cover
Contact Name
Hasan Syahrizal
Contact Email
hasansyahrizal311@gmail.com
Phone
+6282352818690
Journal Mail Official
hasansyahrizal311@gmail.com
Editorial Address
Jalan Sederhana Lorong Lambang Sari No.959, RT 001 RW. 006, Kelurahan Tembilahan Hulu Kecamatan Tembilahan Hulu, Kabupaten Indragiri Hilir Provinsi Riau, Indonesia
Location
Kab. indragiri hilir,
Riau
INDONESIA
QAYID: Jurnal Pendidikan Islam
ISSN : -     EISSN : 31106412     DOI : https://doi.org/10.61104/qd.v1i2
Core Subject : Religion, Education,
QAYID: Jurnal Pendidikan Islam dengan e-ISSN 3110-6412 LINK Prefix DOI 10.61104. adalah jurnal akses terbuka yang ditinjau oleh rekan sejawat dan mengikuti kebijakan single blind review. Artikel ilmiah Jurnal QAYID merupakan hasil penelitian orisinil, gagasan konseptual, dan kajian mutakhir dalam lingkup Manajemen Pendidikan Islam (MPI), Pendidikan Agama Islam (PAI), Teknologi Pendidikan Islam (TPI), Pendidikan Islam Anak Usia Dini (PIAUD), Kependidikan Islam (KPI), Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah (PGMI), dan Ilmu-ilmu Keislaman. Artikel ilmiah Jurnal QAYID dapat ditulis secara individu atau ditulis secara tim, baik yang berafiliasi dengan institusi di lingkungan yang sama, maupun kolaborasi dari beberapa institusi. Para penulis dari universitas atau peneliti dapat mengutip referensi dari jurnal ini dan memberikan manfaat bagi organisasi terkait. setiap artikel yang diterima akan direview oleh editor dan reviewer jurnal yang kompeten di bidangnya. Artikel yang terpilih akan dipublikasikan di bawah lisensi Creative Commons Atribusi ShareAlike 4.0 International License.
Articles 77 Documents
Rekonstruksi Teologi Islam Menuju Paradigma Humanistik-Transformatif: Kritik atas Dikotomi Wahyu dan Eksistensialitas dalam Krisis Epistemologis Kontemporer Arika zulfa; Zahwa Aulia Putri Taufiq; Nurul Agista Khoirunnisa; Ali Hasan Siswanto
QAYID : Jurnal Pendidikan Islam Vol. 2 No. 1 (2026): 2026
Publisher : PT. Hassan Group Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61104/qd.v2i1.791

Abstract

Krisis epistemologis dalam teologi Islam kontemporer semakin mengemuka seiring ketidakmampuannya merespons kompleksitas eksistensial manusia modern secara integratif. Teologi normatif cenderung menekankan otoritas wahyu secara tekstual, sementara dimensi pengalaman subjektif dan kesadaran eksistensial manusia kurang mendapatkan ruang epistemik yang memadai. Di sisi lain, psikologi humanistik-eksistensial yang dipelopori oleh Carl Rogers menawarkan pendekatan berbasis pengalaman dan aktualisasi diri, namun minim pijakan transendental. Kesenjangan penelitian (research gap) terletak pada absennya kerangka integratif yang mampu mendialogkan teologi Islam, khususnya paradigma teologi kritis dan transformatif, dengan psikologi humanistik secara konseptual dan operasional. Artikel ini menggunakan pendekatan teoritis interdisipliner dengan memadukan analisis teologis, filosofis, dan psikologis. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif-konseptual berbasis studi kepustakaan dengan pendekatan hermeneutik-kritis dan sintesis konseptual. Argumen utama yang diajukan adalah bahwa dikotomi antara wahyu dan eksistensialitas merupakan akar krisis epistemologis yang menghambat fungsi transformatif teologi Islam. Oleh karena itu, diperlukan rekonstruksi paradigma menuju model Teologi Humanistik-Transformatif Integratif yang menggabungkan wahyu, rasio, dan pengalaman eksistensial dalam kerangka teo-antroposentris. Kontribusi ilmiah artikel ini terletak pada formulasi paradigma teologi baru yang tidak hanya normatif, tetapi juga emansipatoris, terapeutik, dan relevan dengan dinamika psikologis manusia modern. Paradigma ini diharapkan memperkaya pengembangan studi teologi Islam kontemporer sekaligus membuka ruang integrasi yang lebih produktif dengan disiplin psikologi.   Abstrak Krisis epistemologis dalam teologi Islam kontemporer semakin mengemuka seiring ketidakmampuannya merespons kompleksitas eksistensial manusia modern secara integratif. Teologi normatif cenderung menekankan otoritas wahyu secara tekstual, sementara dimensi pengalaman subjektif dan kesadaran eksistensial manusia kurang mendapatkan ruang epistemik yang memadai. Di sisi lain, psikologi humanistik-eksistensial yang dipelopori oleh Carl Rogers menawarkan pendekatan berbasis pengalaman dan aktualisasi diri, namun minim pijakan transendental. Kesenjangan penelitian (research gap) terletak pada absennya kerangka integratif yang mampu mendialogkan teologi Islam, khususnya paradigma teologi kritis dan transformatif, dengan psikologi humanistik secara konseptual dan operasional. Artikel ini menggunakan pendekatan teoritis interdisipliner dengan memadukan analisis teologis, filosofis, dan psikologis. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif-konseptual berbasis studi kepustakaan dengan pendekatan hermeneutik-kritis dan sintesis konseptual. Argumen utama yang diajukan adalah bahwa dikotomi antara wahyu dan eksistensialitas merupakan akar krisis epistemologis yang menghambat fungsi transformatif teologi Islam. Oleh karena itu, diperlukan rekonstruksi paradigma menuju model Teologi Humanistik-Transformatif Integratif yang menggabungkan wahyu, rasio, dan pengalaman eksistensial dalam kerangka teo-antroposentris. Kontribusi ilmiah artikel ini terletak pada formulasi paradigma teologi baru yang tidak hanya normatif, tetapi juga emansipatoris, terapeutik, dan relevan dengan dinamika psikologis manusia modern. Paradigma ini diharapkan memperkaya pengembangan studi teologi Islam kontemporer sekaligus membuka ruang integrasi yang lebih produktif dengan disiplin psikologi. Kata kunci: teologi Islam, teologi transformatif, teologi kritis, psikologi humanistik, eksistensialitas, epistemologi integratif, teo-antroposentris
Peran Guru PAI dalam Menangkal Dekadensi Moral Siswa di Tengah Arus Media Sosial Mohammad Kholilul Rohman; Jasminto
QAYID : Jurnal Pendidikan Islam Vol. 2 No. 1 (2026): 2026
Publisher : PT. Hassan Group Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61104/qd.v2i1.792

Abstract

Perkembangan media sosial yang cepat memberikan dampak signifikan terhadap perilaku dan etika siswa. Media sosial mempermudah akses informasi dan komunikasi, tetapi di sisi lain juga menyebabkan dampak buruk seperti berkurangnya disiplin, perubahan dalam etika berkomunikasi, dan rendahnya tanggung jawab siswa dalam belajar. Studi ini bertujuan untuk mengkaji peran guru Pendidikan Agama Islam (PAI) dalam mengatasi penurunan moral siswa kelas IX SMPN 1 Bareng di zaman media sosial. Studi ini menerapkan pendekatan deskriptif kualitatif dengan tipe penelitian lapangan. Pengumpulan data dilakukan melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi dengan narasumber guru PAI serta siswa. Analisis data dilaksanakan dengan menerapkan teknik triangulasi sumber. Temuan penelitian mengindikasikan bahwa bentuk penurunan moral siswa mencakup berkurangnya disiplin belajar, etika komunikasi yang tidak sopan, serta kecenderungan meniru perilaku buruk dari media sosial. Peran guru PAI dalam menanggulangi penurunan moral dilaksanakan melalui perannya sebagai pendidik, pembimbing, motivator, dan contoh. Guru PAI juga mengarahkan penggunaan media sosial dengan bijak serta memperkuat nilai-nilai keagamaan siswa melalui pembiasaan dan pengembangan moral di lingkungan sekolah. Studi ini memberikan sumbangan untuk memperkuat pendidikan karakter dan moral digital di lembaga pendidikan.
Kajian Efektivitas Penggunaan Artificial Intelligence sebagai Media Pembelajaran Pendidikan Agama Islam Ade Ripai; Muftania Yusuf; Sidrotul Muntaharoh; Muhamad junaedi
QAYID : Jurnal Pendidikan Islam Vol. 2 No. 1 (2026): 2026
Publisher : PT. Hassan Group Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61104/qd.v2i1.793

Abstract

Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji efektivitas pemanfaatan media Artificial Intelligence (AI) dalam pembelajaran Pendidikan Agama Islam di MAN 1 Garut. Pemanfaatan AI dalam pembelajaran PAI dipandang mampu mendukung proses pembelajaran yang lebih sistematis, terukur, serta sesuai dengan kebutuhan peserta didik. Selain itu, penggunaan AI juga dapat mendorong terciptanya personalisasi pembelajaran dan inovasi dalam penyampaian materi keagamaan.Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode fenomenologi yang berfokus pada pengalaman subjektif guru mata pelajaran rumpun PAI dan peserta didik dalam menggunakan AI selama proses pembelajaran. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian guru dan siswa telah memanfaatkan AI untuk menunjang kegiatan pembelajaran. Namun demikian, penerapannya masih belum optimal. Hal ini disebabkan oleh beberapa faktor, seperti keterbatasan pemahaman guru dan siswa terhadap teknologi AI, infrastruktur yang belum merata, serta minimnya kebijakan dan regulasi yang mengatur penggunaan AI di lingkungan pendidikan.Selain itu, terdapat tantangan lain dalam penerapannya, yaitu potensi ketergantungan peserta didik terhadap teknologi serta kurangnya pengawasan dalam penggunaan AI yang dapat memengaruhi kemandirian belajar siswa. Oleh karena itu, diperlukan perencanaan yang matang, pendampingan yang intensif dari guru, serta dukungan kebijakan dari pihak sekolah maupun pemerintah agar pemanfaatan AI dapat dilakukan secara bijak dan efektif dalam pembelajaran PAI. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi dalam pengembangan inovasi pembelajaran PAI berbasis teknologi pada era digital.
Analisis Konsep Ilmu Pengetahuan dalam Perspektif Filsafat Islam Julia Batubara; Yusmiarni; Tiapisah Samosir; Pahri Siregar
QAYID : Jurnal Pendidikan Islam Vol. 2 No. 1 (2026): 2026
Publisher : PT. Hassan Group Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61104/qd.v2i1.799

Abstract

Ilmu pengetahuan memiliki kedudukan yang sangat penting dalam Islam. Islam tidak hanya mendorong umatnya untuk mencari ilmu, tetapi juga mengajarkan bahwa ilmu harus memberikan manfaat bagi kehidupan manusia. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji konsep ilmu pengetahuan dalam perspektif Islam yang meliputi sumber ilmu pengetahuan menurut Islam, pentingnya ilmu pengetahuan, serta konsep ilmu yang bermanfaat. Metode penelitian yang digunakan adalah studi pustaka (library research), yaitu penelitian yang dilakukan dengan mengumpulkan data dari berbagai sumber tertulis seperti buku, jurnal, artikel ilmiah, dan referensi lain yang relevan dengan pembahasan ilmu pengetahuan dalam perspektif Islam. Hasil kajian menunjukkan bahwa sumber ilmu pengetahuan dalam Islam berasal dari wahyu, akal, dan pengalaman empiris yang tetap berada dalam tuntunan syariat. Islam memandang ilmu sebagai sarana untuk meningkatkan derajat manusia serta mendekatkan diri kepada Allah SWT. Selain itu, ilmu yang bermanfaat merupakan ilmu yang dapat memberikan kebaikan bagi diri sendiri maupun masyarakat luas.
Analisis Penyebab Rendahnya Motivasi Belajar Matematika pada Siswa Sekolah Dasar Ilham Syaban Halomoan Lubis; Siti Masyithoh
QAYID : Jurnal Pendidikan Islam Vol. 2 No. 1 (2026): 2026
Publisher : PT. Hassan Group Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61104/qd.v2i1.800

Abstract

Rendahnya motivasi belajar matematika pada siswa sekolah dasar masih menjadi tantangan penting dalam proses pendidikan. Matematika sering dianggap sebagai mata pelajaran yang sulit dan kurang menarik sehingga menyebabkan siswa memiliki semangat belajar yang rendah dalam mengikuti kegiatan pembelajaran di kelas. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor-faktor penyebab rendahnya motivasi belajar matematika pada siswa sekolah dasar melalui pendekatan literature review. Penelitian ini menggunakan metode literature review dengan mengkaji berbagai artikel ilmiah nasional dan internasional yang diterbitkan dalam sepuluh tahun terakhir. Literatur yang dipilih berasal dari jurnal terakreditasi dan sumber ilmiah yang relevan dengan motivasi belajar serta pembelajaran matematika di sekolah dasar. Analisis data dilakukan melalui proses identifikasi, klasifikasi, interpretasi, dan sintesis hasil penelitian terdahulu. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rendahnya motivasi belajar matematika dipengaruhi oleh faktor internal dan eksternal. Faktor internal meliputi anggapan siswa bahwa matematika merupakan pelajaran yang sulit, rendahnya rasa percaya diri, kurangnya minat belajar, serta munculnya kecemasan terhadap matematika. Faktor eksternal meliputi metode pembelajaran yang monoton, kurangnya penggunaan media pembelajaran, lingkungan keluarga yang kurang mendukung, serta suasana kelas yang kurang kondusif. Selain itu, kompetensi guru dalam menciptakan pembelajaran yang interaktif dan menyenangkan juga sangat mempengaruhi motivasi belajar siswa. Kesimpulan penelitian ini menunjukkan bahwa peningkatan motivasi belajar matematika siswa memerlukan kerja sama antara guru, orang tua, dan sekolah melalui penerapan pembelajaran inovatif serta lingkungan pendidikan yang mendukung.
Penerapan Permainan Tradisional Sebagai Inovasi Pembelajaran Anak Usia Dini Titin Mardiansih; Nurfaizah
QAYID : Jurnal Pendidikan Islam Vol. 2 No. 1 (2026): 2026
Publisher : PT. Hassan Group Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61104/qd.v2i1.818

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji penerapan permainan tradisional sebagai bentuk inovasi dalam pembelajaran serta pengaruhnya terhadap perkembangan anak usia dini di TK Tunas Bangsa. Metode yang digunakan adalah pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian deskriptif. Subjek penelitian terdiri dari 2 guru, 30 peserta didik, dan 1 kepala sekolah yang ditentukan melalui teknik purposive sampling. Pengumpulan data dilakukan melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi, sedangkan analisis data mengacu pada model Miles dan Huberman yang meliputi tahapan reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa integrasi permainan tradisional dalam kegiatan pembelajaran mampu meningkatkan kualitas proses belajar anak. Anak menjadi lebih aktif, bersemangat, serta menunjukkan motivasi belajar yang lebih tinggi. Permainan tradisional juga efektif dalam mengembangkan berbagai aspek perkembangan anak, termasuk kognitif, sosial-emosional, bahasa, dan motorik. Selain itu, permainan tradisional berperan dalam pembentukan karakter anak, seperti kejujuran, disiplin, tanggung jawab, dan kerja sama. Penggunaan permainan tradisional juga terbukti dapat mengurangi ketergantungan anak terhadap gawai serta meningkatkan interaksi sosial dan aktivitas fisik mereka. Meskipun terdapat beberapa hambatan dalam pelaksanaannya, seperti keterbatasan waktu, sarana, dan pemahaman guru, kendala tersebut dapat diatasi melalui kreativitas dalam menyesuaikan dan memodifikasi permainan sesuai dengan kondisi lingkungan. Dengan demikian, permainan tradisional dapat dijadikan sebagai strategi pembelajaran yang efektif, relevan, dan bermakna dalam pendidikan anak usia dini, sekaligus berkontribusi dalam pelestarian budaya lokal.
Penerapan Metode Socratic Questioning dalam Pembelajaran SKI untuk Membentuk Nalar Kritis Siswa di MAN 2 Banyumas: Analisis Interaksi Kelas dan Otoritas Pengetahuan Zahrotul Hidayah; Muh. Hanif
QAYID : Jurnal Pendidikan Islam Vol. 2 No. 1 (2026): 2026
Publisher : PT. Hassan Group Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61104/qd.v2i1.823

Abstract

Penelitian ini mengeksplorasi penerapan metode socratic questioning dalam pembelajaran SKI di MAN 2 Banyumas, serta dampak terhadap pembentukan nalar kritis siswa, dengan fokus pada analisis interaksi kelas dan transformasi otoritas pengetahuan. Studi kualitatif lapangan dilakukan di MAN 2 Banyumas dengan melibatkan guru SKI, siswa kelas X, wakil kepala sekolah bidang kurikuum, dan anggota rohis(rohani islam) sebagai informan. Pengumpulan data menggunakan observasi partisipatif terhadap proses pembelajaran SKI, wawancara semi terstruktur dengan guru dan siswa, serta analisis dokumen modul ajar, dan hasil diskusi siswa. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan metode Socratic Questioning—melalui enam kategori pertanyaan (kalrifikasi, asumsi, bukti, prespektif, implikasi, dan meta-refleksi)—mendorong siswa mengembangkan kemampuan analitis, evaluatif, dan argumentatif faham merespon isu-isu sosial dan keagamaan. Temuan kunci penelitian ini adalah bahwa efektivitas Socratic Questioning tidak hanya terletak pada pertanyaannya, melainkan pada kemampuan untuk mentransformasikan otoritas pengetahuan guru—dari otoritas hierarkis berdasarkan posisi menjadi otoritas dialogis berdasarkan kualitas argumentasi. Transformasi otoritas ini menciptakan ruang kelas yang lebih demokratis, yaitu ditandai dengan inisiatif siswa untuk mengajukan pertanyaan, keberanian mengkritisi argumen teman serta luasnya referensi yang dapat diambil oleh siswa dalam mencari sumber belajar lain.
Strategi Optimalisasi Alokasi Waktu Pembelajaran PAI Melalui Pendekatan Blended Learning Non-Digital di SMA Negeri 3 Bagan Sinembah: Nur Aini; Nurul Azwa; Nur Azizah
QAYID : Jurnal Pendidikan Islam Vol. 2 No. 1 (2026): 2026
Publisher : PT. Hassan Group Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61104/qd.v2i1.824

Abstract

Pembelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI) menuntut pengelolaan waktu yang efektif agar tujuan pembelajaran tidak hanya tercapai secara kognitif, tetapi juga mampu menginternalisasikan nilai-nilai karakter kepada peserta didik. Namun, keterbatasan waktu sering menjadi kendala dalam proses pembelajaran, sehingga diperlukan strategi yang mampu mengoptimalkan alokasi waktu, salah satunya melalui pendekatan blended learning non-digital. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis deskriptif yang dilaksanakan di SMA Negeri 3 Bagan Sinembah, dengan subjek penelitian guru PAI sebagai informan utama serta wakil kepala sekolah bidang kurikulum, kepala sekolah, dan siswa sebagai informan pendukung. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi, sedangkan analisis data menggunakan model interaktif dengan triangulasi sebagai uji keabsahan data. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kondisi alokasi waktu pembelajaran PAI masih belum optimal, kendala yang dihadapi meliputi keterbatasan waktu, banyaknya materi, kurangnya variasi metode, serta rendahnya keterlibatan siswa, strategi optimalisasi dilakukan melalui pembagian kegiatan belajar di dalam dan di luar kelas, serta persepsi guru dan siswa terhadap pendekatan ini cenderung positif karena mampu meningkatkan efisiensi waktu. Secara keseluruhan, pendekatan blended learning non-digital terbukti dapat menjadi solusi dalam mengoptimalkan alokasi waktu pembelajaran PAI sehingga proses pembelajaran menjadi lebih fleksibel, efektif, dan bermakna.
Integrasi Akhlak, Karakter, dan Literasi Digital dalam Perspektif Al-Qur’an Ahmd Sirojul Mabrur; Bisyarotul Masfufah Fufah; Nur Kholis; Zainal Mustofa
QAYID : Jurnal Pendidikan Islam Vol. 2 No. 1 (2026): 2026
Publisher : PT. Hassan Group Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61104/qd.v2i1.825

Abstract

ABSTRAK Perkembangan teknologi digital membawa perubahan besar terhadap pola kehidupan masyarakat, khususnya dalam dunia pendidikan. Di satu sisi, teknologi memberikan kemudahan akses informasi dan komunikasi, namun di sisi lain juga menimbulkan tantangan moral seperti penyebaran hoaks, cyberbullying, ujaran kebencian, dan degradasi akhlak. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji integrasi akhlak, pendidikan karakter, dan literasi digital dalam perspektif Al-Qur’an serta pemikiran Imam Al-Ghazali. Penelitian menggunakan metode studi pustaka (library research) dengan pendekatan kualitatif-deskriptif melalui pengkajian Al-Qur’an, kitab-kitab Imam Al-Ghazali, buku pendidikan Islam, dan jurnal-jurnal ilmiah terbaru. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Al-Qur’an menekankan pentingnya akhlak mulia, tabayyun, tanggung jawab, dan pengendalian diri dalam penggunaan teknologi digital. Imam Al-Ghazali menegaskan bahwa akhlak merupakan sifat yang tertanam dalam jiwa sehingga melahirkan perilaku secara spontan. Integrasi pendidikan karakter dan literasi digital dapat dilakukan melalui pembelajaran berbasis nilai Islam, pembiasaan etika digital, serta penguatan spiritualitas peserta didik. Dengan demikian, literasi digital tidak hanya berorientasi pada kecakapan teknologi, tetapi juga harus dibangun di atas fondasi akhlak dan karakter Islami.
Peran Pendidikan Multikultural Dalam Mengatasi Konflik Berbasis Sara di Indonesia Resti Yulastri; Ananda Solikhatunnisa; Cindy Zamer Liya Putri; Nurwan Azlin
QAYID : Jurnal Pendidikan Islam Vol. 2 No. 1 (2026): 2026
Publisher : PT. Hassan Group Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61104/qd.v2i1.834

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji konsep pendidikan multikultural, dinamika dan penyebab konflik berbasis SARA di Indonesia, serta peran pendidikan multikultural dalam mengatasi konflik tersebut. Indonesia sebagai negara multikultural memiliki tingkat keberagaman yang tinggi, yang di satu sisi menjadi kekayaan bangsa, namun di sisi lain berpotensi menimbulkan konflik sosial apabila tidak dikelola dengan baik. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah studi kepustakaan (library research) dengan menganalisis berbagai sumber ilmiah yang relevan. Hasil kajian menunjukkan bahwa konflik berbasis SARA dipengaruhi oleh berbagai faktor, seperti perbedaan budaya, ketimpangan sosial ekonomi, politisasi identitas, serta penyebaran hoaks di era digital. Pendidikan multikultural berperan penting dalam menanamkan nilai toleransi, mengurangi prasangka dan diskriminasi, serta membangun keterampilan penyelesaian konflik secara damai. Dengan demikian, pendidikan multikultural menjadi salah satu solusi strategis dalam menciptakan masyarakat yang harmonis, inklusif, dan berkeadilan di tengah keberagaman.