafsir-tafsir di masa sebelumnya yang cenderung bertele-tele dan melupakan tujuan utama Al-Qur’an sebagai pedoman hidup manusia, terutama mengkritik tafsir yang bercorak lughawi sehingga lahirlah corak adabi ijtima’i. Corak lain yang ada pada masa ini adalah ilmi’, ilhadi dan feminisme. Sedangkan kitab-kitab tafsirnya adalah tafsir Al-Manar karya Muhammad Abduh dan Rasyid Raidha, Fi Zhilalil Qur’an karya Sayyid Qutub dan Al-Misbah karya Quraish Shihab. Tafsir ini menggunakan sumber penafsiran bil ma’tsur dan bil ra’yi dan metode yang digunakan adalah maudhui, tahlili dan kontekstual. Diantara karakteristiknya adalah memadukan teori kekinian atau kontekstaulitas dengan kaidah teori Al-Qur’an, menyingkap dengan lugas aspek keindahan bahasa Al-Qur’an dengan singkat dan kembali memfungsikan Al-Qur’an sebagai petunjuk.Â
Manhaj Tafsir Muhammad Al-Amin Asy-Syinqithiy dalam Adwa` al-Bayan fi Idlah al-Qur`an bi al-Qur`an
Asy-Syakir, Muhammad Imam;
Amalia, Ilma
Mashadiruna Jurnal Ilmu Al-Qurân dan Tafsir Vol. 3 No. 3 (2024): Mashadiruna Jurnal Ilmu Al-Qurân dan Tafsir
Publisher : UIN Sunan Gunung Djati Bandung
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.15575/mjiat.v3i3.34539
Dewasa ini, penggunaan metode penafsiran qur`an bil-qur`an kembali menggeliat, dan salah satu mufasir yang melakukan upaya ini adalah Muhammad al-Amin asy-Syinqithiy, yang menulis tafsir Adwa` al-Bayan fi Idlah al-Qur`an bi al-Qur`an. Artikel ini secara khusus meneliti penafsiran asy-Syinqithiy yang mampu menghadirkan penafsiran ayat dengan ayat lain dengan bersandar kepada 25 kaidah penafsiran qur`an bil-qur`an yang ia jelaskan dalam pendahuluan. Sekalipun tidak semua ayat al-Qur`an ditafsirkan, tetapi upaya yang dilakukannya secara spesifik merupakan suatu langkah besar yang jarang dilakukan mufasir sebelumnya. Penelitian ini adalah penelitian kualitatif melalui studi kepustakaan dengan pendekatan analisis-deskriptif. Penelitian ini bertujuan melakukan elaborasi terhadap metode tafsir asy-Syinqithiy, baik yang umum dari kitab tafsir ini, dan yang khusus dengan meninjau uslub tafsirnya, dengan berfokus pada penafsirannya terhadap surat al-Baqarah ayat 131 sampai 145. Tafsir ini menggunakan metode tahlili, dengan kecenderungan ahkami atau fiqhi, dan merujuk sumber penafsiran dari ayat-ayat al-Qur`an itu sendiri secara ijtihadi berdasar kaidah-kaidah penafsiran, lalu sumber lainnya dari hadits, qira`ah sab’ah dan kaidah kebahasaan.
Keamanan Digital dalam Perspektif Al-Qur'an: Kasus Kejahatan Phishing
Saidah, Indah Siti
Mashadiruna Jurnal Ilmu Al-Qurân dan Tafsir Vol. 3 No. 2 (2024): Mashadiruna Jurnal Ilmu Al-Qurân dan Tafsir
Publisher : UIN Sunan Gunung Djati Bandung
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.15575/mjiat.v3i2.34819
Ancaman phising yang mengintai masyarakat akhir-akhir ini menjadi momok yang menakutkan. Phising menjadi tindakan kriminal dalam dunia digital yang harus terus diberantas. Aksi kejahatannya berdampak 3M yaitu merugikan, merusak dan menyakiti. Phising sudah termasuk penipuan dan pencurian. Seperti tabungan, data, identitas dan lain-lain. Salah satu faktor pelaku phising melakukan hal tersebut adalah motivasi finansial atau mendapatkan keuntungan. Tak ayal banyak korban yang merasakan kerugian hingga milyaran rupiah. Padahal Al-Qur’an sudah mewanti-wanti dan melarang cara yang demikian. Berikut ini adalah kajian tekstual berdasarkan ayat-ayat al-Qur’an tentang etika sosial, terutama dengan mengambil kasus kejahatan phishing. Kajian ini mendapati bahwa phishing adalah kejahatan sosial yang harus diberantas dengan cara penegakan hukum.
Transparansi Zakat Digital Berdasarkan Nilai-nilai Al-Qur’an
Saputra, Teguh
Mashadiruna Jurnal Ilmu Al-Qurân dan Tafsir Vol. 3 No. 2 (2024): Mashadiruna Jurnal Ilmu Al-Qurân dan Tafsir
Publisher : UIN Sunan Gunung Djati Bandung
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.15575/mjiat.v3i2.34820
Tulisan ini bertujuan untuk memberikan solusi dengan memanfaatkan potensi besar dalam ibadah zakat. Penulis menawarkan konsep pengembangan dalam menunaikan ibadah zakat ke arah transparansi zakat digital sebagai upaya mengentas kemiskinan. Transparansi zakat digital dipilih sebagai sektor terdepan karena memiliki potensi besar yang tersimpan pada pelaksanaanya berupa bukti amanah dari pengelola zakat serta bukti kemudahan yang dirasakan oleh masyakarat selaras dengan firman Allah Swt dalam surah Al-Baqarah ayat 285 “Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimuâ€. Selain itu juga, selaras dengan surah At-Taubah ayat 103 mengenai perintah zakat serta surah At-Taubah ayat 60 mengenai kewajiban amanah dalam pengelolaan dan penyaluran zakat.
Women and politics from the Perspectives of the Qur'an: A thematic tafsir study
Arrozaq, Muharris;
Mauluddin, Arnanta;
Fadhil, Muhammad
Mashadiruna Jurnal Ilmu Al-Qurân dan Tafsir Vol. 4 No. 2 (2025): Mashadiruna Jurnal Ilmu Al-Qurân dan Tafsir
Publisher : UIN Sunan Gunung Djati Bandung
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.15575/mjiat.v4i2.34853
Islam is a religion which, in general understanding, is a universal religion. Islam is a teaching with broad dimensions, not just in one aspect, but covering several general aspects. Including the political aspect is an important part of Islam. In QS. Al-Taubah verse 7 contains a discussion of history and how, during the time of Rasulullah SAW, he solved a problem using politics. So that Islamic politics can regulate a good state and society. Apart from that, there is a discussion regarding the aspects of a leader who has good principles as a leader in the world of politics, contained in QS. Ali Imran verse 159, so that it can be a role model and guide in determining all decisions in politics. The position of women in the public sphere is also important in the world of politics, how a woman can become a leader but still maintain her dignity and position as a woman.
Hubungan Sikap Tawakal dan Kecerdasan Emosional dalam Al-Qur’an
Ningsih, Alna
Mashadiruna Jurnal Ilmu Al-Qurân dan Tafsir Vol. 3 No. 2 (2024): Mashadiruna Jurnal Ilmu Al-Qurân dan Tafsir
Publisher : UIN Sunan Gunung Djati Bandung
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.15575/mjiat.v3i2.35130
Al-Quran sebagai pedoman yang mampu menjawab berbagai problematika kehidupan yang hadir pada masa kenabian bahkan sampai saat ini. Hal ini karena Al-Quran adalah kitab suci yang sholih likulli al-zaman wa al-makan. Salah satu term yang menjadi solusi bagi manusia dalam menghadapi pemasalahan tentang ketidakstabilan emosi adalah melalui sikap tawakal. Dengan sikap tawakal jiwa seseorang akan lebih tenang, dan selalu beryukur dengan apapun yang ditakdirkan. Adapun tujuan dari pembahasan penelitian ini untuk memberikan penjelasan terkait tawakal dalam Al-Quran, kecerdasan emosional dalam Al-Qur’an, serta hubungan sikap tawakal dan kecerdasan emosional dalam Al-Qur’an. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kualitatif melalui analisis deskriptif dan studi pustaka (library research). Adapun hasil dari penulisan penelitian ini adalah sikap penyerahan segala urusan baik hal duniawi maupun ukhrowi kepada Allah SWT dengan di dahului melakukan usaha (ikhtiar) semaksimal mungkin. Adapun kecerdasan emosional merupakan suatu kemampuan dalam mengelola emosi dan memotivasi diri sendiri. Tawakal dan kecerdasan emosinal memiliki hubungan erat, keduanya menciptakan hal-hal positif. Sehingga orang yang bertawakal kepada Allah SWT akan mendapatkan kestabilan emos, hati yang tenang dan terbebas dari perasaan-perasaan negatif seperti cemas, khawatir, berkeluh kesah dan gelisah. Adapun terkait perbedaan tawakal dan kecerdasan emosional terletak pada, konteks penempatan dua istilah tersebut yakni kecerdasan emosional mulai muncul dan dikenal pada ranah psikologi. Sedangkan tawakal merupakan bukti keimanan kepada Allah SWT. Faktor yang mempengaruhi antara tawakal dan kecerdasan emosional adalah keimanan kepada Allah SWT dan sikap berhusnudzan kepada Allah SWT atas segala yang Allah tetapkan.
Analisis Linguistik atas Relevansi Każib dalam Al-Qur’an dengan Prank di Media Sosial
Sa’dina, Ahmad Midrar;
Yunus, Badruzzaman M.;
Taufiq, Wildan
Mashadiruna Jurnal Ilmu Al-Qurân dan Tafsir Vol. 3 No. 2 (2024): Mashadiruna Jurnal Ilmu Al-Qurân dan Tafsir
Publisher : UIN Sunan Gunung Djati Bandung
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.15575/mjiat.v3i2.35131
Każib adalah salah satu kata yang sering diulang-ulang dalam Al-Qur’an. Pengulangan kata każib dibagi menjadi derivasi dari dua belas każib dalam Al-Qur’an. Każib diletakkan sesuai dengan struktur kalimat dan makna yang terkandung di dalamnya. Sehingga penempatan derivasi każib dalam al-Qur’an sesuai dengan konteks pembahasan di dalamnya. Pembahasannya cenderung pada ranah sosial dan kepercayaan. Oleh karena itu, menarik untuk menganalisisnya dengan menerapkan analisis terstruktur. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui derivasi każib dalam Al-Qur’an dan menjelaskan struktur yang terkandung dalam derivasi każib dalam Al-Qur’an dengan menggunakan komparasi analisis struktural-Linguistik Ferdinand de Saussure dan Analisis Linguistik Toshihiko Izutsu. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kepustakaan dan menggunakan pendekatan komparasi linguistik struktural yang dikemukakan oleh Ferdinand de Saussure dengan linguistik Toshihiko Izutsu yang terdiri dari 4 tahapan komparasi analisis yakni signifier -signified dan makna dasar, analisis langue-parole dengan makna relasional, sinkronik-diakronik dan sintagmatik-paradigmatik dengan Weltanschauung. Analisis data menggunakan model tematik yang melalui tahapan sebagai berikut: 1) mengumpulkan dan mengklasifikasikan data primer berupa ayat-ayat Al-Qur’an yang mengandung turunan każib, 2) memfokuskan pada data yang layak untuk dianalisis, 3) menyajikan hasil penelitian. Data berupa deskripsi naratif pendek. Hasil penelitian ini bahwa prank yang kerap terjadi di media sosial merupakan gambaran struktur każib yang telah lama dideskripsikan al-Quran melalui ayat-ayatnya. Egosentris dan penyamarataan jokes dengan dibungkus oleh asumsi viral menggeser nilai-nilai humanis sebagai manusia bermartabat yang saling menghormati. Hal ini mengindikasikan jika al-Qur’an terus dipelajari dan dipahami maka akan meningkatkan kualitas imam manusia bahwa al-Qur’an hadir sebagai petunjuk bagi umat manusia dan shahih fi kulli zaman wa makan.