cover
Contact Name
Bayu Anggileo Pramesona
Contact Email
bayu.pramesona@fk.unila.ac.id
Phone
+6281274004767
Journal Mail Official
jka@fk.unila.ac.id
Editorial Address
Jalan Sumantri Brojonegoro No.1 Gedung C FK Unila lt. 1 Ruang Jurnal Lakuna Rajabasa Bandar Lampung Kode Pos 35145 Lampung
Location
Kota bandar lampung,
Lampung
INDONESIA
Jurnal Agromedicine Unila: Jurnal Kesehatan dan Agromedicine
Published by Universitas Lampung
ISSN : 26557800     EISSN : 2356332X     DOI : https://doi.org/10.23960/jka
Core Subject : Health,
Jurnal Agromedicine Unila: Jurnal Kesehatan dan Agromedicine is a peer-reviewed scientific journal published by the Faculty of Medicine, University of Lampung. This journal serves as a platform for disseminating research findings and scholarly discussions in the fields of medicine, public health, environmental health, and their intersections with agriculture and agromedicine. The journal emphasizes preventive, promotive, and educational health strategies, especially within rural and agrarian communities.
Articles 565 Documents
Efek Paparan Kronik Pestisida Organofosfat terhadap Sistem Saraf Pusat Wahidatur Rohmah; Ulima Mazaya Ghaisani; Diana Mayasari
Jurnal Agromedicine Unila: Jurnal Kesehatan dan Agromedicine Vol. 6 No. 2 (2019): Jurnal Kesehatan dan Agromedicine
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Prevalensi keracunan pestisida organofosfat di dunia mencapai satu juta kasus per tahunnya. Paparan pestisida oganofosfat memiliki efek toksik terhadap berbagai bagian tubuh manusia sehingga dapat terjadi berbagai macam gangguan, diantaranya terjadi gangguan sistem respirasi, hepatik, kardiovaskular, ketidakseimbangan hormonal, kerusakan ginjal, dan neurologis. Cronic organophosphate-induced neuropsychiatric disorders (COPIND) adalah kumpulan gejala neuropsikiatri akibat paparan kronik organofosfat tanpa gejala kolinergik. Efek toksik pestisida organofosfat yang paling sering muncul antara lain gangguan pada memori, konsentrasi, proses belajar, kecemasan, depresi, gejala psikotik, kelelahan kronik, disfungi otonom, dan gejala ekstrapiramidal seperti distonia dan bradikenesia. Paparan kronik pestisida organosfosfat dapat menyebabkan gangguan fungsi memori berupa memori spasial, memorivisual, maupun memori jangka pendek. Mekanisme utama pada gangguan fungsi memori diduga melibatkan inhibisi asetilkolinesterase, inflamasi sel neuron, dan gangguan transport aksonal.Kata Kunci: organofosfat, pestisida, sistem saraf pusat
Potensi Isoflavon Kedelai sebagai Terapi Tambahan Diare Akut pada Anak Sheira Indah Anjani; Ahmad Farishal; Khairun Nisa Berawi
Jurnal Agromedicine Unila: Jurnal Kesehatan dan Agromedicine Vol. 6 No. 2 (2019): Jurnal Kesehatan dan Agromedicine
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Diare adalah keluarnya feses lunak-berair dan frekuensi lebih dari tiga kali dalam periode 24 jam. Konsistensi feses, frekuensi dan tanda vital menjadi tolak ukur keadaan pasien pada kasus diare pada anak. Diare akut pada anak biasanya disebabkan oleh Rotavirus, bakteri non-salmonella dan parasit. Tatalaksana diare akut pada anak yaitu mencegah dehidrasi dan menseimbangkan elektrolit tubuh dengan pemberian terapi cairan serta oralit. Pemberian antibiotik dan antidiare disesuaikan kondisi pasien. Selain terapi cairan dan obat-obatan maka terapi berupa diet makanan mengandung isoflavon dapat menjadi terapi tambahan dalam kasus diare akut pada anak. Isoflavon merupakan senyawa dengan antioksidan dan antimikroba yang banyak terdapat pada kedelai. Isoflavon menurunkan adhesi bakteri, mencegah agregasi bakteri, menghambat pertumbuhan bakteri patogen dan meningkatkan mikroflora di usus. Beberapa penelitian bahkan isoflavon dapat memperbaiki kondisi brush border pada usus. Sehingga isoflavonkedelai dapat bermanfaat sebagai terapi tambahan.Kata kunci: Antimikroba, Diare Akut, Isoflavon, Kedelai
Perbandingan Daya Hambat Konsentrasi Ekstrak Etanol Daun Sirih Hijau (Piper Betle L.) terhadap Pertumbuhan Bakteri Salmonella typhi dan Staphylococcus aureus Benny Bradley Pradana Pangaribuan; Tri Umiana Soleha; Muhammad Ricky Ramadhian
Jurnal Agromedicine Unila: Jurnal Kesehatan dan Agromedicine Vol. 6 No. 2 (2019): Jurnal Kesehatan dan Agromedicine
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penyakit infeksi merupakan penyebab utama masalah kesehatan di seluruh dunia terutama negara tropis, khususnya infeksi Salmonella typhi yang menyebabkan demam tifoid dan Staphylococcus aureus yang dapat menginfeksi berbagai jaringan ataupun alat tubuh. Penyakit infeksi umumnya diobati dengan antibiotik. Daun sirih hijau (Piper betle L.) diketahui memiliki banyak khasiat, salah satunya sebagai antibakteri. Penelitian bertujuan mengetahui perbandingan pengaruh ekstrak etanoldaun sirih hijau terhadap daya hambat pertumbuhan antara bakteri Salmonella typhi dan Staphylococcus aureus. Penelitian ini menggunakan bakteri Salmonella typhi dan Staphylococcus aureus yang diberikan ekstrak etanol daun sirih hijau yang dibagi dalam 7 kelompok. Kontrol negatif dengan aquadest (K1), konsentrasi 20% (K2), konsentrasi 40% (K3), konsentrasi 60% (K4), konsentrasi 80% (K5), konsentrasi 100% (K6), dan kontrol positif dengan seftriakson dan penisilin G (K7). Hasilpenelitian didapatkan bahwa ekstrak etanol daun sirih hijau menghasilkan diameter zona hambat yang berbeda pada konsentrasi yang berbeda, dimana rerata zona hambat tertinggi untuk Salmonella typhi pada konsentrasi 100% (39,25mm) dan Staphylococcus aureus pada konsentrasi 60% (36,5mm). Perbandingan antara pengaruh ekstrak etanol daun sirih hijau kedua bakteri yang didapatkan dengan uji Wilcoxon, yaitu p=0,879, menunjukan tidak terdapat perbedaan pengaruh ekstrak etanol daun sirih hijau terhadap daya hambat pertumbuhan bakteri antara Salmonella typhi dan Stapylococcusaureus.Kata kunci: daun sirih hijau, diameter zona hambat, Salmonella typhi, Staphylococcus aureus
Non-Melanoma Skin Cancer (NMSC) pada Pekerja Luar Ruangan dan Intervensinya Rizki Hanriko; Sri Janahtul Hayati
Jurnal Agromedicine Unila: Jurnal Kesehatan dan Agromedicine Vol. 6 No. 2 (2019): Jurnal Kesehatan dan Agromedicine
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Keberadaan sinar Ultraviolet (UV) tak lepas dari kehidupan kita sehari-hari. Sinar UV tak hanya bermanfaat dalam proses fotosintesis tumbuhan, namun juga bermanfaat dalam produksi vitamin D didalam tubuh manusia. Paparan sinar UV secara terus-menerus ternyata dapat memberi dampak buruk bagi kesehatan manusia, khususnya kulit dan mata. Bahaya terburuk akibat paparan sinar UV yang paling sering terjadi adalah Non-Melanoma Skin Cancer (NMSC). Kelompok paling berisiko mengalami NMSC adalah kelompok pekerja yang bekerja diluar ruangan (outdoor worker). Meskipun berisiko, namun masih ada langkah yang dapat dilakukan untuk mengurangi paparan sinar UV. Upaya yang dilakukan diharapakan dapatmengurangi kejadian NMSC yang selama ini dilaporkan sebagai kasus kanker kulit terbesar didunia.Kata kunci:
Kurkumin pada Curcuma longa sebagai Tatalaksana Alternatif Kanker Nabil Abdurrahman
Jurnal Agromedicine Unila: Jurnal Kesehatan dan Agromedicine Vol. 6 No. 2 (2019): Jurnal Kesehatan dan Agromedicine
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kunyit adalah tanaman rempah yang berasal dari rimpang Curcuma longa, yang merupakan anggota dari famli jahe (Zingiberaceae). Kunyit dapat ditemui dengan mudah di Indonesia, selain terkenal sebagai bumbu penyedap makanan, kunyit juga sering digunakan sebagai jamu dan obat-obatan. Kunyit dapat juga dipertimbangkan sebagai alternatif anti-kanker di Indonesia. Kunyit mengandung kurkumin dan minyak esensial sebagai komponen utama. Kurkumin dan dua turunan demetoksi, demethoxycurcumin dan bisdemethoxycurcumin yang telah terbukti menunjukkan aktivitas antioksidan, antiinflamasi, antikanker, antivirus, antibakteri, dan antijamur. Mekanisme dalam menghambat tumorigenesis oleh kurkumin bervariasi dan melibatkan kombinasi antiinflamasi, antioksidan, imunomodulator, proapoptotik, dan sifat anti-angiogenik melalui efek pleiotropik pada gen dan jalur pensinyalan sel pada berbagai tingkatan baik secara intrinsik maupun ekstrinsik.Efek genotoksisitas/antigenotoksik kurkumin pada sel kanker yang terpapar cisplatin menunjukkan bahwa, kurkumin secara signifikan mengurangi frekuensi total mikronukleus yang diinduksi oleh cisplatin. Selain dapat bekerja secara mandiri, kurkumin juga mampu bekerja bersama dengan agen anti-kanker lainnya.Kata kunci: Anti Kanker, Anti-Angiogenik, Kurkumin, Proapoptotik
Penatalaksanaan Holistik Diabetes Melitus dengan Komplikasi Ulkus Diabetikum pada Wanita Usia 63 Tahun Reni Zuraida; TA Larasati; Dani Kartika Sari; Faridah Alatas; Fauziah Lubis
Jurnal Agromedicine Unila: Jurnal Kesehatan dan Agromedicine Vol. 6 No. 2 (2019): Jurnal Kesehatan dan Agromedicine
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Menurut BPJS penyakit Diabetes Melitus (DM) termasuk penyakit yang menghabiskan biaya besar. Pada tahun 2015, DM dan komplikasinya dilaporkan telah menghabiskan 33% dari total anggaran sistem pelayanan nasional. Kasus DM sering ditemukan dengan komplikasi sehingga berpeluang besar menghabiskan biaya perawatan yang tinggi. Penderita DM dengan komplikasi mengalami ketidakseimbangan antara aspek biologis dan psikososial. Kondisi ini menyebabkan lansia rentan depresi. Pengelolaan secara holistik diharapkan dapat memperbaiki kondisi secara fisik, psikologis serta perubahan perilaku sehingga kualitas hidup penderita akan meningkat. Kasus pada jurnal adalah seorang pasien wanita usia 63 tahun penderita DM tipe 2 dengan komplikasi ulkus diabetikum. Studi ini merupakan laporan kasus. Data primer diperoleh melalui anamnesis, pemeriksaan fisik dan kunjungan rumah pasien untuk melengkapi data keluarga, okupasi psikososial,lingkungan, penilaian activity daily living menggunakan Katz Indeks serta penilaian tingkat depresi dengan GDS. Intervensi dilakukan secara patient center dan family focus. Terjadi perubahan setelah dilakukan intervensi. Dalam aspek personal, kekhawatiran pasien berkurang meskipun harapannya belum tercapai. Dalam aspek risiko internal, terjadi penurunan kadar gula darah sewaktu, perubahan pola makan serta perubahan skor aktivitas fisik pasien dan tingkat depresi yang dinilai dengan Katz Indeks dan GDS. Dalam aspek psikososial, terjadi perubahan pengetahuan, sikap dan perilaku pada pasien dan keluarga dalam hal pengobatan DM dan perawatan ulkus DM. Derajat fungsional pasien mampu melakukan kegiatan ringan. Penatalaksanaan holistik diharapkan mampu meningkatkan kualitas hidup dan penurunan biaya perawatan. Dalam melakukan intervensi terhadap tidak hanya memandang dalam hal klinis tetapi juga psikososialnya, sehingga diperlukan pemeriksaan dan penanganan yang holistik, komperhensif dan berkesinambungan.Kata kunci: diabetes melitus, komplikasi, komprehensif
Diagnosis dan Penatalaksanaan Pasien Neurodermatitis dan Hipertensi dengan Konsep Kedokteran Keluarga Destika Sari; Merry Indah Sari; Sahab Sibuea
Jurnal Agromedicine Unila: Jurnal Kesehatan dan Agromedicine Vol. 6 No. 2 (2019): Jurnal Kesehatan dan Agromedicine
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penerapan konsep kedokteran keluarga yang baik akan memiliki banyak manfaat seperti penanganan penyakit manusia yang seutuhnya, berkesinambungan, tindakan preventif dan efektifitas pelayanan kesehatan. Pada kasus ini dilakukan penegakan diagnosis dan penatalaksanaan dengan konsep kedokteran keluarga. Data primer didapat melalui anamnesis, pemeriksaan fisik dan kunjungan rumah, dan data sekunder dari rekam medis pasien. Kasus pasien Tn. E usia 55 tahun dengan keluhan rasa gatal pada kulit kaki, terdapat perubahan warna kulit menjadi kehitaman, berbatas tegas dan likenifikasi, pada pemeriksaan tekanan darah150/90 mmHg. Faktor internal pada kasus pasien adalah kurangnya pengetahuan tentang penyakit yang dialami,pengobatan dan komplikasi yang dapat ditimbulkan, menggaruk lesi, penyangkalan terhadap penyakit hipertensi dan stress, kemudian faktor eksternal berupa lingkungan dan suhu. Setelah melakukan diagnosis holistik dan penatalaksanaan komprehensif didapatkan pasien telah mengalami perbaikan pada kepatuhan perawatan kulit, keluhan subjektif, tekanan darah, peningkatan pengetahuan dan pengobatan yang benar. Hal ini menunjukan bahwa metode pelayanan kesehatan dengankonsep kedokteran keluarga dapat memberikan hasil yang baik terhadap tingkat kesehatan pasien dan pada pasien ini terdapat perbaikan pada sikap pasien, walaupun belum dapat merubah seluruh perilaku pasien.Kata kunci: Hipertensi, holistik, kedokteran keluarga, neurodermatitis
Penatalaksanaan Diare pada Anak di Puskesmas Gedong Tataan dengan Pendekatan Dokter Keluarga Aila Kayrus; Sofia Latifah
Jurnal Agromedicine Unila: Jurnal Kesehatan dan Agromedicine Vol. 6 No. 2 (2019): Jurnal Kesehatan dan Agromedicine
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Diare adalah peningkatan pengeluaran tinja dengan konsistensi lebih lunak atau lebih cair dari biasanya, dan terjadi paling sedikit 3 kali dalam 24 jam. Untuk bayi dan anak-anak, diare didefinisikan sebagai pengeluaran tinja >10 g/kg/24 jam, sedangkan rata-rata pengeluaran tinja normal bayi sebesar 5-10 g/kg/24 jam. Kesehatan yang kurang dijaga, baik dari dalam diri anak maupun ibu, dapat memicu timbulnya penyakit diare. Oleh karena itu, penting untuk melakukan edukasi kepada pasien tentang kebersihan diri dan lingkungan, untuk menjaga kesehatan. Penatalaksanaan pada pasien diare, sangat penting agar dapat mencegah kekambuhan dan komplikasi. Tujuan penulisan ini adalah penerapan pelayanan dokter keluarga berbasis evidence based medicine, dengan mengidentifikasi penatalaksanaan secara holistik pada pasien. Studi ini merupakan laporan kasus. Data primer diperoleh melalui anamnesis, pemeriksaan fisik dan kunjungan ke rumah. Datasekunder didapat dari rekam medis pasien. Pola hidup bersih dan sehat yang tidak diterapkan dengan baik, menjadi faktor utama penyebab terjadinya penyakit diare. Pelayanan dokter keluarga dalam terapi farmakologis dan nonfarmakologis mampu menyelesaikan masalah kesehatan dan meningkatkan kualitas hidup pasien.Kata kunci: diare, pola hidup bersih dan sehat.
Henoch Schonlein Purpura dengan Predominan Manifestasi Gastrointestinal Alyssa Fairudz Shiba; Deborah Natasha; Ferry Mulyadi; Intanri Kurniati
Jurnal Agromedicine Unila: Jurnal Kesehatan dan Agromedicine Vol. 6 No. 2 (2019): Jurnal Kesehatan dan Agromedicine
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Henoch Schonlein Purpura (HSP) adalah penyakit autoimun (dimediasi IgA) dalam wujud hipersensitivitas vaskulitis, umumnya ditemukan pada anak. Terdapat abnormalitas berupa vaskulitis menyeluruh yang mengenai pembuluh darah kecil di kulit, sendi, saluran cerna dan ginjal. Ditandai dengan purpura disertai artritis atau atralgia dan dapat menyebabkan komplikasi gastrointestinal seperti intususepsi. Untuk melaporkan suatu kasus yang jarang dengan keterlibatan gastrointestinal pada kondisi HSP. Seorang anak usia 10 tahun datang dengan nyeri perut sejak 5 minggu yang hilang timbul disertai dengan BAB hitam dan bintik kemerahan di kaki dan bokong sejak 3 minggu sebelum masuk rumah sakit. Pada pemeriksaan fisik didapatkan denyut nadi 90x/m, laju napas 20x/m, suhu 36,5 C. Pada pemeriksaan abdomen bising usus (+) normal, nyeri pada palpasi di area epigastrium dan hipogastrium, massa (-), hepatomegali dan splenomegali (-). Padastatus dermatologis terdapat purpura berukuran milier-lentikular, difus pada regio kruris sampai gluteal. Pemeriksaan laboratorium darah lengkap normal, BNO menunjukkan dilatasi parsial usus dan tidak didapatkan kelainan pada USG abdomen. Pasien didiagnosis dengan HSP disertai kolik abdomen suspek intususepsi dan ditatalaksana dengan tirah baring, kortikosteroid IV, antibiotik dan proton pump inhibitor (PPI). Manifestasi gastrointestinal pada HSP dapat ditemukan pada 30-70% kasus dan dapat menyebabkan komplikasi seperti intususepsi ileokolonal dan manifestasi ini dapat mendahului lesi kulit dan menyulitkan diagnosis.Kata kunci : gastrointestinal, henoch schonlein purpura, kortikosteroid
Penatalaksanaan Osteoartritis, Hipertensi dan Penyakit Paru Obstruktif Kronis (PPOK) dengan Prinsip Pelayanan Dokter Keluarga Intan Siti Hilaima; Nurul Utami; Sahab Sibuea
Jurnal Agromedicine Unila: Jurnal Kesehatan dan Agromedicine Vol. 6 No. 2 (2019): Jurnal Kesehatan dan Agromedicine
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Lanjut usia (lansia) adalah seseorang yang mencapai usia 60 tahun ke atas. Bertambahnya umur, fungsi fisiologis mengalami penurunan, sehingga lansia rentan menderita penyakit tidak menular (PTM). Lansia juga mengalami penurunan imunitas tubuh, sehinga rentan terinfeksi penyakit menular. Hasil Riskesdas 2013, menyatakan bahwa penyakit terbanyak pada lansia adalah PTM, seperti hipertensi, artritis, stroke, penyakit paru obstruktif kronik (PPOK) dan diabetes mellitus (DM).Tujuan studi ini untuk mengidentifikasi faktor risiko dan masalah klinis yang terdapat pada pasien dengan menerapkan pendekatan dokter keluarga yang holistik dan komprehensif, serta melakukan penatalaksanaan berbasis Evidence Based Medicine (EBM). Studi ini merupakan laporan kasus. Data primer diperoleh melalui anamnesis, pemeriksaan fisik, dan kunjungan rumah. Data sekunder didapat dari rekam medis. Penilaian berdasarkan diagnosis holistik dari awal, proses, dan akhir studi secara kualitiatif dan kuantitatif. Pasien menderita osteoartritis, hipertensi, dan PPOK dengan derajat fungsional2. Faktor risiko internal pada pasien adalah laki-laki usia 62 tahun serta kurangnya pengetahuan pasien mengenai penyakit yang diderita. Faktor risiko eksternal pada pasien adalah paparan debu dan asap di lingkungan rumah, higienitas keluarga/rumah yang kurang baik, dan adanya anggota keluarga yang merokok. Dilakukan edukasi terhadap pasien dan keluarganya tentang penyakit beserta komplikasi, obat yang dikonsumsi pasien, serta pola makan dan hidup sehat terkait penyakitnya. Setelah dilakukan evaluasi, didapatkan peningkatan pengetahuan pasien tentang penyakitnya dan pasien bersedia mengikuti anjuran yang diberikan seperti menghindari faktor risiko, mengatur pola makan, dan berolahraga yang cukup. Keluhan yang dirasakan berkurang dan pasien mulai rutin kontrol.Kata kunci: hipertensi, lansia, osteoartritis, PPOK.