cover
Contact Name
Anwar Hafidzi
Contact Email
anwar.hafidzi@uin-antasari.ac.id
Phone
+6285251295964
Journal Mail Official
journalsharia@gmail.com
Editorial Address
Sharia Journal and Education Center Publishing Jalan Gotong Royong, Banjarbaru, Kalimantan Selatan, Indonesia Kode Pos 70711
Location
Kota banjarbaru,
Kalimantan selatan
INDONESIA
Indonesian Journal of Islamic Jurisprudence, Economic and Legal Theory
ISSN : 30310458     EISSN : 30310458     DOI : https://doi.org/10.62976/ijijel.v3i3.1280
Core Subject : Religion, Social,
The Indonesian Journal of Islamic Jurisprudence, Economic and Legal Theory (IJIJEL) is a peer-reviewed academic journal that focuses on advancing research in Islamic jurisprudence, economics, and legal theory within the Indonesian context. Published quarterly (March, June, September, and December), the journal serves as a platform for scholars, researchers, and practitioners to explore theoretical and practical developments in Islamic law. IJIJEL welcomes original research articles, conceptual papers, critical reviews, and comparative studies covering topics such as Islamic legal methodology, contemporary jurisprudential issues, legal reform, and interdisciplinary perspectives. The journal aims to foster academic discourse, enhance understanding of Islamic law, and contribute to the integration of Islamic legal principles within Indonesia’s legal and socio-economic systems.
Arjuna Subject : Umum - Umum
Articles 550 Documents
The Role of Indonesian Muslim Student Action Unit (KAMMI) as Election Monitors in Improving Supervisory Integrity in the 2019 General Election in the City of Banjarmasin Alfikri
Indonesian Journal of Islamic Jurisprudence, Economic and Legal Theory Vol. 2 No. 2 (2024): Implementation and Dynamics of Islamic Law and Civil Law in Indonesia
Publisher : Sharia Journal and Education Center Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62976/ijijel.v2i2.519

Abstract

ABSTRACT This research was conducted in Banjarmasin City against the backdrop of the large number of election violations and the large number of polling stations that must be monitored in the 2019 elections in Banjarmasin City. KAMMI as an election monitor involves itself in this supervision so that the election runs in accordance with the principles of the election. Election monitors can detect potential violations, provide confidence to the public regarding the validity of the results, and encourage accountability of election organizers. The existence of election monitors is also a form of social control that helps strengthen the foundations of democracy and increase active citizen participation in elections. This study aims to determine the role of the Indonesian Muslim Student Action Unit (KAMMI) as an election monitor in improving the integrity of supervision in the 2019 elections in Banjarmasin City, then to find out how the obstacles were faced. The type of research used is field research, by examining the circumstances and phenomena more clearly about the situation that occurs in the field. The research approach is a qualitative approach with qualitative descriptive methods. Data sources are informants totaling 9 people and documentation. Analysis of the results of this study was carried out by analyzing the data collected and presented in the form of descriptive descriptions. Then the researcher makes a conclusion and recommendation on the research results. The results showed that KAMMI played an adequate role as an extension of Bawaslu in monitoring the 2019 elections in Banjarmasin City. KAMMI carries out its duties according to the rules and code of ethics, is neutral, provides education to the public, and supports the participation of persons with disabilities. KAMMI faces obstacles in monitoring the 2019 elections in Banjarmasin City, including limited number of members, unstructured programs, and limited funds. Other internal factors include the focus of monitoring only on election day. External constraints include a lack of cooperation with Bawaslu Banjarmasin City, a lack of coordination between South Kalimantan Province Bawaslu and Banjarmasin City Bawaslu, and an unstructured coordination schedule. Despite the obstacles, KAMMI managed to improve the integrity of election monitoring. KAMMI's involvement as a political monitor can be a motivation for other institutions, although improvements are needed to overcome obstacles in the future. Keywords: KAMMI, Election Monitoring, Surveillance. ABSTRAK Penelitian ini dilakukan di Kota Banjarmasin dengan dilatarbelakangi masih banyaknya pelanggaran Pemilu dan banyaknya TPS yang harus di awasi pada Pemilu tahun 2019 di Kota Banjarmasin. KAMMI sebagai pemantau Pemilu melibatkan diri dalam pengawasan tersebut agar Pemilu berjalan sesuai dengan prinsip-prinsip Pemilu. Pemantau pemilu dapat mendeteksi potensi pelanggaran, memberikan keyakinan kepada masyarakat terkait keabsahan hasil, serta mendorong akuntabilitas penyelenggara Pemilu. Keberadaan pemantau Pemilu juga menjadi bentuk kontrol sosial yang membantu memperkuat fondasi demokrasi dan meningkatkan partisipasi aktif warga negara dalam pemilihan umum. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui peran Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI) sebagai pemantau Pemilu dalam meningkatkan integritas pengawasan pada Pemilu tahun 2019 di Kota Banjarmasin, kemudian untuk mengetahui bagaimana kendala yang dihadapi. Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian lapangan (field research), dengan meneliti keadaan serta fenomena lebih jelas mengenai situasi yang terjadi dilapangan. Pendekatan penelitian yaitu pendekatan kualitatif dengan metode deskriftif kualitatif. Sumber data berupa informan yang berjumlah 9 orang dan dokumentasi. Analisis hasil penelitian ini dilakukan dengan cara menganalisis data yang terkumpul dan disajikan dalam bentuk uraian-uraian secara deskriptif. Kemudian peneliti membuat suatu kesimpulan dan rekomendasi terhadap hasil penelitian. Hasil penelitian menunjukkan bahwa KAMMI cukup berperan sebagai perpanjangan tangan Bawaslu dalam pengawasan Pemilu 2019 di Kota Banjarmasin. KAMMI menjalankan tugasnya sesuai aturan dan kode etik, bersikap netral, memberikan edukasi kepada masyarakat, dan mendukung partisipasi penyandang disabilitas. KAMMI menghadapi kendala dalam pemantauan Pemilu 2019 di Kota Banjarmasin, termasuk jumlah anggota terbatas, program tidak terstruktur, dan dana terbatas. Faktor internal lainnya meliputi fokus pemantauan hanya pada hari pemilihan. Kendala eksternal mencakup kurangnya kerja sama dengan Bawaslu Kota Banjarmasin, kurangnya koordinasi antara Bawaslu Provinsi Kalimantan Selatan dan Bawaslu Kota Banjarmasin, serta jadwal koordinasi yang tidak terstruktur. Meskipun menghadapi kendala, KAMMI berhasil meningkatkan integritas pengawasan Pemilu. Keterlibatan KAMMI sebagai pemantau politik dapat menjadi motivasi bagi lembaga lain, meski diperlukan pembenahan untuk mengatasi kendala di masa depan. Kata Kunci: KAMMI, Pemantau Pemilu, Pengawasan.
Tinjauan Hukum Terhadap Kejahatan Korporasi Pada Lingkungan Bambang, Jam'ul Ihsan; Hafizah, Siti; Liana, Nor
Indonesian Journal of Islamic Jurisprudence, Economic and Legal Theory Vol. 2 No. 2 (2024): Implementation and Dynamics of Islamic Law and Civil Law in Indonesia
Publisher : Sharia Journal and Education Center Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62976/ijijel.v2i2.521

Abstract

Abstract Corporate crimes that occur in the environment, which refer to acts of environmental pollution or destruction carried out by companies, have become a fundamental issue in the modern era. This article discusses a review of conventional law and Islamic law regarding this corporate crime. From a conventional legal perspective, Indonesia has various regulations governing environmental pollution, such as Law no. 32 of 2009 concerning Environmental Protection and Management. This regulation requires companies to maintain environmental sustainability and provides sanctions for companies that violate it. Islamic law also has a firm perspective on environmental damage. In the Qur'an and hadith of the Prophet Muhammad SAW. It also contains many verses and histories that emphasize the importance of preserving nature. Islam also views environmental damage as a major sin that must be punished. This article examines the similarities and differences between conventional law and Islamic law in dealing with corporate crimes in the environment. The result of examining this is to state that both legal systems have the same goal, namely maintaining and protecting environmental sustainability. However, there are differences in terms of sanctions and law enforcement procedures. This article concludes that synergy is needed between conventional law and Islamic law to effectively tackle corporate crime in the environment. Strict law enforcement efforts and appropriate sanctions must be applied to provide a deterrent effect for companies that commit violations. Abstrak Kejahatan korporasi yang terjadi pada lingkungan, yang menyatakan pada tindakan pencemaran atau perusakan lingkungan yang dilakukan oleh perusahaan, telah menjadi isu fundamental di era modern. Artikel ini membahas tinjauan hukum konvensional dan hukum Islam terhadap kejahatan korporasi ini. Dari perspektif hukum konvensional, Indonesia mempunyai beragam peraturan yang mengatur tentang pencemaran lingkungan, seperti Undang-Undang No. 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup. Peraturan ini mewajibkan perusahaan untuk memelihara kelestarian lingkungan dan memberikan sanksi untuk perusahaan yang melanggarnya. Hukum Islam juga memiliki perspektif yang tegas terhadap kerusakan lingkungan. Dalam Al-Qur’an dan hadis Nabi Muhammad SAW. Pun banyak memuat ayat dan riwayat yang menekankan pentingnya memelihara kelestarian alam. Islam juga memandang kerusakan lingkungan sebagai dosa besar yang harus dihukum. Artikel ini menelaah persamaan maupun perbedaan antara hukum konvensional dan hukum Islam dalam membereskan kejahatan korporasi pada lingkungan. Hasil daripada menelaah hal tersebut yaitu menyatakan bahwa kedua sistem hukum memiliki tujuan yang sama, yaitu memelihara maupun melindungi kelestarian lingkungan. Namun, terdapat perbedaan dalam hal sanksi dan prosedur penegakan hukumnya. Artikel ini menyimpulkan bahwa diperlukan sinergi antara hukum konvensional dan hukum Islam untuk menanggulangi kejahatan korporasi pada lingkungan secara efektif. Upaya penegakan hukum yang tegas dan sanksi yang setimpal harus diterapkan untuk memberikan efek jera bagi perusahaan yang melakukan pelanggaran. Kata Kunci: Korporasi, Sanksi
Perlindungan Hukum Terhadap Hewan Trenggiling Ditinjau Berdasarkan Uu No. 5 Tahun 1990 Tentang Konservasi SDA Hayati Beserta Ekosistem Putri Batubara, Dewi; L Tobing, Dies; Feby Yeski Sitepu, Gracia; Teresia Novelia Sidabutar, Hana; Chairunisa, Puji; Novryanti Nainggolan, Satya
Indonesian Journal of Islamic Jurisprudence, Economic and Legal Theory Vol. 2 No. 2 (2024): Implementation and Dynamics of Islamic Law and Civil Law in Indonesia
Publisher : Sharia Journal and Education Center Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstract Pangolin, as one of the endangered species in Indonesia, requires effective legal protection in the context of environmental conservation. This research uses a literature study method to examine the legal protection of pangolins in Indonesia. By analyzing various literatures related to environmental laws, regulations and policies, this research aims to evaluate the effectiveness of the existing legal framework in maintaining pangolin populations and mitigating threats to their habitat. From the analysis, it was found that while there have been several legal measures to protect pangolins, there are still gaps and weaknesses in implementation and enforcement that may hinder the effectiveness of such protection. This research focuses on the impact and implementation of legal regulations on illegal trade activities and poaching of pangolins in the context of environmental conversations and the impact and implementation of legal regulations on illegal trade activities and poaching of pangolins in the context of environmental conversations highlight the need for more comprehensive policy and regulatory improvements as well as increased public awareness and participation in pangolin conservation efforts. As such, the recommendations from this research can contribute to to efforts to maintain the sustainability of pangolin populations and overall environmental conservation in Indonesia. Keywords: Pangolin, Environment Abstrak Hewan trenggiling, sebagai salah satu spesies yang terancam punah di Indonesia, membutuhkan perlindungan hukum yang efektif dalam konteks konservasi lingkungan hidup. Penelitian ini menggunakan metode studi kepustakaan untuk mengkaji perlindungan hukum terhadap hewan trenggiling di Indonesia. Dengan menganalisis berbagai literatur terkait undang-undang, peraturan, dan kebijakan lingkungan hidup, penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi efektivitas kerangka hukum yang ada dalam mempertahankan populasi hewan trenggiling serta memitigasi ancaman terhadap habitatnya. Dari hasil analisis, ditemukan bahwa meskipun telah ada beberapa upaya hukum untuk melindungi hewan trenggiling, masih terdapat celah dan kelemahan dalam implementasi dan penegakan hukum yang dapat menghambat efektivitas perlindungan tersebut. Penelitian ini berfokus pada dampak serta implementasi dari peraturan hukum terhadap aktivitas perdagangan illegal dan perburuan terhadap hewan trenggiling dalam konteks konversasi lingkungan hidup dan dampak serta implementasi dari peraturan hukum terhadap aktivitas perdagangan illegal dan perburuan terhadap hewan trenggiling dalam konteks konversasi lingkungan hidup menyoroti perlunya penyempurnaan kebijakan dan regulasi yang lebih komprehensif serta peningkatan kesadaran dan partisipasi masyarakat dalam upaya konservasi hewan trenggiling. Dengan demikian, rekomendasi dari penelitian ini dapat memberikan kontribusi bagi upaya pemeliharaan keberlanjutan populasi hewan trenggiling dan pelestarian lingkungan hidup secara keseluruhan di Indonesia. Kata Kunci : Trenggiling, Lingkungan Hidup
Penegakan Hukum Administrasi Negara dalam Penanganan Pencemaran Lingkungan Pasaribu, Anjelina; Febriana, Febriana; Sanusi Hasibuan, Rizal; Ramadhan, Taufiq
Indonesian Journal of Islamic Jurisprudence, Economic and Legal Theory Vol. 2 No. 2 (2024): Implementation and Dynamics of Islamic Law and Civil Law in Indonesia
Publisher : Sharia Journal and Education Center Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62976/ijijel.v2i2.537

Abstract

Abstract The national environmental law development agenda includes the creation of environmental administration law ideas, especially those related to the supervision of environmental management from a policy and legal perspective. In the context of the basic framework for national development, law has two sides. The concept of environmental administration law in monitoring environmental management which is based on UUPPLH is based on several things that require change or development that is more progressive, not conservative. It cannot be denied that institutions are very important for overseeing environmental management. According to Law no. 32 of 2009, legal efforts that can be taken in cases of environmental pollution by industry fall into three categories: law enforcement efforts in the administrative, criminal and civil fields. Law Number 32 of 2009 concerning Environmental Protection and Management, in addition to the government's authority to determine administrative sanctions, there are also strengthening aspects, namely forms of administrative sanctions and Regulation of the Minister of Environment of the Republic of Indonesia Number 2 of 2013 concerning guidelines for implementing administrative sanctions. in the field of environmental protection and management. Keywords: Environment, State Administrative Law, Law Abstrak Agenda pembangunan hukum lingkungan hidup nasional mencakup penciptaan gagasan hukum administrasi lingkungan, terutama yang berkaitan dengan pengawasan pengelolaan lingkungan hidup dari sudut pandang kebijakan dan hukum. Dalam konteks kerangka dasar pembangunan nasional, hukum memiliki dua sisi. Konsep hukum administrasi lingkungan dalam pengawasan pengelolaan lingkungan hidup yang didasarkan pada UUPPLH didasarkan pada beberapa hal yang menuntut perubahan atau pengembangan yang lebih progresif, bukan konservatif. Tidak dapat dipungkiri bahwa kelembagaan sangat penting untuk mengawasi pengelolaan lingkungan hidup. Menurut UU No. 32 Tahun 2009, upaya hukum yang dapat dilakukan dalam kasus pencemaran lingkungan oleh industri termasuk dalam tiga kategori: upaya penegakan hukum dalam bidang administrasi, pidana, dan perdata. Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup di samping adanya kewenangan pemerintah atas penetapan sanksi administratif di dalamnya juga terdapat aspek penguatan yaitu bentuk-bentuk sanksi administratif dan Peraturan menteri lingkungan hidup Republik Indonesia Nomor 2 tahun 2013 tentang pedoman penerapan sanksi administratif di bidang perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup. Kata Kunci : Lingkungan, Hukum Administrasi Negara, Undang- Undang
Kesadaran Hukum Pemilik Toko Kelontong Terhadap Hukum Permainan Capit Boneka Di Kota Banjarmasin Safitri, Novia; Fahmi Nurani , Muhammad
Indonesian Journal of Islamic Jurisprudence, Economic and Legal Theory Vol. 2 No. 2 (2024): Implementation and Dynamics of Islamic Law and Civil Law in Indonesia
Publisher : Sharia Journal and Education Center Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62976/ijijel.v2i2.538

Abstract

Abstract This research is motivated by the fact that there are still many claw puppet games in shops or stalls in Banjarmasin, where the shop's owner is a Muslim. The puppet claw game is included in the ijarah contract, but in the Jember Regency MUI Fatwa No. 05/MUI-JBR/XI/2021 concerning the Law of the Claw Doll Machine Game, it states that the puppet claw game is haram. This is undoubtedly contrary to Islamic teachings because it has been stipulated that the law of the game is haram. This makes the author interested in researching the legal awareness of grocery store owners towards the law of doll claw games in Banjarmasin City and the factors behind grocery store owners providing doll claw games in their stores. The type of research used in this study is empirical legal research using a qualitative descriptive research approach. The location of the chosen study is Banjarmasin City. Data was collected through interviews with informants with Muslim credentials who provided a doll claw machine in their store located in Banjarmasin. The data is processed through editing, description, matrix, and verification. The results of this study concluded that Of the 10 informants who provided the puppet claw game, 2 of them knew about the law of the puppet claw game, namely the haram of the game, but they did not understand why the game was banned; they believed that if the game was not intended to gamble then there was no haram of the game. Meanwhile, the other 8 informants needed to learn about the law of the puppet claw game. According to them, the claw puppet game is just a playable game to find entertainment. Of the 10 informants, if viewed from the four indicators of legal awareness, namely knowledge, understanding, attitudes, and legal behavior, the 10 informants have a low level of legal awareness and are unaware of the law. There are 4 factors behind why they provide puppet claw games, namely because the profits obtained from the results of puppet claw games can be an attraction for customers to stop by their stores, as entertainment venues that do not need to be expensive, and because of the low legal awareness influenced by the informant's education factor. Keywords: Legal Awareness, Lease, Dragonfly Game Abstrak Penelitian ini dilatarbelakangi oleh masih banyaknya permainan boneka cakar yang ada di toko-toko atau warung-warung di Banjarmasin yang pemilik tokonya beragama Islam. Permainan wayang cakar termasuk dalam akad ijarah, namun dalam Fatwa MUI Kabupaten Jember No. 05/MUI-JBR/XI/2021 tentang Hukum Permainan Mesin Boneka Cakar menyatakan bahwa permainan wayang cakar adalah haram. Hal ini tentunya bertentangan dengan ajaran Islam karena telah ditetapkan bahwa hukum permainan tersebut adalah haram. Hal ini membuat penulis tertarik untuk meneliti kesadaran hukum pemilik toko kelontong terhadap hukum permainan cakar boneka di Kota Banjarmasin dan faktor-faktor yang melatarbelakangi pemilik toko kelontong menyediakan permainan cakar boneka di tokonya. Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian hukum empiris dengan menggunakan pendekatan penelitian deskriptif kualitatif. Lokasi penelitian yang dipilih adalah Kota Banjarmasin. Data dikumpulkan melalui wawancara dengan informan yang beragama Islam yang menyediakan permainan cakar boneka di tokonya yang berlokasi di Banjarmasin. Data diolah melalui proses editing, deskripsi, matriks, dan verifikasi. Hasil penelitian ini menyimpulkan bahwa dari 10 informan yang menyediakan permainan cakar boneka, 2 orang diantaranya mengetahui hukum permainan cakar boneka, yaitu haramnya permainan tersebut, namun mereka tidak mengerti mengapa permainan tersebut dilarang, mereka beranggapan bahwa jika permainan tersebut tidak ditujukan untuk berjudi maka tidak ada keharaman dari permainan tersebut. Sementara itu, 8 informan lainnya perlu mengetahui hukum permainan cakar boneka. Menurut mereka, permainan wayang cakar hanyalah permainan yang dimainkan untuk mencari hiburan. Dari 10 informan tersebut, jika dilihat dari keempat indikator kesadaran hukum yaitu pengetahuan, pemahaman, sikap, dan perilaku hukum, maka ke-10 informan tersebut memiliki tingkat kesadaran hukum yang rendah dan tidak sadar hukum. Ada 4 faktor yang melatarbelakangi mengapa mereka menyediakan permainan cakar boneka, yaitu karena keuntungan yang diperoleh dari hasil permainan cakar boneka dapat menjadi daya tarik pelanggan untuk mampir ke tokonya, sebagai tempat hiburan yang tidak perlu mahal, dan karena rendahnya kesadaran hukum yang dipengaruhi oleh faktor pendidikan informan. Kata Kunci : Kesadaran Hukum, Sewa-menyewa, Permainan Capit Boneka
Istinbath Hukum Islam Masa Kenabian dan Sahabat: Sejarah, Karakteristik, dan Metode Ijtihad dalam Membentuk Hukum Islam Rizani, Rasyid; Jalaluddin, Jalaluddin; Azhari, Fathurrahman; Hamdi, Fahmi
Indonesian Journal of Islamic Jurisprudence, Economic and Legal Theory Vol. 2 No. 2 (2024): Implementation and Dynamics of Islamic Law and Civil Law in Indonesia
Publisher : Sharia Journal and Education Center Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62976/ijijel.v2i2.540

Abstract

Abstract This paper discusses the history, characteristics, and methods of istinbath of Islamic law during the prophetic and Companion periods. It explains how Islamic law developed along with the revelation to the Prophet Muhammad and how the Companions used ijtihad in determining the law. It also discusses the differences of opinion among the Companions and how they struggled to resolve legal issues using the original sources of Islamic law, the Qur'an and Sunnah. The Prophetic period, known as the infancy period, is the period of growth and formation of the Prophet's Islamic law for 23 years, from his elevation to the Apostleship in 610 AD until his death in 632 AD. This period is divided into two parts, namely the Mecca period and the Medina period. The characteristics of Islamic law during the prophetic period include several important aspects, such as tashri' divided into two phases with different focuses. The determination of law during the prophetic period began with events or questions posed by the people of Muhammad Saw to him. Meanwhile, the Companion period is also called the development period, and the characteristic of tashri' in this period is that ijtihad has begun to be carried out by the Companions because the Prophet as the authority of tashri' has passed away. Keywords: History, characteristics, istinbath method, Islamic Law Abstrak Tulisan ini membahas tentang sejarah, karakteristik, dan metode istinbath hukum Islam masa kenabian dan sahabat. Ia menjelaskan bagaimana hukum Islam berkembang seiring dengan turunnya wahyu kepada Nabi Muhammad saw dan bagaimana para sahabat menggunakan ijtihad dalam menetapkan hukum. Tulisan ini juga membahas tentang perbedaan pendapat di antara para sahabat dan bagaimana mereka berjuang untuk menyelesaikan masalah hukum dengan menggunakan sumber asli hukum Islam, yaitu Al-Qur'an dan Sunnah. Pada Periode kenabian, dikenal sebagai masa pertumbuhan, adalah masa pertumbuhan dan pembentukan hukum Islam Rasulullah selama 23 tahun, dari diangkatnya menjadi Rasul pada tahun 610 M hingga wafatnya pada tahun 632 M. Periode ini dibagi menjadi dua bagian, yaitu periode Mekkah dan periode Madinah. Karakteristik hukum Islam pada masa kenabian mencakup beberapa aspek penting, seperti tasyri' dibagi menjadi dua fase dengan fokus yang berbeda. Penetapan hukum di masa kenabian dimulai dengan peristiwa atau pertanyaan yang diajukan oleh umat Muhammad Saw kepadanya. Sedangkan, Periode sahabat disebut juga masa perkembangan, dan ciri khas tasyri’ pada periode ini adalah ijtihad sudah mulai banyak dilakukan oleh para sahabat karena Rasulullah saw sebagai pemegang wewenang tasyri’ sudah meninggal dunia. Kata kunci: Sejarah, karakteristik, metode istinbath, Hukum Islam
Perkembangan Islam pada Masyarakat Banjar dalam Budaya dan Fiqh Tasawuf Irawan, Andhi; , M.Ag, Dr. H. Sukarni, M.Ag; ,.Hum, Prof. Dr. H. M. Hanafiah; Muhajir, MA, Dr. Ahmad
Indonesian Journal of Islamic Jurisprudence, Economic and Legal Theory Vol. 2 No. 2 (2024): Implementation and Dynamics of Islamic Law and Civil Law in Indonesia
Publisher : Sharia Journal and Education Center Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstract This study examines the development of Islam within the Banjar community, focusing on cultural and Sufi jurisprudence aspects. The Banjar community is a culturally rich society significantly influenced by Islamic traditions. Islamic traditions permeate every stage of life in the Banjar society, manifesting in various life rituals such as childbirth, child-rearing, education, adolescence, marriage preparation, weddings, religious education, illness, and death. Additionally, Islamic traditions are observed during major religious celebrations such as Ramadan, Syawal, Eid al-Adha, and Hajj. The Islamic traditions in the Banjar community have been heavily influenced by Sufi teachings introduced by Islamic scholars from the Middle East. In subsequent stages, several prominent scholars from Banjar traveled to the Middle East to study Islamic sciences and disseminate their knowledge by teaching and publishing books to spread Islamic teachings.One notable Banjar scholar is Sheikh Arsyad Al-Banjari, who realigned Banjar culture with Islamic teachings by prohibiting practices like Sanggar Banua and Membuang Pasilih, which could lead the Banjar community towards transgressions and heretical innovations, including practices involving offerings to spirits. Keywords: Islamic Development, Banjar Community, Cultural Influence, Sufi Jurisprudence, Life Rituals, Islamic Traditions, Middle Eastern Scholars, Sheikh Arsyad Al-Banjari. Abstrak Penelitian ini mengkaji perkembangan Islam dalam masyarakat Banjar, dengan fokus pada aspek budaya dan fiqh tasawuf. Masyarakat Banjar merupakan masyarakat yang kaya budaya dan sangat dipengaruhi oleh tradisi Islam. Tradisi Islam mewarnai setiap tahap kehidupan dalam masyarakat Banjar, yang terlihat dalam berbagai ritual kehidupan seperti kelahiran, pengasuhan anak, pendidikan, masa remaja, persiapan pernikahan, pernikahan, pendidikan agama, kondisi sakit, dan kematian. Selain itu, tradisi Islam juga diamati selama perayaan hari besar agama seperti Ramadhan, Syawal, Idul Adha, dan Haji.Tradisi Islam yang masuk ke masyarakat Banjar sangat dipengaruhi oleh ajaran tasawuf yang diperkenalkan oleh ulama Islam dari Timur Tengah. Pada tahap berikutnya, beberapa ulama besar dari Banjar pergi ke Timur Tengah untuk mempelajari ilmu pengetahuan Islam dan menyebarkan pengetahuan mereka dengan mengajar dan menerbitkan kitab-kitab untuk menyebarkan ajaran Islam.Salah satu ulama Banjar yang terkenal adalah Syeikh Arsyad Al-Banjari, yang telah meluruskan kembali budaya Banjar sesuai dengan ajaran Islam dengan melarang praktik seperti Sanggar Banua dan Membuang Pasilih, yang dapat menyeret masyarakat Banjar menuju kemungkaran dan bid'ah dhalalah, termasuk praktik memberi makan orang ghaib. Kata Kunci: Perkembangan Islam, Masyarakat Banjar, Pengaruh Budaya, Fiqh Tasawuf, Ritual Kehidupan, Tradisi Islam, Ulama Timur Tengah, Syeikh Arsyad Al-Banjari.
Kedudukan Siyasah Dusturiyyah Studi Kasus Politisasi Pemilu 2024 Analisis Peradilan Hukum Islam Jaidi, Muhammad; Hasan , Ahmadi; Umar , Masyithah; Khasyi’in, Nuril
Indonesian Journal of Islamic Jurisprudence, Economic and Legal Theory Vol. 2 No. 2 (2024): Implementation and Dynamics of Islamic Law and Civil Law in Indonesia
Publisher : Sharia Journal and Education Center Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62976/ijijel.v2i2.543

Abstract

Abstract Analysis of the position of siyasah dusturiyyah (constitutional politics) in the context of the politicization of the 2024 Elections in Indonesia and from the perspective of Islamic judicial law. The research employs a qualitative approach with descriptive-analytical methods, examining relevant literature and secondary data to reveal how siyasah dusturiyyah is applied in the political and legal processes of elections. The findings indicate that siyasah dusturiyyah is a fundamental element in the formation of state law, encompassing legislation, government administration, and the enforcement of fair and transparent laws in accordance with Sharia principles. In the context of the 2024 Elections, integrity and neutrality are highlighted as key factors in ensuring fairness and representativeness in governance. The Constitutional Court (MK) plays a strategic role in resolving electoral disputes, upholding the rule of law, and ensuring the electoral process is fair. The research asserts that the collaboration between law and politics through the siyasah dusturiyyah framework can create a stable, just, and accountable governance system. By applying Sharia principles in political and legal processes, the government can reflect Islamic teachings while fulfilling the aspirations of society as a whole. Integrity and transparency in elections are identified as imperative to achieve a representative and just government. Keywords: Siyasah Dusturiyyah, Election Politicization, 2024 Elections, Islamic Law, Judicial Analysis, Position. Abstrak Analisis kedudukan siyasah dusturiyyah (politik perundang-undangan) dalam konteks politisasi Pemilu 2024 di Indonesia dan dari perspektif peradilan hukum Islam. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode deskriptif-analitis, mengkaji literatur dan data sekunder yang relevan untuk mengungkap bagaimana siyasah dusturiyyah diterapkan dalam proses politik dan hukum pemilu. Temuan penelitian menunjukkan bahwa siyasah dusturiyyah merupakan elemen fundamental dalam pembentukan hukum negara, mencakup pembuatan undang-undang, administrasi pemerintahan, dan penegakan hukum yang adil dan transparan sesuai dengan prinsip-prinsip syariah. Dalam konteks Pemilu 2024, integritas dan netralitas dinyatakan sebagai faktor kunci untuk menjamin keadilan dan representativitas pemerintahan. Mahkamah Konstitusi (MK) berperan strategis dalam menyelesaikan sengketa pemilu, menegakkan aturan hukum, dan memastikan proses pemilu berjalan dengan adil. Penelitian ini menegaskan bahwa kolaborasi antara hukum dan politik melalui kerangka siyasah dusturiyyah dapat menciptakan sistem pemerintahan yang stabil, adil, dan akuntabel. Dengan menerapkan prinsip-prinsip syariah dalam proses politik dan hukum, pemerintah dapat mencerminkan ajaran Islam sekaligus memenuhi aspirasi masyarakat secara menyeluruh. Integritas dan transparansi dalam pemilu diidentifikasi sebagai keharusan untuk mencapai pemerintahan yang representatif dan berkeadilan. Kata Kunci: Siyasah Dusturiyyah, Politisasi Pemilu, Pemilu 2024, Hukum Islam, Analisis Peradilan, Kedudukan.
Perbandingan Konsep Khulu' dalam Hukum Islam dan Hukum Pernikahan di Indonesia Musthafa, Alwi; Salma, Siti; syawaliana, anisa; Hafidzi, Anwar
Indonesian Journal of Islamic Jurisprudence, Economic and Legal Theory Vol. 2 No. 2 (2024): Implementation and Dynamics of Islamic Law and Civil Law in Indonesia
Publisher : Sharia Journal and Education Center Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62976/ijijel.v2i2.545

Abstract

Abstract Marriage is one of the main aspects of social life. However, marriage is not always smooth and can end in divorce. In Islam, one type of divorce that a wife can carry out is khulu', which means the wife voluntarily redeems herself from the marriage by paying iwad to her husband. On the other hand, marriage law in Indonesia regulates several types of divorce such as talak and divorce. This research aims to compare the concept of khulu' in Islamic law with the concept of divorce in marriage law in Indonesia. This research uses a qualitative research method with a comparative approach. Research data was obtained from literature studies and documentation related to khulu' and divorce in Indonesia. The similarities found are the existence of a religious legal basis, the existence of certain conditions, and the existence of legal consequences. And differences exist in terms of definitions, implementation procedures, and women's rights. These similarities and differences are caused by several factors, such as religious, cultural, social and legal factors. Keywords: Khulu', Divorce, Islamic Law, Marriage Law, Indonesia Keywords: marital satisfaction, husband's turn distribution, hadisth Abstrak Pernikahan merupakan salah satu aspek utama dalam kehidupan bermasyarakat. Namun, pernikahan tidak selalu mulus dan dapat berujung pada perceraian. Dalam Islam, salah satu jenis perceraian yang dapat dilakukan oleh istri adalah khulu', yang artinya istri secara sukarela menebus dirinya dari pernikahan dengan membayar iwad kepada suami. Disisi lain, hukum pernikahan di Indonesia mengatur beberapa jenis perceraian seperti talak dan cerai gugat. Penelitian ini bertujuan untuk membandingkan konsep khulu' dalam hukum Islam dengan konsep perceraian dalam hukum pernikahan di Indonesia. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif dengan pendekatan komparatif. Data penelitian diperoleh dari studi literatur dan dokumentasi terkait dengan khulu' dan perceraian di Indonesia. Persamaan yang ditemukan adalah adanya dasar hukum agama, adanya syarat-syarat tertentu, dan adanya akibat hukum. Dan perbedaan ada dalam hal definisi, tata cara pelaksanaan, dan hak-hak perempuan. Persamaan dan perbedaan tersebut disebabkan oleh beberapa faktor, seperti faktor agama, budaya, sosial, dan hukum. Kata Kunci: Khulu', Perceraian, Hukum Islam, Hukum Pernikahan, Indonesia
Telaah Metodologi Istinbath dan Corak Hukum Islam Lembaga-Lembaga Fatwa di Indonesia (LBMNU, Majelis Tarjih Muhammadiyah Dan Komisi Fatwa MUI) Muhamad Shadiq, Gusti; Jalaluddin, Jalaluddin; Azhari, Fathurrahman; Hamdi, Fahmi
Indonesian Journal of Islamic Jurisprudence, Economic and Legal Theory Vol. 2 No. 2 (2024): Implementation and Dynamics of Islamic Law and Civil Law in Indonesia
Publisher : Sharia Journal and Education Center Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62976/ijijel.v2i2.546

Abstract

Abstract This study analyzes the istinbath methodology and the characteristics of Islamic law applied by fatwa institutions in Indonesia, namely Lajnah Bahtsul Masail Nahdhatul Ulama (LBMNU), Majelis Tarjih Muhammadiyah, and the Indonesian Ulama Council Fatwa Commission (MUI). Islamic law is a crucial aspect of Muslim life and continues to evolve through interactions with socio-cultural and political contexts. Islamic legal products are not only limited to fiqh books but also include scholars' fatwas, religious court decisions, and legislative regulations. This research examines how these institutions use the istinbath methodology to respond to contemporary challenges such as social change, technological advancements, and the emergence of new issues not addressed in classical jurisprudence. Through library research and descriptive-analytical analysis, this study demonstrates that issuing fatwas cannot rely solely on the texts of the Qur'an and Hadith or the statements of scholars in the classical books. Therefore, a more dynamic and contextually relevant ijtihad method is needed to address new issues. Keywords: Istinbath Methodology, Islamic Law, Fatwa, LBMNU, Majelis Tarjih Muhammadiyah, MUI Fatwa Commission, Ijtihad, Modern Context. Abstrak Penelitian ini menganalisis metodologi istinbath dan karakteristik hukum Islam yang diterapkan oleh lembaga-lembaga fatwa di Indonesia, yaitu Lajnah Bahtsul Masail Nahdhatul Ulama (LBMNU), Majelis Tarjih Muhammadiyah, dan Komisi Fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI). Hukum Islam merupakan aspek penting dalam kehidupan umat Islam dan terus berkembang melalui interaksi dengan konteks sosio-kultural dan politik. Produk hukum Islam tidak hanya terbatas pada kitab-kitab fikih, tetapi juga mencakup fatwa ulama, keputusan pengadilan agama, dan peraturan perundangan. Penelitian ini mengkaji bagaimana lembaga-lembaga tersebut menggunakan metodologi istinbath untuk merespons tantangan kontemporer seperti perubahan sosial, kemajuan teknologi, dan munculnya isu-isu baru yang tidak dibahas dalam yurisprudensi klasik. Melalui studi pustaka dan analisis deskriptif-analitis, penelitian ini menunjukkan bahwa penetapan fatwa tidak cukup hanya didasarkan pada nash Al-Qur’an dan Hadits, atau aqwal ulama dalam kutub mu’tabarah. Oleh karena itu, diperlukan metode ijtihad yang lebih dinamis dan relevan dengan konteks modern untuk menjawab persoalan-persoalan baru. Kata Kunci: Metodologi Istinbath, Hukum Islam, Fatwa, LBMNU, Majelis Tarjih Muhammadiyah, Komisi Fatwa MUI, Ijtihad, Konteks Modern.