cover
Contact Name
Fahrullah
Contact Email
bnjakys@gmail.com
Phone
+6285250916350
Journal Mail Official
bnjakys@gmail.com
Editorial Address
https://bnj.akys.ac.id/BNJ/about/editorialTeam
Location
Kota samarinda,
Kalimantan timur
INDONESIA
Borneo Nursing Journal
ISSN : 26855054     EISSN : 26548453     DOI : https://doi.org/10.61878/bnj.
Core Subject : Health, Science,
Borneo Nursing Journal (BNJ) adalah jurnal yang diterbitkan dua kali dalam satu tahun oleh Akademi Keperawatan Yarsi Samarinda bekerjasama dengan Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Yarsi Pontianak. Adapun ruang lingkup/topik dalam BNJ adalah bidang Keperawatan. Dalam setiap edisinya, BNJ menerbitkan minimal 5 naskah hasil penelitian dan satu artikel editorial notes. Penulis yang dapat mengirimkan artikel ke BNJ tidak dibatasi hanya pada tenaga pengajar Akademi Keperawatan Yarsi Samarinda saja, tetapi penulis yang berasal dari perguruan tinggi lain pun dapat mengirimkan manuskrip. Setiap manuskrip yang masuk akan di-review oleh reviewer yang memiliki berbagai macam latar belakang keilmuan yang relevan dengan topik manuskrip.
Articles 1,420 Documents
Hubungan Klasifikasi Status Fisik (ASA) dengan Waktu Pulih Sadar pada Pasien Bedah Saraf Pralansia Pasca General Anestesi di RS Kota Batu Evi Nuriffah Putri; Arief Bachtiar; Rudi Hamarno; Imam Subekti
Borneo Nursing Journal (BNJ) Vol. 8 No. 2b (2026)
Publisher : Akademi Keperawatan Yarsi Samarinda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61878/bnj.v8i2b.1393

Abstract

Tahap pemulihan setelah anestesi merupakan bagian krusial dalam penatalaksanaan pasien yang menjalani tindakan pembedahan. Waktu pulih sadar, yaitu durasi yang diperlukan pasien untuk kembali sepenuhnya sadar setelah diberikan anestesi umum, menjadi salah satu tolak ukur keberhasilan dan keamanan prosedur bedah. Pada kelompok usia pra-lansia, proses ini cenderung memakan waktu lebih panjang daripada individu yang lebih muda, dan keterlambatan tersebut berpotensi menimbulkan dampak serius. Tujuan: Menjelaskan hubungan antara klasifikasi status fisik (ASA) dengan waktu pulih sadar pada pasien bedah saraf pralansia pasca general anestesi. Metode Penelitian: Menggunakan metode kuantitatif cross sectional dengan pendekatan deskriptif korelatif. Metode pengambilan sampel menggunakan teknik purposive sampling dengan jumlah 41 responden. Penelitian ini melakukan observasi waktu pulih sadar pasien bedah saraf pralansia pasca general anestesi. Instrumen yang digunakan adalah lembar observasi Aldrete Score. Kesimpulan: Terdapat hubungan klasifikasi status fisik (ASA) dengan waktu pulih sadar pada pasien bedah saraf pra-lansia pasca general anestesi.
Penerapan Terapi Relaksasi Benson Dan Terapi Isometrik Terhadap Penurunan Fatigue Pada Ny.E Dengan Chronic Kidney Disease Hanisyah Dian Farhah; Popi Sopiah
Borneo Nursing Journal (BNJ) Vol. 8 No. 2b (2026)
Publisher : Akademi Keperawatan Yarsi Samarinda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61878/bnj.v8i2b.1405

Abstract

Abstrak Fatigue merupakan masalah yang sering dialami pasien Chronic Kidney Disease (CKD) yang menjalani hemodialisis akibat anemia, akumulasi toksin uremik, gangguan metabolisme, dan penurunan kapasitas fisik. Kondisi ini dapat mengganggu aktivitas sehari-hari sehingga memerlukan intervensi yang tepat. Penelitian ini bertujuan memaparkan penerapan asuhan keperawatan melalui kombinasi terapi relaksasi Benson dan latihan isometrik terhadap fatigue pada pasien CKD yang menjalani hemodialisis. Penelitian menggunakan desain studi kasus melalui pendekatan proses keperawatan. Subjek dipilih secara purposive sampling pada pasien Ny. E dengan CKD stadium 5 yang menjalani hemodialisis dan mengalami fatigue dengan skor awal Fatigue Severity Scale (FSS) 30. Data dikumpulkan melalui wawancara, observasi, pemeriksaan fisik, dan studi dokumentasi. Intervensi berupa relaksasi Benson selama 15–20 menit dan latihan isometrik selama 15–20 menit diberikan sebanyak empat kali pertemuan dalam dua minggu selama hemodialisis. Evaluasi dilakukan menggunakan FSS serta indikator pendukung berupa frekuensi napas, lama tidur, dan kemampuan aktivitas. Hasil menunjukkan penurunan skor fatigue dari 30 menjadi 15, disertai penurunan frekuensi napas, peningkatan lama tidur, dan kemampuan aktivitas. Kombinasi terapi ini menunjukkan hasil positif dalam membantu menurunkan fatigue dan meningkatkan kemampuan fungsional pasien CKD yang menjalani hemodialisis sehingga dapat dipertimbangkan sebagai intervensi keperawatan nonfarmakologis pendamping. Kata kunci: Chronic Kidney Disease (CKD), Fatigue, Hemodialisis, Latihan isometrik, Relaksasi Benson Abstract Fatigue is a problem that is often experienced by Chronic Kidney Disease (CKD) patients undergoing hemodialysis due to anemia, accumulation of uremic toxins, metabolic disorders, and decreased physical capacity. This condition can interfere with daily activities and therefore requires appropriate intervention. This study aims to explain the application of nursing care through a combination of Benson relaxation therapy and isometric exercises against fatigue in CKD patients undergoing hemodialysis. The research used case study design through nursing process approach. Subjects were selected by purposive sampling in patients with Ms. E with Stage 5 CKD who underwent hemodialysis and experienced fatigue with an initial Fatigue Severity Scale (FSS) score of 30. Data were collected through interviews, observations, physical examinations, and documentation studies. Interventions such as Benson relaxation for 15-20 minutes and isometric exercises for 15-20 minutes were given four meetings in two weeks during hemodialysis. Evaluation was conducted using FSS and supporting indicators such as Breath frequency, sleep duration, and activity ability. Results showed a decrease in fatigue score from 30 to 15, accompanied by a decrease in Breath frequency, increased sleep duration, and activity ability. This combination therapy shows positive results in helping to reduce fatigue and improve the functional ability of CKD patients undergoing hemodialysis so that it can be considered as a companion nonpharmacological nursing intervention. Keywords: Benson relaxation, Chronic Kidney Disease (CKD), Fatigue, Hemodialysis, Isometric exercises
Perbedaan Kombinasi Maternity Pillow Dual Wedge dan Prenatal Yoga dengan Prenatal Yoga terhadap Kualitas Tidur Primigravida Trimester III Kharisma Nurjannah; Setiawandari Setiawandari; Anik Latifah
Borneo Nursing Journal (BNJ) Vol. 8 No. 2b (2026)
Publisher : Akademi Keperawatan Yarsi Samarinda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61878/bnj.v8i2b.1407

Abstract

Gangguan tidur merupakan salah satu keluhan yang dapat muncul pada primigravida ketika memasuki trimester III. Kondisi tersebut berkaitan dengan perubahan fisiologis, biomekanik, hormonal, dan psikologis selama kehamilan. Berbagai perubahan ini dapat menurunkan kenyamanan ibu dan pada akhirnya memengaruhi aktivitas sehari-hari. Penelitian ini dilakukan untuk menilai perbedaan efektivitas antara penggunaan Maternity Pillow Dual Wedge yang disertai Prenatal Yoga dan Prenatal Yoga tanpa tambahan bantal terhadap kualitas tidur primigravida trimester III. Penelitian memakai rancangan quasi-experimental dengan pola two-group Pretest-Posttest. Sebanyak 30 primigravida dipilih melalui total sampling dan dibagi menjadi dua kelompok, masing-masing 15 responden. Intervensi berlangsung selama 14 hari dan kualitas tidur diukur menggunakan Pittsburgh Sleep Quality Index (PSQI). Analisis menggunakan Wilcoxon Signed Rank, paired t-test, dan Mann–Whitney. Pada kelompok kombinasi, 13 responden (86,7%) semula berada pada kategori gangguan tidur sedang dan setelah intervensi jumlah yang sama berada pada kategori ringan. Rerata skor PSQI turun dari 11,80 menjadi 5,00 (p = 0,001). Pada kelompok Prenatal Yoga, rerata skor berubah dari 11,00 menjadi 9,26 (p = 0,000). Uji antar kelompok menunjukkan p = 0,001. Dengan demikian, kedua intervensi menunjukkan perubahan kualitas tidur, tetapi perbaikan pada kelompok yang menggunakan kombinasi Maternity Pillow Dual Wedge dan Prenatal Yoga lebih besar. Pendekatan kombinasi tersebut dapat dipertimbangkan sebagai salah satu intervensi nonfarmakologis dalam asuhan kebidanan untuk membantu meningkatkan kualitas tidur primigravida trimester III.
Pengaruh Pemberian Gel Serai Merah (Cymbopogon Nardus) terhadap Intensitas Nyeri Punggung pada Ibu Hamil Trimester III Diah Kumala Sari; Retno Setyo Iswati; Tetty Rihardini
Borneo Nursing Journal (BNJ) Vol. 8 No. 2b (2026)
Publisher : Akademi Keperawatan Yarsi Samarinda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61878/bnj.v8i2b.1413

Abstract

Nyeri punggung bawah sering dialami ibu hamil trimester III akibat perubahan Postur, peningkatan berat badan, dan pembesaran uterus. Studi pendahuluan di Klinik Afiyah Gedangan Sidoarjo menunjukkan 32 dari 60 ibu hamil trimester III (53%) mengalami nyeri punggung bawah. Penelitian ini bertujuan mengetahui pengaruh Pemberian Gel Serai Merah (Cymbopogon Nardus) dan edukasi posisi tidur terhadap intensitas nyeri punggung bawah pada ibu hamil trimester III. Penelitian menggunakan desain quasi-experimental dengan pendekatan Pretest-Posttest control group design terhadap 32 responden yang dibagi menjadi kelompok intervensi dan kontrol, masing-masing 16 responden. Kelompok intervensi diberikan gel serai merah dan edukasi posisi tidur, sedangkan kelompok kontrol hanya diberikan edukasi posisi tidur. Intensitas nyeri diukur menggunakan Numeric Rating Scale (NRS) dan dianalisis dengan uji Wilcoxon dan Mann-Whitney. Hasil menunjukkan bahwa sebelum intervensi sebagian besar responden mengalami nyeri sedang, sedangkan setelah intervensi sebagian besar mengalami nyeri ringan dan tidak ditemukan nyeri berat. Uji Mann-Whitney menunjukkan P-value 0,008 (p < 0,05). Disimpulkan bahwa Pemberian Gel Serai Merah (Cymbopogon Nardus) dan edukasi posisi tidur berpengaruh terhadap penurunan intensitas nyeri punggung bawah pada ibu hamil trimester III.
Penerapan Teknik Marmet Dan Pijat Oksitosin Terhadap Menyusui Tidak Efektif Dengan Postpartum Di RSUD Kota Bogor Anisa Nur Khalifah Rihartono; Priharyanti Wulandari
Borneo Nursing Journal (BNJ) Vol. 8 No. 2b (2026)
Publisher : Akademi Keperawatan Yarsi Samarinda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61878/bnj.v8i2b.1417

Abstract

Menyusui tidak efektif merupakan masalah yang dapat terjadi pada ibu postpartum akibat ketidakadekuatan suplai dan pengeluaran ASI. Kondisi ini dapat menghambat pemenuhan kebutuhan nutrisi bayi dan keberhasilan pemberian ASI eksklusif. Tujuan penelitian ini adalah menganalisis penerapan teknik Marmet dan pijat oksitosin terhadap masalah menyusui tidak efektif pada ibu postpartum di RSUD Kota Bogor. Metode yang digunakan adalah studi kasus dengan pendekatan asuhan keperawatan pada Ny. T usia 40 tahun yang mengalami masalah Menyusui Tidak Efektif berhubungan dengan ketidakadekuatan suplai ASI setelah persalinan Sectio Caesarea. Intervensi berbasis Evidence Based Practice (EBP) berupa pijat oksitosin selama ±15 menit dilanjutkan teknik Marmet selama ±20 menit, satu kali sehari selama tiga hari. Evaluasi dilakukan melalui observasi kelancaran dan volume ASI menggunakan pompa ASI dan kantong pumping. Hasil menunjukkan peningkatan volume ASI dari ±0,5 ml menjadi 30 ml pada hari pertama, 50 ml menjadi 90 ml pada hari kedua, dan 150 ml menjadi 180 ml pada hari ketiga. Selain itu, ASI tampak lebih lancar, payudara menjadi lebih lunak setelah pumping, ibu mampu melakukan teknik Marmet secara mandiri, dan kepercayaan diri ibu dalam menyusui meningkat. Keterbatasan penerapan asuhan adalah waktu pelaksanaan yang mengikuti lama perawatan pasien sehingga evaluasi belum dapat dilakukan setelah pasien pulang. Kesimpulannya, kombinasi teknik Marmet dan pijat oksitosin menunjukkan hasil positif dalam meningkatkan volume dan kelancaran pengeluaran ASI pada ibu postpartum dengan masalah Menyusui Tidak Efektif. Kata kunci: Ketidakadekuatan Suplai ASI, Pijat Oksitosin, Teknik Marmet
Pengaruh Diabetic Self Management Education (DSME) berbasis Islami terhadap Self-Care Pasien Diabetes Melitus Tipe 2 di Puskesmas Deket: bahasa indonesia Shenda Amalia; Lestari Lestari; Lilis Maghfuroh
Borneo Nursing Journal (BNJ) Vol. 8 No. 2b (2026)
Publisher : Akademi Keperawatan Yarsi Samarinda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61878/bnj.v8i2b.1425

Abstract

Diabetes Melitus (DM) tipe 2 merupakan kondisi metabolik jangka panjang yang memerlukan pengelolaan berkelanjutan melalui praktik perawatan diri secara teratur. Implementasi DSME berbasis Islami sebagai pendekatan edukasi yang memadukan nilai-nilai spiritual dengan informasi kesehatan diharapkan dapat meningkatkan motivasi dan kemampuan Self-Care pasien DMT2. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui pengaruh (DSME) berbasis Islami terhadap Self-Care pasien Diabetes Melitus Tipe 2 di Puskesmas Deket. Penelitian ini menggunakan desain penelitian kuantitatif pre-experimental dengan pendekatan one group Pretest-Posttest design pada 38 responden menggunakan teknik purposive sampling. Pengumpulan data menggunakan kuesioner Summary of Diabetes Self-Care Activities (SDSCA). Data dianalisis menggunakan uji Wilcoxon Signed Rank Test. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebelum intervensi sebagian besar responden berada pada kategori Self-Care cukup sebanyak 22 responden (57,9%), kategori baik sebanyak 8 responden (21,1%). Setelah diberikan intervensi DSME berbasis Islami terjadi peningkatan yang signifikan dengan nilai rata-rata Self-Care meningkat dari 47,29 (SD = 14,136) pada Pretest menjadi 68,71 (SD = 5,652) pada Posttest, dan sebagian besar responden meningkat menjadi kategori baik sebanyak 92,1%. Hasil uji statistik Wilcoxon Signed Rank Test menunjukkan nilai p = 0,000 (p < 0,05) yang berarti terdapat pengaruh yang signifikan antara pemberian DSME berbasis Islami terhadap peningkatan Self-Care pasien Diabetes Melitus Tipe 2 di Puskesmas Deket. Pendekatan spiritual Islami terbukti memperkuat motivasi intrinsik pasien dalam menjalankan seluruh aspek Self-Care secara konsisten meliputi pengaturan diet, aktivitas fisik, pemantauan gula darah, kepatuhan minum obat, dan perawatan kaki.
Hubungan Dukungan Emosional dengan Kualitas End of Life Care pada Pasien di Intensive Care Unit (ICU) RSUD Dr. Soegiri Lamongan Ellisa Fitri Anggraini; Isni Lailatul Maghfiroh; Abdul Rokhman
Borneo Nursing Journal (BNJ) Vol. 8 No. 2b (2026)
Publisher : Akademi Keperawatan Yarsi Samarinda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61878/bnj.v8i2b.1426

Abstract

End of Life Care (EOLC) merupakan bagian penting dari pelayanan kesehatan yang bertujuan mengurangi penderitaan fisik, psikologis, sosial, dan spiritual pasien serta mendukung keluarga selama fase akhir kehidupan. Dukungan emosional dari perawat berperan dalam membantu keluarga menghadapi tekanan emosional dan meningkatkan kualitas pelayanan EOLC. Penelitian ini bertujuan mengetahui hubungan dukungan emosional dengan kualitas End of Life Care pada pasien di Intensive Care Unit (ICU) RSUD Dr. Soegiri Lamongan. Penelitian menggunakan desain analitik korelasional dengan pendekatan cross-sectional. pada 59 keluarga pasien di ICU dengan menggunakan teknik consecutive sampling. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner Berlin Social Support Scale (BSSS) dan Quality of End of Life Care (QEOLC) Family Version, kemudian dianalisis menggunakan uji Pearson. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 54% keluarga memperoleh dukungan emosional yang tinggi dan 64% kualitas End of Life Care sangat baik. Uji Pearson menunjukkan hubungan yang signifikan antara dukungan emosional dan kualitas End of Life Care dengan nilai p = 0,000 (p < 0,05) dan koefisien korelasi r = 0,516 yang menunjukkan kekuatan hubungan sedang. Dukungan emosional yang baik dapat meningkatkan komunikasi, kepercayaan, dan hubungan antara perawat, pasien, serta keluarga sehingga kualitas End of Life Care lebih optimal. Oleh karena itu, peningkatan dukungan emosional pada keluarga penting untuk meningkatkan kualitas EOLC.
Hubungan antara Riwayat KEK (Kekurangan Energi Kronis) dan Usia Ibu saat Kehamilan dengan Kejadian Underweight pada Balita di Puskesmas Sedayu 1 Rani Agustin; Siti Fadhilatun Nashriyah; Agung Nugroho
Borneo Nursing Journal (BNJ) Vol. 8 No. 2b (2026)
Publisher : Akademi Keperawatan Yarsi Samarinda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61878/bnj.v8i2b.1430

Abstract

Latar Belakang: Underweight merupakan salah satu bentuk masalah gizi yang ditandai dengan berat badan anak yang lebih rendah dibandingkan standar normal sesuai usianya dan masih menjadi salah satu masalah gizi pada balita yang dapat berdampak pada gangguan pertumbuhan, penurunan daya tahan tubuh, serta peningkatan risiko kesakitan dan kematian. Kejadian Underweight dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor, termasuk faktor maternal selama kehamilan seperti riwayat Kekurangan Energi Kronis (KEK) dan usia ibu saat kehamilan. Di wilayah kerja Puskesmas Sedayu 1, prevalensi Underweight pada tahun 2025 mencapai 11%. sehingga perlu dilakukan penelitian untuk mengetahui hubungan riwayat KEK dan usia ibu saat kehamilan dengan kejadian Underweight pada balita. Tujuan: Menganalisis hubungan riwayat Kekurangan Energi Kronis (KEK) dan usia ibu saat kehamilan dengan kejadian Underweight pada balita di wilayah kerja Puskesmas Sedayu 1. Metode: Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan desain observasional analitik menggunakan pendekatan cross–sectional. Sampel penelitian berjumlah 44 ibu yang memiliki balita usia 0–59 bulan dan dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Data diperoleh melalui observasi Buku Kesehatan Ibu dan Anak (KIA) menggunakan lembar observasi serta kuesioner karakteristik responden. Analisis data dilakukan menggunakan uji Fisher’s Exact dengan tingkat kemaknaan 95% (α = 0,05). Hasil: Sebagian besar ibu berada pada kelompok usia tidak berisiko saat kehamilan (79,5%) dan mayoritas balita tidak mengalami Underweight (81,8%). Analisis menggunakan uji Fisher’s Exact menunjukkan bahwa riwayat Kekurangan Energi Kronis (KEK) ibu saat kehamilan tidak berhubungan dengan kejadian Underweight pada balita (p = 0,698). Hasil yang sama juga diperoleh pada variabel usia ibu saat kehamilan, dimana tidak ditemukan hubungan dengan kejadian Underweight pada balita (p = 1,000).
Analisis Substitusi Tepung Kacang Bogor dan Tepung Mocaf terhadap Daya Terima dan Kandungan Gizi Bolu Kemojo Saqifa Khairun Nida; Diah Puspitasari; Kurnia Mar'atus Solichah
Borneo Nursing Journal (BNJ) Vol. 8 No. 2b (2026)
Publisher : Akademi Keperawatan Yarsi Samarinda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61878/bnj.v8i2b.1435

Abstract

Bolu kemojo merupakan makanan khas Riau yang dinamai berdasarkan bentuk loyang menyerupai bunga kamboja. Seiring meningkatnya tren pangan bebas gluten dan berbasis nabati, bolu kemojo berpotensi dikembangkan menggunakan tepung mocaf dan tepung kacang bogor sebagai bahan lokal yang kaya protein dan serat. Penelitian ini bertujuan mengetahui daya terima dan kandungan gizi bolu kemojo substitusi tepung kacang bogor dan tepung mocaf. Penelitian menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) nonfaktorial dengan 4 formulasi. Uji daya terima dilakukan pada 30 panelis semi terlatih yang dipilih secara purposive sampling, sedangkan analisis proksimat dilakukan pada formula kontrol (F0) dan formula terbaik. Hasil uji Kruskal-Wallis menunjukkan bahwa substitusi tepung kacang bogor dan tepung mocaf berpengaruh nyata terhadap warna, rasa, tekstur, dan tingkat kesukaan keseluruhan (p < 0,05), tetapi tidak berpengaruh nyata terhadap aroma (p > 0,05). Formula F1 (25% tepung kacang bogor: 75% tepung mocaf) merupakan formula terbaik karena memiliki tingkat penerimaan tertinggi di antara formula substitusi dan mendekati kontrol. Hasil analisis proksimat menunjukkan bahwa F1 memiliki kadar protein, lemak, serat kasar, dan energi yang lebih tinggi (p < 0,05) dibandingkan dengan F0 (kontrol) yang memiliki kadar air, abu, dan karbohidrat lebih rendah (p > 0,05). Formula F1 mengandung kadar air 46,76%, kadar abu 0,56%, protein 4,46%, lemak 3,21%, karbohidrat 44,13%, serat kasar 3,21%, dan energi 218 kkal/100 g. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa bolu kemojo dengan substitusi tepung kacang bogor dan tepung mocaf berpotensi menjadi inovasi pangan lokal dengan kandungan gizi dan daya terima yang baik, sehingga dapat mendukung diversifikasi pangan, meningkatkan nilai tambah komoditas lokal, serta membuka peluang pengembangan produk oleh UMKM berbasis pangan lokal.
Efektivitas Relaksasi Genggam Jari Dalam Menurunkan Kecemasan Pasien Praoperasi Sectio Caesarea Dengan Anestesi Spinal Di Ruang Rawat Inap RSD Kalisat Jember Tahun 2026 Inayah Nurriska; Reko Priyonggo; Merisdawati MR; Rindu Sintara
Borneo Nursing Journal (BNJ) Vol. 8 No. 2b (2026)
Publisher : Akademi Keperawatan Yarsi Samarinda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61878/bnj.v8i2b.1440

Abstract

Kecemasan praoperasi merupakan masalah yang sering terjadi pada pasien Sectio Caesarea dengan anestesispinal. Kecemasan yang tidak tertangani dapat mempengaruhi stabilitas hemodinamik, keberhasilan proseduranestesi, dan keselamatan janin. Penanganan nonfarmakologi seperti relaksasi genggam jari menjadi alternatifyang aman karena pemberian obat sedatif pada pasien SC sebelum bayi lahir dihindari. Mengetahui efektivitasrelaksasi genggam jari dalam menurunkan kecemasan pada pasien praoperasi SC dengan anestesi spinal.Penelitian kuantitatif dengan desain Quasi-Experiment One Group Pretest-Posttest. Sampel berjumlah 50 pasienSC elektif dengan anestesi spinal di RSD Kalisat Jember yang dipilih menggunakan purposive sampling.Intervensi relaksasi genggam jari diberikan selama 15 menit. Tingkat kecemasan diukur menggunakan kuesionerAPAIS (Amsterdam Preoperative Anxiety and Information Scale) sebelum dan sesudah intervensi. Analisis datamenggunakan uji Wilcoxon Signed Rank Test. Sebagian besar responden berusia 18-31 tahun (66,0%),berpendidikan SMA (54,0%), primipara (40,0%), dan belum pernah menjalani operasi (66,0%). Rata-rata skorkecemasan sebelum intervensi adalah 18,20±3,16 dan menurun menjadi 11,86±3,02 setelah intervensi. Hasil ujiWilcoxon menunjukkan nilai Z=-5,983 dengan p-value=0,000 (p&lt;0,05). Relaksasi genggam jari efektif dalammenurunkan kecemasan praanestesi pada pasien SC dengan anestesi spinal di RSD Kalisat Jember Tahun 2026.