cover
Contact Name
Fahrullah
Contact Email
bnjakys@gmail.com
Phone
+6285250916350
Journal Mail Official
bnjakys@gmail.com
Editorial Address
https://bnj.akys.ac.id/BNJ/about/editorialTeam
Location
Kota samarinda,
Kalimantan timur
INDONESIA
Borneo Nursing Journal
ISSN : 26855054     EISSN : 26548453     DOI : https://doi.org/10.61878/bnj.
Core Subject : Health, Science,
Borneo Nursing Journal (BNJ) adalah jurnal yang diterbitkan dua kali dalam satu tahun oleh Akademi Keperawatan Yarsi Samarinda bekerjasama dengan Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Yarsi Pontianak. Adapun ruang lingkup/topik dalam BNJ adalah bidang Keperawatan. Dalam setiap edisinya, BNJ menerbitkan minimal 5 naskah hasil penelitian dan satu artikel editorial notes. Penulis yang dapat mengirimkan artikel ke BNJ tidak dibatasi hanya pada tenaga pengajar Akademi Keperawatan Yarsi Samarinda saja, tetapi penulis yang berasal dari perguruan tinggi lain pun dapat mengirimkan manuskrip. Setiap manuskrip yang masuk akan di-review oleh reviewer yang memiliki berbagai macam latar belakang keilmuan yang relevan dengan topik manuskrip.
Articles 1,420 Documents
Faktor Faktor yang Berhubungan dengan Kesepian pada Lansia yang Tinggal Bersama Keluarga Regina Dirgahayu Putri; Reni Zulfitri; Riri Novayelinda
Borneo Nursing Journal (BNJ) Vol. 8 No. 2b (2026)
Publisher : Akademi Keperawatan Yarsi Samarinda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61878/bnj.v8i2b.1452

Abstract

Latar Belakang: Lansia yang tinggal bersama keluarga masih dapat mengalami kesepian meskipun memiliki interaksi sosial, dukungan keluarga, dan spiritualitas yang baik. Kondisi ini dapat memengaruhi kualitas hidup serta kesejahteraan fisik dan mental. Tujuan: Mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan kesepian pada lansia yang tinggal bersama keluarga di wilayah kerja Puskesmas Payung Sekaki. Metode: Penelitian ini menggunakan desain kuantitatif dengan pendekatan deskriptif korelasional dan metode cross-sectional. Sampel berjumlah 100 responden lansia yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Instrumen penelitian berupa kuesioner interaksi sosial, spiritualitas, dukungan keluarga, dan kesepian. Analisis data dilakukan menggunakan uji chi-square. Hasil: Sebagian besar responden berada pada kategori lanjut usia (elderly) 60-74 tahun (77,0%), berjenis kelamin perempuan (68,0%), serta tidak bekerja (74,0%). Hasil analisis menunjukkan sebagian besar lansia memiliki interaksi sosial baik, kehidupan spiritual baik, dan dukungan keluarga baik, namun masih terdapat lansia yang mengalami kesepian. Uji chi-square menunjukkan terdapat hubungan yang signifikan antara interaksi sosial, spiritualitas, dan dukungan keluarga dengan tingkat kesepian pada lansia (p 0,000 < 0,05). Kesimpulan: Lansia dengan interaksi sosial baik, spiritualitas tinggi, serta dukungan keluarga yang kuat cenderung memiliki tingkat kesepian yang lebih rendah. Sebaliknya, lansia dengan dukungan keluarga dan spiritualitas yang kurang berisiko mengalami kesepian lebih tinggi meskipun tinggal bersama keluarga. Hasil ini menegaskan pentingnya peran keluarga dan lingkungan dalam mencegah kesepian pada lansia sebagai upaya meningkatkan kualitas hidup mereka.
Hubungan Motivasi Pemeliharaan Kesehatan Gigi Dengan Status Kebersihan Gigi Dan Mulut Pada Lansia Penderita Diabetes Di Puskesmas Kedungdoro Koroida Handertika; Silvia Prasetyowati; Rohistul Laily; Bambang Hadi Sugito
Borneo Nursing Journal (BNJ) Vol. 8 No. 2b (2026)
Publisher : Akademi Keperawatan Yarsi Samarinda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61878/bnj.v8i2b.1454

Abstract

Diabetes melitus merupakan penyakit kronis yang dapat meningkatkan risiko gangguan kesehatan gigi danmulut, khususnya pada lansia. Pemeliharaan kesehatan gigi dan mulut pada kelompok ini tidak hanyadipengaruhi kondisi fisik, tetapi juga motivasi dalam melakukan perilaku pemeliharaan kesehatan. Penelitian inibertujuan menganalisis hubungan motivasi pemeliharaan kesehatan gigi dengan status kebersihan gigi dan mulutpada lansia penderita diabetes melitus di Puskesmas Kedungdoro. Penelitian menggunakan desain analitikkorelasional dengan pendekatan cross-sectional. Populasi sekaligus sampel penelitian berjumlah 32 lansiapenderita diabetes melitus yang dipilih menggunakan teknik total sampling. Motivasi diukur menggunakankuesioner berbasis Health Belief Model (HBM), sedangkan status kebersihan gigi dan mulut dinilaimenggunakan Oral Hygiene Index-Simplified (OHI-S). Analisis hubungan dilakukan menggunakan uji Spearmanrank. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar responden memiliki motivasi pemeliharaan kesehatangigi dalam kategori rendah (68,8%) dan status kebersihan gigi dan mulut dalam kategori buruk (75,0%). Hasil ujiSpearman rank menunjukkan terdapat hubungan yang signifikan antara motivasi pemeliharaan kesehatan gigidengan status kebersihan gigi dan mulut (p=0,000), dengan koefisien korelasi -0,673 yang menunjukkanhubungan kuat dengan arah negatif. Temuan ini menunjukkan pentingnya penguatan motivasi melalui edukasidan upaya promotif-preventif untuk mendukung pemeliharaan kesehatan gigi dan mulut pada lansia penderitadiabetes melitus.
Hubungan Tingkat Pengetahuan Ibu dengan Kejadian Stunting pada Balita di Kelurahan Sriharjo Wilayah Kerja Puskesmas Imogiri II Disna Rima Amanda Putri; Sholaikhah Sulistyoningtyas
Borneo Nursing Journal (BNJ) Vol. 8 No. 2b (2026)
Publisher : Akademi Keperawatan Yarsi Samarinda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61878/bnj.v8i2b.1455

Abstract

Background: Stunting is a major health issue in developing countries like Indonesia, and its the prevalence reaches 21.5% This implies that Indonesia still has to struggle hard to achieve the ideal target of 14%. Stunting is not only influenced by nutritional intake but also influenced by the level of maternal nutritional knowledge. Objective: To analyze the relationship between maternal knowledge levels and the incidence of stunting in toddlers by considering confounding variables (maternal age occupation, education level, childcare patterns, access to health services, food availability, hygiene and sanitation). Method: This study employed a quantitative descriptive with a cross-sectional design conducted in January 2026. The study population was 436 mothers of toddlers and a sample of 81 respondents with a purposive sampling technique in accordance with the inclusion and exclusion criteria.The research instrument usedquestionnaire.Results: Based on the Spearman-rank test,maternal knowledge was in the category of poor (30.8%), sufficient (66.7%) and good (2.5%), while the incidence of stunting was in the category of very short (2.5%), short (12.3%) and normal (85.2%). The test results obtained a coefficient of a =0.05 obtained a p value = 0.791 which means the p > a = 0.05.Conclusion: There is no relationship between the level of maternal knowledge and the incidence of stunting in Sriharjo Village in the working area of Puskesmas (Community Health Center) Imogiri II, Bantul, Yogyakarta because most mothers of todalers have less knowledge found that the height of toddlers is normal or not stunted.
Hubungan Tingkat Nyeri Pasca Orif Dengan Tekanan Darah Sistolik Pada Anestesi Umum Achmad Fathir Thoriq; Merisdawati RR; Sindu Sintara; Annes Rindy Permana
Borneo Nursing Journal (BNJ) Vol. 8 No. 2b (2026)
Publisher : Akademi Keperawatan Yarsi Samarinda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61878/bnj.v8i2b.1456

Abstract

Open Reduction and Internal Fixation (ORIF) merupakan prosedur bedah ortopedi yang bertujuan mengembalikan posisi anatomis tulang dan memberikan stabilitas selama proses penyembuhan fraktur. Nyeri pascaoperasi yang tidak terkontrol dapat mengaktifkan sistem saraf simpatis sehingga memengaruhi respons hemodinamik, termasuk peningkatan tekanan darah. Oleh karena itu, diperlukan pengkajian hubungan antara tingkat nyeri pascaoperasi dan tekanan darah pada pasien pasca ORIF. Penelitian ini menggunakan desain observasional analitik dengan pendekatan cross-sectional. Penelitian dilakukan di RSUD Prof. Dr. Soekandar Mojosari pada pasien pasca ORIF dengan general anestesi. Jumlah sampel sebanyak 40responden yang dipilih menggunakan teknik consecutive sampling. Tingkat nyeri diukur menggunakan Numeric Rating Scale (NRS), sedangkan tekanan darah diukur menggunakan sphygmomanometer sesuai prosedur standar. Analisis hubungan antara tingkat nyeri dan tekanan darah dilakukan menggunakan uji Spearman rho dengan tingkat signifikansi α = 0,05. Berdasarkan hasil uji korelasi Spearman rho menunjukkan nilai koefisien korelasi sebesar 0,487 dengan nilai signifikansi sebesar 0,001 (p < 0,05). Hasil tersebut menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara tingkat nyeri dan tekanan darah sistolik pada pasien pasca ORIF dengan general anestesi. Arah hubungan yang positif menunjukkan bahwa semakin tinggi tingkat nyeri yang dirasakan pasien, maka semakin tinggi pula tekanan darah sistolik. Kekuatan hubungan berada pada kategori sedang.
Uji Efektivitas Sediaan Krim Ekstrak Etanol Daun Bidara (Ziziphus Mauritiana L.) terhadap Penyembuhan Luka Bakar pada Kelinci New Zealand Romio Carlos Lopo Dos Reis; Siwi Hastuti; Septian Maulid Wicahyo
Borneo Nursing Journal (BNJ) Vol. 8 No. 2b (2026)
Publisher : Akademi Keperawatan Yarsi Samarinda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61878/bnj.v8i2b.1461

Abstract

Luka bakar merupakan cedera pada jaringan kulit akibat paparan panas, bahan kimia, listrik, maupun radiasi yang memerlukan penanganan yang tepat untuk mempercepat proses penyembuhan dan mencegah terjadinya infeksi. Daun bidara (Ziziphus Mauritiana L.) mengadung senyawa metabolit, sekunder, seperti flavonoid, alkaloid, tanin, dan saponin, yang memiliki aktivitas antioksidan, antiinflamasi, serta antibakteri sehingga berpotensi mempercepat penyembuhan luka. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas sediaan krim ekstrak etanol daun bidara terhadap penyembuhan luka bakar pada kelinci New Zealand serta menentukan konsentrasi ekstrak yang paling efektif. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental menggunakan empat ekor kelinci New Zealand sebagai hewan uji. Ekstrak daun bidara diperoleh melalui metode maserasi menggunakan etanol 70% dan diformulasikan dalam sediaan krim tipe air dalam minyak (A/M) dengan konsentrasi ekstrak 5% (F1), 10% (F2), dan 15% (F3). Betadine Antiseptic Ointment digunakan sebagai kontrol positif, sedangkan basis krim digunakan sebagai kontrol negatif. Pengobatan dilakukan selama 14 Hari dengan frekuensi dua kali sehari. Efektivitas penyembuhan luka dievaluasi berdasarkan nilai Area Under Curve (AUC) dan persentase daya penyembuhan luka (%DPL). Data dianalisis menggunakan uji One-Way ANOVA dan Least Significant Difference (LSD). Penelitian menunjukkan bahwa seluruh formula memenuhi persyaratan mutu fisik sediaan krim. Formula F3 (15%) memberikan efektivitas terbaik dengan nilai AUC 12,9950 ± 0,01 dan %DPL (25,78527)%, mendekati kontrol positif yang memiliki nilai AUC 12,5125 ± 0,01 dan %DPL (28,54083)%. Uji One-Way ANOVA menunjukkan adanya perbedaan yang signifikan antar kelompok perlakuan (p < 0,05), sedangkan uji LSD menunjukkan seluruh kelompok berbeda signifikan. Berdasarkan hasil dapat disimpulkan bahwa krim ekstrak etanol daun bidara efektivitas mempercepat penyembuhan luka bakar pada kelinci New Zealand, dengan konsentrasi ekstrak 15% sebagai formula yang paling efektif.
Analisis Kualitas Pelayanan dengan Kepuasan Keluarga Pasien di IGD Rumah Sakit RSUD Kota Yogyakarta Ledis Ledis; Widaryati Widaryati; Wawan Febri Ramdani
Borneo Nursing Journal (BNJ) Vol. 8 No. 2b (2026)
Publisher : Akademi Keperawatan Yarsi Samarinda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61878/bnj.v8i2b.1478

Abstract

Pelayanan keperawatan yang berkualitas merupakan salah satu indikator penting dalam meningkatkan kepuasan pasien maupun keluarga pasien di rumah sakit, terutama pada unit Instalasi Gawat Darurat (IGD) yang memiliki karakteristik pelayanan cepat, tepat, dan kompleks. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan kualitas pelayanan dengan kepuasan keluarga pasien di Instalasi Gawat Darurat RSUD Kota Yogyakarta. Penelitian ini menggunakan desain kuantitatif dengan pendekatan cross-sectional. Populasi dalam penelitian ini adalah keluarga pasien yang mendampingi pasien di Instalasi Gawat Darurat dengan jumlah sampel sebanyak 50 responden yang dipilih menggunakan teknik accidental sampling. Pengumpulan data dilakukan menggunakan kuesioner dan dianalisis menggunakan analisis univariat dan bivariat dengan uji Kendall’s Tau. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar responden menilai kualitas pelayanan pada kategori sedang sebanyak 49 responden (98%), sedangkan tingkat kepuasan keluarga pasien sebagian besar berada pada kategori tinggi. Hasil analisis bivariat menunjukkan bahwa tidak terdapat hubungan yang signifikan antara kualitas pelayanan dengan kepuasan keluarga pasien dengan nilai p = 0,310 (p > 0,05) dan nilai koefisien korelasi sebesar 0,032. Penelitian ini menyimpulkan bahwa kualitas pelayanan tidak memiliki hubungan yang signifikan dengan kepuasan keluarga pasien di Instalasi Gawat Darurat. Oleh karena itu, perlu dilakukan evaluasi terhadap faktor lain yang dapat mempengaruhi kepuasan keluarga pasien seperti komunikasi terapeutik, kondisi klinis pasien, dan dukungan emosional tenaga kesehatan.
Hubungan Lingkungan Belajar Dengan Tingkat Kecemasan Dalam Menghadapi Ujian Praktik Klinik Pada Mahasiswa Keperawatan Universitas Eka Harap Putri Alimah; Putria Carolina; Tomi Satalar
Borneo Nursing Journal (BNJ) Vol. 8 No. 2b (2026)
Publisher : Akademi Keperawatan Yarsi Samarinda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61878/bnj.v8i2b.1479

Abstract

Ujian Praktik Klinik merupakan salah satu bentuk evaluasi kompetensi mahasiswa keperawatan yang dapat menimbulkan kecemasan. Tingkat kecemasan dalam menghadapi ujian praktik klinik dipengaruhi oleh berbagai faktor, salah satunya lingkungan belajar. Berdasarkan fenomena yang ditemukan, mahasiswa cenderung mengalami kecemasan karena merasa kurang siap dan kurang memperoleh dukungan akademik dalam menghadapi Ujian Praktik Klinik, sehingga kondisi tersebut diduga dapat memengaruhi kinerja mereka selama melakukan ujian. Oleh karena itu, penelitian dilakukan untuk mengetahui apakah terdapat hubungan antara lingkungan belajar dengan tingkat kecemasan mahasiswa dalam menghadapi Ujian Praktik Klinik. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara lingkungan belajar dengan tingkat kecemasan pada mahasiswa keperawatan dengan dalam Menghadapi Ujian Praktik Klinik pada Mahasiswa Keperawatan Universitas Eka Harap. Rancangan penelitian menggunakan metode kuantitatif dengan pendekatan korelasional dan metode cross-sectional untuk menganalisis hubungan antara lingkungan belajar dan tingkat kecemasan mahasiswa keperawatan dalam menghadapi Ujian Praktik Klinik. Sampel sebanyak 97 responden, pengumpulan data dilakukan pada tanggal 24-26 Juni 2026. Hasil penelitian didapatkan bahwa sebagian besar mahasiswa memiliki lingkungan belajar sangat baik (72%) dan tidak mengalami kecemasan (32%) dalam menghadapi Ujian Praktik Klinik. Hasil uji Spearman's Rho menunjukkan tidak terdapat hubungan yang signifikan antara lingkungan belajar dengan tingkat kecemasan pada mahasiswa Program Studi Sarjana Keperawatan Universitas Eka Harap (p = 0,346; r = -0,097). Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa kecemasan mahasiswa dalam menghadapi Ujian Praktik Klinik dipengaruhi oleh berbagai faktor. Oleh karena itu, diperlukan upaya yang tidak hanya berfokus pada perbaikan lingkungan belajar, tetapi juga pada peningkatan kesiapan, kepercayaan diri, dan kemampuan mahasiswa dalam mengelola kecemasan agar memperoleh hasil evaluasi yang optimal.
Asuhan Keperawatan Gerontik melalui Progressive Muscle Relaxation pada Lansia dengan Nyeri Kronis dan Nausea: Studi Kasus di Griya Lansia Garut Tika Asri Aryanti; Witdiawati Witdiawati; Nina Sumarni
Borneo Nursing Journal (BNJ) Vol. 8 No. 2b (2026)
Publisher : Akademi Keperawatan Yarsi Samarinda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61878/bnj.v8i2b.1481

Abstract

Latar Belakang: Nyeri kronis nonspesifik dan Nausea sering dialami lansia, terutama pada individu dengan Diabetes melitus dan stres adaptasi lingkungan panti. Kondisi ini dapat menurunkan kenyamanan dan kualitas hidup pasien. Tujuan: Melaporkan penerapan Progressive Muscle Relaxation (PMR) modifikasi sebagai intervensi nonfarmakologis mandiri dalam mengelola nyeri kronis dan Nausea pada lansia. Metode: Laporan kasus deskriptif berbasis proses keperawatan dilakukan pada Ny. K, 65 tahun, di Griya Lansia Garut selama satu minggu. Pasien memiliki riwayat DM dengan kadar gula darah puasa 190 mg/dL dan 180 mg/dL, serta menjalani terapi rutin ibuprofen dan omeprazole. Intervensi diberikan selama 6 sesi harian, meliputi PMR modifikasi dan latihan napas dalam, didukung manajemen nutrisi sesuai preferensi pasien serta Slow Stroke Back Massage (SSBM). Hasil: Setelah intervensi, skala nyeri menurun dari 7 menjadi 3 dan skala mual dari 5 menjadi 1. Asupan makan meningkat dari kurang dari seperempat menjadi tiga perempat porsi, perilaku menangis berkurang, dan kualitas tidur membaik. Kesimpulan: PMR modifikasi yang dikombinasikan dengan intervensi pendukung menunjukkan perbaikan kenyamanan klinis pada lansia dengan nyeri kronis dan Nausea, meskipun kontribusi spesifik PMR tidak dapat dipisahkan sepenuhnya dari intervensi lain.
Efektivitas Terapi Relaksasi Benson terhadap Penurunan Tekanan Darah pada Lansia dengan Hipertensi: Studi Kasus Meilia Ananda Utama; Chairul Huda Al Husna
Borneo Nursing Journal (BNJ) Vol. 8 No. 2b (2026)
Publisher : Akademi Keperawatan Yarsi Samarinda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61878/bnj.v8i2b.1482

Abstract

Hipertensi merupakan salah satu penyakit tidak menular yang banyak dialami oleh lansia dan menjadi faktor risiko utama terjadinya penyakit kardiovaskular. Selain terapi farmakologis, terapi relaksasi Benson dapat digunakan sebagai intervensi keperawatan nonfarmakologis untuk membantu mengendalikan tekanan darah. Penelitian ini bertujuan menggambarkan penerapan terapi relaksasi Benson terhadap penurunan tekanan darah pada pasien lansia dengan hipertensi. Penelitian menggunakan metode deskriptif dengan pendekatan studi kasus pada seorang pasien lansia berusia 64 tahun yang telah menderita hipertensi selama lima tahun. Intervensi dilakukan selama tujuh hari dengan pemberian terapi relaksasi Benson selama 10 menit setiap hari. Pengukuran tekanan darah dilakukan sebelum dan sesudah intervensi menggunakan tensimeter digital Omron HEM-8712. Hasil menunjukkan adanya kecenderungan penurunan tekanan darah selama periode intervensi. Tekanan darah sistolik sebelum intervensi menurun dari 167 mmHg menjadi 156 mmHg dan sesudah intervensi dari 163 mmHg menjadi 150 mmHg, sedangkan tekanan darah diastolik sebelum intervensi menurun dari 104 mmHg menjadi 94 mmHg dan sesudah intervensi dari 100 mmHg menjadi 90 mmHg. Penurunan tekanan darah pada studi kasus ini diduga berkaitan dengan penerapan terapi relaksasi Benson secara konsisten serta perubahan pola makan pasien yang mulai mengurangi konsumsi gorengan dan kerupuk, meskipun kepatuhan terhadap konsumsi obat antihipertensi masih rendah dan aktivitas fisik belum optimal. Terapi relaksasi Benson dapat dipertimbangkan sebagai intervensi keperawatan nonfarmakologis yang mendukung pengendalian tekanan darah pada pasien lansia dengan hipertensi.
Efektivitas Intervensi Brisk Walking Terhadap Penurunan Tekanan Darah Pada Pasien Hipertensi Intan Meylinda Sutrisno; Chairul Huda Al Husna
Borneo Nursing Journal (BNJ) Vol. 8 No. 2b (2026)
Publisher : Akademi Keperawatan Yarsi Samarinda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61878/bnj.v8i2b.1484

Abstract

Hipertensi merupakan salah satu masalah kesehatan yang memerlukan pengendalian melalui terapi farmakologis dan nonfarmakologis. Brisk walking exercise merupakan aktivitas fisik yang sederhana dan mudah diterapkan sebagai salah satu intervensi pendamping dalam pengelolaan tekanan darah. Kegiatan ini bertujuan untuk mengkaji perubahan tekanan darah setelah penerapan brisk walking exercise pada pasien hipertensi. Metode yang digunakan adalah studi kasus dengan pendekatan one-group pre-test and post-test pada seorang perempuan berusia 49 tahun dengan riwayat hipertensi selama enam tahun. Intervensi dilakukan selama dua minggu dengan frekuensi tiga kali dalam satu minggu dan durasi 15–30 menit setiap sesi. Pengukuran tekanan darah dilakukan sebelum dan setelah rangkaian intervensi, kemudian dianalisis secara deskriptif. Hasil menunjukkan bahwa tekanan darah pasien mengalami penurunan dari 157/90 mmHg sebelum intervensi menjadi 120/76 mmHg setelah intervensi, dengan penurunan sistolik sebesar 37 mmHg dan diastolik sebesar 14 mmHg. Temuan ini menunjukkan adanya perubahan tekanan darah setelah penerapan brisk walking exercise. Namun, perubahan tersebut tidak dapat sepenuhnya dikaitkan dengan brisk walking karena pasien tetap menjalani terapi farmakologis dengan amlodipine dan terdapat kemungkinan pengaruh faktor lain. Brisk walking exercise berpotensi digunakan sebagai intervensi nonfarmakologis pendamping yang sederhana dan mudah diterapkan untuk mendukung pengendalian tekanan darah pada pasien hipertensi.