cover
Contact Name
PRISTIYANTORO
Contact Email
pristiyantoro@ikifa.ac.id
Phone
+6281310517906
Journal Mail Official
pristiyantoro@ikifa.ac.id
Editorial Address
Jl. Buaran 2 No.30 A, RT.10/RW.13, Klender, Kec. Duren Sawit, Kota Jakarta Timur, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 13470
Location
Kota adm. jakarta timur,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal Farmasi Ikifa
ISSN : 2808702X     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Health,
Jurnal Farmasi IKIFA adalah forum untuk publikasi karya berkualitas dan orisinal yang membuka diskusi dalam bidang farmasi atau sub-disiplin ilmu lainnya.
Articles 147 Documents
PENGARUH VARIASI LAMA WAKTU PEREBUSAN BUNGA TELANG (Clitoria ternatea L.) TERHADAP KANDUNGAN ALKALOID DENGAN METODE SPEKTROFOTOMETRI UV-Vis Muhamad Yoga Firmansyah; Alip Desi Suyono Saputri; Rizka Wahyu Syahputra; Pra Panca Bayu Chandra
Jurnal Farmasi IKIFA Vol. 5 No. 2 (2026): JURNAL FARMASI IKIFA VOL. 5 NO. 2 JULI TAHUN 2026
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan IKIFA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Butterfly pea flower (Clitoria ternatea L.) contains various secondary metabolites, including alkaloids. Boiling is commonly used by the community to prepare butterfly pea flower, but boiling duration may affect the level of active compounds extracted. This study aimed to determine the effect of boiling time variation on the alkaloid content of butterfly pea flower decoction and to identify the optimal boiling time. An experimental method was conducted using boiling times of 10, 20, and 30 minutes. Qualitative alkaloid identification was performed using Mayer, Wagner, and Dragendorff reagents, while total alkaloid content was determined by UV-Vis spectrophotometry using bromocresol green (BCG) as a complex-forming reagent. The results showed that all samples tested positive for alkaloids. The average alkaloid contents at boiling times of 10, 20, and 30 minutes were 0.1548, 0.2046, and 0.2917 mg CE/mL, respectively. Statistical analysis indicated a significant difference among treatments (p<0.05). The 30-minute boiling treatment produced the highest alkaloid content and was considered the optimum boiling time.
AKTIVITAS FOTOPROTEKTIF IN VITRO SEDIAAN KRIM EKSTRAK HERBA PUTRI MALU (Mimosa pudica L.) SEBAGAI TABIR SURYA In Rahmi Fatria Fajar; Dewi Rahma Fitri; Yulis Adriana; Handawati Silitonga; Pra Panca Bayu Chandra
Jurnal Farmasi IKIFA Vol. 5 No. 2 (2026): JURNAL FARMASI IKIFA VOL. 5 NO. 2 JULI TAHUN 2026
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan IKIFA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The sensitive plant (Mimosa pudica L.) has great potential as a raw material for cosmetics due to its bioactive compounds that can neutralize free radicals. One of its applications is as a sunscreen agent that protects the skin from the harmful effects of the sun’s ultraviolet (UV) radiation. This study aims to determine the Sun Protection Factor (SPF) value of a 70% ethanol extract of the sensitive plant, formulate it into a cream, and evaluate the physical characteristics and sunscreen activity of the formulation. The in vitro SPF value was calculated using UV-Vis spectrophotometry based on the Mansur formula. The cream formulations were prepared in four variations with different extract concentrations: F0 (0%), F1 (0.3%), F2 (0.6%), and F3 (0.9%). Physical evaluation of the formulations included organoleptic testing, homogeneity, spreadability, pH, and viscosity. The results of the physical evaluation showed that all four formulations exhibited good homogeneity. The spreadability test yielded results that met the requirements (5–7 cm), and the pH test results fell within the safe range for the skin (4.5–6.5). The viscosity of the creams decreased as the concentration of the added extract increased. The SPF test results for the cream formulations showed the following values: F0 at 1.8810 (no protection), F1 at 14.2306 (maximum protection category), F2 at 27.2598 (ultra protection category), and F3 at 33.1475 (ultra protection category). Conclusion: A 70% ethanol extract of the putri malu herb was successfully formulated into a sunscreen cream that meets physical quality requirements, and increasing the extract concentration significantly enhanced its photoprotective activity, reaching the ultra protection category.
HUBUNGAN PENGOBATAN POLIFARMASI DENGAN POTENSI KEJADIAN INTERAKSI OBAT PADA PASIEN GERIATRI HIPERTENSI RAWAT INAP DI RUMAH SAKIT TK. II MOH. RIDWAN MEURAKSA PERIODE JULI – DESEMBER 2024 Vidia Arlaini Anwar; Fachdiana Fidia; Anita Rachman Pertiwi
Jurnal Farmasi IKIFA Vol. 5 No. 2 (2026): JURNAL FARMASI IKIFA VOL. 5 NO. 2 JULI TAHUN 2026
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan IKIFA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Hipertensi merupakan penyakit yang mendapatkan julukan “the silent killer” karena dapat menyerang setiap individu tanpa adanya tanda dan gejala yang muncul pada tubuh.  Hipertensi ditandai dengan kondisi tekanan darah sistolik ≥ 140 mmHg dan tekanan darah diastolik ≥ 90 mmHg pada dua kali pengukuran. Pasien lanjut usia memiliki risiko hipertensi lebih tinggi karena perubahan faktor fisiologis tubuh dan gaya hidup. Hipertensi sering disertai dengan komorbiditas sehingga memerlukan terapi yang intensif dengan kombinasi dari beberapa kelas terapi obat untuk mengontrol tekanan darah dan menangani komorbidnya. Faktor ini secara signifikan meningkatkan risiko polifarmasi yang mengakibatkan interaksi obat jika penanganan tidak dilakukan dengan tepat. Tujuan dari penelitian ini yaitu untuk mengetahui hubungan pengobatan polifarmasi dengan potensi kejadian interaksi obat pada pasien geriatri hipertensi. Metode penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan jenis penelitian observasional bersifat deskriptif analitik. Pengambilan data dilakukan secara retrospektif menggunakan Rekam Medis Elektronik (RME) pada pasien geriatri hipertensi yang mendapatkan pengobatan polifarmasi di rawat inap. Pengambilan sampel menggunakan metode total sampling dengan sampel sejumlah 61 pasien. Analisis statistik dilakukan menggunakan software SPSS dengan uji Chi-Square untuk menguji hipotesis. Hasil penelitian yang diperoleh yaitu pasien yang mengalami interaksi obat sejumlah 57 pasien (93,4%) dan yang tidak mengalami interaksi obat sejumlah 4 pasien (6,6%). Hasil uji Chi-Square diperoleh nilai p 0,000 (p<0,05) menunjukkan bahwa terdapat hubungan pengobatan polifarmasi dengan potensi kejadian interaksi obat pada pasien geriatri hipertensi rawat inap di Rumah Sakit Tk. II Moh. Ridwan Meuraksa.
HUBUNGAN PENGOBATAN POLIFARMASI DENGAN POTENSI KEJADIAN INTERAKSI INTERAKSI OBAT PADA PASIEN DIABETES MELITUS TIPE 2 RAWAT INAP DI RUMAH SAKIT UMUM DAERAH KRAMAT JATI PERIODE OKTOBER – DESEMBER 2024 Aries Meryta; Tati Suprapti; Septia Wafa Khairiyah; Aripin
Jurnal Farmasi IKIFA Vol. 5 No. 2 (2026): JURNAL FARMASI IKIFA VOL. 5 NO. 2 JULI TAHUN 2026
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan IKIFA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

WHO menyatakan bahwa diabetes melitus termasuk penyakit yang paling banyak diderita oleh orang di seluruh dunia termasuk indonesia. Pasien diabetes melitus memiliki penyakit penyerta yang merupakan komplikasi dari peningkatan kadar gula darah, menyebabkan terjadinya polifarmasi dan memicu kejadian interaksi obat. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui hubungan pengobatan polifarmasi dengan kejadian interaksi obat pada pasien diabetes melitus rawat inap di Rumah Sakit Umum Daerah Kramat jati. Penelitian ini dilakukan dengan metode cross sectional secara retrospektif, menggunakan rekam medis pasien diabetes melitus tipe 2 di Rumah Sakit Umum Daerah Kramat jati pada tanggal 20 Januari – 20 Maret 2024. Jenis interaksi dan tingkat keparahannya menggunakan drugs.com dengan hasil yang dianalisis menggunakan statistik uji chi square. Penelitian ini diperoleh hasil bahwa jenis kelamin perempuan yang memiliki angka kejadian lebih tinggi dibandingkan dengan laki-laki (57,4% vs 42,6%) yang terdapat pada usia 46-55 tahun (42,6%).  Pada 94 pasien terjadi interaksi obat sebesar (98,8%) dengan tingkat keparahan moderat (82,5%) Hasil analisis uji chi square didapatkan nilai p=0,002 (p=<0,005). Sehingga dapat disimpulkan bahwa terdapat hubungan yang bermakna antara polifarmasi dengan potensi interaksi obat pada pasien diabetes melitus tipe 2 rawat inap di Rumah Sakit Umum Daerah Kramat Jati.
PENGARUH PEMBERIAN INFORMASI OBAT TERHADAP KEPUASAN PASIEN TUBERCULOSIS DI PUSKESMAS KECAMATAN JATINEGARA PERIODE MARET–APRIL 2025 Leonov Rianto; Gilang Al Qarana; Ummi Aulia Nuraziza; Marta Halim; Fachdiana Fidia
Jurnal Farmasi IKIFA Vol. 5 No. 2 (2026): JURNAL FARMASI IKIFA VOL. 5 NO. 2 JULI TAHUN 2026
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan IKIFA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tuberculosis (TB) merupakan penyakit menular yang masih menjadi masalah kesehatan masyarakat di Indonesia. Pada tahun 2023, Indonesia menempati peringkat kedua dunia dengan estimasi insiden TB sebesar 1.090.000 kasus atau 387 per 100.000 penduduk. Keberhasilan pengobatan TB tidak hanya bergantung pada terapi obat, tetapi juga pada pemahaman pasien terhadap obat yang dikonsumsinya. Pemberian informasi obat oleh tenaga kefarmasian menjadi salah satu faktor penting dalam meningkatkan kepuasan dan kepatuhan pasien terhadap pengobatan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian informasi obat terhadap kepuasan pasien TB di Puskesmas Kecamatan Jatinegara. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kuantitatif dengan pendekatan cross-sectional. Sebanyak 70 pasien TB yang menjalani pengobatan pada periode Maret–April 2025 dijadikan sampel menggunakan teknik purposive sampling. Data dikumpulkan melalui kuesioner mengenai pemberian informasi obat dan tingkat kepuasan pasien. Analisis data dilakukan secara univariat dan bivariat menggunakan uji Chi-Square. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar responden menerima informasi obat di atas rata-rata (80%) dan merasa sangat puas (47%) serta puas (39%) terhadap informasi yang diberikan. Hasil uji Chi-Square menunjukkan nilai signifikansi sebesar 0,000 (p < 0,05), yang menandakan adanya pengaruh yang signifikan antara pemberian informasi obat dengan kepuasan pasien TB. Kesimpulan dari penelitian ini adalah semakin lengkap dan jelas informasi obat yang diberikan oleh tenaga kefarmasian, maka semakin tinggi tingkat kepuasan pasien terhadap layanan yang diterima.
GAMBARAN POTENSI INTERAKSI OBAT PADA PASIEN RAWAT JALAN DIABETES MELITUS DI RUMAH SAKIT X BEKASI PERIODE OKTOBER – DESEMBER 2024 Honey Iskandar; Siti Aisyah; Titan Febriyanti; Leonov Rianto; Aripin
Jurnal Farmasi IKIFA Vol. 5 No. 2 (2026): JURNAL FARMASI IKIFA VOL. 5 NO. 2 JULI TAHUN 2026
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan IKIFA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Diabetes melitus (DM) saat ini menjadi salah satu ancaman kesehatan global. Data Riset Kesehatan Daerah 2018 menjelaskan prevalensi DM nasional sebesar 8,5% orang Indonesia terdiagnosis DM. Berdasarkan data hasil Survei Kesehatan Indonesia 2023, prevalensi diabetes di Indonesia meningkat menjadi 11,7%. Penggunaan obat yang tidak rasional telah diidentifikasi sebagai permasalahan utama dalam perawatan kesehatan. Sekitar 50% dari semua obat digunakan secara tidak rasional. Faktor yang menyebabkan terjadi ketidakrasionalan dalam penggunaan obat meliputi ketidaktepatan dalam peresepan, proses penyiapan, dan distribusi obatnya, serta faktor dari kegagalan pasien dalam meminum obat. Interaksi obat secara umum dapat terjadi karena penyalahgunaan yang disengaja atau karena kurangnya pengetahuan tentang bahan-bahan aktif yang terdapat dalam obat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui adanya potensi interaksi obat pada pasien rawat jalan diabetes melitus di Rumah Sakit X Bekasi. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kuantitatif dengan pendekatan retrospektif. Data sekunder diambil dari rekam medis dan lembar resep pasien selama bulan Oktober-Desember 2024 yang berjumlah 167 sampel. Metode pengambilan data menggunakan Total Sampling. Hasil penelitian menunjukkan potensi kejadian interaksi obat yang terjadi sebanyak 145 lembar resep (86,83%) berpotensi mengalami interaksi obat dan 22 lembar resep  (13,17%) tidak berpotensi mengalami interaksi obat. Berdasarkan tingkat keparahan interaksi obat, didapatkan hasil tingkat keparahan Major sebanyak 4,26%, tingkat keparahan Moderate sebanyak 77,50% dan tingkat keparahan Minor sebanyak 18,24%. Kesimpulan pada penelitian ini adalah potensi kejadian interaksi obat yang terjadi sebanyak 145 lembar resep (86,83%) berpotensi mengalami interaksi obat dengan tingkat keparahan yang terbanyak adalah Moderate sebesar 527 (77.50 %) kejadian.
ANALISIS EFEKTIVITAS BIAYA PENGGUNAAN ANTIDIABETIK ORAL PADA PASIEN DIABETES MELITUS TIPE 2 RAWAT JALAN DI RUMAH SAKIT SUKMUL SISMA MEDIKA BULAN JANUARI 2025 Marta Halim; Gilang Al Qarana; Aldi Rahadiansyah; Herty Nur Tanty; Rahmat Widiyanto
Jurnal Farmasi IKIFA Vol. 5 No. 2 (2026): JURNAL FARMASI IKIFA VOL. 5 NO. 2 JULI TAHUN 2026
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan IKIFA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Diabetes melitus tipe 2 (DMT2) merupakan penyakit metabolik kronis dengan prevalensi yang terus meningkat di Indonesia maupun global. Pengendalian kadar glukosa darah pada pasien DMT2 sering memerlukan terapi farmakologis jangka panjang, salah satunya dengan antidiabetik oral (ADO). Pemilihan terapi yang efektif dan efisien secara biaya sangat penting untuk menunjang perencanaan pengobatan yang optimal. Penelitian ini bertujuan menganalisis efektivitas biaya penggunaan ADO tunggal dan kombinasi pada pasien DMT2 rawat jalan di Rumah Sakit Sukmul Sisma Medika bulan Januari 2025. Penelitian menggunakan metode kuantitatif dengan desain deskriptif observasional dan pendekatan cross- sectional retrospektif. Data diperoleh dari rekam medis dan catatan administrasi pasien. Parameter yang dianalisis meliputi karakteristik demografis, jenis terapi, efektivitas terapi berdasarkan persentase pasien yang mencapai target gula darah puasa (GDP) 70–110 mg/dL, serta biaya medis langsung. Analisis efektivitas biaya dilakukan dengan perhitungan Average Cost Effectiveness Ratio (ACER) dan Incremental Cost Effectiveness Ratio (ICER). Hasil penelitian menunjukkan mayoritas pasien berjenis kelamin perempuan dan berada pada rentang usia 55–64 tahun. Terapi yang paling banyak digunakan adalah kombinasi metformin + glimepiride. Efektivitas tertinggi pada monoterapi diperoleh oleh metformin, sedangkan pada kombinasi dua obat tertinggi adalah pioglitazone + glimepiride, dan pada kombinasi tiga obat tertinggi adalah glimepiride + sitagliptin + metformin. Biaya medis langsung tertinggi tercatat pada kombinasi glimepiride + sitagliptin + metformin dan terendah pada kombinasi metformin + glibenclamide. Kesimpulannya, terapi paling cost-effective berdasarkan nilai ACER adalah metformin untuk monoterapi dan pioglitazone + glimepiride untuk kombinasi. Temuan ini dapat menjadi referensi bagi tenaga kesehatan dalam memilih terapi yang efisien dan efektif bagi pasien DMT2.