cover
Contact Name
-
Contact Email
info@jpkp.kemendikdasmen.go.id
Phone
+62215713827
Journal Mail Official
info@jpkp.kemendikdasmen.go.id
Editorial Address
Pusat Standar dan Kebijakan Pendidikan, BSKAP, Kemendikdasmen Building E Floor 19, Jenderal Sudirman -- Senayan Street, Jakarta 10270
Location
Kota adm. jakarta pusat,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal Penelitian Kebijakan Pendidikan
Published by Kemendikdasmen
ISSN : 02162792     EISSN : 2654427X     DOI : https://doi.org/10.24832/jpkp
Core Subject : Education,
Jurnal Penelitian Kebijakan Pendidikan is a peer-reviewed journal that publishes research and analysis-based articles on education policy. The journal publishes a range of education policy topics such as education management, educational evaluation and assessment, curriculum, education technology, and educational innovations.
Articles 133 Documents
SISTEM PENJAMINAN MUTU PEMBELAJARAN JARAK JAUH DI PERGURUAN TINGGI DI MASA PANDEMI COVID-19 Subijanto; Kadaryanto, Budi; Venus Ali, Nur Berlian; Sulistiono, Agus Amin; Widiputera, Ferdi; Dwi Martini, Ika Asri
Jurnal Penelitian Kebijakan Pendidikan Vol 14 No 2 (2021)
Publisher : Pusat Standar dan Kebijakan Pendidikan, BSKAP, Kemendikbudristek

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24832/jpkp.v14i2.512

Abstract

Disruption in higher education due to the impact of Covid-19 pandemic has forced universities to adapt to distance learning by utilizing information and communication technology. At the same time, the quality of learning must be maintained and prioritized. The problem discussed in this study is that there is no standard for quality assurance of distance learning in the wake of Covid-19 pandemic for higher education. This study aims to (1) analyze policies related to distance learning quality assurance and (2) analyze the efforts made by universities in implementing quality assurance. This study is desk research where the analysis is carried out in two stages. The first stage is to review policies related to distance learning quality assurance, and the second stage is to analyze the implementation of quality assurance in three state universities and five private universities. The results show that (a) the implementation of the Internal Quality Assurance System varies, and (b) there is no standard that can be used as a reference to ensure the quality of distance learning. This study concludes that the strengthening of internal quality assurance system through the cycle of determination, implementation, evaluation, control, and improvement can be used as an alternative to quality assurance for distance learning in higher education.
EDITORIAL DAN DAFTAR ISI, JURNAL LITJAK, VOL. 14, NO. 1 TAHUN 2021 Litjak, Jurnal
Jurnal Penelitian Kebijakan Pendidikan Vol 14 No 1 (2021)
Publisher : Pusat Standar dan Kebijakan Pendidikan, BSKAP, Kemendikbudristek

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penyelenggaraan sistem pendidikan nasional secara berjenjang dari pendidikan anak usia dini sampai dengan pendidikan tinggi memang merupakan hal kompleks dan meliputi berbagai unsur yang mempengaruhinya. Implikasinya persoalan mutu pendidikan yang dianggap masih kurang memuaskan tidak dapat didekati oleh satu unsur semata, tetapi dari berbagai unsur yang langsung maupun tidak langsung mempengaruhi, melalui pendekatan holistik, sinergis, dan integratif. Tentu saja upaya itu tidak dapat dilakukan melalui tindakan dan tempat yang terbatas, apalagi di dalam substansi yang tertuang pada penerbitan jurnal ini. Upaya yang dikemukakan oleh penulis dalam jurnal ini patut diapresiasi, karena berisikan pemikiran yang diperoleh dari kegiatan penelitian yang bertujuan untuk berusaha meningkatkan mutu pendidikan nasional. Hasil kajian ini bisa menjadi masukan dan dasar bagi pemerintah untuk menentukan kebijakan yang diperlukan bagi upaya meningkatkan kualitas pendidikan. Pada artikel pertama yang ditulis oleh Budi Susetyo dan Karwono mendekati persoalan mutu pendidikan ini dari aspek akreditasi. Tulisan bertujuan untuk membahas tentang instrumen akreditasi satuan pendidikan tahun 2020 (IASP2020) sebagai paradigma penilaian akreditasi dari berbasis pemenuhan administratif menjadi berbasis kinerja. IASP2020 fokus mengukur komponen mutu lulusan, proses pembelajaran, mutu guru, dan manajemen sekolah. Atas dasar itu artikel bermaksud mengkaji peta mutu pendidikan berdasarkan jenis, jenjang dan wilayah serta kinerja komponen mutu dan faktor kendala pencapaian mutu berdasarkan hasil IASP2020. Meski temuan menunjukkan bahwa mayoritas sekolah (SD/MI dan SMA/SMK) masih terakreditasi rendah, tetapi hal yang menonjol adalah pentingnya komponen mutu guru dalam mempengaruhi pencapaian mutu dibandingkan tiga komponen lainnya. Unsur guru ini memang perlu serius diperhatikan agar terus-menerus ditingkatkan kompetensinya serta didorong melakukan pengembangan profesi berkelanjutan, dan kemampuan guru untuk menerapkan hasil pelatihan yang diperoleh dalam proses pembelajaran. Pada artikel kedua yang ditulis oleh Bambang Suwardi Joko dan Relisa bertujuan mengetahui strategi pembelajaran yang diterapkan oleh kepala sekolah dalam masa pandemik Covid-19 dengan mengambil fokus kajian 71 kepala sekolah di Sekolah Menengah Atas di Sumatera Utara. Hasil penelitian menunjukkan, sekolah menyusun rencana dengan menentukan kurikulum, yaitu kurikulum 2013, kurikulum darurat, atau pengembangan kurikulum sendiri. Banyak sekolah juga mengikuti kebijakan untuk menggunakan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran yang disederhanakan. Dalam pembelajaran, media yang dianggap efektif adalah video pembelajaran, foto, dan powerpoint. Kepala Sekolah menyarankan guru dalam pemberian tugas peserta didik memakai aplikasi yang bervariasi agar peserta didik tidak bosan. Kepala Sekolah turut serta mengatasi kendala pembelajaran, yakni menyediakan kuota internet terbatas, dan memberi pelatihan pada guru mengenai penggunaan teknologi digital dalam pembelajaran. Artikel ketiga ditulis oleh Satria Kharimul Qolbi yang secara khusus membahas tentang pendidikan anak-anak yang terdiagnosis kanker dan tumor. Menurut penulis JURNAL PENELITIAN KEBIJAK AN PENDIDIKAN Volume 14 Nomor 1/2021 pendidikan anak-anak dengan penyakit kanker dan tumor perlu diperhatikan dengan kebijakan[1]kebijakan yang disusun dan dibuat khusus. Dari hasil penelitian direkomendasikan, ada beberapa pilihan kebijakan yang dapat dilaksanakan untuk anak terdiagnosis kanker dan tumor, antara lain sistem pendidikan rumah sakit (hospital schooling), kurikulum khusus anak-anak kanker dan tumor, proses belajar anak-anak kanker dan tumor, guru-guru untuk anak-anak kanker dan tumor, fasilitas yang menyesuaikan kemampuan fisik anak-anak kanker dan keberlanjutan pendidikan anak-anak kanker. Artikel ke empat ditulis Moh Rosyid yang bertujuan untuk memahami model sekolah rumahan warga Samin di Kudus Jawa Tengah dan peran pemerintah daerah setempat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa warga Samin tidak bersekolah formal, tetapi membentuk sekolah rumahan 2 dengan tujuan memproteksi generasinya agar tidak terbawa dinamika kekinian. Materi pembelajarannya berfokus pada prinsip hidup dan menjauhi lima pantangan: bedok (menuduh), colong (mencuri), pethil; jumput; dan nemu wae ora keno; pantangan menemukan barang. Pendidiknya adalah orang tua dan tokoh adat dengan obsesi nglayani, ngrawat, nglindungi ajaran Ki Samin dalam hal tata cara, tata krama, dan tata darma agar akar tradisi adiluhung terawat. Temuan itu menunjukkan pentingnya kearifan lokal untuk dipertahankan dan dilestarikan, Meski demikian negara, khususnya pemerintah daerah setempat harus hadir memberi pencerahan secara berkesinambungan, sehingga kurikulumnya mengarah pada pendidikan formal atau kesetaraan, tanpa mencabut kearifan lokal. Pendekatan pemerintah daerah dapat melalui konsep homeschooling formal dengan pendekatan persuasif. Artikel kelima ditulis oleh Simon Sili Sabon bertujuan mengevaluasi sistem pendidikan keguruan untuk sekolah dasar. Studi yang ditulis dengan memanfaatkan data sekunder dari PDDikti, BANPT, dan survei dengan mahasiswa di empat lembaga di sekitar Jakarta, menemukan bahwa sebagian besar Prodi belum terakreditasi. Prodi yang sudah terakreditasi, sebagian hanya memperoleh nilai C. Terkait standar dosen, sebagian LPTK sudah memenuhi standar minimal berpendidikan S2. Jumlah dosen pada LPTK tertentu berlebih sehingga beban kerjanya kurang dari standar. Mutu input mahasiswa sudah cukup baik. Sebagian besar mahasiswa merasa telah mendapat pengalaman memadai dari magang. Kajian merekomendasikan agar prodi penghasil guru didorong untuk meningkatkan akreditasinya, dan Kementerian dan LPTK tetap menerapkan Permendikbud 87/2013 untuk menghasilkan guru profesional. Akhirnya artikel ke enam ditulis Luther Lie bertujuan mengkaji peningkatan daya saing lulusan perguruan tinggi di Indonesia melalui nudging jurusan dan mata kuliah. Tulisan ingin mengkaji pentingnya keselarasan jurusan dengan minat dan bakat mahasiswa untuk meningkatkan daya saingnya ketika lulus, peran perguruan tinggi dalam menyediakan informasi jurusan dan mata kuliah dalam situsnya agar mahasiswa dapat memilih jurusan yang tepat, dan cara pemerintah memastikan perguruan tinggi melaksanakan peran tersebut. Studi didasarkan atas situs perguruan tinggi di Indonesia dan mancanegara, khususnya bidang sosial dan humaniora dan sains dan teknologi. Studi menyimpulkan bahwa perguruan tinggi penting menyediakan informasi jurusan dan mata kuliah dalam situsnya. Atas dasar itu diusulkan agar pemerintah mengatur yang mensyaratkan perguruan tinggi di Indonesia untuk menyediakan informasi jurusan dan mata kuliah dalam sistem elektronik untuk meningkatkan daya saing lulusan Indonesia. Selamat membaca.
ANALISIS PEMBELAJARAN BIOLOGI SMA/MA DI JABODETABEK DITINJAU DARI STANDAR PROSES Fadlilah, Dina Rahma; Herlanti, Yanti
Jurnal Penelitian Kebijakan Pendidikan Vol 15 No 2 (2022)
Publisher : Pusat Standar dan Kebijakan Pendidikan, BSKAP, Kemendikbudristek

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24832/jpkp.v15i1.527

Abstract

A good implementation of Process Standard is a part of the effort to improve the quality of learning process. In Permendikbudristek No. 16 of 2022 regarding Process Standard, it is stated that learning is done in an interactive, inspiring, enjoyable, challenging and motivating environment for students. This type of learning had actually been initiated in the 2013 Curriculum through a scientific approach which proposes several learning models, namely discovery/inquiry learning and problem-based learning; such as problem-based learning (PBL) and project-based learning (PjBL). Therefore, this study aims to analyze the scientific approach in Biology learning as an implementation of Process Standard in Jakartan High Schools. Furthermore, this study used quantitative and qualitative methods as its approach. It found that teachers had implemented the scientific approach in their classrooms. However, results from students' perceptions showed the opposite. They stated that teachers did not effectively do “hands-on” activities through discovery/inquiry and PjBL. Moreover, this study suggests that the implementation of the Process Standard that have been effectively applied since the 2013 Curriculum needs to be maintained in Kurikulum Merdeka (in English: Emancipated Curriculum) because it is still relevant with the goals of Emancipated Curriculum. Finally, the findings of this study should be addressed so it can improve the implementation of Process Standard in the Emancipated Curriculum. 
RAND DESIGN GENERASI EMAS 2045: TANTANGAN DAN PROSPEK PENDIDIKAN KEWARGANEGARAAN UNTUK KEMAJUAN INDONESIA Irfani, Sabit; Riyanti, Dwi; Suharno; Muharam, Ricky Santoso
Jurnal Penelitian Kebijakan Pendidikan Vol 14 No 2 (2021)
Publisher : Pusat Standar dan Kebijakan Pendidikan, BSKAP, Kemendikbudristek

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24832/jpkp.v14i2.532

Abstract

This study aims to analyze the challenges of citizenship issues in preparing Indonesia's golden generation in 2045. This research is content analysis research with a qualitative approach. Data were collected through observation and tracing documents and archives. The results show great challenges of Indonesian as a state in terms of maintaining the foundational philosophical theory of Pancasila. This determines the importance of a study of civic education as the spearhead in preparing the generation that will inherit the nation and state of Indonesia. In 2045, Indonesia expects to have a golden generation. This of course requires Indonesian as a state to prepare its human resources, namely the younger generation, to face this momentum well. The golden generation of Indonesia is expected to be a generation that is tough, thinks forward, and always upholds the values of Pancasila. The golden generation of Indonesia in 2045 is the hope for the future of the nation. Civics as a subject in school has a paramount role in preparing Indonesia’s golden generation in 2045. Civics must be able to solve challenges such as intolerance, the ideology of other nations, and globalization. The prospect of civic education is being promoted as a panacea for solving problems that exist in Indonesia as a nation.
PENGARUH MEANS ENDS ANALYSIS BERBASIS MEDIA KARTU KENDALI LITERASI DIGITAL TERHADAP KEMAMPUAN NUMERASI REPRESENTASI MATEMATIS SISWA SEKOLAH DASAR Rahmat, Acep Saepul
Jurnal Penelitian Kebijakan Pendidikan Vol 14 No 2 (2021)
Publisher : Pusat Standar dan Kebijakan Pendidikan, BSKAP, Kemendikbudristek

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24832/jpkp.v14i2.534

Abstract

Students' difficulties in understanding mathematics subject matter during the COVID-19 pandemic were one of the challenges that arose in distance learning. Students did not understand the material substantively and holistically because of the limited space and time to study. Students also continuously showed difficulty in solving mathematical numeracy problems. Success in solving mathematical numeracy problems depends on the representations used. Model Means Ends Analysis (MEA) is a strategy to analyze a problem through various ways to achieve the desired end goal. In this study, MEA was supported by the application of Digital Literacy Card (KKLD) media by using powerpoint and geogebra applications. The purpose of this study was to determine the effect of the application of MEA based on the Digital Literacy Card (KKLD) media on the numeracy skill of mathematical representations. The research method used was a quantitative, quasi-experimental research design with the nonequivalent pre-test-post-test control group design. The population in this study were students of class V-A at SDN Kampung Bali 07 Pagi, amounting to 24 students as the experimental class and 24 students in class V-B SD Negeri Bendungan Hilir 05 as the control class. The instrument used was the rubric of mathematical representation numeracy skills. The average test results showed the post-test value of the experimental class is 80, and the control class is 64.17. The results of the test of the average difference of one sample in the experimental class showed an increase in the numerical ability of students' mathematical representation with the MEA model based on the Digital Literacy Card (KKLD) media and the test results of the difference in the mean of two samples on the post-test value showed that the mathematical representation ability of students who received the MEA model was better compared to students who received conventional learning. This proves that the MEA based on the Digital Literacy Card (KKLD) media has an effect on the numeracy skill of the mathematical representation of the fifth grade elementary school students.
KEEFEKTIFAN KEGIATAN KOLABORATIF MERDEKA BELAJAR KAMPUS MERDEKA (MBKM) PADA SKEMA MENGAJAR DI SATUAN PENDIDIKAN Rochimah, Estuti; Lie, Titieandy; Ridzqo, Intan Findanavy; Demami, Aliviana; Puspita, Mutiara Eka; Refranisa, Refranisa
Jurnal Penelitian Kebijakan Pendidikan Vol 15 No 1 (2022)
Publisher : Pusat Standar dan Kebijakan Pendidikan, BSKAP, Kemendikbudristek

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24832/jpkp.v15i1.552

Abstract

The effectiveness of school-university collaboration through the teaching assistance scheme as part of the Emancipated Learning Emancipated Campus (Merdeka Belajar Kampus Merdeka - MBKM) program. This research aims to analyze factors that influence the effectiveness of the MBKM program through the teaching assistant schemes in schools. The research was conducted using multiple linear regression method with SPSS as the tool. The independent variables were students’ interest and learning facilities, and the dependent variable was effectiveness. The result of the f test showed that students’ interest and learning facilities jointly affect 60.4% of the effectiveness of the MBKM implementation. Based on the results of the t test, interest had an influence of 40.221% on the effectiveness of MBKM implementation and learning facilities had an influence of 20.2176% on the effectiveness of MBKM implementation. From the results, it can be concluded that the teaching assistant scheme in schools had an influence of 60.4%, consisting of 40.2% students’ interest in SMKN 4 of South Tangerang towards MBKM activities and 20.2% learning facilities provided by mentors as teachers.
EDITORIAL DAN DAFTAR ISI, JURNAL LITJAK, VOL. 14, NO. 2 TAHUN 2021 Litjak, Jurnal
Jurnal Penelitian Kebijakan Pendidikan Vol 14 No 2 (2021)
Publisher : Pusat Standar dan Kebijakan Pendidikan, BSKAP, Kemendikbudristek

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Jurnal Penelitian Kebijakan Pendidikan Volume 14 ini merupakan edisi kedua yang diterbitkan di tahun 2021. Ada enam artikel yang diketengahkan dalam jurnal dengan topik yang beragam, yaitu terkait dengan penerapan system kredit semester, putus sekolah, rumah sekolah, pendidikan kewarganegaraan, pembelajaran jarak jauh di perguruan tinggi, dan penerapan Model Means Ends Analysis (MEA) untuk mata pelajaran Matematis. Artikel pertama ditulis oleh Jumad, seorang guru yang menyoroti tentang penerapan system kredit semester di SMA Negeri 1 Lawang. Dari hasil studi yang lebih mendekati permasalahan secara deskriptif dikemukan bahwa penerapan Sistem Kredit Semester di sekolah ini merupakan hal yang baru dan telah sesuai dengan Permendikbud Nomor 158 Tahun 2014. Meski demikian penerapannya masih dihadapi kendala, antara lain kurangnya komitmen guru dan dukungan orang tua peserta didik yang putra-putrinya tergolong dalam kelompok belajar cepat. Hasil penelitian ini memang terkesan masih sederhana, tetapi bisa menjadi acuan dasar bagi pihak-pihak yang ingin melakukan kajian secara mendalam, terutama terkait dengan rendahnya komitmen guru dan factor-faktor yang mempengaruhi agar dapat ditarik pemahaman dan kesimpulan utuh untuk mendukung penerapan system kredit semester di sekolah sebagai alternatif pengganti system akselerasi. Artikel kedua ditulis oleh Rita Diana yang menyoroti faktor-faktor yang mempengaruhi siswa putus sekolah di provinsi Sumatera Barat. Dari hasil penelitiannya diidentifikasi faktor-faktor pengaruh siswa putus sekolah, antara lain faktor daerah  tempat tinggal, bekerja/tidak bekerja, menerima bansos rastra, mengurus rumah tangga, pernah/tidak pernah kawin, status dalam rumah tangga, dan lapangan usaha kepala rumah tangga mempengaruhi gagalnya seorang siswa bertahan pada bangku sekolah. Untuk penduduk usia SLTA 15 tahun ke atas yang tinggal di daerah pedesaan, bekerja, tidak menerima bansos rastra, mengurus rumah tangga, pernah kawin, bukan dalam keluarga inti, dan memiliki kepala rumah tangga yang bekerja di lapangan usaha pertanian ternyata mengalami penurunan tingkat bertahan secara signifikan. Hasil penelitian ini seyogyanya dapat menjadi masukan bagi pemerintah daerah setempat untuk menentukan kebijakannya guna mengurangi kecenderungan masih tingginya angka putus sekolah di wilayahnya. Lain lagi dengan Siddiq dan Salama yang menyoroti sekolah rumah sebagai salah satu bentuk pendidikan informal.  Sekolah rumah (homeschooling) hadir sebagai alternatif pilihan orang tua dalam memberikan pendidikan kepada anak sebagai salah satu upaya memecahkan beragam permasalahan pendidikan yang ada di masyarakat. Namun, legalitas pelaksanaan pendidikan rumah dan bagaimana pendekatan pembelajarannya masih sering menjadi persoalan. Penelitian dengan pendekatan kualitatif deskriptif ini berupaya mengungkapkan aspek legalitas pelaksanaan pendidikan rumah dan berbagai ragam pendekatan pembelajarannya. Dari hasil penelitian diperoleh bahwa sekolah rumah diakui sebagai proses layanan pendidikan yang dilakukan oleh orang tua atau keluarga. Pendekatan (approach) dalam praktik sekolah rumah memiliki rentang yang lebar, mulai dari model yang sangat tidak terstruktur seperti unschooling hingga yang sangat terstruktur seperti school at home.  Disarankan agar pemerintah sebagai regulator untuk membuat program-program unggulan dengan berupaya memahami cara pandang dan budaya local, sehingga dapat menunjang berkembangnya potensi minat dan bakat anak, serta nilai-nilai kearifan lokal. Disarankan pula agar memfasilitasi para praktisi sekolah rumah dengan berbagai ragam pendekatan pembelajaran yang berkembang  di jalur pendidikan Informal, keberadaan test center akan sangat mempermudah dan mendorong munculnya inisiatif dan kreativitas dalam pengembangan metode pembelajaran, model-model persekolahan. Artikel ke empat ditulis oleh irfani dan kawan-kawan yang menyoroti tentang tantangan dan prospek pendidikan kewarganegaraan. Tulisan bertujuan untuk menganalisis tantangan terhadap isu isu kewarganegaraan dalam memersiapkan generasi emas Indonesia pada tahun 2045. Hasil penelitian menunjukan tantangan besar negara Indonesia terutama dalam hal menjaga dasar negara Pancasila. Hal ini menunjukkan pentingnya kajian tentang pendidikan kewarganegaraan sebagai ujung tombak dalam mempersiapkan generasi yang akan mewarisi bangsa dan negara Indonesia. Pencapaian generasi emas di tahun 2045 menuntut untuk mempersiapkan sumber daya manusia yaitu generasi mudanya menghadapi momentum tersebut dengan baik. Pendidikan kewarganegaraan harus mampu memecahkan tantangan seperti intoleransi, ideologi bangsa lain, dan globalisasi. Prospek pendidikan kewarganegaraan dipromosikan sebagai obat yang mujarab bagi pemecahan masalah yang ada di negara Indonesia. Artikel tentang system penjaminan mutu di Perguruan Tinggi akibat pembelajaran jarakjauh, ditulis oleh Subijanto, dkk. Dikatakan pandemi Covid-19 membuat perguruan tinggi harus melakukan pembelajaran jarak jauh dengan memanfaatkan teknologi, informasi dan komunikasi, di mana di saat yang sama harus tetap menjaga dan mengedepankan mutu pembelajaran. Untuk itu dibutuhkan standar baku untuk penjaminan mutu pembelajaran jarak jauh di perguruan tinggi. Dari hasil penelitian ini ditemukan bahwa ada variasi implementasi Sistem Penjaminan Mutu Internal dan belum ada standar baku yang dapat dijadikan acuan untuk menjamin mutu pembelajaran jarak jauh. Oleh karena itu perlu dipikirkan adanya Tindakan untuk penguatan Sistem Penjaminan Mutu Internal melalui siklus penetapan, pelaksanaan, evaluasi, pengendalian, dan peningkatan, agar dapat menjamin mutu pembelajaran jarak jauh di perguruan tinggi. Terakhir artikel yang ditulis oleh Acep Saepul Rahmat yang menyoroti seringnya siswa menghadapi kesulitan dalam memahami materi pelajaran matematik, terutama saat pandemi covid 19 dalam pembelajaran jarak jauh. Siswa kurang memahami materi secara substansi dan holistic, sehingga kesulitan memecahkan masalah numerasi matematis secara berulang. Oleh karena itu penelitian penulis mencoba menerapkan Model Means Ends Analysis (MEA) sebagai strategi menganalisis permasalahan melalui berbagai cara untuk mencapai tujuan akhir yang diinginkan. Penerapan model MEA dengan didukung media Kartu Literasi Digital (KKLD) berusaha mengetahui pengaruh terhadap kemampuan numerasi representasi matematis. Hasil penelitian menunjukkan uji rerata nilai post-test kelas eksperimen adalah 80, dan kelas kontrol adalah 64,17. Perbedaan hasil uji rerata menunjukkan adanya kemampuan numerasi representasi matematis siswa kelas eksperimen lebih baik dibanding siswa yang memperoleh pembelajaran konvensional. Hal tersebut membuktikan bahwa MEA berbasis media Kartu Literasi Digital (KKLD) berpengaruh terhadap kemampuan numerasi representasi matematis siswa. Semoga apa yang ditampilkan dalam jurnal edisi kedua ini dapat memberikan manfaat, terutama bagi pihak yang berkepentingan mengambil kebijakan yang diperlukan.
IMPLEMENTASI PEMBELAJARAN BAHASA INDONESIA BERBASIS TEKS DI SMPN 1 BAMBANGLIPURO BANTUL Himawan, Riswanda
Jurnal Penelitian Kebijakan Pendidikan Vol 15 No 1 (2022)
Publisher : Pusat Standar dan Kebijakan Pendidikan, BSKAP, Kemendikbudristek

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24832/jpkp.v15i1.589

Abstract

21st century learning, including Indonesian language learning requires students to think critically and creatively. The ministry’s policy regarding text-based Indonesian language teaching shows that learning Indonesian language today is not only about memorizing but also creating. In line with this, this study aims to describe the results of the implementation of text-based Indonesian language teaching at SMPN 1 Bambanglipuro Bantul and to describe student responses regarding the implementation of the policy. This study uses a descriptive method with a qualitative approach. Data used in answering research questions are the results of observations and interviews, as well as analysis of documents related to lesson plans made and applied by teachers in teaching Indonesian language to students at SMPN 1 Bambanglipuro. The results show that the teacher as a learning facilitator was able to design lesson plans in accordance with the text-based Indonesian language learning curriculum, which prioritized the process and created outcomes. Students feel happy because in textbased Indonesian language learning, students are encouraged to enjoy reading. This is an excellent policy, because it is important to make reading a daily habit, especially to improve students’ literacy skills.
PEMANFAATAN DONGENG LET’S READ UNTUK SISWA SEKOLAH DASAR DALAM MENINGKATKAN PEMAHAMAN PERILAKU HIDUP SEHAT Rahman, Harpiana; Rahman, Harnita; Burhan, Zulkhair; Kurnia, Selia Dwi
Jurnal Penelitian Kebijakan Pendidikan Vol 15 No 1 (2022)
Publisher : Pusat Standar dan Kebijakan Pendidikan, BSKAP, Kemendikbudristek

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24832/jpkp.v15i1.590

Abstract

Health education in elementary schools (DS) which is implemented the behavior of clean and healthy life (PHBS) unable to develop the potential of students to to behave healthy consciously. The development of the concept of PHBS education in schools is implemented just by socialization and provide. So that the strategy is considered not enough to improve health literacy in students. Based on this analysis, the use of fairy tales as a means of health education in elementary schools was chosen as a smart practice in the development of education and health promotion which aims to meet the needs of students in understanding health information, especially the urgency of implementing PHBS. To measure the effectiveness of fairy tales, the measurement of knowledge change is measured by qualitative method with pre and post tests. Through this method, it was found that students who were exposed to fairy tales selected from the Let's Read application experienced a change in their level of knowledge. Before the fairy tale was held, students did not understand the values of PHBS at school. However, after the fairy tale activity, the students' knowledge level is at sixth level knowledge that students not only understand well the concept of PHBS, but students have the ability to create PHBS information well.
PERAN ORGANISASI MASYARAKAT SIPIL DALAM PENGELOLAAN KERAGAMAN DI SEKOLAH Hendrik, Herman
Jurnal Penelitian Kebijakan Pendidikan Vol 15 No 1 (2022)
Publisher : Pusat Standar dan Kebijakan Pendidikan, BSKAP, Kemendikbudristek

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24832/jpkp.v15i1.592

Abstract

This paper aimed to describe the roles of civil society organizations in managing diversity at schools. Civil society organization is an important element in a democracy. Their role in many aspects of life in Indonesia has been widely revealed, including in the education sector. Education in Indonesia reflects the character of Indonesian society in general, which is rich in diversity. Therefore, managing diversity in schools becomes a paramount issue. This is to anticipate the emergence of conflicts stemming from intolerance and inability to accept differences. This paper was written through library research. Data were collected from various sources: books, journals, reports, and websites containing information about civil society organizations and their work in managing diversity in education. Research findings revealed that a number of civil society organizations had played a role in managing diversity in education units through various activities such as trainings, seminars, and discussions. These various activities target almost every element in the school; namely students, teachers, and principals.

Page 9 of 14 | Total Record : 133